Anda di halaman 1dari 16

HARA

Oleh :
Gina Amalia
Riska Mey Vitasari
Rombongan
Kelompok : 5
Asisten

B1J013004
B1J013056
: VI
: Yenita Riani

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN II

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

I.
Tanaman

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

memerlukan

unsur

hara

untuk

hidup,

tumbuh,

dan

menyelesaikan siklus hidupnya. Kekurangan salah satu dari unsur hara


menyebabkan terganggunya pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
Unsur hara yang memiliki karakter seperti ini disebut sebagai unsur hara
esensial. Salisbury & Ross (1992), menyebut 13 unsur hara esensial yang
terbagi menjadi unsur hara mikro (Mo, Cu, Zn, Mn, Fe, Bo, dan Cl) dan unsur
hara makro (N, P, K, Ca, Mg, S). Selain itu, ada unsur O2,H2 dan C juga
dimasukkan sebagai unsur hara esensial. Unsur hara esensial terlibat dalam
biosintesis molekul baik struktural maupun fungsional.
Konsentrasi unsur hara esensial berpengaruh langsung terhadap laju
fotosintesis.

Salah

satu

unsur

hara

yang

banyak

digunakan

untuk

meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman adalah fosfor. Unsur ini


dianggap

merupakan

unsur

hara

yang

tidak

dapat

diperbaharui,

mempengaruhi produksi panen lebih dari 30 %. Penghentian pemberian


fosfor mengakibatkan terhambatnya pertumbuhan daun dan apabila fosfor
kemudian ditambahkan pada tanaman tersebut, maka aktivitas fotosintesis
mengalami kenaikan dalam waktu 3-48 jam (Adiputra, 2010). Gejala
kekurangan unsur hara dapat dilihat secara visual pada bagian-bagian
tanaman seperti daun, batang, bunga, dan buah. Defisiensi unsur hara
tertentu mungkin terlihat pada daun yang sudah tua (Adiputra, 2010).
Padi (Oryza sativa L.) merupakan salah satu tanaman budidaya
terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis
tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa
jenis dari marga (genus) yang sama dan biasa disebut sebagai padi liar.
Produksi padi dunia menempati urutan ketiga dari semua serealia, setelah
jagung dan gandum. Padi merupakan sumber karbohidrat utama bagi
mayoritas penduduk dunia. Hasil dari pengolahan padi dinamakan beras.
Tanaman padi dibudidayakan sebagai tanaman pangan utama. Keadaan
iklim, struktur tanah dan air setiap daerah berbeda maka dari itu setiap
tanaman di daerah berbeda juga. Perbedaan jenis padi umumnya terletak
pada usia tanaman, jumlah hasil, mutu beras dan ketahanan terhadap hama
dan penyakit (Heddy, 1990).
B. Tujuan

Tujuan praktikum acara hara adalah mengetahui macam-macam


unsur hara dan pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

Unsur yang terkandung dalam tubuh tumbuhan dapat diketahui


dengan menumbuhkan tanaman dengan akar terendam dalam larutan
garam mineral (larutan hara) yang susunan kimianya tertentu dan terbatas
dengan

menggunakan

bahan

kimia

murni.

Pertamanan

seperti

ini

dinamakan hidroponik. Walaupun teknik ini mempermudah penelitian


tentang hara mineral, ada juga kekurangannya. Salah satunya adalah
kebutuhan

akar

akan

aerasi.

Kekurangan

lainnya

ialah

perlunya

menggantikan larutan tiap hari agar didapatkan pertumbuhan maksimum


karena susunan larutan terus menerus berubah ketika ion tertentu diserap
lebih cepat daripada ion yang lainnya. Penyerapan pilih-pilih ini bukan hanya
menghabiskan ion tertentu saja, tapi juga menyebabkan perubahan pH yang
tak diinginkan (Salisbury dan Ross, 1995).
Unsur hara pokok (makro nutrien) mempunyai tiga peranan atau
fungsi yaitu :
1.

Elektro

kimia,

yaitu

meliputi

proses

mengimbangkan

konsentrasi ion, stabilisasi makro molekul, stabilisasi koloida dan


netralisasi.
2.

Struktur, dilakukan oleh elemen dalam keterlibatannya pada


struktur kimia molekul biologi atau dalam membentuk polen struktural
(misalnya, kalsium dalam pektin , fosfor dalam fosfolipida).

3.

Katalitik, yaitu terlibat pada bagian aktif (active site) suatu


enzim. Mikro nutrien hanya berperan dalam fungsi katalitik (Thomas dan
Richardson, 1973).
Menurut Meyer dan Anderson (1992), peranan umum unsur hara

esensial bagi tumbuhan antara lain :


1. Komponen penyusun protoplasma dan dinding sel
Sejumlah elemen sangat penting sebagai komponen permanen pada
protoplasma dan dinding sel.
2. Berpengaruh pada tekanan osmotik sel tumbuhan

Tekanan osmotik beberapa sel tumbuhan diatur oleh bahan organik dan
bahan mineral yang terlarut dalam cairan sel. Kebanyakan sel tumbuhan
dengan konsentrasi unsur hara yang tinggi, tekanan osmotik cairan
tumbuhan sangat rendah.
3. Berpengaruh terhadap kerja asam dan buffer
Unsur hara yang diserap dari tanah seringkali berpegaruh pada pH cairan
sel dan bagian lain dari sel tumbuhan, walaupun kadang-kadang tidak
begitu besar. Asam organik dan senyawa lain menyebabkan aktivitas
metabolik pada tumbuhan biasanya mempunyai pegaruh terutama dalam
menentukan pH sel.
4. Berpengaruh pada permeabilitas membran sitoplasma
Permeabilitas membran sitoplasma dipengaruhi oleh kation dan anion
pada medium yang terkontak langsung dengannya.
5. Fungsi toksik dari elemen mineral
Banyak unsur hara dalam bentuk ion mempunyai pengaruh toksik
terhadap protoplasma, kadang-kadang menyebabkan kematian saat
konsentrasinya sangat rendah.
6. Fungsi antagonistik.
Satu ion atau garam berpengaruh balik pada ion atau garam lain.
Beberapa

elemen

mineral

beriteraksi

dengan

cara

mengatur

keseimbangan ion.
7. Fungsi katalitik.
Pengaruh

khusus

unsur

hara

pada

tumbuhan

diakibatkan

oleh

partisipasinya dalam suatu fungsi atau sistem katalitik dan berbagai


reaksi enzimatis dalam sel. Unsur-unsur ini termasuk bagian dari
golongan prostetik enzim, sedangkan unsur-unsur lain dapat berperan
sebagai aktivaktor atau inhibithor pada satu atau lebih sistem enzimatik.

III.

MATERI DAN METODE


A. Materi

Alat-alat yang digunakan pada praktikum hara adalah 10 buah botol


gelap, kapas, penggaris, label dan alat tulis.
Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum hara adalah Fe EDTA,
FeCl, -Ca, -S, -Mg, -K, -N, -P, -Fe, -hara mikro, dan 10 buah semai padi
(Oryza sativa).
B. Metode
Metode yang digunakan pada praktikum kali ini adalah:
1. 10 botol gelap berukuran sedang dan kecil disiapkan.
2. 10 botol di cuci hingga bersih.
3. Botol dikeringkan dan diberi label tiap botolnya sesuai dengan nama
larutan yang akan dimasukkan.
4. Larutan-larutan dimasukkan secukupnya ke dalam masing-masing botol.
5. Tanaman semai padi (Oryza sativa) dimasukkan kedalam botol, tiap
botol dimasukkan larutan hara lengkap dengan Fe EDTA, atau hara
lengkap dengan FeCl, -Ca, -S, -Mg, -K, -N, -P, -Fe, dan hara mikro.
6. Kapas disumbatkan pada mulut botol agar tanaman tetap tegak berdiri.
7. Tanaman diukur akar terpanjang dan jumlah akar.
8. Tanaman diamati setiap hari selama 4 minggu, masing-masing larutan
diganti tiap minggu.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Gambar 4.1 Hara minggu ke-1


Hara minggu ke-2

Gambar 4.2

Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Jumlah Akar


1

Ulangan
2

Fe-EDTA

10

22

15

47.000

FeCl3

16

22

24

62.000

Tanpa Ca

11

22

20

53.000

14

11

32.000

23

26

26

75.000

Tanpa K

13

12

34.000

Tanpa N

15

26

29

70.000

Tanpa P

12

13

13

38.000

Tanpa Fe

12

24

29

65.000

Perlakua
n

Tanpa S
Tanpa Mg

Total

Rataa
n
15.66
7
20.66
7
17.66
7
10.66
7
25.00
0
11.33
3
23.33
3
12.66
7
21.66
7

Tanpa
Hara
Mikro

13

15

14

14.00
0

42.000
518.00
00

Total
FK
JK Total
JK
perlakua
n
JK Galat

8944.13
1201.87
722.533
479.333

Tabel 4.2 Anova Hasil Pengamatan Jumlah Akar


SR
Perlakua
n

dB

JK
9

Galat

20

Total

29

722.5333
33
479.3333
33
1201.866
667

KT
80.281
48
23.966
67

Fhitung
3.34971
41

F Table
0.05
0.01
*

2.39

3.46

Tabel 4.4 Hasil Pengamatan Panjang Akar Terpanjang


Perlakuan
Fe-EDTA
FeCl3
Tanpa Ca
Tanpa S
Tanpa Mg
Tanpa K
Tanpa N
Tanpa P
Tanpa Fe
Tanpa Hara
Mikro

1
11
9
5,6
5,4
8
9
8,4
8,5
8
14
Total

Ulangan
2
3
11,5
11,9
9,6
9,5
6
5,7
7
5,9
8,4
8,7
6,7
8,2
9
8,4
8
8
8,5
8,6
15,6

16

Total

Rataan

11.000
9.000
6.000
7.000
8.000
9.000
9.000
16.000
8.000

11.000
9.000
6.000
7.000
8.000
9.000
9.000
8.000
8.000

30.000

15.000

113.000
0

FK
JK Total
JK
perlakuan
JK Galat
Tabel 4.5 Hasil Pengamatan Panjang Akar Terpanjang

709.3889
447.6111
-131.722
579.3333

SR

dB

JK

F Table

KT
Fhitung

Galat

12

131.7222
22
579.3333
33

Total

17

447.6111
11

Perlaku
an

26.3444
48.2777
8

0.05

0.01

2.39

3.46

-0.545684695

B. Pembahasan
Berdasarkan hasil pengamatan pengaruh unsur hara terhadap jumlah
akar tanaman padi didapatkan hasil bahwa pemberian zat hara terhadap
jumlah akar tanaman padi adalah signifikan, yaitu F hitung > F table, yang
dapat dilihat pada tabel anova dimana F hitung= 2,4489205 dan F tabel=
2,39 (0,05) atau 3,46 (0,01). Hal tersebut menunjukkan bahwa pemberian
zat pengatur tumbuh berpengaruh terhadap jumlah akar. Dwidjoseputro
(1992), menyebutkan bahwa pada proses pembentukkan akar, auksin akan
memacu proses terbentuknya akar serta pertumbuhan akar dengan lebih
baik. Hasil anova pada panjang akar tanaman padi

diperoleh hasil yang

tidak signifikan karena F hitung < F tabel. Hal ini dikarenakan ada beberapa
faktor diantaranya komposisi larutan yang tidak sesuai, larutan yang
diberikan terlalu sedikit dan bisa juga pengaruh dari lingkungannya. Salah
satu faktor yang menunjang tanaman untuk tumbuh dan berproduksi secara
optimal adalah ketersediaan unsur hara dalam jumlah yang cukup di dalam
tanah. Jika tanah tidak dapat menyediakan unsur hara yang cukup bagi
tanaman,

maka pemberian

pupuk

perlu

dilakukan

untuk

memenuhi

kekurangan tersebut. Setiap jenis tanaman membutuhkan unsur hara dalam

jumlah yang berbeda. Ketidaktepatan pemberian unsur hara atau pupuk


selain akan menyebabkan tanaman tidak dapat tumbuh dan berproduksi
secara optimal juga merupakan pemborosan tenaga dan biaya (tidak
efisien) (Ruhnayat, 2007).
Unsur yang dibutuhkan dalam jumlah banyak oleh tanaman disebut
unsur hara makro, sedangkan unsur yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit
disebut unsur hara mikro. Unsur hara makro terdiri dari C, H, O, N, S, P, K,
Ca dan Mg yang berfungsi sebagai penunjang pertumbuhannya, sedangkan
unsur hara mikro terdiri atas B, Cl, Cu, Fe, Mn, Mo dan Zn yang berfungsi
untuk aktivitas enzim dan berperan dalam proses metabolisme tanaman.
Kedua kelompok unsur hara tadi secara bersama-sama sering pula disebut
sebagai elemen yang esensial. Kedua kelompok unsur tersebut merupakan
unsur-unsur yang tidak boleh tidak ada dalam nutrisi tumbuhan. Jika salah
satu dari unsur ini tidak ada dalam nutrisinya, maka akan menyebabkan
pertumbuhan dan metabolisme pada tumbuhan terganggu, bahkan dapat
menyebabkan kematian bagi tumbuhan tersebut (Dwidjoseputro, 1992).
Masing-masing unsur hara makro maupun mikro tersebut mempunyai
peranan dalam mendukung kelangsungan hidup tumbuhan, yaitu sebagai
berikut :
1. Fungsi hara makro N (nitrogen) adalah Merangsang pertumbuhan
tanaman secara keseluruhan, merupakan bagian dari sel ( organ )
tanaman itu sendiri, sintesa asam amino dan protein dalam tanaman
dan, merangsang pertumbuhan vegetatif (warna hijau) seperti daun.
Gejala defisiensi dari unsur ini menyebabkan pertumbuhan lambat atau
kerdil, daun hijau kekuningan, daun sempit, pendek dan tegak, daundaun tua cepat menguning karena klorosis daun dewasa secara
perlahan-lahan akan rontok , biasanya tidak terjadi nekrosis, terbentuk
antosianin pada batang, tangkai daun, daun muda lebih kaku, tumbuhan
kurang berkembang , dormansi tunas lateral berkepanjangan. Kelebihan
hara

makro

N menyebabkan

proliferasi

berkurang, kematian (Lakitan, 1993).


2. Fungsi hara mikro P (fosfor) adalah
metabolisme

dalam

tanaman,

batang

dan

daun

buah

energi

hasil

pembungaan

dan

pengangkutan

merangsang

pembuahan, merangsang pertumbuhan akar, merangsang pembentukan


biji, merangsang pembelahan sel tanaman dan memperbesar jaringan
sel. Defisiensi unsur P menyebabkan pertumbuhan dan reaksi-reaksi
akan terhambat. Gejala defisiensi ditandai dengan hilangnya daun tua,

pembentukan antosianin pada batang, tulang daun. Keadaan yang parah


akan timbul daerah nekrosis pada berbagai bahan tumbuhan. Fosfor (P)
merupakan unsur hara esensial produksi ATP, DNA, RNA dan konstituen
sel tanaman lainnya. Hal ini memainkan peran penting dalam hampir
semua fase kehidupan tanaman, termasuk fotosintesis, berbunga,
produksi benih, pematangan dan pertumbuhan akar (Zahedifar et al.,
2011).
3. Fungsi Ca adalah mencegah toksik yang berlebihan, mensintesis pektin,
metabolisme sel, sebagai aktifator fosfolifase dan detoksitifasi asam
oksalat. Kekurangan Ca mengakibatkan terhambatnya pembentukan
dinding sel yang mengakibatkan kerusakan dan kematian tubuhan,
klorosis sepanjang tepi daun muda serta daun membengkok (Lakitan,
2001).
4. Belerang (S) merupakan bagian dari asam amino sintein dan metionin.
Defisiensi

belerang

mengakibatkan

klorosis

secara

umum,

daun

menguning mulai dari daun muda, defisiensi yang parah mengakibatkan


perombakan arginin serta menghasilkan urea dan amoniak (Lakitan,
1993).
5. Mg berfungsi untuk penyusun klorofil, stabilisasi partikel ribosom, reaksi
enzimatik dengan kapasitas bervariasi

sebagai penghubung enzim

terhapap subtratnya , pemindah fosfat dari ATP, mengubah konstanta


keseimbangan reaksi, berikatan dengan produk membentuk komplek
dengan inhibitor. Defisiensinya mengakibatkan klorosis diantara tulang
daun dan menyebabkan munculnya bintik nekrosis (kering) (Lakitan,
1993).
6. Unsur K mempunyai fungsi yang sangat penting pada proses fisiologis
tanaman, seperti aktifitas enzim, pengaturan sel turgor, fotosintesis,
transport hasil fotosintesis, transport hara dan air, serta metabolisme
pati dan protein. Unsur K juga berfungsi dalam permeabilitas dinding sel
tanaman. Kekurangan unsur K pada tanaman dapat menurunkan
kekuatan batang dan ketahanan tanaman terhadap terjangkitnya hama
dan penyakit (Rahardjo, 2012).
7. Besi (Fe) merupakan unsur mikro yang diserap dalam bentuk ion feri
(Fe3+) ataupun fero (Fe2+). Fe dapat diserap dalam bentuk khelat
(ikatan logam dengan bahan organik). Mineral Fe antara lain olivin (Mg,
Fe)2SiO, pirit, siderit (FeCO3), gutit (FeOOH), magnetit (Fe3O4), hematit
(Fe2O3) dan ilmenit (FeTiO3) Besi dapat juga diserap dalam bentuk
khelat, sehingga pupuk Fe dibuat dalam bentuk khelat. Khelat Fe yang

biasa digunakan adalah Fe-EDTA, Fe-DTPA dan khelat yang lain. Fe


dalam tanaman sekitar 80% yang terdapat dalam kloroplas atau
sitoplasma.

Penyerapan

Fe

lewat

daun

dianggap

lebih

cepat

dibandingkan dengan penyerapan lewat akar, terutama pada tanaman


yang mengalami defisiensi Fe, sehingga pemupukan lewat daun sering
diduga lebih ekonomis dan efisien. Fungsi Fe antara lain sebagai
penyusun klorofil, protein, enzim dan berperanan dalam perkembangan
kloroplas. Sitokrom merupakan enzim yang mengandung Fe porfirin.
Kerja katalase dan peroksidase digambarkan secara ringkas sebagai
berikut:
a. Katalase

: H2O + H2O O2 + 2H2O

b. Peroksidase : AH2 + H2O A + H2O


Fungsi lain Fe ialah sebagai pelaksana pemindahan electron dalam
proses metabolisme. Proses tersebut misalnya reduksi N2, reduktase
solfat, reduktase nitrat. Kekurangan Fe menyebabakan terhambatnya
pembentukan klorofil dan akhirnya juga penyusunan protein menjadi
tidak sempurna. Defisiensi Fe menyebabkan kenaikan kadar asam amino
pada daun dan penurunan jumlah ribosom secara drastis. Penurunan
kadar pigmen dan protein dapat disebabkan oleh kekurangan Fe. Juga
akan mengakibatkan pengurangan aktivitas semua enzim (Rioardi,
2009).
8. Mangan diserap dalam bentuk ion Mn++. Mn dapat diserap dalam
bentuk kompleks khelat dan pemupukan Mn sering disemprotkan lewat
daun. Mn dalam tanaman tidak dapat bergerak atau beralih tempat dari
logam yang satu ke organ lain yang membutuhkan. Mn merupakan
penyusun ribosom dan juga mengaktifkan polimerase, sintesis protein,
karbohidrat. Berperan sebagai aktivator bagi sejumlah enzim utama
dalam siklus krebs, dibutuhkan untuk fungsi fotosintetik yang normal
dalam kloroplas dan sintesis klorofil. Defisiensi unsur Mn antara lain
klorosis dan nekrosis (Rioardi, 2009).
9. Zn diserap oleh tanaman dalam bentuk ion Zn ++ dan dalam tanah alkalis
mungkin diserap dalam bentuk monovalen Zn(OH) +. Ketersediaan Zn
menurun dengan naiknya pH, pengapuran yang berlebihan sering
menyebabkan ketersediaaan Zn menurun. Tanah yang mempunyai pH
tinggi sering menunjukkan adanya gejala defisiensi Zn, terutama pada
tanah berkapur. Gejala defisiensi Zn, yaitu tanaman kerdil, ruas-ruas
batang memendek, daun mengecil dan mengumpul (resetting), klorosis

pada daun-daun muda serta intermedier serta adanya nekrosis (Rioardi,


2009).
10.Tembaga (Cu) diserap dalam bentuk ion Cu++ dan mungkin dapat
diserap dalam bentuk senyaewa kompleks organik, misalnya Cu-EDTA
(Cu-ethilen diamine tetra acetate acid) dan Cu-DTPA (Cu diethilen
triamine penta acetate acid). Fungsi dan peranan Cu antara lain
mengaktifkan enzim sitokrom-oksidase, askorbit-oksidase, asam butiratfenolase

dan

laktase.

Berperan

dalam

metabolisme

protein

dan

karbohidrat, berperan terhadap perkembangan tanaman generative dan


fiksasi N secara simbiotis serta penyusunan lignin. Gejala defisiensi
kekurangan Cu, yaitu pembungaan dan pembuahan terganggu, warna
daun muda kuning dan kerdil, daun-daun lemah, layu dan pucuk
mengering serta batang dan tangkai daun lemah (Rioardi, 2009).
11.Molibden diserap dalam bentuk ion MoO4-. Umumnya tanah mineral
cukup mengandung Mo. Mineral lempung yang terdapat di dalam tanah
antara lain molibderit (MoS), powellit (CaMo)3.8H2O. Fungsi Mo dalam
tanaman adalah mengaktifkan enzim nitrogenase, nitrat reduktase dan
xantine oksidase. Gejala yang timbul karena kekurangan Mo hampir
menyerupai
pertumbuhan

kekurangan
tanaman,

N.

Kekurangan

daun

menjadi

Mo

dapat

pucat

dan

menghambat
mati

serta

pembentukan bunga terlambat. Gejala defisiensi Mo dimulai dari daun


tengah dan daun bawah. Daun menjadi kering kelayuan, tepi daun
menggulung dan daun umumnya sempit. Bila defisiensi berat, maka
lamina hanya terbentuk sedikit sehingga kelihatan tulang-tulang daun
lebih dominan (Rioardi, 2009).
12.Boron dalam tanah terutama sebagai asam borat (H2BO3) dan kadarnya
berkisar antara 7-80 ppm. Fungsi boron dalam tanaman antara lain
berperanan dalam metabolisme asam nukleat, karbohidrat, protein,
fenol dan auksin. Boron juga berperan dalam pembelahan, pemanjangan
dan diferensiasi sel, permeabilitas membran dan perkecambahan serbuk
sari. Gejala defisiensi hara mikro ini antara lain pertumbuhan terhambat
pada jaringan meristematik (pucuk akar), mati pucuk, mobilitas rendah,
buah yang sedang berkembang sangat rentan dan mudah terserang
penyakit (Rioardi, 2009).
13.Klor merupakan unsur yang diserap dalam bentuk ion Cl - oleh akar
tanaman dan dapat diserap pula berupa gas atau larutan oleh bagian
atas tanaman, misalnya daun. Kadar Cl dalam tanaman sekitar 200020.000 ppm berat tanaman kering. Klor berfungsi sebagai pemindah

hara tanaman, meningkatkan osmose sel, mencegah kehilangan air


yang tidak seimbang, memperbaiki penyerapan ion lain, berperan dalam
fotosistem II dari proses fotosintesis, khususnya dalam evolusi oksigen.
Defisiensi klor yaitu, pola percabangan akar abnormal, daun lemah dan
layu, warna keemasan (bronzing) pada daun, pada tanaman kol daun
berbentuk mangkuk (Rioardi, 2009).
Menurut Lakitan (2001), mekanisme penyerapan unsur hara dalam
tanah melalui tiga mekanisme, yaitu:
1. Aliran Massa (Mass Flow)
Mekanisme aliran massa adalah suatu mekanisme gerakan unsur
hara di dalam tanah menuju ke permukaan akar bersama-sama dengan
gerakan massa air. Selama masa hidup tanaman mengalami peristiwa
penguapan air yang dikenal dengan peristiwa transpirasi. Selama proses
transpirasi tanaman berlangsung, terjadi juga proses penyerapan air
oleh akar tanaman. Pergerakan massa air ke akar tanaman akibat
langsung dari serapan massa air oleh akar tanaman ikut terbawa unsur
hara yang terkandung dalam air tersebut. Peristiwa tersedianya unsur
hara yang terkandung dalam air ikut bersama gerakan massa air ke
permukaan akar tanaman dikenal dengan mekanisme aliran massa.
Unsur hara yang ketersediaannya bagi tanaman melalui mekanisme ini
meliputi nitrogen (98,8%), kalsium (71,4%), belerang (95,0%) dan Mo
(95,2%).
2. Difusi
Ketersediaan unsur hara ke permukaan akar tanaman dapat juga
terjadi karena melalui mekanisme perbedaan konsentrasi. Konsentrasi
unsur hara pada permukaan akar tanaman lebih rendah dibandingkan
dengan konsentrasi hara dalam larutan tanah dan konsentrasi unsur
hara pada permukaan koloid liat serta pada permukaan koloid organik.
Kondisi ini terjadi karena sebagian besar unsur hara tersebut telah
diserap oleh akar tanaman. Tingginya konsentrasi unsur hara pada
ketiga posisi tersebut menyebabkan terjadinya peristiwa difusi dari
unsur hara berkonsentrasi tinggi ke posisi permukaan akar tanaman.
Peristiwa pergerakan unsur hara yang terjadi karena adanya perbedaan
konsentrasi unsur hara tersebut dikenal dengan mekanisme penyediaan
hara secara

difusi. Beberapa unsur hara

yang

tersedia

mekanisme difusi adalah fosfor (90,9%) dan kalium (77,7%).

melalui

3. Intersepsi Akar
Mekanisme

intersepsi

akar

sangat

berbeda

dengan

kedua

mekanisme sebelumnya. Kedua mekanisme sebelumnya menjelaskan


pergerakan unsur hara menuju ke akar tanaman, sedangkan mekanisme
ketiga ini menjelaskan gerakan akar tanaman yang memperpendek
jarak dengan keberadaan unsur hara. Peristiwa ini terjadi karena akar
tanaman tumbuh dan memanjang, sehingga memperluas jangkauan
akar tersebut. Perpanjangan akar tersebut menjadikan permukaan akar
lebih mendekati posisi dimana unsur hara berada, baik unsur hara yang
berada dalam larutan tanah, permukaan koloid liat dan permukaan
koloid organik. Mekanisme ketersediaan unsur hara tersebut dikenal
sebagai mekanisme intersepsi akar. Unsur hara yang ketersediaannya
sebagian besar melalui mekanisme ini adalah kalsium (28,6%).
Ketersediaan hara bagi tanaman ditentukan oleh faktor-faktor yang
mempengaruhi kemampuan tanah mensuplai hara dan faktor-faktor yang
mempengaruhi kemampuan tanaman untuk menggunakan unsur hara yang
disediakan. Faktor-faktor tersebut antara lain kandungan oksigen udara
tanah dan suhu tanah. Unsur hara yang melarut dalam larutan tanah
berasal

dari

beberapa

sumber

seperti

pelapukan

mineral

primer,

dekomposisi bahan organik, deposisi dari atmosfer, aplikasi bahan pupuk,


rembesan air tanah dari tempat lain. Kondisi pH tanah merupakan faktor
penting

yang

menentukan

kelarutan

unsur

yang

cenderung

berkesetimbangan dengan fase padatan. Kelarutan oksida- oksida hidrous


dari Fe dan Al secara langsung tergantung pada konsentrasi hidroksil (OH)
dan menurun ketika pH meningkat. Faktor lain yang sangat penting dalam
menentukan konsentrasi hara dalam larutan tanah adalah potensial redoks.
Faktor ini berhubungan dengan keadaan aerasi tanah yang selanjutnya
sangat tergantung pada laju respirasi jasad renik dan laju difusi oksigen
serta mempengaruhi kelarutan unsur hara mineral yang mempunyai lebih
dari satu bilangan oksidasi (valensi), seperti C, H, O, N, S, Fe, Mn, dan Cu.
Kandungan air yang mendekati atau melebihi kondisi kejenuhan merupakan
sebab utama dari buruknya aerasi karena kecepatan difusi oksigen melalui
pori yang terisi air jauh lebih lambat daripada pori yang berisi udara (Heddy,
1990).

V.

KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat disimpulkan bahwa:
1. Hara yang termasuk hara makro adalah nitrogen (N), fosfor (P), kalium
(K), kalsium (Ca), magnesium (Mg) dan sulfur (S), sedangkan yang
termasuk hara mikro adalah klorin (Cl), boron (B), besi (Fe), mangan (Mn),
tembaga (Cu), seng (Zn), nikel (Ni) dan molibdenum (Mo).
2. Setiap unsur hara memiliki peran dan fungsinya masing-masing pada
pertumbuhan tanaman semai padi, kekurangan salah satu unsur hara
akan menghambat proses metabolisme yang pada akhirnya akan
menghambat pertumbuhan tanaman.
3. Padi yang kekurangan unsur hara dapat berpengaruh pada panjang akar
dengan hasil pengamatan yang signifikan karena F hitung > F table,
sedangkan pengaruh padi yang kekurangan hara terhadap jumlah akar
hasilnya tidak signifikan karena nilai Fhitung lebih < F tabel.
B. Saran
Sebaiknya dibuat jadwal penyiraman tiap hari pada masing-masing
rombongan agar lebih efektif dan terkontrol dalam penyiraman tanaman.

DAFTAR REFERENSI
Adiputra, Ketut. 2010. Penilaian status unsur hara pada tumbuhan
menggunakan pendekatan biosintesis sukrosa. Jurnal Widya Biologi,
Vol. 1 (1):1-54.

Dwidjoseputro. 1992. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia, Jakarta.


Heddy, G. 1990. BIologi Pertanian. Rajawali Press, Jakarta
Lakitan,B. 1993. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan.PT Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
Lakitan, B. 2001. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. PT Raja Grafindo Persada,
Jakarta.
Meyer, B. S. and D. B. Anderson. 1992. Plant Fisiology. D. Van Nostrand
Company, Inc, Princeton, New Jersey.
Ruhnayat, A. 2007. Penentuan Kebutuhan Pokok Unsur Hara N, P, K untuk
Pertumbuhan Tanaman Panili (Vanilla planifolia Andrews). Balai
Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik, Vol. 18 (1): 49 59.
Rahardjo, Mono. 2012. Pengaruh Pupuk K Terhadap Pertumbuhan, Hasil Dan
Mutu Rimpang Jahe Muda (Zingiber Officinale Rocs.). Jurnal Littri 18(1)
: 10 16. ISSN 0853-8212.
Rioardi, N. 2009. Ilmu tanah. Universitas Brawijaya. Malang.
Salisbury, F. B., and C. W. Ross. 1992. Plant Physiologi Fourth Edition.
Wadsworth Publishing Company, California.
Salisbury, F. B., dan Ross, C. W. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. ITB,
Bandung.
Thomas. M.S.L. And J.A. Richardson. 1973. Plant Physiology. Longman Group
Ltd, London.
Zahidefar, M., Najafali, K., Abdoelmajid, R., Jafar,Y., Yahya, E., Ali,A.M. 2011.
Effect of Phosphorus and Organic Matter on Phosphorus Status of
Winter Wheat at Different Part and Growth Stages. Journal of Plant
Breeding and Crop Science. 3(15): 401-412.