Anda di halaman 1dari 21

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Imunitas
Imunitas atau kekebalan adalah sistem mekanisme pada organisme yang melindungi
tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan mengidentifikasi dan membunuh patogen serta sel
tumor. Sistem ini mendeteksi berbagai macam pengaruh biologis luar yang luas, organisme akan
melindungi tubuh dari infeksi, bakteri, virus sampai cacing parasit, serta menghancurkan zat-zat
asing lain dan memusnahkan mereka dari sel organisme yang sehat dan jaringan agar tetap dapat
berfungsi seperti biasa. Deteksi sistem ini sulit karena adaptasi patogen dan memiliki cara baru
agar dapat menginfeksi organisme.
Untuk selamat dari tantangan ini, beberapa mekanisme telah berevolusi yang menetralisir
patogen. Bahkan organisme uniselular seperti bakteri dimusnahkan oleh sistem enzim yang
melindungi terhadap infeksi virus. Mekanisme imun lainnya yang berevolusi pada eukariota
kuno dan tetap pada keturunan modern, seperti tanaman, ikan, reptil dan serangga. Mekanisme
tersebut termasuk peptida antimikrobial yang disebut defensin, fagositosis, dan sistem
komplemen. Mekanisme yang lebih berpengalaman berkembang secara relatif baru-baru ini,
dengan adanya evolusi vertebrata. Imunitas vertebrata seperti manusia berisi banyak jenis
protein, sel, organ tubuh dan jaringan yang berinteraksi pada jaringan yang rumit dan dinamin.
Sebagai bagian dari respon imun yang lebih kompleks ini, sistem vertebrata mengadaptasi untuk
mengakui patogen khusus secara lebih efektif. Proses adaptasi membuat memori imunologis dan
membuat perlindungan yang lebih efektif selama pertemuan pada masa depan dengan patogen
tersebut. Proses imunitas yang diterima adalah basis dari vaksinasi.

Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya untuk melindungi tubuh juga berkurang,
membuat patogen, termasuk virus yang menyebabkan penyakit. Penyakit defisiensi imun muncul
ketika sistem imun kurang aktif daripada biasanya, menyebabkan munculnya infeksi. Defisiensi
imun merupakan penyebab dari penyakit genetik, seperti severe combined immunodeficiency,
atau diproduksi oleh farmaseutikal atau infeksi, seperti sindrom defisiensi imun dapatan (AIDS)
yang disebabkan oleh retrovirus HIV. Penyakit autoimun menyebabkan sistem imun yang
hiperaktif menyerang jaringan normal seperti jaringan tersebut merupakan benda asing. Penyakit
autoimun yang umum termasuk rheumatoid arthritis, diabetes melitus tipe 1 dan lupus
erythematosus. Peran penting imunologi tersebut pada kesehatan dan penyakit adalah bagian dari
penelitian.
`Sistem imun kita terdiri dari rangkaian sel, protein, jaringan otot, dan organ-organ
tertentu. Sel yang terlibat dalam sistem imun manusia adalah lekosit (sel darah putih) yang
diproduksi dan disimpan di berbagai lokasi di tubuh, seperti thymus, limpa, dan sumsum tulang.
Dari lokasi-lokasi tersebut, lekosit menyebar ke seluruh organ tubuh melalui pembuluh limpatik
dan pembuluh darah. Dengan demikian, sistem kekebalan tubuh dapat bekerja secara
terkoordinasi dalam mengawasi pertahanan tubuh kita.
Ada dua jenis lekosit, yakni fagosit dan limposit. Fagosit adalah sel-sel yang
menghancurkan organisme pengganggu, sementara limposit adalah sel-sel yang mengingat dan
mengenali para pengganggu sebelumnya dan kemudian membantu tubuh untuk menghancurkan
mereka.
Rangkaian sel, protein, jaringan otot, dan organ-organ tertentu itu adalah bagian dari
sistem imun yang melindungi manusia dalam serangkaian proses yang dinamai respon imun.
Karena ada respon imun, maka sistem imun kita dapat menyerang para pengganggu penyebab
berbagai penyakit tersebut.
Sistem respon itu dimulai ketika suatu antigen (substansi asing yang menyerang tubuh)
memasuki tubuh. Tubuh kemudian mengenali dan merespon antigen tersebut dengan cara
memicu produksi antibodi (protein khusus yang diarahkan untuk antigen tertentu juga).

Bila sudah diproduksi, antibodi itu akan bertahan di dalam tubuh dan bersiaga untuk
menghalau antigen yang telah dikenali sebelumnya. Makanya, bila seseorang sudah pernah
terkena suatu penyakit tertentu, misalnya cacar air, biasanya ia tidak akan terkena penyakit yang
sama untuk kedua kalinya.
Konsep itulah yang mendasari cara kerja imunisasi. Vaksin imunisasi memperkenalkan
tubuh terhadap antigen tertentu. Antigen itu diformulasikan sedemikian rupa untuk tidak
membuat tubuh sakit, melainkan memicu tubuh untuk memproduksi antibodi yang akan
melindungi tubuh dari serangan antigen tersebut. Dengan demikian, antibodi itu diharapkan akan
melindungi tubuh dari serangan antigen sejenis di masa depan.
Walau antibodi mampu mengenali antigen dan menempatkannya sebagai sasaran,
antibodi tidak dapat menghancurkannya tanpa bantuan. Di sinilah sel-T menunjukkan
kemampuannya sehingga lumrah bila sel-T dikenal dengan nama "sel pembunuh".
Selain mengenali dan menargetkan antigen, antibodi juga dapat menetralkan racun yang
diproduksi oleh berbagai organisme. Pun, antibodi punya wewenang untuk mengaktivasi
"komplemen", satu kelompok protein yang merupakan bagian dari sistem imun dan berfungsi
membantu membunuh bakteri, virus, atau sel yang terinfeksi.
Semua bagian sistem imun itu bekerja melindungi tubuh kita dari berbagai penyakit.
Perlindungan itu dinamai imunitas. Namun, imunitas setiap orang berbeda. Ada yang terlihat
selalu sehat, ada yang mudah sakit. Seiring pertambahan usia, antibodi kita pun mengenal
semakin banyak antigen. Itulah sebabnya orang dewasa cenderung lebih jarang sakit
dibandingkan anak-anak.
2.2 Jenis - jenis Immunitas
Berikut adalah jenis-jenis imunitas yaitu :
1. Imunitas natural ada di dalam tubuh kita sejak kita lahir. Imunitas ini membuat tubuh
kita terlindung dari kuman-kuman yang dapat menyerang makhluk lain. Makanya,

virus yang menyebabkan leukemia pada kucing tidak berpengaruh apa pun pada
manusia. Demikian juga sebaliknya.
2. Imunitas adaptif, adalah imunitas yang berkembang seumur hidup kita karena tubuh
kita terkena serangan penyakit atau mendapat vaksinasi.
3. Imunitas pasif adalah jenis yang ketiga. Dinamai pasif karena "dipinjam" dari sumber
lain dan bertahan untuk waktu singkat. Misalnya ASI. Melalui ASI, seorang Ibu
memberikan antibodinya kepada si bayi sehingga memberikan imunitas sementara
terhadap antigen-antigen yang telah dikenali oleh antibodi tersebut saat masih berada
di dalam tubuh sang ibu. Antibodi itu akan melindungi si bayi di masa-masa awal
pertumbuhannya.
Ada empat kategori penyebab masalah pada sistem imun manusia, yakni gangguan
immunodefisiensi, autoimun, alergi, atau kanker pada bagian tertentu di sistem imun.
2.3 Penyakit Immunodefisiensi/Kelainan Sistem Imun
Penyakit Immunodefisiensi adalah sekumpulan keadaan yang berlainan, dimana sistem
kekebalan tidak berfungsi secara adekuat, sehingga infeksi lebih sering terjadi, lebih sering
berulang, luar biasa berat dan berlangsung lebih lama dari biasanya.
Jika suatu infeksi terjadi secara berulang dan berat (pada bayi baru lahir, anak-anak
maupun dewasa), serta tidak memberikan respon terhadap antibiotik, maka kemungkinan
masalahnya terletak pada sistem kekebalan.
Gangguan pada sistem kekebalan juga menyebabkan kanker atau infeksi virus, jamur atau
bakteri yang tidak biasa.

Penyakit imunodefisiensi kongenital


1. Penyakit dimana terdapat kadar antibodi yang rendah

- Common variable immunodeficiency

- Kekurangan antibodi selektif (misalnya kekurangan IgA)

- Hipogammaglobulinemia sementara pada bayi

- Agammaglobulinemia X-linked

2. Penyakit dimana terjadi gangguan fungsi sel darah putih


* Kelainan pada limfosit T

- Kandidiasis mukokutaneus kronis

- Anomali DiGeorge

* Kelainan pada limfosit T dan limfosit B

- Ataksia-teleangiektasia

- Penyakit imunodefisiensi gabungan yang berat

- Sindroma Wiskott-Aldrich

- Sindroma limfoproliferatif X-linked

3. Penyakit dimana terjadi kelainan pada fungsi pembunuh dari sel darah putih

- Sindroma Chediak-Higashi

- Penyakit granulomatosa kronis

- Kekurangan leukosit glukosa-6-fosfatas dehidrogenasi

- Kekurangan mieloperoksidase

4. Penyakit dimana terdapat kelainan pergerakan sel darah putih

- Hiperimmunoglobulinemia E

- Kelainan perlekatan leukosit

5. Penyakit dimana terdapat kelainan pada sistem komplemen

- Kekurangan komplemen komponen 3 (C3)

- Kekurangan komplemen komponen 6 (C6)

- Kekurangan komplemen komponen 7 (C7)

- Kekurangan kompleman komponen 8 (C8)

AGAMMAGLOBULINEMIA X-LINKED
Agammaglobulinemia X-linked (agammaglobulinemia Bruton) hanya menyerang anak laki-laki
dan merupakan akibat dari penurunan jumlah atau tidak adanya limfosit B serta sangat
rendahnya kadar antibodi karena terdapat kelainan pada kromosom X.
Bayi akan menderita infeksi paru-paru, sinus dan tulang, biasanya karena bakteri (misalnya
Hemophilus dan Streptococcus) dan bisa terjadi infeksi virus yang tidak biasa di otak.
Tetapi infeksi biasanya baru terjadi setelah usia 6 bulan karena sebelumnya bayi memiliki
antibodi perlindungan di dalam darahnya yang berasal dari ibunya.
Jika tidak mendapatkan vaksinasi polio, anak-anak bisa menderita polio. Mereka juga bisa
menderita artritis. Suntikan atau infus immunoglobulin diberikan selama hidup penderita agar
penderita memiliki antibodi sehingga bisa membantu mencegah infeksi. Jika terjadi infeksi
bakteri diberikan antibiotik.
Anak laki-laki penderita agammaglobulinemia X-linked banyak yang menderita infeksi sinus dan
paru-paru menahun dan cenderung menderita kanker.
COMMON VARIABLE IMMUNODEFICIENCY

Immunodefisiensi yang berubah-ubah terjadi pada pria dan wanita pada usia berapapun, tetapi
biasanya baru muncul pada usia 10-20 tahun. Penyakit ini terjadi akibat sangat rendahnya kadar
antibodi meskipun jumlah limfosit Bnya normal. Pada beberapa penderita limfosit T berfungsi
secara normal, sedangkan pada penderita lainnya tidak.
Sering terjadi penyakit autoimun, seperti penyakit Addison, tiroiditis dan artritis rematoid.
Biasanya terjadi diare dan makanan pada saluran pencernaan tidak diserap dengan baik. Suntikan
atau infus immunoglobulin diberikan selama hidup penderita. Jika terjadi infeksi diberikan
antibiotik.
KEKURANGAN ANTIBODI SELEKTIF
Pada penyakit ini, kadar antibodi total adalah normal, tetapi terdapat kekurangan antibodi jenis
tertentu. Yang paling sering terjadi adalah kekurangan IgA. Kadang kekurangan IgA sifatnya
diturunkan, tetapi penyakit ini lebih sering terjadi tanpa penyebab yang jelas. Penyakit ini juga
bisa timbul akibat pemakaian fenitoin (obat anti kejang).
Sebagian besar penderita kekurangan IgA tidak mengalami gangguan atau hanya mengalami
gangguan ringan, tetapi penderita lainnya bisa mengalami infeksi pernafasan menahun dan
alergi. Jika diberikan transfusi darah, plasma atau immunoglobulin yang mengandung IgA,
beberapa penderita menghasilkan antibodi anti-IgA, yang bisa menyebabkan reaksi alergi yang
hebat ketika mereka menerima plasma atau immunoglobulin berikutnya. Biasanya tidak ada
pengobatan untuk kekurangan IgA. Antibiotik diberikan pada mereka yang mengalami infeksi
berulang.
PENYAKIT IMMUNODEFISIENSI GABUNGAN YANG BERAT
Penyakit immunodefisiensi gabungan yang berat merupakan penyakit immunodefisiensi yang
paling serius. Terjadi kekurangan limfosit B dan antibodi, disertai kekurangan atau tidak
berfungsinya limfosit T, sehingga penderita tidak mampu melawan infeksi secara
adekuat.Sebagian besar bayi akan mengalami pneumonia dan thrush (infeksi jamur di mulut);
diare biasanya baru muncul pada usia 3 bulan. Bisa juga terjadi infeksi yang lebih serius, seperti
pneumonia pneumokistik.

Jika tidak diobati, biasanya anak akan meninggal pada usia 2 tahun. Antibiotik dan
immunoglobulin bisa membantu, tetapi tidak menyembuhkan. Pengobatan terbaik adalah
pencangkokan sumsum tulang atau darah dari tali pusar.
SINDROMA WISKOTT-ALDRICH
Sindroma Wiskott-Aldrich hanya menyerang anak laki-laki dan menyebabkan eksim, penurunan
jumlah trombosit serta kekurangan limfosit T dan limfosit B yang menyebabkan terjadinya
infeksi berulang. Akibat rendahnya jumlah trombosit, maka gejala pertamanya bisa berupa
kelainan perdarahan (misalnya diare berdarah). Kekurangan limfosit T dan limfosit B
menyebabkan anak rentan terhadap infeksi bakteri, virus dan jamur. Sering terjadi infeksi saluran
pernafasan.
Anak yang bertahan sampai usia 10 tahun, kemungkinan akan menderita kanker (misalnya
limfoma dan leukemia). Pengangkatan limpa seringkali bisa mengatasi masalah perdarahan,
karena penderita memiliki jumlah trombosit yang sedikit dan trombosit dihancurkan di dalam
limpa. Antibiotik dan infus immunoglobulin bisa membantu penderita, tetapi pengobatan terbaik
adalah dengan pencangkokan sumsum tulang.
ATAKSIA-TELANGIEKTASIA
Ataksia-telangiektasia adalah suatu penyakit keturunan yang menyerang sistem kekebalan dan
sistem saraf.

Kelainan pada serebelum (bagian otak yang mengendalikan koordinasi)

menyebabkan pergerakan yang tidak terkoordinasi (ataksia). Kelainan pergerakan biasanya


timbul ketika anak sudah mulai berjalan, tetapi bisa juga baru muncul pada usia 4 tahun.
Anak tidak dapat berbicara dengan jelas, otot-ototnya lemah dan kadang terjadi keterbelakangan
mental. Telangiektasi adalah suatu keadaan dimana terjadi pelebaran kapiler (pembuluh darah
yang sangat kecil) di kulit dan mata.
Telangiektasi terjadi pada usia 1-6 tahun, biasanya paling jelas terlihat di mata, telinga, bagian
pinggir hidung dan lengan. Sering terjadi pneumonia, infeksi bronkus dan infeksi sinus yang

bisa menyebakan kelainan paru-paru menahun.

Kelainan pada sistem endokrin bisa

menyebabkan ukuran buah zakar yang kecil, kemandulan dan diabetes.


Banyak anak-anak yang menderita kanker, terutama leukemia, kanker otak dan kanker lambung.
Antibiotik dan suntikan atau infus immunoglobulin bisa membantu mencegah infeksi tetapi tidak
dapat mengatasi kelaianan saraf. Ataksia-telangiektasia biasanya berkembang menjadi
kelemahan otot yang semakin memburuk, kelumpuhan, demensia dan kematian.
SINDROMA HIPER-IgE
Sindroma hiper-IgE (sindroma Job-Buckley) adalah suatu penyakit immunodefisiensi yang
ditandai dengan sangat tingginya kadar antibodi IgE dan infeksi bakteri stafilokokus berulang.
Infeksi bisa menyerang kulit, paru-paru, sendi atau organ lainnya. Banyak penderita yang
memiliki tulang yang lemah sehingga sering mengalami patah tulang. Beberapa penderita
menunjukkan gejala-gejala alergi, seperti eksim, hidung tersumbat dan asma.
Antibiotik diberikan secara terus menerus atau ketika terjadi infeksi stafilokokus. Sebagai
tindakan pencegahan diberikan antibiotik trimetoprim-sulfametoksazol.
PENYAKIT GRANULOMATOSA KRONIS
Penyakit granulomatosa kronis kebanyakan menyerang anak laki-laki dan terjadi akibat kelainan
pada sel-sel darah putih yang menyebabkan terganggunya kemampuan mereka untuk membunuh
bakteri dan jamur tertentu.

Sel darah putih tidak menghasilkan hidrogen peroksida, superoksida dan zat kimia
lainnya yang membantu melawan infeksi.

Gejala biasanya muncul pada masa kanak-kanak awal, tetapi bisa juga baru timbul pada
usia belasan tahun. Infeksi kronis terjadi pada kulit, paru-paru, kelenjar getah bening,
mulut, hidung dan usus. Di sekitar anus, di dalam tulan dan otak bisa terjadi abses.
Kelenjar getah bening cenderung membesar dan mengering. Hati dan limpa membesar.

Pertumbuhan anak menjadi lambat.

Antibiotik bisa membantu mencegah terjadinya infeksi.

Suntikan gamma interferon setiap minggu bisa menurunkan kejadian infeksi.

Pada beberapa kasus, pencangkokan sumsum tulang berhasi menyembuhkan penyakit ini.

HIPOGAMMAGLOBULIN SEMENTARA PADA BAYI


Pada penyakit ini, bayi memiliki kadar antibodi yang rendah, yang mulai terjadi pada usia 3-6
bulan. Keadaan ini lebih sering ditemukan pada bayi-bayi yang lahir prematur karena selama
dalam kandungan, mereka menerima antibodi ibunya dalam jumlah yang lebih sedikit.

Penyakit ini tidak diturunkan, dan menyerang anak laki-laki dan anak perempuan.

Biasanya hanya berlangsung selama 6-18 bulan.

Sebagian bayi mampu membuat antibodi dan tidak memiliki masalah dengan infeksi,
sehingga tidak diperlukan pengobatan.

Beberapa bayi (terutama bayi prematur) sering mengalami infeksi.

Pemberian immunoglobulin sangat efektif untuk mencegah dan membantu mengobati


infeksi. Biasanya diberikan selama 3-6 bulan.

Jika perlu, bisa diberikan antibiotik.

ANOMALI DiGEORGE

Anomali DiGeorge terjadi akibat adanya kelainan pada perkembangan janin.

Keadaan ini tidak diturunkan dan bisa menyerang anak laki-laki maupun anak
perempuan.

Anak-anak tidak memiliki kelenjar thymus, yang merupakan kelenjar yang penting untuk
perkembangan limfosit T yang normal. Tanpa limfosit T, penderita tidak dapat melawan
infeksi dengan baik.

Segera setelah lahir, akan terjadi infeksi berulang. Beratnya gangguan kekebalan sangat
bervariasi.

Kadang kelainannya bersifat parsial dan fungsi limfosit T akan membaik dengan
sendirinya.

Anak-anak memiliki kelainan jantung dan gambaran wajah yang tidak biasa (telinganya
lebih renadh, tulang rahangnya kecil dan menonjol serta jarak antara kedua matanya lebih
lebar).

Penderita juga tidak memiliki kelenjar paratiroid, sehingga kadar kalium darahnya rendah
dan segera setelah lahir seringkali mengalami kejang.

Jika keadaannya sangat berat, dilakukan pencangkokan sumsum tulang.

Bisa juga dilakukan pencangkokan kelenjar thymus dari janin atau bayi baru lahir (janin
yang mengalami keguguran).

Kadang kelainan jantungnya lebih berat daripada kelainan kekebalan sehingga perlu
dilakukan pembedahan jantung untuk mencegah gagal jantung yang berat dan kematian.

Juga dilakukan tindakan untuk mengatasi rendahnya kadar kalsium dalam darah.

KANDIDIASIS MUKOKUTANEUS KRONIS

Kandidiasi mukokutaneus kronis terjadi akibat buruknya fungsi sel darah putih, yang
menyebabkan terjadinya infeksi jamur Candida yang menetap pada bayi atau dewasa
muda.

Jamur bisa menyebabkan infeksi mulut (thrush), infeksi pada kulit kepala, kulit dan kuku.

Penyakit ini agak lebih sering ditemukan pada anak perempuan dan beratnya bervariasi.

Beberapa penderita mengalami hepatitis dan penyakit paru-paru menahun. Penderita


lainnya memiliki kelainan endokrin (seperti hipoparatiroidisme).

Infeksi internal oleh Candida jarang terjadi.

Biasanya infeksi bisa diobati dengan obat anti-jamur nistatin atau klotrimazol.

Infeksi yang lebih berat memerlukan obat anti-jamur yang lebih kuat (misalnya
ketokonazol per-oral atau amfoterisin B intravena).

Kadang dilakukan pencangkokan sumsum tulang.

2.4 PENYEBAB

Immunodefisiensi bisa timbul sejak seseorang dilahirkan (immunodefisiensi kongenital)


atau bisa muncul di kemudian hari.

Immunodefisiensi kongenital biasanya diturunkan. Terdapat lebih dari 70 macam


penyakit immunodefisiensi yang sifatnya diturunkan (herediter).

Pada beberapa penyakit, jumlah sel darah putihnya menurun; pada penyakit lainnya,
jumlah sel darah putih adalah normal tetapi fungsinya mengalami gangguan. Pada
sebagian penyakit lainnya, tidak terjadi kelainan pada sel darah putih, tetapi komponen
sistem kekebalan lainnya mengalami kelainan atau hilang.

Immunodefisiensi yang didapat biasanya terjadi akibat suatu penyakit. Immunodefisiensi


yang didapat lebih banyak ditemukan dibandingkan dengan immunodefisiensi kongenital.

Beberapa penyakit hanya menyebabkan gangguan sistem kekebalan yang ringan,


sedangkan penyakit lainnya menghancurkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi.

Pada infeksi HIV yang menyebabkan AIDS, virus menyerang dan menghancurkan sel
darah putih yang dalam keadaan normal melawan infeksi virus dan jamur.

Berbagai keadaan bisa mempengaruhi sistem kekebalan.

Pada kenyataannya, hampir setiap penyakit serius menahun menyebabkan gangguan pada
sistem kekebalan.

Orang yang memiliki kelainan limpa seringkali mengalami immunodefisiensi. Limpa


tidak saja membantu menjerat dan menghancurkan bakteri dan organisme infeksius
lainnya yang masuk ke dalam peredaran darah, tetapi juga merupakan salah satu tempat
pembentukan antibodi.

Jika limpa diangkat atau mengalami kerusakan akibat penyakit (misalnya penyakit sel
sabit), maka bisa terjadi gangguan sistem kekebalan.

Jika tidak memiliki limpa, seseorang (terutama bayi) akan sangat peka terhadai infeksi
bakteri tertentu (misalnya Haemophilus influenzae, Escherichia coli dan Streptococcus).
Selain vaksin yang biasa diberikan kepada anak-anak, seorang anak yang tidak memiliki
limpa harus mendapatkan vaksin pneumokokus dan meningokokus.

Anak kecil yang tidak memiliki limpa harus terus menerus mengkonsumsi antibiotik
selama 5 tahun pertama. Semua orang yang tidak memiliki limpa, harus segera
mengkonsumsi antibiotik begitu ada demam sebagai pertanda awal infeksi.

Malnutrisi (kurang gizi) juga bisa secara serius menyebabkan gangguan sistem
kekebalan.

Jika malnutrisi menyebabkan berat badan kurang dari 80% berat badan ideal, maka
biasanya akan terjadi gangguan sistem kekebalan yang ringan.

Jika berat badan turun sampai kurang dari 70% berat badan ideal, maka biasanya terjadi
gangguan sistem kekebalan yang berat.

Infeksi (yang sering terjadi pada penderita kelainan sistem kekebalan) akan mengurangi
nafsu makand an meningkatkan kebutuhan metabolisme tubuh, sehingga semakin
memperburuk keadaan malnutrisi.

Beratnya gangguan sistem kekebalan tergantung kepada beratnya dan lamanya malnutrisi
dan ada atau tidak adanya penyakit. Jika malnutrisi berhasil diatasi, maka sistem
kekebalan segera akan kembali normal.

Beberapa penyebab dari immunodefisiensi yang didapat:

1. Penyakit keturunan dan kelainan metabolisme

- Diabetes

- Sindroma Down

- Gagal ginjal

- Malnutrisi

- Penyakit sel sabit

2. Bahan kimia dan pengobatan yang menekan sistem kekebalan

- Kemoterapi kanker

- Kortikosteroid

- Obat immunosupresan

- Terapi penyinaran

3. Infeksi

- Cacar air

- Infeksi sitomegalovirus

- Campak Jerman (rubella kongenital)

- Infeksi HIV (AIDS)

- Mononukleosis infeksiosa

- Campak

- Infeksi bakteri yang berat

- Infeksi jamur yang berat

- Tuberkulosis yang berat

4. Penyakit darah dan kanker

- Agranulositosis

- Semua jenis kanker

- Anemia aplastik

- Histiositosis

- Leukemia

- Limfoma

- Mielofibrosis

- Mieloma

5. Pembedahan dan trauma

- Luka bakar

- Pengangkatan limpa

6. Lain-lain

- Sirosis karena alkohol

- Hepatitis kronis

- Penuaan yang normal

- Sarkoidosis

- Lupus eritematosus sistemik.

2.5 GEJALA

Sebagian besar bayi yang sehat mengalami infeksi saluran pernafasan sebanyak 6 kali
atau lebih dalam 1 tahun, terutama jika tertular oleh anak lain.

Sebaliknya, bayi dengan gangguan sistem kekebalan, biasanya menderita infeksi bakteri
berat yang menetap, berulang atau menyebabkan komplikasi. Misalnya infeksi sinus,
infeksi telinga menahun dan bronkitis kronis yang biasanya terjadi setelah demam dan
sakit tenggorokan. Bronkitis bisa berkembang menjadi pneumonia

Kulit dan selaput lendir yang melapisi mulut, mata dan alat kelamin sangat peka terhadap
infeksi.

Thrush (suatu infeksi jamur di mulut) disertai luka di mulut dan peradangan gusi, bisa
merupakan pertanda awal dari adanya gangguan sistem kekebalan.

Peradangan mata (konjungtivitis), rambut rontok, eksim yang berat dan pelebaran kapiler
dibawah kulit juga merupakan pertanda dari penyakit immunodefisiensi.

Infeksi pada saluran pencernaan bisa menyebabkan diare, pembentukan gas yang
berlebihan dan penurunan berat badan.

2.6 DIAGNOSA
Infeksi yang menetap atau berulang, atau infeksi berat oleh mikroorganisme yang biasanya tidak
menyebabkan infeksi berat, bisa merupakan petunjuk adanya penyakit immunodefisiensi.
Petunjuk lainnya adalah:

Respon yang buruk terhadap pengobatan

Pemulihan yang tertunda atau pemulihan tidak sempurna

Adanya jenis kanker tertentu

Infeksi oportunistik (misalnya infeksi Pneumocystis carinii yang tersebar luas atau
infeksi jamur berulang).

Pemeriksaan laboratorium dilakukan untuk mengetahui:

- jumlah sel darah putih

- kadar antibodi/immunoglobulin

- jumlah limfosit T

- kadar komplemen.

2.7 PENGOBATAN

Jika ditemukan pertanda awal infeksi, segera diberikan antibiotik.

Kepada penderita sindroma Wiskott-Aldrich dan penderita yang tidak memiliki limpa
diberikan antibiotik sebagai tindakan pencegahan sebelum terjadinya infeksi. Untuk
mencegah pneumonia seringkali digunakan trimetoprim-sulfametoksazol.

Obat-obat untuk meningkatkan sistem kekebalan (contohnya levamisol, inosipleks dan


hormon thymus) belum berhasil mengobati penderita yang sel darah putihnya sedikit atau
fungsinya tidak optimal.

Peningkatan kadar antibodi dapat dilakukan dengan suntikan atau infus immun globulin,
yang biasanya dilakukan setiap bulan.

Untuk mengobati penyakit granulomatosa kronis diberikan suntikan gamma interferon.

Prosedur yang masih bersifat eksperimental, yaitu pencangkokan sel-sel thymus dan selsel lemak hati janin, kadang membantu penderita anomali DiGeorge.

Pada penyakit immunodefisiensi gabungan yang berat yang disertai kekurangan adenosin
deaminase, kadang dilakukan terapi sulih enzim.

Jika ditemukan kelainan genetik, maka terapi genetik memberikan hasil yang
menjanjikan.

Pencangkokan sumsum tulan gkadang bisa mengatasi kelainan sistem kekebalan


kongenital yang berat.

Prosedur ini biasanya hanya dilakukan pada penyakit yang paling berat, seperti penyakit
immunodefisiensi gabungan yang berat.

Kepada penderita yang memiliki kelainan sel darah putih tidak dilakukan transfusi darah
kecuali jika darah donor sebelumnya telah disinar, karena sel darah putih di dalam darah
donor bisa menyerang darah penderita sehingga terjadi penyakit serius yang bisa
berakibat fatal (penyakit graft-versus-host).

2.8 PENCEGAHAN
Hal-hal yang sebaiknya dilakukan oleh penderita penyakit immunodefisiensi:

Mempertahankan gizi yang baik

Memelihara kebersihan badan

Menghindari makanan yang kurang matang

Menghindari kontak dengan orang yang menderita penyakit menular

Menghindari merokok dan obat-obat terlarang

Menjaga kebersihan gigi untuk mencegah infeksi di mulut

Vaksinasi diberikan kepada penderita yang mampu membentuk antibodi.

Kepada penderita yang mengalami kekurangan limfosit B atau limfosit T hanya diberikan vaksin
virus dan bakteri yang telah dimatikan (misalnya vaksin polio, MMR dan BCG).
Jika diketahui ada anggota keluarga yang membawa gen penyakit immunodefisiensi, sebaiknya
melakukan konseling agar anaknya tidak menderita penyakit ini.
Beberapa penyakit immunodefisiensi yang bisa didiagnosis pda janin dengan melakukan
pemeriksaaan pada contoh darah janin atau cairan ketuban:

- Agammaglobulinemia

- Sindroma Wiskott-Aldrich

- Penyakit immunodefisiensi gabungan yang berat

- Penyakit granulomatosa kronis

DAFTAR PUSTAKA
Abbas AK, Lichtman AH, Pober JS. 1991. Disease caused by humoral and cell mediated
immune reactions. Dalam: Cellular and molecular immunology. Philadelphia: WB Saunders.
Abbas AK, Lichtman AH. 2004. Basic immunology Edisi ke-2. Philadelphia: Saunders.
Baratawidjaja, K.G., 2004. Imunologi Dasar edisi ke-6. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI.
Bellanti JA. 1985. Mechanism of tissue injury produced by immunologic reactions. Dalam:
Bellanti JA, penyunting. Immunology III. Philadelphia: WB Saunders.
Brown EJ, Joiner KA, Frank MM. 1985. Complement. In fundamental immunology. 3rd edition.
New York: Raven Press, l985; 645-68.

Patologi
Sistem Imunitas

Disusun oleh :
Nama

1. Ade Erna Widiani

7.

Indah Permatasari

2. Dwi Ayu Lestari

8.

Imas Sumarni

3. Dela Karlina

9.

Khairunnisa

4. Ema Kurnia Sari

10.

Kurnia Utami

5. Fanny Arista Agnesia

11.

Lisa Triandini

6. Faulina Deviyanty

12.

Maretta Vitria

Tingkat

: 1A.1

Dosen Pengampu : dr.H.M.Ali Muchtar Msc, PH


Kementerian Kesehatan Republik Indonesia
Poltekkes Kemenkes palembang
Jurusan Keperawatan
2011/2012