Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur sudah sepantasnya kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa.
Dengan ridho dan nikmat dari-NYA sehingga kami dapat menyelesaikan makalah
berjudul Perbandingan Produk Hukum Tata Negara Indonesia Sebelum dan Setelah
Reformasi untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Sistem Hukum Indonesia di Jurusan
Ilmu Pemerintahan Universitas Jendral Achmad Yani. Makalah ini tentunya dibuat
dengan sebaik mungkin sejauh kemampuan kami.
Semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi mahasiswa lainnya dalam
perkuliahan ini. Yang paling utama kami mohon maaf jika masih terjadi kesalahan dan
kekurangan di dalamnya, harap untuk dimaklumi. Terimakasih banyak.
Salam Mahasiswa Indonesia!!!

Cimahi, September 2012

Penulis,

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR.....................1
DAFTAR ISI.............................2
BAB I PENDAHULUAN.................3
BAB II RUMUSAN MASALAH..................4
BAB III PEMBAHASAN....................5
A. Pengertian Hukum Tata Negara................5
B. Hubungan Hukum Tata Negara dengan Ilmu-ilmu lainnya......7
C. Sumber-sumber Hukum Tata Negara Indonesia.......8
D. Hirarki Perundang-undangan Indonesia.......10
E. Perbandingan Hukum Tata Negara Indonesia.......12
BAB IV KESIMPULAN...............15
DAFTAR PUSTAKA,...................17

BAB I
PENDAHULUAN
Pada masa lalu, istilah teori hukum tata negara sangat jarang sekali terdengar,
apalagi dibahas dalam perkuliahan maupun forum-forum ilmiah. Hukum Tata Negara
yang dipelajari oleh mahasiswa adalah Hukum Tata Negara dalam arti sempit. Hal ini
dipengaruhi oleh watak rezim orde baru yang berupaya mempertahankan tatanan
ketatanegaraan pada saat itu yang memang menguntungkan penguasa untuk
mempertahankan kekuasaannya. Pemikiran Hukum Tata Negara secara langsung
maupun tidak langsung akhirnya menjadi terhegemoni/terbelenggu. Tatanan
ketatanegaraan berdasarkan Hukum Tata Negara pada saat itu adalah pelaksanaan dari
Pancasila dan UUD 1945 secara murni dengan memberlakukan asas tunggal Pancasila
dan penerapan P4 (Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila). Akibatnya,
pembahasan sisi teoritis dari Hukum Tata Negara menjadi ditinggalkan, bahkan
dikekang karena dianggap sebagai pikiran yang anti kemapanan dan dapat
mengganggu stabilitas nasional.
Hukum Tata Negara juga dapat dibedakan antara Hukum Tata Negara Umum
dan Hukum Tata Negara Positif. Hukum Tata Negara Umum membahas asas- asas,
prinsip-prinsip yang berlaku umum, sedangkan Hukum Tata Negara Positif hanya
membahas hukum tata negara yang berlaku pada suatu tempat dan waktu tertentu.
Misalnya, hukum tata negara Indonesia, Hukum Tata Negara Inggris, ataupun Hukum
Tata Negara Amerika Serikat yang dewasa ini berlaku di masing-masing negara yang
bersangkutan, adalah merupakan hukum tata negara positif.
Barulah setelah reformasi 1998 terjadi perkembangan yang dominan dalam studi
Hukum Tata Negara. Lahirnya para ahli Hukum Tata Negara juga turut membantu
perkembangan tersebut. Melalui amandemen pancasila akhirnya menghasilkan
perubahan dan perombakan pada struktur / unsur kenegaraan. Terlahirnya lembagalembaga negara baru itu tak lain bermaksud mewujudkan Indonesia yang lebih baik dan
demokratis.
BAB II
RUMUSAN MASALAH

1.
2.
3.
4.
5.

Pada makalah ini kami akan menguraikan beberapa permasalahan yang ada dalam
kehidupan sehari-hari mengenai Hukum Tata Negara antara lain yaitu :
Apa pengertian Hukum Tata Negara ?
Bagaimana hubungan Hukum Tata Negara dengan Ilmu-ilmu lainnya?
Apa saja Sumber Hukum Tata Negara Indonesia?
Bagaimana hirarki perundang-undangan Indonesia?
Bagaimana Perbandingan Hukum Tata Negara Indonesia Sebelum dan Sesudah
Reformasi?

BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian Hukum Tata Negara
Tata Negara berarti sistem penataan negara yang berisi ketentuan mengenai
struktur kenegaraan dan mengenai substansi norma kenegaraan. Dengan kata lain,
Hukum Tata Negara merupakan cabang Ilmu Hukum yang membahas mengenai tata
struktur kenegaraan, mekanisme hubungan antar struktur kenegaraan, serta
mekanisme hubungan antara struktur negara dengan warga negara.
Istilah Hukum Tata Negara berasal dari bahasa Belanda Staatsrecht yang artinya
adalah hukum Negara. Staats berarti negara-negara, sedangkan recht berarti hukum.
Hukum negara dalam kepustakaan Indonesia diartikan menjadi Hukum Tata Negara.
Mengenai definisi hukum tata negara masih terdapat perbedaan pendapat di antara ahli
hukum tata negara. Perbedaan ini antara lain disebabkan oleh masing-masing ahli
berpendapat bahwa apa yang mereka anggap penting akan menjadi titik berat
perhatiannya dalam merumuskan pengertian dan pandangan hidup yang berbeda.
Berikut pengertian Hukum Tata Negara menurut beberapa ahli :
1. Cristian Van Vollenhoven
Hukum Tata Negara mengatur semua masyarakat hukum atasan dan masyarakat
hukum bawahan menurut tingkatan-tingkatannya, yang masing-masing menentukan
wilayah atau lingkungan rakyatnya sendiri-sendiri, dan menentukan badan-badan
dalam lingkungan masyarakat hukum yang bersangkutan beserta fungsinya masingmasing, serta menentukan pula susunan dan wewenangnya dari badan-badan tersebut.

2. J. H. A. Logemann
Hukum Tata Negara adalah hukum yang mengatur organisasi negara. Negara
adalah organisasi jabatan-jabatan. Jabatan merupakan pengertian yuridis dan fungsi,
sedangkan fungsi merupakan pengertian yang bersifat sosiologis. Karena negara
merupakan organisasi yang terdiri dari fungsi-fungsi dalam hubungannya satu dengan
yang lain maupun dalam keseluruhannya, maka dalam pengertian yuridis, negara
merupakan organisasi jabatan.
3. J. R. Stellinga
Hukum Tata Negara adalah hukum yang mengatur wewenang dan kewajiban
alat-alat perlengkpan negara, mengatur hak dan kewajiban warga negara.
4. Kusumadi Pudjosewojo
Hukum Tata Negara adalah hukum yang mengatur bentuk negara dan bentuk
pemerintahan, yang menunjukkan masyarakat hukum yang atasan maupun yang
bawahan, beserta tingkatan-tingkatannya yang selanjutannya menegaskan wilayah dan
lingkungan rakyat dari masyarakat-masyarakat hukum itu dan akhirnya menunjukkan
alat-alat perlengkapan yang memegang kekuasaan dari masyarakat hukum itu, beserta
susunan, wewenang, tingkatan imbangan dari dan antara alat perlengkapan negara itu.
5. Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim
Hukum Tata Negara dapat dirumuskan sebagai sekumpulan peraturan hukum
yang mengatur organisasi dari pada negara, hubungan antar alat perlengkapan negara
dalam garis vertikal dan horizontal, serta kedudukan warga negara dan hak azasinya
6. Paul Scholten
Menurut Paul Scholten, Hukum Tata Negara itu tidak lain adalah het recht dat
regelt de staatsorganisatie, atau hukum yang mengatur tata organisasi negara. Dengan
rumusan demikian, Scholten hanya menekankan perbedaan antara organisasi negara
dari organisasi non-organisasi, seperti gereja dan lain-lain.
7. Van Der Pot
Hukum Tata Negara adalah peratuaran-peraturan yang menentukan badan-badan
yang diperlakukan beserta kewenangannya masing-masing, hubungannya satu sama
lain, serta hubungannya dengan individu warga negara dan kegiatannya.

Dari beberapa pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa hukum tata
negara adalah hukum yang mengatur organisasi negara, hubungan alat perlengkapan
negara, susunan dan wewenang serta hak dan kewajiban warga negara.
B. Hubungan Hukum Tata Negara dengan Ilmu-Ilmu lainnya
1. Hubungan Hukum Tata Negara dan Ilmu Politik
Ibarat tubuh manusia, maka ilmu hukum tata negara diumpamakan oleh Barent
sebagai kerangka tulang belulangnya, sedangkan ilmu politik ibarat daging-daging yang
melekat di sekitarnya (het vlees er omheen beziet). Oleh sebab itu, untuk mempelajari
hukum tata negara, terlebih dahulu kita memerlukan ilmu politik, sebagai pengantar
untuk mengetahui apa yang ada di balik daging-daging di sekitar kerangka tubuh
manusia yang hendak diteliti. Dalam hal ini negara sebagai objek studi hukum tata
negara dan ilmu politik juga dapat diibaratkan sebagai tubuh manusia yang terdiri atas
daging dan tulang.
Menurut G.Jellinek terlihat dengan jelas bahwa hukum tata negara dengan
politik mempunyai hubungan yang erat. Selain itu bagaimanapun juga organisasi
negara itu sendiri merupakan hasil konstruksi sosial tentang perikehidupan bersama
dalam satu komunitas hidup bermasyarakat. Oleh karena itu, ilmu hukum yang
mempelajari dan mengatur negara sebagai organisasi tidak mungkin memisahkan diri
secara tegas dengan perikehidupan bermasyarakat.
2. Hubungan Hukum Tata Negara dengan Ilmu Negara
Ilmu negara atau staatsleer (bahasa Belanda) adalah ilmu pengetahuan yang
menyelidiki asas-asas pokok mengenai negara dan hukum tata negara. Oleh karena itu
agar dapat mengerti dengan sebaik-baiknya sistem hukum ketatanegaraan suatu negara
sudah sepatutnya kita harus terlebih dahulu memiliki pengetahuan segala hal ihwalnya
secara umum tentang negara yang didapat dalam ilmu negara. Dengan demikian jelas
bahwa hubungan antara ilmu negara dan hukum tata negara erat sekali. Ilmu negara
dapat memberikan dasar-dasar teoritis untuk hukum tata negara.
3. Hubungan HTN dengan Hukum Administrasi Negara
Menurut Van Vollenhoven hukum tata negara adalah hukum mengenai susunan
dan kewenangan organ-organ negara. Dengan kata lain hukum tata negara merupakan
pemberian wewenang. Adapun hukum administrasi negara adalah hukum yang
mengatur hubungan antara yang memerintah dan yang diperintah, yaitu memberikan
batasan-batasan pada organ-organ negara dalam melakukan wewenangnya yang

ditentukan oleh hukum tata negara. Organ-organ negara tanpa ketentuan dalam hukum
tata negara adalah seperti sayap burung yang lumpuh. Sebaliknya organ-organ negara
tanpa ketentuan dalam hukum administrasi negara adalah seperti burung terbang bebas
dengan sayapnya karena dapat mempergunakan kewenangan sekehendak hatinya.
C. Sumber-sumber Hukum Tata Negara Indonesia
1. Undang-Undang Dasar 1945
UUD 1945 sebagai sumber hukum, yang merupakan hukum dasar tertulis
yang mengatur masalah kenegaraan dan merupakan dasar ketentuanketentuan
lainnya.
2. Ketetapan MPR
Dalam Pasal 3 UUD 1945 ditentukan bahwa Majelis Permusyawaratan
Rakyat menetapkan Undang-Undang Dasar dan Garis-Garis Besar Haluan
Negara. Dengan istilah menetapkan tersebut maka orang berkesimpulan,
bahwa produk hukum yang dibentuk oleh MPR disebut Ketetapan MPR.
3. Undang-undang/peraturan pemerintah pengganti undang-undang
Undang-undang mengandung dua pengertian, yaitu :
a. Undang-undang dalam arti materiel yaitu peraturan yang berlaku
umum dan dibuat oleh penguasa, baik pemerintah pusat maupun
pemerintah daerah.
b. Undang-undang dalam arti formal yaitu keputusan tertulis yang
dibentuk dalam arti formal sebagai sumber hukum dapat dilihat pada
Pasal 5 ayat (1) dan pasal 20 ayat (1) UUD 1945.
4. Peraturan Pemerintah
Untuk melaksanakan undang-undang yang dibentuk oleh Presiden dengan
DPR, oleh UUD 1945 kepada presiden diberikan kewenangan untuk
menetapkan Peraturan Pemerintah guna melaksanakan undang-undang
sebagaimana mestinya. Dalam hal ini berarti tidak mungkin bagi presiden
menetapkan Peraturan Pemerintah sebelum ada undang-undangnya,
sebaliknya suatu undang-undang tidak berlaku efektif tanpa adanya
Peraturan Pemerintah.
5. Keputusan Presiden

UUD 1945 menentukan Keputusan Presiden sebagai salah satu bentuk


peraturan perundang-undangan. Bentuk peraturan ini baru dikenal tahun
1959 berdasarkan surat presiden no. 2262/HK/1959 yang ditujukan pada
DPR, yakni sebagai peraturan perundang-undangan yang dibentuk oleh
Presiden untuk melaksanakan Penetapan Presiden. Kemudian melalui
Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966, Keputusan Presiden resmi
ditetapkan sebagai salah satu bentuk peraturan perundang-undangan
menurut UUD 1945. Keputusan Presiden berisi keputusan yang bersifat
khusus (einmalig) adalah untuk melaksanakan UUD 1945, Ketetapan
MPR yang memuat garis-garis besar dalam bidang eksekutif dan
Peraturan Pemerintah.
6. Peraturan pelaksana lainnya
Yang dimaksud dengan peraturan pelaksana lainnya adalah seperti
Peraturan Menteri, Instruksi Menteri dan lain-lainnya yang harus dengan
tegas berdasarkan dan bersumber pada peraturan perundang-undangan
yang lebih tinggi.
7. Convention (Konvensi Ketatanegaraan)
Konvensi Ketatanegaraan adalah perbuatan kehidupan ketatanegaraan
yang dilakukan berulang-ulang sehingga ia diterima dan ditaati dalam
praktek ketatanegaraan. Konvensi Ketatanegaraan mempunyai kekuatan
hukum yang sama dengan undang-undang, karena diterima dan
dijalankan, bahkan sering kebiasaan (konvensi) ketatanegaraan menggeser
peraturan-peraturan hukum yang tertulis.
D. Hirarki Perundang Undangan di Indonesia
Menurut Pasal 7 ayat (1) UU No. 10 Tahun 2004 tentang pembentukan peraturan
perundang-undangan bahwa;
Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut:
1. Undang-Undang Dasar 1945 merupakan hukum dasar tertulis Negara Republik
Indonesia, memuat dasar dan garis besar hukum dalam penyelenggaraan negara.
2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia merupakan putusan
Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai pengemban kedaulatan rakyat yang
ditetapkan dalam sidang-sidang MPR.
3.
Undang-Undang (UU) dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bersama
Presiden untuk melaksanakan UUD 1945 serta TAP MPR-RI

4.

5.
6.

7.
a.
b.
c.

Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perpu) Perpu dibuat oleh Presiden


dalam hal ihwal kegentingan yang memaksa, dengan ketentuan sebagai berikut: a).
Perpu harus diajukan ke DPR dalam persidangan yang berikut. B). DPR dapat
menerima atau menolak Perpu dengan tidak mengadakan perubahan. C). Jika ditolak
DPR, Perpu tersebut harus dicabut.
Peraturan Pemerintah dibuat oleh Pemerintah untuk melaksanakan perintah undangundang.
Keputusan Presiden(Keppres); Keputusan Presiden yang bersifat mengatur dibuat
oleh Presiden untuk menjalankan fungsi dan tugasnya berupa pengaturan pelaksanaan
administrasi negara dan administrasi pemerintahan.
Peraturan Daerah;
Peraturan daerah propinsi dibuat oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)
propinsi bersama dengan gubernur.
Peraturan daerah kabupaten / kota dibuat oleh DPRD kabupaten / kota bersama
bupati / walikota.
Peraturan desa atau yang setingkat, dibuat oleh badan perwakilan desa atau yang
setingkat, sedangkan tata cara pembuatan peraturan desa atau yang setingkat diatur
oleh peraturan daerah kabupaten / kota yang bersangkutan.
Tata cara pembuatan UU, PP, Perda serta pengaturan ruang lingkup Keppres diatur
lebih lanjut dengan undang-undang. Namun hingga sekarang ini belum ada UU yang
mengatur apa saja yang menjadi lingkup pengaturan dari Keppres dan PP.

E. Perbandingan Produk Hukum Tata Negara Indonesia Sebelum dan


Sesudah Reformasi
A. Produk Hukum Tata Negara Sebelum Reformasi 1998
Sebelum terjadinya Reformasi 1998 dan perubahan UUD 1945, RI menganut
prinsip supremasi MPR sebagai salah satu bentuk varian sistem supremasi parlemen
yang dikenal di dunia. Maka paham kedaulatan rakyat diorganisasikan melalui
pelembagaan MPR sebagai lembaga penjelmaan rakyat Indonesia yang berdaulat yang
disalurkan melalui prosedur perwakilan politik (political representation) melalui DPR,
perwakilan daerah (regional representation) melalui utusan daerah, dan perwakilan
fungsional (fungcional representation) melalui utusan golongan. Ketiga-tiganya
dimaksudkan untuk menjamin agar kepentingan seluruh rakyat yang berdaulat benarbenar tercermin dalam keanggotaan MPR, sehingga menjadi lembaga tertinggi sebagai
penjelmaan rakyat. Sebagaimana dalam pasal I ayat (2) UUD 1945 kedaulatan di
tangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat.

B. Produk Hukum Tata Negara Setelah Reformasi 1998


Setelah Reformasi 1998 terjadi perkembangan yang pesat pada kajian Hukum
Tata Negara yang pada akhirnya melahirkan berbagai produk hukum yang
dimaksudkan menopang jalannya demokrasi Indonesia yang mengantarkan kepada
Masyarakat Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera. Akhirnya pada amandemen
ke-empat UUD 1945 sebagaimana pasal 1 ayat (2) bahwa kedaulatan berada ditangan
rakyat dan dilaksanakan berdasarkan undang undang dasar. Dengan demikian
berdasar pada UUD 1945 pasca amandemen ke-empat tersebut, maka terdapat delapan
buah organ Negara yang mempunyai kedudukan sederajat yang langsung menerima
kewenangan konstitusi dari UUD, kedelapan organ tersebut adalah;
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

1.
2.
3.
4.
5.

DPRD (dewan perwakilan rakyat daerah)


DPD (dewan perwakilan darah)
MPR (majelis permusyawaratan rakyat.)
BPK (badan pemeriksa keuangan)
Presiden dan Wakil Presiden
Mahkamah Agung
Mahkama Konstitusi
Komisi Yudisial
Lembaga atau institusi yang kewenangannya diatur dalam UUD, antara lain;
Pemerintah Pusat
Tentara Nasional Indonesia
Kepolisian Negara Republik Indonesia
Pemerintah Daerah
Partai Politik
Adapun lembaga yang tidak disebut namanya namun fungsi kewenangannya
diatur dalam UU yaitu; BANK indonesai (BI) dan Komisi Pemilihan Umum. Sedangkan
lembaga yang berdasarkan perintah menurut UUD dan kewenangannya diatur juga
dalam UU seperti; KOMNAS HAM, KPA, KPI, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi
Keuangan (PPATK) dan lain sebagainya.
Selain itu, dalam menjamin kepentingan kekuasaan dan demokratisasi yang
berjalan lebih efektif maka dilakukan penambahan lembaga-lembaga independent
setelah Reformasi 1998, dan akhirnya menjadi seperti berikut;

1. Tentara Nasional Indonesia (TNI)


2. Kepolisian Negara (polri)
3. Bank Indonesia
4. Kejaksaan Agung
5. KOMNAS HAM
6. KPU
7. Komisi Ombusdman
8. Komisi Pengawasan dan persaingan Usaha (KPPU)
9. Komisi Pemeriksaan Kekayaan Penyelenggaraan Negara (KPKPN)
10. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPU)
11. Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) dan lain sebagainya.
BAB IV
KESIMPULAN
Kita sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan
Ilmu Politik Universitas Jendral Achmad Yani tentunya perlu memahami pengertian
Hukum Tata Negara Indonesia. Karena hubungan antara Ilmu Politik dan Hukum Tata
Negara sangat erat. Ibarat tulang dan daging. Yang satu mempelajari dan mengatur
negara sebagai organisasi, sementara yang satu lagi mempelajari perikehidupan
bermasyarakat dan bernegara.
Secara sederhana, Hukum Tata Negara adalah hukum yang mengatur organisasi
negara, hubungan alat perlengkapan negara, susunan dan wewenang serta hak dan
kewajiban warga negara. Hukum Tata Negara merupakan cabang Ilmu Hukum yang
membahas mengenai tata struktur kenegaraan, mekanisme hubungan antar struktur
kenegaraan, serta mekanisme hubungan antara struktur negara dengan warga negara.
Sementara
itu, Sumber-sumber
Hukum
Tata
Negara
beserta
hirarkinya: 1.Undang-Undang
Dasar
1945;2.Ketetapan
MPR;
3.UndangUndang; 4.Peraturan
Pemerintah
Pengganti
Undang-undang; 5Peraturan
Pemerintah; 6.Keputusan Presiden; 7.Peraturan Daerah.
Secara singkat, perkembangan studi Hukum Tata Negara di masa orde baru bisa
dikatakan sangat lamban/mandeg. Hal itu diakibatkan karena rezim yang otoriter.
Namun meskipun begitu, penerapan azas tunggal Pancasila dan P4 (Pedoman

Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) pada masa itu mewakili adanya pelaksanaan
dan pembuatan produk Hukum Tata Negara pada satu sisi.
Reformasi 1998 membawa angin segar terhadap perkembangan Hukum Tata
Negara Indonesia. Melalui semangat demokrasi pada akhirnya menghasilkan berbagai
perubahan dan perombakan tata kenegaraan Indonesia baik secara fungsi, struktur dan
kelembagaannya melalui amandemen UUD 1945 dan sumber-sumber Hukum Tata
Negara lainnya. Berubahnya kedudukan dan fungsi MPR; Lahirnya lembaga-lembaga
negara baru seperti Mahkamah Konstitusi, Komisi Yudisial, dll; Lahirnya lembaga
independent negara seperti KPK, KOMNAS HAM, dll; Pengangkatan Wakil Menteri
akhir-akhir ini; merupakan sebuah harapan baru menjadikan Indonesia yang lebih baik
dan lebih demokratis.
Kita sebagai penerus tongkat estafet perjuangan bangsa ini harus mempersiapkan
diri agar di kemudian hari mampu memberikan jalan keluar atas pelbagai permasalahan
bangsa bahkan menyelesaikannya sampai tuntas!
Salam Mahasiswa!!!

DAFTAR PUSTAKA
Buku:
Asshidddiqie, Jimly. 2006. Pengantar Hukum Tata Negara Jilid I. Konstitusi Press: Jakarta
Mariam Budiarjo. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta : Gramedia.
Radjab, Dasril. 1994. Hukum Tata Negara Indonesia. Jakarta : Rineka Cipta.
Website:
http://dwiwijayanti07.wordpress.com/2010/03/28/hukum-tata-negara/
(26 September 2012 pukul 16:12)
http://panji1102.wordpress.com/2011/03/01/definisi-hukum-tata-negara/
(26 September 2012 pukul 16:14)
http://www.scribd.com/doc/86588346/Definisi-Hukum-Tata-Negara-Menurut-ParaAhli (26 September 2012 pukul 16:16)