Anda di halaman 1dari 27

Skizofrenia Paranoid

Oktarita Gracia Nenobais


102013126
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jalan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat
Pendahuluan
Gangguan psikotik adalah kondisi dengan ketidakmampuan yang berat dari daya nilai
realitas. Bukti langsung ketidakmampuan dari daya nilai realitas dapat ditentukan
berdasarkan terdapatnya waham atau halusinasi tanpa tilikan akan sifat patologik kondisi itu,
atau inkoherensi atau katatonia. Skizofrenia adalah istilah yang digunakan untuk
menggambarkan suatu gangguan psikiatrik mayor yang ditandai dengan adanya perubahan
pada persepsi, pikiran, afek, dan perilaku seseorang. Kesadaran yang jernih dan kemampuan
intelektual biasanya tetap terpelihara, walaupun defisit kognitif tertentu dapat berkembang
kemudian.1
Dalam makalah ini akan dibahas sebuah skenario dimana seorang pemuda berusia 25
tahun dibawa ke puskesmas oleh orang tuanya karena malam tidak bisa tidur, bicara melantur,
mengatakan dirinya adalah nabi terkahir yang diyakini setelah ia mendengar suara bisikan di
telinganya saat ia sedang memancing di kolam dekat rumahnya.
Anamnesis
Anamnesis merupakan salah satu cara untuk mendiagnosis suatu penyakit. Secara
umum anamnesis adalah pengambilan data yang dilakukan oleh seorang dokter dengan cara
melakukan serangkaian wawancara yang dapat langsung dilakukan terhadap pasien (autoanamnesis) atau terhadap keluarganya atau pengantarnya (alo-anamnesis) untuk mengetahui
beberapa penyakit yang berhubungan dengan kelainan mental organik dan kebenaran
autoanamnesis pasien.1-3
1. Identitas pasien
a. Nama
b. Tempat tanggal lahir

c. Alamat
d.
e.
f.
g.

2.

Jenis kelamin
Status perkawinan
Pekerjaan
Agama/suku bangsa

Riwayat gangguan sekarang


Klasifikasi tentang keluhakan utama dilakukan disini. Informasi yang
dicarai antara lain mengenai gambaran detil dan akurat tentang kesulitan atau
gejala yang dialami, onset, dan lama penyakit, perjalanan gejala-gejala itu konstan,
hilang timbul, atau makin memburuk, faktor yang mencetuskan dan meringankan
gejala, peristiwa yang baru terjadi seperti keluarga yang sakit atau meninggal,
masalah perkawinan, keluarga, keuangan, hukum, pekerjaan, dan masalah sosial
yang mungkin berhubungan dengan timbulnya gejala serta pertolongan apa saja
yang sudah diupayakan. Alasan penghentian pengobatan, penting untuk
mengetahui ketaatberobatan (compliance) pasien. Yang perlu juga ditanyakan
adalah penggunaan alkohol atau zat lainnya, seberapa banyak, frekuensi, dan kapan
penggunaan terakhir.1-3

3.

Riwayat gangguan sebelumnya3


a. Gangguan psikiatrik
Bagian ini menggambarkan semua episode dan gejala yang pernah
dialami dahulu sebelum ini, diobati ataupun tidak. Dimulai dari pertama kali
gejala atau episode tersebut muncul sampai dengan yang terakhir. Harus
digambarkan disini perjalanan longotudinal gejala tersebut, apakah terus
menerus, kambuhan, atau episode tunggal. Jika pasien pernah mendapatkan
pengobatan (termasuk psikoterapi) sebelum ini, tanyakan jenisnya, dosis, dan
lama pengobatan. Juga alasan penghentian pengobatan. Hal ini akan membantu
membedakan antara kondisis nonrespons dan pemberian dosis subterapeutik.

b. Gangguan medik
Tujuan pemeriksaan ini adalah menyaring penyakit medis dan
menemukan penyebab medis dari penyakit psikiatrik. Yang utama disini adalah
riwayat penyakit medis yang relevan terhadapa keluhan utama, termasuk
penyakit medis sekarang dan pengobatannya serta penyakit keuturunan. Juga
digambarkan riwayat pembedahan yang pernah dialami.
c. Penggunaan zat psikoaktif
4. Riwayat kehidupan pribadi
a.

Riwayat perkembangan fisik

b.

Riwayat perkembangan pribadi

c.

Riwayat pendidikan dan pekerjaan

d.

Kehidupan beragama

e.

Riwayat kehidupan psikososial dan perkawinan

5. Riwayat keluarga
Mengetahui siapa saja keluarga pasien yang menderita gangguan jiwaakan
bermanfaat untuk memperoleh gambaran diagnostik seutuhnya, karena banyak
gangguan jiwa bersifat familial dan mempunyai komponen genetik. Untuk masingmasing anggota keluarga dapatkan informasi berikut: umur, jika meninggal: tahun,
umur, dan penyebab meninggalnya; juga hubungan interpersonal orang tersebut
dengan pasien (dekat, asing, bermusuhan, pelaku, atau korban penganiayaan fisik
atau sexual).1

6. Situasi kehidupan social

Untuk mengetahui kebiasaan social, hobi dan pengisian waktu luang,


hubungan antarmanusia, kondisi perumahan, relasi sosial, catatan hukum, kasus
kriminal dan penahanan, hukuman penjara.2

Pemeriksaan Status Mental


Hindari melaporkan gambaran-gambaran yang terdahulu pada status mental,
laporan merupakan suatu potret keadaan pasien saat itu juga.2 Berikut ini hal-hal yang
harus diperhatikan dalam pemeriksaan status mental:3
1. Deskripsi umum
a. Penampilan
Postur, pembawaan, pakaian, dan kerapihan. Penampilan pasien
skizofrenia dapat berkisar dari orang yang sangat berantakan, menjerit-jerit,
dan teragitasihingga orang yang terobsesi tampil rapi, sangat pendiam, dan
imobil.
b. Perilaku dan aktivitas psikomotor yang nyata
Kategori ini merujuk pada aspek kuantitatif dan kualitatif dari perilaku
motorik pasien. Termasuk diantaranya adalah manerisme, tik, gerakan tubuh,
kedutan, perilaku streotipik, ekopraksia, hiperaktivitas, agitasi, sikap melawan,
fleksibilitas, rigiditas, gaya berjalan, dan kegesitan.

c. Sikap terhadap pemeriksa


Sikap pasien terhadap pemeriksa dapat dideskripsikan sebagai kooperatif,
bersahabat, penuh

perhatian,

tertarik, balk-blakan,

seduktif, defensif,

merendahkan, kebingungan, apatis, bermusuhan, suka melucu, menyenangkan,


suka mengelak, atau berhati-hati.
2. Mood dan afek
Mood didefinisikan sebagai emosi menetap dan telah meresap yang
mewarnai persepsi orang tersebut terhadap dunia. Afek didefinisikan sebagai
responsivitas emosi pasien saat ini, yang tersirat dari ekspresi wajah pasien,
termasuk jumlah dan kisaran perilaku ekspresif.
3. Kakteristik gaya bicara

Pasien dapat digambarkan sebagai banyak bicara, cerewet, fasihm pendiam,


tidak spontan, atau terespons normal terhadap petunjuk dari pewawancara. Gaya
bicara dapat cepat atau lambat, tertekan, tertahan, emosional, dramatis, monoton,
keras, berbisik, cadel, terputus-putus, atau bergumam. Gangguan bicara, contohnya
gagap, dimasukkan dalam bagian ini.
4. Persepsi
Gangguan persepsi, seperti halusinasi dan ilusi mengenai dirinya atau
lingkungannya, dapat dialami oleh seseorang. Sistem sensorik yang terlibat
(contohnya: auditorik, visual, olfaktorik, atau taktil) dan isi ilusi atau halusinasi
tersebut harus dijelaskan.
5. Halusinasi senestik
Halusinasi senestik merupakan sensasi tak berdasar akan adanya keadaan
organ tubuh yang terganggu. Contoh halusinasi senestik mencakup sensasi terbakar
pada otak, sensasi terdorong pada pembuluh darah, serta sensasi tertusuk pada
sumsum tulang.
6. Ilusi
Sebagaimana dibedakan dari halusinasi, ilusi merupakan distorsi citra yang
nyata, sementara halusinasi tidak didasarkan pada citra atau sensasi yang nyata.
Ilusi dapat terjadi pada pasien skizofrenik selama fase aktif, namun dapat pula
terjadi dalam fase prodromal dan selama periode remisi.
7. Isi pikir dan kecenderungan mental
a. Proses pikir (bentuk pemikiran)
Pasien dapat memiliki ide yang sangat banyak atau justru miskin ide.
Dapat terjadi proses pikir yang cepat, yang bila berlangsung sangat ekstrim,
disebut flight of ideas. Seorang pasien juga dapat menunjukkan cara berpikir
yang lambat ataut ertahan. Gangguan kontinuitas pikir meliputi pernyataan
yang bersifat tangensial, sirkumstansial, meracau, suka mengelak, atau
perseveratif. Bloking adalah suatu interupsi pada jalan pemikiran sebelum
suatu ide selesai diungkapkan. Sirkumstansial mengisyaratkan hilangnya
kemampuan berpikir yang mengarah ke tujuan dalam mengemukakan suatu
ide, pasien menyertakan banyak detail yang tidak relevan dan komentar
tambahan namun pada akhirnya mampu ke ide semula. Tangensialitas
merupakan suatu gangguan berupa hilangnya benang merah pembicaraan pada
seorang pasien dan kemudian ia mengikuti pikiran tangensial yang dirangsang

oleh berbagai stimulus eksternal atau internal yang tidak relevan dan tidak
pernah kembali ke ide semula. Gangguan proses pikir dapat tercermin dari
word salad (hubungan antarpemikiran yang tidak dapat dipahami atau
inkoheren), clang association (asosiasi berdasarkan rima), punning (asosiasi
berdasarkan makna ganda), dan neologisme (kata-kata baru yang diciptakan
oleh pasien melalui kombinasi atau pemadatan kata-kata lain).
b. Isi pikir
Gangguan isi pikir meliputi waham, preokupasi, obsesi, kompulsi,
fobia, rencana, niat, ide berulang mengenai bunuh diri atau pembunuhan, gejala
hipokondriakal, dan kecenderungan antisosial tertentu.
8. Sensorium dan kognisi
Pemeriksaan ini berusaha mengkaji fungsi organik otak dan inteligensi
pasien, kemampuan berpikir abstrak, serta derajat tilikan dan daya nilai.
a. Kesadaran
Gangguan kesadaran biasanya mengindikasikan adanya kerusakan
organik pada otak.
b. Orientasi dan memori
Gangguan orientasi biasanya dibagi menajadi tiga yaitu berdasarkan
waktu, tempat, dan orang.
c. Konsentrasi dan perhatian
Konsentrasi pasien terganggu karena berbagai allasan. Gangguan
kognitif, ansietas, depresi, dan stimulus internal, seperti halusinasi auditorik,
semuanya dapat berperan menyebabkan gangguan konsentrasi.
d. Membaca dan menulis
e. Kemampuan visuospasial
Pasien diminta untuk menyalin suatu gambar, misalnya bagian depan
jam dinding atau segilima bertumpuk.
f. Pikiran abstrak
Kemampuan untuk menangani konsep-konsep. Pasien mungkin
memiliki gangguan dalam membuat konsep atau menangani ide.
g. Informasi dan inteligensi
9. Impulsivitas, Kekerasan, Bunuh diri, dan Pembunuhan

Pasien mungkin tidak dapat mengendalikan impuls akibat suatu gangguan


kognitif atau psikotik atau merupakan hasil suatu defek karakter yang kronik,
seperti yang dijumpai pada gangguan kepribadian. Perilaku kekerasan lazim
dijumpai di antara pasien skizofrenik yang tidak diobati. Waham yang bersifat
kejar, episode kekerasan sebelumnya, dan defisit neurologis merupakan faktor
resiko perilaku kekerasan atau impulsif. Kurang lebih 50 persen pasien skizofrenik
mencoba bunuh diri, dan 10 sampai 15 persen pasien skizofrenia meninggal akibat
bunuh diri. Mungkin faktor yang paling tidak diperhitungkan yang terlibat dalam
kasus bunuh diri pasien ini adalah depresi yang salah diagnosis sebagai afek
mendatar atau efek samping obat. Faktor pemicu lain untuk bunuh diri mencakup
perasaan kehampaan absolut, kebutuhan melarikan diri dari penyiksaan mental,
atau halusinasi auditorik yang memerintahkan pasien mebunuh diri sendiri. Saat
seorang pasien skizofrenik benar-benar melakukan pembunuhan, hal itu mungkin
dilakukan dengan alasan yang aneh atau tak disangka-sangka yang didasarkan pada
halusinasi atau waham.
10. Daya nilai dan tilikan
Daya nilai adalah aspek kemampuan pasien untuk melakukan penilaian sosial.
Dapatkah pasien meramalkan apa yang akan dilakukannya dalam situasi imajiner.
Contohnya: apa yang akan pasien lakukan ketika ia mencium asap dalam suasana
gedung bioskop yang penuh sesak?

Tilikan adakah tingkat kesadaran dan

pemahaman pasien akan penyakitnya. Pasien dapat menunjukkan penyangkalan


total akan penyakitnya atau mungkin menunjukkan sedikit kesadaran kalau dirinya
sakit namun menyalahkan orang lain, faktor eksternal, atau bahkan faktor organik.
Mereka mungking menyadari dirinya sakit, namun menganggap hal tersebut
sebagai sesuatu yang asing atau misterius dalam dirinya.4
11. Realiabilitas
Kesan psikiater tentang sejauh mana pasien dapat dipercaya dan kemampuan
untuk melaporkan keadaanya secara akurat. Contohnya, bila pasien terbuka
mengenai penyalahgunaan obat tertentu secara aktif mengenai keadaan yang
menurut pasien dapat berpengaruh buruk (mislnya, bermasalah dengan hukum),
psikiater dapat memperkirakan bahwa realiabilitas pasien adalah baik.3
Pemeriksaaan Fisik

1. Status fisik
Sifat keluhan pasien penting untuk menentukan dibutuhkan atau tidaknya suatu
pemeriksaan fisik lengkap. Gejala fisik seperti nyeri kepala dan palpitasi memerlukan
pemeriksaan medis yang menyeluruh untuk menentukan bagian dari proses somatik. Bila
ada, yang berperan menyebabkan penderitaan tersebut. Hal yang sama dapat digunakan
pada gejala mental misalnya depresi, ansietas, halusinasi, dan waham kejar, yang bisa
jadi merupakan ekspresi dan proses somatik. Terkadang keadaan menyebabkan kita perlu
menunda pemeriksaan medis lengkap. Misalnya, pasien dengan waham atau panik dapat
menunjukkan perlawanan sikap bertahan atau keduanya. Pada keadaan ini, riwayat medis
harus diperoleh dari anggota keluarga bila memungkinkan. Namun, kecauali ada alasan
mendesak untuk melanjutkan pemeriksaan fisik, hal itu sebaiknya ditunda sampai pasien
menurut.4
Pemeriksaan Neurologis
Selama proses anamnesis pada kasus tersebut, tingkat kesadaran dan atensi pasien
terhadap detil pemeriksaan, pemahaman, ekspresi wajah, cara bicara, postur, dan cara
berjalan perlu diperhatikan. Pemeriksaan neurologis dilakukan untuk dua tujuan. Tujuan
pertama dicapai melalui pemeriksaan neurologis rutin, yaitu terutama dirancang untuk
mengungkap asimetri fungsi motorik, persepsi, dan refleks pada kedua sisi tubuh yang
disebabkan oleh penyakit hemisferik fokal. Tujuan kedua tercapai dengan mencari untuk
memperoleh tanda yang selama ini dikaitkan dengan disfungsi otak difus atau penyakit
lobus frontal. Tanda ini meliputi refleks mengisap, mencucur, palmomental, dan refleks
genggam serta menetapnya respons terhadap ketukan di dahi. Sayangnya, kecuali refleks
genggam, tanda seperti itu tidak berkaitan erat dengan patologi otak yang mendasari.1-3
2. Status mental
Deskripsi umum
o Penampilan
Postur, pembawaan, pakaian, dan kerapihan. Penampilan pasien skizofrenia dapat
berkisar dari orang yang sangat berantakan, menjerit-jerit, dan teragitasihingga
orang yang terobsesi tampil rapi, sangat pendiam, dan imobil.
o Perilaku dan aktivitas psikomotor yang nyata
Kategori ini merujuk pada aspek kuantitatif dan kualitatif dari perilaku motorik
pasien. Termasuk diantaranya adalah manerisme, tik, gerakan tubuh, kedutan,
perilaku streotipik, ekopraksia, hiperaktivitas, agitasi, sikap melawan, fleksibilitas,
rigiditas, gaya berjalan, dan kegesitan.
o Sikap terhadap pemeriksa

Sikap pasien terhadap pemeriksa dapat dideskripsikan sebagai kooperatif,


bersahabat, penuh perhatian, tertarik, balk-blakan, seduktif, defensif, merendahkan,
kebingungan, apatis, bermusuhan, suka melucu, menyenangkan, suka mengelak,

atau berhati-hati.
Mood dan afek
Mood didefinisikan sebagai emosi menetap dan telah meresap yang mewarnai
persepsi orang tersebut terhadap dunia.
Afek didefinisikan sebagai responsivitas emosi pasien saat ini, yang tersirat dari

ekspresi wajah pasien, termasuk jumlah dan kisaran perilaku ekspresif.


Kakteristik gaya bicara
Pasien dapat digambarkan sebagai banyak bicara, cerewet, fasihm pendiam, tidak
spontan, atau terespons normal terhadap petunjuk dari pewawancara. Gaya bicara
dapat cepat atau lambat, tertekan, tertahan, emosional, dramatis, monoton, keras,
berbisik, cadel, terputus-putus, atau bergumam. Gangguan bicara, contohnya gagap,

dimasukkan dalam bagian ini.


Persepsi
Gangguan persepsi, seperti halusinasi dan ilusi mengenai dirinya atau lingkungannya,
dapat dialami oleh seseorang. Sistem sensorik yang terlibat (contohnya: auditorik,

visual, olfaktorik, atau taktil) dan isi ilusi atau halusinasi tersebut harus dijelaskan.
Halusinasi senestik
Halusinasi senestik merupakan sensasi tak berdasar akan adanya keadaan organ tubuh
yang terganggu. Contoh halusinasi senestik mencakup sensasi terbakar pada otak,

sensasi terdorong pada pembuluh darah, serta sensasi tertusuk pada sumsum tulang.
Ilusi
Sebagaimana dibedakan dari halusinasi, ilusi merupakan distorsi citra yang nyata,
sementara halusinasi tidak didasarkan pada citra atau sensasi yang nyata. Ilusi dapat
terjadi pada pasien skizofrenik selama fase aktif, namun dapat pula terjadi dalam fase

prodromal dan selama periode remisi.


Isi pikir dan kecenderungan mental
o Proses pikir (bentuk pemikiran)
Pasien dapat memiliki ide yang sangat banyak atau justru miskin ide. Dapat terjadi
proses pikir yang cepat, yang bila berlangsung sangat ekstrim, disebut flight of
ideas. Seorang pasien juga dapat menunjukkan cara berpikir yang lambat atau
tertahan. Gangguan kontinuitas pikir meliputi pernyataan yang bersifat tangensial,
sirkumstansial, meracau, suka mengelak, atau perseveratif.
Bloking adalah suatu interupsi pada jalan pemikiran sebelum suatu ide selesai
diungkapkan. Sirkumstansial mengisyaratkan hilangnya kemampuan berpikir yang
mengarah ke tujuan dalam mengemukakan suatu ide, pasien menyertakan banyak

detail yang tidak relevan dan komentar tambahan namun pada akhirnya mampu ke
ide semula. Tangensialitas merupakan suatu gangguan berupa hilangnya benang
merah pembicaraan pada seorang pasien dan kemudian ia mengikuti pikiran
tangensial yang dirangsang oleh berbagai stimulus eksternal atau internal yang
tidak relevan dan tidak pernah kembali ke ide semula. Gangguan proses pikir dapat
tercermin dari word salad (hubungan antarpemikiran yang tidak dapat dipahami
atau inkoheren), clang association (asosiasi berdasarkan rima), punning (asosiasi
berdasarkan makna ganda), dan neologisme (kata-kata baru yang diciptakan oleh
pasien melalui kombinasi atau pemadatan kata-kata lain).
o Isi pikir
Gangguan isi pikir meliputi waham, preokupasi, obsesi, kompulsi, fobia, rencana,
niat, ide berulang mengenai bunuh diri atau pembunuhan, gejala hipokondriakal,

dan kecenderungan antisosial tertentu.


Sensorium dan kognisi
Pemeriksaan ini berusaha mengkaji fungsi organik otak dan inteligensi pasien,
kemampuan berpikir abstrak, serta derajat tilikan dan daya nilai.
o Kesadaran
Gangguan kesadaran biasanya mengindikasikan adanya kerusakan organik pada
otak.
o Orientasi dan memori
Ganggaun orientasi biasanya dibagi berdasarkan waktu, tempat, dan orang.
o Konsentrasi dan perhatian
Konsentrasi pasien terganggu karena berbagai allasan. Gangguan kognitif, ansietas,
depresi, dan stimulus internal, seperti halusinasi auditorik, semuanya dapat
berperan menyebabkan gangguan konsentrasi.
o Membaca dan menulis
o Kemampuan visuospasial
Pasien diminta untuk menyalin suatu gambar, misalnya bagian depan jam dinding
atau segilima bertumpuk.
o Pikiran abstrak
Kemampuan untuk menangani konsep-konsep. Pasien mungkin memiliki gangguan

dalam membuat konsep atau menangani ide.


o Informasi dan inteligensi
Impulsivitas, Kekerasan, Bunuh diri, dan Pembunuhan
Pasien mungkin tidak dapat mengendalikan impuls akibat suatu gangguan kognitif
atau psikotik atau merupakan hasil suatu defek karakter yang kronik, seperti yang
dijumpai pada gangguan kepribadian.

Perilaku kekerasan lazim dijumpai di antara pasien skizofrenik yang tidak diobati.
Waham yang bersifat kejar, episode kekerasan sebelumnya, dan defisit neurologis
merupakan faktor resiko perilaku kekerasan atau impulsif.
Kurang lebih 50 persen pasien skizofrenik mencoba bunuh diri, dan 10 sampai 15
persen pasien skizofrenia meninggal akibat bunuh diri. Mungkin faktor yang paling
tidak diperhitungkan yang terlibat dalam kasus bunuh diri pasien ini adalah depresi
yang salah diagnosis sebagai afek mendatar atau efek samping obat. Faktor pemicu
lain untuk bunuh diri mencakup perasaan kehampaan absolut, kebutuhan melarikan
diri dari penyiksaan mental, atau halusinasi auditorik yang memerintahkan pasien
mebunuh diri sendiri.
Saat seorang pasien skizofrenik benar-benar melakukan pembunuhan, hal itu mungkin
dilakukan dengan alasan yang aneh atau tak disangka-sangka yang didasarkan pada

halusinasi atau waham.


Daya nilai dan tilikan
Daya nilai : aspek kemampuan pasien untuk melakukan penilaian sosial. Dapatkah
pasien meramalkan apa yang akan dilakukannya dalam situasi imajiner. Contohnya:
apa yang akan pasien lakukan ketika ia mencium asap dalam suasana gedung bioskop
yang penuh sesak?
Tilikan: tingkat kesadaran dan pemahaman pasien akan penyakitnya. Pasien dapat
menunjukkan penyangkalan total akan penyakitnya atau mungkin menunjukkan
sedikit kesadaran kalau dirinya sakit namun menyalahkan orang lain, faktor eksternal,
atau bahkan faktor organik. Mereka mungking menyadari dirinya sakit, namun

menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang asing atau misterius dalam dirinya.
Realiabilitas
Kesan psikiater tentang sejauh mana pasien dapat dipercaya dan kemampuan untuk
melaporkan keadaanya secara akurat. Contohnya, bila pasien terbuka mengenai
penyalahgunaan obat tertentu secara aktif mengenai keadaan yang menurut pasien
dapat berpengaruh buruk (mislnya, bermasalah dengan hukum), psikiater dapat
memperkirakan bahwa realiabilitas pasien adalah baik.2,3

3. Pemeriksaan tambahan
Tes psikologis: tes inteligensi, tes kepribadian, tes ketangkasan atau bakat, dan tes
neuropsikologis.

Tes inteligensi
Dapat ditentukan HI (hasil bagi inteligensi) atau IQ (Intelligence Quotient) sebagai
suatu cara numerik untuk menyatakan taraf inteligensi. Rumusnya sebagai berikut:

Umur mental
HI= ------------------------- x 100
Umur kalender
Umur mental didapat dari tes inteligensi. Umur kalender diambil paling tinggi 15
(biarpun sebenarnya lebih), karena tes inteligensi yang ada sekarang sukar untuk

mengukur perbedaan inteligensi di atas umur 15 tahun.


Tes kepribadian
Tes kepribadian lebih sukar dibuat, dipakai dan dinilai sehingga reliabilitas dan
validitas kurang dari tes inteligensi. Hal ini disebabkan antara lain karena begitu
banyaknya sifat kepribadian manusia dan sukarnya mencari parameter atau indikatro
yang tepat dan dapat diukur untuk suatu sifat kepribadian tertentu. Kepribadian adalah
keseluruhan perilaku manusia atau perannya dalam hubungan antar manusia,
pribadinya dapat dibedakan dari pribadi lain. Peran ini bukan saja perilaku yang nyata,
tetapi juga sikap internal, kecenderungan bertindak dan hambatan. Kepribadian dapat
dievaluasi dengan cara observasi, wawancara, atau melalui daftar pertanyaan, tes

melengkapi kalimat atau tes proyeksi.


Tes neuropsikologis
Tes neuropsikologis merupakan tes yang mempelajari hubungan antara otak
dan perilaku dengan menggunakan prosedur tes yang terstandarisasi dan objektif. Tes
ini menguji kemampuan kognitif. Tujuan tes neuropsikologis adalah identifikasi,
kuantifikasi, dan deskripsi perubahan kognitif dan perilaku yang disebabkan oleh
disfungsi otak. Dalam hal ini, ranah (domain) yang dievaluasi adalah kemampuan
berbahasa, memori, penalaran dan pertimbangan intelektual, fungsi visual-motor,
fungsi sensori-perseptual, dan fungsi motorik.2,3

Pemeriksaan Penunjang
Meskipun

pemeriksaan

laboratorium

adalah

pemeriksaan

penunjang,

tetapi

peranannya penting dalam menjelaskan dan menkuantifikasi disfungsi neurofisiologis,


memilih pengobatan, dan memonitor respon klinis. Hasil pemeriksaan laboratorik harus dapat
diintegrasikan dengan data riwayat penyakit, wawancara dan pemeriksaan psikiatrik untuk
memperoleh gambaran komprehensif tentang diagnosis dan pengobatan yang diperlukan oleh
pasien.
Sampai saat ini belum ada konsensus mengenai tes apa saja yang digunakan sebagai
penyaring, tetapi beberapa tes berikut patut untuk dipertimbangkan:

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Pemeriksaan darah lengkap


Elektrolit serum
Glukosa darah
Tes fungsi hepar
Tes fungsi ginjal
Kalsium serum
Uji fungsi tiroid
Pemeriksaan penyaring untuk sifilis (VDRL dan TPHA)
Tes urin untuk obat terlarang.3,4

Diagnosis Kerja
Skizofrenia merupakan sebuah sindorm klinis psikopatologi yang menyangkut
kognisi, emosi, persepsi, dan aspek lain dari perilaku. Ekspresi dari manifestasi ini bervariasi
pada pasien dan waktu, tetapi efek penyakit selalu parah dan biasanya bertahan lama.
Gangguan biasanya mulai sebelum umur 25 tahun, menetap dalam kehidupan, dan
mempengaruhi individu dalam berbagai tingkat. Pasien dan keluarganya sering menderita
dari pelayanan yang buruk dan pengucilan masyarakat karena penolakan terhadap gangguan
ini.
Diagnosis kerja yang diambil adalah skizofrenia tipe paranoid.5
Untuk menegakkan diagnosis skizofrenia, pasien harus memenuhi kriteria DSM-IV:
a. Berlangsung pasling sedikit enam bulan
b. Penurunan fungsi yang cukup bermakna yaitu dalam bidang pekerjaan,

hubungan

interpersonal, dan fungsi kehidupan pribadi.


c. Pernah mengalami psikotik aktif dalam bentuk yang khas selam periode tersebut.
d. Tidak ditemui gejala-gejala yang sesuai dengan skizoafektif, gangguan mood mayor,
autisme, atau gangguan organik.1

Diagnosis Banding
1. Gangguan Waham
Gangguan waham merupakan salah satu gangguan psikiatri yang didominasi oleh
gejala-gejala waham. Waham pada gangguan waham bisa berbentuk: kebesaran,
penganiayaan, cemburu, somatic, atau campuran. Waham merupakan suatu keyakinan atau
pikiran yang salah karena bertentangan dengan kenyataan (dunia realitas), serta dibangun atas
unsur-unsur yang tak berdasarkan logika, namun individu tidak mau melepaskan wahamnya

walaupun ada bukti tentang ketidakbenaran atas keyakinan itu. Keyakinan dalam bidang
agama dan budaya tidak dianggap sebagai waham.6
Pedoman untuk melakukan diagnosis pada gangguan waham adalah sebagai berikut:6
Waham merupakan satu-satunya ciri khas klinik atau gejala yang paling mencolok. Waham
tersebut bisa tunggal maupun sebagai suatu sistem waham,sekurangnya sudah 3 bulan

lamanya,dan harus bersifat khas pribadi dan bukan budaya setempat.


Gejala-gejala depresif atau bahkan suatu episode depresif yang lengkap mungkin terjadi
secara intermitten,dengan syarat bahwa waham-waham tersebut menetap pada saat-saat

tidak terdapat gangguan afektif itu.


Tidak boleh ada bukti-bukti tentang adanya penyakit otak.
Tidak boleh ada halusinasi auditorik atau hanya kadang-kadang saja ada dan bersifat

sementata.
Tidak
ada

riwayat

gejala-gejala

skizofrenia

(waham

dikendalikan,siaran

pikiran,penumpulan afektif,dan sebagainya.


2. Psikotik Akut
Gangguan psikotik singkat/akut didefinisikan sebagai suatu gangguan kejiwaan yang
terjadi selama 1 hari hingga kurang dari 1 bulan, dengan gejala psikosis, dan dapat kembali
ke tingkat fungsional premorbid.6
Penyebabnya belum diketahui secara pasti, tapi sebagian besar di jumpai pada pasien
dengan gangguan kepribadian mungkin memiliki kerentanan biologis atau psikologis
terhadap perkembangan gejala psikotik. Satu atau lebih faktor stres berat, seperti peristiwa
traumatis, konflik keluarga, masalah pekerjaan, kecelakaan, sakit parah, kematian orang yang
dicintai, dan status imigrasi tidak pasti, dapat memicu psikosis reaktif singkat.6,7
Gambaran utama perilaku yang pasien rasakan atau perilaku yang diperlihatkan oleh
pasien yaitu :6
Mendengar suara-suara yang tidak ada sumbernya
Keyakinan atau ketakutan yang aneh/tidak masuk akal
Kebingungan atau disorientasi
Perubahan perilaku; menjadi aneh atau menakutkan seperti menyendiri, kecurigaan
berlebihan, mengancam diri sendiri, orang lain atau lingkungan, bicara dan tertawa serta
marah-marah atau memukul tanpa alasan.
Gejala gangguan psikotik singkat selalu termasuk sekurang kurangnya satu gejala psikosis
utama, biasanya dengan onset yang tiba-tiba, tetapi tidak selalu memasukkan keseluruhan
pola gejala yang ditemukan pada skizofrenia. Beberapa klinisi telah mengamati bahwa gejala
afektif, konfusi, dan gangguan pemusatan perhatian mungkin lebih sering ditemukan pada
gangguan psikotik singkat daripada gangguan psikotik kronis. Gejala karakteristik untuk
gangguan psikotik singkat adalah perubahan emosional, pakaian atau perilaku yang aneh,

berteriak teriak atau diam membisu dan gangguan daya ingat untuk peristiwa yang belum
lama terjadi.6
Pemeriksaan status mental biasanya hadir dengan agitasi psikotik parah yang mungkin
terkait dengan perilaku aneh, tidak kooperatif, agresif fisik atau verbal, tidak teratur
berbicara, berteriak atau kebisuan, suasana hati labil atau depresi, bunuh diri, membunuh
pikiran atau perilaku, kegelisahan, halusinasi, delusi, disorientasi, perhatian terganggu,
konsentrasi terganggu, gangguan memori, dan wawasan miskin.6
Seperti pada pasien psikiatrik akut, riwayat yang diperlukan untuk membuat diagnosis
mungkin tidak dapat diperoleh hanya dari pasien. Walaupun adanya gejala psikotik mungkin
jelas, informasi mengenai gejala prodromal, episode suatu gangguan mood sebelumnya, dan
riwayat ingesti zat psikotomimetik yang belum lama mungkin tidak dapat diperoleh dari
wawancara klinis saja. Disamping itu, klinis mungkin tidak mampu memperoleh informasi
yang akurat tentang ada atau tidaknya stressor pencetus.6,7
Etiologi
Karena banyak ragamnya presentasi gejala dan prognostik skizofrenia, tak ada faktor
etiologik tunggal yang dianggap kausatif. Model yang paling sering digunakan adalah model
stres-diatesis, yang mengatakan bahwa orang yang menderita skizofrenia memiliki
kerentanan biologik khas, atau diatesis, yang dicetuskan oleh stres dan menimbulkan gejala
skizofrenia. Stres mungkin biologik, genetik, psikososial, atau lingkungan. Berikut ini
beberapa etiologi skizofrenia yang dikemukakan beberapa para ahli:8
1. Keturunan
Dapat dipastikan bahwa ada faktor keturunan yang juga menentukan timbulnya
skizofrenia. Hal ini telah dibuktikan dengan penelitian tentang keluarga-keluarga penderita
skizofrenia dan terutama anak-anak kembar satu telur. potensi untuk mendapatkan skizofrenia
diturunkan (bukan penyakit itu sendiri) melalui gene yang resesif. Potensi ini mungkin kuat,
mungkin juga lemah, tetapi selanjutnya tergantung pada lingkungan individu itu apakah akan
terjadi skizofrenia atau tidak (mirip hal genetik pada diabetes melitus).
2. Biokimia
Skizofrenia mungkin berasal dari ketidakseimbangan kimiawi otak yang disebut
neurotransmitter, yaitu kimiawi otak yang memungkinkan neuron-neuron berkomunikasi satu
sama lain. Beberapa ahli mengatakan bahwa skizofrenia berasal dari aktivitas
neurotransmitter dopamine yang berlebihan di bagian-bagian tertentu otak atau dikarenakan
sensitivitas yang abnormal terhadap dopamine. Banyak ahli yang berpendapat bahwa

aktivitas dopamine yang berlebihan saja tidak cukup untuk skizofrenia. Beberapa
neurotransmitter lain seperti serotonin dan norepinephrine tampaknya juga memainkan
peranan.
3. Psikososial
Faktor psikososial meliputi adanya kerawanan herediter yang semakin lama semakin
kuat, adanya trauma yang bersifat kejiwaan, adanya hubungan orang tua anak yang
patogenik, serta interaksi yang patogenik dalam keluarga. Pasien yang keluarganya memiliki
emosi ekspresi (EE) yang tinggi memiliki angka relaps lebih tinggi daripada yang
berkeluarga berekspresi emosi lebih rendah. EE telah didefinisikan sebagai setiap perilaku
yang intrusif, terlibat berlebihan, terlepas dari itu kejam dan kritis ataukah mengontrol dan
membayikan.
Sangat penting untuk mengerti stresor psikososial mana yang mungkin spesifik untuk
pasien skizofrenik masing-masing. Mengetahui bahwa stres psikologik dan lingkungan paling
mungkin mencetuskan dekompensasi psikotik pada pasien akan mcmbantu klinisi secara
suportif mengarah ke hal ini dan dalam proses itu membantu pasien merasa dan tetap lebih
terkontrol.

Patofisiologi
Perjalanan penyakit Skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase prodromal, fase
aktif dan fase residual.
a. Fase prodromal biasanya timbul gejala gejala non spesifik yang lamanya bisa minggu,
bulan ataupun lebih dari satu tahun sebelum onset psikotik menjadi jelas. Gejala tersebut
meliputi : hendaya fungsi pekerjaan, fungsi sosial, fungsi penggunaan waktu luang dan
fungsi perawatan diri. Perubahan perubahan ini akan mengganggu individu serta
membuat resah keluarga dan teman, mereka akan mengatakan orang ini tidak seperti
yang dulu. Semakin lama fase prodromal semakin buruk prognosisnya. 2
b. Fase aktif gejala positif / psikotik menjadi jelas seperti tingkah laku katatonik,
inkoherensi, waham, halusinasi disertai gangguan afek. Hampir semua individu datang
berobat pada fase ini, bila tidak mendapat pengobatan gejala gejala tersebut dapat hilang
spontan suatu saat mengalami eksaserbasi atau terus bertahan.2
c. Fase residual dimana gejala gejalanya sama dengan fase prodromal tetapi gejala positif /
psikotiknya sudah berkurang. 2

Epidemiologi
Hampir 1% penduduk di dunia menderita skizofrenia selama hidup mereka. Gejala
skizofrenia biasanya muncul pada usia remaja akhir atau dewasa muda. Awitan pada laki-laki
biasanya antara 15-25 tahun dan pada perempuan antara 25-35 tahun. Prognosis biasanya
lebih buruk pada laki-laki bila dibandingkan dengan perempuan. Awitan setelah umur 40
tahun jarang terjadi.4
Studi epidemiologi menyebutkan bahwa perkiraan angka prevalensi skizofrenia secara
umum berkisar antara 0,2 % hingga 2 % tergantung di daerah atau negara mana studi
dilakukan. Selanjutnya dikemukakan bahwa lifetime prevalensi skizofrenia diperkirakan
antara 0,5 % dan 1 %. Karena skizofrenia cenderung menjadi penyakit yang menahun
(kronis) maka angka insidensi penyakit ini dianggap lebih rendah dari angka prevalensi dan
diperkirakan mendekati 1 per 10.000 per tahun. Di Indonesia sendiri angka penderita
skizofrenia 25 tahun yang lalu diperkirakan 1/1000 penduduk dan proyeksi 25 tahun
mendatang mencapai 3/1000 penduduk.2
Di Amerika serikat terutama di kalangan penduduk perkotaan menunjukkan angka
yang lebih tinggi hingga 2 %. Di Indonesia angka yang tercatat di departemen kesehatan
berdasarkan survei di Rumah Sakit (1983) adalah antara 0,05 % sampai 0,15 %.2,7
Skizofrenia terjadi dengan frekuensi yang sama antara laki-laki dan perempuan, tetapi
laki-laki memiliki onset lebih awal daripada perempuan. Puncak insidensi antara usia 15-24
tahun pada laki-laki dan pada perempuan lebih terlambat. Antara 100000-200000 kasus
skizofrenia baru diobati di Amerika setiap tahunnya. Diperkirakan 2 juta orang Amerika
didiagnosis skizofrenia dan lebih dari 1 juta mendapatkan terapi psikiatrik setiap tahunnya.
Pada saat ini mulai dikenal skizofrenia anak (sekitar 8 tahun bahkan ada yang 6 tahun) dan
late onset skizofrenia (usia lebih dari 45 tahun). Berbagai hal lain yang bisa meningkatkan
seseorang mengidap skizofrenia, yaitu memiliki garis keturunan skizofrenia, terajangkit virus
dalam kandungan, kekurangan gizi saat dalam kandungan, stresor lingkungan yang tinggi,
memakai obat-obatan psikoaktif saat remaja dan lain-lain.2
Manifestasi Klinis

Skizofrenia merupakan penyakit kronik. Sebagian kecil dari kehidupan mereka berada
dalam kondisi akut dan sebagian besar penderita berada lebih lama (bertahun-tahun) dalam
fase residual yaitu fase yang memperlihatkan gambaran penyakit yang ringan. Selama
periode residual, pasien lebih menarik diri atau mengisolasi diri, dan aneh. Gejala-gejala
penyakit biasanya terlihat lebih jelas oleh orang lain. Pasien dapat kehilangan pekerjaan dan
teman karena ia tidak berminat dan tidak mampu berbuat sesuatu atau karena sikapnya yang
aneh. Pemikiran dan pembicaraan mereka samar-samar sehingga kadang-kadang tidak dapat
dimengerti. Mereka mungkin mempunyai keyakinan yang salah yang tidak dapat dikoreksi.
Penampilan dan kebiasaan-kebiasaan mereka mengalami kemunduran serta afek mereka
terlihat tumpul. Meskipun mereka dapat mempertahankan inteligensia yang mendekati
normal, sebagian besar performa uji kognitifnya buruk. Pasien dapat menderita anhedonia
yaitu ketidakmampuan merasakan rasa senang. Pasien juga mengalami deteorisasi yaitu
perburukan yang terjadi secara berangsur-angsur.8
Gejala Positif dan Negatif
Gejala positif mencakup waham dan halusinasi. Gejala negatif meliputi afek mendatar
atu menumpul, miskin bicara (alogia) atau isi bicara, bloking, kurang merawat diri, kurang
motivasi, anhedonia, dan penarikan diri secara sosial.
Gangguan Pikiran
-

Gangguan proses pikir


Psien biasanya mengalami gangguan proses pikir. Pikiran mereka sering tidak dapat
dimengerti oleh orang lain dann terlihat tidak logis. Tanda-tandanya adalah:
1. Asosiasi longgar: ide pasien sering tidak menyambung. Ide tersebut seolah dapat
melompat dari satu topik ke topik lain yang tak berhubungan sehingga
membingungkan pendengar. Gangguan ini sering terjadi misalnya di pertengahan
kalimat sehingga pembicaraan sering tidak koheren.
2. Pemasukan berlebihan: arus pikiran pasien secara terus-menerus mengalami gangguan
karena pikirannya sering dimasuki informasi yang tidak relevan.
3. Neologisme: pasien menciptakan kata-kata baru (yang bagi mereka meungkin
mengandung arti simbolik)
4. Terhambat: pembicaraan tiba-tiba berhenti (sering pada pertengahan kalimat) dan
disambung kembali beberapa saat kemudian, biasanya dengan topik lain. Ini dapat
menunjukkan bahwa ada interupsi.
5. Klang asosiasi: pasien memilih kata-kata berikut mereka berdasarkan bunyi kata-kata
yang baru saja diucapkan dan bukan isi pikirannya.

6. Ekolalia: pasien mengulang kata-kata atau kalimat-kalimat yang baru saja diucapkan
oleh seseorang.
7. Konkritisasi: pasien dengan IQ rata-rata normal atau lebih tinggi, sangat buruk
kemampuan berpikir abstraknya.
8. Alogia: pasien berbicara sangat sedikit tetapi bukan disengaja (miskin pembicaraan)
atau dapat berbicara dalam jumlah normal tetapi sangat sedikit ide yang disamapaikan
-

(miskin isi pembicaraan).


Gangguan isi pikir
1. Waham: suatu kepercayaan palsu yang menetap yang taksesuai dengan fakta dan
kepercayaan tersebut mungkin aneh atau bisa pula tidak aneh tetapi sangat tidak
mungkin dan tetap dipertahankam meskipun telah diperlihaykan bukti-bukti yang
jelas untuk mengkoreksinya. Waham sering ditemui pada gangguan jiwa berat dan
beberapa bentuk waham yang spesifik sering ditemukan pada skizofrenia. Semakin
akut skizofrenia semakin sering ditemui waham disorganisasi atau waham tidak
sistematis:
a. Waham kejar
b. Waham kebesaran
c. Waham rujukan
d. Waham penyiaran pikiran
e. Waham penyisipan pikiran
2. Tilikan
Kebanyakan pasien skizofrenia mengalami pengurangan tilikan yaitu pasien tidak
menyadari penyakitnya serta kebutuhannya terhaap pengobatan, meskipun gangguan
yang ada pada dirinya dapat dilihat oleh orang lain.

Gangguan Persepsi
-

Halusinasi
Halusinasi paling sering ditemui, biasanya berbentuk pendengaran tetapi bisa juga
berbentuk penglihatan, penciuman, dan perabaan. Halusinasi pendengaran dapatpula
berupa komentar tentang pasien atau peristiwa-peristiwa sekitar pasien. Komentarkomentar tersebut dapat berbentuk ancaman atau perintah-perintah langsung ditujukan
kepada pasien (halusinasi komando). Suara-suara sering diterima pasien sebagai sesuatu
yang berasal dari luar kepala pasien dan kadang-kadang pasien dapat mendengar pikiranpikiran mereka sendiri berbicara keras. Suara-suara cukup nyata menurut pasien kecuali

pada fase awal skizofrenia.


Ilusi dan depersonalisasi
Pasien juga dapat mengalami ilusi atau depersonalisasi. Ilusi yaitu adanya misinterpretasi
panca indera terhadap objek. Depersonalisasi yaitu adanya perasaan asing terhadap diri

sendiri. Derealisasi yaitu adanya perasaan asing terhadap lingkungan sekitarnya misalnya
dunia terlihat tidak nyata.
Gangguan Perilaku
Salah satu gangguan aktivitas motorik pada skizofrenia adalah gejala katatonik yang
dapat berupa stupor atauh

gaduh gelisah. Paien dengan stupor tidak bergerak, tidak

berbicara, dan tidak berespons, meskipun ia sepenuhnya sadar. Sedangkan pasien dengan
katatonik gaduh gelisah menunjukkan aktivitas motorik yang tidak terkendali. Kedua keadaan
ini kadang-kadang terjadi bergantian. Pada stupor katatonik juga bisa didapati fleksibilitas
serea dan katalepsi. Gejala katalepsi adalah bila suatu posisi badan dipertahankan untuk
waktu yang lama. Sedangkan fleksibilitas serea adalah bila anggota badan dibengkokkan
terasa suatu tahanan seperti pada lilin atau malam dan posisi itu dipertahankan agak lama.
Gangguan perilaku lain adalah stereotipi dan manerisme. Berulang-ulang melakukan
suatu gerakan atau mengambil sikap badan tertentu disebut stereotipi. Misalnya, menariknarik rambutnya, atau tiap kali bila mau menyuap nasi mengetuk piring dulu beberapa kali.
Keadaan ini dapat berlangsung beberapa hari sampai beberapa tahun. Stereotipi pembicaraan
dinamakan verbigrasi, kata atau kalimat diulang-ulangi, hal ini sering juga terdapat pada
gangguan otak orgnaik. Manerisme adalah stereotipi tertentu pada skizofrenia, yang dapat
dilihat dalam bentuk grimas pada mukanya atau keanehan berjalan dan gaya berjalan.
Gangguan Afek
Kedangkalan respons emosi, misalnya penderita menjadi acuh tak acuh terhadap halhal yang penting untuk dirinya sendiri sepertti keadaan keluarganya dan masa depannya.
Perasaan halus sudah hilang. Parathimi, apa yang seharusnya menimbulkan rasa senang dan
gembira, pada penderita timbul rasa sedih atau marah. Paramimi, penderita merasa senang
dan gembira, akan tetapi ia menangis. Parathimi dan paramimi bersama-sama dinamakan
incongruity of affect dalam bahasa inggris dan inadequat dalam bahasa belanda.
Kadang-kadang emosi dan afek serta ekspresinya tidak mempunyai kesatuan,
misalnya sesudah membunuh anaknya penderita menangis berhari-hari, tetapi mulutnya
seperti tertawa.semua ini merupakan gangguan afek dan emosi yang khas untuk skizofrenia.
Gangguan afek dan emosi lain adalah:

Emosi berlebihan, sehingga kelihatan seperti dibuat-buat, seperti pada penderita sedang
bersandiwara.
Yang penting juga pada skizofrenia adalah hilangnya kemampuan untuk mengadakan
hubungan emosi yang baik (emotional rapport). Karena itu sering kita tidak dapat merasakan
perasaan penderita. Karena terpecah-belahnya kepribadian, maka dual hal yang berlawanan
mungkin timbul bersama-sama, misalnya mencintai dan membenci satu orang yang sama;
menangis dan tertawa tentang satu hal yang sama. Ini dinamakan ambivalensi afektif.1-3
Jenis Jenis Skizofrenia8,9
a. Tipe paranoid
Skizofrenia tipe ini ditandai dengan preokupasi terhadap satu atau lebih waham atau
halusinasi auditorik yang sering serta tidak adanya perilaku spesifik yang sugestif untuk
tipe hebrefrenik atau katatonik. Secara klasik, skizofrenia tipe paranoid terutama ditandai
dengan adanya waham kejar atau kebesaran. Pasien skizofrenia paranoid biasanya
mengalami episode pertama penyakit pada usia yang lebih tua dibanding pasien
skizofrenia hebefrenik dan katatonik. Pasien yang skizofrenianya terjadi pada akhir usia
20-an atau 30-an biasanya telah memiliki kehidupan sosial yang mapan yang dapat
membantu mengatasi penyakitnya, dan sumber ego pasien paranoid cenderung lebih
besar dibanding pasien skizofrenia hebefrenik atau katatonik. Pasien skizofrenia paranoid
menunjukkna regresi kemampuan mental, respons emosional, dan perilaku yang lebih
ringan dibandingkan pasien skizofrenia tipe lain. Pasien skizofrenia paranoid biasanya
tegang, mudah curiga, berjaga-jaga, berhati-hati, dan terkadang bersikap bermusuhan
atau agresif, namun mereka kadang-kadang dapat mengendalikan diri mereka secara
adekuat pada situasi sosial. Inteligensi mereka dalam area yang tidak dipengaruhi
psikosisnya cenderung tetap utuh.
b. Tipe disorganized
Skizofrenia tipe disorganized (sebelumnya disebut hebefrenik) ditandai dengan
regresi nyata ke perilaku primitif, tak terinhibisi, dan kacau serta dengan tidak adanya
gejala yang memenuhi kriteria tipe katatonik. Onset subtipe ini biasanya dini, sebelum
usia 25 tahun. Pasien hebefrenik biasanya aktif namun dalam sikap yang nonkonstruktif
dan tak bertujuan. Gangguan pikir menonjol dan kontal dengan realitas buruk.
Penampilan pribadi dan perilaku sosial berantakan, respons emosional mereka tidak
sesuai dan tawa mereka sering meledak tanpa alasan jelas. Seringai atau meringis yang

tak pantas lazim dijumpai pada pasien inim yang perilakunya paling baik dideskripsikan
sebagai konyol atau tolol.
c. Tipe katatonik
Pasien mempunyai paling sedikit satu dari beberapa bentuk katatonia:
- Stupor katatonik atau mutisme yaitu pasien tidak berespons terhadap lingkungan atau
-

orang. Pasien menyadari hal-hal yang sedang berlangsung di sekitarnya.


Negativsme katatonik yaitu pasien melawan semua perintah-perintah atau usaha-

usaha untuk menggerakkan fisiknya.


Rigiditas katatonik yaitu pasien secara fisik sangat kaku atau rigid.
Postur katatonik yaitu pasein mempertahankan posisi yang tak biasa atau aneh.
Kegembiraan katatonik yaitu pasien sangat aktif dan gembira. Mungkin dapat

mengancam jiwanya (misalnya, karena kelelahan).


d. Tipe tak terinci
Pasien mempunyai halusinasi, waham, dan gejala-gejala psikosis aktif yang menonjol
(misalnya: kebingungan, inkoheren) atau memenuhi kriteria skizofrenia tetapi tidak dapat
digolongkan pada tipe paranoid, katatonik, hebefrenik, residual, dan depresi pasca
skizofrenia.
e. Tipe residual
Pasien dalam keadaan remisi dari keadaan akut tetapi masih memperlihatkan
gejala-gejala residual (penarikan diri secara sosial, afek datar atau tak serasi, perilaku
eksentrik, asosiasi melonggar, atau pikiran tak logis).
f. Skizofrenia simpleks
Skizofrenia simpleks adalah sulatu diagnosis yang sulit dibuat secara meyakinka
karena bergantung pada pemastian perkembangan yang berlangsung perlahan, progresif
dari gejala negatif yang khas dari skizofrenia residual tanpa adanya riwayat halusinasi,
waham atau manifestasi lain tentang adanya suatu episode psikotik sebelumnya, dan
disertai degan perubahan-perubahan yang bermakna pada perilaku perorangan, yang
bermanifestasi sebagai kehilangan minat yang mencolok, kemalasan, dan penarikan diri
secara sosial.
Penatalaksanaan
Penanganan memerlukan obat-obat antipsikotik dan intervensi psikologis dan
sosial.Antipsikotik merupakan penatalaksanaan yang utama. Antipsikotik efektif mengobati
gejala positif pada episode akut, misalnya halusinasi, waham, fenomena passivity, dan
mencegah kekambuhan. Antipsikotik tipikal (konvensional) dan atipikal sama-sama efektif
dalam mengobati gejala positif, tetapi mempunyai riwayat efek samping yang berbeda.
Antipsikotik atipikal menyebabkan efek samping motorik yang lebih ringan, tetapi beberapa
berhubungan dengan penambahan berat badan dan diabetes. Hanya klozapin, prototipe obat

psikotik atipikal, yang telah terbukti efektif dalam mengobati psikosis yang tidak merespons
obat antipsikotik lainnya. Antipsikotik atipikal dapat efektif mengobati gejala negatif,
meskipun bukti tentang hal ini kurang jelas untuk obat selain klozapin. Pasien yang tidak
tenang, overaktif, atau kasar memerlukan penenang, dengan antipsikotik tipikal atau atipikal
atau dengan benzodiazepin. Tetapi pasien yang menggunakan klozapin memerlukan
pemantauan hematologi.9
Obat psikofarmaka yang akan diberikan ditujukan ditujukan untuk menghilangkan
gejala skizofrenia. Golongan obat psikofarmaka yang sering digunakan di Indonesia (2001)
terbagi dua: golongan generasi pertama (typical) dan generasi kedua (atypical), yang
termasuk golongan typical antara lain Chlorpromazine HCl, Trifluoperazine, dan Haloperidol.
Sedangkan golongan atypical antara lain: Risperidone, Clozapine, Quetiapine, Olanzapine,
Zotetine dan Aripriprazmidol. Obat atypical memiliki kelebihan, yaitu dapat menghilangkan
gejala positif dan negatif, efek samping Extra Piramidal Symptoms (EPS) sangat minimal
atau boleh dikatakan tidak ada, dan memulihkan fungsi kognitif. Sedangkan pemakaian obat
golongan typical 30% penderita tidak memperlihatkan perbaikan klinis bermakna, diakui
bahwa golongan obat typical hanya mampu mengatasi gejala positif tetapi kurang efektif
untuk mengatasi gejala negatif.2,8
Pengobatan dapat dilakukan secara oral, intramuskulr, atau dengan injeksi depot
jangka panjang. Sediaan depot memberikan profilaksis jangka panjang, meningkatkan
kepatuhan, memungkinkan kontak secara teratur dengan perawat psikiatri komunitas
(community psychiatric nurses, CPN) atau klinik, dan menghindari metabolisme tahap awal.
Namun demikian, sebagian besar pasien lebih menyukai pengobatan oral. Penatalaksanaan
harus dilakukan sesegera mungkin setelah diagnosis, sebagaimana terbukti bahwa waktu
yang panjang antara onset gejala dan penatalaksanaan yang efektif, dapat berdampak lebih
buruk. Penatalaksanaannya adalah dengan dosis terendah yang secara efektif mengendalikan
gejala dan meminimalkan efek samping, sebagian teknik ini berkaitan dengan kepatuhan
yang rendah. Apabila pasien mengalami efek samping ekstrapiramidal (misalnya distonia),
obat antikolinergik, misalnya prosiklidin, benztropin, harus diberikan segera, bila perlu secara
intramuskular. Obat antiparkinson yang teratur harus dihindari karena obat tersebut
mengakibatkan efek samping yang tidak diinginkan, misalnya penglihatan rabun, mulut
kering, yang dapat menyiksa dan dapat memperburuk atau mencetuskan diskinesia tardif
(tardive dyskinesia, TD). TD dapat merespons terhadap pengurangan/penghentian

antipsikotik atau tetrabenazin, tetapi kondisi ini ireversibel pada 50% kasus. Seiring dengan
peningkatan berat badan, aritmia jantung, dan diabetes dapat menjadi masalah saat
pengobatan dengan antipsikotik atipikal, pasien memerlukan pemantauan teratur berat badan,
profil lipid, dan glukosa, serta ECG. Penderita skizofrenia dapat menjadi tertekan dan
memerlukan obat antidepresan. Jarang ditemui, electroconvulsive therapy (ECT) yang
berguna, misalnya pada stupor katatonik, kegembiraan berlebihan.5
Penatalaksanaan Psikologis. Terapi perilaku kognitif (cognitive behavioural
therapy, CBT) seringkali bermanfaat dalam membantu pasien mengatasi waham dan
halusinasi

yang

menetap. Tujuannya

adalah

untuk

mengurangi

penderitaan

dan

ketidakmampuan, dan tidak secara langsung menghilangkan gejala. Dukungan psikologis


penting bagi penderita skizofrenia dan keluarganya. Terapi keluarga dapat membantu mereka
mengurangi ekspresi emosi yang berlebihan, dan terbukti efektif mencegah kekambuhan.
Bantuan mandiri, contohmya organisasi Hearing Voices, dapat membantu penderita psikosis
untuk berbagi pengalaman dan cara untuk menghadapi gejalanya. Psikoanalisis jarang
berguna.10
Dukungan Sosial. Membantu penderita untuk kembali bekerja atau sekolah sangat
penting dalam menjaga kepercayaan diri dan kualitas hidupnya. Bila hal ini tidak dapat
dilakukan, pusat rehabilitasi dapat membantu merestrukturisasi kegiatan mereka.Tempat
tinggal yang layak sangat penting. Penderita dengan gejala sisa, contohnya gejala negatif dan
kognitif, mungkin tidak dapat hidup mandiri. Rawat inap dan layanan rehabilitasi masyarakat
bertujuan

untuk

memaksimalkan

kemandirian

pasien,

contohnya

dengan

melatih

keterampilan hidup sehari-hari. Berbagai layanan untuk hidup sehari-hari, mulai dari tempat
penampungan/rumah singgah dengan staf yang bekerja 24 jam hingga perumahan khusus
dengan pekerja pendukung yang datang seminggu sekali, tersedia untuk memenuhi
kebutuhan.5
Penderita psikosis tidak dirawat di rumah sakit tetapi dalam komunitasnya bila
memungkinkan, walaupun rawat inap mungkin diperlukan bila terdapat risiko tinggi pasien
ditelantarkan, bunuh diri, atau melukai orang lain. Bila pasien menolak untuk diobati,
penahanan pasien untuk dirawat berdasaikan UU Kesehatan Jiwa mungkin diperlukan.
Memberikan perawatan yang positif dan tanpa stigma diperlukan bagi pasien yang akan
kembali berhubungan dengan tim perawat agar mematuhi perawatan. Seluruh pasien yang
mendapatkan layanan psikiatri sekunder diatur melalui sistem Care Programme Approach

(CPA). Hal ini berarti pasien diberikan koordinator perawat yang akan mengunjungi mereka,
memberi dukungan, memantau kondisi kejiwaan dan kepatuhan menjalani perawatan, serta
membantu pasien melakukan kegiatan sehari-hari.5
Psikoreligius. Dari penelitian yang dilakukan, secara umum memang menunjukkan
bahwa komitmen agama berhubungan dengan manfaatnya di bidang klinik (religious
commitment is assosiated with clinical benefit). Dari hasil penelitian Larson, dkk, didapatkan
bahwa terapi keagamaan mempercepat penyembuhan. Terapi keagamaan yang dimaksudkan
dalam penelitian tersebut berupa kegiatan ritual keagamaan seperti sembahyang, berdoa,
memanjatkan puji-pujian kepada Tuhan, ceramah keagamaan, dan kajian kitab suci.2
Rehabilitasi. Program rehabilitasi penting dilakukan sebagai persiapan penempatan
kembali penderita ke keluarga dan masyarakat. Program ini biasanya dilakukan di lembaga
(institusi) rehabilitasi misalnya di rumah sakit jiwa. Dalam program rehabilitasi dilakukan
berbagai kegiatan antara lain: terapi kelompok, menjalankan ibadah keagamaan bersama,
kegiatan kesenian, terapi fisik seperti olah raga, keterampilan khusus/kursus, bercocok tanam,
rekreasi dan lain lain. Pada umumnya program rehabilitasi ini berlangsung 3-6 bulan.
Secara berkala dilakukan evaluasi paling sedikit dua kali yaitu sebelum dan sesudah program
rehabilitasi atau sebelum penderita dikembalikan ke keluarga dan masyarakat.2
Komplikasi
Beberapa individu yang mengalami skizofrenia dapat terkena stroke dan mengalami
kerusakan otak, yang tidak disadarinya. Kurangnya kesadaran tentang skizofrenia dan
penyakit manik-deoresi

merupakan

keadaan

biasa dialami

penderita

yang

tidak

memperhatikan pengobatannya. Terdapat pula komplikasi sosial, dimana penderita dikucilkan


oleh masyarakat. Setelah itu dapat juga menjadi korban kekerasan dan melukai diri sendiri.
Pada komplikasi depresi, penderita dapat melakukan tindakan bunuh diri. Disamping bunuh
diri karena depresi dan halusinasi, penderita skizofrenia yang tadinya tidak merokok, banyak
menjadi perokok berat ini diperkirakan karena faktor obat, yang memblok satu reseptor
dalam otak (nikotin). Reseptor nikotin yang menimbulkan rasa senang, pikiran jernih, mudah
menangkap sesuatu. Akibatnya penderita skizofrenia mencari kompensasi dengan mengambil
nikotin dari luar, dari rokok. Dan resiko dari perokok memperpendek usia, karena adanya
penyakit saluran pernapasan, kanker, jantung, dan penyakit fisik lainnya.

Kemudian, dengan penggunaan antipsikotik, ada tekanan terhadap hormon estrogen,


testosteron, dan hormon-hormon tersebut memproteksi tulang sehingga dapat terjadi
osteoporosis.10
Prognosis
Sebanyak 90% pasien yang mengalami episode psikotik yang pertama akan sembuh
dalam waktu 1 tahun, tetapi sekitar 80% akan mengalami episode berikutnya dalam 5 tahun.
Penelitian baru-baru ini menemukan bahwa 75% pasien akan menghentikan pengobatannya
dalam waktu 18 bulan pertama, dan mereka yang menghentikan pengobatan antipsikotik
tersebut memiliki peluang 5 kali lebih besar untuk kambuh. Selain menjalani pengobatan,
menghindari penggunaan zat terlarang khususnya ganja dan stres yang berlebihan dapat
mengurangi risiko kambuh.5
Penelitian secara kohort menemukan bahwa setelah 10 tahun sejak pasien didiagnosis
menderita skizofrenia, sebagian kecil pasien (sekitar 15%) sembuh sepenuhnya, sekitar 50%
mengalami kekambuhan tanpa atau dengan disabilitas ringan yang relatif di antara periode
kambuh, dan 25% menderita penyakit kronis dengan gejala yang menetap dan disabilitas
yang signifikan. Prognosis yang lebih baik dijumpai di negara berkembang, hal ini mungkin
karena struktur sosial, dukungan keluarga, dan kecilnya stigma. Faktor prognosis yang baik
mencakup onset yang akut, gejala positif, komponen afektif yang kuat (misalnya tertekan),
subtipe paranoid, kepribadian pramorbid yang baik, trauma lahir, kecerdasan lebih tinggi, dan
hasil pemeriksaan MRI/ CT scan yang normal.9,10
Faktor prognosis yang buruk mencakup jenis kelamin pria, onset pada saat usia muda,
lajang, isolasi sosial, penggunaan obat terlarang, onset awal yang tersembunyi, gejala negatif,
kelas sosio-ekonomi rendah, kepribadian pramorbid abnormal, dan riwayat keluarga positif
skizofrenia.Risiko bunuh diri selama hidup adalah 10%. Risiko ini lebih tinggi pada pria
muda dengan halusinasi atau waham yang menetap dan pada penderita dengan riwayat
penggunaan obat-obatan terlarang dan percobaan bunuh diri sebelumnya, khususnya
sebelum/selama 3 bulan pertama setelah selesai perawatan.5
Kesimpulan
Skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi berbagai area
fungsi individu, termasuk berfikir dan berkomunikasi, menerima dan menginterpretasikan

realitas, merasakan dan menunjukan emosi serta berperilaku dengan sikap yang tidak dapat
diterima secara sosial.Penyebab Skizofrenia masih belum di ketahui dengan pasti. Prognosis
tergantung

dri

faktor

faktor

di

atas

sedangkan

pengobatan

bisa

menggunakan

psikofarmaka,psiko supportif dan sosioterapi.

Daftar Pustaka
1. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & sadock buku ajar psikiatri klinis. Edisi ke-2. Jakarta:
EGC.2010.h.1-37.
2. Kaplan HI, Sadock BJ. Ilmu kedokteran jiwa darurat. Jakarta: Widya Medika. 2003.h.40713.
3. Davidson, Gerald C. Psikologi abnormal. Edisi ke-9. Jakarta : PT.Raja Grafindo
Persada.2006.h.134-47.
4. Silvia, HG. Buku ajar psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit FKUI; 2010. 138-196
5. Maslim R. Diagnosis Gangguan Jiwa: Ringkasan Ringkas dari PPDGJ-III. Jakarta:
PT.Nuh Jaya, 2003; 44-143.
6. Maramis WF. Catatan ilmu kedokteran jiwa. Surabaya: Airlangga University Press; 2003.
7. Barnes TRE. Evidence-based guidelines for the pharmacological treatment of
schizophrenia: recommendations from the british association for psychopharmacology.
Journal of Psychopharmacology 2011; 0(0): 1-54.
8. National Institute of Mental Health. Schizophrenia. Maryland: The Institute; 2009.
9. Hawari, Dadang: Pendekatan holistik pada gangguan jiwa skizofrenia. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI; 2006.h.1-11
10. Amir N. Skizofrenia. Dalam: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Buku Ajar
Psikiatri. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2010.h.17085.