Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sarapan merupakan hal yang dipandang sebelah mata oleh kebanyakan orang.
Dimana sarapan dianggap hal tidak penting. Padahal sarapan sangat berpengaruh terhadap
pekerjaan apapun yang akan di kerjakan seseorang sebelum makan siang. Mengapa? Karena
sarapan merupakan sumber energi untuk menjalankan aktivitas yang dilakukan oleh
seseorang hingga siang hari.
Bagi pelajar, sarapan merupakan salah satu faktor yang sangat mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan fisik maupun mental dimana hal tersebut sangat
mempengaruhi proses belajar maupun prestasi siswa tersebut. Salahnya pola sarapan siswa
dapat menyebabkan kurangnya konsentrasi saat belajar, menurunnya daya ingat, rendahnya
minat pelajar menerima pelajaran, lambatnya pertumbuhan dan perkembangan tubuh, dan
masih banyak lagi.
Mengkonsumsi makanan yang dikategorikan sarapan ialah pengonsumsian makanan
antara pukul 06:00-10:00 dimana seseorang sudah tidak makan makanan berat sekitar 12 jam.
Oleh karena itu, jika pola sarapan salah, kalori yang di gunakan pelajar dalam proses belajar
mengajar di pagi hari akan kurang atau malah tidak ada. Hal ini akan menganggu konsentrasi
siswa dalam proses belajar mengajar.
Percobaan yang dilakukan di IPB oleh Faridi, Madonijah dan Latifah menunjukkan
bahwa 46,3 % anak di beberapa SD di Duren Sawit Jakarta Timur selalu sarapan, 41,3%
kadang-kadang sarapan dan sisanya 12,4% tidak pernah sarapan. Presentase anak
Hipoglikemi diukur pada pukul 09:00 relatif rendah (55%) dibandingkan anak yang tidak
sarapan (73%). Hipoglikemi (kadar glukosa dibawah normal) ini mengakibatkan tubuh
gemetaran, pusing dan susah berkonsentrasi yang akan menyebabkan terganggunya proses
belajar mengajar.
Pola sarapan yang baik bukan hanya sekedar sarapan, melainkan sarapan dengan
makanan yang seimbang seperti anjuran dokter (mengandung karbohidrat, protein hewani &
nabati, serta lemak). Salahnya pemilihan menu sarapan dapat mengakibatkan kurangnya
asupan energi yang diperlukan oleh tubuh. Jika dibandingkan dengan yang tidak sarapan, hal
ini memang lebih baik. Namun resiko dampak salahnya pola sarapan masih ada, hanya saja
terjadi penurunan persentase kemungkinannya.
Berdasarkan penelitian Breakfast Reduces Declines in Attention and Memory Over
The Morning in School Children yang dilakukan oleh K. A. Wesnes. C. Pincock, D.
Richardson, G Helm, Shails, ahli Gizi Inggris tahun 2003 dengan Metode Random pada 29
anak, tentang tingkat perhatian dan kemampuan daya ingat pada 30, 90, 150, 210 menit
setelah sarapan dalam empat hari didapatkan hasil: anak yang tidak sarapan dan hanya
memperoleh minuman glukosa menunjukkan daya konsentrasi atau tingkat perhatian dan

kemampuan mengingat yang menurun secara signifikan seiring dengan pertambahan waktu.
Di sisi lain, anak yang mendapat cereal meski mengalami penurunan daya konsentrasi namun
tidak signifikan. Berdasarkan penelitian dapat disimpulkan bahwa menu sarapan pagi yang
mengandung karbohidrat kompleks memberikan pengaruh positif bagi anak dalam
mempertahankan kemampuan konsentrasi belajar dan mengingat di sekolah.
Objek penelitian saya adalah siswa MAN 3 Palembang. MAN 3 Palembang
merupakan salah satu sekolah unggulan yang ada di Sumatera Selatan yang memiliki banyak
prestasi dibidang akademik atau non-akademik di tingkat kota, provinsi, nasional, bahkan
internasional. Rata-rata orang tua siswa-siswi MAN 3 Palembang memiliki status sosial
menengah ke atas.

1.2 Rumusan Masalah

Bagaimana pola sarapan siswa MAN 3 Palembang?

Adakah dampak pola sarapan siswa MAN 3 Palembang terhadap prestasi akademik
maupun non-akademik?

Adakah dampak pola sarapan siswa MAN 3 Palembang terhadap perilaku siswa?

Adakah perbedaan signifikan antara siswa yang memiliki pola sarapan yang baik dan
siswa yang tidak memiliki pola sarapan yang baik?

1.3 Tujuan Penelitian

Mengetahui pola sarapan siswa MAN 3 Palembang?

Mengetahui dampak pola sarapan siswa MAN 3 Palembang pada prestasi akademik
maupun non-akademik?

Mengetahui dampak pola sarapan siswa MAN 3 Palembang pada prilaku siswa?

Mengetahui pebedaan signifikan antara siswa yang memiliki pola sarapan yang baik
dan siswa yang tidak memiliki pola sarapan yang baik?

1.4 Signifikansi
Penelitian ini di harapkan dapat mengubah kebiasaan para pelajar yg tidak pernah
sarapan atau salah polah sarapan menjadi selalu sarapan dengan pola sarapan yang benar
seperti pola sarapan yang seharusnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian Sarapan
Manusia membutuhkan

energi

untuk

mempertahankan

hidup,

menunjang

pertumbuhan dan melakukan aktivitas fisik. Energi diperoleh dari karbohidrat, lemak dan
protein yang ada di dalam bahan makanan (Almatsier,2004).
Tubuh membutuhkan asupan makanan agar dapat melakukan aktivitas dengan baik.
Pada pagi hari, tubuh membutuhkan asupan energi yang banyak karena pada pagi hari
seseorang melakukan banyak aktivitas. Oleh karena itu, setiap orang sangat disarankan untuk
sarapan pagi agar dapat melakukan aktivitas tanpa merasa kelelahan. Sarapan pagi adalah
suatu kegiatan yang penting sebelum melakukan aktivitas fisik pada hari itu. Sarapan sehat
mengandung unsur empat sehat lima sempurna. Ini berarti kita benar-benar telah
mempersiapkan diri untuk menghadapi segala aktivitas dengan amunisi yang lengkap
(Khomsan, 2002).
Manusia membutuhkan sarapan pagi karena dalam sarapan pagi diharapkan
terjadinya ketersediaan energi yang digunakan untuk jam pertama melakukan aktivitas.
Akibat tidak sarapan pagi akan menyebabkan tubuh tidak mempunyai energi yang cukup
untuk melakukan aktivitas terutama pada proses belajar karena pada malam hari di tubuh
tetap berlangsung proses oksidasi guna menghasilkan tenaga untuk menggerakkan jantung,
paru-paru dan otot-otot tubuh lainnya (Moehji, 2009).
Sarapan pagi menjadi sangat penting, karena kadar gula dalam darah akan menurun
sekitar dua jam setelah seseorang bangun tidur. Jika anak tidak sarapan,dia biasanya akan
merasa lemas atau lesu sebelum tengah hari karena gula darah dalam tubuh sudah menurun
(Yusnalaini, 2004 ).
Sarapan pagi merupakan makanan yang dimakan pada pagi hari. Sarapan pagi
mempunyai peranan penting bagi anak. Anak yang terbiasa sarapan pagi akan mempunyai
kemampuan yang lebih baik daripada 7 8 anak yang tidak terbiasa sarapan pagi. Sarapan pagi
bagi anak akan memacu pertumbuhan dan memaksimalkan kemampuan di sekolah
(Elizabeth, 2003).
Sarapan atau makan pagi adalah makanan yang disantap pada pagi hari, waktu
sarapan dimulai dari pukul 06.00 pagi sampai dengan pukul 10.00 pagi. Sarapan dianjurkan
menyantap makanan yang ringan bagi kerja perncernaan, sehingga dianjurkan untuk
mengkonsumsi makanan yang memiliki kadar serat tinggi dengan protein yang cukup namun

dengan kadar lemak rendah. Selain itu, mengonsumsi protein dan kadar serat yang tinggi juga
dapat membuat seseorang tetap merasa kenyang hingga waktu makan siang (Jetvig, 2010).
Sarapan pagi yang baik harus banyak mengandung karbohidrat karena akan
merangsang glukosa dan mikro nutrient dalam otak yang dapat menghasilkan energi, selain
itu dapat berlangsung memacu otak agar membantu memusatkan pikiran untuk belajar dan
memudahkan penyerapan pelajaran (Moehji, 2009).
Jadi, berdasarkan pendapat beberapa para ahli kita dapat simpulkan bahwa, sarapan
merupakan menyantap makanan yang dilakukan pada jam 06:00-10:00 yang bertujuan
memberi asupan energi guna menjalankan aktivitas setelah berpuasa kita kira 12 jam.
2.2 Menu Sarapan
2.2.1 Menu Sarapan di Negara Luar
Amerika Serikat
Mari kita mulai dari Amerika. Sebagian besar orang Amerika sarapan atau makan "apa saja"
hal pertama di pagi hari. Sarapan orang Amerika kebanyakan meliputi kopi, teh, jus buah
(terutama jeruk, jeruk atau tomat), atau susu sebagai minuman samping. Sebagian lagi
sarapan dengan sereal dingin, biasanya renyah, dalam mangkuk disiram dengan susu dan
dengan penambahan potongan buah: pisang, strowberi, raisons, atau roti panggang.
Baru cerita sampai disini saja dah jadi pengen.
Jepang
Jepang. Negeri Matahari Terbit ini memiliki sarapan tradisional yang khas. Terdiri dari beras,
seafood, dan makanan fermentasi. Selain itu, Natto (sejenis kedelai fermentasi) juga menjadi
menu populer yang khusus dimakan sebagai santap sarapan orang Jepang. Kemudian, sarapan
khas yang biasanya dihidangkan di restoran-restoran di Jepang , antara lain Miso sup, nasi
dengan Nori, Natto, bubur beras, ikan bakar, telur mentah, dan sayuran acar.
Turkey
Sarapan khas Turki terdiri dari keju, mentega, buah zaitun, telur, tomat, ketimun, paprika
hijau, reel (selai), dari buah-buahan utuh dan madu biasanya dikonsumsi di atas kaymak.
Spicy sosis Turki (Sucuk), Pastirma, Borek, simit, Pogaa, bahkan sup juga biasa dikonsumsi
sebagai makanan pagi hari. Kemudian, ada menu khusus Turki yang umum untuk sajian
sarapan namanya Menemen. Sajian ini yang disusun dengan tomat panggang, cabai, minyak
zaitun dan telur. Biasanya, menu itu selalu didampingi dengan minuman teh hitam.
Prancis

Di Prancis, sarapan identik dengan nama 'Le petit djeuner' yang berarti makan siang porsi
kecil. Jadi orang Prancis biasanya menikmati roti dengan selai atau mentega. Tidak
ketinggalan secangkir teh atau kopi di pagi hari.
Meksiko
Menu sarapan paling umum di Meksiko bernama huevos rancheros. Itu sebenarnya telur
goreng dengan saus salsa. Selain telur, orang Meksiko juga sering makan kacang dan krim
asam.
Thailand
Tidak peduli sarapan, makan siang, atau malam, menu makanan warga Thailand cenderung
sama. Biasanya mereka suka makan nasi, daging, dan omelet. Namun menu wajib mereka
adalah chok atau bubur.
Spanyol
Biasanya bahan makanan untuk sarapan orang Spanyol berasal dari hasil kekayaan laut. Ini
sekaligus
Sejarah

mencerminkan
panjang

Spanyol

Spanyol

sebagai

dengan

pengaruh

salah

satu

budayanya

negara

banyak

maritim.

menghasilkan

sebuah array dari masakan yang unik dengan ribuan resep dan rasa. Makanan ini juga
terkenal memiliki manfaat kesehatan. Berlawanan dengan kepercayaan populer, masakan
Spanyol yang identik dengan rasa pedas sebenarnya masih kurang jika dibandingkan dengan
masakan di Amerika Utara, termasuk juga masakan Meksiko. Salah satu sarapan sederhana di
sini ialah Churros (gorengan hangat) dengan cokelat panas.
Kamboja
Sarapan khas masyarakat Kamboja ialah bubur beras (babaw). Bubur polos ini biasanya
disantap dengan telur asin, sayur acar, atau ikan kering. Selain itu, bubur ayam dan bubur laut
juga menjadi menu sarapan khas di sana. Ada lagi nasi yang disajikan dengan irisan daging
babi atau ayam dengan sayuran acar atau hidangan mie.

India dan Pakistan

Warga India suka makanan pedas. Sementara di Pakistan, orang-orangnya biasa makan
parathas. Itu adalah roti pipih yang digoreng. Terkadang warga India dan Pakistan menikmati
secangkir teh dengan omelet saat sarapan.
Nigeria
Menu sarapan yang terkenal di Nigeria adalah jagung. Disebut dengan moin-moin, jagung
digiling dan diberi sedikit air kemudian difermentasi beberapa hari.
Australia
Sarapan khas orang Australia mirip sarapan di banyak negara Barat. Karena cuaca di sana
hangat, menu sarapan umumnya ringan. Tapi, di daerah dingin biasanya mereka memilih
sarapan bubur. Mereka juga mempunyai menu sarapan yang lebih ringan, yaitu terdiri dari
sereal, roti bakar dan buah. Sarapan yang lebih berat sering kali berisi daging babi goreng,
telur, jamur, kacang panggang, sosis, tomat, dan roti bakar. Di sana juga ada menu sarapan
yang cukup populer, yakni Vegemite, biasanya diterapkan pada roti panggang atau roti.
Sementara minuman untuk melengkapi sarapan, biasanya teh, kopi, susu rasa atau jus.
Kosta Rika
Warga Kosta Rika sama seperti orang Indonesia, mereka suka sarapan nasi dan kacang. Menu
makan pagi mereka disebut gallo pinto yang terdiri dari nasi pedas dan telur serta sosis.
Swedia
Sarapan orang Swedia, seperti juga negara-negara Skandinavia lainnya (Denmark, Norwegia
dan Finlandia), terdiri dari ikan, daging, dan kentang. Hidangan sarapan terkenal lainnya di
negara ini ialah bakso Swedia yang disajikan secara tradisional dengan saus, kentang rebus
dan selai lingonberry, pancake, lutfisk. Sedangkan minuman pengiring sarapannya, biasanya
akvavit, yaitu minuman beralkohol yang populer. Minuman ini sangat penting dalam budaya
Swedia.
Israel
Sarapan pagi dari Israel disebut sebagai salah satu yang terenak dan paling bergizi di dunia.
Sarapan yang dipopulerkan oleh hotel-hotel besar di dunia ini umumnya terdiri dari roti tawar
segar, berbagai jenis keju, minyak zaitun, selai, dan mentega serta jus buah-buahan adalah
menu sarapan favorit di Israel ini.

2.2.2 Menu Sarapan Orang Indonesia


Nasi Kuning
Nasi kuning adalah makanan khas Indonesia. Makanan ini terbuat dari beras yang dimasak
bersama dengan kunyit serta santan dan rempah-rempahDalam tradisi Indonesia warna nasi
kuning menggambarkan kekayaan, kemakmuran serta moral yang luhur. Oleh sebab itu nasi
kuning sering disajikan pada peristiwa syukuran dan peristiwa-peristiwa gembira seperti
kelahiran, pernikahan dan tunangan.
Nasi Pecel
Pecel adalah makanan khas Kota Madiun Jawa Timur Indonesia yang terbuat dari rebusan
sayuran berupa bayam, tauge, kacang panjang, kemangi, daun turi, krai (sejenis mentimun)
atau sayuran lainnya yang dihidangkan dengan disiram sambal pecel. Konsep hidangan pecel
ada kemiripan dengan salad bagi orang Eropa, yakni sayuran segar yang disiram topping
mayonaise. Cuma untuk pecel toppingnya sambal pecel.
Lontong Sayur
Lontong jenis ini penyebarannya banyak banget di Indonesia.. mulai dari lontong sayur
medan sampe yang cap gomeh..Bahannya ya lontong, santan, kacang panjang, bawang
goreng, dan lauknya tergantung selera juragan. Tahu bisa, ayam bisa, ikan juga masuk.
Mie
Ini adalah menu buat orang-orang yang pengennya cepet, praktis, murah meriahmasaknya
gampang banget, bodo banget klo ga bisa masak ini.. kadang penyajiannya dikasi telor rebus,
telor ceplok, ayam, atau pentol bakso.. tapi banyak juga yg asli ga pake lauk alias kosongan,
biar kosongan tapi tetep.
Nasi Krau
Nasi Krawu adalah makanan khas kota Gresik. Makanan ini merupakan campuran dari nasi
dan daging sapi dengan kadar minyak yang termasuk tinggi. Ada pula yang menambahkan
dengan rempelo (usus, babat, dll), cingur, bahkan mata sapi. Makanan ini tidak memakai
sayur-sayuran.Hal yang menarik dari nasi krawu adalah meskipun nasi ini khas Gresik tapi
semua penjualnya adalah orang madura.
Nasi Kucing
Nasi kucing (atau dalam bahasa Jawa dikenal dengan "seg kucing") bukanlah suatu menu
tertentu tetapi lebih pada cara penyajian nasi bungkus yang banyak ditemukan pada warung
angkringan. Dinamakan "nasi kucing" karena disajikan dalam porsi yang (sangat) sedikit,
seperti menu untuk pakan kucing. Nasi kucing adalah sebentuk nasi rames, dengan menu
bermacam-macam: tempe kering, teri goreng, sambal goreng, babat, bandeng, usus, kepala

atau cakar ayam serta sate telur puyuh, yg semangkin nikmat kalau dibakar dahulu sebentar
sebelum disajikan. Nasi kucing dikenal di berbagai tempat di Jawa Tengah (termasuk
Yogyakarta) dan sangat populer di kalangan mahasiswa karena harganya lumayan murah.
Nasi Uduk
Nasi uduk adalah nama sejenis makanan terbuat dari bahan dasar nasi putih yang diaron dan
dikukus dengan santan dari kelapa yang di parut, serta dibumbui dengan pala, kayu manis,
jahe, daun serai dan merica. Makanan ini kemudian dihidangkan dengan emping goreng, tahu
goreng, telur dadar/ telur goreng yang sudah diiris-iris,abon, kering tempe, bawang goreng,
ayam goreng, timun dan sambal dari kacang.
Bubur Ayam
Ini juga paporit banyak orang. paling sep kalo buburnya tu gurih dan nendang-nendang.,
naknya kalo maem buryam ya pagi-pagi.
Nasi Liwet
Nasi liwet adalah makanan khas kota Solo. Nasi liwet adalah nasi gurih (dimasak dengan
kelapa) mirip nasi uduk, yang disajikan dengan sayur labu siam, suwiran ayam (daging ayam
dipotong kecil-kecil) dan areh (semacam bubur gurih dari kelapa). Penduduk kota Solo biasa
memakan nasi liwet setiap waktu mulai dari untuk sarapan, sampai makan malam. Nasi liwet
biasa dijajakan keliling dengan bakul bambu oleh ibu-ibu yang menggendongnya tiap pagi
atau dijual di warung lesehan (tanpa kursi). Tempat paling terkenal untuk penjualan nasi liwet
(warung lesehan) adalah di daerah Keprabon yang hanya berjualan pada malam hari.
Nasi Jagung
Nasi jagung (Nasek ampog) adalah variasi nasi khas bagi masyarakat Madura. Nasi ini terdiri
dari nasi putih yang dicampur dengan biji jagung yang telah dimasak bersama dengan nasi
tersebut. Nasi jagung sama dengan nasi putih biasa dimakan dengan lauk-pauk lainnya. Nasi
ini juga pengganti makan nasi buat penderita diabetes..
Nasi Ponggol Tegal
Nasi ponggol adalah nasi yang dibungkus daun pisang dengan lauk sambal goreng tempe.
Bagi orang Tegal, nasi ponggol identik dengan menu sarapan pagi karena mereka punya
kebiasaan makan nasi ponggol pada pagi hari.
Bubur Sumsum
Jenis bubur sumsum ini merupakan bubur yang dibuat dengan bahan dasar tepung beras yang
nantinya akan disajikan bersamaan dengan kuah yang dibuat dari gula merah, atau dalam
bahasa jawa, kita mengenalnya dengan juruh.

2.4 Manfaat Sarapan Pagi


Sarapan pagi sangat bermanfaat bagi setiap orang. Bagi orang dewasa, sarapan pagi
dapat memelihara ketahanan fisik, mempertahankan daya tahan tubuh saat bekerja dan
meningkatkan produktivitas kerja. Bagi anak sekolah, sarapan pagi dapat meningkatkan
konsentrasi belajar dan memudahkan penyerapan pelajaran sehingga prestasi belajar lebih
baik (Khomsan, 2010).
Menurut Khomsan (2010) ada 2 manfaat yang diperoleh kalau seseorang melakukan
sarapan pagi, antara lain :
1. Sarapan pagi dapat menyediakan karbohidrat yang siap digunakan untuk
meningkatkan kadar gula darah. Dengan kadar gula darah yang terjamin normal,
maka gairah dan konsentrasi kerja bisa lebih baik sehingga berdampak positif
untuk meningkatkan produktifitas.
2. Pada dasarnya sarapan pagi akan memberikan kontribusi penting akan beberapa
zat gizi yang diperlukan tubuh seperti protein, lemak, vitamin dan mineral.
Ketersediaan zat gizi ini bermanfaat untuk berfungsinya proses fisiologis dalam
tubuh.
Seseorang yang tidak sarapan pagi, pastilah tubuh tidak berada dalam keadaan yang
cocok untuk melakukan pekerjaan dengan baik. Hal ini dikarenakan tubuh akan berusaha
menaikkan kadar gula darah dengan mengambil cadangan glikogen, dan jika ini habis, maka
cadangan lemaklah yang diambil (Moehji, 2009)
Sarapan pagi termasuk dalam Pedoman Umum Gizi Seimbang dalam pesan
kedelapan. Makan pagi dengan makanan yang beraneka ragam akan memenuhi kebutuhan
gizi untuk mempertahankan kesegaran tubuh dan meningkatkan produktifitas dalam bekerja.
Pada anak-anak, makan pagi akan memudahkan konsentrasi belajar sehingga prestasi belajar
bisa lebih ditingkatkan (Soekirman, 2000).
2.5. Penilaian Status Gizi Anak
Menurut Supariasa (2002), penilaian status gizi dibagi menjadi 2 yaitu secara langsung dan
tak langsung. Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat penilaian
yaitu antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik sedangkan penilaian status gizi tidak
langsung dapat dibagi tiga yaitu: survey konsumsi makanan, statistik vital dan faktor ekologi.
2.5.1. Penilaian Langsung
1. Antropometri
Secara umum antropometri artinya ukuran tubuh manusia. Ditinjau dari sudut
pandang gizi, maka antropometri gizi berhubungan dengan berbagai macam
pengukuran dimensi tubuh dan komposisi tubuh dari berbagai tingkat umur dan
tingkat gizi. Antropometri secara umum digunkan untuk melihat ketidakseimbangan

asupan protein dan energi. Ketidakseimbangan ini terlihat pada pola pertumbuhan
fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot, dan jumlah air dalam tubuh
(Supariasa, 2002).
2. Klinis
status gizi masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang
terjadi yang dihubungkan dengan ketidakcukupan gizi. Hal ini dapat dilihat pada
jaringan epitel seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau pada organ-organ
yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid. Penggunaan metode ini
umumnya untuk survey klinis secara cepat (Supariasa, 2002).
3. Biokimima
Penilaian status gizi dengan biokimia Pemeriksaan klinis adalah metode yang
sangat penting untuk menilai adalah pemeriksaan spesimen yang diuji secara
laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh
yang digunakan antara lain: darah, urin, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh
seperti hati dan otot. Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa
kemungkinan akan terjadi suatu keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi (Supariasa,
2002). Seperti pemeriksaan darah untuk mengetahui terjadinya anemia defisiensi
besi. Anemia defisiensi besi yang mana gejalanya adalah anak akan tampak lemas,
sering berdebar-debar, lekas lelah, pucat, sakit kepala, iritabel. Mereka tidak tampak
sakit karena perjalanan penyakitnya bersifat menahun. (Hassan dan Alatas, 2002
dalam Wijayanti, 2005), pada kondisi anemia daya konsentrasi dalam belajar tampak
menurun (Djaeni, 2004). Anwar (2009) menjelaskan bahwa penurunan pemusatan
perhatian (atensi), kecerdasan, dan prestasi belajar dapat terjadi akibat anemia besi.
4. Biofisik
Penentuan status gizi secara biofisik adalah metode penentuan status gizi
dengan melihat kemampuan fungsi (khusu snya jaringan) dan melihat perubahan
struktur dari jaringan. Umumnya dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti
kejadian buta senja epidemic (Supariasa, 2002).
2.5.2. Penilaian Tidak Langsung
1. Survei Konsumsi Makanan
Survei konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak
langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat gizi yang dikonsumsi (Supariasa,
2002).
2. Statistik Vital
Pengukuran status gizi dengan statistik vital adalah dengan menganalisis data
beberapa statistik kesehatan seperti angka kematian berdasarkan umur, angka

kesakitan dan kematian akibat penyebab tertentu dan data lainnya yang berhubungan
dengan gizi (Supariasa, 2002).
3. Factor Ekologi
Malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi antara beberapa
faktor fisik, biologis dan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia sangat
tergantung dan keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi, dan lain-lain (Supariasa,
2001).

2.6 Prestasi Belajar


2.6.1 Pengertian prestasi belajar
Prestasi belajar menurut Tuu (2004) adalah hasil yang dicapai seseorang ketika
mengerjakan tugas atau kegiatan tertentu. Prestasi belajar adalah hasil yang diberikan oleh
guru kepada siswa dalam jangka waktu tertentu sebagai hasil perbuatan belajar (Wuryani,
2002). Sedangkan menurut Depdiknas (2008), prestasi belajar adalah penguasaan
pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan melalui mata pelajaran, lazimnya
ditunjukkan dengan nilai tes atau nilai yang diberikan oleh guru.
Prestasi belajar siswa dapat diketahui setelah diadakan evaluasi, yang dinyatakan
dalam bentuk nilai. Prestasi belajar siswa meliputi prestasi kognitif (kemampuan berpikir dan
analisis, prestasi afektif (sikap) dan prestasi psikomotor (tingkah laku). Namun dari tiga spek
tersebut aspek kognitiflah yang menjadi tujuan 12 utama dalam suatu sistem pendidikan
tanpa mengesampingkan aspek yang lain (Syah, 2010).
2.3.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Menurut Syah (2010), faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat
dibedakan menjadi 3 macam, yakni:
1. Faktor Internal (faktor dari dalam siswa)
Yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa. Faktor yang berasal dari
dalam diri siswa sendiri meliputi dua aspek, yakni: 1) aspek fisiologis (yang bersifat
jasmaniah); 2) aspek psikologis (yang bersifat rohaniah).
1) Aspek Fisiologis
1. Status Gizi
Status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam
bentuk variabel tertentu, atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel
tertentu (Supariasa, 2002). Menurut Jelliffe (1989) dalam Supariasa (2002),
status gizi adalah tanda-tanda atau penam pilan fisik yang diakibatkan karena
adanya keseimbangan antara pemasukan gizi di satu pihak serta pengeluaran di
lain pihak yang terlihat melalui variabel-variabel tertentu yaitu melalui suatu

indikator status gizi. Status gizi diartikan sebagai keadaan kesehatan fisik
seseorang atau sekelompok orang yang ditentukan dengan salah satu atau
kombinasi dari ukuran-ukuran gizi tertentu (Soekirman, 2000). Menurut
Almatsier (2006), status gizi adalah keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi
makanan dan penggunaan zat-zat gizi. Sedangkan zat gizi (nutrients) adalah
ikatan kimia yang diperlukan tubuh untuk melakukan fungsinya, yaitu
menghasilkan energi, membangun dan memelihara jaringan, serta mengatur
proses-proses kehidupan. Berdasarkan Kepmenkes (2010), baku antropometri
anak 5-18 tahun dihitung nilai Z- skore IMT/U. Berdasarkan indicator IMT/U,
status gizi diklasifikasikan dengan beberapa kelompok, yaitu :
1) Sangat Kurus : < -3
2) Kurus : -3 sampai dengan < -2
3) Normal : -2 sampai dengan +2
4) Gemuk : > +2
1) Status gizi buruk
Secara klinis, gizi buruk ditandai dengan asupan protein, energi dan
nutrisi mikro seperti vitamin yang tidak mencukupi sehingga menyebabkan
terjadinya gangguan kesehatan (Arundyna, 2011). Menurut Nency (2005),
status gizi buruk dibagi menjadi tiga bagian, yakni gizi buruk karena
kekurangan protein (disebut kwashiorkor), karena kekurangan kalori (disebut
marasmus), dan kekurangan kedua- duanya.
Menurut Soemantri (1978) apabila makanan yang dikonsumsi tidak
cukup mengandung zat zat gizi yang dibutuhkan dan keadaan ini
berlangsung lama, akan menyebabkan perubahan metabolisme dalam otak. Hal
ini akan mengakibatkan terjadinya ketidakmampuan otak untuk berfungsi
normal. Pada keadaan yang lebih berat dan kronis, kekurangan gizi
menyebabkan pertumbuhan terganggu, badan lebih kecil, jumlah sel dalam
otak berkurang dan terjadi ketidakmatangan serta ketidaksempurnaan
organisasi biokimia dalam otak. Keadaan ini berpengaruh terhadap
perkembangan kecerdasan anak.
Kelainan yang terjadi pada jaringan otak akibat gizi buruk itu membawa
dampak antara lain (Moehji, 2003):
(1) Turunnya fungsi otak yang berpengaruh terhadap kemampuan belajar.
Penelitian yang dilakukan di Amerika Tengah Brazilia dan India menunjukkan
bahwa anak-anak yang pada awal kehidupan mereka menderita gizi kurang
gizi buruk, 20%-30% tidak naik kelas 14 dan mengulang pada tahun pertama

paling sedikit satu kali, dan 17%- 20% mengulang pada tahun kedua pada
waktu mereka mengikuti pendidikan di Sekolah Dasar.
(2) Turunnya fungsi otak menyebabkan kemampuan anak bereaksi terhadap
rangsangan dari lingkungannya sangat rendah dan anak menjadi apatis.
(3) Turunnya fungsi otak membawa akibat terjadinya perubahan kepribadian
anak.
2) Status gizi kurang
Status gizi kurang terjadi bila tubuh mengalami kekurangan satu atau
lebih zat-zat gizi esensial (Almatsier, 2006). Kekurangan berat yang
berlangsung pada anak yang sedang tumbuh merupakan masalah serius.
Kondisi ini mencerminkan kebiasaan makan yang buruk (Arisman, 2007).
Akibat dari status gizi kurang adalah perkembangan otak yang tidak sempurna
yang menyebabkan kognitif, perkembangan IQ terhambat dan kemampuan
belajar terganggu yang selanjutnya berpengaruh pada prestasi belajar siswa
(Soekirman, 2000).
Menurut (Gibney, 2009), keadaan gizi kurang mengakibatkan
perubahan struktural dan fungsional pada otak. Sejumlah penelitian pada
hewan memperlihatkan bahwa keadaan malnutrisi prenatal dan pascanatal dini
pada tikus menimbulkan banyak perubahan dalam struktur otak hewan
tersebut, kendati perubahan ini akan membaik pada saat tikus diberi makan
kembali. Namun demikian, beberapa perubahan dianggap permanen dan
perubahan yang permanen tersebut meliputi penurunan jumlah mielin dan
jumlah dendrit kortikal dalam medulla spinalis serta peningkatan jumlah
mitokondria dalam sel-sel neuron saraf.
Bukti adanya perubahan pada struktur dan fungsi otak anak- anak
sangat terbatas, kendati anak-anak dengan malnutrisi berat mempunyai kepala
yang lebih kecil dan hasil pemeriksaan auditory- evoked potentials yang
abnormal, semua keadaan ini tetap abnormal sekalipun telah terjadi pemulihan
dari stadium akut (Gibney, 2009). Akibat gizi kurang terhadap proses tubuh
tergantung pada zat-zat gizi apa yang kurang. Kekurangan gizi secara umum
(makanan kurang dalam kuantitas dan kualitas) menyebabkan gangguan pada
proses: pertumbuhan, produksi tenaga, pertahanan tubuh, struktur dan fungsi
otak, serta perilaku (Muliadi, 2007).
(1) Pertumbuhan

Seorang yang sehat dan normal akan tumbuh sesuai dengan potensi
genetik yang dimilikinya. Tetapi pertumbuhan ini juga akan dipengaruhi oleh
intake zat gizi yang dikonsumsi dalam bentuk makanan. Kekurangan atau
kelebihan gizi akan dimanifestasikan dalam bentuk pertumbuhan yang
menyimpang dari pola standar (Muliadi, 2007).
(2) Produksi Tenaga
Kekurangan energi berasal dari makanan, menyebabkan seorang anak
kekurangan tenaga untuk melakukan aktivitas. Anak menjadi malas, merasa
lelah, cuek, dan tidak bersemangat serta produktivitas kerja menurun (Muliadi,
2007).
(3) Pertahanan Tubuh
Daya tahan terhadap tekanan atau stres menurun, sistem imunitas dan
anti bodi berkurang, sehingga anak mudah tersinggung, mudah terserang
penyakit seperti: pilek, batuk, dan diare, dan bila anak/murid yang tidak
ditanggulangi dengan pemberian gizi baik, lambat laun pada anak dapat
membawa kematian (Muliadi, 2007). 16
(4) Struktur dan Fungsi Otak
Kemampuan berfikir otak mencapai bentuk maksimal pada usia
sekolah dasar. Kekurangan gizi dapat berakibat terganggu fungsi otak secara
permanen (Muliadi, 2007).
(5) Perilaku
Baik anak-anak maupun orang dewasa yang kurang gizi menunjukkan
perilaku yang tidak normal (tidak tenang). Mereka mudah tersinggung,
cengeng, kurang rangsangan dan apatis (Muliadi, 2007). Akibat dari status gizi
kurang adalah perkembangan otak yang tidak sempurna yang menyebabkan
kognitif dan kemampuan belajar terganggu (Soekirman, 2000).
Status gizi harus baik karena gizi kurang akan mempengaruhi
kesehatan jasmaninya yang bermanifestasi pada kelesuan, mengantuk, dan
cepat lelah. Kondisi organ tubuh yang lemah, apalagi jika disertai pusingpusing kepala, dapat menurunkan kemampuan siswa dalam menyerap
informasi dan pengetahuan sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang
atau tidak berbekas. Untuk mempertahankan kondisi jasmani agar tetap bugar,
siswa sangat dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan dan minuman yang
bergizi (Baliwati, 2004).
Menurut Suryabrata (2001), nutrisi harus cukup karena kekurangan
kadar makanan ini akan mengakibatkan kurangnya tonus jasmani, yang
pengaruhnya dapat kelesuan, lekas mengantuk, lekas lelah, dan sebagainya.

Energi yang diperlukan untuk bahan bakar otak, untuk merawat kesehatan sel
saraf dan untuk neurotransmitter diperoleh dari makanan yang dikonsumsi,
nutrisi utama untuk meningkatkan fungsi otak adalah karbohidrat, protein,
lemak, vitamin dan mineral. Jika nutrisi yang dibutuhkan dapat terpenuhi akan
memberikan pengaruh baik dalam pertumbuhan yang dapat dilihat dari berat
badan dan tinggi badan yang sesuai serta fungsi otak yang optimal yang
tercermin dari performa akademik yang memuaskan (Perretta, 2004 dalam
Suryowati, 2010). Kekurangan gizi sejak dini dapat mempengaruhi
ketangkasan belajar, waktu pendaftaran sekolah, konsentrasi dan perhatian
(Pollit, 1990 dalam Levinger, 1992).
Kekurangan energi terjadi bila konsumsi energi melalui makanan
kurang dari energi yang dikeluarkan. Tubuh akan mengalami keseimbangan
energi negatif. Akibatnya, berat badan kurang dari berat badan yang
seharusnya (ideal). Gejala yang ditimbulkan pada anak adalah kurang
perhatian, gelisah, lemah, cengeng, kurang bersemangat dan penurunan daya
tahan terhadap penyakit infeksi (Almatsier, 2006).
3) Status Gizi Baik
Status gizi baik atau optimal terjadi bila tubuh memperoleh cukup zatzat gizi yang digunakan secara efisien sehingga memungkinkan pertumbuhan
fisik, perkembangan otak, kemampuan kerja dan kesehatan secara umum
(Almatsier, 2006). Penelitian Florencio (1990) di Filipina, prestasi akademik
dan mental siswa dengan status gizi yang baik secara signifikan lebih tinggi
daripada siswa dengan status gizi buruk, bahkan ketika pendapatan keluarga,
kualitas sekolah, kemampuan guru, atau kemampuan mental dikontrol
(Levinger, 1992).

4) Status Gizi Lebih


Status gizi lebih terjadi bila tubuh memperoleh zat-zat gizi dalam
jumlah berlebihan (Supariasa, 2002). WHO (2000) secara sederhana
mendefinisikan obesitas sebagai kondisi abnormal atas akumulasi lemak yang
ekstrim pada jaringan adiposa. Obesitas dapat terjadi pada setiap umur dan
gambaran klinis obesitas pada anak dapat bervariasi dari yang ringan sampai
dengan yang berat sekali.

2) Aspek Psikologis
Banyak faktor yang termasuk aspek psikologis yang dapat mempengaruhi
kuantitas dan kualitas perolehan belajar siswa. Namun, diantara faktor-faktor
rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai
berikut (Syah, 2010):
1) Inteligensi siswa
Inteligensi pada umumnya dapat diartikan sebagai kemampuan
psikofisik untuk mereaksi ransangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan
dengan cara yang tepat (Reber, 1988 dalam Syah, 2010). Jadi, inteligensi
sebenarnya bukan persoalan kualitas otak saja, melainkan juga kualitas organorgan tubuh lainnya. Akan tetapi, memang harus diakui bahwa peran otak dalam
hubungannya dengan inteligensi manusia lebih menonjol daripada peran organorgan tubuh lainnya, lantaran otak merupakan menara pengontrol hampir
seluruh aktivitas manusia (Syah, 2010). Menurut Khomsan (2004), ada tiga hal
yang mempengaruhi perkembangan kecerdasan seseorang yaitu genetik,
lingkungan dan gizi.
Faktor genetik merupakan potensi dasar perkembangan kecerdasan.
Tetapi, faktor genetik ini bukan yang terpenting. Sampai saat ini belum ada
penelitian yang menunjukkan mana diantara ketiga faktor tersebut yang berperan
lebih besar. Sebagai perbandingan, dalam ilmu peternakan misalnya, faktor
genetik hanya berperan 30 persen menentukan produktivitas susu sapi perah.
Menurut Chaplin dalam Syah (2006), intelegensi adalah kemampuan
menyesuaikan diri dengan situasi baru secara cepat dan efektif atau kemampuan
menggunakan konsep-konsep abstrak secara efektif. Seseorang yang memiliki
intelegensi baik (IQ-nya tinggi) umumnya mudah belajar dan hasilnya pun
cenderung baik. Sebaliknya orang yang intelegensinya rendah cenderung
mengalami kesukaran dalam belajar, lambat berpikir, sehingga prestasi
akademiknya pun rendah Dalyono (1997).
Menurut Syah (2006), tingkat kecerdasan atau intelegensi (IQ) siswa
sangat menentukan tingkat keberhasilan belajar siswa. Ini bermakna, semakin
tinggi kemampuan intelegensi seorang siswa, maka semakin besar peluangnya
untuk meraih sukses, dan sebaliknya semakin rendah kemampuan intelegensi
seorang siswa maka semakin kecil peluangnya untuk memperoleh sukses. Anak
dengan prestasi yang baik, saat diuji inteligensinya hanya 120 atau biasa-biasa

saja. Jadi IQ tinggi bukan jaminan untuk mencapai prestasi luar biasa di sekolah
(Khomsan, 2004).
2) Sikap siswa
Sikap adalah gejala internal yang berdimensi afektif berupa
kecenderungan untuk mereaksi atau merespons (response tendency) dengan cara
yang relatif tetap terhadap objek orang, barang dan sebagainya, baik secara
positif maupun negatif (Syah, 2010). Menurut Notoatmodjo (2010), sikap adalah
respon tertutup seseorang terhadap stimulus atau objek tertentu, yang sudah
melibatkan faktor pendapat dan emosi yang bersangkutan (senang-tidak senang,
setuju-tidak setuju, baik-tidak baik, dan sebagainya). Sikap yang positif terhadap
mata pelajaran tertentu merupakan pertanda awal yang baik bagi proses belajar
siswa. Sebaliknya, sikap yang negatif terhadap mata pelajaran tertentu apalagi
ditambah dengan timbulnya rasa kebencian terhadap mata pelajaran tertentu,
akan menimbulkan kesulitan belajar bagi siswa yang bersangkutan (Tohirin,
2005). Faktor-faktor ini mempengaruhi kondisi-kondisi belajar yang relevan
seperti kesiapan, penuh perhatian, tingkat usaha, ketekunan dan konsentrasi.
Selain itu, sikap negatif terhadap pekerjaan sekolah dikaitkan dengan kebiasaan
yang kurang baik, kegagalan menyelesaikan tugas, kegagalan menguasai
keterampilan dasar, kinerja tes yang kurang, mudah teralihkan perhatian, dan
fobia sekolah (Conny, 2010).
3) Bakat siswa
Secara umum bakat (aptitude) adalah kemampuan potensial yang
dimiliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang
(Reber, 1988 dalam Syah, 2010). Dengan demikian, sebetulnya setiap orang pasti
memiliki bakat dalam arti berpotensi mencapai prestasi sampai ke tingkat
tertentu sesuai dengan kapasitas masing-masing. Jadi, secara umum bakat itu
mirip dengan inteligensi. Itulah sebabnya seorang anak yang berinteligensi
sangat cerdas (superior) atau cerdas luar biasa (very superior) disebut juga
sebagai talented child, yakni anak berbakat (Syah, 2010).
4) Minat siswa
Menurut Hadis (2006) bahwa anak didik yang berminat terhadap
sesuatu cenderung untuk memberikan perhatian yang lebih besar terhadap
sesuatu yang diminati itu. Selain itu, minat dapat mempengaruhi kualitas
pencapaian hasil belajar siswa dalam bidang- bidang studi tertentu. Umpamanya,

seorang siswa yang menaruh minat besar terhadap matemat ika akan
memusatkan perhatiannya lebih banyak daripada siswa lainnya. Kemudian
karena pemusatan perhatian yang intensif terhadap materi itulah yang
memungkinkan siswa tadi untuk belajar lebih giat, akhirnya mencapai prestasi
yang diinginkan (Syah, 2010). Ada beberapa indikator siswa yang memiliki
minat belajar yang tinggi hal ini dapat dikenali melalui proses belajar di kelas
maupun di rumah (Nurhidayati, 2006).
2. Factor Eksternal (factor dari luar siswa)
Yakni merupakan factor yang bersumber dari luar individu itu sendiri. Factor
meliputi factor lingkungan keluarga, factor lingkungan sekolah, factor lingkungan
masyarakat dan factor waktu.
1) Lingkungan Keluarga
Menurut Ilsan (1996) dalam Kusumastuti (2010), keluarga merupakan
lembaga pendidikan pertama dan utama dalam masyarakat, karena dalam
keluargalah manusia dilahirkan, berkembang menjadi dewasa. Bentuk dan isi
serta cara-cara pendidikan di dalam keluarga akan selalu mempengaruhi tumbuh
dan berkembangnya watak, budi pekerti dan kepribadian tiap manusia.
Pendidikan yang diterima dalam keluarga inilah yang akan digunakan oleh anak
sebagai dasar untuk mengikuti pendidikan selanjutnya di sekolah.Faktor orang
tua sangat berpengaruh terhadap keberhasilan anak dalam belajar. Tinggi
rendahnya pendidikan orang tua, besar kecilnya penghasilan, cukup kurang
perhatian dan bimbingan orang tua, rukun atau tidaknya kedua orang tua,
semuanya itu turut mempengaruhi percapaian hasil belajar.
a) Pendidikan orang tua
Partisipasi orang tua dalam pelaksanaan pendidikan secara sangat
meyakinkan berpengaruh positif terhadap prestasi belajar murid dan
menunjukkan semakin tinggi keterlibatan dan kepedulian terhadap masalahmasalah pendidikan di sekolah (Firdaus, 2000 dalam Ilyas, 2004). Pada
umumnya pengetahuan orang tua sangat menentukan pendidikan keluarga
(anak-anaknya). Tingkat pendidikan orang tua juga merupakan salah satu
faktor yang berpengaruh terhadap proses dan prestasi belajar siswa
(Suryabrata, 2002). Perhatian orang tua dengan penuh kasih sayang terhadap
pendidikan anaknya, akan menumbuhkan aktivitas anak sebagai suatu
potensi yang sangat berharga untuk menghadapi masa depan. Pengertian
perhatian orang 22 tua yang dimaksud di sini adalah tanggapan siswa atas

perhatian orang tuanya terhadap pendidikan anaknya yaitu tanggapan


tentang bagaimana cara orang tuanya memberikan bimbingan belajar di
rumah, memperhatikan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan alat yang
menunjang pelajaran, memberikan dorongan untuk belajar, memberikan
pengawasan, dan memberikan pengarahan pentingnya belajar (Suryabrata,
2000).
b) Keadaan ekonomi keluarga
Pada keluarga yang ekonominya kurang mungkin dapat menyebabkan
anak kekurangan gizi, kebutuhan-kebutuhan anak mungkin tidak dapat
terpenuhi. Selain itu ekonomi yang kurang menyebabkan suasana rumah
menjadi muram dan gairah untuk belajar tidak ada. Tetapi hal ini tidak
mutlak demikian. Kadang-kadang kesulitan ekonomi bisa menjadi
pendorong anak untuk lebih berhasil, sebaliknya bukan berarti pula ekonomi
yang berlebihan tidak akan menyebabkan kesulitan belajar. Pada ekonomi
yang berlebihan anak mungkin akan selalu dipenuhi semua kebutuhannya,
sehingga perhatian anak terhadap pelajaran-pelajaran sekolah akan
berkurang karena anak terlalu banyak bersenang-senang, misalnya dengan
permainan yang beraneka ragam atau pergi ke tempat-tempat hiburan dan
lain-lain (Dalyono, 1997). Dalam lingkungan status sosial ekonomi rendah,
interaksi verbal orang tua dengan anak lebih sedikit dan lebih rendah
mutunya, daripada interaksi verbal anak-orang tua di lingkungan sosial
ekonomi tinggi (Sukadji, 2000).
2) Lingkungan Sekolah
Menurut Syah (2010), lingkungan sosial sekolah seperti para guru,
para tenaga kependidikan (kepala sekolah dan wakil-wakilnya) dan temanteman
sekelas dapat mempengaruhi semangat belajar seorang siswa. Para guru yang
menunjukkan sikap dan perilaku yang simpatik dan 23 memperlihatkan suri
teladan yang baik dan rajin khususnya dalam hal belajar, misalnya rajin
membaca dan berdiskusi, dapat menjadi daya dorong yang positif bagi kegiatan
belajar siswa.Guru merupakan salah satu faktor lingkungan sekolah yang
berperan penting dalam mencapai prestasi belajar siswa. Guru sebagai subjek
dalam pendidikan yang bertugas untuk mentransfer ilmu kepada siswa, maka
seorang guru harus dapat menguasai bahan pelajaran yang akan ditransfer dan

dapat menyampaikan dengan baik serta dapat menguasai dan mengontrol


kondisi kelas siswa (Mudzakir dan Sutrisno, 1997).
3) Lingkungan Masyarakat
Keadaan masyarakat juga menentukan prestasi belajar. Bila di sekitar
tempat tinggal keadaan masyarakatnya terdiri dari orang-orang yang
berpendidikan, terutama anak-anaknya bersekolah tinggi dan moralnya baik, hal
ini akan mendorong anak lebih giat belajar. Tetapi sebaliknya, apabila tinggal di
lingkungan yang banyak anak-anak nakal, tidak sekolah dan pengangguran, hal
ini akan mengurangi semangat belajar atau dapat dikatakan tidak menunjang
sehingga motivasi belajar berkurang. Tanggung jawab masyarakat terhadap
pendidikan sebenarnya masih belum jelas, tidak sejelas tanggung jawab
pendidikan di lingku ngan keluarga dan di lingkungan sekolah. Hai ini
disebabkan faktor waktu, hubungan, sifat dan isi pergaulan yang terjadi di
dalam masyarakat. Waktu pergaulan terbatas, hubungannya hanya pada waktuwaktu tertentu, sifat pergaulannya bebas, dan isinya sangat kompleks dan
beraneka ragam (Ihsan, 1997 dalam Minarni, 2006).