Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN FIELD TRIP

TEMPAT PEMROSESAN AKHIR (TPA) DI DESA SUKOHARJO


KECAMATAN MARGOREJO KABUPATEN PATI

Disusun oleh :
Diena Fadiah
21080113140092

JURUSAN TEKNIK LINGKUNGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2016

2.1

Gambaran Umum TPA Sukoharjo


TPA Kabupaten Pati terletak di desa Sukoharjo Kecamatan Margorejo

Kabupaten Pati dibangun pada awalnya seperti berbagai Tempat Pembuangan Akhir
Sampah lainnya yang identik dengan gundukan sampah dan bau busuk, namun selama
tujuh tahun proses pembangunan, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pati sebagai
pengelola TPA Margorejo memiliki master plan untuk menjadikan TPA Kabupaten Pati
sebagai tempat wisata lokal bagi warga kota Pati dan sekitarnya. TPA Kabupaten Pati
disiapkan menjadi tempat penimbunan dan pengelolaan sampah berbasis edukatif
lingkungan hidup dengan luas 12,5 Hektare. Hal inilah yang menjadikan Kota Pati
kembali menyabet penghargaan bergengsi di bidang lingkungan Adipura Kencana.
Sampah identik dengan bau dan kotor. Tapi pemandangan berbeda saat
mengunjungi Tempat Pemprosesan Akhir Sampah (TPA) Kabupaten Pati yang terletak
di desa Sukoharjo, kecamatan Margorejo. Di TPA ini hal-hal yang berhubungan dengan
sampah seperti bau dan kotor tidak akan didapati. Di TPA ini justru mendapati
kenyamanan. Selain bersih, teduh dan tidak berbau, di TPA ini juga ada Wahana
Edukasi untuk anak anak, taman bermain, jogging trek, bumi perkemahan, taman
membaca serta edukasi pengolahan sampah menjadi berbagai hal yang bermanfaat.
Wahana edukasi tersebut berupa adanya berbagai jenis satwa seperti monyet,
menjangan, landak, ular pithon, berbagai jenis burung, pohon-pohon langka seperti
pohon nagasari, juga ada. Di TPA juga ada taman bermain untuk anak-anak yang
disebut dengan taman ke hati. Taman tersebut merupakan wahan bermain anak seperti ;
ayunan, lorodan, taman membaca dan lainnya. Hadirnya pohon-pohon besar yang
menambah keteduhan menjadikan tempat ini terasa lebih nyaman.
Fungsi utama TPA adalah tempat pembuangan akhir sampah, namun TPA
Kabupaten Pati ini disiapkan pula sebagai ruang publik dan wahana rekreasi alternatif
yang bersifat edukatif bagi warga Pati dan sekitarnya. Fasilitas yang disediakan oleh
pengelola TPA sebagai objek wisata edukatif yaitu ruang proses pengolahan sampah,
kebun binatang mini, arena outbond dan bumi perkemahan, taman kehati
(keanekaragaman hayati), dan taman bacaan. Seluruh fasilitas penunjang kegiatan
edukatif bertema lingkungan tersebut tidak dikenakan biaya oleh pihak pengelola.

2.2

Sistem Pengolahan Sampah di TPA Sukoharjo


Metode pengelolaan sampah di TPA Kabupaten Pati menggunakan metode

Controlled Landfill. TPA Controlled Landfill merupakan sarana pengurugan sampah


yang bersifat antara, sebelum mampu melaksanakan operasi sanitary landfill. Penutupan
tanah sel sampah dengan tanah penutup dilakukan setiap 7 hari sekali (Tim Teknis
Pembangunan Sanitasi, 2010:118). Metode Controlled Landfill di TPA Kabupaten Pati
dilakukan dengan cara sampah dibuang pada lubang berukuran besar kemudian
ditimbun dengan lapisan tanah dan dipadatkan. Penimbunan dilakukan berulang kali
sehingga lubang penuh. Lubang yang telah penuh (disebut zona non aktif) inilah yang
kemudian digunakan sebagai ruang publik.
Saat ini setiap hari rata-rata sampah yang masuk ke TPA Sukoharjo ini sekitar 50
ton sampah. Jumlah itu, hanya diproduksi warga di Kecamatan Pati saja, jadi akan lebih
banyak totalnya jika dikalkulasi di seluruh kecamatan di Pati. Sampah sendiri dibagi
menjadi dua. yaitu organik dan anorganik. Sampah organik seperti daun, sisa-sisa
makanan, dan yang sejenisnya kita buat kompos. Sedangkan yang anorganik seperti
kertas, botol plastik, logam dan yang sejenisnya di pilah kemudian di daur ulang. Sistem
pengolahan sampah yang diterapkan di TPA Sukoharjo juga sudah sesuai standar.
Sampah organik dan anorganik yang masuk, langsung diolah dengan eskavator
berdasarkan teknik terasering. Setelah itu, ditutup dengan tanah. Sebelum ditutup
dengan tanah, sampah sudah dipisahkan antara sampah organik dan anorganik. Sampah
organik ditutup dengan tanah, sedangkan sampah anorganik diambil pemulung.
Sedikitnya ada 60 pemulung yang mengambil sampah anorganik di sini, seperti plastik,
besi dan sebagainya. Dengan pemanfaatan itu, TPA Sukoharjo dapat menghasilkan
pupuk kompos dari sampah organik yang ditimbun dengan tanah. Sementara itu,
sampah anorganik memberikan lapangan pekerjaan bagi pemulung yang nantinya akan
diolah lagi menjadi biji plastik.
Di TPA ini sendiri dilengkapi dengan (Instalasi Pengolahan Air Limbah) IPAL.
Sampah kalau tidak diolah dengan benar akan menghasilkan Gas Metan yang dapat
merusak lapisan ozon dan Air Lindi. Untuk itu Air Lindi yang di hasilkan sampah di
proses dahulu dengan IPAL. Setelah menjadi tidak berbahaya baru di buang ke sungai.
Sedangkan gas metan dimanfaatkan untuk bahan bakar pengganti LPJ, bahkan juga
dapat kita gunakan sebagai penggerak generator untuk menghidupkan listrik. Limbah

plastik yang saat ini paling susah untuk diurai, dapat dimanfaatkan sebagai pengganti
bahan bakar alternatif. Karena plastik berasal dari limbah minyak bumi.
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Desa Sukoharjo mempunyai
lubang penimbunan untuk percontohan. Lubang tersebut sesuai ketentuan yang
disyaratkan

dalam

pengelolaan

lingkungan,

yaitu

tidak

boleh

menimbulkan

pencemaran.Karena itu dari syarat ketentuan teknis, benar-benar harus terpenuhi


meskipun konsekuensinya mengeluarkan biaya mahal. Sebab, lubang penimbunan
tersebut baik bagian dasar maupun semua sisi-sisi dindingnya harus menggunakan
pelapis geotekstil, sehingga semakin besar ukuran lubang penimbunan yang
dikehendaki tentu semakin mahal biaya yang dikeluarkan. Akan tetapi idealnya lokasi
lubang penimbunan itu berada di pinggir kali. Sehingga secara teknis, air buangan yang
timbul dari proses pembusukan sampah tidak hanya mengendap di bak penampungan,
tapi bisa dibuang ke kali yang biasa dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam.
Mengingat air buangan sudah melalui proses maksimal, maka standar baku mutu pun
sudah terukur, sehingga dipastikan tidak menimbulkan pencemaran.
Perusahaan- perusahaan yang dalam berproduksi menghasilkan air buangan
berupa limbah bisa menggunakan sistem tersebut, karena proses akhir pengelolahannya
memenuhi standar baku mutu. Dengan kata lain meskipun air tersebut tidak dibuang ke
kali tapi bisa dimanfaatkan kembali. Paling tidak, bukan sebagai air yang dikonsumsi
untuk kebutuhan sehari-hari, karena untuk keperluan tersebut harus melalui proses
khusus seperti yang dilakukan oleh perusahaan air minum. Empat Bak Terlepas dari hal
tersebut, proses air limbah dari pembusukan sampah yang lazim disebut licitdi
lubang penimbunan percontohan itu tidak akan menimbulkan rembesan di lingkungan
sekitar. Sebab, lubang sudah diberi pelapis geotekstil, dan masih juga diberi peresapan
dari batu grosok secara berlapis menggunakan ijuk. Melalui proses itu, air licit dari
lubang penimbunan masuk ke bak penampungan satu sampai dengan empat.
Dengan demikian, air dari bak terakhir tetap aman untuk dibuang ke kali karena
dipastikan sudah bersih dengan standar baku mutu yang disyaratkan sebagai air buangan
dari TPA. Hanya melalui komitmen untuk tidak menimbulkan pencemaran lingkungan,
pembuatan lubang penimbunan sampah TPA harus dikelola dengan sistem tersebut.
Karena itu wajar, jika sistem proses pembuangan limbah cair dari lubang penimbunan
sampah menggunakan pelapis geotekstil adalah paling tepat.

2.3

Teknologi Terapan di TPA Sukoharjo


Teknologi yang sudah di terapkan di TPA Sukoharjo yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.

Biogas biomethangreen
sampah plastik bisa menjadi bahan bakar (masih berupa minyak tanah)
Air lindi jadi pupuk cair
Sampah daun-daunan jadi briket (batu bara organik)
Pembuatan kompos