Anda di halaman 1dari 3

Sejarah

Sejarah Kota Cimahi


kota Cimahi adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini
terletak di antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.
Cimahi dahulu bagian dari Kabupaten Bandung, yang kemudian ditetapkan
sebagai kota administratif pada tanggal 29 Januari 1976.
Pada tanggal 21 Juni 2001, Cimahi ditetapkan sebagai kota otonom.

Gubernur Jendral Herman Willem Daendels


(1808 - 1811)
Cimahi, pada masa Gubernur Jendral Herman Willem Daendels berkuasa
(1808 - 1811), merupakan daerah yang dilewati oleh Jalan Raya Pos (De
Groote Postweg). Jalan Raya Pos sejauh 1000 km dari Anyer ke Panarukan
ini dibangun selain untuk keperluan jalan bagi Kereta Pos juga buat
mobilitas gerakan pasukan untuk mempertahankan Jawa. Ketika itu
Daendels mengkonsentrasikan pasukannya di kota pantai Batavia,
Semarang, dan Surabaya. Maksud Daendels adalah agar mobilitas
pasukan di tiga tempat pertahanan itu dapat dilakukan secara cepat,
melalui Jalan Raya Pos tersebut. Namun sejarah menunjukkan pertahanan
ini dengan mudah dipatahkan Inggris, ini terbukti ketika Armada Pasukan
Inggris dipimpin Lord Minto dengan mudah menyerbu Batavia pada 4
Agustus 1811, tanpa mengalami perlawanan yang berarti. Dari
pengalaman pahit di atas, maka puluhan tahun kemudian, para pembesar
militer Belanda merencanakan suatu pangkalan militer di daerah yang
agak ke pedalaman. Namun letaknya tidak terlampau jauh dari pusat
pemerintahan di Batavia. Posisi Cimahi kemudian dipilih, karena letaknya
yang strategis. Cimahi letaknya berdekatan dengan simpang tiga jalur
kereta api maupun jalan raya. Staats Spoorwegen (Perusahaan Kereta Api
Negara) telah membangun jalur kereta api dari Batavia-Bandung, lewat
Bogor, yang juga lewat Cimahi. Jalur ini diresmikan 17 Mei 1884. Kemudian
pada 29 Desember 1900 dibuka jalur rel Bandung - Batavia lewat
Purwakarta dan Cikampek, yang juga melalui Cimahi. Dengan dibukanya
jalur kereta api baru Batavia-Bandung, lewat Purwakarta, maka mobilitas

pasukan dari Cimahi ke Batavia pada masa itu dapat ditempuh kurang dari
3 jam! Jauh lebih cepat jika dibandingkan lewat Jalan Raya Pos dengan
Kereta Pos (kereta berkuda) yang memakan waktu tiga hari. Juga dengan
adanya jalur kereta api Cimahi-Cilacap pada 1894, maka bantuan pasukan
dan logistik dari 'pintu belakang' pelabuhan Cilacap dapat dilakukan.
Selain itu Cimahi juga dijadikan gerbang pertahanan untuk melindungi
Pangkalan Udara Militer di Andir, yang pembangunannya dilakukan di
kemudian hari. Pembangunan pangkalan militer di Cimahi dilakukan
dengan rahasia ('Geheim') dan tergesa-gesa. Kemudian pelaksanaan
rencana pembangunan pangkalan militer di Cimahi, ditunjuk Genie Officier
Kapitein Fisher dibantu bawahannya Luitenant V. L. Slors. Berbagai sarana
penunjang seperti kompleks perumahan perwira (sekarang Jalan Gedung
Empat dan Jalan Sriwijaya) dan Markas Militer ditambah, melengkapi
sarana militer yang sudah ada seperti Rumah Sakit Militer yang sudah
dibangun pada 1887 kemudian diperluas pada 1905 (sekarang Rumah
Sakit Dustira), Barak dan Kampement (Tangsi), Sositet Perwira (Gedung
Sudirman di Jl.Gatot Subroto sekarang) dan Penjara Militer yang popular
dijuluki Penjara Poncol, yang sudah berdiri sejak 1886. Rupanya, rencana
Cimahi dijadikan Pusat Militer" Belanda sudah lama direncanakan, hal itu
ditinjau dari sarana-sarana penunjangnya yang sudah dibangun
sebelumnya.
Rencana pemerintah Hindia Belanda mengkonsentrasikan pasukan
militernya dilakukan secara bertahap di Cimahi. Sebelumnya, sekitar 1885
di Cimahi sudah ada 3 batalyon yang berpangkalan, yaitu: Infanteri, Genie
(Zeni) dan Artileri. Kemudian pasukan dan perlengkapan semakin banyak
ditempatkan di Cimahi. Garnisun Cimahi diresmikan pada September 1896
dengan komandan pertamanya Majoor Infanteri C.A. van Loenen dan
ajudannya Luitenant J. A. Kohler. Sebagai pendukung kesatuan artileri di
Cimahi, pabrik mesiu di Ngawi dan Artillerie Constructie Winkel di
Surabaya, dipindahkan ke Kiaracondong pada 1898. Lokasi pabrik ini yang
juga dilalui oleh jalur kereta api.
Dengan dijadikannya Cimahi sebagai pangkalan militer, maka terjadilah
penempatan tentara yang besar, baik Tentara Belanda [Koninklijk Leger}
KL) maupun Tentara Hindia Belanda [Konmklijk Neitherlands Indische
Leger, KNIL) yang berasal dari Flores, Timor, Ambon, Manado dan Jawa,
namun opsir dan perwiranya dari Belanda dan Eropa.
Sekilas Cimahi
Kota Cimahi adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Kota ini
terletak di antara Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.
Cimahi dahulu bagian dari Kabupaten Bandung, yang kemudian ditetapkan
sebagai kota administratif pada tanggal 29 Januari 1976. Pada tanggal 21
Juni 2001, Cimahi ditetapkan sebagai kota otonom. Kota Cimahi terdiri
atas 3 kecamatan, yang dibagi lagi atas 15 kelurahan.
Dalam bahasa Sunda, nama Cimahi berarti "air yang cukup". Cimahi mulai
dikenal ketika pada tahun 1811, Gubernur Jenderal Herman Willem
Daendels membuat jalan Anyer-Panarukan, dengan dibuatnya pos
penjagaan di alun-alun Cimahi sekarang. Tahun 18741893, dilaksanakan
pembuatan jalan kereta api Bandung-Cianjur sekaligus pembuatan Stasiun
Cimahi. Tahun 1886 dibangun pusat pendidikan militer beserta fasilitas
lainnya seperti Rumah Sakit Dustira dan rumah tahanan militer. Pada

tahun 1935, Cimahi ditetapkan sebagai kecamatan. Setelah kemerdekaan


Indonesia, Cimahi menjadi bagian dari Kabupaten Bandung Utara. Pada
tahun 1962, dibentuk Kawedanaan Cimahi yang meliputi Kecamatan
Cimahi, Padalarang, Batujajar, dan Cipatat. Berdasarkan PP Nomor 29
Tahun 1975, Cimahi ditingkatkan statusnya menjadi kota administratif
pada tanggal 29 Januari 1976, dan menjadi kota administratif pertama di
Jawa Barat. Mulai 21 Juni 2001 status Cimahi menjadi kota. Kini Cimahi
menjadi salah satu kawasan pertumbuhan Kota Bandung di sebelah barat.
Jumlah penduduknya saat ini adalah sekitar 483.000 jiwa, meningkat dari
290.000 pada tahun 1990 dengan pertumbuhan rata-rata 2,12% per
tahun.
http://kota-cimahi.blogspot.com/p/about.html