Anda di halaman 1dari 4

A. Pembahasan

1. Peran keluarga

BAB 6

PEMBAHASAN

Tabel 5.6 menunjukkan bahwa dari 27 responden, sebagian besar (59.3%)

peran keluarga cukup. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kepedulian keluarga

terhadap kesehatan lansia masih cukup. Mereka cukup menyadari

pentingnya

peran keluarga terhadap lansia, baik dalam mengatur jenis dan pola makan, cek

kesehatan, senam lansia, pantang makanan, kelebihan berat badan dan sebagainya.

Tanpa peran atau dukungan keluarga, dipastikan kesehatan lansia cenderung

mengalami penurunan. Sebab secara psikis, kemampuan memilih, membedakan,

dan memutuskan

apa yang baik bagi kesehatan mereka, telah mengalami

penurunan juga. Misalnya dalam memilih dan membedakan jenis atau pola

makanan yang baik bagi kesehatannya, kemampuan mereka telah mengalami

penurunan, sehingga beresiko terhadap kenaikan kadar kolesterol. Kemudian

secara fisik, berhubung sudah lemah, mereka membutuhkan peran keluarga untuk

melakukan aktivitas tertentu, misalnya pergi

melakukan cek kesehatan atau

senam lansia. Hal ini sesuai pendapat Maryam (2008) bahwa dalam melakukan

perawatan terhadap lansia, setiap anggota keluarga memiliki peranan yang sangat

penting.

44

 

45

Peran

keluarga

pada

lansia

bisa

dipengaruhi

oleh

faktor

pendidikan.

Berdasarkan tabel 5.3 menunjukkkan bahwa dari 27 responden, sebagian besar

keluarga mempunyai (70,4%) pendidikan dasar. Tingkat pendidikan seseorang

umumnya berbanding lurus dengan perilaku mereka. Artinya apabila tingkat

pendidikan

seseorang

rendah,

perilaku

mereka

terhadap

kesehatan

mereka

cenderung negatif, begitu juga sebaliknya. Misalnya, orang yang berpendidikan

rendah biasanya cenderung kurang peduli dengan

lansia

mengandung

kolesterol

atau

tidak.

Hal

makanan yang dikonsumsi

ini

sesuai

dengan

pendapat

Notoatmodjo (2007) bahwa tingkat pendidikan mempengaruhi perilaku individu

terhadap masalah kesehatan.

2. Kadar kolesterol pada lansia

Berdasarkan penelitian pada lansia di RT 05 Tegal Sari Surabaya, tabel 5.5

menunjukkan dari 27 responden, hampir setengahnya (44.4%) terjadi kadar

kolesterol sedang antara 200 239 mg/dl. Faktorfaktor yang mempengaruhi

kadar kolesterol tersebut : genetik, usia dan jenis kelamin, pola makan yang tidak

seimbang, faktor keturunan, obesitas, peran keluarga. Kadar kolesterol sedang

merupakan kadar kolesterol yang perlu mendapatkan perhatian, sebab untuk

menjadi kadar kolesterol tinggi tidak membutuhkan waktu lama. Apabila hal ini

sampai terjadi, maka sangat membahayakan. Sebab, jika kadar kolesterol tinggi

akan bisa mengakibatkan efek beruntun. Artinya, jika kadar kolesterol tinggi

maka bisa menyebabkan tersumbatnya saluran darah. Tersumbatnya saluran darah

bisa mengakibatkan terjadi hipertensi. Penyakit hipertensi bisa mengakibatkan

gagal ginjal, stroke, kebutaan dan sebagainya. Menurut Prakoso

(2012) kadar

46

kolesterol dikatakan normal bila LDL (Low Density Lipropotein) bila kadarnya

dalam darah di bawah 100 mg/dl. kolesterol

LDL 100 129 mg/dl dimasukkan

kategori perbatasan. Jika diatas 130 mg/dl dan disertai faktor resiko lain seperti

merokok, gemuk, diabetes melitus, tidak berolahraga, apabila jika sudah mencapai

160 mg/dl atau lebih, maka segera perlu diberi obat. Kolesterol tersebut bersifat

jahat yang terbentuk di hati kemudian trebawa ke aliran darah dan mengendapkan

ke dinding pembuluh darah arteri.

Jenis kelamin responden juga berpengaruh terhadap kadar kolesterol pada

lansia. Dari 27 responden terdapat sebagian besar (77,8%) berjenis kelamin laki

laki. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa dari 6 perempuan lansia, didapatkan

100% memiliki kadar kolesterol lebih tinggi daripada laki-laki lansia. Hal ini

disebabkan pada usia 60 tahun ke atas, perempuan telah mengalami menopause

sehingga tidak menghasilkan estrogen sebagai penghambat kolesterol. Hal ini

sesuai dengan pendapat Muhammad (2009) bahwa sebelum

menopause, wanita

cenderung memiliki kadar kolesterol yang rendah ketimbang laki-laki.

3. Hubungan peran keluarga dengan kadar kolesterol pada lansia di RT 05 Tegal

Sari Surabaya.

Berdasarkan hasil perhitungan dengan Uji Rank Spearman diperoleh hasil nilai

ρ (0.03) ≤ α (0.03) sehingga Hο ditolak berarti ada hubungannya peran keluarga

dengan kadar kolesterol pada lansia di RT 05 Tegal Sari Surabaya.

Peran keluarga sangat penting dalam upaya menurunkan kadar kolesterol pada

lansia. Sebab

melalui peran keluarga maka asupan nutrisi, makanan yang

dipantang, cek kesehatan, senam lansia dan sebagainya, dapat dilakukan. Lansia

47

tidak akan mampu melakukan sendiri semua aktivitas tersebut karena keterbatasan

psikis maupun fisik. Menurut Muhammad (2009)

jika peran keluarga aktif dan

selalu memberi perhatian pada lansia, maka penyakit kolesterol yang dideritanya

akan bisa berkurang bahkan normal.

Peran

keluarga

dalam

mengontrol

kadar kolesterol

pada

lansia

penting

dilakukan dan perlu ditingkatkan secara berkelanjutan, sehingg usia harapan hidup

lansia di Indonesia bisa tinggi. Pemerintah sudah berusaha memfasilitasi upaya

kesehatan masyarakat, terlebih pada lansia. Yang dibutuhkan hanya peran aktif

keluarga. Apabila peran aktif tersebut terlaksana, maka

terwujud.

B. Keterbatasan Penelitian

kesehatan lansia akan

Keterbatasan yang dimiliki peneliti dalam menyusun skripsi ini antara lain

sebagai berikut :

1. Instrumen pengumpulan data berupa kuisioner yang dirancang sendiri oleh

peneliti tanpa dilakukan uji coba sehingga relibilitas dan validitasnya masih perlu

di uji lebih lanjut.

2. Keterbatasannya pengetahuan dan pengalaman karena peneliti masih pertama

kali

melakukan

penelitian

sehingga

hasil

belum

kesulitan dalam penyusunannya.

sempurna

dan

mengalami