Anda di halaman 1dari 11

MODUL JARINGAN PENYANGGA GIGI DAN JARINGAN LUNAK

Clinical/Community Scientific Session (CSS)

AMLODIPINE PENYEBAB GINGIVAL OVERGROWTH: LAPORAN KASUS

Nama

: Gabriela N. Darongke, SKG

NRI

: 12014103036

Pembimbing : drg. Juliatri

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SAM RATULANGI
MANADO
2014

IOSR Journal of Dental and Medical Sciences (JDMS)


ISSN: 2279-0853, ISBN: 2279-0861. Volume 3, Issue 4 (Jan.- Feb. 2013), PP 17-20
www.iosrjournals.org
Yogesh Upadhyay
Chandra Dental College And Hospital., Safedabad,Barabanki. U.P, India

Amlodipine Penyebab Gingival Overgrowth: Laporan Kasus


Abstrak: Gingival overgrowth sering diamati pada pasien yang memakai obatobatan tertentu seperti calcium channel blockers, antikonvulsan dan
imunosupresan. Hal ini dapat memiliki efek yang signifikan terhadap kualitas
hidup serta meningkatkan bakteri mulut dengan menghasilkan retensi plak.
Amlodipine, generasi ketiga calcium channel blockers
telah terbukti
meningkatkan terjadinya gingival overgrowth meskipun dilaporkan dalam kasus
yang sangat terbatas. Penanganan gingival overgrowth diarahkan untuk
mengontrol inflamasi gingiva melalui pola kebersihan mulut yang baik. Namun
dalam kasus yang parah, bedah eksisi adalah metode perawatan yang banyak
digunakan, diikuti dengan prosedur kebersihan mulut. Laporan kasus ini
menggambarkan gingival overgrowth pada pasien hipertensi yang menggunakan
amlodipine. Kombinasi gingivektomi dan perawatan laser CO2 digunakan untuk
menghilangkan gingival overgrowth. Operasi laser CO2 memperlihatkan
hemostasis yang baik dan berkurangnya rasa sakit selama prosedur dan pasca
bedah. Laporan kasus ini juga menunjukkan bahwa perawatan endodontik tanpa
perubahan terkait obat dapat menghasilkan respon klinis yang memuaskan.
Kata kunci: Calcium channel blocker, laser CO2, obat penyebab gingival
overgrowth, gingivektomi
I. Pendahuluan
Obat penyebab gingival overgrowth (GO) sering diamati sebagai efek samping
penggunaan beberapa obat pada pasien rentan. Obat tersebut diantaranya adalah
antikonvulsan seperti fenitoin pada pengobatan untuk mengendalikan kejang
pasien epilepsi, calcium channel blockers (CCB) seperti nifedipine untuk
pengobatan hipertensi atau angina pectoris, imunosupresan seperti siklosporin A
pada pengobatan untuk mencegah penolakan pasien yang menerima transplantasi
organ (Seymour dkk., 1996).
Banyak laporan telah membahas pasien yang menggunakan nifedipine
menyebabkan terjadinya GO. Selama beberapa tahun terakhir amlodipine telah
digunakan seiring dengan meningkatnya frekuensi terjadinya GO (Seymour dkk.,
1994). Baru-baru ini, Lafzi dkk (2006) melaporkan perkembangan yang pesat
dari hiperplasia gingiva pada pasien menerima 10 mg per hari amlodipine dalam

waktu dua bulan. Amlodipine, derivat dihidropiridin merupakan generasi ketiga


dari calcium channel blockers yang terbukti memiliki masa paruh lebih lama dan
efek samping yang lebih lemah dibandingkan dengan generasi pertama seperti
nifedipine (Ellis dkk., 1993). Prevalensi GO pada pasien yang menggunakan
amlodipine dilaporkan menjadi 3,3% (Jorgensen, 1997), dimana prevalensi ini
lebih rendah dari tingkat pada pasien yang memakai nifedipine, yaitu sebesar
47,8% (Nery dkk., 1995).
Gambaran klinis GO biasanya terlihat dengan adanya pembesaran papila
interdental dan menghasilkan bentuk lobular atau nodular (Hallmon dan
Rossmann, 1999). Efek biasanya terbatas pada gingiva cekat dan tepi gingiva dan
lebih sering terlihat pada regio anterior. Secara histologi, nifedipin menyebabkan
gingival overgrowth yang digambarkan sebagai penebalan lapisan sel spinosus,
hiperkeratosis ringan sampai sedang, proliferasi fibroblastik dan fibrosis lamina
propria (Hallmon dan Rossmann, 1999). Dalam laporan kasus ini, kami
melakukan penanganan GO parah pada pasien yang menggunakan amlodipine
untuk pengobatan hipertensi. Penanganannya terdiri dari prosedur kebersihan
mulut dan kombinasi gingivektomi serta perawatan laser CO2.
II. Laporan Kasus
Seorang wanita berusia 55 tahun dirujuk ke Departemen Konservasi &
Endodontik, Fakultas Kedokteran Gigi, Chandra Dental College & Hospital,
Barabanki, mengeluhkan bengkak pada gingiva nya selama beberapa bulan. Dia
merasa sangat tidak nyaman karena bengkak tersebut mengganggu saat
mengunyah dan kadang-kadang terjadi pendarahan spontan. Dia menderita
hipertensi sejak beberapa tahun terakhir dan dalam pengobatan yaitu
menggunakan Amlodipine 5mg setiap hari, Metoprolol 100mg setiap hari,
Lovastatin sebagai tambahan untuk kontrol kolesterol dan Aspirin 75 mg per hari.
Umumnya ia tampak sehat. Pada pemeriksaan intra oral, terdapat GO pada bagian
labial / palatal dari gigi atas serta bawah dan sedikit nyata pada kuadran kanan
bawah. Papila interdental yang terinflamasi dan tampak lobular terutama pada gigi
anterior bawah (Gambar 1). Kebersihan mulut nya sangat buruk dengan
banyaknya plak serta kalkulus. Terjadi perdarahan saat probing pada semua
daerah yang terkena. Terdapat beberapa sisa akar pada rahang atas (Gambar 2).
Kedalaman poket periodontal sekitar 3 sampai 9 mm ditandai banyaknya pseudo
poket. Karies yang dalam pada gigi insisivus sentral kiri atas dan kaninus. Gigi
38 adalah mobile derajat I dengan kelas III furcation involvement dan kehilangan
beberapa gigi. Diagnosis klinis adalah gingival overgrowth yang disebabkan oleh
obat.

Gambar 1. Foto intraoral menunjukkan gingival overgrowth pada tahap awal

Gambar 2. Tampilan gingiva pada daerah palatal

Scaling dan polish seluruh gigi telah dilakukan dan pasien diberi instruksi dan
motivasi untuk menjaga kebersihan mulut pada kunjungan pertama.
Review setelah satu minggu menunjukkan berkurangnya GO terutama pada
rahang atas. Semua sisa akar kemudian diekstraksi dengan anestesi lokal. Pada
kunjungan berikutnya, dilakukan gingivectomi dan laser CO2 untuk gingiva yang
tidak diinginkan. Jaringan yang berlebihan diangkat dengan menggunakan pisau
bedah ukuran 15. Lokasi bedah kemudian diobati dengan laser CO2 (Luxar
Navopulse, Boston, USA) yang telah ditetapkan sebesar 5 watt (Gambar 3).
Lapisan terbakar yang dihasilkan oleh laser bertindak sebagai pelindung dan tidak
diambil setelah prosedur ini. Empat minggu kemudian prosedur yang sama
dilakukan untuk GO regio atas. Semua prosedur dilakukan dengan anestesi lokal.
Beberapa potongan pembesaran jaringan dari bagian labial gigi 31, 32 dan
palatal bagian gigi 21 dikirim untuk pemeriksaan histopatologi (HPE). Pasien
diberi resep tablet parasetamol 1g selama tiga hari dan obat kumur Chlorhexidine
Glukonate 0,12% selama dua minggu setelah setiap prosedur pembedahan. HPE
ini menunjukkan pertumbuhan jaringan ikat koagen yang tidak teratur dengan
penyebaran infiltrasi sel radang kronis dan tertutup oleh hiperparakeratosis dan
akantosis epitel skuamosa.

Gambar 3. Bedah gingivektomi dan perawatan laser CO2 pada gingiva bukal bagian bawah.
Perhatikan pada lapisan terbakar dan berkurangnya pendarahan setelah prosedur

Follow up dilakukan 1 sampai 3 bulan. Setelah pemeriksaan bulan ketiga,


Poket periodontal umumnya berkurang menjadi 3 mm. Gingivitis sangat ringan
terlihat pada permukaan labial gigi seri bawah. Kontrol kebersihan mulut rutin
dan scaling telah dilakukan. Dua tahun setelah prosedur pembedahan, terlihat
hilangnya GO dan kondisi periodontal yang baik (Gambar 4). Pasien kemudian
dirujuk ke prosthodontist untuk dibuatkan protesa.
Gigi tiruan sebagian lepasan akan dibuatkan dengan gigi 13 dan 22
menjabat sebagai abutment. Gigi 21 dan 38 diekstraksi karena prognosis buruk.
Endodontik elektif dilakukan untuk gigi 13 dan 22. Gigi tiruan kemudian
digunakan dengan beberapa penyesuaian oklusal. Pada follow up bulan keenam
pasien masih menggunakan amlodipine namun kondisi periodontal terlihat baik.

Gambar 4. Gingival overgrowth menghilang setelah dua tahun operasi

Gambar 5. Pemeriksaan intraoral pada bulan ke enam

III . Pembahasan
Patogenesis GO tidak pasti dan sebagian besar perawatan masih terbatas
pada pemeliharaan tingkat peningkatan kebersihan mulut dan bedah pengangkatan

jaringan. Beberapa faktor dapat berpengaruh pada hubungan antara obat-obatan


dan gingiva seperti yang dibahas oleh Seymour dkk. (1996). Faktor-faktor
termasuk usia, predisposisi genetik, variabel farmakokinetik, dan perubahan
homeostasis jaringan ikat gingiva, histopatologi, faktor ultra-struktural, perubahan
inflamasi dan kerja obat pada faktor-faktor pertumbuhan . Kebanyakan penelitian
menunjukkan hubungan antara status kebersihan mulut dan tingkat keparahan GO
yang disebabkan oleh obat. Hal ini menunjukkan bahwa inflamasi gingiva yang
disebabkan oleh plak dapat menjadi faktor risiko penting dalam perkembangan
dan perubahan gingiva (Barclay dkk., 1992) . Dalam kasus ini ini faktor lokal
seperti kontrol plak yang buruk dan beberapa sisa akar dapat bertindak sebagai
faktor risiko yang berkontribusi memperburuk pembesaran gingiva yang ada dan
karena itu mempersulit prosedur kebersihan mulut (Ikawa dkk., 2002) . Ada
beberapa penurunan pertumbuhan berlebih diamati terutama pada rahang atas
setelah dianjurkan terapi awal termasuk ekstraksi sisa akar. Usia juga merupakan
faktor risiko penting terhadap GO dengan referensi khusus untuk fenitoin dan
cyslosporin (Seymour , 2006) namun tidak berlaku untuk CCB sejak digunakan
obat biasanya terbatas pada usia pertengahan dan usia dewasa (Seymour dkk.,
2000). Penanganan GO tampaknya berfokus pada pola kebersihan mulut yang
baik untuk mengontrol inflamasi gingiva (Nery dkk., 1995) . Interaksi antara obat
dan gingiva dapat meningkatkan inflamasi gingiva yang disebabkan oleh
kebersihan mulut yang buruk (Seymour , 1991) . Telah terbukti bahwa ada
penurunan yang signifikan dari GO yang disebabkan oleh nifedipine dengan
scaling dan root planing serta kontrol plak (Hallmon dan Rossmann, 1999) .
Pembedahan pengurangan jaringan sering diperlukan untuk mencapai hasil
estetika dan fungsional (Hallmon dan Rossman, 1999). Perawatan dapat terdiri
dari bedah gingivektomi dan / atau laser gingivektomi . Laser adalah salah satu
teknik baru yang paling menjanjikan dalam perawatan endodontik . Laser CO2
memiliki panjang gelombang 10.600 nm, mudah diserap oleh air dan oleh karena
itu sangat efektif untuk pembedahan jaringan lunak, yang memiliki kandungan air
yang tinggi . Pembuluh darah di jaringan sekitarnya sampai dengan 0,5 mm
ditutup. ( Aoki dkk, 2004) .
Dengan demikian keuntungan laser daripada pisau bedah adalah
hemostatis yang kuat dan efek bakterisida dan menyediakan lapangan pandang
yang relatif kering untuk meningkatkan visibilitas (AAP, 2002).
Penghentian obat terkait telah terbukti mengurangi GO, namun
pertumbuhan akan berulang ketika obat itu digunakan kembali (Lederman dkk.,
1984). Dalam kasus di mana pengobatan alternatif dapat digunakan, substitusi
obat terkait telah terbukti menghasilkan regresi pertumbuhan jaringan berlebih.
Isradipine, pendamping dihydropyridine calcium channel blocker telah
menunjukkan regresi dalam sekitar 60% dari GO yang sebelumnya disebabkan
oleh nifedipine (Hallmon dan Rossman, 1999;. Khera dkk., 2005).

Pengobatan lain yang disarankan adalah penggunaan aplikasi topikal


solusi folat pada GO. Drew dkk. (1987) telah menunjukkan penurunan GO yang
signifikan ketika asam folat yang dioleskan pada hiperplasia gingiva yang
disebabkan oleh fenitoin. Inoue dan Harrison (1981) juga menemukan bahwa
asam folat dapat mengurangi keparahan GO. Fenitoin dapat mengganggu
metabolisme asam folat dan menyebabkan kekurangan asam folat yang diketahui
berkaitan dengan inflamasi gingiva. Namun tidak ada studi melaporkan
penggunaan asam folat dalam GO yang disebabkan oleh amlodipine.
Dalam kasus sekarang ini, gingival overgrowth yang memuaskan dapat
sembuh melalui terapi periodontal awal termasuk instruksi dan motivasi untuk
menjaga kebersihan mulut, diikuti dengan bedah gingivektomi dan perawatan
laser CO2. Laporan kasus ini juga menunjukkan bahwa tanpa perubahan obat
yang terkait, perawatan endodontik sendiri dapat menghasilkan respon klinis yang
memuaskan (Ikawa dkk., 2002). Selama kondisi periodontal dapat dikonrol,
protesa dibuatkan untuk memenuhi fungsi dan estetika pasien. Protesa dirancang
untuk meminimalkan daerah retensi plak.
Namun ada kemungkinan untuk GO kambuh selama pengobatan terkait
dilanjutkan dan persistensi dengan faktor risiko lain (Mavrogiannis dkk., 2006).
Oleh karena itu pasien harus diberitahu tentang kecenderungan ini dan
pentingnya pemeliharaan kebersihan mulut yang efektif sebagai faktor kunci
dalam mencegah dan menangani gingival overgrowth terkait dengan obat ini.
Mendukung tindak lanjut yang diperlukan dalam upaya untuk memantau status
gingiva / periodontalnya, untuk meningkatkan kebersihan mulut dan secara
berkala memberikan perawatan profesional (Hallmon dan Rossmann 1999)
sehingga mencegah terulangnya GO.