Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
Paragraf atau alinea berlaku pada bahasa tulis, sedangkan pada

bahasa lisan

digunakan istilah paraton (Brown dan Yule, 1996). Paragraf merupakan suatu kesatuan
bentuk pemakaian bahasa yang mengungkapkan pikiran atau topik dan berada di bawah
tataran wacana. Paragraf memiliki potensi terdiri atas beberapa kalimat. Paragraf yang hanya
terdiri atas satu kalimat tidak mengalami pengembangan. Setiap paragraf berisi kesatuan
topik, kesatuan pikiran atau ide. Dengan demikian, setiap paragraf memiliki potensi adanya
satu kalimat topik atau kalimat utama dan kalimat-kalimat penjelas. Oleh Ramlan, (1993)
pikiran utama atau ide pokok merupakan pengendali suatu paragraf. Pengidentifikasian
secara formal suatu paragraf begitu mudah, karena secara visual paragraf biasanya ditandai
adanya indensasi, bila paragraf telah dikembangkan secara baik. Namun, kenyataannya
belum tentu demikian karena belum tentu paragraf dikembangkan secara benar. Disinilah
pentingnya pengembangan paragraf. Pada kesempatan ini akan disajikan secara berturut
pembentukan paragraf, kerangka paragraf, pengembangan paragraf berdasarkan teknik, dan
pengembangan paragraf berdasarkan isi secara serba singkat.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Paragraf
Satuan bahasa yang lebih besar dan lebih luas dari kalimat adalah paragraf atau alinea.
Dalam definisinya, paragraf adalah satuan bahasa yang mengemukakan sebuah pokiok
pikiran atau satu gagasan utama yang disampaikan dalam himpunan kalimat yang
koherensif. Setiap paragraf harus menyampaikan sebuah gagasan utama. Gagasan utama
tersebut harus dijelaskan oleh gagasan-gagasan bawahan, sehingga dalam

paragraf

terdapat beberapa kalimat yang saling tekait. Dalam rangkaian kalimat itu tidak satupun
kalimat yang bertentangan dengan kalimat gagasan utama dan kalimat-kalimat gagasan
bawahan. Kalimat yang berisi gagasan utama disebut kalimat topic dann kalimat yang
bergagasan bawahan adalah kalimat penjels. Sebuah paragraf minimal tediri tiga kalimat
dalam penulisan karangan ilmiah. Perhatikanlah contoh paragraf berikut yang berisi
gagasan utama atau kalimat topic dan bergagasan bawahan dalam kalimat penjelas.
(1)

Sampah

selamanya

selalu

memusingkan.

(2)

Berkali-kali

masalahnya

diseminarkan dan berkali-kali pula solusinya dirancang. (3) Namun, berbagai


keterbatasan tetap menjadikan sampah sebagai masalah yang pelik. (4) Pada waktu
diskusi atau seminar sampah berlangsung, penimbunan sampah terus terjadi. (5) Hal ini
mendapat perhatian serius karena masalah sampah berkaitan dengan pencemaran air dan
banjir. (6) Selama pengumpulan, pengangkutan, pembuangan akhir, dan pengolahan
sampah itu belum dapat dilaksanakan dengan baik, selama itu pula sampah menjadi
masalah. (Arifin, 2011:116)
Keenam kalimat dalam paragraf di atas membicarakan soal sampah, sehingga topik
dalam paragraf tersebut dalah masalah sampah. Kalimat-kalimatnya koherensi atau
saling terkait logis sehingga pembaca dapat dengan mudah memahami topik masalah
sampah dalam paragraf itu dengan baik.
2.2 Fungsi Paragraf
Paragraf yang berupa himpunan kalimat saling terkait dalam mengemukakan gagasan
utama berfungsi penting bagi penulis paragraf dan bagi pembaca paragraf dalam teks.
2.2.1 Fungsi Paragraf Bagi Penulis

a) Paragraf memudahkan pengertian dan pemahaman dengan menceraikan satu


tema dari tema yang lain dalam teks.
b) Paragraf merupakan wadah untuk mengungkapkan sebuah idea tau pokok
pikiran secara tertulis.
c) Paragraf harus memisahkan setiap unit pikiran yang berupa ide, sehingga tidak
terjadi percampuran di antara unit pikiran penulis.
d) Penulis tidak cepat lelah dalammenyelesaikan sebuah karangan dan termotivasi
masuk ke dalam paragraf berikutnya.
e) Paragraf dapat dimanfaatkan sebagai pembatas antara bab karangan dalam satu
kesatuan yang koherensi diantaranya adalah bab pendahuluan, bab isi, dan bab
kesimpulan.
2.2.2 Fungsi Paragraf bagi Pembaca
a) Dengan memisahkan atau menegaskan perhentian secara wajar danformal,
pembaca dengan jelas memahami gagasan utama paragraf penulis.
b) Pembaca dengan mudah menikmati karangan secara utuh, sehingga
memperoleh informasi penting dan kesan yang kondusif.
c) Pembaca sangat tertarik dan bersemangat membaca paragraf per paragraf
karena tidak membosankan atau tidak melelahkan.
d) Pembaca dapat belajar bagimmana cara menarik untuk menyampaikan sebuah
gagasan dalam paragraf tulis.
e) Pembaca merasa tertarik dan termotivasi cara menjelaskan paragraf tidak hnaya
dengan kata-kata, tetapi dapat juga dengan gambar,bagan,diagram, grafik,dan
kurva.
2.3 Persyaratan Paragraf yang Baik dan Benar
Paragraf yang baik dan efektif memiliki beberapa persyaratan, diantaranya adalah:
a. Kesatuan yang kompak, yaitu semua kalimat harus mengemukakan satu tema yang
jelas.
b. Koherensi yang padu,

yaitu antarkalimat dalam paragraf saling terkait dalam

paragraf. Cara mengaitkan antarkalimat dalam paragraf dapat dilakukan dengan


cara berikut.
1) Pengulangan kata kunci (repetisi) yang terdapat dalam setiap kalimat.
2) Penggunaan kata penghubung (konjungsi) setiap awalkalimat dengan tepat dan
benar.
3) Penggunaan kata ganti orang atau kata ganti penunjuk sebagaipengganti
gagasan utama dengan kata-kata seperti: dia, mereka,nya, itu, tersebut, ini.

4) Penggunaan metode pengembangan paragraf sebagai penjelas gagasan utama


paragraf. Metode yang digunakan dari metode proses sampai dengan metode
definisi.
5) Setiap paragraf harus mempunyai satu gagasan utama yang ditulis dalam
kalimat topic. Posisi Kalimat topic dalam paragraf ditempatkan pada
(a) Kalimat topic pada awal paragraf (deduktif)
(b) Kalimat topic pada akhir paragraf (induktif)
(c) Kalimat topic pada awal dan akhir paragraf (deduktifinduktif)
(d) Kalimat topic pada tengah paragraf (ineratif)
(e) Kalimat topic pada semua kalimat dalam paragraf (deskriptif).
Kalimat topic dalam
paragraf ditulis dalam kalimat tunggalatau kalimat
majemuk bertingkat karena kedua kalimat itu hanya menyampaikan satu
gagasan utama.
6) Penulis paragraf tetap memmerhatikan kaidah satuan bahasa yang lain, seperti
ejaan, tanda baca, kalimat, diksi, dan bentukan kata.
7) Dalam penulisan karangan ilmiah,penulisan paragraf harus diperhatikan halhal teknis penulisan Seperti kutipan, sumber rujukan, tata letak grafik,
kurva,gambar.
8) Penulis pun memperhatikan jenis-jenis paragraf pada posisi bagian karanagan
pendahuluan, isi,dan Bagian kesimpulan.
9) Penulisan paragraf yang menjorok ke dalam, sejajar, atau menekuk.
10) Penulis juga memperhatikan jumlah kata atau jumlah kalimat dalam sebuah
paragraf, yaitu jumlah Kosakata paragraf antara 30100 kata dan jumlah
kalimat minimal tiga kalmia.
11) Jika uraian paragraf melebihi 100 kata sebaiknya dibuat menjadi dua paragraf.
2.4 Jenis-Jenis Paragraf
Dalam karangan terdapat bermacam-macam jenis paragraf. Macam jenis paragraf
tersebut jika diperhatikan dari berbagai sudut pandang. Berikut ini ditampilkan berbagai
jenis paragaraf.
(1) Jenis paragraf diperhatikan dari satuan karangan, di antaranya:
a. Paragraf pembuka yang terdapat pada awal karangan sebagai pengantar pokok
pikiran penulis yang ditempatkan pada bagian pendahuluan.
b. Paragraf isi adalah paragraf yang menguraikan pokok masalah dalam karangan,
yaitu bagian isi atau uraian karangan.
c. Paragraf penutup adalah paragraf yang menyimpulkan atau mengakhiri sebuah
karangan, yaitu bagian penutup atau kesimpulan.
(2) Jenis paragraf diperhatikan dari sudut pandang sifat tujuan karangan, di antaranya:

a. Paragraf eksposisi adalah paragraf yang menginformasikan atau memaparkan


pokok masalah.
b. Paragraf argumentative adalah paragraf yang mengemukan suatu pikiran dngan
alasan logis.
c. Paragraf deskriptif adalah jenis paragraf yang memberikan suatu suasana, area,
dan benda.
d. Paragraf naratif adalah jenis paragraf yang menceritakan suatu masalah.
e. Paragraf persuasive adalah jenis paragraf yang memengaruhi atau merajuk orang
tentang sesuatu.
(3) Jenis paragraf diperhatikan dari posisi kalimat topik dalam paragraf diantaranya:
a. Paragraf deduktif adalah jenis paragraf yang menempatkan kalimat topik pada
awal paragraf.
b. Paragraf induktif adalah jenis paragraf yang menempatkan kalimat topik pada
akhir paragraf.
c. Paragraf deduktif-induktif adalah jenis paragraf yang menempatkan kalimat topik
pada awal dan akhir paragraf.
d. Paragraf ineratif adalah jenis paragraf yang meletakkan kalimat topik pada
tengah paragraf.
e. Paragraf tanpa kalimat topik adalah paragraf yang menyembangkan paragraf
yang melebihi satu paragraf.
(4) Jenis paragraf diperhatikan dari cara atau metode pengambangan paragraf,
diantaranya:

1. KLIMAKS-ANTIKLIMAKS
a. Klimaks adalah perincian gagasan cerita dari bawah menuju gagasan cerita yang
paling puncak. Bisa juga diartikan sebagai bagian dalam cerita yang mendeskripsikan
peristiwa sampai pada konflik yang paling tinggi.
Contoh :
Setelah cobaan bertubi-tubi menimpa Arifin dalam pencarian Istrinya, akhirnya ia
mengetahui istrinya berada di kamp. Tahanan politik di pulau Buru. Tak terhitung tetesan
air mata dan darah yang mengucur. Pengorbanannya terbayar sudah. Ia bisa bertemu
dengan Nurbaya, istri tercintanya. Ia pun segera berlari tanpa alas kaki menuju kamp.
Tahanan itu. Begitu kagetnya ketika arifin mendapati istrinya tergeletak lemas dengan
bekas tikaman pisau di dada kirinya. Ia tak kuasa menahan tangis dan menjerit sejadijadinya.

b. Antiklimaks adalah variasi gagasan yang dimulai dari gagasan cerita yang paling
tinggi kemudian diikuti dengan gagasan yang lebih rendah secara perlahan-lahan. Bisa
juga diartikan sebagai penurunan masalah dalam cerita dari konflik tertinggi kemudian
berangsur-angsur menuju ke konflik terendah.
Contoh :
Kini ia menjadi salah satu mafia kelas kakap di daerahnya. Ia sudah memiliki daerah
kekuasaannya sendiri. Tak ada yang bakal menyangka kalau penjahat itu dulunya
adalah seorang anak yang pintar dan sholeh. Entah apa yang membuatnya begini. Satu
hal yang pasti adalah, anak itu telah mengalami tahun-tahun yang buruk sehingga
membuatnya menjadi seperti ini.

2. SUDUT PANDANG
Pola sudut pandang ialah pola pengembangan paragraf yang didasarkan pada persepsi
berkaitan dengan posisi atau tempat penulis pada sebuah teks.
Contoh :
Aku dilahirkan di kota tapis berseri ini. Ketika aku berumur dua tahun, ayah dan ibuku
membawaku ke sebuah kerajaan tambak udang di kabupaten tulang Bawang. Disinilah
aku pertama kalinya merasakan kehidupan sejauh yang kuingat. Karena aku tak ingat
bagaimana aku dilahirkan dan bagaimana orang tuaku membawaku ke sini.

3. PERBANDINGAN DAN PERTENTANGAN


Perbandingan adalah upaya mengamati persamaan yang dimiliki oleh dua benda atau
lebih, sedangkan pertentangan lebih banyak menonjolkan perbedaan yang ada pada
dua benda atau lebih.
Contoh :
Pemerintah telah menyediakan gas epigi 3kg dan 12 kg. Sama halnya dengan minyak
tanah, gas elpigi juga dapat digunakan untuk kegunaan rumah tangga dengan harga
yang murah. Pemerintah memandang perlu untuk mengonversikan keterbutuhan minyak
tanah ke gas elpigi karena produksi minyak tanah saat ini sangat mahal. Disamping itu,
penggunaan gas elpigi dianggap lebih praktis dan ekonomis.

4. ANALOGI

Analogi adalah bentuk pengungkapan suatu objek yang dijelaskan dengan objek lain
yang memiliki kesamaan atau kemiripan.
Contoh :
Dalam hal belajar manusia perlu mencontoh ilmu padi. Semakin berisi maka ia akan
semakin merunduk. Begitulah seharusnya, semakin kita berilmu hendaknya diikuti
dengan kerendahan hati. Tidak sepatutnya manusia sombong atas kepintaran yang
dimilikinya. Ilmu yang sebenarnya pada hakikatnya ialah ilmu yang dapat berguna bagi
banyak orang. Kecerdasan yang sebenarnya adalah ketika kecerdasan itu dapat
memberikan manfaat bagi orang lain.

5. CONTOH
Sebuah gagasan dalam paragraf menjadi terang benderang ketika diperkuat dengan
beberapa contoh atau ilustrasi. Contoh dapat diuraikan dalam bentuk narasi atau
deskripsi.
Contoh :
Sudah sepuluh hari setelah bantuan terakhir datang. Warga konban banjir di pinggiran
kali Code membutuhkan bahan makanan dan pakaian. Mereka bertahan hidup dengan
mengandalkan daun-daunan yang direbus, jika beruntung mereka makan dengan umbiumbian dan ikan hasil tangkapan sungai. Pakaian mereka hanya sebatas yang mereka
pakai saat ini. Banyak diantara mereka yang menderita penyaki kulit karena tidak
pernah mencuci dan mengganti pakaian.

6. POLA KLAUSALITAS
Dalam pola ini sebab bertindak sebagai gagasan utama, sedangkan akibat sebagai
rincian pengembangannya. Namun demikian, susunan tersebut biasanya juga terbalik.
Akibat dapat berperan sebagai gagasan utama, sedangkan sebab menjadi rincian
pengembangannya.
a. Pola SebabAkibat
Contoh :

Batu akik saat ini sedang menjadi primadona. Bukan hanya dikalangan bapak-bapak
saja, bahkan ibu-ibu dan anak-anak pun juga menyukai batu permata ini. Tak heran
harga batu akik untuk jenis tertentu sangat mahal dan pedagang batu akik mendapatkan
untung yang tinggi.
b. Akibat-Sebab
Contoh :
Banyak pedagang batu akik yang meraup keuntungan yang luar biasa. Hal ini
dikarenakan kepopuleran batu akik setahun terakhir ini. Batu akik saat ini sedang
menjadi primadona. Bukan hanya dikalangan orang tua saja, bahkan ibu-ibu dan anakanak pun juga menyukai batu permata ini.

7. GENERALISASI
Generalisasi adalah menarik kesimpulan dengan cara penalaran secara umum
berdasarkan referensi data, atau peristiwa khusus secara representatif.
a. Umum-Khusus
Contoh :
Dalam melakukan sesuatu hal butuh perencanaan yang matang. Seperti menulis
agenda pada buku catatan kecil. Selanjutnya membuat daftar agenda dari yang paling
mendesak untuk dilakukan. Berikutnya memulai dari yang paling mudah ke agenda yang
tersulit. Konsisiten terhadap agenda yang dibuat. Insya Allah agenda yang sudah
terencana dapat dilakukan dengan baik.
b. Khusus-Umum
Contoh : Ikan cupang terkenal dengan kegesitannya dalam bertarung dan bentuknya
yang mungil dan indah. Ikan Lauhan terkenal dengan motif menyerupai huruf mandari di
tubuhnya. Ikan mas koki identik dengan corak keemasannya yang indah. Memelihara
ikan hias sungguh merupakan keasyikan tersendiri bagi para pencintanya.

8. KLASIFIKASI

Klasifikasi adalah usaha mengelompokkan berbagai hal yang dianggap memiliki


kesamaan ke dalam satu kategori. Dengan demikian hubungan di antara berbagai hal
itu menjadi satu kesatuan yang utuh.
Contoh :
Fiil (kata kerja) dalam bahasa arab terbagi menjadi tiga. Yakni fiil madhi (lampau), fiil
mudharek (sekarang dan yang akan datang), dan fiil amar (kata kerja perintah). Masingmasing kata kerja dari ketiganya memiliki bentuk dasar yang sama dan akan berubah
mengikuti kaidah yang berlaku dalam bahasa arab.

9. DEFINISI LUAS
Paragraf ini menguraikan sebuah gagasan yang abstrak atau istilah yang menimbulkan
kontroversi yang membutuhkan penjelasan.
Contoh:
Sejatinya sebuah pergerakan mahasiswa terlahir dengan adanya sebuah cita-cita yang
luhur, visi- misi yang jelas, serta kemauan kuat membangun bangsa ini dari
keterpurukan. Namun, yang terjadi saat ini sangat jauh berbeda dari tujuan berdirinya
sebuah pergerakan tersebut. Pola pengkaderan yang salah atau melencengnya ideologi
pergerakan membuat arah dan tujuan berubah, langkah menjadi tidak pasti, tidak tegas
dan cenderung mementingkan kepentingan kelompok. Kampus dijadikan sebuah ladang
garapan banyak pihak yang mengaku peduli akan cita-cita revolusioner, peduli akan
nasib bangsa, pendidikan, dan lain-lain. Namun pada kenyataanya, pergerakan
mahasiswa saat ini lebih cenderung memikirkan bagaimana visi kelompok terwujud lebih
cepat. Bahkan beberapa pergerakan saat ini dijadikan sebuah sarana pengkaderan dan
perpanjangan partai politik yang mengatasnamakan gerakan peduli rakyat, demokrasi,
anti korupsi dan lain sebagainya.

a.
Dari ke-4 sudut paragraf di atas, paragraf dari sudut pandang satuan karangan dan
paragraf sudut pandang sifat tujuan karangan yang perlu dipahami lanjut. Setelah
memerhatikan

jenis-jenis paragraf dari berbagai sudut pandang, berikut ini akan

dijelaskan jenis paragraf dari sudut pandang satuan karangan, yaitu paragraf pembuka ,
paragraf isi, dan paragraf penutup.
A. PARAGRAF PEMBUKA
Paragraf pembuka adalah paragraf yang mengawali sebuah penulisan karangan
dengan mengantarkan pokok masalah dalam bagian pendahuluan karangan. Hal-hal
yang harus diperhatikan dalam menyusun paragraf pembuka karangan:
(1) Paragraf itu berfungsi mengantar pokok masalah karangan.
(2) Paragraf ini sanggup menyiapkan pikiran pembaca pada pokok masalah yang akan
dijelaskan.
(3) Kata-kata dalamparagraf ini hendaknya menarik perhatian pembaca, sehingga mudah
memahami. Pokok masalah yang akan diuraikan.
(4) Kalimat dan paragraf dalambagian ini tidak terlalu panjang karena paragraf belum
menguraikan.
B. PARAGRAF ISI
Paragraf isi atau paragraf pengembang adalah jenis paragraf yang berfungsi menuraikan
atau memperjelas pokok masalah yang akan diuraikan dalam karangan. Uraian pokok
masalah dalam paragraf ini dapat disampaikan dengan berbagai metode pengembangan
dan menampilkan hal-hal teknis uraian dalam karangan ilmiah. Hal-hal yang
diperhatikan dalam jenis paragraf ini diantaranya:
(1) Mengemukakan pokok masalah dengan jelas dan eksplisit.
(2) Perlu dijaga keserasian dan kelogisan antarparagraf.
(3)

Pengembangan

paragraf

dapat

menggunakan

jenis

paragraf

ekspositoris,

argumentative, deskriptif, dan naratif.


(4) Memperhatikan hal teknis penulisan seperti kutipan, sumber kutipan, penggunaan
bagan diagram grafik kurva.
(5) Menyiapkan uraian pokok masalah yang disentesiskan sebagai bahan paragraf
kesimpulan.
C. PARAGRAF PENUTUP
Paragraf penutup merupakan pernyataan kembali gagasan yang diuraikan atau
merupakan jawaban pertanyaan yang terdapat pada paragraf pembuka. Paragraf ini
merupakan akhir sebuah karangan yang dapat disampai secara horisontal dan vertical
dalam rincian. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penyusunan paragraf penutup ini,
antara lain :

1) Paragraf ini tidak boleh terlalu panjang dan tidak begitu saja memutuskannya.
2) Paragraf ini ditampilkan sebagai cerminan sebuah kesimpulan.
3) Paragraf ini harus mendapat kesan positif dan informasi
4) pengetahuan yang logis dan kondusif.
5) Paragraf ini dapat berupa jawaban singkat dariuraian atau pertanyaan yang terdapat
pada paragraf pembuka.
6) Paragraf ini jangan lagi menguraikan, mengutip, dan mengemukakan masalah baru.
7) Berdasarkan apa yang disimpulkan dalam paragraf, penulis dapat mengajukan
rekomendasi atau
8) Usulan yang berupa saran

karena

keterbatasan waktu dan dana

yang penulis

dapatkan.
2.5 Pengembangan Paragraf Berdasarkan Teknik
Pengembangan paragraf yang pePertama dapat dilihat dari sudut pandang teknik.
Berdasarkan tekniknya pengembangan paragraf dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu
pengembangan secara alamiah dan pengembangan secara logis.
2.5.1 Pengembangan Secara Alamiah
Paragraf yang dikembangkan berdasarkan urutan waktu bersifat kronologis. Hal itu
berarti kalimat yang satu mengungkapkan waktu peristiwa terjadi, atau waktu
kegiatan dilakukan, dan diikuti oleh kalimat kalimat yang mengungkapkan waktu
peristiwa terjadi, atau waktu kegiatan dilakukan. Paragraf yang dikembangkan
dengan cara ini tidak dijumpai adanya kalimat utama atau kalimat topik. Paragraf
seperti ini biasanya digunakan pada paragraf naratif dan prosedural. Paragraf yang
dikembangkan berdasarkan urutan ruang atau tempat membawa pembaca dari satu
titik ke titik berikutnya dalam sebuah ruangan. Hal itu berarti kalimat yang satu
mengungkapkan suatu bagian (gagasan) yang terdapat pada posisi tertentu, dan
diikuti oleh kalimat-kalimat lain yang mengungkapkan gagasan yang berada pada
posisi yang lain. Pengungkapan gagasan dengan urutan ruang ini tidak boleh
sembarangan, sebab cara yang demikian akan mengakibatkan pembaca mengalami
kesulitan memahami pesan. Paragraf seperti ini biasanya digunakan pada paragraf
deskriptif.
2.5.2 Pengembangan Secara Logis

Pengembangan paragraf secara logis maksudnya adalah pengembangan paragraf


menggunakan pola pikir tertentu. Pengembangan paragraf secara logis dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu klimaks-antiklimaks, dan umum-khusus. Paragraf
yang dikembangkan klimaks-antiklimaks dibagi menjadi dua, yang pertama klimaks,
dan yang kedua antiklimaks. Pengembangan paragraf secara klimaks dilakukan
dengan cara menyajikan gagasan-gagasan yang berupa rincian yang dianggap
sebagai gagasan bawahan, kemudian diakhiri dengan gagasan yang paling
tinggi/atas/kompleks

kedudukannya

atau

kepentingannya.

Sebaliknya,

pengembangan paragraf secara antiklimaks dilakukan dengan terlebih dulu gagasan


yang dianggap paling tinggi/atas/kompleks kedudukannya atau kepentingannya, baru
diikuti dengan gagasan-gagasan yang berupa rincian yang dianggap sebagai gagasan
bawahan, gagasan yang dianggap kurang penting atau rendah kedudukannya.
Pengembangan paragraf berdasarkan kriteria umum-khusus, dapat dikelompokkan
menjadi dua, yaitu paragraf yang dikembangkan dengan cara umum ke khusus, dan
khusus ke umum. Paragraf yang dikembangkan secara umum ke khusus berupa
paragraf yang dimulai dengan gagasan umum yang biasanya merupakan gagasan
utama, kemudian diikuti dengan gagasan khusus sebagai gagasan penjelas atau
rincian. Paragraf yang dikembangkan dengan cara umum ke khusus ini biasa disebut
dengan paragraf deduktif. Paragraf yang dikembangkan secara khusus ke umum
berupa paragraf yang dimulai dengan gagasan khusus sebagai gagasan penjelas atau
rincian, kemudian diikuti dengan gagasan umum yang biasanya merupakan gagasan
utama. Paragraf yang dikembangkan dengan cara khusus ke umum ini biasa disebut
dengan paragraf induktif. Pengembangan paragraf logis umum-khusus ini, baik
dengan cara umum ke khusus (deduktif) maupun khusus ke umum (induktif), paling
banyak diguankan, lebih-lebih dalam karya ilmiah karena karya ilmiah pada
umumnya merupakan sintesis antara deduktif dan induktif (lihat Akhadiah M.K.
dkk., 1991/1992; Soeparno, Haryadi, dan Suhardi 2001).

BAB III
PENUTUP

Paragraf berpotensi terdiri atas beberapa kalimat yang secara visual ditandai dengan
indensasi. Pembentukkan paragraf yang baik harus memenuhi persyaratan kesatuan,
kepaduan, dan kelengkapan. Untuk itu, diperlukan pengembangan paragraf yang baik.
Kerangka struktur paragraf dikembangkan berdasarkan peletakan kalimat utama dan
kalimat-kalimat

penjelas.

Pengembangan

paragraf

berdasarkan

tekniknya

dapat

dikelompokkan menjadi alamiah dan logis. Pengembnagna paragraf berdasarkan isinya,


antara lain dapat dilakukan dengan perbandingan, contoh, sebab-akibat dan klasifikasi.