Anda di halaman 1dari 11

Analisis

rendahnya
penerimaan
pajak
Per Triwulan I 2016

Working Paper

Kelompok 5 :
Adib El Khilla
Adjie Aria Putra
Anis Rifai
Laudi Kurniawan
Nurul Hidayati
Rima Rosita
Kelas : 4D D3 KBN

Politeknik Keuangan Negara STAN


2016

Analisis rendahnya penerimaan pajak

Per Triwulan I 2016


A. Pendahuluan
Selama beberapa tahun terakhir pemerintah RI menetapkan target pajak
yang selalu meningkat setiap tahunnya. Sejak tahun 2014, Target pajak yang
semula di bawah angka Rp1000 Triliun meningkat tajam hingga mencapai Rp1547
Triliun terakhir di RAPBN 2016. Kebutuhan akan pendanaan belanja di APBN setiap
tahunnya yang sangat besar menyebabkan pemerintah menentukan target
pendapatan yang terlampau tinggi. Meskipun penetapan target Pendapatan Negara
dalam penyusunannya dikatakan telah disusun secara rasional, namun realita yang
terjadi realisasi penerimaan pajak jauh dari harapan.

Gambar : Target dan Penerimaan Pajak dalam Negeri dalam APBNP 2015
Dari gambar diatas, realisasi penerimaan pajak sampai tanggal 31 Agustus 2015
masih jauh dari target. Meskipun di akhir tahun anggaran 2015 realisasi mencapai
84% dari target, namun kinerja pencapaian ini belum bisa dikatakan berhasil. Di
awal tahun 2016 hingga sampai pada akhir triwulan I realisasi penerimaan pajak
hanya mencapai 11-12%, padahal idealnya penerimaan pajak sudah mencapai 25%.
Kendala

lainnya

yang

dialami

oleh

pemerintah

dalam

bidang

pendapatan

perpajakan adalah terkait dengan rendahnya Tax Ratio Indonesia yang setiap tahun
cenderung stagnan. Data terakhir menunjukkan bahwa Tax Ratio masih tertahan di

kisaran 12,2 %. Tingkat ini terbilang rendah bila dibandingkan dengan tax ratio
Negara lain. Bahkan di kawasan ASEAN, tingkat tax ratio Indonesia masih tergolong
rendah.

Sumber : BIB2016
Rendahnya realisasi penerimaan pajak dan tax ratio Indonesia menyebabkan
realisasi total pendapatan Negara juga ikut rendah. Hal ini akan berimbas pada
tertundanya

pelaksanaan

program-program

pemerintah

yang

strategis

dan

menyangkut kesejahteraan umum. Program pembangunan infrastruktur yang


menjadi

prioritas

pemerintah

juga

akan

terhambat.

Selain

itu

rendahnya

penerimaan Negara akan menyebabkan utang pemerintah meningkat kaitannya


dengan kenaikan deficit APBN. Banyak dampak negative yang mungkin terjadi bila
realisasi penerimaan perpajakan tidak sesuai harapan. Oleh karena itu Pemerintah
sebagai pemegang kewenangan pemungutan pajak Perlu mengambil langkahlangkah

yang

tepat

untuk

mengatasi

masalah-masalah

ini

dalam

rangka

mengamankan penerimaan Negara di tahun 2016 ini dan juga tahun-tahun


berikutnya.

B. Penyebab rendahnya realisasi


Penerimaan pajak di awal triwulan I tahun 2016 memang tidak sesuai dengan
harapan. Banyak factor yang menyebabkan rendahnya realisasi penerimaan pajak
ini. Untuk melihat penyebab realisasi penerimaan perpajakan yang begitu rendah,
dapat ditinjau dari dua perspektif :

Perspektif internal Pemerintah


Perspektif eksternal Pemerintah

Pemerintah c.q Direktorat Jenderal Pajak memiliki hak& kewenangan untuk


melaksanakan pemungutan pajak. Dari segi internal pemerintah terdapat beberapa
kendala terkait pemungutan pajak diantaranya :
1. Kurangnya SDM dalam bidang perpajakan.
Dalam upaya memungut pajak secara optimal, pemerintah c.q Direktorat
Jenderal Pajak (DJP) membutuhkan sumber daya yang optimal pula. Bila
dilihat dari segi Sumber Daya Manusia yang dimiliki oleh DJP terdapat suatu
fakta bahwa DJP saat ini sedang kekurangan pegawai pajak yang handal.
Untuk menghandle Wajib Pajak di seluruh Indonesia, jumlah pegawai DJP
perlu diperbanyak. Saat ini DJP sangat membutuhkan pegawai pajak baru
utnuk mengantisipasi kenaikan jumlah Wajib Pajak. Bahkan, dalam hitungan
Dirjen Pajak, mereka kekurangan account representative 30.000 orang.
Kurangnya SDM ini menyebabkan pemungutan pajak yang dilakukan oleh DJP
kurang maksimal
2. masalah infrastruktur IT tentang administrasi Perpajakan.
Dalam rangka pengoptimalan pemungutan pajak, DJP selau berupaya
mengutamakan kemudahan dan kenyamanan bagi para Wajib Pajak untuk
melaksanakan kewajiban perpajakannya. Salah satunya adalah penggunaan
IT sebagai sarana WP dalam melaksanakan kewajiban perpajakan. Fiur yang
ditawarkan

seperti

e-filling

&

e-spt

sangat

membantu

WP

dalam

melaksanakan kewajiban perpajakannya. Namun kualitas Infrastruktur IT


yang dimiliki oleh DJP untuk mendukung administrasi perpajakan masih
sangat

kurang.

Padahal

untuk

mengoptimalkan

pajak,

dibutuhkan

infrastruktur IT lebih besar dan lebih tajam dalam menjangkau wajib pajak.
Hal ini berpengaruh pada rendanhnya realisasi penerimaan pajak.
3. Adanya ketimpangan Antara besarnya pajak yang dipungut dengan besarnya
tax coverage ratio
Hal ini berkaitan dengan adanya Gap antara data WP yang dimiliki oleh DJP
dengan besarnya Tax Coverage Ratio (rasio potensi pajak yang dapat
dipungut dengan realisasi pemungutan). Masih banyak cakupan masyarakat
yang belum terjangkau kewajiban perpajakan. Dalam hal ini, DJP perlu
mengupdate data tentang WP terbaru untuk bisa mengoptimalkan potensi
penerimaan pajak yang dapat dipungut.
4. Belum disahkannya UU tax Amnesty
UU tax Amnesty yang rencananya akan segera disahkan menjadi salah satu
factor yang mempengaruhi rendahnya realisasi penerimaan pajak yang
rendah di triwulan I tahun 2016. Terdapat beberapa golongan masyarakat
yang menunggu disahkannya UU Tax Amnesty untuk menunaikan kewajiban
perpajakannya, karena dapat memberikan keuntungan berupa hilangnya
denda

yang

seharusnya

dikenakan

kepada

mereka

terkait

kewajiban

perpajakan tersebut.
5. Rendahnya penegakan hukum terkait perpajakan
Sejauh ini dalam hal penegakan hukum di bidang perpajakan masih tergolong
rendah. Hal ini menyebabkan masyarakat/WP enggan untuk melaksanakan
kewajiban perpajakannya, dan menyebabkan realisasi penerimaan pajak
rendah.
Sedangkan

dalam

perspektif

eksternal,

terdapat

beberapa

kendala

terkait

rendahnya penerimaan pajak diantaranya :


1. Kondisi

perekonomian

perekonomian

global

Indonesia

yang

yang

sedang

ikut

menurun

lesu

berimplikasi

pula.

Adanya

pada

kontraksi

perekonomian akan mempengaruhi penerimaan pajak, seperti:


a. PPh , berkaitan dengan penurunan penghasilan yang diterima oleh WP
Orang

Pribadi

dan

WP

Badan

sebagai

akibat

dari

penurunan

pendapatan yang mereka terima di dalam kondisi perkonomian yang


lesu.

b. PPN , transaksi perdagangan yang semakin menurun karena turunnya


daya beli masyarakat
c. Pajak perdagangan internasional, terkait denga ekspor dan impor
barang di dalam kondisi perekonomian global yang sedang turun,
2. kepatuhan WP Orang Pribadi dalam menjalankan kewajiban perpajakannya
masih tergolong rendah karena :
kurangnya tax benefit yang dirasakan masyarakat
masyarakat masih menganggap bahwa pajak yang mereka bayarkan
tidak memberikan imbal balik yang dapat mereka rasakan. Hal ini
dikarenakan banyak sekali kasus korupsi dan kasus hukum terkait
perpajakan.

kurangnya pengetahuan masyarakat akan pajak


beberapa golongan masyarakat terutama di daerah masih belum
paham tentang ketentuan dan tanta cara Perpajakan

penegakan hukum di Indonesia mengenai perpajakan masih kurang


tegas
banyaknya kasus hukum yang muncul ke public menjadi indicator
rendahnya pengakan hukum terkait perpajakan.

C. Solusi permasalahan

Terkait dengan bahasan di atas, ternyata banyak sekali prendahnya realisasi


penerimaan pajak di triwulan I tahun 2016. Penyebab rendahnya pajak yang dilihat
dari 2 pespektif harus dicari solusi yang tepat untuk masing-masing perspektif.
Pemerintah

perlu

permasalahan

mengambil

tersebut

dan

langkah-langkah
mendukung

yang

upaya

tepat

untuk

mengatasi

pengoptimalan

kegiatan

pemungutan pajak.
1. Dari perspektif internal (pemerintah c.q DJP), solusi yang dapat dilakukan
adalah :
a. Perluasan basis pajak
Dalam upaya meningkatkan penerimaan pajak, basis pajak yang sudah
ada saat ini perlu diperluas dengan beberapa cara yaitu ekstemsifikasi
Wajib Pajak, ekstensifikasi Objek Pajak, intensifikasi pemungutan pajak.
IMF memperkirakan dengan memperluas basis pajak, tax ratio Indonesia
dapat mencapai 21,5% dimana tax ratio Indonesia saat ini berada di
kisaran 12%. Data tahun 2014 menunjukkan pertumbuhan penerimaan
pajak sekitar 6,95%, sedangkan ekonomi tumbuh secara nominal sebesar
11,08%. Hal ini mengindikasikan terdapatnya sektor ekonomi yang
tumbuh cukup baik namun belum dikenakan pajak dengan optimal
b. Updating data pihak ketiga
Perluasan basis pajak terkait erat dengan data yang dimiliki oleh
Direktorat Jenderal Pajak tentang Wajib Pajak. Administrasi perpajakan
Indonesia

masih

mengalami

masalah

dengan

rendahnya

tingkat

kepatuhan Wajib Pajak. Untuk meningkatkan kepatuhan dan dengan


memperhatikan prinsip self assessment yang berlaku di Indonesia,
ketersediaan data pihak ketiga menjadi keharusan. Dalam hal ini
Direktorat Jenderal Pajak harus bekerjasama dengan instansi-instansi lain
seperti pihak perbankan dalam dan luar negeri serta Otoritas Jasa
Keuangan untuk mengupdate data yang dimiliki oleh DJP.
c. kebijakan pengampunan pajak
penerapan kebijakan tax Amnesty sebagai program penting pemerintah di
bidang perpajakan. Kebijakan ini direncanakan akan diterapkan pada

tahun 2016. Meskipun diperkirakan dapat meningkatkan jumlah Wajib


Pajak, namun Penerapan kebijakan ini juga dapat menimbulkan dampak
negatif terhadap kepatuhan wajib pajak, terutama Wajib Pajak yang sudah
patuh. Oleh karena itu, kebijakan ini sebaiknya menentukan target yang
jelas dan menentukan langkah-langkah yang dapat mengubah perilaku
Wajib

Pajak

yang

menggunakan

fasilitas

ini.

Selain

itu,

untuk

memaksimalkan manfaat kebijakan ini, Pemerintah perlu memastikan


masuknya seluruh data Wajib Pajak dan repatriasi aset Wajib Pajak yang
saat ini ditempatkan di luar negeri.
d. meningkatkan kualitas dan kuantitas IT
perlu adanya upaya dari pemerintah untuk meningkatkan system dan
juga infrastruktur IT di bidang administrasi perpajakan. Kemudahan dalam
bidang IT ini akan sangat berpengaruh terhadap penerimaan pemungutan
pajak di tahun-tahun berikutnya.
e. Penyusunan dan revisi regulasi di bidang perpajakan
Untuk mengoptimalkan pemungutan Pajak, perlu adanya revisi terkait
UUperpajakan diantaranya adalah revisi UU ketentuan Umum dan tata
cara perpajakan serta UU tentang pajak penghasilan. Selain itu perlu
disusun suatu regulasi baru yang mendukung optimalisasi penerimaan
pajak seperti UU Tax Amnesty dan yang lainnya.
2. Dari perspektif eksternal, solusi yang dapat dilakukan adalah :
a. Optimalisasi Penerapan MEA
MEA telah mulai efektif diberlakukan pada 31 Desember 2015. Terdapat
tantangan dan peluang dalam penerapan MEA ini. Apabila masyarakat
Indonesia mampu menghasilkan produk dan jasa yang memiliki daya
saing tinggi, maka ekonomi akan tumbuh pesat dan berdampak positif
terhadap penerimaan pajak. Di samping itu, bebasnya arus masuk dan
keluar barang dan jasa mengakibatkan semakin kompleksnya transaksi
perdagangan terutama perdagangan secara elektronik (e-commerce).
Untuk itu, diperlukan kebijakan perpajakan yang mampu menangkap
potensi penerimaan pajak dari transaksi perdagangan antar negara
ASEAN.
b. revisi APBN 2016
Perlu adnya tinjauan ulang terkait dengan target penerimaan pajak yang
mengalami kenaikan sangat signifikan di tahun 2016 Mengingat bahwa

terdapat beberapa parameter terkait penerimaan pajak yang kebanyakan


menyebabkan proyeksi penerimaan pajak cenderung menurun. Mungkin
kenaikan pajak masih dapat dilakukan namun dengan presentase
kenaikan yang lebih kecil.
c. Sosialisasi tentang informasi dan ilmu terkait perpajakan
Pendidikan terkait perpajakan harus sejak dini disampaikan kepada para
peserta didik agar mereka lebih teredukasi tentang hal yang berkaitan
dengan bidang perpajakan. DJP dapat bekerjasama dengan KemendikBud
dan

kemenristekDikti

untuk

menambahkan

materi

terkait

denga

perpajakan di bangku sekolah dan perkuliahan.


Selain itu perlu adanya sosialisasi secara gencar ke masyarakat yang
belum teredukasi terkait bidang perpajakan, untuk mengoptimalkan
penerimaan pajak. Banyak sekelompok masyarakat di daerah yang
memiliki asset/barang kena pajak namun belum terjangkau oleh DJP.
Beberapa solusi diatas dapat dilaksanakan oleh pemerintah untuk mengoptimalkan
penerimaan perpajakan. Mungkin beberapa solusi tersebut menimbulkan dampak
yang

tidak

secara

langsung

dapat

dirasakan.

Dalam

upaya

optimalisasi

pemungutan pajak ini tidak hanya tergantung dari kebijakan pemerintah saja,
namun

kerjasama

dengan

pihak

pihak

terkait

seperti

perbankan,

OJK,

Perusahaan/WP Badan, serta masyarakat sebagai subjek pajak harus berperan serta
dengan mendukung program pemerintah ini. Pemerintah juga perlu berbenah dalam
hal penggunaan anggaran karena uang rakyat yang diserahkan kepada pemerintah
merupakan

bentuk

kepercayaan

masyarakat

kepada

pemerintah.

Bila

disalahgunakan maka bukan tidak mungkin penerimaan pajak di tahun tahu


berikutnya akan semakin menurun. Sinergi Antara 2 pihak terkait pemungutan
perpajakan akan menetukan apakah target penerimaan pajak yang ditetapkan
setiap tahunnya dapat tercapai atau tidak.

Daftar Pustaka
1. Budget In Brief APBN 2016
2. Nota Keuangan RAPBN 2016
3. http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/560348-menkeu-beberkan-alasan-

penurunan-penerimaan-pajak
4. http://www.pemeriksaanpajak.com
5. http://www.kompasiana.com/metik/membumikan-pajak-solusi-penerimaannegara_5642a4d4537b61c2048b4567
6. http://macroeconomicdashboard.feb.ugm.ac.id/perkembangan-keuangan-

pemerintah-dan-fiskal-2015ii/)