Anda di halaman 1dari 5

EFEKTIFITAS JUS MENTIMUN (CUCUMIS SATIVUS LINN)

DAN JUS WORTEL (DAUCUS CAROTA LINN) TERHADAP


PENURUNAN TEKANAN DARAH PENDERITA
HIPERTENSI DI DESA KURIPAN

ABSTRAK
Masalah kesehatan yang umum terjadi di masyarakat. Banyak orang yang
menderita penyakit tersebut, tetapi tidak menyadarinya. Penyakit ini berjalan
terus menerus seumur hidup dan sering tanpa adanya keluhan yang khas selama
belum ada komplikasi pada organ tubuh, sehingga tidaklah mengherankan bila
hipertensi dijuluki sebagai pembunuh diam-diam (the silent killer). Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan Efektifitas Pemberian Jus
Mentimun (Cucumis Sativus Linn) dan Jus Wortel (Daucus Carota Linn)
terhadap Penurunan Tekanan Darah Penderita Hipertensi di Desa Kuripan.
Desain penelitian ini menggunakan rancangan (Quasi Experiment) yaitu suatu
rancangan yang berupaya untuk mengungkapkan hubungan sebab akibat, dengan
pendekatan Non-equivalent control group, yang artinya sampel dilakuan
observasi kemudian diberi perlakuan, setelah diberi perlakuan sampel tersebut
diobservasi kembali. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini
adalah total sampling dan didapatkan 46 responden. Berdasarkan analisis
menggunakan komputerisasi dengan uji paired t test kedua variabel diperoleh
hasil nilai p = 0.000 (p = 0.05) yang menunjukkan adanya perbedaan
signifikan antara sebelum dan sesudah dilakukan intervensi, tetapi jus mentimun
(Cucumis sativus linn) lebih efektif menurunkan tekanan darah dibanding
dengan jus wortel (Daucus carota linn) dilihat dari penurunannya setelah
intervensi jus mentimun memiliki penurunan sebesar 6,9/6.91mmHg sedangkan
jus wortel memiliki penurunan sebesar 4.26/3.65 mmHg. Dari hasil penelitian
diatas dapat disimpulkan bahwa jus mentimun (Cucumis sativus linn) lebih
efektif menurunkan tekanan darah tinggi dibanding jus wortel (Daucus carota
linn)
Kata kunci : Tekanan darah, jus mentimun, jus wortel

PENDAHULUAN
Angka penderita hipertensi di Indonesia mencapai 32%

pada 2008

dengan kisaran usia di atas 25 tahun. Jumlah penderita pria mencapai 42,7%,
sedangkan 39,2% adalah wanita (Health Kompas, 2013). Hipertensi biasanya
menyebabkan berbagai komplikasi terhadap beberapa penyakit lain, bahkan
penyebab timbulnya penyakit jantung, stroke, dan ginjal (Armylawaty et al,
2007). Banyaknya penderita hipertensi di Indonesia diperkirakan 15 juta orang
tetapi hanya 4% yang merupakan hipertensi terkontrol. Prevalensi 6% - 15 % pada
orang dewasa, 50 % diantaranya tidak menyadari sebagai penderita hipertensi
(Armilawaty et al, 2007). Menurut data BPS tahun 2012 untuk pengobatan
nonfarmakologi di Indonesia hanya 24,33 % yang menggunakannya. Di Daerah
Istimewa Yogyakarta prevalensi hipertensi saat ini menduduki peringkat atas
sebesar 47,7% di perkotaan, sedangkan di daerah pedesaan mencapai 51,7%
(Profil Dinas Kesehatan DIY, 2012), untuk Provinsi Jawa Tengah kasus tertinggi
penyakit tidak menular tahun 2012 pada kelompok penyakit jantung dan
pembuluh darah adalah penyakit Hipertensi Esensial, yaitu sebanyak 554.771
kasus (67,57%) (Profil Dinas Kesehatan Jawa Tengah, 2012).
Prevalensi di kabupaten Grobogan gambaran penyakit hipertensi esensial
bulan juni 2013 berdasarkan umur adalah sebagai berikut: usia 15-44 tahun kasus
hipertensi esensial berjumlah 79 kasus, usia 45-64 tahun berjumlah 172 kasus, dan
pada kelompok > 65 tahun berjumlah 159, total keseluruhan yaitu 411 kasus
hipertensi esensial, sedangkan pada tahun sebelumnya pada tahun 2012 total
terdapat 4297 penderita hipertensi (Dinkes Kabupaten Grobogan, 2012).
Kabupaten Grobogan pada Januari 2014-September 2014 terdapat kasus
hipertensi pada laki-laki sebanyak 1.848 orang sedangkan untuk kasus hipertensi
pada perempuan 4.820 orang, jumlah dari keseluruhan terdapat 7.027 kasus
hipertensi (Dinkes Kabupaten Grobogan, 2014). Untuk kasus kematian ditahun ini
tidak ada (Dinkes Kabupaten Grobogan, 2014). Data dari Puskesmas Purwodadi I
bahwa jumlah penderita hipertensi di Puskesmas Purwodadi I pada tahun 2013
sebanyak 733 orang, sedangkan pada januari s/d september 2014 mencapai angka
548 orang. Jumlah penderita hipertensi desa kuripan pada tahun 2013 sebanyak

32 orang, di tahun 2014 ( bulan januari september 2014) hipertensi di desa


kuripan sebanyak 46 orang (Puskesmas Purwodadi I, 2014). Pengobanan
nonfarmakologi dengan menggunakan bahan alami yang mudah ditemukan di
masyarakat. Menurut Yulianti dan Maloedyn (2006) bahwa penanganan secara
non farmakologi sangat diminati masyarakat karena sangat mudah untuk
dipraktekkan dan tidak mengeluarkan biaya yang terlalu banyak. Selain itu,
penanganan non farmakologis juga meminimalkan efek samping yang berbahaya,
sehingga masyarakat menyukai penanganan secara non farmakologis. Menurut
Dalimartha (2008), bahwa penanganan non farmakologis yaitu meliputi
mengontrol pola makan, makanan sejenis padi-padian, berhenti merokok dan
hindari

konsumsi

alkohol

berlebih,

akupuntur,

terapi

herbal,

ataupun

meningkatkan konsumsi potasium dan magnesium(seperti jus mentimun dan jus


wortel).
Pranadi (2012) menyebutkan mengkonsumsi jus mentimun 250 ml atau 1
gelas, 2 x sehari selama 3 hari berturut turut mampu menurunkan tekanan darah.
Pemanfaatan mentimun dalam menurunkan tekanan darah pada penderita
hipertensi yaitu dengan cara mengeluarkan cairan tubuh (melalui air seni)
(Mangontin et al, 2008). Dimana mentimun mengandung mineral yaitu potassium,
magnesium, dan pospor. Selain itu mentimun juga bersifat diuretic karena
mengandung banyak air sehingga menbantu menurunkan tekanan darah (Myrank,
2009). Sementara Fikri, 2008 Penderita hipertensi sangat disarankan untuk
mengkonsumsi mentimun, karena kandungan mineral kalium, magnesium, dan
serat di dalam timun bermanfaat untuk menurunkan tekanan darah. Serta mineral
magnesium yang juga berperan melancarkan aliran darah dan menenangkan saraf.
Apriani, 2013 juga menyebutkan bahwa mengkonsumsi 250 ml jus wortel 2 x
dalam sehari mampu menurunkan tekanan darah tinggi. Wortel ( Daucus carota
l.) efeknya terhadap tekanan darah, sudah diteliti oleh Ivan Jethro Oslan tahun
2005, hasilnya menunjukkan jus wortel menurunkan tekanan darah sistol sebesar
7,85% dan tekanan darah diastol sebesar 8,06%. Wortel (Daucus carota l.)
mengandung kalium. Kelebihan ion kalium dalam cairan ekstrasel akan
menurunkan potensial membran istirahat di dalam serabut-serabut otot jantung.

Sehingga intensitas potensial juga menurun yang selanjutnya membuat kontraksi


jantung secara progresif melemah yang akan berpengaruh terhadap cardiac output
(CO) dan menghambat sekresi renin (Guyton & Hall, 2008).
METODE PENELITIAN
Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi eksperimen,
Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah total sampling. Pada
penelitian ini, peneliti melakukan wawancara tentang data demografi penderita
tekanan darah tinggi / hipertensi, peneliti melakukan pengukuran tekanan darah
tinggi / hipertensi. Apabila nilai P 0,05 maka distribusi data tidak normal dan
jika P 0,05 maka distribusi data normal. Pada uji normalitas karena jumlah
sampel kecil ( 50) menggunakan uji Shapiro-Wilk. Uji hipotesis jika data normal
menggunakan uji t berpasangan menggunakan Paired T-Test. Jika data tidak
normal menggunakan uji Wilcoxon. Bila P 0,05 berarti secara statistik terdapat
hubungan yang bermakna dan sebaliknya bila P 0,05 berarti tidak terdapat
hubungan antara dua variabel.
HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel 4.5 Distribusi Tekanan Darah Sebelum dan Sesudah


pemberian Jus Mentimun di Desa Kuripan (n = 23)

No
1

Variabel
Sebelum
Sistol

Mean

Std.

Skwenes
s

Mi
n

Max

160.61

11.425

0.179

14
6

179

100.13

5.362

0.121

Diastol

111
90

Sesudah :
2
13

Sistol

153.17

10.777

0.205

172

Diastol

93.22

5.385

0.024

82

105

Sumber : Data yang diolah