Anda di halaman 1dari 2

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Tindak pidana penipuan yang diikuti dengan Tindak pidana pencucian uang yang
terjadi dewasa ini telah terjadi secara meluas di segala segi kehidupan birokrasi negara ini.
Dengan melakukan penipuan seseorang tidak saja merugikan orang lain akan tetapi juga
melanggar hak-hak sosial dan ekonomi masyarakat luas. Sehingga sangat wajar
menempatkan tindak pidana penipuan dan tindak pidana pencucian uang sebagai suatu
kejahatan luar biasa (extraordinary crime) dan penanggulanggan tindak pidana tersebut tentu
saja harus dilakukan secara luar biasa.
Tindak pidana pencucian uang dan tindak pidana penipuan telah mengalami
perkembangan pesat. Kedua tindak pidana tersebut telah berkembang menjadi suatu
kejahatan transnational yang melampaui batas-batas teritorial negara. Oleh karena itu sistem
perundang-undangan yang lama telah diperbarui menjadi Undang-Undang No. 8 Tahun 2010
tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
Salah satu contoh kasus sebuah penipuan disertai dengan Pencucian Uang adalah
seperti hal berikut dijelaskan dalam sebuah kasus posisi.
AA, AM, RA, dan AR dengan nama inisial sebagai tersangka penipuan sudah banyak korban
yang menjadi targetnya, AA, AM, RA, dan AR ini melakukan sebuah penipuan dengan
mengatas namakan bahwa mereka adalah pejabat DPR, dan mereka melakukan pemalsuan
kartu identitas, dan KK. AA, AM, RA, dan AR menargetkan korban yang memiliki hubungan
erat dengan pejabat tersebut, dan dari hasil sebelumnya mereka telah menguntungkan diri
mereka dari hasil penipuan tersebut untuk biaya hidup mereka.
Kemudian AA, AM, RA, dan AR terus melakukan pencarian untuk dijadikan korban
berikutnya, dan kemudian para tersangka tersebut mendapatkan korban yaitu seorang
bendahara direktur reserse kriminal umum atas nama Hedro Wijatmoko, Para Tersangka
dalam berbicara dengan sang bendahara mengaku sebagai direktur reserse kriminal umum itu
sendiri.
Para tersangka meminta kepada Hedro Wijatmoko dengan sejumlah uang sebesar Rp 200
juta, yang mana para tersangka mengaku uang tersebut digunakan untuk keperluan tugas
yang mendesak, tetapi kemudian sang bendahara sigap dalam melakukan tindakan, sehingga
sang bendahara melaporkan hal ini secara langsung.
Para tersangka dipancing sendiri oleh pihak kepolisian dengan bahwa sang bendahara telah
mengirim sejumlah uang yang diminta oleh tersangka dengan mentransfer uang tersebut ke
rekening yang telah diberi tahukan oleh para tersangka tersebut.
Bahwa hasil dari penipuan tersebut oleh para tersangka digunakan untuk membeli narkoba,
dan untuk hal-hal lainnya dalam kebutuhan hidup atau memperkaya hidup para tersangka.
Kemudian para tersangka berhasil diringkus oleh pihak kepolisian, dan diketahui para
tersangka menggunakan banyak kartu ATM dari berbagai bank-bank di Indonesia.

Bahwa akibat dari perbuatan para tersangka, banyak yang telah dirugikan akibat
perbuatannya tersebut, dan perbuatan yang dilakukan oleh para tersangka adalah melanggar
hukum sebagaimana diatur dan diancam pidana dengan pasal 3 Undang-Undang No. 8 Tahun
2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang dan kasus posisi diatas maka dapat ditarik dan terarah
dalam masalah ini adalah:
1. Bagaimana tindak pidana pencucian uang?
2. Hal-hal yang menjadikan sebuah penipuan bisa juga disebut sebagai tindak pidana
pencucian uang?
1.3 Tujuan Penulisan
Penulisan ini dilaksanakan dengan tujuan agar dapat memberikan manfaat sesuai
dengan apa yang diharapkan. Adapaun tujuan dari penulisan ini adalah sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui tindak pidana pencucian uang lebih mendalam untuk memenuhi
syarat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum;
b. Untuk mengetahui bahwa unsur penipuan memiliki keterkaitan sebagai tindak pidana
pencucian uang.