Anda di halaman 1dari 26

KAJIAN PENGEMBANGAN BISNIS

PENINGKATAN PRODUKSI BIBIT DURIAN MONTONG


(Durio Zibethius) DENGAN TEKNIK OKULASI
DI MITRA CIPAKU KABUPATEN BOGOR

NOFTRI YOGIA

PROGRAM KEAHLIAN MANAJEMEN AGRIBISNIS


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2013

PERNYATAAN MENGENAI LAPORAN TUGAS AKHIR DAN


SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan laporan tugas akhir Kajian Pengembangan


Bisnis Peningkatan Produksi Bibit Durian Montong (Durio Zibethius) Dengan
Teknik Okulasi di Mitra Cipaku adalah karya saya dengan arahan dosen
pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi
manapun. Sumber informasi yang berasal atau kutipan dari karya yang diterbitkan
dari penulis ini telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka
di bagian akhir laporan ini.
.
Bogor, Juni 2013
Noftri yogia
NIM J3J110022

ABSTRAK
NOFTRI YOGIA. Peningkatan Produksi Bibit Durian Montong (Durio
Zibethius) dengan Teknik Okulasi di Mitra Cipaku Kabupaten Bogor. Dibimbing
Oleh MURDIANTO.
Tujuan pengembangan bisnis yang digunakan sebagai dasar kajian dalam
pengembangan bisnis adalah meningkatkan produksi bibit durian montong dengan
teknik okulasi. Sistem produksi yang baik dapat membantu meningkatkan jumlah
bibit. Peningkatan produksi ini dilakukan dengan menganalisis aspek finansial
dan non finansial (pasar dan pemasaran, teknis dan teknologi, organisasi dan
manajemen, serta sosial lingkungan). Hasil evaluasi dari keseluruhan rencana non
finansial menggambarkan bahwa usaha ini baik untuk dikembangkan. Aspek
finansial (keuangan) pengembangan bisnis ini NPV yang dihasilkan dalam waktu
satu tahun pengembangan sebesar Rp119 047 003 , Nilai Net B/C usaha
peningkatan produksi bibit durian montong di Mitra Cipaku adalah 1.9, Nilai IRR
yang didapat dari perhitungan adalah sebesar 34 %. Nilai IRR tersebut lebih besar
dibandingkan dengan nilai tingkat suku bunga deposito Bank BNI yang berlaku
yaitu 5,5 %. Kemampuan untuk mengembalikan modal investasi (payback period)
adalah 3.24. Artinya dari evaluasi rencana finansial dan non finansial peningkatan
produksi bibit Durian (Durio Zibethius) Montong, dapat dinyatakan baik untuk
dikembangkan.
Kata kunci : Durian Montong (Durio Zibethius) , Okulasi, Mitra Cipaku

ABSTRACT
NOFTRI YOGIA. Improved Seed Production of Durian (Durio Zibethius)
Montong By grafting on Mitra Cipaku Cijeruk. Supervised By MURDIANTO.
Business development objectives are used as a basis for studies in business
development is to increase the production of durian seedlings montong with
grafting techniques. Good production systems can help increase the number of
seeds. Increased production is done by analyzing financial and non-financial
aspects (markets and marketing, technical and technology, organization and
management, social and environmental). Results of evaluation of the overall plan
nonfinancial well illustrates that this effort to be developed. This aspect of
business development finansi NPV produced within one year of development at
Rp119 047 003 , Value Net B / C efforts to increase production of durian seedlings
montong on Mitra Cipaku is 1.9, the value obtained from the calculation of the
IRR is 34%. IRR is greater than the value of the deposit interest rate applicable
BNI is 5.5%. Ability to recoup investment (payback period) is 3.24. Means of
evaluation of financial and non financial plan increased seed production Durian
(Durio Zibethius) Montong, can be declared either to be developed.
Keywords: Durian Montong (Durio Zibethius), Grafting, Mitra Cipaku

RINGKASAN
NOFTRI YOGIA. Kajian Pengembangan Bisnis Peningkatan Produksi Bibit
Durian Montong (Durio Zibethius) Dengan Teknik Okulasi di Mitra Cipaku,
Kabupaten Bogor. Dibimbing Oleh MURDIANTO.
Ruang lingkup agribisnis tidak lepas dari sektor pertanian, salah satu usaha
dalam bidang agribisnis adalah pembibitan buah durian, Durian merupakan
tanaman buah liar berupa pohon yang berasal dari hutan Malaysia, Sumatera dan
Kalimantan. Buah durian ini sudah dikenal di Asia Tenggara sejak abad tujuh
Masehi. Sebutan durian diduga berasal dari istilah melayu yaitu dari kata duri
yang diberi akhiranan sehingga menjadi durian. Perusahaan yang bergerak dalam
usaha pembibitan tanaman buah durian adalah Mitra Cipaku yang terletak di
Cijeruk, Bogor.
Kegiatan Praktik Kerja Lapang (PKL) untuk Kajian Pengembangan Bisnis
(KPB) ini dilaksanakan di Mitra Cipaku, perusahaan yang bergerak di bidang
pembibitan tanaman buah yang berlokasi di Kampung Pangalap, Kecamatan
Cijeruk, Bogor. Waktu pelaksanaan praktik kerja lapang dilaksanakan selama 12
minggu, dimulai pada tanggal 4 Februari 27 April 2013.
Ide pengembangan bisnis yang akan dijalankan di Mitra Cipaku adalah
dengan Peningkatan Produksi Bibit Durian Montong (Durio Zibethius) Dengan
Teknik Okulasi. Ide bisnis tersebut merupakan salah satu pemecahan alternatif
yang telah dikaji sebelumnya. Permintaan pasar terhadap durian montong di Mitra
Cipaku per tahunnya sebanyak 54 000 bibit namun perusahaan hanya dapat
memproduksi sebanyak 34 000 bibit per tahun produksi tersebut belum mampu
memenuhi permintaan pelanggan tetap terhadap durian montong sebanyak 20.000
bibit per tahun. Peningkatan bibit durian montong bertujuan untuk meningkatkan
produksi durian montong sehingga permintaan pasar dapat terpenuhi dan
penerimaan perusahaan pun meningkat. Ide pengembangan bisnis yang akan
dijalankan didukung oleh kekuatan dan peluang yang ada. Kekuatan yang ada
seperti memiliki pengolahan teknik bibit yang baik dan berkualitas, memiliki
tenaga kerja yang sudah berpengalaman sedangkan peluang yang ada diantaranya
permintaan jumlah bibit semakin meningkat dan memiliki pelanggan tetap.
Berdasarkan hasil dari perencanaan aspek finansial, perhitunganperhitungan dalam pengembangan peningkatan produksi bibit durian montong di
Mitra Cipaku nilai NPV positif, yaitu sebesar Rp119 047 003. Nilai Net B/C
usaha peningkatan produksi bibit durian montong di Mitra Cipaku adalah 1.9,
Nilai IRR yang didapat dati perhitungan adalah sebesar 34 %. Nilai IRR tersebut
lebih besar dibandingkan dengan nilai tingkat suku bunga deposito Bank BNI
yang berlaku yaitu 5,5 %. Kemampuan untuk mengembalikan modal investasi
(payback period) adalah 3.24. Sedangkan untuk analisis switching value
menggunakan variabel perbandingan yaitu penurunan produksi dan kenaikan
harga polybag. Perubahan untuk penurunan produksi bibit adalah sebesar 21.19 %
dan perubahan maksimum untuk kenaikan harga label adalah sebesar 423.90%.
Berdasarkan seluruh hasil perhitungan finansial usaha peningkatan produksi bibit

durian montong di Mitra Cipaku tersebut menunjukan bahwa rencana


pengembangan peningkatan prodiksi bibit durian montong layak dilaksanakan.

KAJIAN PENGEMBANGAN BISNIS


PENINGKATAN PRODUKSI BIBIT DURIAN MONTONG
(Durio Zibethius) DENGAN TEKNIK OKULASI
DI MITRA CIPAKU KABUPATEN BOGOR

NOFTRI YOGIA

Laporan Tugas Akhir


sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Ahli Madya pada
Program Keahlian Manajemen Agribisnis

PROGRAM KEAHLIAN MANAJEMEN AGRIBISNIS


PROGRAM DIPLOMA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR
2013

10

Judul Tugas Akhir

Nama

: Peningkatan Produksi Bibit Durian Montong


(Durio zibethius) Dengan Teknik Okulasi di Mitra Cipaku,
Kabupaten Bogor
: Noftri Yogia

NIM

: J3J110022

Disetujui oleh

Ir Murdianto, MS
Pembimbing

Diketahui oleh

Prof Dr Ir M. Zairin Junior, MSc


Direktur

Ir Sutara Hendrakusumaatmaja, MSc


Koordinator Program Keahlian

11

Tanggal lulus :

12

13

PRAKATA
Segala puji syukur hanya kepada Allah SWT karena berkat limpah nikmat
dan hudayah Nya yang tiada terkira penyusun dapat menyelesaikan penyusunan
Kajian Pengembangan Bisnis yang berjudul Peningkatan Produksi Bibit Durian
Montong (Durio Zibethius) Dengan Teknik Okulasi di Mitra Cipaku, sebagai
salah satu syarat kelulusan pada Program Keahlian Manajemen Agribisnis
Program Diploma Institut Pertanian Bogor.
Kajian Pengembangan Bisnis ini merupakan hasil pengamatan penyusun
selama pelaksanaan praktik kerja lapang dari tanggal 04 Februari 2013 sampai
dengan 27 April 2013 di Mitra Cipaku, Kampung Pangalap, Desa Tajurhalang,
Cijeruk Bogor, Jawa Barat. Penyusunan kajian ini juga merupakan proses
belajar untuk memahami potensi dan masalah yang ada di perusahaan. Dalam
penyusunan ini, penyusun akan menganalisis kelayakan bisnis peningkatan
produksi bibit durian montong di Mitra Cipaku melaui proses peningkatan
produksi bibit durian montong yang dapat dari para pengumpul di pasran dan
mengetahui kelayakan ide pengembangan bisnis ini.
Kajian Pengembangan Bisnis ini merupakan hasil maksimal yang
dikerjakan oleh penyusun. Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan ini
masih banyak terdapat kekurangan, penyusun berharap hasil karya ini dapat
bermanfaat bagi para pembaca. Amin.

Bogor, Juni 2013

Noftri Yogia

14

DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL

xv

DAFTAR GAMBAR

xv

DAFTAR LAMPIRAN

xvi

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


1.2 Tujuan
METODE KAJIAN

1
2
2

2.1
2.2
2.3
2.4

Lokasi dan Waktu


Jenis dan Sumber Data
Pengumpulan Data
Metode Analisis
2.4.1 Aspek Pasar dan Pemasaran
2.4.2 Aspek Teknis dan Teknologi
2.4.3 Aspek Organisasi dan Manajemen
2.4.4 Aspek Sosial dan Lingkungan
2.4.5 Aspek Finansial
KERAGAAN PERUSAHAAN

3
3
3
4
4
5
5
6
6
9

3.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan


3.2 Organisasi dan Manajemen Perusahaan
3.3 Sumberdaya Perusahaan
3.3.1 Karyawan
3.3.2 Peralatan
3.3.3 Modal
3.4 Unit Bisnis

9
10
13
13
13
14
15

3.4.1 Pengadaan Bahan Baku/Input dan Peralatan


3.4.2 Teknis dan Teknologi Produksi
3.4.3 Pemasaran (4P)
KAJIAN PENGEMBANGAN BISNIS

15
17
20
22

4.1 Rumusan Ide Pengembangan Bisnis

22

4.2 Deskripsi Unit Bisnis

24

4.2.1 Deskripsi Produk


4.2.2 Deskripsi Proses Produksi
4.2.3 Deksripsi Pelanggan
4.2.4 Deskripsi Pemasaran
4.3 Rencana Pengembangan Bisnis

24
25
31
31
31

4.3.1 Rencana Pemasaran


4.3.2 Rencana Teknis dan Teknologi
4.3.3 Perencanaan Organisasi dan Manajemen
4.3.4 Perencaan Aspek Sosial
4.3.5 Perencanaan Penanganan Limbah

31
33
34
35
35

15

4.3.6 Perencanaan Finansial


4.4 Tahapan Pengembangan Bisnis

35
40

SIMPULAN DAN SARAN

42

5.1 Simpulan
5.2 Saran

42
43

DAFTAR PUSTAKA

44

LAMPIRAN

45

16

DAFTAR TABEL

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Jumlah pohon tanam Kota Bogor tahun 2010 dan 2011


Jenis dan sumber data yang di peroleh
Permintaan produksi bibit durian di Mitra Cipaku tahun 2008-2013
Alat produksi Mitra Cipaku
Daftar ukuran polybag untuk proses produksi
Daftar bahan baku dan pemasok penunjang kegiatan produksi
Daftar harga bibit di Mitra Cipaku
Permintaan Bibit Durian Montong Per Tahun
Penawaran Bibit Durian Montong Per Tulanya di Mitra Cipaku
Selisis permintaan dengan penawara bibit durain per bulan di
Selisih permintaan dengan penawaran bibit Durian Montong
Biaya Tetap di Mitra Cipaku 2013
Biaya Variabel di Mitra Cipaku 2013
Hasil Perhitungan Cashflow

1
3
9
14
16
16
20
22
22
23
23
37
37
40

DAFTAR GAMBAR

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Organisasi Mitra Cipaku tahun 2013


Alur Proses Pembibitan Mitra Cipaku
Saluran Distribusi Mitra Cipaku
Rumusan Ide Pengembangan Bisnis
Alur Proses Produksi Mitra Cipaku
Bentuk Bedengan
Bentuk Benih Durian Montong
Pompa Air
Pengerak Batang
Ulat Daun
Penyakit Bercak Daun
Kutu Loncat
Penyakit Busuk Akar
Bibit Durian Motong Batang Bawah
Alur Pemasaran Produk Bibit Durian Montong Perusahaan di Mitra
Cipaku
16 Bagan Organisasi Mitra Cipaku
17 Tahapan Pengembangan Bisnis

11
17
21
24
25
26
26
27
28
28
28
29
29
30
33
34
40
17

DAFTAR LAMPIR
Y

1
2
3
4
5

Biaya Investasi
47
Arus Kas (Cashflow)
49
Laba rugi peningkatan produksi bibit durian montong
52
Swithcing value penurunan produksi bibit durian montong sebesar 21.14 % 54
Swithcing value kenaikan harga polybag, label dan benih durian montong sebesar
423.90%
57
6 Pembibitan produksi bibit durian montong
60
7 Siklus Pembibitan Durian Montong
62
8 Layout media tanam tanah dan polybag 15
63

18

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Indonesia adalah negara agraris yang memiliki beragam sumberdaya alam yang cukup besar,
terutama di sub sektor agribisnis dari sektor pertanian. Salah satu bidang usaha sub sektor
agribisnis yang mempunyai prospek cerah kedepan adalah produk holtikultura. Holtikultura
terdiri dari komoditas sayuran, buah-buahan dan tanaman hias. Salah satu produk hortikultura
yang berpotensi dikembangkan dalam memenuhi permintaan pasar adalah komoditas buahbuahan. Buah- buahan merupakan bahan pangan yang sangat penting bagi kesehatan. Permintaan
komoditas buah-buahan meningkat dari tahun ke tahun, seiring dengan peningkatan jumlah
penduduk dan kesadaran masyarakat akan pentingya mengkonsumsi buah-buahan yang bernilai
gizi tinggi.
Salah satu komoditas buah yang dapat memiliki potensi untuk dikembangkan adalah Durian.
Menurut data dari badan pusat statistik 2010 samapai 2011 jumlah pohon tanam durian
meningkat dari tahun ke tahun. Adapun jumlah ohn tanam di Kota Bogor pada tahun 2010 dan
2011 seperti ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1 Jumlah pohon tanam Kota Bogor tahun 2010 dan 2011
Jenis Tanaman

2010

1. Alpukat
2. Belimbing
3. Jengkol
4. Durian
5. Jambu Benih
6. Jeruk
7. Mangga
8. Manggis
9. Nangka/Cempedak
10. Nenas
11. Pepaya
12. Pisang
13. Rambutan
14. Salak
15. Sawo
16. Sirsak
17. Sukun
18. Petai
19. Melinjo
20. Jambu Air

2011
800
3 500
175
2 600
33 000
755
1 600
600
4 500
6 500
40 000
11 000
750
0
1 200
3 300
1 750
190
190
1 900

32 358
18 140
8 908
42 320
190 688
18 036
54 584
6 528
20 496
33 356
58 576
173 802
41 384
7 104
8 228
17 620
12 664
13 496
8 868
11 104

Sumber :BPS(Badan Pusat Statistik) Kota Bogor

19

Durian merupakan tanaman buah liar berupa pohon yang berasal dari hutan Malaysia,
Sumatera dan Kalimantan. Buah durian ini sudah dikenal di Asia Tenggara sejak abad tujuh
Masehi. Sebutan durian diduga berasal dari istilah melayu yaitu dari kata duri yang diberi
akhiranan sehingga menjadi durian. Kata ini dipergunakan untuk menyebut buah yang kulitnya
berduri tajam. (Andri Wijaya, 2007). Daya serap pasar terhadap durian sampai dengan dua puluh
tahun mendatang diperkirakan cukup baik dari perhitungan kasar, potensi pasar durian di
Indonesia masih mampu menyerap pengembangan sampai 100.000 hektar dengan tingkat
produksi 10 ton per hektar atau satu milyar kilogram per musim. Perhitungan tersebut diambil
dengan perkiraan daya serap penduduk Indonesia terhadap durian bisa mencapai 5 kg (1,5 butir)
perkapita per tahun. (Bernardinus T. Wahyu Wiryanta,2008).
Mitra Cipaku merupakan perusahaan yang bergerak dibidang pembibitan buah- buahan
Durian, Alpukat, Sirsak, Jambu Benih dan Belimbing.Mitra Cipaku merupakan perusahan yang
menjual bibit buah-buahan unggul termaksud bibit Duria Montong, permintaan durian montong
di Mitra Cipaku termaksud permintaan yang banyak dipesan oleh pelanggan tetap. Melihat
permintaan yang terus meningkat Mitra Cipaku harus meningkatkan produksi bibit Durian
Montong agar dapat memenuhi permintaan pelanggan tetap. Saat ini dalam pembibitan tanaman
Durian Montong Mitra Cipaku hanya menanam sebanyak 34 000 bibit per tahun namun
penanaman tersebut belum mampu memenuhi permintaan pelanggan tetap yaitu Trubus dan
Agropromo terhadap Bibit Durian Montong sehingga Mitra Cipaku. Permintaan pelanggan
tersebut sebanyak 54 000 bibit per tahun. Dilihat dari jumlah permintaan dan penawaran tersebut
terjadi kelebihan permintaan dikarenakan perusahaan belum mampu memenuhi permintaan pasar
sehingga pasar masih kekurangan sebanyak 20 000 bibit. Meningkatkan produksi bibit durian
membutuhkan bibit/benih harus juga memperhatikan teknik perbanyakanya, teknik perbanyakan
yang dipakai adalah teknik okulasi, teknik okulasi adalah teknik perbanyakan secara vergetatif
yaitu penempelan batang bawah bibit durian dengan batang atas Durian Montong.
1.2
a
b

Tujuan

Merumuskan ide pengembangan bisnis peningkatan produksi durian montong secara


vegetatif (okulasi) pada prusahaan mitra cipaku.
Menganalisis kelayakan pada Mitra Cipaku, berdasarkan aspek finansial dan non finansial.

METODE KAJIAN

Kajian pengembangan bisnis ini difokuskan pada kelayakan terhadap perencanaan


pengembangan bisnis di Mitra Cipaku, yakni dengan analisis perbaikan cashflow. Kegiatan yang
direncanakan meliputi beberapa aspek kajian yaitu : aspek pasar dan pemasaran, aspek teknis
dan teknologi, aspek organisasi dan manajemen, aspek sosial dan lingkungan, aspek finansial
(keuangan). Kajian pengembangan ini juga akan membahas tahapan tahapan yang perlu
dilakukan oleh kelompok untuk meningkatkan produksi bibit Durian Montong (Durio Zibethius)
dengan teknik okulasi.

20

2.1

Lokasi dan Waktu

Kajian pengembangan bisnis (KPB) ini di susun berdasarkan hasil kegiatan praktik kerja
lapangan di Perusahaan Mitra Cipaku yang berlokasi di Kampung Pangalap, Desa Tajurhalang,
Cijeruk-Bogor. Kegiatan PKL ini berlangsung selama tiga bulan yang dilaksanakan dari tangal
04 Februari sampai dengan 27 April 2013. Waktu tersebut digunakan untuk memperoleh data
mengenai perusahaan dan keterangan dari perusahaan serta semua pihak yang terkait.
2.2

Jenis dan Sumber Data

Jenis data yang digunakan dalam penulisan kajian pengembangan bisnis ini adalan data
primer dan data skunder. Data primer ini diperoleh berdasarkan hasil pengamatan langsung dan
ikut serta dalam kegiatan yang dilakukan Mitra Cipaku. Data-data primer tersebut didapat dari
wawancara dan diskusi langsung dengan pemilik Mitra Cipaku sebagai pembimbing lapang,
perkerja, mengamati langsung terhadap proses kerja dan ikut serta dalam proses kegiatan
produksi. Data skunder diperoleh dari beberapa studi literatur antara lain sumber yang
didapatkan dari perpustakaan Diploma IPB, majalah, dan laporan kajian pengembangan bisnis.
Adapun jenis dan sumber data yang diperoleh seperti ditunjukkan pada Tabel 2
Tabel 2 Jenis dan sumber data yang di peroleh
Jenis Sumber
Data
Data Skunder

Data Primer

Data

Sumber Data

Data keanggotaan Mitra Cipaku

Mitra Cipaku

Data investasi anggota Mitra Cipaku

Mitra Cipaku

Data permintaan Tahunan Mitra Cipaku

Mitra Cipaku

Data profil Mitra Cipaku

Mitra Cipaku

Data pengiriman pertahun Mitra Cipaku

Trubus

Data Jumlah Pohon Tanam Kota Bogor

BPS Kota Bogor


Wawancara dengan pemilik Mitra
Cipaku
Wawancara dengan pemilik Mitra
Cipaku
Wawancara dengan pemilik Mitra
Cipaku
Wawancara dengan pemilik Mitra
Cipaku
Wawancara dengan pekerja Mitra
Cipaku

Data proses produksi Bibit Durian Montong


Data saluran distribusi pemasaran Bibit Durian Montong
Data pola tanam produksi bibit Durian Montong dengan baik
Data kebutuhan operasional Produksi Bibit Durian Montong
Data pola perawatan Bibit Durian Montong

2.3

Pengumpulan Data

Data yang diperoleh dari berbagai sumber dikumpulkan dan diolah daengan kebutuhan
rencana pengembangan bisnis yang akan dikaji. Pelaksanaan Praktek Kerja Lapang (PKL) di
perusahaan Mitra Cipaku diisi dengan berbagai kegiatan yang sifatnya langsung terjun ke
lapangan dan langsung berinteraksi dengan pemilik dan perkerja Mitra Cipaku untuk
mengumpulkan data. Tujuan dari pengumpulan data untuk memperoleh data dan informasi yang
siap untuk diolah, dianalisis dan disusun dalam sebuah laporan. Pengumpulan data ini dilakukan
selama kegiatan Praktek Kerja Lapang (PKL) berlangsung, yang bertempat di lokasi Praktek
21

Kerja Lapang (PKL) ataupun pada sumber-sumber penunjang lain yang di butuhkan. Data
dikumpulkan dan diolah sesuai dengan kebutuhan rencana pengembangan bisnis yang akan
dikaji.
2.4

Metode Analisis

Metode analisis yang digunakan dalam kajian pengembangan bisnis adalah metode
kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif digunakan untuk memberikan narasi dan deskripsi
mengenai aspek yang harus dijabarkan dengan tulisan mengenai kualitas dari perusahaan, seperti
aspek pasar dan pemasaran, Aspek teknis dan teknologi, aspek organisasi dan manajemen, serta
aspek sosial dan lingkungan Metode kuantitatif digunakan untuk mengkaji kelayakan
pengembangan bisnis melalui aspek finansial menggunakan perhitungan arus kas (cashflow)
dengan analisis kelayakan kriteria investasi.
2.4.1

Aspek Pasar dan Pemasaran

Pemasaran merupakan suatu proses sosial yang di dalamnya individu dan kelompok
merupakan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan , menawarkan, dan
secara bebas mempertukarkan produk yang bernilai dengan pihak lain. Pasar dan prmasaran
merupakan dua sisi yang tidak dapat dipisahkan satu sama lainya. Pasar dan pemasaran memiliki
tingkat ketergantungan yang tinggi dan saling mempengaruhi satu sama lainnya. Beberapa hal
yang perlu diperhatikan dalam aspek pasar antara lain mengenai bauran pemasaran (marketing
mix). Dalam melaksaakan strategi pemasaran di pengaruhi oleh unsur-unsur pemasaran
(marketing mix) yang terdiri dari empat variable utama yaitu produk (product), harga (price),
tempat (place), dan promosi (promotion).
Marketing Mix atau Bauran Pemasaran, dapat diartikan sebagai sekumpulan dari
variable-variabel yang dapat dikendalikan yang digunakan oleh perusahaan untuk mengejar
tingkat penjualan yang diinginkan dalam pasar sasaran atau dengan kata lain 4P merupakan
kombinasi dari variabel-variabel pemasaran yang merupakan faktor internal yang berada dalam
jangkauan yang dapat dikendalikan oleh perusahaan (Kotler 2007).
Aspek ini pula tidak terlepas dari analisa peluang pasar sebagai salah satu komando
menentukan potensi pasar, karena perusahaan perlu mengetahui berapa besarnya peluang yang
tersedia dalam memasarkan produknya dan dapat menetapkan apakah pasar cukup besar untuk
mendukung produk lain dan masih memberikan laba. Artinya perusahan dalam menangkap
potensi pasar perlu juga menerapkan sistem segmentasi yang baik. Di sisi lain aspek pasar juga
sangat bergantung pada tingkat kebutuhan akan permintaan suatu produk. Jika produk yang
dihasilkan perusahaan mampu memenuhi kebutuhan permintaan konsumen, artinya produk
tersebut berpotensi memiliki pasarnya sendiri.
Produk (Product)
Produk adalah kombinasi barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan dan ditawarkan
kepada pasar sasaran. Bauran produk mempunyai sarana-sarana yaitu: mutu, cirri khas,
gaya merk dagang, pembukus, pelayanan dan jasa
b Harga (Price)
Harga merupakan sejumlah uang yang dibayarkan oleh konsumen kepada produsen untuk
mendapatkan suatu produk. Varibel ini mempunyai saran-saran yaitu: daftar harga,
potongan harga, syarat kredit dan periode pembayaran.
c Tempat (Place)
22

Tempat termasuk berbagai kegiatan yang dilakukan oleh perushaan untuk membuat produk
yang dihasilkannya dapat dengan mudah tersedia untuk konsumen sasaran.
Promosi (Promotion)
Promosi merupakan kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan untuk mengkomunikasikan
manfaat dari produknya dan untuk meyakinkan konsumen sasaran untuk membeli
produknya. Adapaun sarana-sarana yang terkandung di dalamnya adalah periklanan,
personal selling, promosi penjualan publisitas.

Keempat bauran di atas menjelaskan terkait dengan strategi yang harus diketahui dan
digunakan dalam menangkap pasar adalah dengan melakukan strategi 4P mulai dari produk,
harga, promosi, dan distribusi. Keempat bauran ini saling terkait seperti layaknya sebuah sistem,
namun yang utama pada bauran ini adalah cara penentuan harga dan produk. Terutama harus
disesuaikan dengan keadaan dan kebutuhan pasar secara jelas, hal tersebut sangat penting
dilakukan demi mengetahui kebutuhan pasar kemudian mempertimbangkan berapa harga yang
akan dipakai saat memasuki pasar karena sebuah produksi berkaitan secara langsung dengan
harga yang dibuatnya.
2.4.2

Aspek Teknis dan Teknologi

Aspek teknis dan teknologi menjelaskan tentang pilihan teknologi yang dipilih dapat
dalaksanakan secara baik atau tidak. Pada aspek teknis dan teknologi akan menunjukan
kebutuhan apa saja yang di perlukan dan bagai mana secara teknis proses produksi akan
dilaksanakan, kapasitas produksi, jenis teknologi yang dipakai, peralatan, dan lokasi pembibitan.
Aspek ini juga menggambarkan cara yang baik untuk digunakan sebagi teknnik untuk
melakukan dengan cara yang baik dan benar, karena nantinya berkaitan dengan output akhir.
Cara baik dalam tahapan pembudidayaan dimulai dari mempersiapkan kebutuhan bahan baku,
kebutuhan tenaga kerja, dan kebutuhan budidaya lainnya yang menunjang kegiatan.
2.4.3

Aspek Organisasi dan Manajemen

Aspek organisasi dan manajemen adalau untuk mengetahui apakah pembangunan dan
implementasi bisnis dapat direncanakan , dilaksanakan, dan dikendalikan sehingga secara bisnis
dapat daikatakan layak atau sebaliknya (umar 2005). Fungsi manajemen tersebut yang perlu
diperhatikan diantaranya perencanaan (planing), pengorganisasian (organizing), penggerakan
(actuating), dan pengendalian (controlling).
Organisasi merupakan salah satu sarana untuk mencapai tujuan perusahaan melalui
pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen yang dilakukan seorang pemimpin dengan irganisasi yang
terciptadi perusahaan yang bersangkutan. Aspek manajemen dan organisasi merupakan aspek
yang menerapkan fungsi-fungsi manajemen, di antaranya merencanakan, mengoganisasikan,
mengarahkan, mengkoordinasikan serta mengawasi kesluruhan faktor-faktor produksi dengan
bantuan alat untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. (mana kutipan langsung maupun tidak
,dibedakan )
2.4.4

Aspek Sosial dan Lingkungan

Aspek sosial perlu diperhatikan karena aspek sosial dapat mendukung perencanaan bisnis
yang dilakukan. Apakah dengan adanya bisnis yang dilakukan dapat mempengaruhi kondisi
lingkungan disekitar seperti adanya perbaikan jalan dilingkungan bisnis tersebut. Semakin
23

ramainya daerah tersebut dan meningkatnya perekonomian masyarakat sekitar (Nurmalina et al.
2010).
Tujuan utama perusahaan adalah mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Namun
perusahaan tidak dapat hidup sendirian, perusahaan hidup bersama-sama dengan komponenkomponen lainnya dalam satu tatanan kehidupan yang pluralities dan kompleks. Salah satu
komponen yang di maksud adalah lembaga sosial, sehingga dalam rangka keseimbangan
sebelumnya, hendaknya perusahaan memiliki tanggung jawab sosial.
2.4.5

Aspek Finansial

Aspek Finansilal dilakukan pada saat aspek-aspek lainnya telah selesai di laksanakan.
Proyek bisnis dikatakan sehat apabila dapat memberikan keuntungan yang layak dan mampu
memenuhi kewajiban finansialnya (Umar 2005). Indikator yang digunakan untuk studi kelayakan
usaha meliputi Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C Ratio), Internal Rate
of Return (IRR), dan Playback periode (PP). Aspek yang digunakan adalah analisis arus tunai
(Cashflow) dan analisis switching value untuk melihat kepekaan suatu usaha akibat adanya
penurunan produksi maupun peningkatan biaya produksi.
a

Aliran kas (cashflow)


Cashflow adalah sebuah Metode yang digunakan untuk mengukur kelayakan suatu usaha
adalah alitan kas yang terdiri dari penilaian rencana bisnis melalui NPV (Net Present Value),
IRR (Internal Rate of Return), Net B/C Ratio, Gross B/C dan PP (Payback Periode). Cash
flow atau arus kas adalah sebuah perhitungan aliran penerimaan dan pengeluaran terhadap
kas dalam periode tertentu. Perhitungan ini disusun untuk menunjukan perubahan kas
selama periode tertentu. (Nurmalina et al. 2010). Arus kas ini terdiri dari arus penerimaan
(inflow) serta arus pengeluaran (outflow), yang mana bagian dari arus manfaat bersih sebagai
pengurangan arus biaya terhadap arus manfaat.

1 Net Present Value (NPV)


Analsis ini adalah selisih antara total present value manfaat dengan total present value
biaya selama umur bisnis ( Nurmalina et al. 2010). Rumus yang digunakan dalam
perhitungan NPV adalah sebagai berikut:
n

NPV =

Ct
Bt(1+i)
t
t=0

Keterangan:
Bt
Ct
t
i

= Manfaat pada tahun t


= Biaya pada tahun t
= Tahun kegiatan bisnis
= Tingkat suku bunga (%)
24

= Umur bisnis (tahun)

Kriteria penilaian :
NPV>0, maka binis menguntungkan atau memberikan manfaat dan dapat dilaksanakan.
NPV<0, maka bisnis merugikan karena keuntungan lebih kecil dari biaya, jadi lebih
baik tidak dilaksanakan.
NPV=0, maka bisnis tersebut tidak untung tetapi tidak rugi juga, jadi keputusan
diserahkan kepada pengambil perusahaan yaitu manajemen perusahan.
2

IRR (Internal Rate of Return)


Digunakan untuk tingkat discount rate yang menghasilkan net present value sama dengan
nol. Suatu usaha dikatakan layak apabila nilai IRR lebih besar dari tingkat discount rate,
yang ditentukan. Sebaliknya jika nilai IRR lebih kecil dari tingkat discount rate, maka
usahanya tidak layak untuk dijalankan (Nurmalina et al 2010). Rumus yang digunakan
dalam perhitungan IRR adalah sebagai berikut: (penulisan paragraph diperhatikan
menjorok 1 cm)

IRR =

i 1+

NPV 1
x (i 2i 1)
NPV 1NPV 2

Keterangan :
ii
= Discount rate yang menghasilkan NPV positif (+)
i2

= Discount rate yang menghasilkan NPV negatif (-)

NPV 1

= NPV positif (+)

NPV 2

= NPV negatif (-)

Besaran yang dihasilkan dari perhitungan ini adalah dalam satuan persentase (%). Sebuah
bisnis dikatakan layak apabila IRRnya lebih besar dari Discount Rate (DR).
3

Net B/C Ratio


Net B/CRatio merupakan jumlah NPV yang bernilai positif (pembilang) dengan NPV
yang bernilai negatif (penyebut). Net B/C Ratio ini menunjukkan besarnya tambahan
manfaat pada tambahan biaya sebesar satu satuan (Nurmalina et al 2010). Secara
sistematis Net B/C Ratio dapat dirumuskan sebagai berikut:
n

Bt(1+Ct
i)t
Net B/C =

0
t=
1
n

t=

0
1

Bt Ct
(1+ i)t

NPV
NPV +
atau
B
Net =
C
25

Keterangan:
Bt
= Manfaat (benefit) pada tahun ke-t
Ct
= Biaya pada tahun ke-t
t
= periode atau tahun (1,2,3,)
i
= Tingkat suku bunga (%)
n
= Umur bisnis (tahun)
Kriteria :
Net B/C > 1, maka usaha layak atau menguntungkan, karena pada usaha tersebut setiap
pengeluaran atau menghasilkan penerimaan yang lebih besar dari pada
pengeluaran tersebut.
Net B/C < 1, maka usaha tidak layak atau tidak menguntungkan, karena pada usaha
tersebut setiap pengeluarannya akan menghasilkan penerimaan yang lebih
kecil dari pengeluaranya.
Net B/C = 1, maka usaha pada ambang batas maksimal dengan perolehan keuntungan
minimum.
4

PP (Payback Periode)
Sebagai salah satu masa pengembalian investasi merupkan perhitungan terhadap lamanya
waktu yang diperlukan doleh suatu proyek untuk dapat mengembalikan biaya investasi
awal (Nurmalina et al, 2010). Rumus yang digunakan dalam perhitungan Payback
Periode adalah sebagai berikut :

PP =
Keterangan :
I
Ab

I
Ab

x 1

tahun
= Besaran biaya investasi yang diperlukan.
= manfaat bersih yang dapat diperoleh pada setiap tahunnya

26