Anda di halaman 1dari 5

TUGAS PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN

KEKRISTENAN DAN KEBUDAYAAN

Saya warga negara Indonesia yang merupakan keturunan Cina/Tionghoa. Dalam


budaya Tionghoa, ada beberapa tradisi yang diterapkan, antara lain:

1. Rangkaian Perayaan Sincia atau Tahun Baru Imlek


Perayaan Sincia biasa dirayakan selama 22 hari dimulai dengan hari ketujuh
sebelum Sincia, di mana dipercaya dewa penunggu dapur naik ke langit melaporkan
situasi rumah tangga. Pada malam sebelum Imlek, dilakukan sembayang
menggunakan daging babi, ikan dan ayam. Tepat pada hari Sincia, dilakukan
kunjungan kepada orangtua dan sanak saudara yang lebih tua untuk menghormat dan
juga sembayang di depan meja sembayang nenek moyang yang telah meninggal. Pada
kesempatan ini juga dibagikan angpao, yaitu uang yang dibungkus amplop berwarna
merah. Angpao dianggap bukan sekedar hadiah, namun juga merupakan jimat yang
akan membawa rejeki bagi yang menerima. Pada hari keempat setelah Sincia, dewa
penunggu dapur kembali dari langit dan disambut dengan permainan barongsai
diiringi petasan dan bunyi-bunyian ramai dengan maksud mengusir roh-roh jahat.
Pada hari kelimabelas, diadakan Cap Go Meh dengan hiasan lampion berwarna merah,
dan ritual sembayang kepada langit dan bumi.

(Sumber foto: http://www.giharu.com/wp-content/uploads/2016/02/post_cny1.jpg)

Merayakan Sincia sebetulnya adalah netral seperti halnya merayakan Tahun


Baru Masehi. Semua orang, tidak terbatas pada orang Tionghoa saja, boleh merayakan
Sincia. Bahkan saat ini di beberapa gereja, termasuk gereja di mana saya berdomisili,
ikut merayakan Sincia dengan cara membagi-bagikan angpao kepada jemaat gereja,
berpakaian serba merah saat ibadah Minggu, dan dekorasi-dekorasi khas turut
menghias gedung gereja.
Banyak hal-hal positif yang dapat kita praktekkan dalam perayaan Sincia ini,
seperti tradisi makan bersama di malam Sincia, tradisi mengunjungi orangtua/ sanak
saudara pada hari Sincia, tradisi memberikan hormat kepada orangtua/ yang lebih tua,
tradisi pemberian angpao kepada anak-anak kecil. Tradisi-tradisi tersebut justru dapat
mempererat hubungan dengan orangtua, sanak saudara, maupun kerabat, menciptakan
kerukunan, bahkan malah dapat membangun relasi positif dengan orang-orang nonTionghoa.
Hanya saja, ada beberapa hal yang perlu kita hindari adalah praktek-praktek
pemujaan dalam perayaan tersebut. Penyembahan kepada dewa-dewi, kepercayaan
ritual mengusir roh jahat, sembayang kepada nenek moyang, langit dan bumi, itulah
yang harus dihindari sebagai umat Kristen. Kita harus pandai-pandai menyaring
kebudayaan yang mau tidak mau telah melekat kepada kita sejak dari leluhur kita.
Tidak mungkin kita meninggalkan tradisi, tetapi kita dapat memperbarui
kebudayaan tersebut sesuai dengan ajaran Kristus.

2. Simbolisme Hewan (Shio)


Masyarakat Tionghoa punya kepercayaan bahwa baik manusia maupun hewan
setelah mati rohnya masih tetap hidup di langit dan roh itu memiliki kekuatan yang
dapat mempengaruhi kehidupan manusia di bumi.
Ada 12 hewan yang dijadikan simbol oleh masyarakat Tionghoa dan dijadikan obyek
penyembahan karena dipercayai memiliki kekuatan magis yang dapat mempengaruhi
manusia.
Memang semula simbol hewan tersebut hanya digunakan sebagai nama bulan,
namun kelamaan dijadikan sebagai obyek penyembahan, dan dipercaya memiliki
kekuatan tadi. Ke-12 simbol hewan tersebut dipercayai mempengaruhi kehidupan
manusia yang dilahirkan di bawah simbol hewan tersebut.

(Sumber gambar: http://sutan123.blogspot.co.id/2014/02/shio-cina.html)


Selain itu pula dalam kepercayaan terhadap shio ini, dipercayai bahwa dalam
memilih pasangan hidup, ada shio-shio yang cocok dan ada yang bertentangan.
Sebagai contoh misalnya, orang yang bershio ular tidak boleh menikah dengan orang
bershio tikus. Bahkan tidak jarang, ada kasus orangtua Tionghoa yang membuang
anaknya karena dipercayai shio si orangtua dan anaknya Ciong atau berlawanan. Si
orangtua berkeyakinan bila dia menerima anak tersebut, salah satu dari mereka akan
mati.

(Sumbergambar:
https://ramalanfengshuiastrologimetafisika.files.wordpress.com/2015/01/29f08ciong2015.jpg)

Kepercayaan terhadap shio ini tentunya sangat bertentangan dengan iman


Kristen dan seharusnya seorang Kristen tidak boleh percaya dengan hal seperti ini.
Kehidupan manusia telah ada dalam tangan Tuhan dan oleh rencanaNya sajalah semua
dapat terjadi. Jadi apapun nasib kita bukanlah diakibatkan di bawah simbol hewan apa
kita dilahirkan.
Seperti tertulis di Yeremia 1:5a Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim
ibumu, Aku telah mengenal engkau... Artinya Tuhan telah menetapkan kehidupan
kita bahkan jauh sebelum kita dilahirkan. Tidak ada gunanya kita mereka-reka nasib
berdasarkan ramalan.
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai
kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan
rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh
harapan. (Yeremia 29:11)

3. Pernikahan Sesama Tionghoa


Pada masyarakat Tionghoa yang bermukim di Indonesia, khususnya golongan
Tionghoa yang totok/kolot, masih menjunjung tinggi keyakinan untuk tetap
mempertahankan kemurnian ras mereka. Artinya, para orangtua akan menghimbau
bahkan mewajibkan anak-anaknya untuk mencari pasangan hidup sesama orang
Tionghoa. Mereka dilarang untuk menikahi ras lain.
Selain itu pula, mereka dilarang untuk menikah dengan yang marganya sama,
misalnya: sama-sama memiliki marga Lie tidak boleh menikah, karena dianggap
masih mempunyai hubungan kekerabatan walaupun mereka tidak saling kenal
sebelumnya.

Aturan-aturan ini dimaksudkan untuk menjaga kemurnian ras masyarakat


Tionghoa. Selain itu ada beberapa alasan lainnya, yaitu masyarakat Tionghoa kolot
beranggapan bahwa mereka adalah golongan rajin, tipe pekerja keras, dan lihai dalam
hal berdagang. Mereka khawatir kesuksesan mereka terganggu oleh masuknya ras lain
yang dianggap tidak memiliki kelebihan-kelebihan yang mereka miliki itu. Alasan
lainnya adalah diskriminasi dan perlakuan-perlakuan tidak baik yang telah dirasakan
oleh leluhur-leluhur bangsa Tionghoa sejak masuknya mereka ke Indonesia dulu.
Singkatnya, ada luka-luka lama yang masih dibawa oleh keturunan mereka.
Banyak masyarakat Tionghoa yang telah beriman Kristen pun masih menerapkan
prinsip seperti ini. Mereka bahkan tidak peduli untuk menikahi orang non-Kristen
asalkan dia Cina! Jika prinsip ini dilanggar oleh sang anak, sang orangtua tidak akan
merestui pernikahan sang anak, bahkan ada banyak kasus, sang anak diusir dari
keluarga besarnya.
Tentunya hal seperti ini bertentangan dengan ajaran iman Kristen. Seperti kita
tahu, sebagai orang Kristen kita memiliki kriteria sendiri yang telah diberikan Tuhan
untuk memilih pasangan hidup kita, yaitu haruslah yang seiman, seperti tertulis dalam
2 Korintus 6:14-15: "Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang
dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara
kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimanakah terang dapat bersatu dengan gelap?
Persamaan apakah yang terdapat antara Kristus dan Belial? Apakah bagian bersama
orang-orang percaya dengan orang-orang tak percaya?"
Di luar itu, Tuhan tidak pernah memberikan batasan pada kita untuk memilih
pasangan hidup. Sah-sah saja kita mengikuti himbauan leluhur, tetapi tetap di atas
segalanya kita boleh melanggar perintah Tuhan. Saya sendiri secara pribadi menolak
dan menentang prinsip seperti ini, memilih pasangan hidup bukan tergantung dari ras,
tetapi mengikuti kehendak Tuhan sendiri. Dan saya beruntung tidak terlahir dari
keluarga yang memiliki prinsip rasis kasar seperti ini.

-------------------------------------------