Anda di halaman 1dari 22

BAB II

LANDASAN TEORI

2.1

Pengertian Sistem Informasi


Dalam kehidupan sehari-hari, banyak sekali orang yang salah mengartikan

istilah teknologi informasi (IT) dan sistem informasi (SI). Istilah teknologi informasi
lebih dikhususkan pada suatu teknologi, yang mencakup perangkat keras, perangkat
lunak, dan jaringan komunikasi. Dan lebih tepatnya IT digunakan untuk melakukan
proses otomatisasi dari SI.
Walaupun banyak sekali perbedaan dalam mendefinisikan sistem informasi,
namun ada beberapa lembaga dan penulis yang mempublikasikan karyanya dan
dijadikan sebagai acuan definisi dari sistem informasi. Menurut UK Academy of
Information Systems (UKAIS), sistem informasi didefinisikan sebagai suatu
kumpulan dimana manusia (people) dan organisasi, menggunakan teknologi,
mengumpulkan,

memproses,

menyimpan,

menggunakan,

dan

menyebarkan

informasi. Sedangkan menurut Davenport (1998), sistem informasi adalah sebagai


sekumpulan dari subsistem yang terdefinisi berdasarkan fungsional atau organisasi,
yang membantu pengambilan keputusan dan mengontrol organisasi dengan
menggunakan teknologi informasi untuk menangkap, menyebarkan, menyimpan,

menerima, memanipulasi atau mempertunjukkan informasi yang dipakai dalam satu


atau lebih proses bisnis.

2.2

Klasifikasi Sistem Informasi dalam Bisnis dan

Organisasi
Saat ini aplikasi dari sebuah sistem informasi yang diimplementasikan dalam
dunia bisnis dapat diklasifikasikan menjadi beberapa tipe berdasarkan fungsionalitas
dalam bisnis. Yaitu :
1. Operations Support System
Aplikasi sistem informasi (SI) tipe ini berfungsi untuk menghasilkan berbagai
jenis informasi baik untuk kebutuhan internal maupun external perusahaan.
Walaupun tipe dan jenis informasi yang dihasilkan tidak menspesifikasikan
secara khusus apa yang dibutuhkan oleh pihak pengambil keputusan (level
managerial).
Secara konseptual, fungsi dari aplikasi SI ini dibagi menjadi empat bagian utama,
yaitu :
a. Untuk mengefisienkan proses transaksi bisnis (Transactional Processing
System),
b. Untuk mengontrol proses industri (Process Control System),
c. Untuk mendukung proses komunikasi dalam perusahaan (Enterprise
Collaboration System),
d. Untuk melakukan update pada database perusahaan.

2. Management Support System


Aplikasi SI ini berfungsi untuk menyediakan informasi dan mendukung untuk
pengambilan keputusan.
Secara konseptual fungsi aplikasi SI dengan tipe ini dibagi menjadi tiga bagian,
yaitu :
a. Untuk menyediakan informasi dalam tampilan laporan dan tampilan
lainnya yang berguna untuk mendukung proses pengambilan keputusan
bisnis (Management Information System).
b. Untuk menyediakan dukungan interaksi secara ad-hoc dan untuk
melakukan analisa terhadap suatu event tertentu dengan berdasarkan pada
data-data historis perusahaan, sehingga membantu proses pengambilan
keputusan bisnis (Decision Support System).
c. Berfungsi untuk menyediakan informasi kritikal yang dihasilkan dari
banyak sumber untuk kebutuhan informasi yang dibutuhkan oleh topmanagement level (Executive Information System).
3. Klasifikasi lainnya
Ada beberapa kategori lain dari aplikasi SI yang dapat digunakan untuk
mendukung baik untuk level operasional maupun level management. Walaupun
belum ada kesepakatan yang ada mengenai pembagian kategori ini, tapi ada
empat kategori aplikasi yang memenuhi kriteria seperti ini. Antara lain :
a. Expert System, dimana aplikasi dengan tipe ini adalah sebuah aplikasi
yang bersifat menghasilkan sebuah saran baik untuk kebutuhan

operasional bisnis maupun untuk kebutuhan pengambilan keputusaan


dalam bisnis.
b. Knowledge Management System, merupakan aplikasi SI yang berbasiskan
kepada

ilmu

pengetahuan.

Tujuannya

adalah

untuk

mendukung

penciptaan, pendistribusian, dan pengorganisasian ilmu pengetahuan


dalam bisnis (business knowledge) kepada seluruh karyawan dan manager
di seluruh perusahaan.
c. Functional Business System, adalah aplikasi SI yang memfokuskan untuk
mendukung kegiatan dasar bisnis. Seperti proses kegiatan akuntansi dan
marketing.
d. Strategic Information System, adalah aplikasi yang menggabungkan
beberapa

kategori

mengembangkan

aplikasi

dan

SI

membantu

lainnya

yang

perusahaan

bertujuan

untuk

untuk

mendapatkan

keuntungan strategik terhadap kompetitornya.

2.3

Proses Pembangunan Sistem Informasi


Tujuan dari suatu sistem informasi dibangun adalah untuk menyelesaikan

suatu permasalahan bisnis yang terdapat pada perusahaan dengan menggunakan suatu
pendekatan suatu sistem. Dengan menggunakan pendekatan suatu sistem untuk
menyelesaikan suatu masalah, maka sistem juga dipergunakan untuk mendefinisikan
masalah dan peluang yang ada, dan lalu dikembangkan menjadi suatu solusi yang
tepat dan layak untuk dikerjakan.

10

Dalam melakukan suatu analisa masalah yang terjadi dan merumuskannya


menjadi suatu solusi. Dibutuhkan beberapa rangkaian aktifitas yang saling berkaitan
dibawah ini :
1. Menemukan dan mendefinisikan suatu masalah dan kesempatan menggunakan
cara berfikir seperti sebuah sistem.
2. Membangun dan mengevaluasi solusi alternatif.
3. Memilih solusi dari sistem yang sesuai dengan kebutuhan.
4. Melakukan Desain dari solusi sistem yang dipilih.
5. Implementasi dan mengevaluasi kesuksesan dari sistem yang telah didisain.
Kompleksnya sistem informasi kadang membuat banyak pengembang merasa
kesulitan dalam menentukan langkah proses pengerjaan. Maka diperlukan suatu
metode untuk melakukan pembangunan suatu sistem informasi.
Pada saat ini ada banyak sekali metodologi yang digunakan dalam
mengembangkan suatu aplikasi sistem informasi. Adapun tujuan utama dari
metodologi ini adalah untuk mempermudah dan memberikan kerangka kerja yang
terstandarisasi dalam proses pembangunan suatu sistem. Dua pendekatan yang paling
sering digunakan pada saat ini adalah pendekatan berdasarkan Object Oriented
Analysis and Design, dan System Development Life Cycle (SDLC).

11

2.3.1 System Development Life Cycle (SDLC)


Metode pendekatan ini merupakan suatu metode yang dirancang sebagai
proses yang berlangkah banyak (multistep) dan berulang (iteratif). Dan metode ini
merupakan metode paling umum yang digunakan dalam industri perangkat lunak saat
ini.

Gambar 2-1 System Development Life Cycle

Gambar diatas merupakan ilustrasi dari rangkaian proses yang terdapat dalam
metode ini. Yaitu :
1. System Investigation Stage, pada tahap ini pihak pengembang akan
melakukan suatu kegiatan yang dinamakan user requirement atau

12

pengumpulan kebutuhan pengguna sistem informasi. Selain itu pihak


pengembang juga melakukan suatu studi kelayakan apakah sistem
yang akan dibangun harus dibangun dari awal atau dikembangkan dari
sistem yang sudah ada. Dan yang terakhir adalah membuat suatu
rencana proyek dan mendapatkan persetujuan dari pihak manajemen.
2. System Analysis Stage, tahap kedua dari proses ini yaitu pihak
pengembang akan melakukan analisa dari hasil user requirement
menjadi suatu rancangan fungsional bisnis dan membangun model
logika dari sistem.
3. System Design Stage, tahap selanjutnya pihak pengembang akan
melakukan suatu rancangan disain sistem dan spesifikasi mengenai
kebutuhan perangkat keras, perangkat lunak, sumber daya manusia,
jaringan, kebutuhan data, dan produk informasi yang akan dihasilkan
dari sistem.
4. System Implementation Stage, tahap ini merupakan tahap krusial pada
setiap pembanguna suatu sistem informasi. Dimana sistem informasi
dibangun

dengan

menggunakan

kebutuhan

yang

sudah

dispesifikasikan di tahap sebelumnya. Ditahap ini pula pengguna akan


dilatih untuk menggunakan dan mengoperasikan sistem, dan pada
tahap ini pula pihak manajemen harus me-manage efek perubahan
yang timbul dari penerapan sistem informasi.
5. System Maintenance Stage, tahap terakhir dari metode ini merupakan
tahap dimana sistem di-review dan dimonitor performanya. Setelah

13

sistem selesai dibangun (develop), maka untuk memastikan bahwa


sistem bisa terus terpakai diperlukan sejumlah kegiatan untuk menjaga
performa dari sistem tersebut.

2.4

Implementasi Sistem Informasi


Implementasi merupakan tahap terpenting dalam pengembangan sistem

informasi. Proses ini bisa dilihat sebagai suatu perubahan proses yang berusaha untuk
menjalankan apa yang sudah direncanakan sebelumnya untuk diterapkan kedalam
bisnis/strategi TI dan aplikasi yang sedang dikembangkan dalam proses perencanaan.
Implementasi suatu sistem informasi menuntut kejelian dan ketepatan dari
pihak manajemen untuk menentukan strateginya. Oleh karena itu kesuksesan suatu
sistem informasi sangat sulit dicapai jika pihak manajemen tidak mampu
merumuskan strategi yang tepat dalam perusahaan.
Banyak contoh kegagalan implementasi sistem informasi pada tinjauan
literatur yang ada. Menurut (Ward, 1996) yang mencoba menjelaskan mengapa sering
terjadi kegagalan pada proyek sistem informasi dan bagaimana menjamin kesuksesan
suatu proyek.
Sampai sekarang belum ada suatu kesepakatan tentang bagaimana mengukur
kesuksesan suatu proyek sistem infromasi. Faktor-faktor yang menyebabkan
kesuksesan suatu proyek implementasi sangat bervariasi, tergantung dari sudut

14

pandang stakeholders, karakteristik proyek yang berbeda-beda dan beberapa sudut


pandang lain.
Markus dan Tanis (2000) menulis bahwa kesuksesan tersebut tergantung pada
beberapa hal, tergantung siapa yang mendefinisikannya. Dari sudut pandang manajer
proyek dan konsultan implementasi sistem informasi tersebut, mereka sering sekali
mendefinisikan implementasi tersebut sukses jika telah menyelesaikan proyek
tersebut tepat waktu dan sesuai dengan biaya yang sudah dianggarkan. Tapi dari
sudut pandang organisasi penggunan sistem informasi, kesuksesan bisa didefinisikan
sebagai kegunaan sistem tersebut untuk bisa mencapai hasil yang maksimal bagi
bisnis mereka, dan biasanya mereka mengharapkan transisi yang baik dari sistem
lama ke sistem baru, mendapatka peningkatan dari bisnis mereka seperti pengurangan
biaya operasional, inventori, atau dapat memperbaiki keakuratan dalam pengambilan
keputusan.
Pada

waktu

suatu

sistem

informasi

selesai

dibangun,

dan

akan

diimplementasikan ke suatu organisasi, maka akan mempengaruhi proses yang telah


ada dalam organisasi tersebut. Disinilah biasanya pandangan antara stakeholder
dengan pihak lain seperti konsultan dan developer sistem tidak pernah bertemu.

2.5

Strategi Implementasi Sistem Informasi


Memilih suatu strategi implementasi sistem informasi merupakan suatu

tantangan tersendiri untuk pihak manajemen. Tapi terdapat dua dimensi pilihan yang

15

dapat dijadikan pedoman dalam menentukan strategi implementasi yang cocok untuk
diterapkan pada sebuah organisasi atau perusahaan. Dimensi tersebut adalah :
1. Dilihat berdasarkan ruang lingkup pelaksanaan proyek secara geografis. Yaitu
dengan strategi pilot project dan full blown. Pilot project adalah strategi
melakukan implementasi sistem informasi dengan cara memilih sebuah lokasi
atau area dimana fungsi-fungsi sistem informasi yang ingin diimplementasikan
secara lengkap terdapat pada daerah atau area tersebut. Sedangkan full blown
adalah kebalikannya, dimana pada strategi ini sistem informasi secara serempak
di implementasikan diseluruh wilayah operasi perusahaan yang bersangkutan.
2. Dilihat berdasarkan sudut pandang perubahan atau peralihan (migrasi) dari sistem
informasi yang lama ke yang baru. Yaitu dengan pendekatan cut-off dan pararel.
Pendekatan cut-off merupakan cara yang populer digunakan oleh perusahaanperusahaan di Amerika Serikat. Dalam pendekatan ini, perusahaan menetukan
satu tanggal dalam kalender, dan terhitung mulai dari tanggal tersebut sistem baru
secara serempak diterapkan didalam perusahaan. Dan pendekatan kedua adalah
dengan pararel, yang mempunyai sifat berlawanan dari pendekatan cut-off.
Dimana sistem informasi yang baru secara bersamaan diperkenalkan dan
diterapkan dengan sistem informasi yang lama.
Dari dua dimensi diatas, manajemen perusahaan dapat menentukan strategi
mana yang cocok untuk diterapkan. Karena setiap perusahaan unik, maka
pendekatan-pendekatan tersebut tidak ada yang bernilai pasti pada prakteknya. Setiap
pendekatan tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangan untuk setiap aspek yang

16

dimiliki masing-masing strategi, seperti faktor finansial, resiko, waktu, dan sumber
daya manusia.

2.6

Critical Success Factor Dalam Implementasi Sistem

Informasi
Banyaknya kegagalan implementasi sistem informasi bertaraf enterprise
mendorong banyak peneliti melakukan suatu pemikiran tentang bagaimana
seharusnya atau ukuran dalam menentukan kesuksesan suatu implementasi sistem.
Berangkat dari gagasan ini, maka diperlukan suatu critical success factor dalam suatu
implementasi sistem informasi (Sommers et al., 2000).
Critical success factor adalah beberapa faktor yang ditentukan dan harus
dicapai oleh perusahaan untuk menentukan dan meyakinkan bahwa apa yang
dikerjakan atau yang ditargetkan oleh perusahaan sudah tercapai. Pendekatan Critical
success factor dalam pembangunan suatu aplikasi sistem informasi adalah untuk
membantu mengidentifikasikan informasi apa saja yang dibutuhkan oleh level
manajerial di perusahaan.
Penelitian untuk menemukan suatu critical success factor pada implementasi
suatu sistem masih banyak dilakukan. Dan sampai saat ini masih belum ditemukan
suatu kesepakatan mengenai faktor-faktor apa saja yang menjadi kritis keberadaannya
dalam implementasi suatu sistem informasi.

17

Menurut (Nah Fui-Hoon, 2001), terdapat 11 faktor yang bisa dijadikan


sebagai critical success factor dalam menerapkan sistem informasi dengan taraf
enterprise. Yang antara lain :
1. Dukungan dari top-management
Salah satu komponen terpenting sistem informasi adalah manusia itu sendiri.
Sehingga dalam menentukan apakah sistem informasi itu sukses atau tidak,
terdapat faktor manusia yang menjalankan sistem tersebut. Peran top-management
disini adalah untuk membantu sistem informasi yang dikembangkan agar bisa
dipakai dengan baik, dengan membuat suatu aturan-aturan tertentu yang membuat
semua pihak di perusahaan merasa membutuhkan sistem tersebut.
2. Visi dan Misi Bisnis.
Dalam membangun suatu sistem informasi yang baik harus didasari pada
pernyataan visi dan misi dari perusahaan itu. Karena model bisnis suatu
perusahaan akan menentukan bagaimana bentuk strategi IT dan pengembangan
sistem informasi. Menurut (Robert and Barrar, 1992) tujuan dari pengembangan
sistem informasi harus sejajar dengan tujuan pengembangan sistem informasi, dan
berangkat dari pemikiran tersebut tahapan implementasi suatu proyek sistem
informasi harus.
3. Komunikasi yang efektif
Menurut (Falkowski et al., 1998) komunikasi yang efektif mutlak dibuthkan
dalam proses implementasi suatu sistem informasi. Karena luasnya cakupan suatu
sistem informasi, maka sudah pasti akan terjadi perbedaan ekspektasi pengguna
pada divisi yang berbeda. Dan terkadang masukan dari pengguna seperti

18

komentar, saran, dan kritik bisa menjadi faktor terpenting dalam proses
implementasi suatu sistem.
4. Manajemen proyek yang baik
Banyak proyek pengembangan suatu sistem informasi gagal memenuhi target
dikarenakan lemahnya manajemen proyek yang diterapkan. Proyek yang melebihi
anggaran dana dan jadwal, merupakana salah satu indikasi kegagalan suatu
implementasi sistem informasi. Suatu manajemen proyek yang baik harus bisa
mendefinisikan bagaimana cakupan proyek dan bagaimana perubahan-perubahan
bisa dilakukan tanpa harus merubah banyak dari anggaran yang sudah ditetapkan
dan waktu yang tersedia.
5. Manajemen Perubahan (Change Management)
Adanya suatu sistem informasi yang terintegrasi sudah pasti akan membawa
perubahan bagi organisasi atau perusahaan. Terkadang sebuah organisasi terlalu
enggan untuk meninggalkan comfort zone, kondisi dimana sebelum adanya suatu
sistem informasi yang baru. Sehingga pengguna merasa tidak memerlukan sistem
informasi yang telah dikembangkan. Proses manajemen perubahan juga tidak
lepas dari perlunya dukungan top-management untuk menetapkan suatu aturan
atau kebijakan mengenai sistem informasi ini.
6. Penerimaan penggguna (User acceptance)
Suatu proses agar pengguna mau menggunakan sistem baru, merupakan salah
satu faktor krusial dalam proses implementasi. Karena sistem informasi tidak
akan pernah berhasil berjalan dengan baik, jika pengguna tidak mau

19

menggunakan sistem informasi tersebut. Tingkat penerimaan pengguna terkadang


bisa dianggap sebagai tingkat kesuksesan suatu sistem informasi.
7. Proses perubahan proses bisnis (Business Process Engineering)
Business Process Engineering (BPR) adalah salah satu syarat bagi perusahaan
untuk menyesuaikan bisnis mereka dengan sistem informasi yang sedang
dikembangkan. Mahalnya biaya investasi yang dikeluarkan untuk membangun
suatu sistem informasi menyebabkan suatu sistem informasi harus meminimalkan
biaya yang dikeluarkan untuk melakukan kustomisasi dari sistem informasi, jadi
salah satu cara untuk menyisiati hal tersebut adalah dengan menyesuaikan proses
bisnis dengan proses dari sistem informasi.
8. Proses pengembangan piranti lunak
Adanya kesalahan dalam fase pengembangan suatu sistem informasi dapat
menyebabkan masalah yang serius dalam kesuksesan suatu sistem informasi.
Karena dalam fase-fase tersebut akan sangat menentukan dalam membangun
suatu infrastruktur sebuah sistem informasi. Kesalahan pada proses pengumpulan
kebutuhan pengguna (user requirement) akan sangat berpengaruh pada tingkat
penerimaan pengguna dan manajemen proyek, karena harus menambah waktu
dan biaya untuk melakukan perubahan terhadapa sistem.
9. Evaluasi performa sistem informasi
Langkah terkahir dalam suatu implementasi adalah dengan melakukan proses
perawatan sistem. Karena kualitas suatu sistem informasi juga akan sangat
menentukan pada tingkat kegunaan suatu sistem. Tingkat kestabilan suatu sistem

20

terkadang dinilai juga sebagai tingkat kualitas manajemen proyek dan


keberhasilan suatu sistem mencapai tujuannya.
10. Teknik implementasi
Teknik implementasi mencakup bagaimana sistem yang baru diterapkan dalam
perusahaan untuk menggantikan yang lama. Bagaimana kebijakan perusahaan
menyisiati perubahan merupakan salah satu tantangan tersendiri dalam proses
implementasi suatu sistem. Sehingga jika pihak manajemen salah menerapkan
teknik implementasi, maka kemungkinan suatu sistem berhasil diimplementasikan
menjadi sangat kecil bahkan berujung pada kegagalan.
11. Kemampuan teknik dan kompetensi dari tim pengembang
Kompleksnya suatu sistem informasi menuntut tim pengembang untuk
mempunyai tingkat teknis dan kompetensi yang tinggi agar target dari proyek
pengembangan sistem informasi bisa tercapai. Hal ini berkaitan dengan
manajemen proyek dari pengembangan sistem informasi dan kualitas dari sistem
informasi yang dihasilkan. Kemampuan yang harus dimiliki oleh sebuah tim
pengembang tidak hanya harus baik dari segi teknis, tapi juga harus tinggi pada
soft-skill dan pengetahuan bisnis.

2.7

Model Kesuksesan Sistem Informasi


Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor

yang mempengaruhi kesuksesan sistem informasi. Tujuannya adalah mendapatkan


suatu model secara umum untuk mengukur faktor-faktor yang telah distandarkan.

21

Menurut DeLone dan McLean (2003) sudah banyak peneliti yang melakukan
penelitian mengenai model kesuksesan sistem informasi. Penelitian pertama yang
pernah ada, dilakukan Shannon dan Weaver [ada tahun 1949. Hasil dari penelitian ini
adalah adanya pengelompokkan proses informasi kedalam tiga

tingkatan. Yaitu

tingkatan teknikal, tingkatan semantik dan tingkatan efektifitas. Lalu penelitian kedua
dilakukan oleh Mason pada tahun 1978 dengan memperkenalkan model
keefektifitasan dari pengaruh informasi terhadap penerima informasi (end-user).
Berawal dari dua penelitian tersebut, dimulailah suatu penelitian intensif untuk
pengembangan model kesuksesan sebuah sistem informasi.
Salah satu model kesuksesan yang paling dikenal dan teruji validitasnya
adalah model kesuksesan yang diajukan oleh DeLone dan McLean (1992). Model ini
dengan cepat mendapat tanggapan dari peneliti lainnya. Salah satu alasannya adalah
model yang dikembangkan terbilang cukup sederhana dang dianggap cukup valid
untuk semua jenis sistem informasi.

2.7.1 Model Kesuksesan Sistem Informasi DeLone dan


McLean
Model yang diusulkan oleh DeLone dan McLean (1992) adalah sebuah model
yang sangat sederhana dan lengkap. Pengembangan model ini didasarkan pada proses
hubungan kausal dari elemen-elemen yang terdapat dalam model ini. Jadi pengukuran

22

masing-masing elemen tidak dihitung secara independen, tetapi secara keseluruhan


satu mempengaruhi yang lainnya.

Gambar 2-2 Model Kesuksesan Sistem Informasi DeLone dan McLean (1992)

Dari gambar diatas, maka dapat dijelaskan secara singkat bahwa kualitas
sistem (System Quality) dan kualitas informasi (Information Quality) secara
independen dan bersama-sama mempengaruhi baik elemen penggunaan (Use) dan
kepuasan pemakai (User Satisfaction). Besarnya elemen penggunaan (Use) dapat
mempengaruhi besarnya nilai kepuasan pemakai (User Satisfaction) secara positif
dan negatif. Dan penggunaan (Use) dan kepuasan pemakai (User Satisfaction)
mempengaruhi

dampak

individual

(Individual

Impact)

dan

selanjutnya

mempengaruhi dampak organisasional (Organizational Impact).


Model yang diusulkan ini merefleksikan ketergantungan dari enam
pengukuran kesuksesan sistem informasi. Keenam elemen atau faktor pengukuran ini
adalah :

23

1. Kualitas Sistem
Faktor ini digunakan untuk mengukur kualitas sistem teknologi informasinya
sendiri. Beberapa peneliti telah mengembangkan beberapa pengukuran untuk
mendapatkan nilai dari kualitas sistem. Beberapa variabel penelitian yang pernah
diteliti untuk mendapatkan nilai dari kualitas sistem adalah sebagai berikut :
a. Keandalan dari sistem komputer
b. Waktu respon
c. Kemudahan penggunaan
d. Isi dari data yang disimpan
e. Akurasi sistem
f. Kelengkapan sistem, termasuk dengan fitur-fitur
g. Fleksibilitas sistem
2. Kualitas Informasi
Faktor ini mengukur kualitas keluaran dari sistem informasi. Konsep dari kualitas
informasi merupakan pengembangan dari penelitian yang dilakukan oleh Laicker
dan Lessig pad atahun 1980 dengan mengembangkan enam item pokok. Namun
pada hasil riset DeLone dan McLean, didapat hasil sebagai berikut :
a. Tingkat Akurasi informasi yang dihasilkan
b. Tingkat ketepatan informasi yang dihasilkan
c. Tingkat ketepatwaktuan dari informasi yang dihasilkan
d. Tingkat kelengkapan dari informasi yang dihasilkan
e. Bentuk dari informasi yang dihasilkan
f. Relevansi dari informasi yang dihasilkan

24

3. Penggunaan Informasi
Penggunaan keluaran dari sistem informasi yang dihasilkan oleh pengguna, bisa
dilihat dari berbagai sudut pandang. Yaitu penggunaan nyata (actual use) dan
penggunaan yang dilaporkan (reported use). Adapun variabel yang ditulis oleh
DeLone dan McLean adalah sebagai berikut :
a. Frekuensi dari penggunaan dan permintaan laporan-laporan yang spesifik,
b. Luasnya cakupan dari informasi yang dihasilkan,
c. Regularitas dari penggunaan informasi,
d. Jumlah laporan yang dihasilkan.
4. Kepuasan pemakai
Kepuasan pemakai adalah respon langsung terhadap hasil keluaran dari sistem
informasi. Beberapa peneliti sebelumnya, seperti EinDor dan Segev (1978) serta
Hamilton dan Chervany (1981) mengusulkan bahwa kepuasan pemakai adalah
satu-satunya faktor penentu keberhasilan suatu sistem informasi. Selain itu pada
beberapa penelitian lain disebutkan bahwa kepuasan pemakai berhubungan sangat
erat dengan perilaku (attitude) dari pengguna, oleh karena itu variabel yang
dituliskan oleh DeLone dan McLean adalah sebagai berikut :
a. Kepuasan menyeluruh terhadap sistem, baik mulai dari kecepatan
sistem, perangkat lunak, perangkat keras, jaringan, disain antar muka,
dan hasil keluaran dari sistem informasi,
b. Perilaku pengguna terhadap sistem informasi yang ada,
c. Kepuasan dari sisi top-management,
d. Kepuasan dari sisi manajemen personal.

25

5. Dampak Individual
Dampak individual merupakan efek yang ditimbulkan dari adanya suatu sistem
informasi. Efek yang ditimbulkan tentu saja peningkatan kinerja dari pengguna.
Dan Variabelnya adalah sebagai berikut :
a. Keyakinan pemakai terhadap hasil keluaran dari sistem informasi,
b. Waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan suatu tugas atau
pengambilan keputusan,
c. Waktu yang dibutuhkan dalam mendapatkan keputusan serta alternatif
dari keputusan tersebut.
6. Dampak Organisasi
Elemen ini merupakan elemen terkahir dalam model ini, dimana elemen ini
menjelaskan bagaimana informasi yang dihasilkan oleh sistem berpengaruh pada
peningkatan kinerja organisasi. Variabel dari elemen ini bisa dilihat dari dua
sudut pandang, yaitu dari sudut pandang keuangan dan non-keuangan.
a. Variabel yang berasal dari sudut pandang keuangan, antara lain:
1. Tingkat Profitabilitas sebelum dan sesudah memakai sistem informasi,
2. Rasio pengembalian investasi (Return on Investment),
b. Sedangkan variabel yang berasal dari sudut pandang non-keuangan.
Adalah sebagai berikut :
1

Meningkatnya produktivitas organisasi,

Kualitas Produk yang dihasilkan,

Kualitas dari inovasi yang ada

26

Semakin berkembangnya penelitian dibidang implementasi sistem informasi,


menyebabkan banyaknya kritik dan saran untuk model yang dikembangkan oleh
DeLone dan McLean di tahun 1992. Maka untuk menjawab dan merespon dari
banyaknya kritik dan saran yang diajukan untuk model ini, pada tahun 2003 model ini
mengalami perubahan. Beberapa elemen yang ditambah ataupun yang dirubah adalah
sebagai berikut :
1

Memasukkan variabel kualitas pelayanan (service quality) sebagai tambahan dari


dimensi-dimensi kualitas yang sudah ada. Yaitu kualitas sistem dan kualitas
informasi.

Merubah dan menggabungkan variabel-variabel dampak individual dan


organisasional menjadi net benefits. Tujuannya adalah untuk menjaga model tetap
sederhana.

Menambah dimensi minat pemakai sebagai alternatif dari dimensi pemakaian


(use).

Pemakaian dan kepuasan pengguna sangat erat berhubungan. Pemakaian harus


mendahului kepuasan pemakai sebagai suatu proses, tetapi pengalam yang positif
karena menggunakan sistem akan mengakibatkan keupasan pemakai yang lebih
tinggi sebagai bentuk hubungan kausal. Secara sama, peningkatan kepuasan
pemakai akan mengakibatkan peningkatan minat menggunakan sistem dan
kemudian akan menggunakan.

Jika net benefits bernilai positif akan menguatkan minat pemakai untuk memakai
sistem, dan menguatkan kepuasan pengguna. Bentuk hubungan seperti ini masih
valid walaupun nilai dari net benefits tersebut menjadi negatif.

27

Dari analisis diatas, maka model yang diperbaharui pada tahun 2003 akan
terlihat seperti gambar dibawah ini :

Kualitas Informasi
(information
Quality)
Intensi
Pemakaian
(Intention to
use)

Pemakaian
(use)

Kualitas Sistem
(System Qualtiy)

Net Benefits

Kepuasan Pemakai
(user satisfaction)

Kualitas
Pelayanan
(service qualty)

Gambar 2 -3 Model DeLone dan McLean yang Diperbaharui (2003)