Anda di halaman 1dari 12

Respon Kulit terhadap Rangsang

Christin Nataline Sijabat


102015066
Fakultas kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6, Jakarta Barat 11510
Abstrak
Manusia merupakan makhluk hidup yang memiliki berbagai macam organ dan di dalam
tubuh manusia juga terdapat jaringan-jaringan. Jaringan-jaringan tersebut salah satunya
meliputi, jaringan otot, jantung, kulit, skelet dan tulang. Dimana masing-masing jaringan dan
organ-organ yang ada dalam tubuh memiliki karakteristik dan fungsinya masing-masing.
Dengan adanya tulang dan otot bisa menimbulkan gerak diantaranya, berjalan, mengangkat
tangan dan kaki, jongkok, lompat, dan masih banyak lagi gerakan-gerakan yang tercipta atas
kerja sama dari tulang serta otot. Selain kerja otot dan tulang bisa menimbulkan gerak, bisa
juga menopang tubuh atau menjaga keseimbangan tubuh. Terdapat jaringan kulit yang berada
diluar tubuh yang melindungi/melapisi organ dalam.
Kata kunci: tulang, otot, kulit
Abstract
A human being is a living creature that has a wide range of organs within the human body
there are also networks. These networks include one, muscle tissue, heart, skin, and bone
skelet. Where each of the tissue and organs which exists in the body have the characteristics
and functions of each. With the existence of the bone and muscles can cause motion include
lifting, walking, hands and feet, squat, jump, and much more movement created upon the
cooperation of the bone and muscles. In addition to working muscles and bones can cause
motion, could also prop up the body or maintain balance in the body. There is a network of
the skin over the body that protects/coat internal organs.
Keywords: bone, muscle, skin

Pendahuluan
Dalam melakukan aktifitas sehari-hari menimbulkan gerakan yang didukung oleh
berbagai anggota bagian tubuh salah satunya yaitu, tulang otot dan juga jaringan kulit.
Masing-masingnya memiliki fungsi yang berguna untuk tubuh sehingga menimbulkan gerak.
Jaringan dalam tubuh yang memiliki massa yang paling besar adalah tulang dan otot. 1 Tulang
atau rangka pada manusia tergolong dalam alat gerak pasif karena tulang hanya akan bisa
bergerak apabila ada aktifitas yang terjadi pada otot dan tulang terbentuk oleh kandungan
kalsium yang berbentuk garam yang merekat erat dengan bantuan kalogen, sehingga dalam
masa perkembangannya, bentuk tulang dapat berubah atau mengalami kelainan jika ada
gangguan yang sejak lahir seperti adanya infeksi penyakit, faktor nutrisi dan gizi, maupun
posisi tubuh yang salah.2 Dengan adanya rangsangan terhadap kulit manusia baik rangsangan
yang sakit ataupun tidak, akan menimbulkan respon dengan gerak yang dikendalikan oleh
system saraf pusat (SSP).
Fungsi Tulang
Fungsi dari tulang, yaitu:3

Melindungi struktur vital


Menopang tubuh
Mendasari gerak secara mekanis
Membentuk sel darah
Menimbun berbagai mineral
Sebagai tempat melekatnya otot-otot

Osifikasi/Proses pembentukan tulang


Proses pembentukan tulang terjadi ketika bermula sejak umur embrio 6 7 minggu
dan berlangsung sampai dewasa sekitar umur 30-35 tahun. Bentuk tulang tiap orang berbeda
karena pada pembentukan tulang usia 0-30/35 tahun terjadi modeling tulang atau terbetuk
model tulang seseorang, dan pada umur 30-3 tahun merupakan massa remodeling dimana
modeling tulang selesai dan tinggal pergantian tulang yang sudah tua diganti dengan yang
masih muda/baru.4 Ada 2

proses pembentukan tulang berdasarkan lokasi atau tempat

terjadinya, yaitu:5
Osifikasi intermembran/intramembranosa
Proses pembentukan tulang ini terjadi pada jaringan ikat yang ada sejak tahap
fetus. Osifikasi intermembran utamanya terjadi pada pembentukan tulang pipih
pada tengkorak manusia dan juga pada rahang, maksila serta pada tulang
klavikula. Tulang yang terbentuk dari proses ini diperoleh dari mesenkim (salah

satu jaringan ikat), bukan dari kartilago (tulang rawan). Tahap dalam proses
pembentukan tulang ini, yaitu:
Perkembangan pusat pembentukan tulang.
Kalsifikasi
Pembentukan Trabecula
Perkembangan periosteum
Osifikasi endokondrial/intrakatilaginosa
Proses pembentukan tulang ini atau osifikasi endokondrial terjadi pada tulang
panjang contohnya tulang paha dan hampir pada semua tulang di tubuh manusia.
Proses pembentukan tulang ini terjadi pada kartilago (tulang rawan). Tahap
pembentukan tulang ini terbagi menjadi:
Perkembangan model kartilago
Pertumbuhan model kartilago
Perkembangan pusat osifikasi primer
Perkembangan pusat osifikasi sekunder
Perubahan kartilago articular dan lempeng epifisi
Histologi tulang terdiri atas sel-sel tulang berupa; osteoblas, osteosit, dan osteoklas, serat
(kolagen dan elastin), dan matriks tulang (zat organik dan anorganik). Secara makro struktur
tulang dibagi menjadi 2 jenis menurut jaringan penyusun dan sifat-sifatnya yaitu tulang keras
dan tulang rawan.
Tulang Keras (Osteon)
Tulang keras merupakan tulang yang bersifat kaku dan keras yang tersusun dari zat kapur
serta fosfor, dan jenis jaringan ikat khusus yang berfungsi sebagai penyokong tubuh,
penyusun rangka, tempat melekatnya otot, pelindung organ vital, memberi bentuk tubuh,
penyimpanan mineral, serta alat gerak pasif.6 Berdasarkan matriknya dibedakan menjadi
tulang kompak, yang matriksnya tersusun rapat dan padat yang mengandung zat kapur dan
fosfor, dan tulang spons, yang matriksnya berongga dan tersusun oleh anyaman trabeculae
(mirip dengan pecahan genting) yang pipih dan mengandung serat kolagen.7
Tulang rawan
Tulang ini dibagi menjadi 3, yaitu, tulang rawan hialin yang bentuk umum dalam tubuh
manusia, tulang rawan pada masa embrio dan pada masa dewasa, kemudian tulang rawan
yang sifatnya lentur dimana matriksnya terdapat serat elastis yang bercabang-cabang (tulang
rawan elastis), dan tulang yang banyak mengandung serat kolagen yang padat pada
matriksnya tidak teratur terlihat lebih kaku dan kuat disebut tulang rawan fibrokartilago.8
Ekstremitas Superior

Tulang-tulang ekstremitas superior (atas) terdiri dari scapula dan klavikula yang
membentuk gelang bahu, humerus, radius dan ulna yang membentuk lengan bawah, 8 tulang
karpal, 5 tulang metacarpal dan 14 phalanges. Ekstremitas atas terdiri dari:9-14

Klavikula
Klavikula atau tulang selangka adalah tulang yang melengkung yang membentuk
bagian anterior dari gelang bahu. Secara lateral berartikulasi dengan prosesus akromion
pada skapula membentuk artikulasio akromioklavikularis. Klavikula yang membentuk
bagian anterior dari gelang bahu dan memiliki fungsi sebagai tempat perlekatanan
sebagian otot leher, toraks, punggung dan lengan. Secara medial dengan manubrium
membentuk sendi sterno klavikular. Dua pertiga bagian medial dari tulang klavikula
berbentuk konveks, atau melengkung ke depan, sedangkan sepertiga bagian lateral
tulang klavikula berbentuk konkaf atau melengkung ke belakang. Klavikula merupakan
tulang yang paling mudah terjadi fraktur.

Skapula
Scapula atau tulang belikat membentuk bagian belakang dari gelang bahu dan terletak
di sebelah belakang torax yang lebih dekat permukaan daripada tulang iga. Bentuknya
segitiga pipih dan memperlihatkan dua permukaan, tiga sudut dan tiga sisi. Skapula
dipertahankan oleh otot-otot yang melekatkannya pada iga dan kolumna vertebralis.
Hal ini memungkinkan gerakan yang bebas pada gelang bahu, gerakan menggapai
kedepan dan kebelakang serta kesamping. Tulang ini jarang patah akibat jatuh, karena
ia tertanam didalam otot. Scapula mempunyai tiga sisi dan tiga sudut. Bagian
terbawah disebut sudut kerena paling tajam dan mudah diraba. Permukaan anterior
agak berbetuk konkaf dan terletak pada dinding toraks posterior, permukaan posterior
terbagi oleh sebuah belebas yang disebut spina dari skapula dan yang berjalan
menyeberangi permukaan itu sampai ujungnya dan berakhir menjadi prosesus

acromion.
Humerus
Humerus atau lengah atas merupakan tulang terpanjang anggota atas, memperlihatkan
sebuah batang dan ujung.
Kaput humerus berbentuk segitiga sferis, kaput yang bulat berartikulasi
dengan glenoid yang dangkal, sehingga susunan demikian memungkinkan
pergerakan bahu yang luas.

Kolum anatomikum memisahkan kaput dari tuberkulum majus dan minus.


Kolum chirugikum terletak dibawah kolum anatomikum antara ujung atas dan
korpus humeri.
Tuberkulum majus dan minus merupakan tempat perlekatan mm. rotatores,
dan keduanya dipisahkan oleh sulkus intertuberkularis. Tampak sulkus nervi
radialis yang halus di aspek posterior korpus humeri yang berjalan miring ke
arah bawah lateral. Kaput lateral dan medial triseps memiliki origo di kedua
sisi sulkus nervi radialis lewat di antara keduanya.
Pada artikulasio cubiti: troklea mempunyai artikulasi pada insisura troklearis

ulna.
Radius dan Ulna
Tendon biseps berinsersi dalam bagian posterior yang kasar pada tuberositas
radii. Bagian anterior tuberositas ini halus dan dilapisi bursa.
Ujung bawah radius mempunyai artikulasi dengan os skafoid dan os lunatum
karpal pada pergelangan tangan, dan bagian distal ulna tidak turut secara
langsung pada pergelangan tangan.
Caput radii terpisah dari corpus radii oleh collum radii.
Corpus radii di bagian tengah agak cepat membentuk margo interossea,
margo anterior, dan margo posterior.
Ujung distal radius melebar ke arah lateral membentuk processus styloideus
radii, di bagian medial membentuk incisura ulnaris, dan pada facies dorsalis
terdapat sulcus-sulcus yang ditempati oleh tendo. Permukaan ujung distal
radius membentuk facies articularis carpi. Permukaan dangkal pada caput
radii akan bersendi dengan capitulum dari os humerus.
Ujung proksimal os radius membentuk caput radii, berbentuk seperti roda,
letak melintang.
Ujung proximal ulna lebih besar daripada ujung distalnya.
Ujung proximal ulna terdapat incisura trochlearis, menghadap ke arah ventral,
membentuk persendian dengan trochlea humeri.
Tonjolan di bagian dorsal disebut olecranon.
Di sebelah caudal incisura radialis terdapat crista musculi supinatoris.
Corpus ulnae membentuk facies anterior, facies posterior, facies medialis,
margo interosseus, margo anterior dan margo posterior.
Ujung distal ulna disebut caput ulnae, berbentuk circumferentia articularis,
dan di bagian dorsal terdapat processus styloideus serta sulcus m.extensoris

carpi ulnaris.
Ujung distal ulna berhadapan dengan cartilago triangularis dan dengan radius.
Beberapa kelompok tulang tangan, yaitu:

Ossa carpalia (karpus), yang terdiri atas tulang hamatum (hamate), tulang
kapitatum (capitate), tulang trapezoid, tulang trapezium, tulang skapoid
(naviculare), tulang lunatum, tulang triquetrum, dan tulang pisiforme. Tulang
skapoid dan lunatum bersendi di atas dengan ujung bawah radius dalam
formasi pergelangan, dan bersendi di bawah dengan beberapa tulang karpal
barisan kedua.
Ossa metacarpal (metakarpus), terdapat lima tulang metacarpal. Ujung yang
bersendi dengan tulang kapal disebut ujung karpal dan sendi yang dibetuknya
adalah sendi karpo-metakarpal. Ujung distal bersendi dengan falang disebut
kepala. Batang tulang ini adalah prismoidal, dan permukaannya yang terbesar
menghadap posterior, otot interosa dikaitkan pada sisi batang.
Falang (phalanges). Ibu jari mempunyai 2 phalanges, sedangkan jari-jari
memiliki 3 phalanges (proksimal, medial, distal). Pada phalanx distal terdapat
daerah yang kasar pada bantalan jari.
Otot Lengan Bawah
Otot lengan bawah dan atas terdiri dari otot fleksor dan ekstensor, antara lain;15
Otot fleksor lengan atas : M. biceps brachii, M. coracobrachialis, M. brachialis
Otot ekstensor lengan atas : M. triceps brachii
Otot fleksor lengan bawah terdapat 3 lapisan, yaitu:
Lapisan I : M. pronator teres, M. fleksor carpi radialis, M. palmaris longus, M. fleksor
carpi ulnaris
Lapisan II : M. flexor digitorum sublimis
Lapisan III: M. fleksor digitorum profundus, M. pollicis longus, M. Pronator quadratus
Otot ekstensor lengan bawah :

Lapisan superficial: M. Brachioradialis, M. Extensor carpi radialis longus, M. Extensor


carpi radialis brevis, M. Extensor digitorum, M. Extensor digiti minimi, M. Extensor
carpi ulnaris.
Lapisan profunda: M. supinator, M. extensor indicis
Otot outcropping lapisan profunda: M. abductor pollicis longus, M. extensor pollicis
longus, M. extensor pollicis brevis.
Jaringan Kulit Epidermis (Histologi)
Komposisi kulit terdiri dari 70 persen air, 25 persen protein, dan <5 persen lemak.
Kulit melumas dirinya dengan minyak kulit, disebut sebum yang dihasilkan dari kelenjar
sebacea dan juga menyerap obat serta hormon. Kulit ari (epidermis) adalah bagian terluar
yang sangat tipis yang memiliki fungsi kulit melindungi tubuh dari berbagai zat kimia yang

terdapat diluar tubuh, melindungi tubuh dari sinar UV, melindungi tubuh dari bakteri,
meilndungi darah, organ, dan tulang dari lingkungan luar. Selain itu, kulit juga mempunyai
fungsi lain yaitu mempercantik penampilan, juga sebagai penopang kehidupan manusia,
menghasilkan keringat, dan sebagai alat sensor. Jauh di dalam kulit, folikel menumbuhkan
rambut halus yang akan menerima rangsangan sesaat sebelum kulit disentuh. Lapisan
epidermis terbagi menjadi 6 lapisan, yaitu:16,17
Lapisan Tanduk/Stratum kormeum: lapisan kulit epidermis yang paling luar dan
merupakan lapisan mati sehingga mudah mengelupas, tidak memiliki inti, dan
mengandung zat keratin
Lapisan Malpighi: lapisan kulit epidermis yang berada di bawah lapisan kulit
tanduk, tersusun atas sel-sel hidup yang selalu membelah diri, terdapat pembuluh
kapiler, untuk penyampaian nutrisi, sel -sel yang hidup mengandung melanin dan
pigmen keratin.
Stratum Korneum adalah lapisan kulit yang paling luar, lapisan yang paling tebal
di telapak kaki, dan paling tipis pada dahi, pipi dan pelupuk mata
Stratum Granulosum adalah lapisan yang mengandung dua atau empat lapisan sel,
mengandung granula keratohialin yang memiliki pengaruh dalam pembentukan
keratin pada lapisan atas epidermis.
Stratum Lusidum adalah lapisan yang mengandung dua sampai tiga lapisan sel
yang tidak memiliki inti yang biasanya terdapat pada kulit yang tebal yaitu telapak
tangan dan tumit kaki.
Stratum Germinalis adalah lapisan sel yang mengandung satu lapisan sel piral
yang secara aktif yang membelah diri secara mitosis untuk menghasilkan sel-sel
yang berpindah ke dalam lapisan-lapisan atas epidermis dan akhirnya ke
permukaan kulit.
Jaringan Otot (Histologi)
Otot merupakan organ yang rentan terhadap gangguan. Otot dibagi menjadi 3
kelompok dengan fungsi utama untuk kontraksi dan menghasilkan pergerakan sebagian atau

seluruh tubuh, mempertahankan postur tubuh, menghasilkan panas/kehangatan. 18-20 (Lihat


tabel 1)

Tabel 1. Jaringan Otot21


Metabolisme Otot (Biokimia)
Metabolisme adalah jumlah seluruh reaksi kimia dan fisik serta pengubahan energi
dalam tubuh yang menopang dan mempertahankan kehidupan. Metabolisme dibagi menjadi
anabolisme yang merupakan proses sistesis molekul komplek dari molekul sederhana,
sedangkan katabolisme adalah pemecahan atau penguraian molekul komplek besar menjadi
molekul sederhana. Perubahan metabolisme otot yang terjadi saat distimulasi untuk
berkontraksi meliputi keberadaan aktin miosin dalam sarkomer (unit kontraktil terkecil dalam
serabut otot), energi yang diperlukan untuk kontraksi otot didapat dari penggunaan glikogen,
reduksi fosfat kreatinin, dan pemasukkan darah oksigen dari darah arteri. Produk samping
dari reaksi ini berpotensi mengiritasi ujung saraf sensoris pada otot jika tidak dibuang oleh
aliran balik vena. Stimulus yang menyebabkan perubahan cepat dari pola gerakan yang sudah
mapan dan kontraksi isometric yang berkepanjangan dapat menyebabkan kegagalan fungsi
aktivitas otot terdiri dari kelelahan, cedera intramuscular, kekakuan, juga spasme. Semua hal
tersebut dapat menyebabkan kondisi seperti, mata kaki keseleo, housemaids knee, nyeri
punggung, tenis elbow, frozen shoulder, dan sindrom disfungsi mandibula.23

Refleks
Aksi refleks merupakan suatu respon yang timbul dari stimulus berupa impuls sepanjang
neuron aferen ke akar saraf posterior, atau ekivalen saraf kraniumnya, dan ditempat ini
ditransmisikan ke suatu neuron aferen via sel tanduk anterior atau nucleus cranium motoris
ke otot skelet, dan respon dapat berupa fasilitator atau inhibitor. Gerak refleks merupakan
bagian dari mekanisme pertahanan pada tubuh dan terjadi jauh lebih cepat daripada gerak
sadar, misalnya menutup mata pada saat terkena debu, menarik kembali tangan dari benda
panas yang menyakitkan yang tersentuh tanpa sengaja. Gerak refleks dapat dihambat
kemauan sadar; misalnya, bukan saja tidak menarik tangan dari benda panas, bahkan dengan
sengaja menyentuh permukaan benda panas itu. Secara umum, urutan dari gerak refleks
berawal dari reseptor menuju neuron sensoris, kemudian ke sumsum tulang belakang
dilanjutkan ke neuron motoris dan pada akhirnya akan menimbulkan aksi. Refleks somatic
terdiri:10,22,23

Refleks monosinaps, refleks yang disebut refleks regang (refleks tendon), biasa
digunakan dalam pemeriksaan neurologis, seperti ketukan di tendo patella yang akan
membangkitkan patella.

Refleks bisinaps adalah persarafan timbal balik (reciprocal innervation), pusatnya


medulla spinalis, dan efektornya otot antagonis (relaksasi).

Refleks polisinaps adalah refleks yang memerlukan banyak interneuron, pusatnya


polisinaps di medulla spinalis, terbagi menjadi refleks fleksor (withdrawal reflex)
yang terjadi sebagai respons terhadap rangsangan berbahaya dan biasanya
menyakitkan pada kulit atau jaringan subkutan serta otot, dan yang kedua adalah
stretch flexor reflex.

Proses Penyembuhan Luka


Proses penyembuhan luka ada 4 tahap:24
Tahap respons inflamasi akut terhadap cedera: dimulai saat terjadi luka, proses
homeostatis terjadi ditandai pelepasan histamine dan mediator lain lebih dari sel-sel
yang rusak, disertai proses peradangan dan migrasi sel darah putih ke daerah yang
rusak.

Tahap

destruktif:

terjadi

pembersihan

jaringan

yang

mati

oleh

leukosit

polimorfonuklear dan makrofag.


Tahap poliferatif: pembuluh darah baru diperkuat oleh jaringan ikat dan menginfiltrasi
luka.
Tahap maturasi: terjadi reepitelisasi, kontraksi luka, dan organisasi jaringan ikat.
Kesimpulan
Jaringan dalam tubuh yang memiliki massa yang paling besar adalah tulang dan otot,
yang dibungkus oleh lapisan-lapisan kulit dalam maupun luar. Karena ada respon dari
rangsang yang memberikan rasa sakit pada kulit, khusunya di bagian terluar kulit yaitu
epidermis, sehingga ketika terkena sesuatu yang keras dan tajam dapat menimbulkan rasa
sakit serta cedera pada lapisan epidermis, seperti goresan yang tidak menimbulkan darah.

Daftar Pustaka
1

Mardiana D. Buku pintar nyeri tulang dan otot. Jakarta: Erlangga; 2007. h.14.

Materi sistem gerak pada manusia (Rangka, Tulang, Otot dan Persendian).
http://www.gudangbiologi.com/2015/06/materi-sistem-gerak-pada-manusia.html.
Diunduh 23 Maret 2016.

Moore K. Anatomi klinis dasar. Jakarta. Penerbit Hipokrates; 1995.h.9.

Proses pembentukan tulang pada manusia.


https://fabianpablo.wordpress.com/2013/12/01/proses-pembentukan-tulang-padamanusia/. Diunduh 24 Maret 2016.

Belajar proses pembentukan tulang. http://belajarbiologi.com/2015/04/belajar-prosespembentukan-tulang-osifikasi.html#. Diunduh 23 Maret 2016.

Definisi, struktur tulang keras, fungsi, & contoh tulang keras (osteon).
http://kakakpintar.com/definisi-struktur-tulang-keras-fungsi-contoh-tulang-kerasosteon/. Diunduh 24 Maret 2016.

Artikelsiana. 2014. Pengertian, jenis, dan ciri-ciri tulang keras.


http://www.artikelsiana.com/2014/11/pengertian-jenis-ciri-ciri-tulang-keras.html.
Diunduh 24 maret 2016.

Pengertian, jenis, dan ciri-ciri tulang rawan.


http://www.artikelsiana.com/2014/11/Pengertian-Jenis-Ciri-Ciri-Tulang-Rawan.html.
Diunduh 24 Maret 2016.

Watson R. Anatomi dan fisiologi untuk perawat. Jakarta : EGC;2002(10).h.165-80.

10 Pearce EC. Anatomi dan fisiologi untuk paramedis. Jakarta: Gramedia; 2012.h.79-88,
354.
11 Faiz O, Moffat D. At a glance series anatomi. Erlangga; 2004.h.59.
12 Suhartono, Hidayat EPS. Teknik radiografi Tulang Ekstremitas Atas. Jakarta: EGC;
2004.h.23.
13 Muhajir S. Belajar anatomi. http://siddiq-muhajir-fk12.web.unair.ac.id/artikel_detail73156-Kuliah%20FK%20UA-Belajar%20anatomi.html. 2013. Diunduh 26 Maret
2016.
14 Gibson J. Fisiologi dan anatomi modern untuk perawat. Edisi ke-2. Jakarta: EGC;
2003.h.43-50.
15 Otot Ekstrinsik pada Pergelangan Tangan Dan Tangan
http://kliksma.com/2015/04/otot-ekstrinsik-pada-pergelangan-tangan-dantangan.html. Diunduh 26 Maret 2016.
16 Mehmet C, Roizen MF. Being beautiful: sehat dan cantik luar dalam ala dr.Oz.
Bandung: PT Mizan Pustaka; 2010.h.47-53.

17 Bagian-bagian lapisan kulit dan fungsinya.


http://www.artikelsiana.com/2015/03/kulit-bagian-bagian-lapisan-kulit-fungsikulit.html. Diunduh 23 Maret 2016.
18 Thomson H. Oklusi. Edisi ke-2. Jakarta: EGC; 2007.h.15.
19 Fungsi otot pada manusia. http://fungsi.web.id/2015/03/fungsi-otot.html. Diunduh 23
Maret 2016.
20 Suratum, Heryati, Manurung S, Raenah E. Seri asuhan keperawatan klien gangguan
system musculoskeletal. Jakarta: EGC; 2008.h..3-11.
21 Jaringan otot. http://www.sentra-edukasi.com/2011/07/jaringanotot.html#.VvQh9FIXWKE. Diunduh 23 Maret 2016.
22 Thomson H. Oklusi. Edisi ke-2. Jakarta: EGC; 2007.h.49-56.
23 Muttaqin A. Buku ajaran asuhan keperawatan dengan gangguan sistem persarafan.
Jakarta: Salemba Medika; 2008.h.45.
24 Uliyah M, Hidayat AAA. Keterampilan dasar praktik klinik untuk kebidanan. Edisi
ke-2. Jakarta: Salemba Medika; 2008.h.234.