Anda di halaman 1dari 18

I Wayan Suarjana Edi Putra

1591561022

PEMODELAN
DAN ANALISIS
KOLOM PIPIH
DENGAN BEBAN
AKSIAL SENTRIS
MENGGUNAKAN
PROGRAM
ANSYS

Pendahuluan
Latar Belakang
- Tuntutan Arsitektur untuk mempergunakan kolom
beton bertulang berpenampang pipih dengan lebar
sama dengan tebal tembok (struktural hidden).
- Persyaratan pengekangan dan kekuatan yang harus
dipenuhi yaitu ukuran sisi penampang terkecil yang
lebih besar atau sama dengan 300 mm dengan
perbandingan (c1/c2) lebih besar atau sama dengan
0,4.
- Terganggunya inti beton dengan hook standar
tulangan sengkang yang rapat sehingga inti beton
terkekang tidak efektif untuk menerima tegangan
dan regangan

Pendahuluan
Rumusan Masalah & Tujuan Penelitian
- Bagaimana pengaruh pemasangan sengkang
Welded Wire Fabric (WWF) terhadap tegangan
dan
regangan
kolom
beton
bertulang
berpenampang pipih yang mengalami beban
aksial tekan dengan analisis program ANSYS ?
- Mengetahui pengaruh pemasangan sengkang
Welded Wire Fabric (WWF) terhadap tegangan
dan
regangan
kolom
beton
bertulang
berpenampang pipih yang mengalami beban
aksial tekan dengan analisis program ANSYS.

Pendahuluan
Manfaat penelitian
- Dapat memberikan pemahaman tentang
penggunaan program ANSYS yang berbasis
metode elemen hingga dalam menganalisis
- Dapat
memberi
gambaran
tentang
pengaruh penggunaan sengkang Welded
Wire Fabric (WWF) terhadap tegangan dan
regangan suatu kolom berpenampang pipih
sehingga dapat diterapkan di lapangan

Pendahuluan
Lingkup Penelitian
Sampel yang dibuat adalah kolom beton bertulang
dengan ukuran 150 x 450 x 350 mm
Luas tulangan longitudinal yang digunakan adalah
tetap yaitu 10D10.
Tulangan transversal yang dipergunakan adalah
Galvanized WWF 100 x 100mm ; 3mm.
Kuat tekan beton digunakan (fc) 20 Mpa.
Pembebanan yang dilakukan adalah beban sentris
untuk mengkondisikan kolom hanya memikul beban
aksial tekan murni.
Variasi yang digunakan adalah jarak pemasangan
sengkang WWF.

Welded Wire Fabric (WWF)


Welded
Wire
Fabric
(WWF)
adalah
serangkaian paralel tulangan longitudinal
dengan jarak tetap yang dilas dengan jarak
yang dibutuhkan. Pada umumnya material
ini mengandung 0,15% karbon dengan
ukuran diameter tulangan 2 mm sampai
dengan 12 mm serta spasi 25 mm sampai
dengan 400 mm. Masing-masing dari
tulangan
dilas
dengan
kemampuan
menahan tegangan geser sampai 210
N/mm2.

Welded Wire Fabric (WWF)

Gambar wwf dengan ukuran 100x100mm ; 3mm

Metode Penelitian
Umum
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah permodelan elemen hingga dengan
program ANSYS. Properti dan geometri dari
sampel kolom yang akan dimodel ditentukan
terlebih dahulu. Sampel kolom dengan
sengkang WWF akan dianalisis dengan
variasi jarak pemasangan sengkangnya.
Hasil dari permodelan ini adalah tegangan
dan regangan yang terjadi.

Metode Penelitian
Properti Sampel
Beton.
Mutu beton () : 20
Modulus elastisitas beton () : 23500
Berat volume beton bertulang () : 2400 /3
Baja tulangan
Baja ulir dengan diameter 10 mm sebagai tulangan
longitudinal dengan modulus elastisitas : 200000
Mpa
Welded Wire Fabric (WWF)
WWF 100 mm x 100 mm ; 3 mm digunakan
sebagai pengganti sengkang dengan hook standar.

Metode Penelitian
Geometri Sampel
Tul. Longitudinal
Benda Uji

Tul. Transversal

Ast (mm)

Diameter
(mm)

S (mm)

10D10 (785,398)

WWF 100x100 ;
3

50

K2

10D10 (785,398)

WWF 100x100 ;
3

100

K3

10D10 (785,398)

WWF 100x100 ;
3

150

K1

Metode Penelitian

Mulai

Diagram Alir Penelitian

Identifikasi masalah

Pengumpulan data dan perancangan model


sampel

Pemodelan dan Analisis


model dengan program
ANSYS

Output data hasil analisis ANSYS berupa


tegangan dan regangan

Perbandingan hasil analisis 3 model

Simpulan dan Saran

Selesai

Hasil dan Pembahasan


Tegangan
Tegangan yang terjadi pada model yang
telah dianalisis dengan program Ansys dapat
dilihat pada gambar berikut:

Tegangan (Mpa)
Maksimum
Minimum
0

Sampel Model

Hasil dan Pembahasan


Tegangan maksimum dan minimum yang
paling besar dialami oleh model K3 dengan
jarak pemasangan sengkang 150 mm yang
nilai maksimumnya 4,19.E^-4 mm dan
minimum sebesar 1,716.E^-5 mm. Hal ini
dapat
diartikan
dengan
semakin
renggangnya jarak pemasangan sengkang,
maka tegangan akan semakin besar
sehingga mengakibatkan regangan yang
terjadi akan semakin besar pula karena inti
beton terkekang menjadi semkin sedikit.

Hasil dan Pembahasan


Regangan
Regangan yang terjadi pada model yang
telah dianalisis dengan program Ansys dapat
dilihat pada gambar berikut:
0
0
0
Regangan (mm)

Maksimum
Regangan (mm)

0
0
0

Sampel Model

Hasil dan Pembahasan


Regangan maksimum dan minimum yang
paling besar dialami oleh model K3 dengan
jarak pemasangan sengkang 150 mm yang
nilai maksimumnya 4,19.E^-4 mm dan
minimum sebesar 1,716.E^-5 mm. Hal ini
dapat
diartikan
dengan
semakin
renggangnya jarak pemasangan sengkang,
maka tegangan akan semakin besar
sehingga mengakibatkan regangan yang
terjadi akan semakin besar pula karena inti
beton terkekang menjadi semkin sedikit.

Kesimpulan
Dengan semakin renggangnya jarak
pemasangan sengkang, maka semakin
sedikit inti beton yang terkekang, sehingga
mengakibatkan tegangan yang terjadi akan
semakin besar.
Semakin renggangnya jarak pemasangan
sengkang, maka tegangan akan bertambah
besar sehingga mengakibatkan regangan
yang terjadi semakin besar pula karena inti
beton terkekang menjadi lebih sedikit.

Saran
Untuk penyempurnaan penelitian ini,
selanjutnya dapat dilakukan penelitian
sejenis dengan memperbesar dimensi
sampel kolom yang digunakan, serta variasi
pembebanan yang sesuai dengan keadaan
lapangan.

Sekian
dan
Terimakasih