Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM

EKOLOGI UMUM
PERCOBAAN II
KELEMBABAN RELATIF UDARA PADA TEMPAT BERBEDA

NAMA

: ANDI SYARIFAH ULIL ASMI

NIM

: H41114507

HARI/TANGGAL

: SENIN/16 MARET 2015

KELOMPOK

: I (SATU)

ASISTEN

: ILHAM
ANDI FAUZIAH. M
ST. HARDIANTY. R

LABORATORIUM ILMU LINGKUNGAN DAN KELAUTAN


JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang


Kelembaban merupakan salah satu faktor abiotik yang mempengaruhi
aktivitas organisme yang ada di alam. Kelembaban juga dapat diartikan sebagai
jumlah uap air di udara. Jumlah uap air yang ada tersimpan di udara dipengaruhi
oleh suhu dan tekanan.
Dalam kehidupan di bumi ini, kelembaban merupakan salah satu faktor
yang mempengaruhi kehidupan makhluk hidup. Kelembaban juga dapat
menunjukkan

bagaimana

makhluk

hidup

tersebut

beradaptasi

dengan

lingkungannya. Kelembaban udara ini penting karena uap air mempunyai sifat
menyerap radiasi bumi yang akan menentukan cepatnya bumi kehilangan panas
yang secara spontan ikut mengatur suhu udara.
Kelembaban relatif udara adalah presentase uap air sebenarnya ada
dibandingkan dengan kejenuhan dibawah temperatur dan tekanan tertentu.
Kelembaban udara itu sendiri merupakan hasil penguapan udara yang berubah
dari bentuk cair menjadi uap dengan satuan kecil dan akan naik ke atmosfer.
Dalam atmosfer kadar uap air selalu berubah-ubah seiring dengan berubahnya
temperatur pada tempat tersebut.
Kelembaban relatif penting diketahui untuk melihat seberapa kering atau
lembab suatu tempat. Kelembaban relatif dapat diukur menggunakan Sling
Psychrometer dan termometer air raksa (manual).

I.2. Tujuan
Tujuan dari percobaan ini yaitu :
1. Untuk mengetahui perbedaan kelembaban relatif udara pada tempat/lokasi
yang berbeda dan faktor-faktor yang memengaruhinya.
2. Melatih keterampilan mahasiswa dalam membaca dan mengoperasikan
peralatan sederhana dalam mengukur kelembaban udara relatif.
I.3. Waktu dan Tempat
Percobaan ini dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 16 Maret 2015 pukul
14.00-17.00 WITA dan pada hari Kamis, 19 Maret 2015 pukul 10.00-12.00.
Bertempat di Laboratorium Biologi Dasar, Jurusan Biologi Fakultas Matematika
dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Hasanuddin, Makassar. Adapun
percobaan ini dilakukan diberbagai tempat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Udara sebagai salah satu komponen lingkungan merupakan kebutuhan


yang paling utama untuk mempertahankan kehidupan. metabolisme dalam tubuh
makhluk hidup tidak dapat berlangsung tanpa oksigen yang berasal dari udara.
Kelembaban adalah jumlah uap air di udara dibandingkan terhadap keadaan jenuh
yang dinyatan dalam presentase (Fitria, 2008).
Kelembaban mutlak atau absolut adalah jumlah sebenarnya uap air yang
terdapat dalam suatu satuan massa udara yang dinyatakan dalam gram per meter
kubik (Kusuma, 2012).
Kelembaban udara ditentukan oleh jumlah uap air yang terkandung di
dalam udara. Massa udara lembab adalah total massa dari seluruh gas-gas
atmosfer yang terkandung, termasuk uap air, jika massa uap air tidak diikutkan,
maka disebut sebagai massa udara kering (dry air) (Wildian, 2013).
Data klimatologi untuk kelembaban udara yang umumnya dilaporkan
adalah kelembaban relatif. Kelembaban relatif adalah presentase uap air yang
sebenarnya ada dibandingkan dengan kejenuhan dibawah temperatur dan tekanan
tertentu (Umar, 2015).
Tekanan uap air adalah tekanan parsial uap air dalam udara. Tekanan uap
air jenuh adalah tekanan uap air maksimum yang dapat dicapai pada suhu tertentu.
Pada kondisi tekanan atau kerapatan uap air jenuh, udara tidak dapat lagi
menampung tambahan uap air. Penambahan uap air diimbangi dengan kondensasi,
sehingga jumlah uap air yang terkandung tidak akan melebihi kapasitas tampung
udara tersebut. Pada kondisi tekanan atau kerapatan uap air tak jenuh dan jika
udara tersebut kontak dengan permukaan air atau es, maka uap air dalam udara
tersebut akan bertambah terus sampai mencapai kondisi jenuh. (Lakitin, 1994).

Evaporasi merupakan penguapan air yang berasal langsung dari


permukaan bentangan air atau dari permukaan benda padat yang mengandung air,
sedangkan transpirasi merupakan penguapan air yang berasal dari dalam jaringan
tumbuhan, melalui suatu celah pada daun tumbuhan yang disebut stomata
(Lakitan, 1994).
Faktor-faktor yang memengaruhi kelembaban relatif udara yaitu

(Umar,

2015) :
a. Suhu
Daerah yang memiliki suhu udara yang tinggi memilki kelembaban rendah
karena suhu udara yang tinggi dapat mempercepat penguapan air di suatu tempat
sehingga uap air yang terkandung di tempat tersebut sangat sedikit, begitu pula
pada daerah yang memiliki suhu rendah pasti memiliki kelmbaban tinggi.
b. Tekanan udara
Tekanan udara erat kaitannya dengan pergerakan angin.
c. Pergerakan angin
Semakin tinggi kecepatan pergerakan angin akan lebih mempercepat
pengangkatan uap air menggempul di udara.
d. Kuantitas dan lama penyinaran
Lamanya radiasi yang mengenai tumbuhan mempunyai pengaruh yang besar
terhadap

berbagai

proses

fisiologi

tumbuhan.

Cahaya

mempengaruhi

pembentukan klorofil, fotosintesis, fototropisme, dan fotoperiodisme.

e. Vegetasi

Semakin banyak vegetasi suatu daerah semakin mempengaruhi tingkat


kelembaban suatu daerah, mengingat tanaman termasuk salah satu penghasil uap
air melalui proses transpirasi.
Termometer yang biasa digunakan untuk mengukur kelembaban relatif udara
adalah (Lakitan, 1994):
a. Termometer bulb (alkohol atau raksa)
Keuntungan menggunakan alat ini yaitu tidak memerlukan alat bantu, relatif
murah, tidak mudah terkontaminasi bahan kimia.
Kelemahan menggunakan termometer bulb antara lain mudah pecah, mudah
terkontaminasi cairan alkohol, kontaminasi gelas/kaca, dan pengukuran yang
rumit.
b. Termometer spring psychrometer
Secara umum termometer ini paling rendah keakuratannya dibanding
termometer bulb dan digital. Penggunaan termometer ini harus selalu melindungi
pipa kapiler dan ujung sensor terhadap benturan atau gesekan.

BAB III
METODE PERCOBAAN

III.1. Alat
Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah termometer, sling
psychometer dan botol air/hand sprayer.
III.2. Bahan
Bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah air dan kapas.
III.3. Tata Kerja
Tata kerja pada percobaan ini adalah :
1.
2.

Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.


Menempelkan kapas pada bagian termometer

3.
4.

Psychrometer dan termometer air raksa.


Menyemprotkan air pada kapas.
Menempatkan termometer pada tempat yang akan diuji kelembaban

5.

udaranya.
Menyalakan stopwatch bersamaan dengan diputarnya Sling Psychrometer

6.
7.
8.

dan termometer air raksa selama lima menit.


Mematikan stopwatch.
Mencatat kelembaban nisbi yang ditunjukkan pada Sling Psychrometer.
Menarik kesimpulan dari percobaan yang dilakukan.

basah

pada

Sling

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

IV.1 Hasil
IV.1.1 Tabel
Tabel 1. Variable
N
o
1

2
3
4
5
6

Tempat
Laboratoriu
m biologi
dasar
Rumput
Pohon
Koridor
Pelataran
MKU

Sling
Psychrometer
Basa Kerin
h
g
26oC
28oC

31oC
27oC
27oC

34oC
31oC
30oC

Manual
Kelembaba
n Nisbi

Basa
h

Kerin
g

28oC
26oC
25oC
27oC
26oC

31oC
29oC
28oC
33oC
30oC

Kelembaba
n Nisbi

88%

82%
76%
80,5%

81%
80%
80%
66%
84%

IV.4 Pembahasan
Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui perbedaan kelembaban relatif
udara pada pada lokasi yang berbeda serta faktor yang memengaruhinya. Dari
percobaan telah didapatkan hasil yaitu pada Laboratorium Biologi Dasar
termometer basah menunjukkan 26oC dan termometer kering menunjukkan 28oC
dengan kelembaban nisbi 88% pengukuran dilakukan dengan menggunakan
termometer air raksa (manual). Perbedaan kelembaban pada setiap tempat tersebut
terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti pergerakan angin,
temperatur, persediaan tempat air, vegetasi , tekanan udara serta intensitas
penyinaran. Pada laboratorium biolgi dasar memiliki kelembaban nisbi yang
tinggi karena disebabkan faktor yang telah disebutkan, dimana kondisi pada
laboratorium temperaturnya hangat, kurangnya penyinaran cahaya matahari,
ruangannya tertutup sehingga tekanan udara rendah karena kurangnya pergerakan
angin, tetapi pada saat itu kondisi laboratorium sangat dipadati oleh orang

orang yang sedang praktikum, yang memberi sumbangsih besar dalam membuang
zat buangan berupa uap air. Hal inilah yang menyebabkan meningkatnya
kelembaban udara.
Pada vegetasi rumput termometer basah menunjukkan 28oC dan kering
menunjukkan 31oC dengan kelembaban nisbi 81% pengukuran dilakukan dengan
cara manual, sedangkan pada saat menggunakan Sling Psychrometer termometer
basah menunjukkan 31oC dan kering menunjukkan 34oC dengan kelembaban nisbi
82%. Seperti yang diketahui vegetasi rumput merupakan ruang yang terbuka
sehingga

berbagai

faktor

dapat

dengan

mudah

mempengaruhi

tingkat

kelembabannya, terutama laju transpirasi pada vegetasi tersebut.Laju transpirasi


ini sangat dipengaruhi oleh suhu dan intensitas penyinaran matahari. Ketika laju
transpirasi tinggi, maka proses penguapan air tersebut meningkat, sehingga
kandungan uap air dalam udara pun meningkat. Udara udara yang mengandung
uap air tersebut akan bergerak dari tekanan tinggi ke tekanan rendah,
menyebabkan kelembaban pada lokasi tersebut memiliki nilai yang lebih rendah
dibandingkan dengan kelembaban pada ruang Laboratorium.
Pada vegetasi pohon termometer basah menunjukkan 26oC dan kering
menunjukkan 29oC dengan kelembaban nisbi 80% pengukuran dilakukan dengan
cara manual, sedangkan pada saat menggunakan Sling Psychrometer termometer
basah menunjukkan 27oC dan kering menunjukkan 31oC dengan kelembaban nisbi
76%. Pada vegetasi pohon., laju tranpirasinya lebih rendah dibandingkan dengan
laju tranpirasi pada vegetasi rumput. Hal ini disebabkan tingkat penyinaran di
bawah pohon lebih rendah serta laju pergerakan angin dalam membawa uap air ke
tempat lain juga besar. Hal ini juga menurunkan kelembaban pada vegetasi
tersebut.

Di koridor termometer basah menunjukkan 25oC dan kering menunjukkan


28oC dengan kelembaban nisbi 80% pengukuran dilakukan dengan cara manual,
sedangkan pada saat menggunakan Sling Psychrometer termometer basah
menunjukkan 27oC dan kering menunjukkan 30oC dengan kelembaban nisbi
80,5%. Koridor merupakan tempat semi terbuka, sehingga intensitas penyinaran
matahari rendah serta laju pergerakan angin juga besar.Sehingga tingkat
kelembaban pada lokasi tersebut cukup tinggi.
Di

pelataran

termometer

basah

menunjukkan

27oC

dan

kering

menunjukkan 33oC dengan kelembaban nisbi 66% pengukuran dilakukan dengan


cara manual. Pelataran merupakan ruang terbuka dengan laju penyinaran matahari
yang tinggi serta pergerakan angin yang cukup besar. Namun, pada lokasi ini
vegetasi yang dijumpai sangat sedikit sehingga proses tranpirasi rendah
menyebabkan kelembaban pada lokasi tersebut juga rendah.
Di MKU termometer basah menunjukkan 26oC dan kering menunjukkan
30oC dengan kelembaban nisbi 84% pengukuran dilakukan dengan cara manual.
Pada Pelataran MKU, ditemukan beberapa vegetasi, dimana vegetasi tersebut juga
ikut menyumbangkan uap air di udara melalui proses transpirasi. Selain dari
proses transpirasi tersebut uap air juga berasal dari orang orang yang sedang
beraktivitas di MKU.Laju penyinaran pada pelataran MKU juga tidak begitu
besar, sehingga tingkat kelembaban pada MKU juga relatif tinggi.

BAB V
PENUTUP

V.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari percobaan ini adalah kelembaban relatif udara berbeda
pada setiap tempat dan bergantung pada suhu, tekanan udara, pergerakan angin,
kuantitas dan kualitas penyinaran, vegetasi, dan ketersediaan air di suatu tempat.
V.2 Kritik dan Saran
Keterbatasan alat dan bahan pada laboratorium menjadi masalah yang
sangat serius penghambat praktikum. Kebersihan dan penerangan pada
laboratorium juga sangat memprihatinkan karena membuat praktikan merasa
kurang nyaman. Oleh sebab itu, untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat
percobaan sebaiknya didukung oleh peralatan yang memadai agar pengaplikasian
alat benar-benar terlaksana dengan baik.

DAFTAR PUSTAKA
Fitria, L., 2008. Kualitas Udara dalam Perpustakaan Universitas X Ditinjau dari
Kualitas Biologi, Fisik, dan Kimiawi. Jurnal Kesehatan. Vol 12 (2).
Kusuma, C., 2012. Kamus Lengkap Biologi. Fajar Mulya, Surabaya.
Lakitan, B., 1994. Dasar-Dasar Klimatologi. Rajawali Pers, Jakarta.
Umar, M. R.,, 2015. Ekologi Umum dalam Praktikum. Universitas Hasanuddin,
Makassar.
Wildian, W., 2013. Rancangan Bangun Modul Alat Ukur Kelembaban dan
Temperatur. Jurnal Fisika. Vol.2 (1).