Anda di halaman 1dari 4

1. Intramuskular (i.m.

), yaitu disuntikkan ke dalam jaringan otot, umumnya di


otot pantat atau paha. Syarat-syarat yang harus dipenuhi sediaan adalah
sebagai berikut :
a. Sediaan dalam bentuk larutan lebih cepat diabsorpsi daripada
suspensi pembawa minyak atau air;
b. Larutan sebaiknya isotonis;
c. Onset bervariasi tergantung besar kecilnya partikel;
d. Sediaan dapat berupa larutan, emulsi atau suspensi;
e. Zat aktif bekerja lambat (preparat devo) serta mudah terakumulasi,
sehingga dapat menimbulkan keracunan;
f. Volume sediaan umumnya 2 ml sampai 20 ml dapat disuntikkan ke
dalam otot dada, sedangkan volume yang lebih kecil disuntikkan ke
dalam otot-otot lain.
Contohnya adalah penicillin G 3.000.000 unit, injeksi antitetanus
10.000 atau 20.000 unit, injeksi vitamin B kompleks.

SERUM ANTI TETANUS


NAMA GENERIK
Serum Anti Tetanus
NAMA KIMIA
Tetanus antitoxins.
SIFAT FISIKOKIMIA
Serum yang dibuat dari plasma kuda yang dikebalkan terhadap toksin tetanus. Plasma ini
dimurnikan dan dipekatkan serta mengandung fenol 0.25% sebagai pengawet.
SUB KELAS TERAPI
Obat yang Mempengaruhi Sistem Imun
FARMAKOLOGI
Menetralkan toksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani dan digunakan untuk
memberikan kekebalan pasif sementara terhadap tetanus, tetapi imunoglobulin tetanus lebih
disukai. (1)
STABILITAS PENYIMPANAN
Disimpan pada suhu 2 - 80C. Daluarsa 2 tahun
EFEK SAMPING
1. Reaksi anafilaktik: jarang terjadi, tetapi bila ada timbulnya dapat segera atau dalam waktu
beberapa jam sesudah suntikan. ;
2. Serum sickness: dapat timbul 5 hari setelah suntikan berupa demam,gatal-gatal, eksantema,
sesak napas dan gejala alergi lainnya ;Sebelum memberi suntikan serum antitetanus dengan
dosis penuh, sebaiknya dilakukan tes hipersensitifitas subkutan terutama bagi mereka yang
mempunyai penyakit alergi (asma, dll).

BENTUK SEDIAAN
Ampul 1 ml (1.500 IU), 2 ml (10.000 IU);Vial 5 ml (20.000 IU)
PERINGATAN
Suatu dosis uji antitoksin tetanus seharusnya selalu diberikan untuk mengenali pasien yang
mungkin mengalami reaksi hipersensitivitas.
MEKANISME AKSI
Menetralkan toksin yang dihasilkan oleh Clostridium tetani dan digunakan untuk
memberikan kekebalan pasif sementara terhadap tetanus, tetapi imunoglobulin tetanus lebih
disukai.
MONITORING
Efek pemberian serum, reaksi hipersensitivitas.

2. Intravena (i.v.), yaitu disuntikkan ke dalam pembuluh darah.


Syarat-syarat yang harus dipenuhi sediaan adalah sebagai berikut :
a. Larutan dalam volume kecil (dibawah 5 ml) sebaiknya isotonis dan
isohidris, sedangkan volume besar (infuse) harus isotonis dan isohidris;
b. Tidak ada fase absorpsi, Obat langsung masuk ke dalam vena; Onset
of action segera; Obat bekerja paling efisien;
c. Bioavaibilitas 100%;
d. Obat harus dalam larutan air, bila emulsi lemak partikel minyak tidak
boleh lebih besar dari ukuran partikel eritrosit;
e. Sediaan suspensi tidak dianjurkan; Larutan hipertonis disuntikkan
secara lambat, sehingga sel-sel darah tidak banyak berpengaruh;
f. Zat aktif tidak boleh merangsang pembuluh darah, sehingga
menyebabkan hemolisa seperti saponin, nitrit, dan nitrobenzol;
g. Sediaan yang diberikan umumnya sediaan sejati;
h. Adanya partikel dapat menyebabkan emboli;
i. Pada pemberian dengan volume 10 ml atau lebih, sekali suntik harus
bebas pirogen.
Contohnya, injeksi ampicilin 500 mg, 1 gram, infuse Sodium chloride
0,9 % 25 ml, 50 ml, 500 ml.

AMPICILLIN 500 MG
Indikasi:
Ampisilina digunakan untuk pengobatan: Infeksi saluran pernafasan,seperti pneumonia
faringitis, bronkitis, laringitis. Infeksi saluran pencernaan, seperti shigellosis, salmonellosis.
Infeksi saluran kemih dan kelamin, seperti gonore (tanpa komplikasi), uretritis, sistitis,
pielonefritis. Infeksi kulit dan jaringan kulit. Septikemia, meningitis.
Kontra Indikasi:
Hipersensitif terhadap penisilina.
Komposisi:
Tiap captab mengandung Ampisilina Trihidrat setara dengan Ampisilina Anhidrat 500 mg.

Cara Kerja:
Ampisilina termasuk golongan penisilina semisintetik yang berasal dari inti penisilina yaitu
asam 6-amino penisilinat (6-APA) dan merupakan antibiotik spektrum luas yang bersifat
bakterisid.
Secara klinis efektif terhadap kuman gram-positif yang peka terhadap penisilina G dan
bermacam-macam kuman gram-negatif, diantaranya :
1.Kuman gram-positif seperti S. pneumoniae, enterokokus dan stafilokokus yang tidak
menghasilkan penisilinase.
2.Kuman gram-negatif seperti gonokokus, H. influenzae, beberapa jenis E. coli, Shigella,
Salmonella dan P. mirabilis.
Dosis:
Untuk pemakaian oral dianjurkan diberikan sampai 1 jam sebelum makan.
Cara pembuatan suspensi, dengan menambahkan air matang sebanyak 50 ml, kocok sampai
serbuk homogen. Setelah rekonstitusi, suspensi tersebut harus digunakan dalam jangka waktu
7 hari.
Pemakaian parenteral baik secara i.m. ataupun i.v. dianjurkan bagi penderita yang tidak
memungkinkan untuk pemakaian secara oral.
Cara pembuatan larutan injeksi:
Kemasan Cara pemakaian Penambahan air untuk injeksi
Vial 0,5 g i.m./i.v. 1,5 ml
Vial 1,0 g i.m./i.v. 2,0 ml
Posologi:
Terapi oral
Dewasa dan anak-anak dengan berat badan lebih dari 20 kg :
Infeksi saluran pernafasan : 250 - 500 mg setiap 6 jam.
Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 500 mg setiap 6 jam.
Anak-anak dengan berat badan 20 kg atau kurang : 50 - 100 mg/kg BB sehari diberikan
dalam dosis terbagi setiap 6 jam.
Pada infeksi yang berat dianjurkan diberikan dosis yang lebih tinggi.
Terapi parenteral
Dewasa dan anak-anak dengan berat badan lebih dari 20 kg :
Infeksi saluran pernafasan, kulit dan jaringan kulit : 250 - 500 mg setiap 6 jam.
Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 500 mg setiap 6 jam.
Septikemia dan bakterial meningitis : 150 - 200 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 3
- 4 jam, diberikan secara i.v. selama 3 hari selanjutnya secara i.m.
Anak-anak dengan berat badan 20 kg atau kurang:
Infeksi saluran pernafasan, kulit dan jaringan kulit : 25 - 50 mg/kg BB sehari dalam dosis
terbagi setiap 6 jam.
Infeksi saluran pencernaan, saluran kemih dan kelamin : 50 - 100 mg/kg BB sehari dalam
dosis terbagi setiap 6 jam.

Septikemia dan bakterial meningitis : 100 - 200 mg/kg BB sehari dalam dosis terbagi setiap 3
- 4 jam, diberikan secara i.v. selama 3 hari selanjutnya secara i.m.
Bayi berusia 1 minggu atau kurang :
25 mg/kg BB secara i.m./i.v. setiap 8 - 12 jam.
Bayi berusia lebih dari 1 minggu :
25 mg/kg BB secara i.m./i.v. setiap 6 - 8 jam.
Efek Samping:
Pada beberapa penderita, pemberian secara oral dapat disertai diare ringan yang bersifat
sementara disebabkan gangguan keseimbangan flora usus. Umumnya pengobatan tidak perlu
dihentikan. Flora usus yang normal dapat pulih kembali 3 - 5 hari setelah pengobatan
dihentikan.
Gangguan pada saluran pencernaan seperti glossitis, stomatitis, mual, muntah, enterokolitis,
kolitis pseudomembran.
Pada penderita yang diobati dengan Ampisilina, termasuk semua jenis penisilina dapat timbul
reaksi hipersensitif, seperti urtikaria, eritema multiform. Syok anafilaksis merupakan reaksi
paling serius yang terjadi pada pemberian secara parenteral.
Cara Penyimpanan:
Simpan di tempat sejuk dan kering.
HARUS DENGAN RESEP DOKTER