Anda di halaman 1dari 16

EKSISTENSI ASAS LEGALITAS DALAM HUKUM PIDANA

Tugas Hukum Pidana


Kelas: B2
Kelompok :
I WAYANMAHENDRA ADI PUTRA (1310121067)
I WAYAN AGUS EKAYANA
AGUS ARYA
MADE AGUS
DIMAS
SUDIKSA
ARIGITA
BOTHEL
TAXI
HANES

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat limpahan
Rahmat dan Karunia-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada
waktunya. Dalam penyusunan makalah ini, saya banyak mendapat tantangan dan hambatan.
Akan tetapi dengan bantuan dari berbagai pihak tantangan itu bisa teratasi. Oleh karena itu,
saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah
membantu. Semoga bantuannya mendapat balasan dari Tuhan Yang Maha Esa tugas ini
berjudul Eksistensi Asas Legalitas Dalam Hukum Pidana
Saya menyadari bahwa ini masih jauh dari kesempurnaan baik dari bentuk penyusunan
maupun materinya. Kritik konstruktif sangat saya harapkan untuk penyempurnaan makalah
selanjutnya.
Akhir kata semoga makalah ini dapat memberikan manfaat dan menjadi informasi kepada
sekalian.
Denpasar, 2014

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................................ ii
DAFTAR ISI ....................................................................................................................... v
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................................. 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................................. 1
1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN ................................................................................................. 3
2.1 Asas-Asas Hukum Pidana............................................................................................ 3
2.2 Asas Legalitas.............................................................. ...............................................
2.3Sejarah Asas Legalitas................................................................................................... 4
2.4 Asas Legalitas atau Oportunitas Terhadap Penuntutan Pidana.. ................................ 6
2.5 Berbagai Aspek Asas Legalitas..................................................................................... 9
BAB III PENUTUP ............................................................................................................ 21
3.1 Kesimpulan ........................................................................................................... 21
3.2 Saran .................................................................................................................... 21
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 22

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang

Asas legalitas merupakan salah satu asas asas dalam hukum pidana. Dimana asas ini
sangat berkaitan dalam berbagai bidang bidang pidana, hukum pidana. Asas lealitas
tercantum di dalam pasal 1 ayat 1 KUHP. Kalau kata-katanya yang asli di dalam bahasa
Belanda disalin ke dalam bahasa Indonesia kata demi kata, maka akan berbunyi: Tiada
suatu perbuatan (feit) yang dapat dipidana selain berdasarkan kekuatan ketentuan
perundang-undangan pidana yang mendahuluinya.
Asas legalitas yang tercantum di dalam pasal 1 ayat 1 KUHP dirumuskan di dalam
bahasa Latin: Nullum delictum nulla poena sine praevia legi poenali, yang dapat
disalin ke dalam bahasa Indonesia kata demi kata dengan: Tidak ada delik, tidak ada
pidana tanpa ketentuan pidana yang mendahuluinya. Sering juga dipakai istilah Latin:
Nullum crimen sine lege stricta, yang dapat disalin kata demi kata pula dengan:
Tidak ada delik tanpa ketentuan yang tegas. Cacat-cacat dalam penerapan asas
legalitas ini karena adanya pertentangan anatara fungsi instrumental dan fungsi
melindungi. Terkadang, demi kepentingan fungsi instrumental undang-undang pidana,
kadang fungsi melindungi dikurangi. Syarat-syarat perlindungan hukum kepada rakyat
tidak boleh mengikat pemerintah sedemikian rupa sehingga menghalangi tugas
penuntutan pidana yang efektif.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah adalah Eksistensi Asas Legalitas Dalam Hukum Pidana
dimana asas legalitas adalah salah satu asas dari hukum pidana. Adapun aspek aspek yang
berpengaruh didalamnya
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun beberapa tujuan penulisan laporan akhir ini adalah sebaga berikut :
1. Untuk mengetahui tentang asas asas hukum pidana
2. Untuk mengetahui asas legalitas.
3. Untuk mengetahui bagaimana eksistensi asas legalitas dalam hukum pidana.
4. Guna menambah pengetahuan mengenai berbagai aspek legalitas.
5. Dapat bermanfaat dan memberikan informasi tentang asas legalitas pada hukum pidana

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Asas-Asas Hukum Pidana


A. Pengertian Asas Hukum Pidana
Apabila kita sekarang sampai pada pembicaraan mengenai asas hukum, maka pada saat itu
kita membicarakan unsur penting dari peraturan hukum. Barangkali tidak berlebihan apabila
dikatakan, bahwa asas hukum ini merupakan jantungnya peraturan hukum. Ini berarti,
bahwa peraturan-peraturan hukum itu pada akhirnya bisa dikembalikan kepada asas-asas
tersebut. Kecuali disebut landasan, asas hukum ini layak disebut sebagai alasan bagi
lahirnya peraturan hukum, atau merupakan ratio legis dari peraturan hukum. Asas hukum ini
tidak akan habis kekuatannya dengan melahirkan peraturan-peraturan selanjutnya.
Menurut van Elkema Hommes, asas hukum itu tidak boleh dianggap sebagai norma-norma
hukum yang konkrit, akan tetapi perlu dipandang sebagai dasar-dasar umum atau petunjukpetunjuk bagi hukum yang berlaku. Pembentukan hukum praktis perlu berorientasi pada
asas-asas hukum tersebut. Dengan kata lain, asas hukum ialah dasar-dasar atau petunjuk
arah dalam pembentukan hukum positif.
Sedangkan menurut P. Scholten, asas hukum adalah kecenderungan-kecenderungan yang
disyaratkan oleh pandangan kesusilaan kita pada hukum, merupakan sifat-sifat umum
dengan segala keterbatasannya sebagai pembawaan umum itu, tetapi yang tidak boleh tidak
harus ada.
Kalau peraturan hukum yang konkrit itu dapat diterapkan secara langsung pada
peristiwanya, maka asas hukum diterapkan secara tidak langsung. Untuk menemukan asas
hukum dicarilah sifat-sifat umum dalam kaedah atau peraturan yang konkrit. Ini berarti
menunjuk kepada kesamaan-kesamaan yang terdapat dalam ketentuan-ketentuan yang
konkrit itu.
Jadi, dapatlah disimpulkan bahwa asas hukum pidana adalah pikiran dasar yang umum
sifatnya atau merupakan latar belakang dari peraturan-peraturan yang konkrit pada hukum
pidana.
B. Asas-Asas Hukum Pidana
Ilmu pengetahuan tent ang hukum pidana (positif) dapat dikenal beberapa asas yang sangat
penting untuk diketahui, karena dengan asas-asas yang ada itu dapat membuat suatu
hubungan dan susunan agar hukum pidana yang berlaku dapat dipergunakan secara
sistematis, kritis, dan harmonis. Pada hakekatnya dengan mengenal, menghubungkan, dan
menyusun asas di dalam hukum pidana positif itu, berarti menjalankan hukum secara

sistematis, kritis, dan harmonis sesuai dengan dinamika garis-garis yang ditetapkan dalam
politik hukum pidana.
Asas-asas hukum pidana itu dapat digolongkan:
a. Asas yang dirumuskan di dalam KUHP atau perundang-undangan lainnya;
b. Asas yang tidak dirumuskan dan menjadi asas hukum pidana yang tidak tertulis, dan
dianut di dalam yurisprudensi.
1. Asas Legalitas
2. Asas Keberlakuan Hukum Pidana
3. Asas Territorial atau Wilayah
4. Asas Personalitas atau Asas Nasionalitas Aktif.
5. Asas Perlindungan atau Asas Nasionalitas Pasif
6. Asas Universalitas
7. Asas Kesalahan dan Asas-Asas Penghapusan Pidana

2.2 Asas Legalitas


Asas legalitas tercantum di dalam pasal 1 ayat 1 KUHP. Kalau kata-katanya yang
asli di dalam bahasa Belanda disalin ke dalam bahasa Indonesia kata demi kata, maka akan
berbunyi: Tiada suatu perbuatan (feit) yang dapat dipidana selain berdasarkan kekuatan
ketentuan perundang-undangan pidana yang mendahuluinya.
Asas legalitas yang tercantum di dalam pasal 1 ayat 1 KUHP dirumuskan di dalam bahasa
Latin: Nullum delictum nulla poena sine praevia legi poenali, yang dapat disalin ke dalam
bahasa Indonesia kata demi kata dengan: Tidak ada delik, tidak ada pidana tanpa ketentuan
pidana yang mendahuluinya. Sering juga dipakai istilah Latin: Nullum crimen sine lege
stricta, yang dapat disalin kata demi kata pula dengan: Tidak ada delik tanpa ketentuan
yang tegas.
Ucapan nullum delictum nulla poena sine praevia lege berasal dari von Feuerbach, sarjana
hukum pidana Jerman (1775-1833). Dialah yang merumuskannya dalam pepatah latin tadi
dalam bukunya: Lehrbnuch des pein leichen recht 1801.
Hal ini oleh Anselm von Feuerbach dirumuskan sebagai berikut:
Nulla poena sine lege
Nulla poena sine Crimine

Nullum Crimen sine poena legali.


Artinya:
Tidak ada hukuman, kalau tak ada Undang-undang,
Tidak ada hukuman, kalau tak ada kejahatan
Tidak ada kejahatan, kalau tidak ada hukuman, yang berdasarkan Undang-undang .
Perumusan asas legalitas dari von Feuerbach dalam bahasa Latin itu dikemukakan
berhubung dengan teorinya yang dikenal dengan nama teori vom psychologian zwang,
yaitu yang menganjurkan supaya dalam menentukan perbuatan-perbuatan yang dilarang di
dalam peraturan bukan saja tentang macamnya perbuatan yang harus dituliskan dengan
jelas, tetapi juga tentang macamnya pidana yang diancamkan.
Biasanya asas legalitas ini dimaksud mengandung tiga pengertian, yaitu:
a. Tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih
dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang.
b. Untuk menentukan adanya perbuatan pidana tidak boleh digunakan analogi. (kiyas)
c. Aturan-aturan hukum pidana tidak berlaku surut.
Asas dasar bahwa hukum pidana tidak berlaku surut sebagaimana tercantum di dalam pasal
1 ayat 1 KUHP dibatasi dengan kekecualian yang tercantum di dalam ayat 2 pasal itu. Ayat 2
itu berbunyi: Apabila perundang-undangan diubah setelah waktu perbuatan dilakukan,
maka terhadap terdakwa digunakan ketentuan yang paling menguntungkan baginya.
Mengenai perubahan dalam perundang-undangan, ada tiga macam teori:
a. Teori formil (formale leer)
b. Teori materiel terbatas (beperkte materiele leer)
c. Teori materiel yang tidak terbatas (onbeperkte materiele leer)
Menurut teori formil, dikatakan ada perubahan dalam undang-undang kalau redaksi (teks)
undang-undang diubah. Menurut teori materiel bahwa perubahan dalam perundangundangan terbatas dalam arti kata pasal 1 ayat 2 KUH Pidana, yaitu tiap perubahan sesuai
dengan suatu perubahan perasaan (keyakinan) hukum para pembuat undang-undang.
Adapun menurut teori materiel yang tidak terbatas, tiap perubahan adalah mencakup
perasaan hukum dari pembuat undang-undang maupun dalam keadaan boleh diterimanya
sebagai suatu perubahan dalam undang-undang menurut arti kata pasal 1 ayat 2 KUH P

2. 3 Sejarah Asas Legalitas

Ucapan nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenalli ini berasal dari Anselm von
Feuerbach, sarjana hukum pidana Jerman (1775-1833). Dialah yang merumuskannya dalam
pepatah latin tadi dalam bukunya: Lehrbuch des peinlichen Recht (1801). Dalam
kaitannya dengan fungsi asas legalitas yang bersifat memberikan perlindungan kepada
undang undang pidana, dan fungsi instrumental, istilah tersebut dibagi menjadi tiga yaitu:
Nulla poena sine lege: tidak ada pidana tanpa ketentuan pidana menurut undang-undang;
Nulla poena sine crimine: tidak ada pidana tanpa perbuatan pidana;
Nullum crimen sine poena legalli: tidak ada perbuatan pidana tanpa pidana menurut
undang-undang.
Di dalam hukum romawi kuno, yang memakai bahasa latin, tidak dikenal pepatah ini; juga
asas legalitas tidak dikenal. Dalam sebuah karangan dalam : Tijdschrift v. Strafrecht dalam
halaman 337 dikatakan bahwa di zaman Romawi itu dikenal kejahatan yang
dinamakan criminal extra ordinaria, artinya kejahatan-kejahatan yang tidak disebut dalam
Undang-Undang.
Di antara crimina extra ordinaria ini yang sangat terkenal adalah crimina stellionatus, yang
letterlijk artinya: perbuatan jahat, durjana. Jadi tidak ada ditentukan perbuatan berupa apa
yang dimaksud di situ. Sewaktu hukum Romawi kuno itu diterima di Eropa Barat dalam
abad Pertengahan, sebagaimana halnya kita dalam jaman penjajahan, meresipier hukum
Belanda) maka pengertian tentang crimina extra ordinariaini diterima pula oleh raja-raja
yang berkuasa. Dan dengan adanya crimina extra ordinaria ini lalu diadakan kemungkinan
untuk menggunakan hukum pidana itu secara sewenang-wenang menurut kehendak dan
kebutuhan raja sendiri.
B.Arti Pasal 1 KUHP
Pasal 1 Kitab Undang undang hukum pidana menjelaskan kepada kita bahwa:
Suatu perbuatan dapat dipidana kalau termasuk ketentuan pidana menurut undangundang. Oleh karena itu pemidanaan berdasarkan hukum tidak tertulis tidak dimungkinkan;

Ketentuan pidana itu harus lebih dahulu ada daripada perbuatan itu, dengan kata lain,
ketentuan pidana itu harus sudah berlaku ketika perbuatan itu dilakukan. Oleh karena itu
ketentuan tersebut tidak berlaku surut (asas non retroaktif), baik mengenai ketetapan dapat
dipidana maupun sanksinya.
Pasal 1 ayat (2) KUHP membuat pengecualian atas ketentuan tidak berlaku surut untuk
kepentingan terdakwa Jadi, sepanjang menguntungkan terdakwa, maka pemberlakuan
hukum pidana yang baru (meskipun berlaku surut) dapat dilaksanakan
Sesuai dengan jiwa pasal 1 KUHP, disyaratkan juga bahwa ketentuan undang-undang harus
dirumuskan secermat mungkin. Ini dinamakan asas lex certa. Undang-undang harus
membatasi dengan tajam dan jelas wewenang pemerintah terhadap rakyat (lex
certa: undang-undang yang dapat dipercayai). Pengertian dasar pasal 1 KUHP juga
berkaitan dengan jiwa pasal 3 KUHP: hukum pidana harus diwujudkan dengan prosedur
yang memadai dan dengan jaminan hukum.
Satochid Kertanegara dalam buku Hukum Pidana (kumpulan bahan kuliah) menyatakan
bahwa dengan adanya Pasal 1 ayat (1) KUHP tersebut di atas, maka KUHP tidak dapat
berlaku surut. Hal ini berarti bahwa:
1.

KUHP tidak dapat berlaku surut, ini adalah asas yang pertama. Adapun rasionya

adalah bahwa KUHP harus bersumber pada peraturan tertulis (asas non retroaktif);
2.

KUHP harus bersumber pada peraturan tertulis.

Jadi hukum pidana tidak boleh bersumber pada hukum adat, atau hukum tidak tertulis
lainnya. Lain dengan hukum perdata dimana hukum adat masih menjadi salah satu sumber
hukum. Hal ini bertentangan dengan pendapat Prof. Moeljatno yang menyatakan bahwa
hukum pidana adat itu masih berlaku walaupun hanya untuk orang-orang tertentu dan
sementara saja. Dasarnya adalah Pasal 14 ayat 2 UUD Sementara.
Jadi dengan meninjau ketentuan seperti yang diatur dalam Pasal 1 ayat (1) dimana tekanan
diletakkan pada perkataan sebelumnya, ini menunjukkan bahwa hukum pidana tidak dapat
berlaku surut. Namun asas ini bukan merupakan asas yang mutlak. Sebagaimana telah
disampaikan dalam buah pemikiran Prof. Moeljatno diatas, senada dengan itu, Prof.
Satochid Kartanegara juga menyampaikan bahwa terhadap asas non retroaktif ini, terdapat

pengecualian dalam Pasal 1 ayat (2) yang berbunyi: Jika sesudah perbuatan dilakukan ada
perubahan dalam perundang-undangan, dipakai aturan yang paling ringan bagi terdakwa.
Dari aturan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa ayat ini memungkinkan
memperlakukan KUHP secara surut, pada umumnya untuk memperlakukan undang-undang
secara surut (asas retroaktif), sepanjang, undang-undang yang baru ini lebih menguntungkan
terdakwa/tersangka. Untuk memahami aturan ayat (2) ini, pertama-tama harus dipahami apa
yang dimaksudkan dengan perubahan di dalam undang-undang. Perubahan dimaksud adalah
perubahan yang terjadi setelah seseorang melakukan perbuatan yang dilarang, dan diancam
dengan hukuman oleh undang-undang, dan apabila undang-undang yang baru ini lebih
menguntungkan daripada undang-undang yang lama maka undang-undang yang baru itu
harus diperlakukan kepada dirinya. Jadi singkatnya, KUHP boleh diperlakukan surut
apabila:
Dilakukan perubahan undang-undang;
Perubahan ini terjadi setelah seseorang melakukan perbuatan yang dilarang dan
diancam dengan hukuman oleh undang-undang, akan tetapi sebelum dijatuhkan hukuman
terhadap perbuatan tersebut;
Undang-undang yang baru terlebih menguntungkan bagi si tersangka, daripada
undang-undang yang lama.
Berlakunya asas legalitas seperti diuraikan di atas memberikan sifat perlindungan kepada
undang-undang pidana: undang-undang pidana melindungi rakyat terhadap pelaksanaan
kekuasaan yang tanpa batas dari pemerintah. Ini dinamakan fungsi melindungi dari undangundang pidana. Disamping fungsi melindungi tersebut, undang-undang pidana juga
mempunyai fungsi instrumental yaitu di dalam batas-batas yang ditentukan oleh undangundang, pelaksanaan kekuasaan oleh pemerintah secara tegas diperbolehkan. Asas legalitas
ada hubungannya dengan fungsi instrumental dari undang-undang pidana tersebut

2.4 Asas Legalitas atau asas oportunitas terhadap penuntutan pidana


Rumusan ketiga von Feuerbach berhubungan dengan fungsi instrumental undang-undang
pidana dan merupakan ajaran paksaan psikologis. Undang-undang pidana diperlukan untuk

memaksa rakyat berbuat menurut hukum dengan mengancamkan pidana terhadap perbuatan
yang melawan hukum. Tetapi agar ancaman pidana itu mempunyai efek, tiap-tiap pelanggar
undang-undang harus sungguh-sungguh dipidana.
Pemerintah juga harus selalu mempergunakan wewenang yang diberikan kepadanya untuk
memidana. Disinipun ada landasar syarat keadilan, yaitu asas persamaan, adalah tidak adil
dalam keadaan yang sama memidana pelanggar undang-undang yang satu sedangkan yang
lain tidak dipidana. Dalam arti keharusan menuntut pidana, asas legalitas mempunyai
banyak pengikut terutama di Jerman, di mana sejak akhir abad yang lalu titik tolak dari
tindakan yustisial yaitu setiap pelanggaran undang-undang harus dituntut. Ini berlaku juga di
beberapa negara lain.
Sebaliknya, di perancis, belgia, dan khususnya di belanda, diikuti asas oportunitas, yang
menentukan bahwa pemerintah berwenang tetapi tidak berkewajiban menurut undangundang untuk menuntut semua perbuatan pidana. Karena alasan-alasan oportunitas
penuntutan itu, dapat juga diabaikan (lihat pasal 167 dan 242 Sv).
Cacat-cacat dalam penerapan asas legalitas ini karena adanya pertentangan anatara fungsi
instrumental dan fungsi melindungi. Terkadang, demi kepentingan fungsi instrumental
undang-undang pidana, kadang fungsi melindungi dikurangi. Syarat-syarat perlindungan
hukum kepada rakyat tidak boleh mengikat pemerintah sedemikian rupa sehingga
menghalangi tugas penuntutan pidana yang efektif. Harus ada penimbangan kepentingan.
Dalam hal ini kita berada di lapangan politik hukum kriminal.

2.5 Berbagai Aspek Asas Legalitas


Biasanya asas legalitas ini dimaksud mengandung tiga pengertian yaitu:
Tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana kalau hal itu terlebih
dahulu belum dinyatakan dalam suatu aturan undang-undang. Pengertian yang pertama
tersebut di atas, bahwa harus ada aturan udang-undang jadi aturan hukum yang tertulis
terlebih dahulu, jelas tampak dalam Pasal 1 ayat (1) KUHP, dimana dalam teks Belanda
disebutkan: wettelijke strafbepaling, yaitu aturan pidana dalam perundangan. Tetapi
dengan adanya ketentuan ini, konsekuensinya adalah perbuatan-perbuatan pidana menurut

hukum adat lalu tidak dapat dipidana, sebab di situ tidak ditentukan dengan aturan yang
tertulis.
Untuk menentukan adanya perbuatan pidana tidak boleh digunakan analogi/kiyas. Asas
bahwa dalam menentukan ada atau tidaknya perbuatan pidana tidak boleh digunakan
analogi (kiyas) pada umumnya masih dipakai oleh kebanyakan negara-negara. Di Indonesia
dan di belanda pada umunya masih diakui prinsip ini, meskipun ada juga beberapa ahli yang
tidak dapat menyetujui hal ini, misalnya Taverne, Pompe dan Jonkers. Prof. Scholter
menolak adanya perbedaan antara analogi dan tafsiran ekstensif, yang nyata-nyata
diperbolehkan. Menurut pendapatnya, baik dalam hal penafsiran ekstensif, maupun dalam
analogi dasarnya adalah sama, yaitu dicoba untuk menemukan norma-norma yang lebih
tinggi (lebih umum atau lebih abstrak) daripada norma yang ada. Penerapan undang-undang
berdasarkan analogi ini berarti penerapan suatu ketentuan atas suatu kasus yang tidak
termasuk di dalamnya. Penerapan berdasarkan analogi dari ketentuan pidana atas kejadiankejadian yang tidak diragukan patut diidana, akan tetapi tidak termasuk undang-undang
pidana memang pernah dilakukan.
Aturan-aturan hukum pidana tidak berlaku surut. Tiada suatu perbuatan dapat dipidana
kecuali ada ketentuan pidana menurut undang-undang yang telah ada sebelumnya, semikian
pasal 1 ayat (1) KUHP. Ayat (2) pasal tersebut memberikan pengecualian sebagaimana telah
kita bahas diatas. Peraturan ini berlaku untuk seluruh proses perkara Dengan kata lain, kalau
dalam waktu antara putusan tingkat pertama dan tingkat banding, atau antara banding
dengan kasasi terjadi perubahan undang-undang untuk kepentingan terdakwa, maka
Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi dan MA harus menerapkan Pasal 1 ayat (2) KUHP.
Ingat, larangan kekuatan surut hanya berlaku untuk ketentuan pidana. Tidak untuk peraturan
yurisdiksi misalnya yang berhubngan dengan wewenang pembentuk undang-undang
nasional lainnya.
Namun Sahetap menambahkan lagi empat aspek yakni:
Tidak dapat dipidana hanya berdasarkan kebiasaan. Pemidanaan juga harus
berdasarkan undang-undang, tidak diperbolehkan berdasarkan kebiasaan. Jadi pelanggaran
atas kaidah kebiasaan dengan sendirinya belum menghasilkan perbuatan pidana. Meskipun
demikian, tidak berarti bahwa kaidah kaidah kebiasaan tidak berperan dalam hukum pidana.
Adakalanya undang-undang pidana secara implisit atau eksplisit menunjuk ke situ.

Penunjukan secara implisit ke kebiasaan terdapat pada blanket norm seperti dalam pasal 282
KUHP, dan beberapa delik omisi di mana tidak berbuat dapat dipidana. Penunjukan secara
eksplisit ke kebiasaan terdapat dalam Pasal 8 Wet Oorlogsstrafrecht 1950 (UU Hukum
Pidana Perang di Belanda) yang mengancam pidana berat terhadap pelanggaran undangundang dan kebiasaan perang. Ketentuan-ketentuan tersebut semuanya melanggar asas lexcerta.
Tidak boleh ada perumusan delik yang kurang jelas (syarat lex certa). Syarat lex
certa berarti bahwa undang-undang harus cukup jelas, sehingga:
a)

Merupakan pegangan bagi warga masyarakat dalam memilih tingkah lakunya, dan

b)

Untuk memberikan kepastian kepada penguasa mengenai batas-batas kewenangannya.

Namun tidak mungkin untuk merumuskan semua kelakuan yang patut dipidana secara
cermat dalam undang-undang. Syarat-syarat yang ditetapkan oleh undang-undang untuk
kelakuan masyarakat, juga ditentukan berdasarkan kebiasaan yang berlaku disitu. Walaupun
demikian, orang berhak untuk bertanya, apakah pembuat undang-undang dengan pasal
8 Wet Oorlogsrecht tidak terlampau mudah menyelesaikan tugasnya.
Tidak ada pidana lain kecuali yang ditentukan undang-undang. Undang-undang
menentukan pidana-pidana yang dijatuhkan, demikian bunyi Pasal 89 ayat (2) UUD
Belanda. Dengan undang-undang disini adalah undang-undang dalam arti formal.
Pembentuk undang-undang yang lebih rendah dapat membuat peraturan pidana selama
diizinkan oleh pembentuk undang-undang formal. Tetapi tidak boleh menciptakan pidana
lain daripada yang telah diatur dan ditentukan oleh undang-undang dalam artian formal.
Hakim juga tidak diperbolehkan menjatuhkan pidana lain daripada yang telah ditentukan
oleh undang-undang. Meskipun demikian, pasal 14a KUHP memberikan wewenang kepada
hakim untuk menetapkan syarat khusus kepada pidana bersyarat berupa kewajibankewajiban tertentu yang harus dipenuhi oleh terpidana, namun hal ini ada batasanbatasannya.
Penuntutan pidana hanya menurut cara yang ditentukan undang-undang. Penuntutan
pidana adalah seluruh proses pidana, mulai dari pengusutan sampai pelaksanaan pidana
(bandingkan pasal 1 butir 7 KUHAP: penuntutan adalah tindakan penuntut umum untuk

melimpahkan perkara pidana ke Pengadilan negeri yang berwenang dalam hal ini menurut
cara yang diatur dalam undang-undang ini dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus
oleh hakim di sidang pengadilan. Peraturan acara pidana dengan demikian sama di seluruh
negara. Larangan membuat peraturan acara pidana berlaku untuk pembentuk undangundang yang lebih rendah, tidak untuk pembentuk undang-undang dalam arti formal.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Dari pemaparan diatas dapat diketahui bahwa Kitab Undang-undang Hukum


Pidana (KUHP) merupakan suatu instrument hukum yang mempunyai
peran sangat penting dalam penegakan hukum pidana di Indonesia.
Dengan demikian KUHP menjadi sumber pokok hukum pidana materil,
yang di dalamnya memuat tentang aturan umum hukum pidana dan
rumusan-rumusan tindak pidana tertentu. Di dalam aturan umum
memuat asas-asas umum mengenai berbagai hal atau bidang dalam
hukum pidana, termasuk di dalamnya memuat tentang asas legalitas
(principle of legality).
Asas legalitas merupakan suatu asas yang sangat menjunjung tinggi kepastian
hukum. Prof. Moeljatno, SH. mengatakan asas legalitas merupakan suatu asas yang
menentukan bahwa tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana jika tidak
ditentukan terlebih dahulu dalam perundang-undangan. Ini dapat diartikan bahwa hukum
pidana berdasarkan asas legalitas, hanya mengenal dan menghukum seseorang atas
perbuatannya, apabila perbuatan tersebut telah secara jelas diatur dalam perundangundangan. Hal ini merupakan suatu ciri khas yang ada dalam hukum pidana (KUHP).

3.2 Saran
Hendaknya dalam penerapan hukum pidana yang salah satu asasya adalah asas
legalitas harus diterapkan dengan baik dan sesuai kaidah yang berlaku juga kmanusiaan dan
hati nurani yang harusnya dijamin dalam asas tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Artikel/Makalah
Hukum Pidana, Prof. DR. D. Schaffmeister, et.al, diterjemahkan oleh J.E. Sahetapy,
Konsorsium Ilmu Hukum Departemen P&K, 1995;
Asas-Asas Hukum Pidana, Prof. Moeljatno, S.H., Rineka Cipta, 2000;
Hukum Pidana, Kumpulan Kuliah Prof. Satochid Kartanegara, Balai Lektur Mahasiswa.

Internet
www.wikipedia.com