Anda di halaman 1dari 14

Hifema et causa Trauma Tumpul

Oktarita Gracia Nenobais


102013126
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No.6 Jakarta Barat
Grace.nenobais@yahoo.co.id
Pendahuluan
Mata adalah organ sekaligus indra yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Oleh
sebab itu, maka mata selayaknya dijaga sebaik baiknya. Namun, suatu ketika apabila ada
terjadi suatu hal seperti misalnya kecelakaan atau terkena trauma pada mata, maka mata akan
dapat mengalami gangguan.1
Trauma itu bisa terjadi oleh karena berbagai hal salah satunya karena benda tumpul.
Trauma mata oleh benda tumpul merupakan peritiwa yang sering terjadi. Kerusakan jaringan
yang terjadi akibat trauma demikian bervariasi mulai dari yang ringan hingga berat sehingga
dapat mengakibatkan kebutaan. Untuk mnegetahui kelainan yang ditimbulakan perlu
diadakan pemeriksaan yang cermat, terdiri atas anamnesis dan pemeriksaan. Trauma dapat
menyebabkan kerusakan pada bola mata yang dapat mengakibatkan gangguan fungsi
penglihatan. Oleh karena itu memerlukan perawatan yang tepat untuk mencegah terjadinya
kebutaan. Trauma tumpul merupakan peristiwa yang sering terjadi. Meski mata merupakan
organ yang sangat terlindung dalam orbita, kelopak dan jaringan lemak retrobulbar selain
terdapatnya refleks memejam atau mengedip, mata masih sering mengalami cedera dari dunia
luar.2
Dalam makalah ini akan dibahas sebuah skenario dimana seorang laki-laki usia 20
tahun datang ke dokter dengan keluhan mata kanan merah, sakit dan berair sejak 30 menit
yang lalu.
Anamnesis
Anamnesis dapat dilakukan kepada pasien secara langsung apabila kondisinya
memungkinkan (auto-anamnesis), namun dapat ditanyakan pula pada orang terdekat atau
orang yang mengantar pasien ke dokter (allo-anamnesis). Sesuai dengan kasus, pertanyaan
yang diajukan dapat meliputi identitas diri, keluhan utama, sejak kapan keluahan utama
1

muncul, keluhan lain yang mungkin dirasakan, riwayat penyakit yang diderita saat ini,
riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, riwayat pengobatan yang sudah
dilakukan dan kondisi sosial ekonomi pasien.2
Identitas meliputi nama pasien, umur, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, alamat,
pekerjaan, suku bangsa dan agama.2
Keluhan utama adalah keluhan yang dirasakan pasien yang membawa pasien ke
dokter atau mencari pertolongan. Dalam menulis keluhan utama harus disertai dengan waktu,
berapa lama pasien mengalami keluhan tersebut.2
Riwayat penyakit sekarang merupakan cerita kronologis, terinci dan jelas mengenai
keadaaan kesehatan pasien sejak sebelum mengalami keluhan utama tersebut sampai datang
berobat dan apakah ada keluhan tambahan.2
Riwayat penyakit dahulu, apakah dahulu pasien pernah mengalami sakit seperti ini
dan penggunaan obat-obat yang dapat memicu terjadinya keluhan tersebut.2
Riwayat penyakit keluarga dan psikosaosial.2
Riwayat kebiasaan dan ekonomi perlu ditanyakan apakah pasien memiliki kebiasaan,
makan makanan yang kurang bersih, meminum-minuman berakohol atau pun merokok dan
riwayat bepergian.2
Pada saat anamnesis kasus trauma mata ditanyakan waktu kejadian, proses terjadi
trauma dan benda yang mengenai mata tersebut. Bagaimana arah datangnya benda yang
mengenai mata itu, apakah dari depan, samping atas, samping bawah atau dari arah lain dan
bagaimana kecepatannya waktu mengenai mata dan bahan tersebut, apakah terbuat dari kayu,
besi atau bahan lainnya. Jika kejadian kurang dari satu jam maka perlu ditanyakan ketajaman
penglihatan atau nyeri pada mata karena berhubungan dengan peningkatan tekanan intra
okuler akibat perdarahan sekunder. 1
Apakah trauma tersebut disertai dengan keluarnya darah, dan apakah pernah
mendapatkan pertolongan sebelumnya. Perlu juga ditanyakan riwayat kesehatan mata
sebelum terjadi trauma, apabila terjadi pengurangan penglihatan ditanyakan apakah
pengurangan penglihatan itu terjadi sebelum atau sesudah kecelakaan tersebut, ambliopia,
penyakit kornea atau glaukoma, riwayat pembukaan darah atau penggunaan antikoagulan
sistemik seperti aspirin atau warfarin.1
Didapatkan hasil anamnesis dari pasien laki-laki tersebut adalah sebagai berikut:
Usia

20 tahun

Keluhan Utama

Mata kanan merah, sakit dan berair sejak 30


menit yang lalu akibat terkena bola futsal.

Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Inspeksi dapat dibagi menjadi inspeksi umum dan inspeksi khusus. Pada inspeksi
umum pemeriksa melihat perubahan yang terjadi secara umum, sehingga dapat diperoleh
kesan keadaan umum pasien. Pada inspeksi lokal, dilihat perubahan-perubahan lokal sampai
yang sekecil-kecilnya. Untuk bahan pembanding perlu dilihat pada keadaan sisi lainnya. 2
Pada pemeriksaan ispeksi kasus Trauma Mata, yang perlu dilihat adalah adanya
pembengkakkan pada kelopak mata akibat dari terkena trauma ataupun perdarahan.
Bila ditemukan kasus hifema, sebaiknya dilakukan pemeriksaan secara teliti keadaan
mata luar, hal ini penting karena mungkin saja pada riwayat trauma tumpul akan ditemukan
kelainan berupa trauma tembus seperti ekmosis, laserasi kelopak mata, proptosis, enoftalmus,
fraktur yang disertai dengan gangguan pada gerakan mata.3
Kadang-kadang kita menemukan kelainan berupa defek epitel, edema kornea dan
imbibisi kornea bila hifema sudah terjadi lebih dari 5 hari. Ditemukan darah didalam bilik
mata depan.2,3
Palpasi
Yaitu pemeriksaan dengan meraba, menggunakan telapak tangan dan memanfaatkan
alat peraba yang terdapat pada telapak dan jari tangan. Dengan palpasi dapat ditentukan
bentuk, besar, tepi, permukaan serta konsistensi organ. Pada kasus Hifema akibat trauma
tumpul, perlu ditanyakan apakah pasien merasakan nyeri lokal di tempat-tempat tertentu.
Pada pemeriksaan untuk pengukuran tekanan intraokuler cara palpasi, sering digunakan cara
tonometer digital.2,3
Tonometer digital adalah cara yang paling buruk dalam penilaian terhadap tekanan
bola mata oleh karena bersifat subjektif. Dasar pemeriksaannya adalah dengan merasakan
reaksi kelenturan bola mata (balotement) pada saat melakukan penekanan bergantian dengan
kedua jari tangan, lalu membandingkan tahanan kedua bola mata terhadap tekanan jari.
Tekanan bola mata dengan cara digital dinyatakan dengan nilai N+1, N+2, N+3, dan
sebaliknya N-1 sampai seterusnya.2,3
Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan ketajaman penglihatan: menggunakan kartu mata Snellen; visus dapat


menurun akibat kerusakan kornea, aqueous humor, iris dan retina.3
3

Lapangan pandang: penurunan dapat disebabkan oleh patologi vaskuler okuler, glaukoma.3
Pemulasan Fluorescen : Hanya epitel kornea yg rusak yang bersifat menyerap fluorescen.
Caranya tetes irigasi pada mata, penilaian : + warna hijau (kerusakan epitel kornea)

Indikasi tes fluorescen :3


a. Adanya gejala trias (fotofobi, lakrimasi, dan blefarospasme).
b. Riwayat trauma mata
c. Mata merah
d. Ada kekeruhan kornea
Pengukuran tonografi: mengkaji tekanan intra okuler. 3
SlitLamp Biomicroscopy: untuk menentukan kedalaman COA dan iridocorneal contact,

aqueous flare, dan synechia posterior.3


Pemeriksaan oftalmoskopi: mengkaji struktur internal okuler.3
Ultrasonografi (USG): dilakukan untuk mengetahui adanya ablasio retina, gangguan badan
kaca, bengkak bola mata.3
Dari hasil pemeriksaan fisik pasien di dapatkan visus mata kanan 1/60, pinhole tidak

maju, visus mata kiri 6/6. Pada pemeriksaan didapatkan spasme palpebra, konjungtiva
anemis, kornea udema sedikit keruh, terdapat cairan darah pada kamera okuli anterior, lensa
dan segmen posterior sulit dinilai, tekanan intraokuler N+2.
Diagnosis Kerja
Hifema adalah keadaan dimana terdapat darah di dalam bilik mata depan (antara
kornea dan iris), yang terjadi akibat trauma tumpul yang merobek pembuluh darah iris atau
badan siliar dan bercampur dengan humor aqueus, yang sebenarnya berwarna jernih. Darah
yang terkumpul di bilik mata depan biasanya terlihat dengan mata telanjang. Walaupun darah
yang terdapat di bilik mata depan sedikit, tetap dapat menurunkan penglihatan.4
Hifema sendiri dapat diklasifikasikan berdasarkan waktu terjadinya, yakni :4

Hifema primer : timbul segera setelah trauma hingga hari ke 2

Hifema sekunder :timbul pada hari ke 2-5 setelah terjadi trauma.

Selain daripada itu, hifema juga dapat dibagi atau dapat terjadi pada 3 bagian ruang
anterior. Kebanyakan hifema mengisi kurang dari sepertiga dari ruang anterior. Ketika hifema
dibagi menjadi 4 kelompok sesuai dengan jumlah pengisian ruang depan, 58% sesuai dengan
grade 1, 20% sesuai dengan grade 2, 14% sesuai dengan grade 3, dan 8% adalah grade 4 atai
hifema total. Sedikit dari setengah dari semua kasus hifema beristirahat pada daerah inferior
untuk membentuk tingkat, kira-kira 40% membentuk gumpalan yang padat, biasanya melekat
4

pada stroma iris, dan 10% memiliki gumpalan gelap yang kontak dengan endotelium. Bentuk
terakhir ini mungkin menghasilkan hasil yang buruk dan pewarnaan kornea.4,5
Tabel 1. Grade Hifema berdasarkan klinis menurut Sheppard5
Grade I

darah mengisi kurang dari sepertiga COA

58%

Grade II

darah mengisi sepertiga hingga setengah COA

20%

Grade III

darah mengisi hampir total COA

14%

Grade IV

darah memenuhi seluruh COA

8%

Sebuah metode alternatif grading hifema melibatkan pengukuran (dalam milimeter)


hifema dari inferior pukul-6 limbus. Metode ini dapat membantu dalam memantau kemajuan
resolusi atau terjadinya rebleeding. Analisis digital imaging juga berguna dan objektif tetapi
tersedia hanya dalam beberapa penelitian atau fasilitas akademis.5
Penyebab dari perdarahan ruang okuli anterior pada luka-luka memar yang dianggap
berkaitan dengan perpindahan dari jaringan posterior atau gelombang cairan yang dihasilkan
dalam aqueous humor dan vitreous. Pergeseran dinamis tiba-tiba membentang pembuluh
darah limbal (pertemuan antara kornea dan sklera) dan menggantikan iris dan lensa.
Perpindahan ini dapat mengakibatkan robekan pada iris mata atau badan ciliary, biasanya di
struktur sudut. Adanya luka/robek pada bagian anterior dari badan ciliary adalah situs yang
paling umum dari perdarahan dan terjadi pada sekitar 71% dari kasus. Darah keluar dari
ruang anterior melalui jaringan trabecular dan kanal Schlemm atau jaringan juxtacanalicular.
Durasi umum dari hifema tanpa komplikasi adalah 5-6 hari. Durasi rata-rata tekanan
intraokular tinggi adalah 6 hari.4
Diagnosis Banding
1. Endoftalmitis
Endoftalmitis merupakan peradangan berat dalam bola mata yang biasa disebabkan
oleh infeksi. Terdapat 2 tipe endoftalmitis, endogen dan eksogen. Endoftalmitis endogen
diakibatkan penyebaran bakteri dari tempat lain di tubuh kita melalui aliran darah.
Endoftalmitis eksogen dapat terjadi akibat trauma tembus atau infeksi pada tindakan

pembedahan yang membuka bola mata. Endoftalmitis endogen sangat jarang, hanya 215% dari seluruh endoftalmitis.5
Gambaran kliniknya adalah rasa sakit yang sangat, kelopak merah dan bengkak,
kelopak sukar dibuka, konjungtiva kemotik dan merah, kornea keruh, bilik mata depan
keruh. Selain itu akan terjadi penurunan tajam penglihatan dan fotofobia (takut cahaya).
Endoftalmitis akibat pembedahan biasa terjadi setelah 24 jam dan penglihatan akan
semakin memburuk dengan berlalunya waktu. Bila sudah memburuk, akan terbentuk
hipopion, yaitu kantung berisi cairan putih, di depan iris.4
2. Uveitis Anterior
Uveitis anterior adalah proses radang yang mengenai uvea bagian anterior, yaitu
mengenai iris (iritis), badan silier (siklitis), atau kedua-duanya (iridosiklitis).
Uveitis anterior dapat berjalan akut maupun kronis. Penyebabnya tidak dapat
diketahui dengan melihat gambaran klinisnya saja. Uveitis anterior dapat disebabkan oleh
gangguan sistemik di tempat lain, yang secara hematogen dapat menjalar ke mata atau
timbul reaksi alergi mata.5
Keluhan yang menyertai uveitis anterior adalah nyeri, terutama di bulbus okuli,
sakitnya spontan atau pada penekanan di daerah badan siliar, sakit kepala di kening yang
menjalar ke temporal, fotofobia, bervariasi dan dapat demikian hebat pada uveitis anterior
akut, lakrimasi yang terjadi biasanya sebanding dengan derajat fotofobia, gangguan visus
dan bersifat unilateral. Riwayat tentang mata didapatkan apakah pernah terserang uveitis
sebelumnya atau pernah mengalami trauma tembus mata atau pembedahan.1

Etiologi
Berdasarkan penyebabnya, hifema terbagi menjadi tiga yakni:1
1. Hifema traumatik
2. Hifema iatrogenik
3. Hifema spontan
Hifema traumatik merupakan jenis yang tersering, Trauma yang dapat terjadi antara
lain:1,4

Trauma Benda Asing, yang menempel dibawah kelopak mata atas atau pada
permukaan mata, terutama pada kornea.

Trauma Tumpul, diakibatkan benda yang keras atau benda tidak keras dengan ujung
tumpul, dimana benda tersebut dapat mengenai mata dengan kencang atau lambat
sehingga terjadi kerusakn pada jaringan bola mata atau daerah sekitarnya. Trauma
tumpul biasanya terjadi karena aktivitas sehari-hari ataupun karena olah raga.
Biasanya benda-benda yang sering menyebabkan trauma tumpul berupa bola tenis,
bola sepak, bola tenis meja, shuttlecock dan lain sebagianya.

Trauma Tembus, diakibatkan oleh benda tajam atau benda asing lainya yang
mengakibatkan terjadinya robekan jaringan-jarinagan mata secara berurutan, misalnya
mulai dari palpebra,kornea, uvea sampai mengenai lensa.

Trauma Kimia dan Radiasi, dapat terjadi pada kecelakaan yang terjadi di
laboratorium, industri, pekerjaan yang memakai bahan kimia, pekerjaan pertanian dan
peperangan yang memakai bahan kimia, maupun kecelakaan akibat

terpaparnya

organ orbita oleh sinar (radiasi) yang dapat mengakibatkan kerusakan pada lensa, iris
dan kapsul disekitar lensa.1
Trauma tumpul yang menghantam bagian depan mata misalnya, mengakibatkan
terjadinya perubahan bola mata berupa kompresi diameter anteroposterior serta ekspansi
bidang ekuatorial. Perubahan ini mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan intraokular
secara transien yang mengakibatkan terjadinay penekanan pada struktur pembuluh darah di
uvea (iris dan badan silier). Pembuluh darah yang mengalami gaya regang dan tekan ini akan
mengalami ruptur dan melepaskan isinya ke bilik mata depan (camera oculi anterior).2
Hifema iatrogenik adalah hifema yang timbul dan merupakan komplikasi dari proses
medis, seperti proses pembedahan. Hifema jenis ini dapat terjadi intraoperatif maupun
postoperatif. Pada umumnya manipulasi yang melibatkan struktur kaya pembuluh darah
dapat mengakibatkan hifema iatrogenik.
Hifema spontan sering dikacaukan dengan hifema trauma. Perlunya anamnesis tentang
adanya riwayat trauma pada mata dapat membedakan kedua jenis hifema. Hifema spontan
adalah perdarahan bilik mata depan akibat adanya proses neovaskularisasi, neoplasma,
maupun adanya gangguan hematologi.1
1. Neovaskularisasi, seperti pada diabetes melitus, iskemi, maupun sikatriks. Pada
kondisi ini, adanya kelainan pada segmen posterior mata (seperti retina yang
mengalami iskemi, maupun diabetik retinopati) akan mengeluarkan faktor tumbuh
vaskular yang oleh lapisan kaya pembuluh darah (seperti iris dan badan silier) dapat
mengakibatkan pembentukan pembuluh darah baru (neovaskularisasi). Pembuluh
7

darah yang baru pada umumnya bersifat rapuh dan tidak kokoh, mudah mengalami
ruptur maupun kebocoran. Kondis ini meningkatkan kerentanan terjadinya perdarahan
bilik mata depan.
2. Neoplasma, seperti retinoblastoma dan melanoma maligna pada umumnya juga
melibatkan neovaskularisasi seperti yang telah dijelaskan pada poin pertama.
3. Hematologi, seperti leukemia, hemofilia, penyakit Von Willebrand yang mana
terjadinya ketidakseimbangan antara faktor pembekuan dan faktor anti-pembekuan.
Dengan demikian terjadi proses kecenderungan berdarah.
4. Penggunaan obat-obatan yang mengganggu sistem hematologi, seperti aspirin dan
warfarin.
Patofisiologi
Trauma merupaka penyebab tersering dari hifema. Oleh karena itu hifema sering
terutama pada pasien yang berusia muda. Benda asing dengan kecepatan tinggi akan
menembus seluruh lapisan sclera atau kornea serta jaringan lain dalam bulbus okuli sampai
ke segmen posterior kemudian bersarang didalamnya bahkan dapat mengenai os orbita.
Dalam hal ini akan ditemukan suatu luka terbuka dan biasanya terjadi prolaps (lepasnya) iris,
lensa, ataupun corpus vitreus. Perdarahan intraokular dapat terjadi apabila trauma mengenai
jaringan uvea, berupa hifema.4
Trauma tumpul pada kornea atau limbus dapat menimbulkan tekanan yang sangat
tinggi, dan dalam waktu yang singkat di dalam bola mata terjadi penyebaran tekanan ke
cairan badan kaca dan jaringan sklera yang tidak elastis sehingga terjadi perengganganperenggangan dan robekan pada kornea, sklera sudut iridokornea, badan siliar yang dapat
menimbulkan perdarahan. Perdarahan sekunder dapat terjadi oleh karena resorbsi dari
pembekuan darah terjadi cepat, sehingga pembuluh darah tidak mendapat waktu yang cukup
untuk meregenerasi kembali, dan menimbulkan perdarahan lagi.4
Perdarahan dapat terjadi segera setelah trauma yang disebut perdarahan primer atau
perdarahan terjadi 5-7 hari setelah trauma yang disebut perdarahan sekunder. Hifema
sekunder biasanya terjadi akibat gangguan mekanisme pembekuan atau penyembuhan luka
sehingga mempunyai prognosis yang lebih buruk. Perdarahan spontan dapat terjadi
pada mata dengan rubeosis iridis, tumor pada iris, retinoblastoma dan kelainan darah yang
mungkin diakibatkan karena terjadi suatu kelemahan dinding-dinding pembuluh darah . Pada
proses penyembuhan, hifema dikeluarkan dari bilik mata depan dalam bentuk sel darah
merah melalui sudut bilik mata depan atau kanal scelemn dan permukaan depan iris.
8

Penyerapan melalui dataran depan iris dipercepat oleh enzim proteolitik yang dapat
berlebihan di dataran depan iris. 4
Sementara itu darah dalam bilik mata depan tidak sepenuhnya berbahaya, namun bila
jumlahnya memadai maka dapat menghambat aliran humor aquos ke dalam trabekula,
sehingga dapat menimbulkan glaukoma sekunder.1,3,4
Trauma tumpul

gaya kontusif

Robekan jaringan iris, korpus

banyak pembuluh darah

siliaris dan koroid

Perdarahan di dalam bola


mata (COA)

timbunan darah
gaya berat berada di tempat rendah

Gambar 1. Patofisiologi Hifema.4

Epidemiologi
Sebagian besar hifema yang terjadi di masyarakat merupakan hifema grade I,
predisposisi pada laki-laki (sekitar 75%), serta insidens tertinggi pada usia sekolah4. 40%
hifema yang terjadi terjadi perlekatan dengan stroma iris, sedangkan 10% mengalami
perlekatan dengan endotel kornea.4
Manifestasi Klinis
Pada umumnya pasien mengeluhkan penurunan tajam penglihatan, sakit kepala,
fotofobia, serta menjelaskan riwayat trauma atau percederaan pada mata. Percederaan yang
dikeluhkan umumnya diakibatkan oleh benda tumpul5. Tanda yang dapat ditemukan adalah
keberadaan darah yang dapat terlihat melalui kornea. Keberadaan hifema perlu ditentukan
derajatnya (berdasarkan klasifikasinya) serta warna hifema yang terbentuk. Pada komunitas
9

khusus (seperti kaum Hispanik maupun orang kulit hitam ras Afro-Amerika perlu
dieksplorasi mengenai anemia sel sabit sebab hifema pada seorang dengan sel sabit dapat
menunjukkan perburukan yang cepat akibat ertirosit sabit mengoklusi trabekula dengan lebih
efektif dan menyebabkan peningkatan tekanan intraokular yang lebih berbahaya dan akut.4
Penatalaksaan
Tujuan pengobatan yang penting adalah mencegah terjadinya penyulit yang dapat
membahayakan penglihatan, yaitu meliputi menurunkan kemungkinan terjadinya perdarahan
sekunder (rebleed) dan menurunkan tekanan intraokular (TIO). Penyulit yang terutama seiru
adalah perdarahan rekuren atau sekunder, yang terjadi pada 3-38% pasien. Sulit diperkirakan
pasien mana yang akan mengalami perdarahan ulang, tetapi apabila terjadi, perdarahan ulang
tersebut biasanya timbul 6 hari pertama, terutama pada hari ketiga sampai kelima. Perdarahan
sekunder meningkatkan secara bermakna kemungkinan peningkatan TIO akut disertai
kerusakan saraf optikus glaukomatosa, noda darah dan ekeruhan kornea, dan pembentukan
sinekia anterior perifer, yang dapat menyebabkan penutupan sudut sekunder atau glaukoma
mekanisme kombinasi.6
Non-medikamentosa. Rencana terapi yang ideal untuk pasien hifema masih
diperdebatkan. Perbedaan terutama pada manfaat tirah baring total, penutupan mata, perlu
tidaknya rawat inap, pemakaian berbagai rejimen obat, dan prosedur bedah. Tidak adanya
persamaan ini mungkin sebagian disebabkan oleh tipe hifema yang dijumapai. Kami lebih
cenderung merawat-inapkan bayi dan anak agar mereka dapat diobservasi secara cermat.
Pada lesi nonkomplikata dengan hifema yang lenyap dalam 5-6 hari, rencana penanganan
biasanya adalah tirah baring namun boleh ke kamar mandi dan penutupan bola mata
monokular selama 5 hari, ambulasi pada hari ke-6, dan pemulangan dari rumah sakit pada
hari ke-7. Aspirin dihindari karena efeknya pada waktu perdarahan. Apabila timbul iritis
pascatrauma, pasien diberi kortikosteroid dan sikloplegik topikal.6
Medikamentosa. Untuk mengurangi insidensi perdarahan sekunder, sebagian dokter
menganjurkan pemakaian profilaksis zat antifibrinoiitik, seperti asam aminokaproat (Amicar)
dalam dosis 50-100 mg/kg berat tubuh sampai 30 g/hari per oral selama 5 hari. Obat antifibrinoiitik lain, asam traneksamat (Cyklokapron), tersedia dalam bentuk tablet dan suntikan
intravena untuk digunakan pada pengidap hemofilia yang akan menjalani ekstraksi gigi; obat
ini di luar negeri telah digunakan untuk mencegah perdarahan ulang pada hifema traumatik.
Obat-obat ini mengurangi lisis bekuan awal sampai pembuluh darah yang pecah sembuh.
10

Kortikosteroid sistemik, dengan dosis dewasa yang ekivalen dengan 40 mg prednison per hari
selama 5 hari, juga dianjurkan oleh sebagian ahli oftalmo- logi untuk mencegah perdarahan
sekunder. Walaupun sebagian ahli oftalmologi menganjurkan pemakaian asam aminokaproat
atau kortikosteroid pada semua kasus hifema traumatik (karena angka perdarahan ulang
mungkin tidak bergantung pada ukuran hifema), tetapi rendahnya insidensi perdarahan ulang,
teruama pada hifema yang tidak terlalu parah, disertai biaya yang tinggi (terutama asam
aminokaproat) dan kemungkinan efek samping obat-obat ini, menyebabkan obat-obat ini
tidak secara rutin digunakan. Di masa depan, zat fibrinolitik, yaitu aktivator plasminogen
jaringan mungkin secara klinis bermanfaat untuk mempercepat pembersihan hifema apabila
digunakan pada saat yang tepat. Obat ini dilaporkan efektif untuk mempercepat bersihan
hifema pada hewan percobaan.6
Apabila tekanan intraokular (IOP) meningkat, maka pasien diberi penyekat-P topikal.
Apabila hal ini tidak efektif, mungkin diperlukan asetazolamid atau metazolamid oral atau
manitol intravena. Apabila terapi medis gagal mengendalikan IOP, mungkin diperlukan
pengurasan kamera anterior secara bedah. Parasentesis atau mengeluarkan darah dari bilik
mata depan dilakukan pada pasien dengan hifema bila terlihat tanda-tanda imbibisi kornea,
glaukoma sekunder, hifema penuh dan berwarna hitam atau bila setelah 5 hari tidak terlihat
tanda-tanda hifema akan berkurang.5
Hifema sel sabit perlu mendapat perhatian khusus. Pasien dengan sifat atau penyakit
ini berisiko tinggi mengalami penyulit hifema karena eritrosit mereka cenderung berbentuk
sabit dalam lingkungan yang asam dan hipoksik di kamera anterior. Sel sabit mengalami
kesulitan melewati sistem aliran keluar mata dan dapat memicu peningkatan akut IOP yang
diikuti oleh glaukoma sudut terbuka. Pemeriksaan penapisan laboratorium awal untuk
penyakit atau sifat sel sabit perlu dilakukan terhadap pasien Amerika keturunan Afrika,
Spanyol, atau Mediteranea.5
Selain dari pada penatalaksanaan secara medikamentosa ataupun non-medika
o
o
-

mentosa, penatalksananaan secara Pembedahan, juga dapat dilakukan, yakni :6


Parasentesis
Tindakan mengeluarkan darah/nanah dari BMD
Dilakukan bila tanda-tanda hifema tidak berkurang dalam 5 hari
Untuk mencegah atropi papil saraf optik dilakukan pembedahan bila:
tekanan bola mata maks > 50 mmHg selama 5 hari
tekanan bola mata maks > 35 mmHg selama 7 hari
Untuk mencegah imbibisi kornea dilakukan pembedahan bila:
tekanan bola mata rata-rata > 25mmHg selama 6 hari
11

- bila terdapat tanda-tanda dini imbibisi kornea


Untuk mencegah sinekia posterior perifer dilakukan pembedahan bila:
- hifema total bertahan selama 5 hari
- Hifema difus bertahan selama 9 hari
Komplikasi
Komplikasi yang paling sering ditemukan pada traumatic hifema adalah perdarahan
sekunder, glaukoma sekunder dan hemosiderosis, selain komplikasi dari traumanya sendiri
berupa dislokasi dari lensa, ablatio retina, katarak dan iridodialysis. Besarnya komplikasi juga
sangat tergantung pada tingginya hyphaema.6
1.

Perdarahan sekunder.
Komplikasi ini sering terjadi pada hari ketiga sampai keenam. Sedangkan
insidensinya sangat bervariasi, antara 10-40 persen. Perdarahan sekunder ini timbul
karena iritasi pada iris akibat traumanya, atau merupakan lanjutan dari perdarahan
primernya.

2.

Glaukoma sekunder.
Timbulnya glaukoma sekunder pada traumatic hyphaema disebabkan
oleh

tersumbatnya

trabecular

meshwork

oleh

butir-butir/gumpalan

darah.

Residensinya 20 persen. Glaukoma sekunder ini terjadi akibat kontusi badan siliar
berakibat suatu reses sudut bilik mata sehingga terjadi gangguan pengaliran cairan
mata. Glaukoma onset lambat dapat timbul setelah beberapa bulan atau tahun,
terutama bila terdapat penyempitan sudut bilik mata depan lebih dari satu kuadran.
Pada sejumlah kasus yang jarang, bercak darah di kornea menghilang secara perlahanlahan dalam jangka waktu hingga satu tahun.
3.

Hemosiderosis cornea.
Hemosiderosis ini akan timbul bila ada perdarahan/perdarahan sekunder
disertai kenaikan tekanan intraokuler. Gangguan visus karena hemosiderosis tidak
selalu permanen, tapi kadang-kadang dapat kembali jernih dalam waktu yang lama
(dua tahun). Insidensinya 1-10 persen.
12

Prognosis
Prognosis pada kasus hifema ditentukan berdasarkan pulihnya tajam penglihatan
pasien. Fungsi penglihatan harus merupakan goal dalam penatalaksanaan pasien dengan
hifema.4
Dalam menentukan kasus hifema perlu dipertimbangkan:4
1.
2.
3.

Kerusakan struktur mata lain


Perdarahan sekunder
Komplikasi lain: glaukoma, corneal blood staining, serta atrofi optik

Secara umum, hifema grade I memiliki kemungkinan 80% untuk mencapai tajam
penglihatan minimal 6/12. Hifema yang lebih tinggi, yakni grade II memiliki kemungkinan
60%, sedangkan pada hifema total kemungkinan tajam penglihatan minimal 6/12 relatif
rendah, yakni sekitar 35%.4

Kesimpulan
Laki laki usia 20 tahun yang datang dengan mata kanan merah, sakit dan berair
sejak 30 menit yang lalu, merupakan suatu kasus kelainan pada mata, yaitu hifema yang di
sebabkan karena trauma benda tumpul.

13

Daftar Pustaka
1. Chraibi F, Bhallil S, Benatiya I, Tahri H. Hyphema revealing retinoblastoma in
childhoot. A case report. Bull. Soc. Belge Ophtalmol. 2011(318): 41-3
2. Vaughan, Daniel,G., Trauma : Oftamologi Umum edisi ke-14. Widya Medika, Jakarta,
2000. Hal: 380-4.
3. Crouch Jr ER, Crouch ER. Trauma: ruptures and bleeding. In: Tasman W, Jaeger E.
Duanes ophtalmology. Philadelphia: Lippincott Williams & Wilkins; 2006.h.285-7.
4. Ilyas,
Sidarta.
Hifema,
dalam:
Ilmu
Penyakit
Mata,
edisi
3.
Jakarta:FKUI;2010.h.180,183,284.
5. Batterburry, Mark., Trauma : Ophthalmology. London: Elsevier;2007.h.6-8.
6. Riordan EP. Trauma mata dan orbita. Dalam: Pendit B alih bahasa. Oftalmologi
Umum Vaughan & Ashbury. Edisi 17. Jakarta: Penerbut Buku Kedokteran EGC;
2008.h.372-4.

14