Anda di halaman 1dari 2

BAB IX

PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI KIMIA


Limbah dari suatu pabrik harus diolah sebelum dibuang ke
badan air atau atmosfer, karena limbah tersebut mengandung
bermacam-macam zat yang dapat membahayakan alam sekitar
maupun manusia itu sendiri. Demi kelestarian lingkungan hidup,
maka setiap pabrik harus mempunyai unit pengolahan limbah.
Sumber-sumber limbah di Pabrik Pembuatan Pupuk Amonium
Sulfat dari Gypsum Sintetik Hasil Pengolahan Unit Flue Gas
Desulfurization PLTU ini meliputi :
1. Limbah proses berupa CaCO3 yang berasal dari rotary vacum
filter
2. Limbah cair hasil pencucian peralatan pabrik. Limbah ini
diperkirakan mengandung kerak dan kotoran-kotoran yang
melekat pada peralatan pabrik.
3. Limbah domestik
Limbah ini mengandung bahan organik sisa pencernaan
yang berasal dari kamar mandi di lokasi pabrik, serta limbah
dari kantin berupa limbah padat dan limbah cair.
4. Limbah laboratorium
Limbah yang berasal dari laboratorium ini mengandung
bahan-bahan kimia yang digunakan untuk menganalisa mutu
bahan baku yang dipergunakan dan mutu produk yang
dihasilkan, serta yang dipergunakan untuk penelitian dan
pengembangan proses.
Penanganan limbah pada pabrik pupuk ZA
1. Limbah Proses
Kegunaan dari CaCO3 adalah sebagai bahan baku pabrik
semen. Proses pengolahan Cake CaCO3 basah adalah dengan
tahapan proses sebagai berikut :
1.
Drying
Cake CaCO3 basah dikeringkan dengan menggunakan
rotary dryer dengan setting suhu 90C.
IX-1

IX-2
Bab IX Pengolahan Limbah Industri
Kimia

2. Granulation
Untuk mempermudah handling dan keseragaman
kualitas CaCO3 dibuat dalam bentuk granul di dalam
sebuah granulator. Produk dari granulator kemudian
dibawa ke belt conveyor.
2. Limbah cair
Limbah cair pabrik Ammonium Sulfat sebagian besar
berasal dari flushing peralatan pabrik dengan sedikit asam sulfat
bebas yang bercampur dengan minyak/oli. Limbah cair tersebut
ditampung dalam sump tank kemudian dialirkan menuju kolam
netralisasi dan aerasi. Penambahan kapur atau Ca(OH) 2 dengan
konsentrasi tertentu dalam kolam netralisasi untuk menjaga pH
sekitar 6,5-8,5 yang merupakan pH ideal untuk pertumbuhan
mikroorganisme dan membantu dalam pengendapan sludge.
Kolam netralisasi ini berbentuk silindris sehingga dapat
memudahkan proses pengadukan selama proses netralisasi dan
agar pH air limbah merata. Pengadukan dibantu oleh alat
deareator yang ditambahkan pada kolam netralisasi. Upaya
tersebut membuat air limbah yang keluar dari kolam netralisasi
sudah memenuhi standar untuk dibuang.

Program Studi
Pabrik Pupuk Ammonium sulfat
DIII
Teknik
Kimia
FTI-ITS Kelapa
(ZA) dari Gypsum,
CO
,
Amonia
2
Pabrik Xylitol dari Limbah Tandan
Kosong
dan
Asam
Sulfat
dengan
Sawit dengan Proses Hidrolisis Enzim Xilanase
Menggunakan Proses Merseburg