Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.1.1

Sistem Plumbing

Sistem plumbing adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari bangunan gedung, oleh
karena itu perencanaan sistem plambing haruslah dilakukan bersamaan dan sesuai dengan
tahapan-tahapan perencanaan gedung itu sendiri, dalam rangka penyediaan air bersih baik dari
kualitas dan kuantitas serta kontinuitas maupun penyaluran air bekas pakai atau air kotor dari
peralatan saniter ke tempat yang ditentukan agar tidak mencemari bagian-bagian lain dalam
gedung atau lingkungan sekitarnya.
Perencanaan sistem plambing dalam suatu gedung, guna memenuhi kebutuhan air bersih
sesuai jumlah penghuni dan penyaluran air kotor secara efesien dan efektif (drainase), sehingga
tidak terjadi kerancuan dan pencemaran yang senantiasa terjadi ketika saluran mengalami
gangguan. Fungsi utama peralatan plumbing gedung adalah menyediakan air bersih dan atau air
panas ke tempat-tempat tertentu dengan tekanan cukup, menyediakan air sebagai proteksi
kebakaran dan menyalurkan air kotor dari tempat-tempat tertentu tanpa mencemari lingkungan
sekitarnya.
1.1.2

Sistem Air Bersih

Air bersih adalah air yang biasa dipergunakan untuk keperluan rumah tangga yang
kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan apabila diminum harus dimasak terlebih dahulu. Air
yang diolah untuk menjadi air bersih berasal dari air permukaan, mata air, dan air tanah. Sistem
penyedian air bersih harus memenuhi beberapa persyarakat utama.Persyarakat tersebut meliputi
persyaratan kualitatif, persyaratan kuantitatif dan persyaratan kontinuitas. Kebutuhan air bersih
adalah banyaknya air yang diperlukan untuk melayani penduduk yang dibagi dalam dua
klasifikasi pemakaian air, yaitu untuk keperluan domestik (rumah tangga) dan non domestik
1.1.3

Sistem Air Kotor

Air kotor adalah air yang tidak hanya sadah, tetapi juga mengandung zat padat atau cair
hasil pembuangan limbah seperti sampah, bangkai, air bekas mencuci, limbah rumah tangga, dll.
Air kotor ini tidak dapat digunakan secara langsung apalagi untuk dikonsumsi. Tetapi, bukan
berarti air kotor tidak dapat dimanfaatkan, air ini bisa digunakan setelah mengalami pengolahan.
Seperti di kota-kota besar di mana warga sulit mendapat air. Maka dengan pengolahan air sungai
akan diperoleh air yang layak digunakan dan juga dikonsumsi.

Sistem pembuangan air kotor pada bangunan gedung ada 2 (dua) cara yaitu :

1.1.4

Sistem individu (on site)


Sistem terpusat (off site)
Sistem Tata Udara

Sistem Tata Udara adalah suatu sistem yang mengondisikan lingkungan melalui
pengendalian suhu, kelembaban nisbi, arah pergerakan udara dan mutu udara termasuk
pengendalian partikel dan pembuangan kontaminan yang ada di udara (seperti vapors dan
fumes).
Disebut sistem karena AHU terdiri dari beberapa mesin/alat yang masing-masing memiliki
fungsi yang berbeda, yang terintegrasi sedemikian rupa sehingga membentuk suatu sistem tata
udara yang dapat mengontrol suhu, kelembaban, tekanan udara, tingkat kebersihan, pola aliran
udara serta jumlah pergantian udara di ruang produksi sesuai dengan persyaratan ruangan yang
telah ditentukan.
Sistem Tata Udara (AHU/HVAC), biasanya terdiri dari :

Cooling coil atau evaporator


Static Pressure Fan atau Blower
Filter
Ducting
Dumper
1.1.5

Sistem Sirkulasi Vertikal

Transportasi vertical, adalah moda transportasi digunakan untuk mengangkut sesuatu


benda dari bawah ke atas ataupun sebaliknya. Ada berbagai macam tipe transportasi vertikal di
antaranya lift, travator, eskalator dan dumbwaiter. Dari tipe pengangkut vertikal ini
masingmasing mempunyai fungsi angkut yang berbeda. Lift sering dijumpai di gedung
perkantoran, travalator lebih banyak di bandar udara, sedangkan eskalator lebih banyak di pusat
pertokoan besar atau mall sedangkan dumbwaiter lebih banyak digunakan di rumah sakit dan
hotel.

1.2 Maksud Dan Tujuan


1.2.1

1.2.2

1.2.3

1.2.4

1.2.5

Maksud dan tujuan sistem plumbing


Agar mahasiswa mengetahui tentang sistem plumbing
Agar mahasiswa mengetahui tentang jenis jenis peralatan sistem plumbing
Maksud dan tujuan sistem air bersih
Agar mahasiswa mengetahui tentang bagaimana penyediaan air bersih.
Agar mahasiswa menegtahui tentang bagaimana cara pembuangan sampah.
Agar mahasiswa mampu menganalisa bagaimana pengaruh penyediaan air bersih dan
pembuangan sampah bagi kesehatan.
Maksud dan tujuan sistem air kotor
Agar mahasiswa mengetahui tentang apa itu air kotor
Agar mahasiswa mengetahui tentang pengolahan air kotor
Agar mahasiswa mengetahui tentang pembuangan air kotor
Maksud dan tujuan sistem tata udara
Agar mahasiswa mengetahui tentang apa itu sistem tata udara
Agar mahasiswa mengetahui tentang penataan sistem udara
Agar mahasiswa mengetahui tentang alat alat sistem tata udara
Maksud dan tujuan sistem sirkulasi vertikal
Agar mahasiswa mengetahui tentang sistem sirkulasi vertikal
Agar mahasiswa mengetahui tentang transportasi sirkulasi vertical

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Sistem Plumbing

Plumbing : seni dan teknologi pemipaan serta peralatannya untuk menyediakan air bersih,
dan pembuang air bekas atau air kotor.

Sistem Plumbing adalah sistem penyediaan air bersih dan sistem pembuangan air kotor
yang saling berkaitan serta merupakan paduan yang memenuhi syarat; yang berupa
peraturan dan perundangan, pedoman pelaksanaan, standar peralatan dan standar
instalasinya.

2.2 Maksud dan Tujuan Sistem Plumbing

Menyediakan air bersih yang diperlukan oleh manusia untuk kehidupan.

Menjamin adanya sanitasi di dalam gedung dan gedunggedung yang berdekatan

Untuk perlindungan kesehatan masyarakat terhadap bahaya yang timbul sebagai akibat
dari instalasi Plumbing yang tidak baik.

INSTALASI SISTEM PEMIPAAN AIR BERSIH


Sumber Air bersih didapat dari 2 sumber antara lain : dari PDAM dan dari air sumur
(deep well), dimana air yang bersumber di keduanya ini akan masuk ke dalam ground water
tank. didalam ground water tank terdapat 2 sekat bak penampungan air yaitu raw water tank dan
clean water tank.
Secara detail bagian-bagian dari sistem air bersih ini adalah sebagai berikut:

Deep Well

Sumber pengadaan air bersih berasal dari air sumur (deep well). sumur ini menyuplai seluruh
kebutuhan air bersih, baik untuk kebutuhan air sehari-hari maupun untuk sistem pemadam
kebakaran. Air dari kedua buah sumur tersebut disalurkan ke bak air Raw Water Tank
menggunakan pipa GIP (Galvanized Iron Pipe). Deep Well akan mengisi air secara otomatis jika
air pada Raw Water Tank kosong dan akan mati jika sudah penuh.

Transfer Pump

Transfer Pump atau pompa transfer berfungsi untuk memindahkan air dari Ground Water Tank
menuju ke roof water tank. Transfer Pump biasanya berjumlah dua unit dimana satu pompa
bekerja dan pompa yang lain sebagai cadangan.

Sand Filter

Sand Filter berfungsi untuk menyaring kotoran didalam air yang berasal dari bak air Raw Water
Tank. Peralatan ini berjumlah dua buah unit dan dipasang secara paralel, dimana jika satu Sand
Filter bekerja maka Sand Filter yang lain sebagai cadangan. dan untuk membersihkannya
dioperasikan secara manual (manual back wash). Sand Filter ini dilengkapi dengan pressure
gauge di bagian pipa masuk dan pipa keluar untuk mengukur tekanan air.

Packaged Booster Pump

Berfungsi untuk mendistribusikan air bersih dari roof tank ke pengguna. Distribusi air bersih
pada dua lantai teratas menggunakan packaged booster pump, sedangkan untuk lantai-lantai
dibawahnya dialirkan secara gravitasi. Perlengkapan dan aksesoris di dalam ruang pompa antara
lain :
- Butterfly Valve : membuka atau menutup aliran air
- Gate Valve : membuka atau menutup aliran air
- Strainer : menyaring kotoran pada bagian hisap pompa (suction)
- Flexible Joint : menahan getaran pompa terhadap instalasi pipa
- Check Valve : menahan balik aliran air
- Pressure Tank : mengatur (setting) besarnya tekanan air
- WLC : Water Level Control, mengendalikan pengoperasian pompa berdasarkan pada tingkat
ketinggian air di dalam bak air
-Floating Valve : membuka atau menutup aliran air secara otomatis berdasarkan ketinggian air di
bak air
- Pressure Switch : mengontrol pengoperasian pompa berdasarkan pada besarnya tekanan air
- Pressure Gauge : alat untuk mengukur besarnya tekanan air
- Vent Cap : membuang udara yang terjebak di dalam bak/tangki
- AAV : membuang udara yang terjebak di dalam instalasi pipa secara otomatis

- Pressure Reducing Valve (PRV) PRV digunakan untuk menurunkan tekanan air didalam
instalasi air bersih supaya air yang keluar dari kran air bersih mempunyai tekanan yang cukup.
INSTALASI PLUMBING SISTEM PENYEDIAAN AIR KOTOR

Klasifikasi berdasarkan jenis air buangan:


Sistem pembuangan air kotor.
Adalah system pembuangan untuk air buangan yang berasal dari kloset, urinal, bidet, dan
air buangan yang mengandung kotoran manusia dari alat plambing lainnya ( black water ).
Sistem pembuangan air bekas.
Adalah system pembuangan untuk air buangan yang berasal dari bathtub, wastafel, sink
dapur dan lainnya ( grey water ). Untuk suatu daerah yang tidak tersedia riol umum yang dapat
menampung air bekas, maka dapat di gabungkan ke instalasi air kotor terlebih dahulu
Sistem pembuangan air hujan.
Sistem pembuangan air hujan harus merupakan system terpisah dari system pembuangan
air kotor maupun air bekas, karena bila di campurkan sering terjadi penyumbatan pada saluran
dan air hujan akan mengalir balik masuk ke alat plambing yang terendah.
Sistem air buangan khusus.
Sistem pembuangan air yang mengandung gas, racun, lemak, limbah pabrik, limbah
rumah sakit, pemotongan hewan dan lainnya yang bersifat khusus.
Klasifikasi berdasarkan cara pengaliran :
Sistem gravitasi.
Air buangan mengalir dari tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah secara
gravitasi ke saluran umum yang letaknya lebih rendah
Sistem bertekanan.
Sistem yang menggunakan alat ( pompa ) karena saluran umum letaknya lebih tinggi dari
letak alat plambing, sehingga air buangan di kumpulkan terlebih dahulu dalam suatu
bakpenampungan, kemudian di pompakan keluar ke roil umum. Sistem ini mahal, tetapi biasa di
gunakan pada bangunan yang mempunyai alat alat plambing di basement pada bangunan tinggi
/ bertingkat banyak.

SKEMA UMUM SISTEM PEMBUANGAN GRAFITASI

EFEK SIFON DAN PERANAN PIPA VEN PADA SISTEM PEMBUANGAN

BAGIAN BAGIAN SISTEM PEMBUANGAN


Alat alat plambing yang di gunakan untuk pembuangan seperti bathtub,wastafel, bak bak cuci
piring, cuci pakaian, kloset, urinal, bidet, dsb.
Pipa pipa pembuangan.
Pipa ven.
Perangkap dan penangkap ( interceptor ).
Bak penampung dan tangki septic.
Pompa pembuangan.

Pipa pipa pembuangan


Ukuran pipa ini harus sama atau lebih besar dengan ukuran lubang keluar perangkap
alat plambing dan untuk mencegah efek sifon pada air yang ada dalam perangkap, jarak tegak dari
ambang puncak perangkap sampai pipa mendatar di bawahnya tidak lebih dari 60 cm

Syarat syarat perangkap


Kedalaman air penyekat berkisar antara 50 100 mm.
Konstruksi perangkap harus sedemikian rupa sehingga tak terjadi pengendapan atau
tertahannya kotoran dalam perangkap.
Konstruksi perangkap harus sederhana sehingga mudah di pe rbaiki bila ada kerusakan dan dari
bahan tak berkarat.
Tidak ada bagian bergerak atau bersudut dalam perangkap yang dapat menghambat aliran air.

Jenis perangkap
Jenis perangkap dapat di kelompokkan menjadi :
a. Perangkap yang di pasang pada alat plambing dan pipa pembuangan.

b. Perangkap yang menjadi satu dengan alat plambing.

Penangkap (interceptor)
Persyaratan penangkap

Penangkap yang sesuai harus dipasang sedekat mungkin dengan alat plambing yang di
layaninya, dengan maksud agar pipa pembuangan yang mungkin mengalami gangguan sependek
mungkin.
Konstruksinya harus mudah dibersihkan, dilengkapi dengan tutup yang mudah dibuka dan
letak dari penangkap dalam ruang sedemikian rupa sehingga sampah dari penangkap mudah
dibuang keluar ruang
Konstruksi penangkap harus mampu secara efektif memisahkanmin
yak, lemak dan sebagainya dari air buangan.Konstruksi penangkap umumnya juga merupakan
perangkap, karena itu bila telah dipasang penangkap dilarang memasang perangkap, sebab
dapat terjadi perangkap ganda.
Tangki septic dan rembesan
Tangki septic sebenarnya serupa saja dengan bak penampungan
air kotor, tetapi lebih ditujukan penggunannya untuk menampung air kotor buangan dari
bangunan ditempat yang tidak terjangkau oleh riol umum/kota. Prinsip kerja dari tangki septik
adalah mengolah dan memisahkan antara air dengan kotoran dengan
cara pengendapan. Pengolahan dilakukan oleh bakteri anaerobic yang meru
bah kotoran baku menjadi Lumpur. Air hasil pemisahan (70% lebih bersih) dialirkan keluar
secara gravitasi dan
diresapkan ketanah, sedangkan hasil endapan (Lumpur) harus dibuang secara berkala
dengan bantuan layanan mobil tangki air kotor pemerintah setempat. Dengan demikian tangki
septic biasanya terletak diluar bangungan (mudah dicapai mobil tangki) dan tidak ada peralatan
pompa yang dipasangkan.

Sistem pembuangan dengan tangki septic

Komponen sistem pembuangan

Syarat jarak komponen sistem tangki septic

INSTALASI PLUMBING SISTEM PEMADAM KEBAKARAN

Sistem pemadam kebakaran atau sistem fire fighting disediakan di gedung sebagai
preventif (pencegah) terjadinya kebakaran. Sistem ini terdiri dari sistem sprinkler, sistem hidran
dan Fire Extinguisher. Dan pada tempat-tempat tertentu digunakan juga sistem fire gas.Tetapi
pada umumnya sistem yang digunakan terdiri dari: sistem sprinkler, hidran dan fire extinguisher.
Ada 3 pompa yang digunakan dalam sistem sprinkler dan Hydran, yaitu elektrik pump, diesel
pump dan jockey pump.

Jockey Pump

Jockey pump berfungsi untuk menstabilkan tekanan di instalasi, dan secara otomatis akan
bekerja apabila ada penurunan tekanan. Dan jika ada head sprinkler yang pecah atau hydran
digunakan, maka yang bekerja secara otomatis pompa elektrik bekerja, dan secara otomatis pula
jockey pump akan berhenti bekerja. Pompa elektrik pump (atau elektrik pump) merupakan
pompa utama yang bekerja bila head sprinkler atau hydran digunakan. Sedang pompa diesel
merupakan pompa cadangan, jika pompa elektrik gagal bekerja selama 10 detik, maka secara
otomatis pompa ini akan bekerja.

Sprinkler

Sistem ini menggunakan instalasi pipa sprinkler bertekanan dan head sprikler
sebagai alat utama untuk memadamkan kebakaran.
Sistem ada 2 macam, yaitu:
1) Wet Riser System: Seluruh instalasi pipa sprinkler berisikan air bertekanan dengan
tekanan air selalu dijaga pada tekanan yang relatif tetap.
2) Dry riser system : Seluruh instalasi pipa sprinkler tidak berisi air bertekanan, peralatan
penyedia air akan mengalirkan air secara otomatis jika instalasi
fire alar
memerintahkannya.
Pada umumnya gedung bertingkat tinggi menggunakan sistem wet riser, seluruh
pipa sprinkler berisikan air bertekanan, dengan tekanan air selalu dijaga pada tekanan
yang relatif tetap.
Apabila tekanan dalam pompa menurun, maka secara otomatis jockey pump akan
bekerja untuk menstabilkan tekanan air didalam pipa. Jika tekanan terus menurun atau
ada glass bulb head sprinkler yang pecah maka pompa elektrik akan bekerja dan secara
otomatis pompa jockey akan berhenti. Dan apabila pompa elektrik gagal bekerja setelah
10 detik, maka pompa cadangan diesel secara otomatis akan bekerja.

Hydrant

Instalasi pipa hydrant berfungsi untuk mengatasi dan menaggulangi kebakaran


secara manual dengan menggunakan hydrant box , hydrant box ini tersedia pada setiap
lantai dengan beberapa zone /tempat.
Pada hydrant box terdapat fire hose[ selang ] ,nozzle, valve, juga terpasang alat bantu
control manual call point, alarm bell serta indicating lamp dan untuk diluar gedung [ area
taman / parkir ] terpasang hydrant pillar serta hose reel cabinet.

2.3 Fungsi dan Jenis Peralatan Plumbing

Peralatan Plumbing dibedakan berdasarkan fungsinya


Peralatan Plumbing dalam artian khusus :
a) Peralatan untuk penyediaan air bersih/air minum
b) Peralatan untuk penyediaan air panas
c) Peralatan untuk pembuangan dan vent
d) Peralatan saniter (plumbing fixtures)
Peralatan Plumbing dalam artian yang lebih luas :
a) Peralatan untuk pemadam kebakaran
b) Peralatan untuk mengelola air kotor
c) Peralatan penyediaan gas
d) Peralatan dapur
e) Peralatan untuk mencuci (laundry)
f) Peralatan pengelola sampah
g) Berbagai instalasi yang lainnya

Peralatan Plumbing antara lain sbb :

Elbow
Elbow adalah jenis fitting yang pertama, elbow merupakan komponen pemipaan yang
berfungsi untuk membelokan arah aliran fluida. Elbow terdiri dari dua jenis yang paling
umum yaitu 45 dan 90.

Fitting Te

Tee dalam fitting bertugas untuk membagi aliran, adalah koneksi fitting yang memiliki
cabang. Biasanya cabangnya ini ukurannya sama dengan ukuran pipa utamanya, disebut
dengan straight tee, Sedangkan kalau berbeda, disebut dengan reducing tee.

Reducer
Reducer, sesuai namanya fitting jenis ini bertugas untuk me-reduce (mengurangi) aliran
fluida, mengurangi ukuran pipanya. Jadi reducer ini akan bertugas untuk mengabungkan
dari diameter yang lebih besar ke yang kecil, atau sebaliknya.

Fitting Cap
Pipe caps fitting berfungsi untuk menghentikan aliran pada ujung pipa, fitting ini di las
langsung pada pipa utama. Ada juga penutup aliran fluida yang dapat di bongkar dan
dilepas, namun biasanya menggunakan sambungan flange, lebih tepatnya blind flange.

Flange

Sambungan baut pada dua buah pipa, equipment, fitting atau valve untuk dapat
dihubungkan bersama-sama. Flange tersedia dalam berbagai bentuk, tekanan, rating dan
ukuran untuk memenuhi persyaratan desain.

Sebuah perangkat yang mengatur, mengarahkan atau mengontrol aliran dari suatu cairan
(gas, cairan, padatan terfluidisasi) dengan membuka, menutup, atau menutup sebagian
dari jalan alirannya.
Gate valve adalah jenis katup yang digunakan untuk membuka aliran dengan cara
mengangkat gerbang penutup nya yang berbentuk bulat atau persegi panjang.

2.4 Air Bersih

Air bersih adalah salah satu jenis sumberdaya berbasis air yang bermutu baik dan
biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau dalam melakukan aktivitas
mereka sehari-hari dan memenuhi persyaratan untuk pengairan sawah, untuk treatment
air minum dan untuk treatmen air sanitasi. Persyaratan disini ditinjau dari persyaratan
kandungan kimia, fisika dan biologis.
Pengertian Air Persih:
a. Secara Umum: Air yang aman dan sehat yang bisa dikonsumsi manusia.
b. Secara Fisik : Tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.
c. Secara Kimia:
- PH netral (bukan asam/basa)
- Tidak mengandung racun dan logam berat berbahaya
Untuk konsumsi air minum menurut departemen kesehatan, syarat-syarat air minum
adalah tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak mengandung logam berat.
Walaupun air dari sumber alam dapat diminum oleh manusia, terdapat risiko bahwa air
ini telah tercemar oleh bakteri (misalnya Escherichia coli) atau zat-zat berbahaya.
Walaupun bakteri dapat dibunuh dengan memasak air hingga 100 C, banyak zat
berbahaya, terutama logam, tidak dapat dihilangkan.
B . MACAM MACAM SUMBER AIR
1. Air Laut
Air ini sifatnya asin karena mengandung garan NaCL. Kadar garam NaCL dalam air laut
3% dengan keadaan ini maka air laut tidak memenuhi syarat untuk di minum.
2. Air Hujan
Cara menjadikan air hujan sebagai air minum hendaknya jangan saat air hujan baru mulai
turun, karena masih mengandung banyak kotoran. Air hujan juga mempunyai sifat agresif
terutama pada pipa-pipa penyalur maupun bak-bak reservoir sehingga hal ini akan
mempercepat terjadinya korosi atau karatan. Air hujan juga memiliki sifat lunak sehingga
akan boros terhadap pemakaian sabun.
3. Air permukaan
Air pemukaan adalah air yang mengalir dipermukaan bumi. Pada

umumnya air

permukaan ini akan mendapat pengotoran selama pengalirannya, misalnya oleh rumput,
batang kayu, daun, kotoran industri dan lainnya. Untuk meminumnya harus melewati
proses pembersihan yang sempurna.
4. Air tanah

Air tanah adalah air yang berada dibawah tanah di dalam zone jenuh dimana tekanan
hidrastatiknya sama atau lebih besar dari tekanan atmosfer.
5. Mata air
Mata air adalah air tanah yang keluar dengan sendirinya ke permukaan tanah dengan
hampir tidak dipengaruhi oleh musim, sedangkan kualitasnya sama dengan air dalam.
C. SISTEM JARINGAN PENYEDIAAN AIR BERSIH
Jaringan penyediaan air bersih yang banyak digunakan sebagai berikut :
a. Sistem Sambungan Langsung
Sistem ini pipa distribusi dalam gedung disambung langsung dengan pipa
utama penyediaan air bersih misalnya PDAM.
Kelebihan dari sistem distribusi langsung ini adalah :
- Sistem perpipaan di luar bangunan lebih sederhana.
- Relatif lebih hemat dari sisi biaya apabila dari Meter air langsung didistribusi
menuju sistim instalasi dalam rumah.
Kelemahannya :
- Debit air yang keluar dari PDAM setelah meter air tidak konstan dan tekanan
-

relatif kecil.
Debit air yang keluar seringkali tidak memenuhi kebutuhan apabila beberapa

peralatan saniter digunakan secara bersamaan.


Diameter pipa setelah meter air pada umumnya hanya , sehingga untuk
menyambungkan pipa distribusi dengan diameter yang lebih besar harus

menggunakan Socket Reducer.


Pompa tidak boleh digunakan secara langsung setelah meter air.
Daya listrik rumah harus mencukupi, apabila dari sumur didistribusikan langsung
dengan menggunakan pompa.

b.

Sistem Tangki Atap


Sistem ini air ditampung lebih dahulu dalam tangki bawah kemudian dipompakan
ke suatu tangki atas yang bisasanya dipasang di atas atap atau di atas lantai tertinggi
bangunan. Dari tangki air ini air di distribusikan ke seluruh bangunan.

c. Sistem Tangki Tekan


Sistem tangki tekan ini diterapkan dalam keadaan dimana olehkarena sesuatu alasan
tidak dapat digunakan sistem sambungan langsung.
Prinsip kerja adalah sebagai berikut : Air yang telah ditampung dalam tangki
bawah, dipompakan ke dalam suatu bejana tertutup sehingga udara di dalamnya
terkompresi. Air dari tangki tersebut dipompakan ke dalam suatu bejana (tangki)
tertutup sehingga udara di dalamnya terkompresi.

d. Sistem Tanpa Tangki


Dalam sistem ini tidak digunakan tangki apapun. Air dipompakan langsung ke sistem
distribusi dan pompa menghisap air langsung dari sumber air.

PERALATAN PELENGKAP
Disamping berbagai peralatan utama saniter seperti tersbut di atas ada beberapa peralatan
yang sifatnya pelengkap yaitu yang dinamakan fiting saniter, meliputi :
1) Kran air
Kran untuk taman bentuknya berbeda dengan kran untuk sinkdapur dan kran
untuk kamar mandi. Kran untuk taman, belalainya tidak panjang tetapi bagian paruhnya
mengecil dan ber-drat. Ini untuk memasang slang agar tidak mudah lepas.
Kran untuk sink dapur, belalainya panjang. Agar air tidak terpercik kemana-mana
sehingga dapur tetap bersih, tidak becek. Kran untuk sink dapur biasanya memiliki dobel
kran. Ini gunanya untuk air dingin dan air panas. Kran untuk kamar mandi begitu juga,
ada yang dobel dan tunggal.Bedanya belalai untuk kamar mandi tidak panjang. Tetapi ada
juga yang memiliki belalai tinggi, seperti leher angsa. Bentuk pemutar kran juga ada yang
diputar tetapi ada juga yang digeser.

2) Pancuran (Shower)
Mandi menggunakan pancuran seakan telah menjadi bagian dari gaya hidup
masyarakat masa kini. Padahal, jika mau jujur, sebagian besar orang memilih mandi
dengan pancuran karena kepraktisan dan keefisienan semata-mandi dengan pancuran
terbukti bisa menghemat konsumsi air, dengan skala 1:5 dibanding-kan mandi dengan air
dalam bak. Aktivitas mandi dengan pancuran juga bisa menghemat waktu mandi Anda.
Menggunakan pancuran dalam kamar mandi juga dapat menghemat luas area kamar
mandi, terutama jika dibandingkan dengan kamar mandi yang menggunakan bak mandi
konvensional. Selain itu, sebagian besar orang cenderung menganggap mandi dengan

pancuran lebih higienis dibandingkan dengan air dari bak mandi, sebab airnya terus
mengalir dan sisa-sisa sabun bisa dibersihkan secara lebih merata.
Anda bisa memilih salah satu dari dua teknologi pancuran yang tersedia saat ini.
Yang pertama, pancuran campuran (mixer shower). Kedua, pancuran campuran untuk bak
mandi (bath mixer shower). Kedua jenis teknologi ini bekerja dengan jalan menyimpan air
panas dan air dingin dalam dua tempat berbeda, baru kemudian mencampurnya saat Anda
membutuhkan suhu air tertentu.

2.5 Air Kotor


Air buangan atau sering pula disebut air limbah, adalah semua cairan yang
dibuang, baik yang mengandung kotoran manusia, hewan, bekas tumbuh-tumbuhan,
maupun yang mengandung sisa-sisa proses dari industri.
1. Fungsi saluran pembuangan air kotor dalam bangunan
a. Fungsi kenyamanan, Sebagai bagian dari sebuah bangunan, saluran air kotor
berfungsi sebagai penunjang kegiatan yang sedang berlangsung dalam bangunan.
b. Fungsi estetika, Dengan adanya jaringan saluran pembuangan air kotor, maka
penampilan fisik bangunan akan lebih estetis karena secara keseluruhan penampilan
bangunan akan lebih teratur.
c. Fungsi utilitas, Saluran pembuangan air kotor merupakan suatu saluran yang
berfungsi sebagai pengangkut bahan-bahan limbah dari kegiatan yang sedang
berlangsung dalam suatu bangunan
2. Jenis zat buangan
Jenis zat buangan dari dalam bangunan atau suatu lingkungan pada umumnya
digolongkan dalam dua macam yaitu zat padat dan zat cair. Zat buangan padat adalah
kotoran yang berasal dari kloset dan berupa tinja. sedangkan zat buangan cair adalah air

kotor yang berasal dari lavatory, urinoir, bak mandi, dll. Air buangan dapat dibagi dalam
empat golongan:
1. Air tinja, yaitu air sisa buangan yang berasal dari kloset, peturasan, bidet, dan air
buangan mengandung kotoran manusia yang berasal dari alat plumbing lainnya.
2. Air bekas pakai / air sabun, yaitu air buangan yang berasal dari bak mandi, wastafel,
bak dapur, dan sebagainya.
3. Air hujan, yaitu air dari atap dan halaman yang berasal dari hujan. 4. Air buangan
khusus, yaitu air buangan yang mengandung bahan kimia atau bahanbahan
berbahaya lainnya. Air buangan tersebut biasanya berasal dari pabrik, laboratorium,
tempat pengobatan, rumah pemotongan hewan, dll.

3. Karakteristik air buangan


a. Karakteristik Fisik

a.

Warna
Bau
Suhu
Kekeruhan
Karakteristik Kimia
Zat Organik merupakan zat yang dapat terurai atau mudah terurai menjadi zat yang stabil
oleh manusia secara alamiah. Umumnya terdiri dari senyawa C.H.N.O.P.S (protein dan

Karbohidrat).
Zat Anorganik tidak dapat diuraikan oleh bakteri. Contoh nya adalah: Besi (Fe), Mangan
(Mg), Air Raksa (Hg), Timah Hitam (Pb), Logam berat lainnya, Pestisida dan Deterjen.
b. Karakteristik Biologi
Bakteri Aerob adalah jenis bakteri yang dapat hidup bila tersedia O2.
Bakteri Anaerob adalah bakteri yang dapat hidup tanpa adanya O2.
Bakteri yang dapat hidup dengan atau tanpa O2.
4. Klasifikasi sistem buangan air
1. Menurut jenis buangan
a) Sistem Pembuangan Air Tinja, adalah sistem pembuangan dari kloset/ peturasan, dll.
yang berasal dari datam gedung, yang dikumpulkan dan dialirkan dalam bangunan
bersama-sama.

b) Sistem Pembuangan air bekas pakai / air sabun, adalah sistem pembuangan air dimana air
bekas pakai dalam gedung dikumputkan dan dialirkan ke luar bangunan.
c) Sistem Pembuangan Air Hujan adalah sistem pembuangan dimana hanya air hujan dari
atap gedung dan tempat lainnya dikumpulkan dan diatirkan ke tuar bangunan.
d) Sistem Pembuangan Air Khusus adalah sistem buangan yang dikhususkan bagi air
buangan yang apabila ditinjau dari segi pencemaran tingkungan adalah sangat berbahaya,
terutama jika air buangan tersebut langsung disaturkan datam riot kota tanpa proses
pengamanan/pengolahan lebih dahulu. Oleh karena itu perlu disediakan peratatan khusus
untuk mengolahnya sesuai persyaratan, sebelum dibuang ke riot kota.
e) Sistem Pembuangan dari Air Berlemak dari Dapur sistem pembuangan dari dapur secara
umum sebenarnya dapat dimasukkan datam riot kota tanpa proses pengamanan terlebih
dahulu.
2. menurut cara pembuangan air kotor
a) Sistem pembuangan campuran, yaitu sistem pembuangan dimana segala jenis air
buangan dikumpulkan ke dalam satu saluran dan dialirkan ke luar gedung, tanpa
memperhatikan jenis air buangannya.
b) Sistem pembuangan terpisah, yaitu sistem pembuangan dimana segata jenis air buangan
dikumpulkan dan dialirkan ke luar gedung secara terpisah.
c) Sistem pembuangan air secara tak langsung, yaitu sistem pembuangan air dimana air
buangan dari beberapa lantai gedung bertingkat digabungkan datam satu kelompok.
3. Menurut cara pengalirannya.
a) Sistem gravitasi, yaitu air buangan mengatir dari tempat yang lebih tinggi secara grafitasi
ke saluran umum yang letaknya lebih rendah.
b) b. Sistem bertekanan yaitu bita saluran umum atau riot kota letaknya lebih tinggi dari
atat-atat plumbing, sehingga air buangan dikumpulkan tertebih dahulu dalam suatu bak
penampung kemudian dipompakan ke riot kota.
4. Menurut letaknya
a) Sistem pembuangan dalam bangunan, yaitu sistem pembuangan yang tertetak di
datam gedung, sampai jarak satu meter dari dinding tuar bangunan tersebut.
b) Sistem pembuangan di luar bangunan atau riot bangunan, yaitu sistem pembuangan
di luar bangunan, di halaman, mulai satu meter dari dinding paling luar dari
bangunan sampai ke riot kota.

1) One pipe system


a) Semua sistem pembuangan (air tinja dan air sabun atau air kotor tainnya) pada One Pipe
System dialirkan melalui satu pipa.
b) Pada ujung pipa bagian atas selalu terbuka dan disebut vent stack.
c) Manfaat vent stack adatah untuk menghindari terjadinya cyclone effect karena sifat pipa
merupakan bejana berhubungan.

2) Two pipe system


a) Pada Two Pipe System,. air tinja dan air kotor/air sabun dipisahkan pembuangan
dengan dua jenis pipa.
b) Soil pipe mengalirkan air tinja, waste pipe mengalirkan air kotor selain air tinja.

3) Single stack system


a) Pada Single Stack System, air tinja dan air kotor / air sabun dipisahkan pembuangan
dengan dua jenis pipa pada aliran mendatar, sedangkan pipa vertikal menjadi satu.
b) Pada ujung pipa bagian atas selalu terbuka dan sering disebut sebagai vent stack.
c) Keuntungan sistem ini adalah memudahkannya pengontrolan pipa mendatar bila terjadi
gangguan/kebuntuan dalam saluran. Selain itu, pipa tegak yang berupa vent stack cukup
satu buah saja, biasa dianggap menguntungkan.
d) Sistem ini banyak digunakan di Indonesia

5. Syarat pipa air kotor


1. Pipa menggunakan bahan anti korosi, tidak menimbulkan kontaminasi.
2. Permukaan dalam pipa harus licin, sehingga terbebas dari penggumpalan
3.Sirkulasi udara dalam pipa harus lancar.
4. Pada ujung atas vent stack harus terbuka agar tidak terjadi cyclone effect maupun efek kapiler.
6. Kemiringan pipa kecepatan aliran.
a) Sistem pembuangan harus mampu mengalirkan dengan cepat air buangan yang biasanya
mengandung bahan-bahan padat. Maka pipa pembuangan harus mempunyai ukuran
kemiringan yang cukup sesuai dengan banyak dan jenis buangan yang dialirkan.
b) Aliran di dalam pipa dianggap tidak penuh dengan air buangan, tidak lebih dari 2/3
terhadap penampang pipa, sehingga bagian atas yang kosong cukup untuk sirkulasi udara.
c) Kemiringan pipa dapat dibuat sama atau lebih dari satu per diameter pipanya (dalam
mm).
d) Kemiringan pipa pembuangan dan riolnya dapat dibuat lebih landai daripada kemiringan
standar, dengan kecepatan tidak kurang dari 0,6 m/detik. Dalam hal ini jika kurang dari
kecepatan tersebut, kotoran dalam air buangan akan mengendap dan menyumbat pipa.
e) Kecepatan terbaik dalam pipa antara 0,6-1,2 m/detik.
f) Jika aliran terlalu cepat akan menimbulkan turbulensi aliran yang dapat menimbulkan
gejolak-gejolak tekanan dalam pipa. Hal ini akan mengganggu fungsi seal trap.
g) Kemiringan yang lebih dari 1/50 cenderung menimbulkan efek siphon yang akan
menyedot air penutup dalam seal trap. h. Pada jalur pipa yang cukup panjang, ukuran
pipa sebaiknya tidak kurang dari 50 mm.
7. Lubang pembersih dan bak kontrol
a. Lubang pembersih dan bak kontrol digunakan untuk pembersihan pipa dari sumbatan dan
kotoran yang mengganggu aliran dalam pipa
b. Lubang pembersih dipersyaratkan harus mudah dicapai dan pada area sekelilingnya harus
cukup luas untuk memudahkan pembersihan. Untuk pipa ukuran sampai dengan 62 mm

jarak sekelilingnya minimal 30 cm, dan untuk ukuran pipa 75 mm atau lebih jarak
sekelilingnya minimal 45 cm. Lubang pembersih harus dipasang pada lokasi sebagai

berikut :
Awal cabang mendatar atau pipa pembuangan gedung.
Pada pipa mendatar yang panjang.
Pada tempat dimana pipa pembuangan membelok dengan sudut lebih dari 45 derajat.
Bagian bawah dari pipa tegak dan di dekatnya.

8. Bahan pipa saluran limbah


A. Polyvinil Chlorida (PVC)

Di pasaran terdapat beberapa ukuran pipa jenis PVC, antara lain dengan diameter: 2 inci,

4 inci, 5 inci dst.


PVC tidak tahan terhadap bahan-bahan kimia, terutama yang mengandung klor dan yang
bersifat asam, serta tidak tahan terhadap panas, selain itu juga tidak tahan terhadap

benturan.
Temperatur air buangan yang diijinkan masuk ke dalam PVC maksimal 60 derajat
Celcius, karena koefisien muai PVC sebesar 0,06/mm/0 derajat. Hal tersebut dapat diatasi
dengan menurunkan suhu air atau menetrallisir air buangan yang mengandung unsur-

unsur kimia sebelum dialirkan ke PVC


5. Pipa Galvanis (galvanized pipe)
Dibuat dari bahan baja yang dicampur dengan besi dan karbon dengan perbandingan
tertentu. Dipasaran terdapat beberapa jenis galvanized pipe berdasarkan dimensi dan

ketebalan.
Galvanized pipe mempunyai sifat tahan terhadap benturan, tidak bersifat getas, tahan

panas, tahan terhadap zat-zat kimia, dan bebas karat dalam keadaan normal.
Dalam pemasangannya galvanized pipe memerlukan alat bantu berupa besi penggantung
dan pengikat pipa.

9. Pertimbangan pemilihan bahan


A. Pertimbangan Umum Beberapa faktor yang dapat dijadikan pertimbangan untuk jenis
komponen yang digunakan:
Harga komponen

Tingkat keawetan komponen


Kemudanan dalam pemasangan
Kemudahan dalam perawatan
Kemudahan dalam penggantian
Kemudahan memperoleh bahan di pasaran
Selera pemakai.
B. Pertimbangan Arsitektural. Pertimbangan dalam segi arsitektural adalah:
Pemilihan bahan berdasarkan pada fungsi yang lebih spesifik
Potensi dari komponen yang dipakai
Pemilihan bahan berdasarkan pada proporsi ruang secara umum.
10. Ukuran -ukuran pipa pembuangan
Dalam standar Standar HASS 206-1977 disebutkan bahwa:
a) Ukuran minimum pipa cabang mendatar Pipa cabang mendatar harus mempunyai ukuran
minimal sama dengan diameter terbesar dari perangkap alat plumbing/seal trap yang
dilayani.
b) Ukuran minimum pipa tegak Pipa tegak harus mempunyai ukuran sekurang-kurangnya
sama dengan diameter terbesar cabang mendatar yang disambung ke pipa tegak tersebut.
c) Pengecilan ukuran pipa Pipa tegak maupun pipa cabang mendatar tidak boleh diperkecil
diameternya dalam arah air buangan. Pengecualiannya hanya pada kloset, dimana pada
lubang keluarnya dengan diameter 100 mm dipasang pengecilan pipa (reducer) 100 / 75
mm. Cabang mendatar yang melayani satu kloset harus mempunyai diameter minimal 75
mm dan untuk dua kloset atau lebih minimal 100 mm
d) Pipa di bawah tanah Pipa pembuangan yang ditanam dalam tanah atau di bawah lantai
bawah harus mempunyai minimal 90 mm.
e) Interval cabang Interval cabang adalah jarak pada pipa tegak antara dua titik dimana
cabang mendatar disambungkan pada pipa tersebut minimal berjarak 2,5 m.

- Sistem Pengkondisian Udara (AC)


Tata Udara
Sistem tata udara pada bangunan bertugas mengolah udara dan menghasilkan kualitas udara
yang baik (nyaman dan sehat) bagi penghuninya. Keberadaan sistem tata udara sangat
menunjang aktifitas dan produktifitas manusia. Beberapa jenis sistem tata udara juga dapat
digunakan untuk berbagai keperluan khusus, dengan kondisi perancangan tertentu, selain untuk
tempat hunian manusia.Untuk mencapai tujuan diatas perlu diketahui beban pendinginan dan
karakteristik ruangan serta sistem tata udara yang diperlukan.
-

Jenis Sistem Pengkondisian Udara

Ada beberapa sistem pengkondisian udara yang dapat dilakukan, yaitu :


1. Sistem ekspansi langsung
Dengan sistem ini, pendinginan secara langsung dilakukan oleh refrigerant yang
diekspansikan melalui koil pendingin, sedangkan udara disirkulasikan dengan cara
menghembuskannya dengan menggunakan blower / fan melintasi koil pendingin tersebut
Sistem ini biasanya dipergunakan untuk beban pendinginan udara yang tidak terlalu besar
seperti keperluan ruangan di rumah

(Gambar 1. Mesin AC jenis Direct Expantion / Ekspansi Langsung)

2. Sistem Pengkondisian Udara secara Sentral


Secara singkat sistem Central Air Conditioning System ( Sistem Pengkondisian
Udara secara sentral ), yang biasa dirancang pada bangunan dapat di jelaskan sebagai
berikut : Unit pendingin utama digunakan 2 unit Water Cooled Water Chiller dimana satu
unit beroperasi dan satu unit sebagai cadangan, unit Chiller beroperasi dengan
menggunakan Primary Refrigerant berupa refrigerant R123 pada unit Chiller & R
134A pada unit purging yang sudah ramah lingkungan, nantinya akan mendinginkan
Secondary Refrigerant berupa air, dimana air yang sudah didinginkan ini di
sirkulasikan oleh Chilled Water Pump ke AHU dan FCU di LQB.
Pada unit AHU air dingin akan mengkondisikan / mendinginkan udara segar dari
luar gedung sehingga mencapai temperatur dan kelembaban yang cukup dan untuk
selanjutnya didistribusikan ke koridor koridor di ruangan setiap lantainya dan kamarkamar pada masing-masing lantai. Pada setiap lantai akan ditangani oleh 2 unit AHU
yang memiliki kapasitas pendinginan yang sama, begitu pula dengan 2 lantai di atasnya
memiliki masing-masing 2 unit AHU yang memiliki kapasitas pendinginan yang sama
dengan lantai dasar. Sedangkan proses pertukaran kalor yang terjadi di masing-masing
kamar akan ditangani oleh Fan Coil Unit yang telah mendapatkan distribusi udara segar
yang telah didinginkan oleh AHU sehingga kerja FCU tidak terlalu berat. Dikarenakan
lantai dasar, satu dan lantai dua memiliki kapasaitas pendinginan yang sama dan jenis
bangunan yang sama pula, maka perhitungan luasan sistem ducting akan diwakilkan di
salah satu lantai, yaitu lantai dasar.

Water Cooled Water Chiller


Unit Chiller yang digunakan pada sistem ini merupakan jenis Water Cooled Water
Chiller dengan menggunakan kompresor jenis sentrifugal 3 tahap / 3 stage centrifugal
compressor ( Kompresor sentrifugal 3 tingkat ), yang diproduksi oleh salah satu pabrikan unit
AC yang cukup terkenal yaitu Trane Company. Unit ini berkapasitas 320 Ton Refrigerant / 320
TR, dengan menggunakan sistim negative pressure, dimana jika terjadi kebocoran pada unit
Chiller maka refrigerant yang terdapat didalamnya tidak akan terbuang ke udara, melainkan
udara luar yang akan masuk ke dalam sistem.
Di dalam sistem Chiller sendiri terdapat satu unit pembuang udara yang masuk saat
terjadi kebocoran tadi yang dinamakan Purging Unit. cara kerja purging seperti ini : saat Chiller
mengalami kebocoran, maka udara luar akan masuk kedalam sistem chiller sehingga refrigerant
atau freon akan bercampur dengan udara luar yang mengandung uap air, sensor pada purging

unit akan membaca perbedaan tekanan pada sistem dan kelembaban refrigerant pada sistem
sehingga akan mengaktifkan purging unit tersebut.
Saat purging unit bekerja, Chiller tetap beroperasi sebagaimana mestinya tanpa
terganggu. Udara yang terhisap masuk kedalam sistem akan di tekan keluar oleh purging unit,
sehingga tekanan pada sistim mengalami kondisi stabil barulah unit Chiller dapat di perbaiki.
Untuk media pendingin yang digunakan oleh unit Chiller yaitu refrigerant jenis R 123 dan untuk
Purging unit berjenis R 134 A, kedua sudah ramah lingkungan.

(Gambar 2. Water Cooled Centrifugal Chiller)

(Gambar 3. Purging Unit)

Chilled Water & Condenser Water Pump


Guna keperluan mensirkulasikan air yang sudah didinginkan oleh unit Chiller ke AHU
maupun air yang mendinginkan unit condenser di Chiller ke Cooling Tower, maka di gunakan
masing-masing sistem satu paket Pompa sirkulasi air dingin dan Pompa sirkulasi air pendingin.
Jenis kedua pompa ini adalah sama, yaitu digunakan jenis End Suction Centrifugal Pump dengan
tekanan kerja pompa adalah 10 kg/cm2.
Pada sistem ini, sistem Chilled Water atau air yang didinginkan menggunakan 2 buah pompa
yang beroperasi sekaligus, hal ini dirancang agar umur pompa dapat lebih lama. Sedangkan
untuk sistem air pendinginan hanya di gunakan satu buah pompa sirkulasi, mengingat jarak
ruang pompa dan unit Cooling Tower cukup dekat.

(Gambar 4. Chilled Water dan Condenser Water Pump)

Cooling Tower Unit


Unit ini berfungsi sebagai pendingin unit condenser pada unit Chiller dengan media yang
digunakan adalah air, dimana sistem kerja Cooling Tower dapat dijelaskan sebagai berikut :
condenser di unit Chiller akan memiliki temperatur dan tekanan yang tinggi akibat tekanan kerja
dari Kompresor, sehingga diperlukan media pendingin untuk merubah fase refrigerant di
condenser tersebut, untuk itu dibuat suatu sistem pendinginan dengan menggunakan media air
yang disirkulasikan oleh pompa ke unit Cooling Tower, dimana air yang disirkulasikan tersebut
akan membawa kalor dari condenser untuk kemudian di lepaskan kalornya ke udara di Cooling
Tower, sehingga air akan mengalami penurunan temperatur dan kembali disirkulasikan kembali
ke unit condenser.

Unit Cooling Tower sendiri terdiri dari : satu unit casing Cooling Tower, Motor Blower, Basin
dan Water Filler atau jika diartikan menjadi sirip sirip pendingin air.

(Gambar 5. Unit Cooling Tower)

Air Handling Unit (AHU) dan Fan Coil Unit


Baik Air Handling Unit maupun Fan Coil Unit memiliki kesamaan fungsi, Air Handling
unit difokuskan untuk menangani kapasitas pendinginan yang lebih besar sedangkan Fan Coil
Unit difokuskan untuk kapasitas pendinginan yang lebih kecil, dalam sistem ini AHU di gunakan
untuk mengkondisikan fresh air (udara segar) dari udara luar yang akan didistribusikan sebagai
tambahan udara segar untuk FCU dan kamar juga sebagai distribusi suplai udara dingin guna
keperluan koridor di masing-masing lantai.
Komponen komponen dari AHU maupun FCU sebenarnya cukup sederhana yang terdiri dari :
Casing, Koil, Filter Udara dan Motor Blower.

Penggolongan Sistem Pengkondisian Udara


Jenis yang mendasari adalah sistem pengkondisian udara sentral. Untuk menjamin
pengaturan pengkondisian udara ruangan yang diteliti, maka sesuai dengan kemajuan
teknik pengkondisian udara yang telah dicapai sampai pada saat ini, dapat dikembangkan
beberapa sistem. Hal tersebut terutama menyangkut perkembangan elemen pendinginnya.
Jenis jenis sistem penghantar udara adalah sebagai berikut :
Sistem Udara Penuh

Sistem Saluran Tunggal


Sistem ini merupakan sistem penghantar udara yang paling banyak
dipergunakan. campuran udara ruangan didinginkan dan dilembabkan, kemudian
dialirkan kembali kedalam ruangan melalui saluran udara.

Keuntungan dari sistem ini adalah :


Sederhana, mudah perancangannya, pemasangan, pemakaian dan perawatannnya.

Biaya awal lebih rendah dan murah.

Kerugian dari sistem ini adalah :


Saluran utama berukuran besar, sehingga memerlukan tempat yang lebih besar.

Kesulitan dalam mengatur temperatur dan kelembaban dari ruangan yang sedang
dikondisikan, karena beban kalor dari ruangan yang berbeda satu dengan yang lainnya.
Pada dasarnya sistem pengaturan untuk sistem saluran tunggal menyangkut
pengaturan temperatur udara melalui bagian-bagian utama dari saluran. Dalam hal
tersebut, laju aliran air dingin, laju aliran air panas atau uap ke koil udara, diatur
sedemikian rupa sehingga temperatur udara dapat diubah. Sistem ini dinamakan sistem
volume konstan temperature variable, yang sudah banyak dipergunakan dalam sistem
penghantar udara.
Dalam keadaan dimana beban kalor dari beberapa ruangan yang akan dilayani ini
berbeda-beda, boleh dikatakan tidak mungkin mempertahankan udara ruangan pada suatu

temperatur tertentu, kecuali bagi beberapa ruangan utama saja. Jadi masalah tersebut
dapat dipecahkan dengan melayani ruangan dengan beban kalor yang sama oleh satu
pengolah udara secara sentral.
Sistem saluran udara tunggal yang lain adalah sistem pemanasan ulang, dimana
udara segar yang mengalir didalam saluran utama tersebut dapat dipertahankan konstan,
pada temperatur yang rendah. Kemudian udara tersebut masuk kedalam ruangan melalui
alat pemanas yang dipasang pada saluran- saluran cabang masing-masing. Pemanas
tersebut memanaskan udara dan diatur sedemikian rupa sehingga diperoleh temperatur
udara yang sesuai dengan temperatur udara ruangan yang di inginkan. Sistem ini
dinamakan sistem pemanasaan ulang terminal dan banyak digunakan untuk melayani
beberapa ruangan pribadi yang ada didalam gedung perkantoran umum.
Ada pula sistem saluran tunggal yang bekerja dengan volume variable dimana
jumlah aliran udara dapat diubah sesuai dengan beban kalornya, jadi, volume aliran udara
akan berkurang dengan turunnya beban kalor dari ruangan yang harus dilayani.
Pengaturan volume aliran udara dilakukan dengan mengatur posisi damper atau dengan
unit volume variable damper. Ada beberapa macam unit volume variable damper. Salah
satu diantaranya seperti gambar dibawah ini

(Gambar 6. Unit Volume Udara Variabel)

Pada hal tersebut terakhir terdapat dua saluran; satu saluran menyalurkan jumlah
udara yang minimal diperlukan, sedangkan saluran lainnya menyalurkan jumlah udara
sesuai dengan pembukaan katup udara yang diatur oleh thermostat. Pemasukan udara
diatur oleh tekanan udara yang bekerja pada tirai dari alat pengatur volume konstan dan
gaya pegas. Pemasukan udara minimum harus diatur supaya distribusi udara di dalam
ruangan dapat berlangsung sebaik-baiknya, dengan jumlah ventilasi udara yang minimal.
Jumlah udara masuk akan berkurang dengan turunnya beban kalor, sehingga apabila
jumlah udara masuk menjadi lebih kecil daripada jumlah udara masuk yang minimal,
maka temperatur udara masuk akan berubah.

Dalam sistem volume variable, putaran atau sudu isap dari kipas udara dapat
diatur sesuai dengan perubahan pemasukan udara yang diinginkan. Sistem pengaturan
kipas udara tersebut di atas memungkinkan penghematan daya listrik yang diperlukan
untuk menggerakan kipas udara pada beban parsial.

Sistem Dua Saluran

Selain sistem saluran tunggal, terdapat pula sistem dua saluran yang dapat menutupi
kekurangan dari sistem saluran tunggal. Sistem ini kebanyakan digunakan di gedung-gedung
besar, dalam hal tersebut udara panas dan udara dingin dihasilkan secara terpisah oleh mesin
penyegar udara yang bersangkutan. Kedua jenis udara itu pun disalurkan melalui saluran yang
terpisah satu sama lain. Tetapi kemudian dicampur sedemikian rupa sehingga tercapai tingkat
keadaan yang sesuai dengan beban kalor dari ruangan yang akan disegarkan. Sesudah itu
disalurkan ke dalam ruangan yang bersangkutan. Sistem ini dinamakan sistem dua saluran.

Dalam sistem ini, alat yang diperlukan untuk mencampur udara panas dan udara dingin dalam
perbandingan jumlah aliran yang ditetapkan untuk memperoleh kondisi akhir yang diinginkan,
dinamakan alat pencampur. Sistem dua saluran dapat memberikan hasil pengaturan yang lebih
teliti. Tetapi memerlukan lebih banyak energi kalor dan lebih tinggi harga awalnya. Ada dua jenis
sistem dua saluran, yaitu sistem volume konstan dan sistem volume variabel.
Sistem Air Udara
Ciri-ciri Sistem Air Udara
Dalam sistem air udara, unit koil kipas udara atau unit induksi dipasang di dalam ruagan yang
akan dikondisikan. Air dingin dialirkan ke dalam unit tersebut, sedangkan udara ruangan

dialirkan melalui unit tersebut sehingga menjadi dingin. Selanjutnya udara tersebut bersirkulasi
di dalam ruangan. Demikian pula untuk keperluan ventilasi, udara luar yang telah didinginkan
dan dikeringkan atau udara luar yang telah dipanaskan dan dilembabkan dialirkan dari mesin
pengolah udara jenis sentral ke ruangan yang akan dikondisikan.
Oleh karena berat jenis dan kalor spesifik air lebih besar dari pada udara, maka baik daya yang
diperlukan untuk mengalirkan maupun ukuran pipa yang diperlukan untuk memindahkan kalor
yang sama adalah lebih kecil. Dengan demikian, untuk mengatasi beban kalor dari ruangan yang
akan dikondisikan, banyaknya udara yang mengalir dari mesin pengolah udara jenis sentral
adalah lebih kecil. Di samping itu, ukuran mesin pengolah udara maupun daya yang diperlukan
adalah lebih kecil jika dibandingkan dengan yang diperlukan oleh sistem udara penuh.
Unit Koil Kipas Udara dan Unit Induksi
Unit ini dinamakan unit terminal dan dipasang di dalam ruangan. Semua unit tersebut merupakan
bagian dari sistem penghantar udara yang berfungsi sama. Di dalam unit tersebut Koil udara
ditempatkan di dalam kabinet kecil, dimana dialirkan air dingin. Pada unit koil kipas udara,
udara dialirkan oleh kipas udara yang dipasang di dalam unit tersebut. Pada unit induksi, udara
primer berkecepatan tinggi dialirkan melalui beberapa nosel. Selanjutnya dengan efek induksi
secara primer, udara ruangan terhisap masuk ke dalam unit dan didinginkan oleh koil udara,
kemudian disirkulasikan kembali ke dalam ruangan.
-

Komponen sistem tata udara


Pada sistem refrigerasi mekanik kompresi uap terdapat rangkaian dari empat
komponen utama, yaitu: evaporator, kompresor, kondenser, dan alat pengontrol aliran
refrigeran. Masing-masing komponen mempunyai ciri dan fungsi sendiri-sendiri yang
berbeda, tetapi secara terintegrasi dan dioperasikan bersama-sama akan dapat
memindahkan energi termal. Dampak dari pengoperasian sebuah sistem refrigerasi pada
sebuah obyek adalah, bila terambil sebagian energi yang terkandung di dalamnya, suhu
obyek tersebut akan menurun. Sebaliknya, karena operasi sistem refrigerasi itu kemudian
sejumlah energi termal terpindahkan ke lingkungan, maka lingkungan tersebut dapat
menjadi lebih hangat.
Berikut ini uraian ringkas tentang komponen-komponen utama sebuah sistem
refrigerasi mekanik:
1. Kondenser (condenser CD)
Kondenser adalah komponen di mana terjadi proses perubahan fasa
refrigeran, dari fasa uap menjadi fasa cair. Dari proses kondensasi (pengembunan)
yang terjadi di dalamnya itulah maka komponen ini mendapatkan namanya.
Proses kondensasi akan berlangsung apabila refrigeran dapat melepaskan kalor
yang dikandungnya. Kalor tersebut dilepaskan dan dibuang ke lingkungan. Agar
kalor dapat lepas ke lingkungan, maka suhu kondensasi (Tkd) harus lebih tinggi
dari suhu lingkungan (Tling). Karena refrigeran adalah zat yang sangat mudah

menguap, maka agar dapat dia dikondensasikan haruslah dibuat bertekanan tinggi.
Maka, kondenser adalah bagian di mana refrigeran bertekanan tinggi (Pkd = high
pressure HP).
2. Piranti ekspansi (expansion device EXD
Piranti ini berfungsi seperti sebuah gerbang yang mengatur banyaknya
refrigeran cair yang boleh mengalir dari kondenser ke evaporator. Oleh sebab itu
piranti ini sering juga dinamakan refrigerant flow controller. Dalam berbagai
buku teks Termodinamika, proses yang berlangsung dalam piranti ini biasanya
disebut throttling process. Besarnya laju aliran refrigeran merupakan salah satu
faktor yang menentukan besarnya kapasitas refrigerasi. Untuk sistem refrigerasi
yang kecil, maka laju aliran refrigeran yang diperlukan juga kecil saja. Sebaliknya
unit atau sistem refrigerasi yang besar akan mempunyai laju aliran refrigeran yang
besar pula. Terdapat beberapa jenis piranti ekspansi. Di bawah ini diterakan
beberapa di antaranya

a. Pipa kapiler (capillary tube CT).


Berupa pipa kecil dari tembaga dengan lubang berdiameter sekitar 1 mm,
dengan panjang yang disesuaikan dengan keperluannya hingga beberapa meter.
Pada berbagai unit refrigerasi yang menggunakannya pipa ini biasanya diuntai
agar terlindung dari kerusakan dan ringkas penempatannya. Lubang saluran yang
sempit dan panjangnya pipa kapiler ini merupakan hambatan bagi aliran
refrigeran yang melintasinya; hambatan itulah yang membatasi besarnya aliran
itu. Pipa kapiler ini menghasilkan aliran yang konstan.
b. Katup ekspansi tangan (hand/manual expansion valve HEV).

Adalah pengatur aliran yang berupa katup atau keran biasa, yang
dioperasikan untuk mengatur bukaannya secara manual.
c. Katup ekspansi termostatik (thermostatic expansion valve TEV).
Pada piranti ini terdapat bagian yang dapat bekerja secara termostatik,
yaitu mempunyai sensor suhu yang dilekatkan pada bagian keluaran evaporator.
Perubahan suhu yang terjadi pada keluaran evaporator itu menjadi indikator
besar-kecilnya beban refrigerasi. Variasi suhu itu dimanfaatkan untuk mengatur
bukaan TEV, sehingga besarnya laju aliran melintasinya juga menjadi terkontrol.
d. Katup pelampung (float valve FV).
Piranti ekspansi jenis ini biasanya dirangkaikan dengan evaporator jenis
genangan (flooded evaporator, wet evaporator). Ketinggian muka (level) cairan
dalam tandon (reservoir) cairan evaporator menjadi pendorong pelampung yang
menjadi pengatur besarnya bukaan katup.
3. Evaporator (evaporator EV)
Evaporator adalah komponen di mana cairan refrigeran yang masuk ke dalamnya
akan menguap. Proses penguapan (evaporation) itu terjadi karena cairan refrigeran
menyerap kalor, yaitu yang merupakan beban refrigerasi sistem. Terdapat dua jenis
evaporator yaitu:
a. Evaporator ekspansi langsung (direct/dry expansion type - DX).
Pada evaporator ini terdapat bagian, yaitu di bagian keluarannya, yang dirancang
selalu terjaga kering, artinya di bagian itu refrigeran yang berfasa cair telah habis
menguap sebelum terhisap keluar ke saluran masuk kompresor.
b. Evaporator genangan (flooded/wet expansion type).
Pada evaporator jenis ini seluruh permukaan bagian dalam evaporator selalu
dibanjiri, atau bersentuhan, dengan refrigeran yang berbentuk cair. Terdapat sebuah
tandon (reservoir, low pressure receiver), di mana cairan refrigeran terkumpul, dan dari
bagian atas tandon tersebut uap refrigeran yang terbentuk dalam evaporator tersebut
dihisap masuk ke kompresor.
4. Kompresor (compressor CP)
Kompresor adalah komponen yang merupakan jantung dari sistem refrigerasi.
Kompresor bekerja menghisap uap refrigeran dari evaporator dan mendorongnya dengan
cara kompresi agar mengalir masuk ke kondenser. Karena kompresor mengalirkan
refrigeran sementara piranti ekspansi membatasi alirannya, maka di antara kedua
komponen itu terbangkitkan perbedaan tekanan, yaitu: di kondenser tekanan refrigeran
menjadi tinggi (high pressure HP), sedangkan di evaporator tekanan refrigeran menjadi
rendah (low pressure LP).

Jadi, cara kerja sistem AC dapat diuraikan sebagai berikut :


Kompresor yang ada pada sistem pendingin dipergunakan sebagai alat untuk
memampatkan fluida kerja (refrigent), jadi refrigent yang masuk ke dalam kompresor dialirkan
ke condenser yang kemudian dimampatkan di kondenser. Di bagian kondenser ini refrigent yang
dimampatkan akan berubah fase dari refrigent fase uap menjadi refrigent fase cair, maka
refrigent mengeluarkan kalor yaitu kalor penguapan yang terkandung di dalam refrigent.
Adapun besarnya kalor yang dilepaskan oleh kondenser adalah jumlahan dari energi
kompresor yang diperlukan dan energi kalor yang diambil evaporator dari substansi yang akan
didinginkan.
Pada kondensor tekanan refrigent yang berada dalam pipa-pipa kondenser relatif jauh
lebih tinggi dibandingkan dengan tekanan refrigent yang berada pada pipa-pipa evaporator.
Setelah refrigent lewat kondenser dan melepaskan kalor penguapan dari fase uap ke fase cair,
maka refrigent dilewatkan melalui katup ekspansi, pada katup ekspansi ini refrigent tekanannya
diturunkan sehingga refrigent berubah kondisi dari fase cair ke fase uap yang kemudian dialirkan
ke evaporator, di dalam evaporator ini refrigent akan berubah keadaannya dari fase cair ke fase
uap, perubahan fase ini disebabkan karena tekanan refrigent dibuat sedemikian rupa sehingga
refrigent setelah melewati katup ekspansi dan melalui evaporator tekanannya menjadi sangat
turun.

Transportasi vertikal
Dewasa ini, terdapat dua jenis lift yang umum digunakan, yaitu jenis dengan motor
penggerak (traction lift) dan jenis dengan dongkrak hidrolik (hydraulic lift).
Kecepatan lift hidrolik antara 0,30 sampai 0,90 meter/detik dan kapasitas angkat
maksimumnya 10 ton (dengan tuas tunggal) dan dapat mengangkut sampai dengan beban 50 ton
(dengan dua tugas ganda).

Lift hidrolik ini mempunyai karakteristik:


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Tidak mengakibatkan tambahan beban di puncak bangunan


Hanya digunakan untuk kecepatan yang relatif rendah
Hanya digunakan untuk melayani lantai yang jumlahnya sedikit
Ada kemungkinan bau minyak merebak ke dalam kereta lif
Sangat baik untuk mengangkut beban berat
Alas lantai kereta dapat berada pada level bangunan secara tepat
Tidak membutuhkan beban pengimbang (counter weight)
Menimbulkan suara yang lebih berisik dibandingkan dengan lif yang digerakkan oleh
motor traksi.

Kecepatan lift dengan penggerak motor di atas adalah antara 2,5 sampai 9 meter/detik. Lantai
kereta lif mempunyai perbedaan sekitar 6 mm dengan permukaan lantai bangunan.
Pergerakkanlif tipe ini sangat halus dan sangat efisien dalam penggunaan energi listrik, namun
harganya termasuk yang termahal dibandingkan sistem lift lainnya.
Lif dengan motor di bawah hanya dapat digunakan untuk melayani paling banyak delapan
lantai dan biayanya sekitar 50% lebih mahal dibandingkan yang bermesin di atas. Di samping
itu, kecepatannya juga terbatas (sekitar 1 meter/detik).

Tata letak lif


Ruang luncur lif ditentukan dari jumlah dan konfigurasi tata letak lif dengan jumlah
maksimal empat buah dalam satu deretan.
Untuk bangunan yang tingginya lebih dari 25 lantai, dianjurkan untuk membagi layanan
lif dengan mengelompokkan lantai yang dilayani, konsep zona, di mana tiap zona dilayani oleh
sejumlah lift tertentu.
Jika pembagian zona ini masih mengakibatkan jumlah lif tetap banyak, dapat digunakan
sejumlah lif dengan pintu masuk (entrance) terpisah dan ditempatkan pada lantai transfer yang
disebut sky lobby. Sky lobby ini digunakan untuk tempat transfer dari zona yang lebih rendah
ke zona di atasnya. Di samping itu, areal sky lobby ini dapat digunakan untuk tempat
penampungan sementara pada kondisi darurat (kompartemen kebakaran) dan kebutuhan aktivitas
lainnya, seperti ruang mekanikal elektrikal (mesin pengkondisian udara dan pompa air), bak
penampungan air (reservoir), restoran, lobby hotel, ruang pengelola, ruang rapat, kolam renang
dan lain-lain.
Mengingat sky lobby memuat peralatan mekanik dan elektrik, maka secara struktural
lantainya sangat kaku dan kokoh, sehingga menambah ketahanan bangunan terhadap gaya-gaya
lateral yang diakibatkan oleh angin atau gempa bumi.

Pada bangunan yang tinggi dan luas, jumlah lif yang diperlukan meningkat sebanding
dengan jumlah lantai yang dilayani. Dengan demikian, jika mencapai suatu ketinggian tertentu,
maka areal luas yang digunakan untuk menempatkan lif menjadi meningkat dan melebihi
ketentuan ekonomis (di atas 20% luas lantai). Jadi, pada umumnya sebuah lif hanya melayani
sekitar 12-15 lantai, agar tidak melampaui batas tunggu dan jumlah waktu perjalanan yang
disyaratkan.
Perancangan lif
Rancangan, instalasi dan pemeliharaan untuk berbagai jenis peralatan lif sangat
tergantung pada peraturan dan ketentuan daerah setempat.
Ketentuan rancangan juga berkaitan dengan dimensi ruang mesin, akses yang diperlukan,
pencahayaan dan ventilasi. Kapasitas atau daya angkut suatu sistem lif harus cocok dengan
kebutuhan transportasi vertikal pada bangunan tertentu yang secara konsisten mengacu pada
kriteria rancangan kualitas bangunan. Rancangan yang tepat dapat dilakukan berdasarkan jumlah
mesin, ukuran dan kecepatannya. Meskipun demikian perhitungan perjalanan penumpang
dilakukan berdasarkan anggapan yang diperoleh dari pengalaman atau pengamatan terdahulu.

Dumbwaiter
Dumbwaiter adalah sejenis lif yang berfungsi untuk memindahkan barang-barang yang
relatif kecil dan ringan dari lantai yang satu ke lantai yang lain. Dipusat perbelanjaan, misalnya,
unit ini biasa digunakan untuk memindahkan persediaan barang dari gudang ke kios (counter)
penjualan, atau di rumah sakit untuk mengantarkan pesanan makanan dari dapur dan
memindahkan peralatan bekas pakai/kotor ke tempat cuci. Ruang luncur yang dibutuhkan oleh
dumbwaiter relatif kecil, sekitar 1,00 m2 dengan tinggi maksimum 1,25 meter. Kecepatannya
antara 0,20 sampai 0,75 m/det. Kapasitas daya angkut maksimumnya adalah 250 kg. Seperti
halnya lif, dumbwaiter mempunyai motor penggerak yang letaknya di atas (motor traksi) atau di
bawah (motor silinder)