Anda di halaman 1dari 69

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pengoperasian beberapa unit pembangkit dalam suatu pusat


pembangkit memerlukan manajemen yang baik. Khususnya dalam
pembebanan dan jumlah daya yang harus disumbangkan oleh suatu unit
pembangkit atau suatu pusat pembangkit ke dalam sistem harus diatur
dengan

baik.

Manajemen

pengoperasian

yang

ekonomis

dapat

menghemat biaya produksi daya terutama biaya bahan bakar.


Dalam pengoperasian sistem untuk keadaan beban bagaimanapun,
sumbangan daya dari suatu pusat pembangkit dan dari setiap unit pada
pusat pembangkit tersebut harus ditentukan sedemikian rupa sehingga
biaya daya yang diserahkan menjadi minimum (William D. Stevenson, Jr.
1983).
Menurut daftar inventarisasi mesin pembangkit tenaga listrik yang
beroperasi secara terus menerus selama 24 jam pada sistem kelistrikan
Sulawesi selatan terdapat sebelas pusat pemabangkit yang menyuplai
daya ke sistem pada saat beban puncak yang terjadi pada tanggal 20 mei
2010, yaitu PLTA Bakaru, PLTD Suppa, PLTGU Sengkang, PLTA Bili-bili,
Pembagkit Tello, PLTD Palopo dan PLTD Makale, PLTD Arena, PLTD
Matekko, dan PLTD Agrego.

Masing-masing pusat pembagkit tersebut terdapat beberapa unit


mesin pembangkit yang bekerja secara paralel dalam menyuplai sistem
Sulawesi selatan, dimana total daya output dari setiap unit mesin
pembangkit akan terpusat pada sebuah bus.
Untuk PLTA Bakaru terdapat dua unit mesin pembangkit masing-masing
Bakaru 1 dengan daya mampu 62,76 MW dan Bakaru 2 dengan daya
mampu 62,54 MW. Untuk PLTD Suppa terdapat satu unit mesin
pembangkit yaitu Suppa1 dengan daya mampu 60 MW. Untuk PLTGU
Sengkang terdapat satu unit pembangkit yaitu energi sengkang dengan
daya Mampu 192 MW. Untuk PLTA Bili-bili terdapat dua unit mesin
pembangkit yaitu Bili-bili 1 dengan daya mampu 5,8 MW dan Bili-bili 2
dengan daya Mampu 13,7 MW. Untuk Pembagkit tello terdapat lima belas
unit pembangkit yaitu tello1(PLTU), tello2 (PLTU) dengan daya mampu 9
MW, tello3 (PLTG) dengan daya mampu 12 MW, tello4 (PLTG) dengan
daya mampu 15,5 MW, tello5 (PLTG) dengan daya mampu 15 MW, tello6
(PLTG) dengan daya mampu 27 MW, tello7 (PLTG) dengan daya mampu
30 MW, Tello8 (PLTD) dengan daya mampu 9 MW, Tello9 (PLTD) tidak
beroperasi,tello10 (PLTD) dengan daya mampu 9 MW, tello11 (PLTD)
dengan daya mampu 9 MW, ditambah tiga unit mesin sewa yaitu PLTD
sewatama tello1 dan 2 serta PLTD cogindo tello. Untuk PLTD Palopo
terdapat 15 unit mesin pembagkit, dan untuk PLTD Makale terdapat enam
unit mesin pembangkit.

Perioritas pengoperasian unit-unit mesin pembangkit pada sistem


sulsel dalam menanggung beban sistem adalah berdasarkan BPP [Biaya
Pokok Produksi (Rp/kWh)] dari tiap unit mesin pembangkit. Nilai BPP dari
suatu

pusat

pembangkit

memproduksi satu

manyatakan

biaya

bahan

kWh. Dengan demikian pusat

bakar

untuk

pembangkit yang

mempunyai BPP yang lebih rendah akan dioperasikan lebih dahulu


sebelum pusat pembangkit yang mempunyai BPP lebih tinggi.
Sekarang

yang

menjadi

pertanyaan

adalah

apakah

biaya

pemakaian bahan bakar ini dapat ditekan (sehingga lebih kecil) dengan
mengganti metode penjadwalan operasi? Inilah yang menjadi pokok
permasalahan dalam penelitian ini, yakni dengan menggunakan metode
penjadwalan operasi unit-unit pembangkit berdasarkan Incremental
Production Cost (IPC).
B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan identifikasi masalah-masalah yang


telah dikemukakan, maka permasalahan yang dapat dirumuskan yaitu:
1. Berapakah besar daya yang harus dibangkitkan oleh tiap-tiap pusat
pembangkit yang beroperasi di wilayah SULSEL dalam menanggung
beban maksimum dengan biaya operasi paling minimum?
2. Berapakah

total

biaya

operasi

pusat-pusat

pembangkit

yang

dikeluarkan dalam menanggung sejumlah beban tersebut?


3. Berapa besar rugi-rugi daya total sistem setelah penjadwalan
pembagkitan?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :


1. Untuk mengetahui besarnya daya yang harus dibangkitkan oleh tiaptiap unit mesin pembangkit yang beroperasi di wilayah SULSEL dalam
menanggung beban maksimum dengan biaya operasi paling minimum.
2. Untuk mengetahui total biaya operasi yang dikeluarkan dalam
menanggung sejumlah beban tersebut.
3. Untuk

mengetahui

besar

rugi-rugi

daya

total

sistem

setelah

penjadwalan pembagkitan.

D. Manfaat Penelitian
Dengan rampungnya penelitian ini diharapkan memiliki manfaat
sebagai berikut :
1. Sebagai bahan masukan bagi PT. PLN (Persero) dalam sistem
pengoperasian ekonomis pembangkit tenaga listrik yang dijadikan
sebagai sampel.
2. Memberi sumbangsi konseptual baik pada akademisi maupun praktisi
listrik dalam upaya meningkatkan efektifitas pembangkitan tenaga listrik
khususnya diwilayah Sulawesi selatan.
3. Sebagai literatur bagi para peneliti lain yang ingin megkaji lebih dalam
tentang kendali sistem tenaga.

E. Ruang Lingkup dan Batasan Penelitian

Penelitian ini membahas tentang penggunaan metode penjadwalan


operasi unit-unit pembangkit yang berada dalam wilayah sistem Sulawesi
Selatan berdasarkan Incremental Production Cost (IPC), dengan dengan
batasan-batasan sebagai berikut :
1. Optimasi dihitung pada saat terjadi beban puncak Maksimum.
2. Semua pembangkit yang beroperasi pada suatu bus dianggap sebagai
sebagai sebuah pembangkit.
3. Setiap pembangkit masih beroperasi dalam batas-batas daya reaktif
yang diizinkan.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Sistem Operasi Ekonomis

Pembangkitan energi listirik harus efektif dan efisien. Efektif artinya


energi listrik yang dibangkitkan harus sesuai dengan kebutuhan,
sedangkan efisien artinya energi listrik yang dibangkitkan harus
menggunakan biaya operasi sehemat mungkin. Hal ini dilakukan karena
dua faktor, yang pertama permintaan beban yang semakin meningkat dari
waktu ke waktu sementara kapasitas pembangkit sangat terbatas dan
tidak bisa ditambah setiap saat, dan yang kedua sumber energi alam
seperti minyak dan batu bara persediaannya semakin menipis.
Oleh sebab itu, selain dengan terus menambah kuantitas dan
kapasitas pembangkit tenaga listrik, serta mencari sumber energi
terbarukan, perlu juga diupayakan adanya strategi operasi ekonomis pada
unit-unit atau pusat-pusat pembangkit listrik. Hal ini penting agar unit-unit
pembangkit dapat menjaga kontinuitas penyediaan energi listrik namun
dengan biaya operasi yang dapat ditekan sekecil mungkin.

B.

Perencanaan Pengoperasian Sistem Tenaga Listrik

Keadaan sistem tenga listrik adalah keadaan yang dinamis. Tidak


ada satu kondisi yang dapat berlangsung terus menurus. Contohnya
kondisi beban yang tidak pernah stabil, dalam satu kondisi tertentu beban
mengalami kenaikan namun dalam kondisi yang lain beban tiba-tiba turun
sesuai dengan kondisi beban yang ada. Tetapi kondisi yang dinamis
tersebut akan membentuk suatu pola yang dapat diteliti dan dipelajari
sehingga memungkinkan operator untuk membuat suatu pola operasi
yang fleksibel. Dengan adanya perencanaan operasi yang baik, maka
kegiatan pengawasan relatif tidak perlu dilakukan. Perencanaan operasi
sendiri mencakup bagaimana suatu sistem diopersaikan dalam jangka
waktu tertentu. Dalam perencanaan operasi itulah teknik-teknik optimasi
operasi yang terbaik perlu diaplikasikan sehingga dapat menekan biaya
operasi sekecil mungkin namun dengan kualitas energi listrik yang baik.
Hal ini penting karena biaya operasi adalah biaya terbesar dari biaya
keseluruhan yakni 70% dari biaya-biaya keseluruhan (Deni Almanda,
1998, www.elektroindonesia.com)

C. Optimasi dan Karakteristik Unit Pembagkit Tenaga Listrik


1. Optimasi Pembangkit Tenaga Listrik
Operasi ekonomis adalah proses pembagian atau penjatahan
beban total kepada masing-masing unit pembangkit, seluruh unit
pembangkit dikontrol terus-menerus dalam interval waktu tertentu

sehingga

dicapai

pengoperasian

yang

optimal,

dengan

demikian

pembangkitan tenaga listrik dapat dilkukan dengan cara yang paling


ekonomis.
Konfigurasi pembebanan atau penjadwalan pembangkit yang
berbeda dapat memberikan biaya operasi pembangkit yang berbeda pula,
tergantung dari karakteristik masing-masing unit pembangkit yang
dioperasikan. Ada beberapa metode dalam penjadwalan pembagkit dalam
usaha menekan biaya operasi, yakni :
a. Berdasarkan Umur Pembangkit
Pada metode ini, dengan asumsi bahwa unit-unit pembangkit yang baru
mempunyai efisiensi yang lebih tinggi, maka unit-unit pembangkit yang
baru dibebani sesuai dengan rating kapasitasnya, dan unit-unit yang
tua (efisiensi lebih rendah) memikul beban sisanya.
b. Berdasarkan Rating (daya Guna) Pembagkit
Pembagian beban diantara unit-unit pembangkit sebanding dengan
rating kapasitasnya, yaitu dengan meningkatnya beban maka daya
akan dicatu oleh unit yang paling berdaya guna hingga titik daya guna
maksimum unit itu dicapai. Kemudian untuk peningkatan beban
selanjutnya, unit berikutnya yang paling berdaya guna akan mulai
beroperasi pada sistem, dan unit ketiga tidak dioperasikan sebelum titik
daya guna maksimum unit kedua telah tercapai.
c. Berdasarkan Kriteria Peningkatan Biaya Produksi yang sama ( Equal
Incremental Cost)

Pengurangan beban pada unit dengan biaya tambahan paling tinggi


akan menghasilkan suatu pengurangan biaya yang lebih besar
daripada peningkatan biaya untuk menambahkan sejumlah beban yang
sama pada unit dengan biaya tambahan yang lebih rendah.
Pemindahan beban dari satu unit ke unit yang lain dapat menghasilkan
pengurangan biaya pengoperasian total sehingga biaya pengoperasian
tambahan dari kedua unit sama (equal incremental cost). Dengan jalan
yang sama dapat diperluas untuk pengoperasian unit pembagkit pada
stasiun yang mempunyai lebih dari dua unit pembangkit. Jadi patokan
untuk pembagian beban yang ekonomis antara unit-unit di dalam suatu
stasiun adalah semua unit-unit pembangkit harus bekerja dengan biaya
pengoperasian tambahan yang sama. Jika keluaran stasiun akan
dinaikkan, biaya tambahan dengan masing-masing unit bekerja juga
akan naik, tetapi harus sama untuk semua unit.
2. Pemilihan Metode Optimasi
Sekarang metode yang berdasarkan umur pembangkit dan rating
pembangkit tidak dipakai lagi, karena penjadwalannya tidak berdasarkan
kriteria ekonomis. Pembebanan yang lebih besar pada pembangkit yang
lebih baru dan daya guna yang lebih tinggi tidak akan menghasilkan biaya
pengoperasian yang lebih minimum.
Metode

yang

sering

digunakan

sekarang

adalah

metode

peningkatan biaya prodeksi yang sama bagi setiap unit. Metode ini lebih

10

baik karena solusinya berdasarkan kriteria ekonomis, yaitu biaya


pembangkitan (pengoperasian) minimum.
Permasalahan yang dihadapi pada jadwal kerja terdiri dari 2 (dua)
masalah yang saling berkaitan, kedua masalah tersebut adalah :
1. Unit Commitemnt, yaitu penentuan kombinasi unit-unit pembangkit
yang bekerja dan tidak perlu bekerja pada suatu periode untuk
memenuhi kebutuhan beban sistem pada periode tersebut dengan
biaya yang ekonomis.
2. Economic Dispatch, yaitu menentukan keluaran masing-msing unit
yang bekerja dalam melayani beban, pada batas minimum dan
maksimum keluarannya, untuk meminimalisasi rugi-rugi saluran dan
biaya produksi.
3. Jenis dan Karakteristik Pembangkit Tenaga Listrik
a. Jenis - Jenis Pembangkit
Menurut proses pembangkit memperoleh sumber daya, maka
pembangkit tenaga listrik dapat dibagi menjadi :
1) Pembagkit listrik tenaga termal (Termal power plant)
2) Pembagkit listrik tenaga kimia (Chemical power plant)
3) Pembagkit listrik tenaga air (Water power plant)
4) Pembagkit listrik tenaga angin (Wind power plant)
Unit pembangkit termal dapat diartikan sebagai pembangkit
listrik dengan penggerak mula (prime mover) menggunakan siklus
panas, jenis pembangkit termal tersebut adalah :

11

1. Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD)


2. Pembangkit listrik tenaga Uap (PLTG)
3. Pembangkit Listrik tenaga Uap (PLTU)
Dalam tulisan ini, yang dibahas adalah unit pembangkit termal,
mengingat bahwa perhitungan penjadwalan pembangkitan ekonomis
didasarkan pada kriteria pembangkitan optimal, selain itu unit-unit termal
umumnya dioperasikan untuk memikul beban puncak, sedangkan unit
pembangkit hydro banyak dipakai untuk memikul beban dasar.
b. Karakteristik Masukan- Keluaran
Masukan pada pembangkit termal adalah bahan bakar dan
dinyatakan

dalam

satuan

kalor/jam

atau

BTU/Jam.

Sedangkan

keluarannya adalah besar daya yang dibangkitkan oleh unit tersebut dan
dinyatakan dalam Megawatt (MW). Hubungan masukan keluaran suatu
unit pembangkit termal dapat digambarkan dalam bentuk kurva di bawah
ini :

Gambar 1. Karakteristik masukan-keluaran

12

Gambar 1. melukiskan karakteristik masukan - keluaran dari suatu


unit pembangkit termal, dimana pada karakteristik tersebut terlihat adanya
ripple, disebabkan karena adanya pengaruh katub-katub (valve) pada
saat pembukaan katub governor. Biasanya pengaruh katub-katub ini
diabaikan dan karakteristik tersebut dapat didekati oleh sebuah kurva,
yang disebut kurva masukan keluaran, yang dinyatakan sebagai fungsi
polinomial, seperti terlihat pada gambar 2 dibawah ini :

Gambar 2. Kurva pendekatan masukan keluaran


Bentuk fungsi kurva masukan keluaran pembangkit termal dinyatan
sebagai berikut :
F

f ( p) ........................................................................................

(1)

Diamana :
F = masukan (kalori/jam atau BTU/jam)
P = keluaran (MW atau MJ/S)
Untuk membangkitkan daya sebesar P1 (MW) selama satu jam dibutuhkan
bahan bakar sebesar F1 (BTU).

13

Kurva masukan keluaran suatu unit pembangkit termal dapat diperoleh


melalui beberapa cara, yaitu :
1. Pengetesan karakteristik (performance testing).
2. Berdasarkan data operasi (operating record).
3. Berdasarkan data dari pabrik (manufactures guarantee data).
Cara pertama merupakan cara yang paling teliti dan baik akan
tetapi sangat mahal. Cara kedua dapat digunakan dengan baik, karena
pengukuran nilai kalor (BTU) yang terkandung dalam bahan bakar relative
mudah dilakukan. Sedangkan cara ketiga sangat mudah dilakukan karena
tinggal melihat data yang diberikan oleh pabrik. Cara ini tepat untuk
sebuah pembangkit yang masih baru.
Pembahasan penjadwalan ekonomis yang diperlukan adalah
karakteristik yang menggambarkan hubungan antara jumlah bahan bakar
terhadap daya pembangkitan.
c. Efisiensi Unit Pembagkit
Dari hubungan antara masukan dan keluaran sebuah unit
pembangkit dapat didefinisikan besarnya efisiensi unit tersebut untuk
kondisi daya yang dibangkitkan. Efisiensi merupakan perbadingan antara
besarnya daya yang dibangkitkan dengan masukan yang diberikan.
Apabila daya yang dibangkitkan memiliki satuan Watt dan masukan yang
diberikan memiliki satuan kalori/jam maka dalam mencari efisiensi, satuan
keluaran dan masukan harus disamakan.

14

1 kalori/jam = 4,186 joule/jam = 4,186 x 1 W S/jam = 4,186 W S/(3600 S),


maka 1 kalori/jam = 1,1627 x 10-3 Watt.
Satuan dari efisiensi dinyatakan dalam %.
Rumus efisiensi unit pembangkit (setelah satuan F dikonversi kedalam
satuan P) adalah :
P
..........................................................................................
F

Dimana :
= efisiensi
P = Daya output
F = Bahan Bakar
Kurva efisiensi dapat dilihat pada gambar 3 di bawah ini :

Gambar 3. Efisiensi unit pembagkit

(2)

15

d. Karakteristik Perbandingan Masukan Keluaran


Karakteristrik perbandingan masukan keluaran yang disebut juga
dengan Heat Rate (HR) adalah karakteristik yang menggambarkan
perbandingan antara masukan dan keluaran. Jadi HR merupakan cara
lain untuk mengetahui besarnya efisiensi dari sebuah unit pembangkit
ketika unit itu membangkitkan daya tertentu. Semakin kecil harga HR
berarti semakin baik efisiensi dari unit tersebut. HR dapat dirumuskan
dengan:
HR

F
( Btu / MWjam ) ..................................................................
P

(3)

Gambar. 4 merupakan karakteristik perbandingan masukan keluaran.


Dari gambar tersebut dapat dilihat bahwa untuk membangkitkan daya
listrik sebesar P1 MW selama 1 jam, dibutuhkan energy bahan bakar
sebesar HR1 Btu per 1 MW daya yang dibangkitkan.

Gambar 4 Karakteristik perbadingan masukan keluaran

16

e. Karakteristik Kenaikan Biaya Produksi


Kenaikan biaya-biaya produksi (incremental production cost) di
definisikan sebagai perubahan biaya bahan bakar yang terjadi bila terjadi
perubahan daya listrik yang dibangkitkan. Dari gambar 2, jika daya yang
dibangkitkan oleh unit bertambah sebesar
penambahan pada masukan sebesar

P2

P1 , maka diperlukan

F , yaitu F2

F1 atau dengan kata

lain, bila keluaran unit pembangkit berubah, maka biaya bahan bakar turut
berubah pula. Perubahan jumlah bahan bakar yang terjadi karena
perubahan keluaran, didefinisikan sebagai IR (Incremental Rate) ,
persamaan matematisnya adalah:
IR

F
P

Jika harga
IR

menjadi sangat kecil akan dicapai limit sehingga:

dF
.......................................................................................
dP

(4)

Jadi IR diperoleh dengan mendifrensir persamaan masukan keluaran


(P).
Bila persamaan F dari gambar 2 didifrensir terhadap P, akan dihasilkan
gambar 5, yaitu gambar grafik IR sebagai fungsi P.

17

Gambar 5. IR sebagai fungsi P


Dari persamaan (4) :

dF

IRdp

dF

IRdP
P1

F1

F0

I .RdP dan
P0

P2

F2

F1

I .RdP
P1

Luas

bidang

dibawah

garis

IR

menunjukkan

banyaknya

penambahan energi bahan bakar yang diperlukan untuk mengatasi


kenaikan daya keluar unit pembangkit. Sebagai contoh, F 2 F1 adalah
banyaknya bahan bakar yang dibutuhkan jika daya keluar naik dari P 1
menuju P2, sedangkan F1 F0 merupakan penambahan bahan bakar jika
daya keluar naik dari P0 menuju P1.

18

f. Heat Rate (HR) Minimum


Dengan mengetahui karakteristik karakteristik operasi unit
pembangkit dapat ditentukan pada kondisi daya keluar berapa unit
tersebut beroperasi paling ekonomis (efisiensi maksimum). Bila grafik HR
sebagai fungsi P dan juga grafik IR sebagai fungsi P dibuat dalam satu
buah gambar seperti tampak pada gambar 2.6, maka dapat ditentukan
berapa harga P tersebut agar HR minimum

Gambar 6. Grafik HR dan IR sebagai fungsi P


Dari definisi : HR

d ( HR)
dP

d ( F / P)
dP

F
P
PdF FdP
P2

Syarat agar HR minimum ,

d ( HR)
dP

0 , sehingga

PdF FdP
P2

0 , maka :

PdF FdP 0 , maka diperoleh


dF
dP

F
atau, IR = HR
P

Jadi titik potong antara grafik HR dan IR, yaitu pada saat HR = IR,
merupakan pembangkitan yang paling efisien.

19

D. Area Penyaluran dan Pengaturan Beban (AP2B)


Untuk terus memantau keadaan tenaga listrik yang dinamis
khususnya dalam masalah jumlah beban yang harus disuplai dan
kemampuan sistem untuk menyuplai beban tersebut, maka dibentuklah
Area Penyaluran dan Pengaturan Beban (AP2B). Dengan adanya AP2B
maka kondisi real time sistem tenaga listrik dapat dipantau secara terus
menerus, hal ini penting untuk menjaga kelangsungan penyediaan energi
listrik. Selain itu AP2B juga bertugas untuk mengatur pembagian beban
yang harus ditanggung oleh tiap-tiap unit dalam suatu pusat pembangkit
atau tiap-tiap pusat pembangkit dalam suatu sistem tenaga listrik.
Dalam hubunganya dengan perencanaan operasi dan sistem
operasi

ekonomis,

AP2B

berperan

sebagai

jembatan

untuk

menghubungkan antara perencanaan operasi yang dibuat dengan kondisi


real time di lapangan. Dengan demikian jika sewaktu-waktu terjadi
perubahan

kondisi

sistem

diluar

perencanaan

yang

ditetapkan

sebelumnya, maka hal tersebut dapat diidentifikasi lebih dini sehingga


dapat dilakukan penyesuaian operasi terhadap perubahan yang terjadi.
Selain itu pembagian beban yang dilaksanakan oleh AP2B menggunakan
teknik-teknik optimasi sehingga pembagian beban di antara unit benarbenar memperhatikan ekonomisasi biaya produkasi energi listrik. Dengan
adanya AP2B, maka ekonomis dan sekuritas operasi dapat dicapai dalam
tiap pelaksanaan operasi. Sekuritas artinya kemampuan sistem tenaga
listrik untuk bertahan dalam menanggung sejumlah beban.

20

E. Teknik Distribusi Beban Berdasarkan Incremental Production


Cost
Incremental production cost atau biaya produksi tambahan suatu
unit

untuk

setiap

keluaran

daya

yang

ditetapkan,

adalah

limit

perbandingan kenaikan biaya masukan produksi dalam Rupiah per jam


terhadap kenaikan keluaran daya yang bersesuaian dalam megawatt
pada saat kenaiakan keluaran daya mendekati nol (William D. Stevenson
Jr., 1983). Biaya produksi tambahan yang mendekati kebenaran dapat
diperoleh dengan menentukan biaya produksi yang meningkat untuk suatu
selang waktu tertentu di mana keluaran daya yang ditingkatkan sedikit.
Misalnya, biaya tambahan pendekatan pada setiap keluaran daya tertentu
adalah biaya tambahan dalam Rupiah per jam untuk meningkatkan
keluaran dengan 1 MW.
Pendistribusian beban berdasarkan biaya produksi tambahan
antara setiap dua unit adalah pertimbangan apakah menaikkan beban
salah satu unit pada saat beban unit lain diturunkan dengan jumlah yang
sama, akan mengakibatkan suatu kenaikan atau penurunan biaya total.
Biaya total operasi meliputi biaya bahan bakar utamanya, gaji pegawai,
biaya komponen-komponen pendukung, dan biaya pemeliharaan. Biayabiaya tersebut diasumsikan menjadi bagian dari biaya produksi (Hadi
Saadat, 1999). Sebagai contoh bila suatu unit pembangkit termal keluaran
dayanya adalah 300 MW, biaya tambahan yang ditentukan dari suatu
jenis pendekatan adalah Rp125.000,- per megawatt jam-nya. Maksud dari

21

nilai ini adalah untuk menaikkan daya unit pembangkit termal tersebut
sebesar 1 MW maka dibutuhkan biaya tambahan per jam sebesar
Rp125.000,-. Jika hendak menurunkan daya unit pembangkit termal
tersebut sebesar 1 MW maka terjadi pengurangan biaya per jam sebesar
Rp125.000,-.
Demikianlah dasar-dasar untuk memahami distrubusi beban
antara unit-unit dalam suatu pusat pembangkit yang memperhitungkan
biaya produksi tambahan. Misalkan keluaran total suatu pusat pembangkit
dicatu oleh dua unit dan pembagian beban antara kedua unit adalah
sedemikian sehingga unit yang satu mempunyai biaya produksi tambahan
yang lebih tinggi dari unit yang lain. Dan misalkan dilakukan pemindahan
sebagian beban dari unit yang mempunyai biaya produksi yang lebih
tinggi ke unit yang mempunyai biaya produksi yang lebih rendah.
Pengurangan beban pada unit yang mempunyai biaya produksi tambahan
lebih tinggi akan menghasilkan suatu pengurangan biaya yang lebih besar
dari pada peningkatan biaya untuk menambahkan sejumlah beban yang
sama pada unit dengan biaya tambahan yang lebih rendah. Pemindahan
beban dari satu unit ke unit yang lain dapat diteruskan dengan suatu
pengurangan dalam biaya produksi total sehingga biaya-biaya produksi
tambahan dari keuda unit itu adalah sama. Jika keluaran stasuin
dinaikkan, biaya tambahan dengan mana masing-masing unit bekerja juga
akan naik tetapi harus tetap sama untuk semuanya (William D. Stevenson
Jr.,1983).

22

F. Kurva Bahan Bakar


Kurva

bahan

bakar

adalah

kurva

masukan-keluaran

unit

pembangkit yang merupakan pemetaan (plot) antara keluaran dari unit


dalam megawatt versus masukan unit dalam Rupiah per jam yang
diperoleh dari hasil kali masukan bahan bakar dengan biaya bahan bakar
dalam Rupiah per juta Btu.

Gambar 7. Kurva Bahan Bakar


Jika suatu garis lurus ditarik melalui titik asal ke setiap titik pada
kurva masukan-keluaran tersebut, kebalikan kemiringan (slope) dapat
dinyatakan dalam megawatt dibagi dengan masukan dalam juta Btu per
jam, atau sebagai perbandingan keluaran energi dalam megawattjam
terhadap masukan bahan bakar dalam jutaan Btu. Perbandingan ini
adalah daya guna bahan bakar. Daya guna bahan bahan bakar adalah
banyakya energi yang dapat dihasilkan dalam megawattjam dalam setiap

23

Btu-nya. Daya guna maksimum terjadi pada suatu titik dimana kemiringan
garis lurus dari titik asal ke suatu titik pad garis kurva tersebut minimum,
yaitu pada titik dimana garis lurus menyinggung kurva.
Kebutuhan bahan bakar adalah jumlah bahan bakar yang
diperlukan untuk membangkitkan energi setiap megawattjam-nya atau
perbandingan antara masukan bahan bakar dalam jutaan Btu terhadap
keluaran

energi

dalam

megawattjam.

Misalnya

pada

suatu

unit

pembangkit daya guna maksimumnya terjadi pada keluaran 280 MW,


yang memerlukan masukan sebesar 2,8 X 109 Btu/jam. Kebutuhan bahan
bakarnya adalah 10,0 X 106 Btu/MWh. Kebutuhan bahan bakar untuk
suatu keluaran tertentu dapat diubah menjadi Rupiah per megawattjam.
G. Kurva Biaya Bahan Bakar Tambahan (Incremental Fuel Cost).
Biaya bahan bakar tambahan (incremental fuel cost) ditentukan
oleh kemiringan kurva masukan-keluaran dari unit-unit yang bekerja. Jika
ordinat-ordinat lengkungan masukan-keluaran dinyatakan dalam rupiah
per jam dan kita misalkan bahwa
Cn =

masukan ke unit n, Rupiah per jam

Pn =

keluaran unit n, MW

Biaya bahan bakar unit tersebut dalam Rupiah per megawatt-nya adalah
dCn/dPn. sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, biaya bahan bakar
tambahan suatu unit untuk setiap daya keluarannya adalah limit
perbandingan kenaikan biaya masukan bahan bakar dalam rupiah per jam

24

terhadap kenaikakan keluaran daya yang bersesuaian dalam megawatt


pada saat kenaikan keluaran daya mendekati nol.

Gambar 8. Kurva Biaya Bahan Bakar Tambahan (Incremental Fuel Cost)


Gambar 8. menunjukkan suatu pemetaan dari biaya bahan bakar
tambahan versus keluaran daya. Gambar ini diperoleh dengan mengukur
kemiringan kurva masukan keluaran pada Gambar 1 untuk bermacammacam nilai keluaran. Gambar 2 menunjukkan bahwa biaya bahan bakar
tambahan mempunyai hubungan yang cukup linier terhadap keluaran
daya untuk suatu daerah yang cukup luas. Untuk menganalisis kurva ini,
dapat didekati dengan satu atau dua garis lurus. Garis terputus-putus
dalam gambar itu merupkan suatu model ideal untuk kurva tersebut.
Persamaan garis itu adalah:

dCi1
dPi

0,0126P 8,9 ..........................................................................

(5)

25

Sehingga bila keluaran dayanya adalah 300 MW, biaya tambahan yang
ditentukan dengan pendekatan linear adalah $ 12,68 atau Rp125.000,per megawattjam. Nilai ini adalah pendekatan untuk biaya tambahan per
jam untuk menaikkan keluaran dengan 1 MW dan penghematan dalam
biaya per jam dalam penurunan keluaran sebesar 1 MW.

H. Perhitungan Pembagian Beban Berdasarkan Incremetal


Production Cost.
1. Biaya Bahan Bakar sebagai Fungsi Kuadrat dari Daya Aktif
Dalam semua kasus praktis , biaya bahan bakar dari generator i
dapat direpresentasikan sebagai sebuah fungsi kuadrat dari daya aktif
yang dibangkitkan. (Hadi Saadat)
Ci

ai

dimana

bi Pi

ci

ci Pi 2 ....................................................................

(6)

= biaya bahan bakar unit pembangkit ke-i (Rp/jam)

Pi = daya output unit pembangkit ke-i (MW)


ai, bi, dan ci, adalah konstanta dari fungsi kuadrat
Konstanta-konstanta ai, bi, dan ci dapat ditentukan berdasarkan
data hasil percobaan atau hasil penelitian, yaitu dengan mengambil
beberapa data Ci yang diperlukan untuk membangkitkan daya nyata
sebesar Pi dari unit pembangkit ke-i selama selang waktu tertentu, dan ai,
bi, dan ci dapat dihitung dari sistem persamaan,

Ci
Pj Ci

n.ai bi
ai

Pj

Pj bi

ci

Pj2

Pj2 ci

Pj3 ........................................

(7)

26

Pj2Ci

ai

Pj2 bi

Pj3 ci

Pj4

dimana j = 1, 2, 3,n, dan n = banyaknya data yang diambil. Dengan cara


ini konstanta ai, bi, dan ci, serta fungsi biaya kuadratis tiap unit pembangkit
dapat diperoleh.
2. Incremental Production Cost
IPC adalah biaya tambahan yang diperlukan untuk membangkitkan
setiap 1 MW setiap jam pada tiap bus pembagkit. Turunan pertama dari
persamaan (1) terhadap daya output,

dCi
dPi

2ci Pi

bi .......................................................................

(8)

disebut Incremental Production Cost (IPC), yaitu hubungan linear, yang


menyatakan biaya tambahan yang diperlukan (Rp/jam) untuk manaikkan
daya output pembangkit ke-i sebesar 1 MW.
Prinsip distribusi beban yang ekonomis antara unit-unit pembangkit
termal di dalam suatu pusat pembangkit adalah bahwa semua unit itu
harus bekerja dengan IPC yang sama, dalam hal ini adalah Incremental
Fuel Cost (IFC) yang sama. (Glover, 2007). Jika keluaran pusat
pembangkit akan dinaikkan, biaya tambahan (incremental production cost)
dari masing-masing unit yang bekerja juga harus naik, tetapi harus tetap
sama untuk semuanya.

27

3. Fungsi Objektif untuk Penjadwalan Pembangkitan


Tujuan pembentukan fungsi objektif adalah untuk memperoleh biaya
pembagkitan total yang diperlukan untuk mensuplai beban total yang
harus ditanggung oleh sistem.
Masalah distribusi beban ekonomis yang paling sederhana adalah
ketika rugi-rugi saluran transmisi diabaikan. oleh sebab itu, model masalah
tidak memperhitungkan konfigurasi sistem dan impedansi jaringan. pada
hakikatnya, model mengasumsikan bahwa sistem hanya terdiri dari satu
bus

dengan

semua

pembangkit

dan

beban

terhubung

padanya

sebagaimana ditunjukkan secara sistematis dalam Gambar 2.9 berikut :

C2

C1

P1

Cn

P2

Pn

Gambar 9. Model Sistem yang Mengabaikan Rugi-Rugi Saluran


Transmisi

Sejak rugi-rugi transmisi diabaikan, total permintaan PD adalah


penjumlahan dari semua pembangkit. Sebuah fungsi biaya C i diasumsikan
akan diketahui untuk tiap unit. Masalahnya adalah mencari pembangkitan

28

daya nyata untuk tiap-tiap unit dengan demikian fungsi objektif (biaya total
produksi) sebagaimana yang didefinisikan oleh persamaan
n

Ct

C1

C2

.......... C n

Ci
i 1

ai

bi .Pi

ci .Pi

...............................................................

i 1

(9)

yaitu jumlah biaya bahan bakar unit pembangkit ke-1, pembangkit ke-2,
sampai pembangkit ke-n harus minimum. Ct adalah biaya produksi total,
Ci adalah biaya produksi dari unit ke-i, Pi adalah daya yang dibangkitkan
dari unit ke-i. Agar biaya bahan bakar minimum, maka harus dipenuhi:

dC1
dP1

dC 2
dP2

,......,

dCi
dPi

...............................................

(10)

artinya semua unit harus bekerja pada biaya bahan bakar tambahan
yang sama atau IPC yang sama dan minimum.
4. Persamaan dan Pertidaksamaan Pembatas
Pertidaksamaan

pembatas

adalah

pertidaksamaan

yang

menyatakan bahwa daya yang dibangkitkan oleh tiap bus pembangkit


tidak lebih kecil dari kemampuan minimum atau tidak lebih besar dari
kemampuan maksimum pembangkit.
Sedangkan

persamaan

pembatas

adalah

persamaan

yang

menyatakan bahwa jumlah daya yang dibangkitkan oleh semua bus


pembangkit sama dengan jumlah beban yang harus ditanggung sistem.
Jika kondisi tersebut tidak terpenuhi maka slack bus akan menyuplai
semua kekurangan dari selisih daya antara jumlah daya beban total yang

29

harus ditanggung sistem dengan jumlah daya total yang harus


dibangkitkan oleh bus pembangkit selain slack bus.
Persamaan pembatas yang harus dipenuhi adalah:
n

PD ...............................................................................

Pi

(11)

i 1

dimana Pi adalah daya yang dibangkit dari unit ke-i, PD adalah total
permintaan, dan ng adalah jumlah total unit-unit pembangkit yang
terdistribusi.
Selain itu ada pertidaksamaan pembatas yang juga harus dipenuhi, yakni:

Pi (min) Pi

Pi (max)

i = 1, 2, 3, , n .......................................

(12)

dimana Pi (min) dan Pi (maks) adalah kemampuan daya minimum dan


maksimum yang dapat dibangkitkan oleh pembangkit ke-i.
5. Persamaan koordinasi
Dari persamaan (8) dapat diperoleh

dCi
dPi

2 ci .Pi

bi

atau Pi

bi
2 ci .........................................

(13)

Persamaan di atas disebut dengan persamaan koordinasi. Fungsinya


adalah untuk menghitung daya yang dibangkitkan oleh setiap pembangkit,
sedangkan

(lambda) adalah Incremental production cost, sedangkan

konstanta a,b,c adalah konstanta-konstanta pada fungsi objektif. Untuk


mendapatkan

nilai

konstanta

tersebut

diperoleh

dengan

cara

menyelesaikan persamaan (7), dimana data yang digunakan dari


persamaan tersebut diperoleh dari data sekunder yang diperoleh dari PLN
berupa data daya rata-rata yang dibangkitkan dan biaya pembangkitan

30

rata-rata perjam yang diperlukan oleh setiap bus pembangkit perbulan


selama 4.5 tahun.
6. Perhitungan rugi rugi daya total akibat rugi-rugi pada saluran
transmisi
Jika jarak saluran transmisi sangat pendek dan kerapatan beban
sangat tinggi, rugi rugi jaringan dapat diabaikan dan pembangkitan daya
yang optimal dicapai untuk seluruh unit pembangkit dengan biaya
produksi tambahan yang sama. Akan tetapi pada sistem besar yang saling
terinterkoneksi, dimana daya ditransmisikan pada jarak yang sangat jauh
ke area dengan tingkat kepadatan beban yang rendah, rugi-rugi transmisi
merupakan faktor utama yang harus diperhitungkan dalam pembangkitan
optimum. Satu persamaan umum untuk memasukkan pengaruh rugi-rugi
transmisi yang menyatakan rugi-rugi transmisi total sebagai fungsi
kuadratis dari daya output generator, dinyatakan oleh persamaan:
ng

Pi

PD

PL ...........................................................................

(14)

i 1

ng

2 i Pi

Bij Pij

Boi

...............................................

(15)

j 1

Atau :
ng
i

Bii Pi

Bij Pj
j 1
j i

1
1 B0i
2

(saadat,Hadi:2002)........

(16)

Selanjutnya persamaan (16) dapat diperluas dalam bentuk matriks seperti


terlihat pada persamaan (17) dibawah ini :

31

B11

B12
2

B21

B22

...

B1n g

1 B01

P1

...

B2 n g

1 1 B02
2

P2

......

(17)

E.P = D ........................................................................................

(18)

Bn g 1

Bn g 2

...

ng

Pn g

Bn g n g

1 B0 n g

ng

Secara singkat persamaan (17) dapat dituliskan dengan:

.............................................................................................................
Untuk memperoleh pembagkitan yang optimal diperlukan nilai awal

(1)

selanjutnya nilai tersebut diselesaikan dengan menggunkan persamaan


(18). Dalam matlab dapat dipakai hubunga P = E\D untuk mendapatkan
daya yang dibagkitkan oleh tiap bus pembagkit. Proses iterasinya dapat
dilihat pada persamaan (19) sampai () berikut ini :
(k )

Pi

(k )

(1 B0i )

(k )

(k )

Bii )

2(

j i

(k )

Bij Pj

.......................................

(19)

Substitusi nilai Pi ke persamaan (14), maka diperoleh :


ng

(k )

(1 B0i )

2(

i 1

(k )

(k )

Bii )

j i

Bij Pj

(k )
(k )

..............................

(20)

........................................................................

(21)

PD

PL

Atau:
f ( )( k )

PD

PL

(k )

Dengan meggunakan deret taylor

nilai lambda pada ruas kiri dari

persamaan (21) dapat diperluar menjadi :


f ( )( k )

Atau :

df ( )
d

(k )
(k )

PD

PL

(k )

..............................................

(22)

32

P(k )

(k )

P(k )
(k )

df ( )
d

(k )

dPi
d

....................................................

(23)

Dimana :
ng

Pi

(k )

ng
i

i 1

(1 Boi ) Bii
2(

i 1

i
(k )

Bii ) 2

j i

Bij Pj

(k )

............................

(22)

Dengan demikian diperoleh nilai lambda k + 1 sebagai berikut :


( k 1)

(k )

(k )

........................................................................

(23)

Dimana :
ng

P (k )

PD

PL

(k )

Pi

(k )

...........................................................

(24)

i 1

P (k ) lebih kecil

Proses iterasi akan terus berlanjut hingga diperoleh nilai


dari nilai tertentu yang ditetapkan. Persamaan (25) berikut ini dipakai
untuk menghitung rugi-rugi daya aktif :
ng

PL

Bii Pi

( 2)

...............................................................................

(25)

i 1

Dengan menggunkan nilai Bij = 0, B00 = 0, dan solusi dari persamaan (19)
dapat disederhanakan sebagai berikut :
(k )

Pi ( k )

2(

(k )
i

Bii )

.....................................................................

(26)

Persamaan (22) juga dapat disederhanakan menjadi :


ng

i 1

Pi

(k )

ng
i
i

1 2(

Bii
(k )

Bii ) 2

.......................................................

(22)

33

Proses di atas yang digunakan dalam MATLAB untuk memperoleh nilai


daya yang dibagkitkan oleh tiap bus Pembagkit, rugi-rugi total sistem dan
biaya total perjam yang dibutuhkan untuk melayani beban sistem.

34

I. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual dari penelitian ini adalah sebagai berikut :


PUSAT-PUSAT PEMBAGKIT PADA SISTEM
KELISTRIKAN SULAWESI SELATAN

JUMLAH BEBAN YANG HARUS DI SUPPLAI

OPTIMASI DENGAN INCREMENTAL


PRODUCTION COST

DISTRIBUSI DAYA YANG HARUS


DIBANGKITKAN OLEH TIAP PUSAT
PEMBAGKIT

BIAYA TOTAL PRODUKSI PALING EKONOMIS

Gambar 10. Kerangka konseptual penelitian

35

BAB III

METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
MULAI

MENGAMATI ALIRAN BEBAN


PADA TAHUN PENGAMATAN
(TAHUN KE-i)

MENGAMATI PEMBAGKIT YANG BEROPERASI


UNTUK MENYUPLAI BEBAN PADA SAAT
TERJADINYA BEBAN PUNCAK TAHUN KE-N

MELAKUKAN PENGAMBILAN DATA BULANAN ENERGI


YANG DIBAGKITKAN DAN LAMA OPERASI SETIAP
PUSAT PEMBAGKIT YANG BEROPERASI SAAT
TERJADINYA BEBAN PUNCAK SELAMA N TAHUN

MELAKUKAN PENGAMBILAN DATA BULANAN BIAYA


PEMBAGKITAN TOTAL SETIAP PUSAT PEMBAGKIT
YANG BEROPERASI SAAT TEJADINYA BEBAN
PUNCAK SELAMA N TAHUN

MENGHITUNG DAYA RATA-RATA


YANG DIBAGKITKAN SETIAP PUSAT
PEMBANGKIT PERTAHUN

MENGHITUNG BIAYA RATA-RATA


PEMBAGKITAN PER JAM PER TAHUN
SETIAP PUSAT PEMBAGKIT

MELAKUKAN ANALISIS REGRESI


UNTUK MENGHITUNG NILAI a,b,c

MEMBENTUK FUNGSI OBJEKTIF


TIAP UNIT PEMBANGKIT

MELAKUKAN OPTIMASI DENGAN METODE


INCREMENTAL PRODUCTION COST

DIPEROLEH RUGI-RUGI DAYA


TOTAL SISTEM TENAGA

DIPEROLEH BIAYA OPERASI


EKONOMIS DARI TIAP PUSAT
PEMBANGKIT

DIPEROLEH DAYA YANG HARUS


DIBANGKITKAN OLEH SETIAP
PUSAT PEMBAGKIT

SELESAI

Gambar 11. Diagram alir rancangan penelitian

36

B. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriftif analitis yang bertujuan


untuk mengetahui teknik operasi ekonomis pembangkit tenaga listrik yang
diterapkan di PT. PLN Wilayah Sulsel dalam pembebanan. Disamping itu
akan dibandingkan dengan suatu teknik operasi ekonomis yang
digunakan oleh penyusun untuk kemudian dianalisis hasilnya.

C. Waktu dan Lokasi Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan pada 27 April 2010 sampai 31 Juni 2010
bertempat di PT. PLN Wilayah Sultanbatara, Unit Pembangkitan I Tello
dan Area Penyaluran dan Pengaturan Beban (AP2B) sistem SULSEL.

D. Variabel dan Defenisi Operasional Variabel


1. Variabel Penelitian
Variabel yang akan diteliti ada dua jenis, yaitu variabel bebas dan
variabel respon. Adapun yang termasuk variabel bebas adalah daya
output unit pembangkit ke-i (Pi) sedangkan yang termasuk variabel respon
adalah biaya operasi unit pembangkit ke-i (Ci).

37

2. Defenisi Operasional Variabel


Definisi operasional yang akan diteliti dapat dikemukakan sebagai
berikut:
a. Daya output unit pembangkit ke-i (Pi), adalah daya yang dibangkitkan
oleh pembangkit ke-i untuk menyuplai beban yang tersambung.
Satuannya adalah kilowatt (kW).
b. Biaya operasi unit pembangkit ke-i (Ci), adalah biaya operasi unit
pembangkit ke-i. diamana satuannya adalah Rupiah (Rp).

E. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:
1. Observasi; adalah teknik pengumpulan data melalui pengamatan
secara langsung dengan menggunakan panca indra. Hal-hal yang
diamati dalam penelitian ini seperti pengamatan besaran kelistrikan
pada panel kontrol, name-plat pada generator, dan unit-unit mesin
pembangkit yang sedang beroperasi.
2. Dokumentasi;

adalah

teknik

pengumpulan

data

dengan

mengumpulkan berkas-berkas atau dokumen-dokumen yang berisi


infomasi yang berkaitan dengan topik penelitian. Hal-hal yang
didokumentasikan dalam penelitian ini seperti data beban tertinggi
pembangkit; data pemakaian bahan bakar; data produksi energi listrik
bulanan tiap unit; data beban (biaya) operasi bulan Januari 2006
sampai bulan mei 2010.

38

3. Wawancara; adalah teknik pengumpulan data dengan melakukan


tanya-jawab secara langsung kepada staf/karyawan yang dianggap
mengetahui informasi yang berkaitan dengan topik penelitian. Dalam
penelitian ini wawancara biasa dilakukan dengan staf bagian operasi;
staf bagian keuangan; dan supervisor unit pembangkit.

F. Teknik Analisis Data


a. Analisis regresi
Analisis regresi digunakan untuk mempelajari cara bagaimana variabelvariabel penelitian berhubungan. Hubungan yang didapat umumnya
dinyatkan dalam bentuk matematik yang menyatakan hubungan
fungsional antar varibel-variabel (Sudjana, 2002)
Aanalisis regresi ini dapat dijabarkan sebagai berikut :
Untuk mendapatkan nilai Pi yang memenuhi persamaan dan
pertidaksamaan pembatas adalah (11) dan (12) dengan suatu nilai
dapat dilakukan dengan cara iterasi yang dijelaskan dalam langkah
demi langkah di bawah ini:
1) Definisikan suatu persamaan yang sama dengan persamaan (11)
dan dapat menggantikannya sebagai persamaan pembatas, yaitu:
n

P (k )

PD

Pi

(k )

.............................................................

(14)

i 1

dimana k = banyaknya iterasi, dan Pi(k) adalah nilai Pi pada


iterasi ke-k

39

2) Perkirakan suatu nilai awal (1), kemudian subtitusi ke persamaan


(8) untuk mendapat nilai Pi(1)
3) Jika Pi(1) belum memenuhi persamaan dan pertidaksamaan
pembatas (11) dan (14), maka nilai yang baru dapat dicoba untuk
iterasi berikutnya, yaitu iterasi ke-(k+1) yang besarnya
( k 1)

(k )

dimana

(k )

(k )

..............................................................................

P (k )
n
1
2ci
i 1

(Saadat, Hadi, 2002) ................

(15)
(16)

(k) adalah nilai yang diperoleh pada iterasi ke-k


4) Subtitusikan nilai yang baru ke persamaan (13) untuk
mendapatkan nilai Pi yang baru.
5) Ulangi langkah 3 dan 4 seterusnya sampai didapat nilai Pi yang
memenuhi pertidaksamaan pembatas (12) dan sampai P(k) lebih
kecil atau sama dengan nilai tingkat kesalahan (galat) yang
diizinkan ().
Untuk melakukan semua perhitungan ini, penggunaan program
computer sangatlah tepat. Untuk memudahkan pembuatan program,
berikut ini diberikan diagram alur urutan penyelesaiannya seperti pada
gambar 12, dibawah ini :

40

Gambar 12. Diagram Alir metode regresi kuadratik

41

b. Analisis fungsi fungsi objektif


Analisis fungsi-fingsi objektif dilakukan dengan cara meminimasi dan
menyelesaikan
persamaan

fungsi-fungsi

koordinasi,

serta

objektif berupa quadratic fuel function,


persamaan

dan

pertidaksamaan

pembatas. Dengan metode ini diperoleh besar daya yang dibangkitkan


oleh tiap unit pembangkit dengan total biaya pembangkitan yang paling
minimum.

42

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Sistem Kelistrikan Sulawesi Selatan


Sistem kelistrikan Sulawesi Selatan dikelola oleh PT PLN (persero)
wilayah Sulawesi selatan, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Barat
(sultanbatara). Sistem kelistrikan ini menyediakan daya listrik untuk
kebutuhan masyarakat yang berada di provinsi Sulawesi selatan, dan
Sulawesi Barat. Saat ini sistem sistem kelistrikan di Sulawesi Selatan
disuplai oleh empat pembangkit utama, yaitu :
1. PLTA Bakaru yang terdiri atas dua generator
2. Pusat pembangkit tenaga listrik Tello di Makassar terdiri dari :
a. PLTD, yang terdiri dari enam generator
b. PLTG, yang terdiri dari 5 generator
c. PLTU, yang terdiri dari dua generator dan dua transformator daya
dua kumparan.
3. PLTGU Sengkang yang terdiri dari tiga generator
4. PLTD Suppa yang terdiri dari enam Generator.
Pusat-pusat pembangkit tersebut tersebar dan terinterkoneksii
melalui saluran transmisi dan saluran distribusi seperti yang terlihat pada
gambar 13. Jumlah bus pada sistem kelistrikan Sulsel saat ini telah
mencapai 37 bus yang saling terinterkoneksi secara loop (melingkar),
dengan total daya terpasang pada sistem sebesar 746,9 MW, sedangkan
daya

mampu

sebesar

550

MW

(AP2B

sistem

sulsel,

2010)

Gambar 13. Single Line diagram sistem sulsel kondisi normal (sumber data AP2B sistem sulsel, 2010)

44

Dari diagram satu garis pada gambar dapat dituliskan penomoran bus
sistem sulsel terinterkoneksi sebagai berikut :

Tabel 1. Penomoran Bus sistem kelistrikan Sulsel terinterkoneksi


No Bus

Nama Bus

Tegangan
(KV)

No Bus

Nama Bus
Daya
Tello
Tello70
Barangloe
Tello(B)
Tello(A)
Barawaja
Tello Lama
Tello Lama70
Bontoala
Panakukang
Tanjung
Bunga
Sungguminasa
Tallasa
Jeneponto
Bulukumba
Sinjai
Bone

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11

Bakaru
Mamuju
Majene
Polmas
Pinrang
Parepare
Sidrap
Makale
Palopo
Soppeng
Sengkang

150
150
150
150
150
150
150
150
150
150
150

20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

12

Suppa

150

31

13
14
15
16
17
18
19

Barru
Pangkep
Pangkep 70
Tonasa3
Maros
Bosowa
Mandai

150
150
70
70
70
150
70

32
33
34
35
36
37

Sumber : Data AP2B sistem sulsel, 2010

Tegangan
(KV)
70
150
70
70
30
30
30
150
70
70
150
150
150
150
150
150
150
150

45

Tabel 2. Data impedansi saluran sistem sulsel


Dari

Ke

Total Impedansi Saluran (p.u.)


R
X
Y/2

1
1
2
2
4
5
5
5
5
7
8
8
9
10
10
10
13
13
15
16
16
17
19
19
21
21
22
23
25
25
25
27
28
28
29
30
32
34

2
4
3
5
5
6
7
8
16
8
9
10
10
11
12
13
14
15
24
17
19
18
20
21
22
23
23
24
26
27
28
28
29
30
30
31
33
36

0.02627
0.03076
0.0263
0.03663
0.01388
0.00393
0.02314
0.04732
0.01002
0.02419
0.0109
0.02382
0.01683
0.00363
0.00236
0.00192
0.00354
0.00485
0.03333
0.03137
0.02821
0.01959
0.01053
0.02289
0.04064
0.07195
0.03131
0.02431
0.01638
0.08188
0.18159
0.13631
0.0342
0.05828
0.02408
0.06069
0.02023
0.12292

0.0944
0.11023
0.09451
0.13159
0.04974
0.01413
0.0829
0.16958
0.03599
0.8667
0.03919
0.08535
0.06049
0.013
0.00848
0.01318
0.02128
0.03324
0.11974
0.18876
0.10138
0.07038
0.06335
0.08153
0.14603
0.25851
0.11249
0.08733
0.03006
0.15032
0.33335
0.25024
0.06278
0.10699
0.04421
0.11141
0.03714
0.17508

0.0743
0.101
0.00744
0.0182
0.0067
0.0011
0.01116
0.0228
0.0028
0.01167
0.00493
0.01149
0.00761
0.0018
0.0007
0.0025
0.0027
0.00627
0.00471
0.0241
0.0096
0.0055
0.081
0.09
0.05
0.203
0.05
0.069
0.00009
0.00045
0.001
0.00075
0.00019
0.0003
0.00013
0.00034
0.00011
0.00002

46

B. Spesifikasi Teknis Pembangkit


Ada 11 (sebelas) pembagkit yang beroperasi untuk menyuplai
beban puncak yang terjadi pada tanggal 20 mei 2010, hamper seluruhnya
adalah PLTD kecuali PLTA bakaru dan Bili-Bili, PLTU Tello dan PLTGU
sengkang. Semua PLTD yang beroperasi menggunakan bahan bakar
diesel jenis HSD (high speed diesel), hal ini disebabkan karena fraksi
bakar HSD lebih besar dari MFO (marine fuel oil), fraksi bakar dari HSD
lebih baik karena sebelum bahan bakar tersebut dimasukkan ke ruang
bakar maka terlebih dahulu kandungan airnya harus dipishkan, dengan
demikian konfersi energi dari MJoule ke KWH jauh lebih optimal.
Umur operasi dari masing-masing pusat pembangkit rata-rata
masih berada pada kondisi operasionalnya yaitu rata rata 14 tahun,
kecuali PLTU tello yang telah melewati umur operasionalnya, yakni sudah
beroperasi sejak tahun 1971 atau sekitar 39 tahun, sedangkan umur
ekonomis dari sebuh pembangkit thermal idealnya hanya 20 tahun. Hal ini
merupakan salah satu faktor yang menyebabkan turunnya efiseiensi dari
pembagkit yang ada di Tello. Selain itu terdapat tiga pusat pembagkit
yang baru beroperasi pada triulan pertama di tahun 2010, masing-masing
PLTD Agrego, PLTD Matekko dan PLTD Arena.
Karakteristik dari masing-masing unit pembangkit yang beroperasi
sangat penting untuk menentukan pola operasi dari sistem kelistrikan
sulsel, karakteristik yang dimaksud adalah waktu start up dan waktu shut
down dari masing-masing jenis pembagkit yang beroperasi. Waktu start

47

Up yang dibutuhkan oleh PLTD adalah 10 menit dan PLTG 15 menit. Dari
karakteristik ini dapat diambil keputusan bahwa PLTA Bakaru, PLTA BiliBili dan PLTGU sengkang dioperasikan untuk memikul beban dasar
sedangkan semua unit PLTD dipakai untuk memikul beban puncak.
Daya mampu dari pembangkit yang beroperasi berkisar antara 0,2
MW samapai dengan 192 MW. Daya mampu terkecil terdapat pada PLTD
Mamuju yakni pada generator Mamuju#1 dengan daya mampu 0,2 MW
dan terbesar terdapat pada PLTGU Sengkang, yakni pada generator
Energi sengkang dengan daya mampu 192 MW. Seluruh pusat pembagkit
terinterkoneksi pada salurang tegangan tinggi 150 kV dan tersebar di
bebarapa wilayah yang berbeda-beda.
Status kepemilikan dari pusat pembangkit yang ada dapat
dikategorikan menjadi tiga jenis yakni milik sendiri, milik swasta dan sewa.
Terdapat 8 (delapan) pusat pembangkit yang merupakan milik sendiri
yaitu PLTA Bakaru, PLTA bili-bili, PLTGU/PLTD tello, PLTD Palopo, PLTD
Makale, PLTD Mamuju,PLTD Matekko dan PLTD Arena. Tiga pembangkit
lainnya adalah milik Swasta yakni PLTD suppa milik PT. Makassar Power,
PLTGU Sengkang milik PT. Energi Sengkang, dan PLTD Agrego milik PT.
Agrego. Selain itu terdapat beberapa unit pembangkit sewa yang tersebar
di bebarapa pusat pembagkit seperti PLTD Cogindo dan Sewatama yang
beroperasi pada pusat pembakitan I Tello.

48

Berikut adalah pusat-pusat pembangkit yang beroperasi pada saat


terjadinya beban puncak pada tanggal 20 mei 2010 :
c.

PLTA Bakaru

d. PLTD Suppa
e. PLTA Bili-Bili
f. PLTGU Sengkang
g. PLTU/PLTD/PLTG Tello
h. PLTD Palopo
i. PLTD Makale
j. PLTD Mamuju
k. PLTD Agrego
l. PLTD Matekko
m. PLTD Arena
Spesifikiasi teknis dari masing-masing pembangkit secara detail
terdapat dalam bagian lampiran 1.

49

C. Harga Bahan Bakar


Harga bahan bakar merupakan salah satu faktor yang sangat
berpengaruh dalam penetuan harga energi listrik. Hal ini disebabkan
karena hampir 80 persen biaya produksi listrik berasal dari harga bahan
bakar,15 persen untuk biaya pemeliharaan dan 5 persen untuk gaji
pegawai (sumber PT.PLN (Persero) wilayah Sultanbatara). Teknik
optimasi dengan IPC juga tidak bisa terlepas dari faktor ini, karena
penentuan biaya pembangkitan per jam dari setiap bus pembangkit
sangat terkait dengan konsumsi bahan bakar pada pusat pembangkit
tersebut dan harga bahan bakar yang dipakai oleh pusat pembangkit yang
sedang dianalisis.

Harga rata-rata pertahun bahan bakar HSD dan MFO


HSD

MFO

Harga BBM [Rp]

8906.79
5674.98
3772.29

2006

5780.84

5858.33

6774.51
6013.33
5488.75
5072.70

3828.02

2007

2008

2009

2010

Tahun

Gambar 14. Harga rata-rata pertahun bahan bakar minyak untuk industri

50

Harga rata-rata bahan bakar minyak untuk industri yang digunakan


dalam pengoperasian pembangkit termal dari tahun 2006 hingga bulan
mei 2010 dapat dilihat pada gambar 14. Dari grafik tersebut dapat
diketahui bahwa harga bahan bakar terus mengalami kenaikan dari tahun
ke tahun, adapun dan biaya bahan bakar minyak tertinggi terjadi pada
bulan agustus tahun 2008, dimana harga untuk jenis HSD adalah 11.825
rupiah per liter dan untuk jenis MFO seharga 7.829,80 rupiah per liter. Hal
ini tidak terlepas dari kondisi perekonomian global saat itu yang sedang
mengalami resesi, dimana harga minyak dunia berada pada level yang
paling tinggi.
Untuk sistem kelistrikan sulawesi selatan, umumnya pembangkit
termal yang dioperasikan mengkonsumsi bahan bakar berupa minyak
solar atau high speed diesel (HSD) dan sebagai kecil menggunkan Marine
fuel oil (MFO), sedangkan jenis minyak diesel (MDF) tidak digunakan.
Pemilihan jenis bahan bakar ini sangat tergantung dari spesifikasi mesin
yang beroperasi, dan umumnya mesin-mesin pembangkit yang beroperasi
pada sistem sulsel memakai kedua jenis bahan bakar tersebut dalam
operasionalnya.

51

D. Tegangan bus dan aliran daya sistem

1. Tegangan bus sistem Sulsel


Kondisi opersai sebuah sistem tenaga harus selalu berada pada level
tegangan yang di izinkan yakni 5 %, jika tegangan bus berada
dibawah

level

tersebut maka perlu

upaya

perbaikan berupa

penambahan kapasitor pada saluran atau melakukan injeksi arus


pada sisi pembangkit, dan jika tegangan bus berada diatas level yang
ditentukan maka biasanya dipasang inductor bank pada sisi beban
sistem. Umumnya tegangan kerja bus pada sistem Sulsel berada
pada kategori tegangan tinggi 150 kV, dan biasanya dinyatakan dalam
satuan per unit (pu). Setiap bus pembangkit memiliki nilai tegangan 1
per unit, sedangkan pada bus beban biasanya tidak dapat mencapai
nilai tegangan 1 p.u seperti halnya pada bus pembagkit.
Adapun tegangan tiap bus berdasarkan pembebanan pada tanggal
20 mei 2010 dapat dilihat pada tabel 3 dibawah ini :

52

Tabel 3. Tegangan output bus pada sistem sistem sulsel.


No. bus
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
Total

Tegangan Bus
Mag. Angle Degree
1.02
0
1.03
-4.522
1.011
-3.377
1.006
-2.478
0.993
-2.962
0.986
-3.873
0.984
-3.552
1
-6.82
0.97
-7.219
0.974
3.553
0.98
10.34
0.99
-3.944
0.963
-5.062
0.941
-5.919
1.033
-7.541
1.031
-7.738
0.993
-4.86
0.94
-6.459
1.01
-7.495
1.01
-7.827
0.95
-6.207
1.016
-7.61
0.99
-5.66
1.216
-9.955
0.412
-6.207
0.412
-6.208
0.95
-6.033
0.993
-8.305
0.973
-7.974
0.948
-6.422
0.961
-7.245
0.955
-6.471
0.952
-5.817
0.95
-3.032
0.96
-1.533
0.957
-1.043
0.962
0.852

Beban
MW
3.5
6.4
8.7
11.9
17.1
12.2
15.5
8.9
26.2
11
15.8
51.8
8
13.2
6.7
12.2
5.8
30.4
7.7
19.3
17
0
4.7
7.5
0
39.9
11.5
0
39.6
43.89
23
20
3.9
9.9
3.9
14.3
19
550.39

Daya
Mvar
MW
Mvar
0.2 102.146
13.387
0.7
1
7.435
1.8
0
0
3.9
0
0
5
0
0
3.6
0
0
9
0
0
1
1.5
49.272
4
6.6 -32.379
4.8
0
0
6
192.3
-4.016
17
51.8
47.572
1.8
0
0
5.8
0
0
0
0
0
0
0
0
1.6
0
0
10.5
0
0
1.9
0
0
2
0
0
6
82.18
63.466
0
0
0
10.5
18.9 -19.871
3
0
0
0
0
0
10.9
0
0
6.5
42.4
59.675
0
0
0
0
0
0
14.8
0
0
9.9
0
0
5.8
0
0
1.43
0
0
3.4
15.7 -11.047
0.8
12.4
8.441
3.4
0
0
5.7
0
0
162.73 565.926 181.935

Injected
Mvar
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0
0

53

Tegangan bus beban tertinggi terjadi pada bus 15 (Pangkep 70)


sebesar 1,033 p.u atau 72,31 kV, sedangkan tegangan terendah terjadi
pada bus

18 yaitu bus bosowa sebesar 0.940 p.u atau 141 kV.

Teganngan pada bus 18 ini turun lebih dari 5% atau toleransi penurunan
tegangan yang diizinkan oleh PLN, jadi perlu upaya PLN untuk
memperbaiki tegangan pada bus ini.
2. Aliran Daya sistem Sulsel
Aliran

daya

merupakan

pondasi

dasar

dalam

melakukan

perhitungan untuk semua kasus dalam sistem tenaga. Optimasi dengan


metode IPC juga tidak terlepas dari kondisi aliran beban sistem yang
sedang dianalisis. Hal ini disebabkan karena beban total sistem dapat
diketahui dengan melihat aliaran daya sistem tersebut, selain itu jumlah
bus pembagkit yang beroperasi saat terjadinya kondisi pembebanan
tertentu juga dapat dilihat pada studi aliran daya. Aliran daya sistem Sulse
saat terjadinya beban puncak tanggal 20 mei 2010 dapat dilihat pada
lampiran 2.
Daya tertinggi yang mengalir disaluran pada kondisi beban puncak
tanggal 20 mei 2010 jam 19.00 wita dari saluran 11 ke 10 (bus sengkang
ke bus soppeng) sebesar 176,5 MW, sedangkan aliran daya terendah
terdapat pada saluran 14 ke 21 (Bus Pangkep 150 ke Tello 150) sebesar
2,454 MW. Daya sebesar 176,5 MW yang ada pada bus Soppeng adalah
daya yang dilewatkan untuk menyuplai pusat-pusat beban yang ada di
bus pare-pare sebesar 107,936 MW dan selebihnya dialirkan ke bus Bone

54

sebesar 54,139 MW. Daya tersebut berasal dari bus sengkang sebagai
bus pembangkit yang pada saat terjadinya beban puncak dioptimalkan
pembangkitannya sesuai dengan daya mamapu yang dimiliki oleh
pembangkit tersebut yakni sebesar 192,30 MW, sedangkan saluran yang
dipakai untuk menyuplai beban yang ada di Pare-pare sebagai saluran
untuk meyuplai beban yag ada di bus bosowa dan pusat beban di kota
Makassar harus melewati bus soppeng.

E. OPTIMASI DENGAN IPC


Optimasi dengan metode IPC bertujuan untuk mengetahui berapa
daya optimum yang harus dibangkitkan oleh setiap pusat pembangkit
untuk meyuplai beban sistem sulsel sebesar 550,39 MW, selanjutnya akan
diketahui berapa biaya total yang dibutuhkan untuk kebutuhan tersebut,
dan juga berapa besar rugi-rugi total sistem akibat pengaruh rugi-rugi
pada saluran transmisi yang menghubungkan pusat-pusat pembangkit ke
pusat-pusat beban.
Untuk mencapai tujuan tersebut maka hal pertama yang harus
diketahui adalah fungsi objektif dari setiap pusat pembagkit yang
beropersi. Untuk mendaptkan fungsi objektif ini, maka dibutuhkan data
daya rata-rata yang dibagkitkan oleh setiap pusat pembangkit per tahun
selama 5 tahun dalam satuan Mega Watt (MW), dan data

biaya

pembagkitan per jam setiap pusat pembagkit dalam satuan rupian per
jam.

55

Sebagai contoh, perhitungan konstata a,b,c

untuk membentuk fungsi

objektif pada pusat pembagkit Tello yang selanjutnya diberi nama bus
Tello.
Tahun
(i)
2006
2007
2008
2009
2010
=

Pi

Ci

(Pi)2

35.77 61,423,801.43
10.40 48,355,962.95
36.98 74,194,303.51
55.81 94,228,654.99
48.04 93,671,269.08
187.00 371,873,991.96

(Pi)3

(Pi)4

Pi. Ci

1,279.37
45,760.81 1,636,785.04 2,197,022,993.86
108.20
1,125.44
11,706.56
502,987,642.92
1,367.35
50,561.55 1,869,650.83 2,743,536,163.51
3,114.43 173,807.41 9,699,687.06 5,258,627,675.92
2,308.30 110,901.81 5,328,253.30 4,500,415,584.45
8,177.65 382,157.03 18,546,082.78 15,202,590,060.66

(Pi)2. Ci
78,583,707,346.25
5,231,962,171.22
101,449,711,423.83
293,468,744,053.25
216,221,479,991.77
694,955,604,986.33

Dimana n = 5
Dengan menggunakan persamaan (7) :

Ci

n.ai bi

Pj

Pj Ci

ai

Pj bi

Pj2Ci

ai

Pj2 bi

ci

Pj2

Pj2 ci

Pj3

Pj3 ci

Pj4

Diperoleh persamaan sebagai berikut :


371.873.991,96 = 5a + 187b + 8.177,65c
15.202.590.060,66 = 187a + 8.177,65b + 382.157,03c
694.955.604.986,33 = 8.177,65a + 382.157,03b + 18.546.082,78c
Selanjutnya ketiga persamaan di atas dinyatakan dalam bentuk matriks,
yaitu sebagai berikut :

5
187

187
8.177,65

8.177,65
382.157,03

a
b

8.177,65 382.157,03 18.546.082,78 c

371.873.991,96
15.202.590.060,66
694.955.604.986,33

56

Dengan menggunakan metode Cramer (listing program pada lampiran 3),


maka nilai a, b, dan c dapat diketahui sebagai berikut :
a = 4.3627e+007
b= 2.4976e+005
c = 1.3089e+004
nilai a,b,c selanjutnya dimasukkan ke persamaan (6) untuk mendapatkan
fungsi objektif untuk bus Tello150 dengan nomor bus 21
Ci

ai

bi Pi

ci Pi 2

Sehingga fungsi objektifnya adalah :


C21 = 4.3627e+007 + 2.4976e+005P21 + 1.3089e+004P212
Dengan cara yang sama, fungsi objektif untuk pusat pemabgkit lain dapat
ditentukan. Adapun fungsi objektif dari semua bus pembangkit adalah
sebagai berikut :
a. Bus bakaru (1) : C1

0,0741P12

86,3909 2,2117P1

b. Bus suppa (12) : C12

4,9 x105

c. Bus Makale (8) : C8

6,311x10 5

d. Bus Palopo (9) : C9

1,784 x10 7 1,272 x10 7 P9

4,9 x105

g. Bus Tello 150 (21): C21


h. Bus Barang Loe (23): C 23
i.

2,5989P82

643591P8

2,7839x106

e. Bus Sengkang (11): C11


f. Bus Mamuju (12) : C12

2,41x10 4 P12 164,3274P122

2,400 x10 4 P11 137.9539P112

2,41x10 4 P11 164.3274P122

4,36x107

2,497 x105 P21 1,3089P212

15,889 9,6397 P23

Bus Tello Lama 150 (27): C 27

2,426 x10 P92

1,641x10 7

0,033P232

8,0300 x10 5 P27

1,0787 P272

57

j.

5,6212 x10 4

Bus Jeneponto (34): C34

k. Bus Bulukumba (35): C35

4,9140 x10 5

6,429 x10 5 P34

7,2506 x10 5 P35

4,842 x10 5 P342

5,3654 x10 5 P352

Setelah medapatkan fungsi objektif dari masing-masing bus


pembangkit maka selanjutnya dilakukan perhitungan untuk mendapatkan
daya output tiap bus pembagkit, total biaya pembagkitan dan rugi-rugi
daya aktif total sistem. Contoh perhitungannya adalah sebagai berikut :
Jika diketahui fungsi objektif dari tiga buah pembangkit adalah :
C1 = 200 + 7.0P1 + 0.008P12 $/jam
C2 = 180 + 6.3P2 + 0.009P22 $/jam
C3 = 140 + 6.8P3 + 0.007P32 $/jam
Dimana P1, P2, dan P3 dalam MW, dan batas daya yang dibangkitkan
adalah :
10 MW 85 MW
10 MW 80 MW
10 MW 70 MW
Persamaan rugi-rugi daya nyata adalah :
PL(pu) = 0.0218 P12(pu) + 0.0228P22(pu) +0.0179 P32(pu)
Jika dasar tegangan per unit sebesar 100 MVA dan total beban system
adalah 150 MW maka besarnya daya optimal yang dibangkitkan adalah
sebagai berikut :
PL

P
0.0218 1
100

P
0.0228 2
100

P
0.0179 3
100

= 0.000218P12+0.000228P22+0.000179P32 MW

x100MW

58

Diasumsikan nilai (1)=8.0 sehingga nilai P1(1), P2(1), dan P3(1) adalah :
8.0 7.0
51.3136MW
2(0.008 8.0 x0.000218)
8.0 6.3
78.5292MW
2(0.009 8.0 x0.000228)
8.0 6.8
71.1575MW
2(0.007 8.0 x0.000179)

(1)

P1

P2
P3

(1)

(1)

Rugi-rugi daya aktif adalah :


PL(1)=0.000218(51.3136)2 + 0.000228(78.5292)2 + 0.000179(71.1575)2
= 2.886
Untuk PD = 150 MW, maka
P(1) = 150 +2.8864 (51.3136 + 78.5292 + 71.1575) = -48.1139
3

Pi

i 1

(1)

(1)

0.008 0.000218x7.0
2(0.008 8.0 x0.000218) 2

48.1139
152.4924

0.009 0.000228x6.3
2(0.009 8.0 x0.000228) 2

0.007 0.000179x6.8
2(0.007 8.0 x0.000179) 2

0.31552

Sehingga nilai yang baru adalah :


( 2)

8.0 0.31552 7.6845

Dan nilai P1, P2 dan P3 pada iterasi yang kedua adalah :


( 2)

P1

P2
P3

( 2)

( 2)

7.6845 7.0
35.3728MW
2(0.008 7.6845 x0.000218
7.6845 6.3
64.3821MW
2(0.009 7.6845 x0.000228)
7.6845 6.8
52.8015MW
2(0.007 7.6845 x0.000179)

152.4924

59

Rugi-rugi daya aktif adalah :


= 0.000218(35.3728)2 + 0.000228(64.3821)2 + 0.000179(52.8015)2

PL(2)

= 1.717
Untuk PD = 150 MW, maka :
P(2) = 150 + 1.7169 (35.3728 + 64.3821 + 52.8015) = - 0.8395
3

( 2)

Pi

i 1

0.008 0.000218x7.0
2(0.008 7.684 x0.000218) 2

0.8395
154.588

( 2)

0.009 0.000228x6.3
2(0.009 7.684 x0.000228) 2

0.007 0.000179x6.8
2(0.007 7.6845x0.000179) 2

154.588

0.005431

Sehingga nilai yang baru adalah :


( 3)

7.6845 0.005431 7.679

Dan nilai P1, P2, dan P3 pada iterasi yang ketiga adalah :
7.679 7.0
35.0965MW
2(0.008 7.679 x0.000218
7.679 6.3
64.1369MW
2(0.009 7.679 x0.000228)
7.679 6.8
52.4834MW
2(0.007 7.679 x0.000179)

( 3)

P1

P2
P3

( 3)

( 3)

Rugi-rugi daya aktif adalah :


PL(3)=0.000218(35.0965)2 + 0.000228(64.1369)2 + 0.000179(52.4834)2 =
1.699
Untuk PD = 150 MW, maka :
P(3) = 150 + 1.6995 (35.0965 + 64.1369 + 52.4834) = - 0.01742
3

Pi

i 1

( 3)

( 3)

0.008 0.000218x7.0
2(0.008 7.679 x0.000218)2

0.01742
154.624

0.009 0.000228x6.3
2(0.009 7.679 x0.000228) 2

0.0001127

0.007 0.000179x6.8
2(0.007 7.679 x0.000179) 2

154.624

60

Sehingga nilai yang baru adalah :


( 4)

7.679 0.0001127 7.6789

Nilai yang lebih kecil dari nilai yang telah ditentukan diperoleh pada
iterasi yang ke 4 sehingga nilai pembangkitan optimal untuk = 7.6789
adalah :
7.6789 7.0
35.0907MW
2(0.008 7.679 x0.000218
7.6789 6.3
64.1317MW
2(0.009 7.679 x0.000228)
7.6789 6.8
52.4767MW
2(0.007 7.679 x0.000179)

( 4)

P1

P2
P3

( 4)

( 4)

Rugi-rugi daya aktif adalah :


PL(4)

= 0.000218(35.0907)2 + 0.000228(64.1317)2 + 0.000179(52.4767)

= 1.699
Dan biaya pembangkitan adalah :
Ct = 200 + 7.0(35.0907) + 0.008(35.0907)2 + 180 + 6.3(64.1317) +
0.009(64.1317)2 + 140 + 6.8(52.4767) + 0.007(52.4767)2
=1592.65 $/jam
Cara yang sama dipakai dalam perhitungan untuk sistem sulsel. Dengan
menggunakan Program IPC (listing program pada lampiran 3), maka untuk
sistem sulsel diperoleh nilai daya output sebagai berikut :
1. Bus bakaru : 126 MW
2. Bus Mamuju : 4 MW
3. Bus Makale : 3.2 MW

61

4. Bus Palopo : 25.7 MW


5. Bus Sengkang : 192.3 MW
6. Bus Suppa : 62.5 MW
7. Bus Tello 150 : 70.08 MW
8. Bus Barangloe : 20 MW
9. Bus Tello Lama 150 : 40.25 MW
10. Bus Jeneponto : 10.8 MW
11. Bus Bulukumba : 11.1 MW
Perbandingan daya output setiap bus pembangkit sebelum dan
sesudah optimasi dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini :
Tabel 4. Daya yang dibangkitkan tiap bus pembangkit
no bus
1
2
8
9
11
12
21
23

Nama Bus

Bakaru
Mamuju
Makale
Palopo
Sengkang
Suppa
Tello 150
Barangloe
Tello lama
27
150
34
Jeneponto
35
Bulukumba
total Daya

Daya yang dibangkitkan


setiap bus pembangkit
sebelum optimasi [MW]
102.15
1.00
1.50
25.60
192.30
61.80
92.18
18.90

Daya yang dibangkitkan


setiap bus pembangkit
setelah optimasi [MW]
126.00
4.00
3.20
25.70
192.30
62.50
70.08
20.00

42.40

40.25

15.70
12.40
565.926

10.80
11.10
565.926

62

Secara grafis dapat dilihat pada diagram dibawah ini :

192.30
192.30

12.40
11.10

15.70
10.80

42.40
40.25

18.90
20.00

92.18
70.08

61.80
62.50

25.60
25.70

1.50
3.20

1.00
4.00

200.00
190.00
180.00
170.00
160.00
150.00
140.00
130.00
120.00
110.00
100.00
90.00
80.00
70.00
60.00
50.00
40.00
30.00
20.00
10.00
0.00

Daya bus pembagkit sebelum


optimasi
daya bus pembagkit setelah
optimasi

102.15
126.00

Daya yang dibagkitkan [MW]

Daya yang dibangkitkan tiap bus pembagkit sebelum dan


sesudah optimasi

Bus Pembagkit

Gambar 15. Daya optimal tiap bus pembangkit sistem sulsel dalam
menaggung beban puncak.
Dari hasil di atas dapat dilihat bahwa terdapat tiga bus utama yang
menyuplai daya terbesar pada sistem saat terjadinya beban puncak yaitu,
bus Bakaru, bus Sengkang dan bus Tello 150, sedangkan bus yang lain
menanggung beban yang terdistribusi secara merata dalam menyuplai
daya ke sistem. Pada bus Bakaru sebagai slack bus, terlihat bahwa daya
yang dibangkitkan sebelum optimasi dilakukan sebesar 102,146 MW,
sedangkan setelah optimasi dilakukan daya yang dibangkitkan mengalami
kenaikan menjadi 126 MW. Hal ini disebabkan karena pada bus tesebut
memiliki biaya operasi yang murah karena berbahan bakar air, sehingga
kapasitas dayanya dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan beban sistem

63

dan juga berperan untuk menyuplai bus-bus lain yang mengalami


kekurangan daya.
Lain halnya pada bus yang menggunakan bahan bakar minyak,
dari hasil optimasi dapat dilihat bahwa daya yang dibangkitkan setelah
optimasi

sedikit

lebih

kecil

dibadingkan

dengan

daya

sebelum

dilakukannya proses optimasi. Hal ini dilakukan karena pembangkit termal


rata-rata memiliki biaya operasi yang lebih mahal dibandingkan dengan
pembangkit hydro.

F. Hasil Perhitungan Rugi-rugi daya aktif total sistem dan biaya total
Bus Pembangkit

Dengan menggunakan program yang sama juga diperoleh rugi-rugi


daya aktif total sistem adalah 27.7335 MW, sedangkan biaya total
pembangkitan untuk sistem sulsel sebesar 195.877.459,39 Rp/jam. Jika
beban total sistem sebesar 550,39 MW, maka dapat diketahui bahwa
harga energi listrik per kWH untuk sistem Sulsel adalah 355.888478
rupiah.

64

G. Perbandingan Merit Order PLN dengan Metode IPC

Data merit order yang dipakai oleh PLN wilayah Sultanbatara dalam
menentukan harga energi listrik per kWH diketahui bahwa tarif dasar listrik
reguler untuk keperluan rumah tangga dengan golongan tarif R-1/TR
dengan pemakaian diatas 60kWH adalah 495 Rupiah/kWH dan untuk tarif
Prabayar sebesar 415 rupiah/kWH (tarif dasar listrik selengkapnya dapat
dilihat pada lampiran 7). Jika mengacu pada tarif prabayar tersebut maka
dapat dilihat perbadingan biaya setiap bus beban pada sistem Sulsel
antara metode merit order PLN dengan metode Optimasi IPC dapat dilihat
pada tabel 5.
Dari tabel 5 dapat dilihat bahwa terdapat selisih biaya total pembangkitan
antara metode Merit Order PLN dengan metode optimasi IPC sebesar
32.534.390,61 Rp/jam jika metode IPC ini diaplikasikan, sehingga biaya
total pembangkitan sistem dapat lebih dioptimalkan. Secara Visual tabel 5
dapat dilihat pada gambar 16 .

65

Tabel 5. Perbandingan biaya merit order dan IPC


No. bus

Nama Bus

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31
32
33
34
35
36
37
Total

Bakaru
Mamuju
Majene
Polmas
Pinrang
Parepare
Sidrap
Makale
Palopo
Soppeng
Sengkang
Suppa
Barru
Pangkep
Pangkep 70
Tonasa3
Maros
Bosowa
Mandai
Daya
Tello
Tello70
Barangloe
Tello(B)
Tello(A)
Barawaja
Tello Lama
Tello Lama70
Bontoala
Panakukang
Tanjung Bunga
Sungguminasa
Tallasa
Jeneponto
Bulukumba
Sinjai
Bone

Beban
Biaya [Rp/jam]
MW
KW
merit order PLN Optimasi IPC
3.5
3500.00
1449000.00 1245609.67
6.4
6400.00
2649600.00 2277686.26
8.7
8700.00
3601800.00 3096229.76
11.9 11900.00
4926600.00 4235072.89
17.1 17100.00
7079400.00 6085692.97
12.2 12200.00
5050800.00 4341839.43
15.5 15500.00
6417000.00 5516271.41
8.9
8900.00
3684600.00 3167407.45
26.2 26200.00
10846800.00 9324278.12
11 11000.00
4554000.00 3914773.26
15.8 15800.00
6541200.00 5623037.95
51.8 51800.00
21445200.00 18435023.16
8
8000.00
3312000.00 2847107.82
13.2 13200.00
5464800.00 4697727.91
6.7
6700.00
2773800.00 2384452.80
12.2 12200.00
5050800.00 4341839.43
5.8
5800.00
2401200.00 2064153.17
30.4 30400.00
12585600.00 10819009.73
7.7
7700.00
3187800.00 2740341.28
19.3 19300.00
7990200.00 6868647.62
17 17000.00
7038000.00 6050104.13
0
0.00
0.00
0.00
4.7
4700.00
1945800.00 1672675.85
7.5
7500.00
3105000.00 2669163.58
0
0.00
0.00
0.00
39.9 39900.00
16518600.00 14199950.27
11.5 11500.00
4761000.00 4092717.50
0
0.00
0.00
0.00
39.6 39600.00
16394400.00 14093183.73
43.89 43890.00
18170460.00 15619945.30
23 23000.00
9522000.00 8185434.99
20 20000.00
8280000.00 7117769.56
3.9
3900.00
1614600.00 1387965.06
9.9
9900.00
4098600.00 3523295.93
3.9
3900.00
1614600.00 1387965.06
14.3 14300.00
5920200.00 5089205.23
19 19000.00
7866000.00 6761881.08
550.39 550390.00
227861460.00 195877459.39

Perbandingan Biaya Tiap Bus Antara Merit Order dengan Optimasi IPC
MERIT ORDER

OPTIMASI IPC

25000000.00
22500000.00
20000000.00

15000000.00
12500000.00
10000000.00
7500000.00
5000000.00
2500000.00
0.00
Bakaru
Mamuju
Majene
Polmas
Pinrang
Parepare
Sidrap
Makale
Palopo
Soppeng
Sengkang
Suppa
Barru
Pangkep
Pangkep 70
Tonasa3
Maros
Bosowa
Mandai
Daya
Tello
Tello70
Barangloe
Tello(B)
Tello(A)
Barawaja
Tello Lama
Tello Lama70
Bontoala
Panakukang
Tanjung Bunga
Sungguminasa
Tallasa
Jeneponto
Bulukumba
Sinjai
Bone

BIAYA [Rp]

17500000.00

Gambar 16. Diagram perbandingan Biaya tiap Bus antara metode Merit
Order dengan IPC

67

BAB V
PENUTUP
A. SIMPULAN
Dari hasil perhitungan yang telah dilkukan dapat ditarik simpulan
sebagai berikut :
1. Daya yang harus dibangkitkan oleh tiap-tiap pusat pembangkit
yang beroperasi di wilayah SULSEL dalam menanggung beban
Maksimum dengan biaya operasi paling minimum adalah bus
Bakaru 126,00 MW, bus Mamuju 4,00 MW, bus Makale 3,20 MW,
bus Palopo 25,7 MW, bus Sengkang 192,30 MW, bus Suppa 62,5
MW, bus Tello150 70,08 MW, bus Barangloe 20,00 MW, bus
Tellolama 40,25 MW, Bus Jeneponto 10,8 MW dan Bus
Bulukumba 11,1 MW.
2. Total biaya operasi Pusat-pusat pembangkit yang dikeluarkan
dalam menanggung

beban sistem sebelum optimasi dilkukan

adalah 227861460 Rp/Jam, sedangkan setelah dilukan optimasi


biaya yang dibutuhkan adalah 195.877.459,39 Rp/jam
3. Besar rugi-rugi daya total sistem sebelum penjadwalan adalah
31,5575 MW dan setelah penjadwalan pembagkitan adalah
27,7335 MW.

68

B. SARAN-SARAN
1. Sebaiknya Pihak PT. PLN(Persero) melakukan pendokumentasian
data yang lengkap terhadap seluruh komponen sistem kelistrikan.
2. Sebaiknya metode IPC diaplikasikan pada sistem kelistrikan sulsel
sebagai metode pembading dari metode merit order yang digunakan
selama ini.
3. Untuk peneliti selanjutnya sebaiknya metode ini disempurnakan
dengan menggunakan algoritma yang lain, agar tingkat kecepatan
dan keakuratan hasil perhitungan lebih sempurna.

69

DAFTAR PUSTAKA
Almanda, Deni. (1998). Strategi Operasi Sistem Tenaga Listrik.
www.elektroindonesia.com

Chapra, Steven C, Ph.D & Raymond P. Canale, Ph.D.(1995). Metode


Numerik. Jilid I. Jakarta : Penerbit Erlangga.
D Stevenson, William Jr.(1983). Analisis Sistem Tenaga Listrik. Jakarta:
Erlangga.
Gen, Mitsuo & Cheng, Runwei. (2000). Genetic Algorithms And
Engineering Optimization. United State of Amerika: John Wiley &
Sons Inc.
Glover, J.D, dkk. (2007). Power System Analysis and Design. Singapore:
The McGraw-Hill Book Co, Inc.
Imran, Al. (2008). Optimasi Penjadwalan Pembangkitan di Antara UnitUnit Pembangkit Termal Berdasarkan Incremental Cost yang
Sama. Makassar: Jurnal Elektrik.
Kusumadewi, Sri & Purnomo, Hari. (2005). Penyelesaian Masalah
Optimasi dengan Teknik-Teknik Heuristik. Yogyakarta : Graha ilmu
Marsudi, Djiteng (2006). Operasi Sistem Tenaga Listrik. Jakarta: Penerbit
Graha Ilmu.
Robandi, Imam. (2006). Desain Sistem Tenaga Modern.Yogyakarta : Andi
Offset
Saadat, Hadi. (2002). Power System Analysis. Singapore : The McGrawHill Book Co, Inc.
Sudjana, Prof. Dr. M.A. (2002). Metoda Statistika. Bandung: Penerbit
Tarsito.
Wood, Allen J and Bruce F. Wollenberg. (1984). Power Generation
Operation and Control. New York: Power Technologies, Inc and
Rensselaer Polytechnic Institute.
Walpole, Ronald E & Raymond H. Myers.(1995). Ilmu Peluang dan
Statistika Untuk Insinyur dan Ilmuwan. Bandung : Penerbit ITB.