Anda di halaman 1dari 19

TUGAS MATA KULIAH

PENGELOLAAN SUMBER DAYA MINERAL

ANALISIS PELAKSANAAN PROGRAM KEMITRAAN DAN BINA LINGKUNGAN


SEBAGAI WUJUD IMPLEMENTASI CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY
PADA PT TIMAH (PERSERO) TBK.

Oleh
Mirza Adiwarman

03042681519001

PROGRAM STUDI PASCA SARJANA TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
PALEMBANG

2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Penelitian

Konsep Corporate Social Responsibility telah mulai digunakan pada sekitar tahun 1970an dan menjadi semakin popular terutama setelah lahirnya konsep pemikiran dari John Elkington
yang dituangkan kedalam buku Cannibals With Forks: The Triple Bottom Line in 21st Century
Business (1998), yang menerjemahkan konsep CSR ke dalam tiga komponen utama yaitu:
Profit, Planet, dan People (3P). Dalam gagasan ini, perusahaan baru dikatakan sukses apabila
perusahaan tidak hanya bekerja untuk mengejar laba (profit) semata, tetapi juga apabila
perusahaan tersebut memiliki kepedulian terhadap kelestarian lingkungan (planet) dan juga
terhadap kesejahteraan masyarakat (people).
Prinsip-prinsip yang juga mendasari gagasan Corporate Social Responsibility (CSR),
yaitu charity principle dengan penekanan bahwa kalangan masyarakat mampu memiliki
kewajiban moral untuk membantu kalangan yang kurang mampu dan yang kedua adalah
stewardship principle di mana perusahaan diposisikan sebagai public trust karena menguasai
sumber daya dalam jumlah besar, yang penggunaannya akan berdampak besar pada masyarakat,
baik ataupun buruk. Terlebih lagi, saat ini permasalahan kerusakan lingkungan semakin banyak
terjadi, sehingga berbagai macam gerakan untuk melindungi lingkungan hidup pun marak
digulirkan. Beberapa permasalahan lingkungan tersebut disebabkan oleh kegiatan ekonomi yang
dilakukan perusahaaan di kawasan tertentu, misalnya proyek pertambangan. Suatu proyek
pertambangan dapat membawa dampak baik bagi masyarakat dan lingkungan sekitar proyek,
tetapi di sisi lain juga berisiko membawa dampak buruk. Dampak baiknya dapat dikaitkan
dengan penyediaan lapangan kerja bagi penduduk sekitar, sementara dampak buruknya berkaitan
dengan munculnya polusi akibat adanya proyek pertambangan tersebut.
Sebelum terbitnya regulasi-regulasi yang mewajibkan perusahaan melaksanakan CSR,
dahulu CSR dilakukan secara sukarela, dalam artian ada perusahaan yang melaksanakannya dan
ada pula yang tidak. Berbeda, dengan kondisi yang terjadi saat ini, di mana CSR ditetapkan
sebagai salah satu bentuk kewajiban dan tanggung jawab pemerintah terhadap aspek lingkungan
dan sosial. Akibatnya, dahulu kepedulian perusahaan terhadap lingkungan pun terasa masih
kurang. Sebagai contoh, pada kurun waktu tahun 1940-1975, Sungai Hudson di New York

menjadi tempat pembuangan limbah beracun dalam kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh
General Electric (GE), meskipun pada akhirnya GE bersedia menerima tanggung jawab untuk
melakukan pengerukan Sungai Hudson dengan biaya yang jumlahnya tidak sedikit. Dengan
adanya kewajiban bagi perusahaan untuk melaksanakan CSR, diharapkan berbagai potensi
masalah sosial dan lingkungan khususnya yang berkaitan dengan kegiatan ekonomi perusahaan

1.2.

Tujuan dan Metode Penelitian


Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan CSR pada BUMN, dalam hal ini

studi kasus dilakukan terhadap pelaksanaan CSR pada PT Timah (Persero) Tbk yang selanjutnya
disebut sebagai PT Timah, dengan membatasi penelitian pada kegiatan CSR yang dilakukan oleh
PT Timah pada tahun 2012. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan untuk
mengumpulkan informasi dari berbagai sumber khususnya dari Laporan Tahunan yang
diterbitkan oleh PT Timah mengenai kegiatan CSR yang dilaksanakannya dalam bentuk Laporan
Tahunan PKBL.
1.3.

Gambaran Umum Objek Penelitian


Kepulauan Bangka Belitung dikenal sebagai penghasil Timah terbesar di Indonesia dan

Indonesia sendiri merupakan salah satu penghasil Timah terbesar di dunia. Timah merupakan
logam berwarna putih keperakan yang banyak digunakan sebagai logam pelapis, solder maupun
cenderamata. Kegiatan pertambangan Timah di Indonesia, tepatnya di Bangka Belitung, dalam
skala industri telah berlangsung sejak abad ke-18, yaitu oleh perusahaan Belanda yang kemudian
diambil alih oleh Pemerintah Indonesia. Setelah beberapa kali mengalami perubahan bentuk,
perusahaan penambangan Timah tersebut kemudian menjadi PT Timah (Persero) Tbk. Awalnya
sebelum go public, seluruh saham PT Timah dimiliki oleh pemerintah. Namun terjadinya krisis
industri Timah secara global pada tahun 1985 mengakibatkan lahirnya keputusan untuk
melakukan penawaran sebagian saham PT Timah ke publik, demi mendapatkan tambahan
pendanaan untuk keberlangsungan kegiatan ekonomi PT Timah. Saat ini, pemerintah masih
memegang sekitar 65% kepemilikan saham PT Timah. PT Timah diberikan kuasa oleh
pemerintah untuk melakukan kegiatan eksplorasi, eksploitasi, pengolahan maupun distribusi
hasil penambangan Timah.

BAGIAN II
LANDASAN TEORI

2.1.

Definisi Corporate Social Responsibility (CSR)


Corporate Social Responsibility (CSR) mungkin bukan lagi istilah yang awam di telinga

kita. Banyak definisi berbeda terkait CSR yang dikemukakan oleh para ahli. Menurut Kotler dan
Nancy (2005), CSR didefinisikan sebagai: Komitmen korporasi untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat sekitar melalui kebijakan praktik bisnis dan pemberian kontribusi
sumber daya korporasi. Sedangkan World Business Council for Sustainable Development
mendefinisikan CSR sebagai: Komitmen bisnis untuk memberikan kontribusi pada
pembangunan ekonomi berkelanjutan dengan memperhatikan para karyawan dan keluarganya,
masyarakat sekitar serta publik pada umumnya guna meningkatkan kualitas hidup mereka.
Sebenarnya masih banyak lagi, definisi yang dikemukakan oleh para ahli terkait konsep CSR.
Namun dari 2 definisi di atas, dapat disimpulkan beberapa karakteristik dari CSR yaitu bahwa:
1. CSR merupakan suatu bentuk komitmen korporasi dalam aspek sosial.
2. CSR melibatkan adanya kontribusi yang diberikan oleh korporasi, baik kepada
karyawannya, masyarakat sekitar maupun publik pada umumnya.
3. CSR bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan juga untuk
pembangunan ekonomi secara berkelanjutan.

Terkait dengan makna dari pembangunan berkelanjutan, tidak lain yang dimaksud adalah
keberlanjutan dari perusahaan itu sendiri. Perusahaan mau tidak mau harus mengakui
keberadaannya sebagai bagian dari sistem lingkungan dan sistem sosial, oleh karena itu perlu
juga mengakui adanya keterbatasan sumber daya alam dan mengasumsikan tanggung jawab
bersama atas penggunaan dan pengembangan sumber daya sosial sehingga benar-benar paham
dengan dampak yang akan ditimbulkan oleh setiap tindakan yang diambil (Sukada et al,. 2007).
Pembangunan berkelanjutan tersebut hanya dapat dipertahankan jika terdapat keseimbangan
antara aspek ekonomi, sosial dan lingkungan hidup. CSR merupakan fungsi yang sangat penting
dalam mengembangkan lingkungan sosial perusahaan sehingga pengembangan masyarakat akan
seiring dengan pengembangan perusahaan (Ambadar, 2008). Entah disadari atau tidak,
sebenarnya CSR yang dilaksanakan perusahaan dapat menghasilkan keuntungan jangka panjang.
CSR yang dilaksanakan oleh perusahaan, juga akan membantu perusahaan untuk meningkatkan
reputasinya. Melakukan kegiatan CSR dapat meningkatkan dampak ekonomi yang
menguntungkan perusahaan dalam dua hal, yakni:
mengurangi resiko bisnis;
terbukanya kesempatan bisnis (Radyati, 2008).

2.2.

Landasan Hukum Pelaksanaan CSR


Saat ini, telah diterbitkan beberapa regulasi sekaligus panduan (guidance) bagi

perusahaan di Indonesia untuk melaksanakan CSR, antara lain:


Dalam Pasal 68 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup, disebutkan adanya kewajiban bagi setiap orang yang
melakukan usaha dan/atau kegiatan, yaitu untuk memberikan informasi yang terkait
dengan perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup secara benar, akurat, terbuka,
dan tepat waktu, menjaga keberlanjutan fungsi lingkungan hidup dan menaati ketentuan
tentang baku mutu lingkungan hidup dan/atau kriteria baku kerusakan lingkungan hidup.
Bagi Perseroan Terbatas (PT) yang mengelola Sumber Daya Alam diwajibkan untuk
melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan, karena telah diatur dalam UU
Perseroan Terbatas Nomor.40 Tahun 2007, yaitu dalam pasal 74 yang berbunyi:

1. Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan


dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan
Lingkungan,
2. Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan sebagaimana dimaksud ayat (1)
merupakan kewajiban Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai
biaya Perseroan yang pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan
kepatutan dan kewajaran
3. Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
4. Ketentuan lebih lanjut mengenai Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan diatur
dengan Peraturan Pemerintah.
Bagi Perusahaan Penanaman Modal Asing, dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun
2007 tentang Penanaman Modal, daalam Pasal 15 (b) dinyatakan bahwa "Setiap penanam
modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan". Dalam peraturan
tersebut juga diatur mengenai sanksi bagi perusahaan yang melanggar aturan, baik berupa
sanksi administratif maupun sanksi lainnya
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebagai korporasi yang sebagian atau seluruh
sahamnya dimiliki pemerintah, juga tidak terlepas dari adanya kewajiban untuk melaksanakan
terdapat kewajiban untuk melaksanakan CSR, karena bagaimanapun juga dalam menjalankan
kegiatan ekonominya, BUMN juga perlu bertanggung jawab atas aspek sosial dan lingkungan.
Dalam Pasal 2 ayat (1) Undang-undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN disebutkan bahwa
salah satu maksud dan tujuan pendirian BUMN adalah turut aktif memberikan bimbingan dan
bantuan kepada pengusaha golongan lemah, koperasi, dan masyarakat dan dalam Pasal 88 ayat
(1) UU BUMN disebutkan bahwa BUMN dapat menyisihkan sebagian laba bersihnya untuk
keperluan pembinaan usaha kecil dan koperasi serta pembinaan masyarakat sekitar BUMN.
Sebagai tindak lanjutnya

kemudian

diterbitkan

Keputusan Menteri

Negara BUMN

(Kepmen.BUMN) Nomor 236 Tahun 2003 tentang Program Kemitraan BUMN dengan Usaha
Kecil dan Program Bina Lingkungan, yang selanjutnya dilakukan penyempurnaan dengan
Peraturan Menteri Negara BUMN: PER-05/MBU/2007. Dalam PER-05/MBU/2007 Pasal 1 ayat

(6), dijelaskan bahwa Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil, yang selanjutnya disebut
Program Kemitraan, merupakan program untuk meningkatkan kemampuan usaha kecil agar
menjadi tangguh dan mandiri melalui pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN. Sedangkan
pada pasal 1 ayat (7) dijelaskan bahwa Program Bina Lingkungan yang selanjutnya disebut
Program BL adalah program pemberdayaan kondisi sosial masyarakat oleh BUMN melalui
pemanfaatan dana dari bagian laba BUMN.
Dengan demikian, berdasarkan peraturan tersebut, bentuk CSR yang dilaksanakan oleh
BUMN terbagi ke dalam 2 program, yaitu: Program Kemitraan BUMN dengan Usaha Kecil dan
Program Bina Lingkungan. Program Kemitraan diberikan dalam bentuk pembiayaan modal kerja
dan atau pembelian aktiva tetap dalam rangka meningkatkan produksi dan penjualan, atau
pembiayaan kebutuhan dana pelaksanaan kegiatan usaha yang diperlukan dalam rangka
memenuhi pesanan dari rekanan. Sementara, Program Bina Lingkungan sendiri dapat dilakukan
dalam bentuk pemberian bantuan bagi korban bencana alam, bantuan pendidikan dan/atau
pelatihan, bantuan peningkatan kesehatan, bantuan pengembangan prasarana dan/atau sarana
umum, bantuan sarana ibadah dan bantuan pelestarian alam. Dana Program Kemitraan dan
Program Bina Lingkungan BUMN dapat bersumber dari penyisihan laba setelah pajak maksimal
sebesar 2%, yang ditetapkan oleh Menteri bagi BUMN berbentuk Perum dan RUPS bagi BUMN
berbentuk Persero ataupun dari jasa administrasi pinjaman, marjin, bagi hasil, bunga deposito,
dan atau jasa giro dari dana Program Kemitraan setelah dikurangi biaya operasional. Apabila
memungkinkan, suatu BUMN dapat juga melimpahkan dana Program Kemitraan kepada BUMN
yang lain

BAGIAN III
PEMBAHASAN
3.1.

Keterkaitan Pelaksanaan CSR


Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau merupakan dua provinsi di

mana usaha pertambangan timah yang dilakukan oleh Perusahaan berada. Di mana adanya
pertambangan timah di wilayah tersebut turut mempengaruhi taraf kehidupan ekonomi
masyarakat sekitar. PT Timah berperan dalam menunjang pertumbuhan ekonomi serta
peningkatan taraf hidup masyarakat. Oleh karena itu, PT Timah terus memperkuat komitmennya
dalam pelaksanaan program CSR, di mana hal ini sejalan dengan visi dan misi PT Timah
sebagaimana diuraikan dalam Laporan Tahunan PKBL PT Timah Tahun 2012, yaitu:
Visi :
Menjadi perusahaan pertambangan kelas dunia menuju kehidupan yang berkualitas.
Misi :
Mengoptimalkan nilai perusahaan, kontribusi terhadap pemegang saham, dan tanggung
jawab sosial.
Membangun sumber daya manusia yang kompeten dan memiliki integritas, kreativitas,
dan tata nilai positif.
Mewujudkan hubungan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan.

Program CSR dilaksanakan dalam bentuk pelaksanaan Program Kemitraan dan Bina
Lingkungan PT Timah yang mengacu pada Peraturan Menteri Negara BUMN Nomor PER05/MBU/2007 tentang Program Kemitraan BUMN untuk Usaha Kecil dan Program Bina
Lingkungan (PKBL). Biaya implementasi Program Kemitraan dan Bina Lingkungan diperoleh
dari alokasi sebagian laba bersih yang dibukukan Perusahaan pada satu tahun buku sebelumnya.
3.2.

Struktur Organisasi Unit PKBL dan CSR


Kegiatan CSR pada PT Timah dilaksanakan oleh Unit Kerja khusus yaitu Unit PKBL dan

CSR yang berada di bawah Direktorat SDM dan Umum. Berikut ini gambaran struktur
organisasi Unit PKBL dan CSR.

Gambar III.1
Struktur Organisasi Unit PKBL dan CSR PT Timah

Sumber: Laporan Tahunan PKBL PT Timah Tahun 2012


3.3.

Gambaran Umum Kegiatan PKBL PT Timah


Pada tahun 2012, PT Timah menyalurkan dana Program Kemitraan kepada 784 Mitra

Binaan dan untuk Program Bina Lingkungan kepada 745 penerima bantuan. Mitra Binaan PT
Timah terdiri dari berbagai jenis usaha kecil dan koperasi yang tersebar di berbagai wilayah
operasional perusahaan, meliputi Kota Pangkalpinang, Kabupaten Bangka, Bangka Barat,
Bangka Tengah, Bangka Selatan, Belitung, Belitung Timur, Karimun Kundur, Dabo Singkep,
serta wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya, Jawa Barat, dan DI Yogyakarta. Sejumlah sektor usaha
yang mendapat prioritas bantuan pinjaman adalah sektor industri, perdagangan, pertanian,
peternakan, perikanan, jasa, dan koperasi.
Mitra Binaan yang diberikan bantuan adalah usaha kecil dan atau koperasi yang
mempunyai prospek untuk berkembang, masih aktif usahanya, dan benar-benar memerlukan
dana untuk mengembangkan usahanya sesuai tujuan utama Program Kemitraan, yaitu:
1. Mendorong kegiatan dan pertumbuhan ekonomi serta terciptanya lapangan kerja dan
kesempatan berusaha.
2. Membantu pengusaha kecil dan koperasi yang sudah berjalan agar dapat berkembang dan
mandiri.
3. Meningkatkan kepedulian perusahaan terhadap pembinaan lingkungan masyarakat
terutama di sekitar daerah operasional PT Timah.

Melalui Program Kemitraan yang menyediakan dana bergulir untuk memberdayakan


ekonomi masyarakat lokal di mana Perusahaan beroperasi PT Timah berhasil menyalurkan dana
sekitar Rp 23 miliar di tahun 2012 kepada 784 usaha kecil dan koperasi. Sementara itu, melalui
Program Bina Lingkungan yang diselenggarakan sepanjang tahun 2012, Perusahaan telah
menyalurkan dana sebesar Rp 15,4 miliar dalam berbagai bentuk, seperti bantuan pendidikan dan
pelatihan, bantuan peningkatan kesehatan, sosial, bantuan pariwisata, budaya dan olahraga,
bantuan sarana dan prasarana umum, serta bantuan sarana ibadah. Sumber dana Program
Kemitraan berasal dari sisa dana Program Kemitraan tahun sebelumnya yang belum disalurkan,

penerimaan alokasi bagian laba, pengembalian pinjaman, bunga deposito, dan jasa giro. Program
Bina Lingkungan adalah wujud kepedulian Perusahaan terhadap kesejahteraan sosial dari
mayarakat di sekitar wilayah operasional Perusahaan.
3.4.

Pelaksanaan Program Kemitraan

3.4.1. Uraian Kegiatan Program Kemitraan


Dalam Program Kemitraan, PT Timah menyalurkan dana bergulir dalam rangka
pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal, yaitu kepada usaha kecil dan koperasi yang menjadi
Mitra Binaan Perusahaan. Selain menyalurkan dana pinjaman, pada tahun 2012 PKBL PT Timah
(Persero) Tbk juga melakukan kegiatan untuk menunjang program kemitraannya, antara lain:

Pelatihan Manajemen Kewirausahaan.


Perusahaan memberikan pembekalan dan motivasi mengenai Kewirausahaan dan
Manajemen Rukhyah kepada seluruh Mitra Binaan tahun 2012, serta Pelatihan Akuntansi Bagi
Mitra Binaan, bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi Universitas Bangka Belitung.
Promosi.
Perusahaan membantu memasarkan produk-produk unggulan para Mitra Binaan, antara
lain kerajinan pewter, renda, aksesoris, kericu, terasi khas Bangka, akar bahar, kain tenun cual,
dan kue rintak. Para Mitra Binaan juga diikutsertakan dalam pameran berskala nasional dan
regional.
Pemantauan (monitoring).
Secara rutin, Perusahaan melakukan monitoring terhadap perkembangan usaha para Mitra
Binaan, melakukan konfirmasi dan penagihan langsung kepada Mitra Binaan yang dikategorikan
macet (tidak mengembalikan cicilan pinjaman tepat waktu) dan bermasalah, bekerja sama
dengan Bank Syariah Bangka dan Bank Muamalat.
Inventarisasi Piutang Macet.
Perusahaan melakukan inventarisasi piutang macet untuk tahun 20052010, bekerja sama
dengan BPKP Perwakilan Wilayah Sumatera Selatan.
3.4.1. Skema Pelaksanaan Program Kemitraan

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar suatu usaha kecil dapat memperoleh
bantuan melalui Program Kemitraan yaitu:
a)

Memiliki kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk tanah dan
bangunan tempat usaha.

b) Memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 1.000.000.000.


c)

Telah melakukan kegiatan usaha minimal 1 (satu) tahun serta mempunyai potensi dan
prospek usaha untuk dikembangkan.

d) Mempunyai modal sendiri minimal 25% dari jumlah dana yang diperlukan dan belum dibina
oleh instansi ataupun BUMN lain.
e)

Belum memenuhi persyaratan perbankan.

Selanjutnya pengajuan permohonan dan tahapan selanjutnya dari skema pelaksanaan Program
Kemitraan diuraikan dalam Gambar III.2.
Gambar III.2
Skema Pelaksanaan Program Kemitraan PT Timah

Sumber: Laporan Tahunan PKBL PT Timah Tahun 2012

3.5.

Pelaksanaan Program Bina Lingkungan

3.5.1. Uraian Kegiatan Program Bina Lingkungan


Beberapa kegiatan yang telah dilakukan oleh Perusahaan di tahun 2012 dalam lingkup
Program Bina Lingkungan sebagai berikut:

Perbaikan Sarana Ibadah


Perusahaan membantu perbaikan sarana ibadah masyarakat sebagai wujud kepedulian
Perusahaan terhadap kelangsungan aktivitas umat beragama di berbagai wilayah, juga sebagai
tempat berlangsungnya bimbingan moral bagi masyarakat supaya menjadi masyarakat yang
bermartabat.
Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan
Perusahaan meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dalam rangka
mengantisipasi persaingan di era globalisasi dengan memberikan program-program pelatihan
dari yang sifatnya keterampilan hingga manajerial. Perusahaan juga turut membantu peningkatan
mutu pendidikan baik pada jenjang formal maupun informal. Salah satu kegiatan yang
dilangsungkan di tahun 2012 adalah pendidikan bagi 150 anak putus sekolah agar dapat
berwirausaha, melalui program Sekolah Entrepreneur Provinsi Bangka Belitung. Perusahaan
juga memberikan bantuan biaya pendidikan bagi anak berprestasi di Provinsi Bangka Belitung.
Pembangunan Sarana dan Prasarana Umum
Sejumlah program yang dilakukan Perusahaan dalam rangka memberdayakan masyarakat
yang belum tersentuh oleh program pembangunan Pemerintah, terutama di desa tertinggal yang
belum memiliki infrastruktur yang memadai, mencakup bantuan pembangunan dermaga di
lingkungan masyarakat pesisir; pemberian bantuan mesin tempel, perahu dan jaring bagi
nelayan; serta pembangunan rumah layak huni.
Bantuan Kesehatan
Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya aspek kebersihan dan bagi
kehidupan, terutama di wilayah sekitar kolong-kolong bekas penambangan dan di desa-desa
tertinggal yang belum menerima fasilitas kesehatan yang memadai, Perusahaan menyediakan
bantuan pengobatan gratis, bekerja sama dengan Dinas Kesehatan di enam kabupaten di Provinsi
Bangka Belitung.
Pelestarian Alam
Sebagai wujud pelaksanaan penambangan berwawasan lingkungan yang menjadi
semboyan PT Timah, Perusahaan turut mendukung program pengembalian habitat alami di
daerah-daerah bekas penambangan, dengan melibatkan berbagai unsur termasuk pemerintah
daerah dan masyarakat setempat. Perusahaan menyelenggarakan program regenerasi terumbu
karang di wilayah bekas penambangan, serta pembuatan rumpon dan atraktor cumi yang dampak
positifnya diyakini akan dapat dinikmati oleh masyarakat untuk meningkatkan perekonomian
mereka. Sejumlah daerah pesisir pantai juga direhabilitasi dengan cara menanam bakau untuk
mengembalikan kondisi alaminya.

3.5.2. Skema Pelaksanaan Program Bina Lingkungan


PT Timah juga menyalurkan dana melalui program Bina Lingkungan berdasarkan
proposal yang diajukan oleh masyarakat di sekitar wilayah Perusahaan. Kriteria yang
dipertimbangkan dalam pengajuan proposal permintaan bantuan dana Bina Lingkungan adalah:
Pengajuan permohonan disampaikan kepada PT Timah dengan diketahui oleh aparat
Pemerintah (minimal camat) atau dinas/instansi terkait di masing-masing wilayah.
Pemohon tidak atau belum tersentuh melalui dana APBD yang telah dianggarkan oleh
Pemerintah Daerah setempat.
Proposal harus disertai dengan rencana anggaran biaya.
Kelompok masyarakat tidak mampu yang mengajukan permohonan bantuan dana ke PT
Timah harus melampirkan surat keterangan tidak mampu dari kelurahan atau kepala desa,
dengan diketahui oleh camat.

Skema Pelaksanaan Program Bina Lingkungan diuraikan dalam gambar III.3.


Gambar III.3
Skema Pelaksanaan Program Bina Lingkungan PT Timah

Sumber: Laporan Tahunan PKBL PT Timah Tahun 2012

3.5.3. Analisis Pelaksanaan PKBL PT Timah


Berdasarkan uraian di atas dapat diketahui bahwa pada tahun 2012, PT Timah telah
melaksanakan program CSR dalam bentuk rangkaian kegiatan PKBL sesuai amanat PER5/MBU/2007, yang terdiri dari Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan, dengan
sasaran masyarakat lokal pada wilayah operasional PT Timah. Pembentukan unit kerja khusus

untuk melaksanakan program CSR menjadi indikasi penting bahwa PT Timah memiliki
komitmen untuk melaksanakan program CSR ini dengan serius.
Sebagai perusahaan pertambangan yang mengandalkan hasil usahanya dari eksploitasi
sumber daya alam yang terkandung di dalam bumi, Perusahaan juga menyadari pentingnya
menjaga kondisi lingkungan hidup agar tetap lestari, mengingat banyaknya layanan ekosistem
dari daerah-daerah operasional Perusahaan yang dimanfaatkan oleh masyarakat setempat. Untuk
itu, PT Timah secara konsisten dari tahun ke tahun telah melaksanakan kewajiban pengelolaan
lingkungannya dalam bentuk program rehabilitasi dan reklamasi lahan pascatambang serta
program penghijauan, mendukung gerakan Pemerintah untuk menghijaukan negeri dan
mengurangi dampak negatif pemanasan global.
Di tahun 2012, Perusahaan telah mengubah kebijakan implementasi program rehabilitasi
dan reklamasi lahan pascatambangnya. Sebelumnya, Perusahaan mengandalkan jasa kontraktor
atau pihak ketiga untuk mereklamasi lahan pascatambangnya, namun kini Perusahaan
melibatkan masyarakat setempat secara langsung dengan memberi mereka pekerjaan untuk
merehabilitasi lahan-lahan tersebut serta tanggung jawab untuk memeliharanya setelah lahanlahan tersebut sepenuhnya dikembalikan oleh Perusahaan kepada Pemerintah.

BAGIAN IV
KESIMPULAN

Berdasarkan uraian pada bagian-bagian sebelumnya, maka dapat disimpulkan beberapa


hal sebagai berikut:
1.

PT Timah, sebagai perusahaan BUMN telah melaksanakan program CSR dalam wujud
rangkaian Program Kemitraan dan Program Bina Lingkungan.

2.

Pembentukan unit kerja khusus CSR, membantu PT Timah dalam mengimplementasikan


program CSR secara terarah dan berkesinambungan.

3.

PT Timah telah melaksanakan tanggung jawabnya sebagai perusahaan go public dengan


mempublikasikan Laporan Tahunan 2012, salah satunya Laporan Tahunan PKBL yang
menyajikan berbagai aktivitas yang dilaksanakan PT Timah dalam rangka CSR, sayangnya
dalam situs resmi PT Timah (www.timah.com), penulis kesulitan untuk menemukan Laporan
Tahunan PKBL untuk tahun setelah 2012.

4.

PT Timah memahami arti penting pembangunan berkelanjutan, yaitu bahwa PT Timah juga
merupakan bagian dari lingkungan dan masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan yang
dilakukan perusahaan dalam rangka terus mempertahankan keberlanjutannya
memperhatikan 3 aspek penting yaitu ekonomi (khususnya kepada stockholder PT Timah,
termasuk pemerintah dengan terus menghasilkan laba bagi perusahaan), aspek sosial kepada
masyarakat sekitar melalui berbagai kegiatan PKBL yang telah diuraikan di atas dan juga
aspek lingkungan hidup dengan tidak lupa untuk selalu menjaga kelestarian lingkungan
hidup dalam pelaksanaan kegiatan ekonomi pertambangannya.

DAFTAR PUSTAKA

Ambadar J. 2008. CSR dalam Praktik di Indonesia. Jakarta: Gramedia


Elkington, John. 1998. Cannibals With Forks: The Triple Bottom Line in 21st Century Business.
Gabriola Island, BC: New Society Publishers. Kotler, Philip and Lee, Nancy. 2005. Corporate
Social Responsibility Doing the Most Good for Your Company and Your Cause. New
Jersey: John Wiley and Sons, Inc.
Laporan Tahunan PKBL. 2012. PT Timah (Persero) Tbk., (online), (http://www.timah.com,
diakses 26 Februari 2014).
Sukada S, et al. 2007. Membumikan Bisnis Berkelanjutan: Memahami Konsep dan Pratik
Tanggung Jawab Sosial Perusahaan. Jakarta: Indonesia Business Links.
Radyati, Maria R. Nindita. 2008. CSR untuk Pemberdayaan Ekonomi Lokal. Jakarta: Indonesia
Business Links.
https://wennydwhrynt.wordpress.com/2013/05/14/peran-csr-dalam-pembangunan-danpengembangan-masyarakat/ (diakses tanggal 26 Februari 2014)
https://wihresourcegroup.wordpress.com/tag/the-world-business-council-for-sustainabledevelopment-wbcsd/ (diakses 26 Februari 2014)
Keputusan Menteri Negara BUMN Nomor 236 Tahun 2003 tentang Program Kemitraan BUMN
dengan Usaha Kecil dan Program Bina Lingkungan.
Peraturan Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara No. PER-05/MBU/2007 Tahun 2007
sebagaimana terakhir diubah dengan Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara No.
PER-08/MBU/2013 Tahun 2013 Tentang Perubahan Keempat Atas Peraturan Menteri
Negara Badan Usaha Milik Negara No. PER-05/MBU/2007 Tentang Program Kemitraan
Badan Usaha Milik Negara Dengan Usaha Kecil Dan Program Bina Lingkungan.