Anda di halaman 1dari 21

TUGAS ARTIKEL

BETON PRATEGANG

ARIZONA MAHAKAM
3MRK2/1341320095

POLITEKNIK NEGERI MALANG


2016

PENGERTIAN BETON PRATEGANG


Pengertian beton prategang menurut beberapa peraturan adalah sebagai berikut:
a. Menurut PBI 1971
Beton prategang adalah beton bertulang dimana telah ditimbulkan
tegangan-tegangan intern dengan nilai dan pembagian yang sedemikian rupa
hingga tegangan-tegangan akibat beton - beton dapat dinetralkan sampai suatu
taraf yang diinginkan.
b. Menurut Draft Konsensus Pedoman Beton 1998
Beton prategang adalah beton bertulang yang dimana telah diberikan
tegangan dalam untuk mengurangi tegangan tarik potensial dalam beton akibat
pemberian beban yang bekerja.
c. Menurut ACI
Beton prategang adalah beton yang mengalami tegangan internal dengan
besar dan distribusi sedemikian rupa sehingga dapat mengimbangi sampai batas
tertentu tegangan yang terjadi akibat beban eksternal.

SISTEM PEMBERIAN GAYA PRATEGANG


Secara umum, sistem pemberian gaya prategang pada beton ada 2 metoda, yaitu :
1. Pratarik (pra-tension), dimana tendon ditarik sebelum beton dicor
2. Pasca tarik (post-tension), dimana tendon ditarik setelah beton dicor
1. Metoda Pratarik (Pra-tension)
Pelaksanaan pemberian prategang dengan cara pratarik (pre-tension) didefinisikan
dengan memberikan prategang pada beton dimana tendon ditarik untuk ditegangkan
sebelum dilakukan pengecoran adukan beton ke dalam bekisting yang telah disiapkan.
Pelaksanaan cara pratarik ini, umumnya dilakukan pada suatu tempat khusus di
lapangan pencetakan (casting yard). Adapun langkah-langkah pelaksanaannya adalah
sebagai berikut :
1. Pertama-tama tendon dipasang memanjang di antara dua jangkar di tempat
pengecoran mengikuti pola tertentu sesuai dengan perhitungan seperti yang terlihat
pada Gambar III.1.a. Tendon tersebut kemudian ditarik hingga mencapai nilai
tegangan tarik (fsi) tidak lebih besar dari 85% kuat tarik ultimitnya (fpu) dan tidak lebih
dari 94% kuat lelehnya (fpy). Kemudian, tendon dalam keadaan tertarik tersebut di
angkur kuat-kuat pada kedua ujungnya sedemikian rupa sehingga gaya tarik tetap
tertahan pada tendon tersebut.
2. Apabila bekisting belum dipasang di tempatnya, segera dipasang mengitari beton
sesuai dengan bentuk komponen yang direncanakan. Kemudian, dilakukan
pengecoran adukan beton ke dalam bekisting berisi tendon dalam keadaan tertarik
dan dilanjutkan dengan pekerjaan perawatan pengerasan beton.
Dalam pelaksanaannya harus disertai upaya pengendalian keamanan dan kualitas
pekerjaan

mengingat

resiko

bahaya

kecelakaan

yang

dihadapi,

termasuk

pelaksanaan perawatan pengerasan beton yang harus dijaga sebaik mungkin,


sedemikian rupa sehingga didapat hasil akhir berupa beton mutu tinggi yang melekat
dengan baik pada tendon yang sudah ditegangkan (ditarik). Lihat Gambar III.1.b
3. Apabila beton telah mencapai kekerasan dan kekuatan

f c'

tertentu, yang

memerlukan waktu 24 jam, tendon dipotong di tempat penjangkarannya. Karena


tendon terekat kuat dengan beton, maka seketika setelah dipotong atau dilepas

pada angkurnya akan terjadi pelimpahan gaya prategang tinggi (To) kepada beton,
seperti tampak pada Gambar III.1.c.
Gaya prategang mengakibatkan beton cenderung memendek apabila letak tendon
sentris terhadap penampang, atau melengkung akibat desakan apabila letak tendon
tidak sentris. Tegangan-tegangan yang timbul sesaat setelah tendon dipotong dari
angkurnya disebut sebagai tegangan pada saat transfer (pelimpahan tegangan).
Dengan diputusnya tendon dan berlangsung pelimpahan tegangan, beban mati
(berat sendiri) diperhitungkan bekerja serentak bersamaan dengan gaya prategang.
Keadaan tersebut diilustrasikan pada Gambar III.1.d yang merupakan keadaan
tegangan paling kritis yang timbul sesaat setelah berlangsung pelimpahan, tetapi
sebelum terjadi kehilangan gaya prategang.
Untuk keadaan bersifat sementara ini, SNI-03 memberikan batasan tegangan tarik di
bagian atas balok tidak melampui

1
4

f ci' (sekitar 40% kuat tarik) dan tegangan

'
tekan di bagian tepi bawah tidak melebihi 0.6 f ci . Apabila tegangan tarik terhitung

melampui nilai tersebut, harus dipasang tulangan tambahan (nonprategang atau


prategang) di daerah tarik untuk memikul gaya tarik total dalam beton yang dihitung
berdasarkan asumsi penampang utuh.
4. Setelah cukup kuat dan sesuai persyaratan, komponen prategang dapat dilepas dan
diangkat dari cetakannya untuk dipindahkan ke lapangan penyimpanan sehingga
tempat pencetakan dapat dipakai untuk proses prategang berikutnya.

a. Tendon ditarik di antara dua angkur

b. Bekisting dipasang dan adukan beton dicor di dalamnya

c. Tendon dipotong dan gaya tekan dilimpahkan kepada beton

d. Kombinasi beban mati dan prategang

e. Kombinasi beban mati, beban hidup, setelah kehilangan gaya prategang


Gambar III.1. Komponen Struktur Pratarik
Setelah proses hilangnya gaya prategang berlangsung (Gambar III.1.e), pada tahap
pelayanan beban kerja tersusun suatu kombinasi beban mati, beban hidup dan gaya
prategang. SNI-03 memberikan batasan tegangan tarik pada bagian tepi bawah balok
tidak boleh melebihi

1
2

f c' , sedangkan tegangan tekan pada bagian tepi atas tidak

'
melebihi 0.45 f c . Nilai tegangan tarik ijin tersebut diambil hanya sedikit di bawah nilai

modulus runtuh beton normal, yaitu f r 0.7

f c' , karena kemungkinan bahaya retak

atau tekuk secara tiba-tiba di daerah tersebut hanya kecil karena umumnya posisi
tendon berada di dekat serat bawah.
2. Metoda Pasca Tarik (Post-Tension)
Pelaksanaan pemberian prategang dengan cara pasca tarik (post-tension) didefinisikan
sebagai cara memberikan prategang pada beton, dimana tendon baru ditarik setelah
betonnya dicetak terlebih dahulu dan mempunyai cukup kekerasan untuk menahan
tegangan sesuai dengan yang dinginkan. Adapun langkah-langkah pelaksanaannya
adalah sebagai berikut :
1. Bekisting beton dipasang di tempat yang sesuai dengan rencana letak komponen
struktur dengan sekaligus dipasangi pipa selongsong lentur yang dibuat dari plastik
atau metal, yang akan menyelubungi tendon. Pipa selongsong tendon diletakkan di
dalam bekisting dengan posisinya diatur dan ditahan untuk membentuk pola tertentu
sesuai dengan momen perlawanan yang direncanakan.
2. Kemudian adukan beton dicor ke dalam bekisting dengan menjaga agar pipa
selongsong tendon tetap kokoh pada posisinya dan tidak kemasukan adukan,
kemudian dilakukan perawatan pengerasan beton secukupnya sampai mencapai
kekuatan tertentu.
3. Selanjutnya, tendon dimasukkan ke dalam pipa selongsong yang sudah disiapkan
ke dalam beton. Pada cara lain, ada juga yang menempatkan pipa selongsong
lengkap dengan tendon di dalam bekisting sebelum dilakukan pengecoran adukan
beton.
4. Tendon ditarik dengan menggunakan jacking di satu ujung dan angkur mati atau
plat penahan pada ujung lainnya. Kadang-kadang angkur mati atau plat penahan
sudah disiapkan dipasang tertanam pada ujung komponen.
Fungsi angkur digabungkan dengan cara-cara yang mencengkram tendon agar tidak
terjadi slip (penggelinciran) dalam rangka upaya agar beban atau tegangan tarikan
tetap bertahan pada tendon.
Pada saat penarikan tendon, sudah terjadi kehilangan gaya prategang berupa :
perpendekan elastis, kehilangan tegangan akibat gesekan dan sebagian momen
beban mati sudah bekerja sebagai dampak dari posisi lengkung tendon. Dengan

demikian, gaya jacking harus sudah memperhitungkan hal-hal yang menyangkut


kehilangan tegangan tersebut. Pembatasan tegangan-tegangan ijin pada tahaptahap pelimpahan dan pelayanan diambil sama dengan yang diberikan untuk cara
pra tarik
5. Apabila digunakan tendon bonded, terutama pada lingkungan korosif, ruang kosong
di dalam pipa selongsong yang mengelilingi tendon, harus diisi penuh pasta semen
dengan cara disuntikkan (grouting) setelah tendon ditarik atau sebelum beban hidup
bekerja. Apabila demikian halnya, maka tegangan akibat beban hidup dihitung
berdasarkan penampang transformasi seperti yang dilakukan pada cara pra tarik.
Tetapi ada juga tendon yang tetap dibiarkan unbonded tanpa penyuntikan pasta
semen, tegantung pada kebutuhan untuk perlindungan tendon dan perhitungan
ekonomi. Untuk keadaan demikian, gaya prategang hanya diperhitungkan bekerja
terhadap penampang betonnya saja (bukan penampang transformasi) paling tidak
sampai tercapainya keadaan seperti pada Gambar III.1.d.
6. Umunya angkur ujung setelah dikunci (dimatikan) perlu ditutupi atau dilindungi
dengan lapis pelindung.

No
1
2

Metoda Pratarik
Tendon prategang ditarik sebelum beton pengecoran beton
Transfer prategang terjadi melalui kontak antara tendon yang diputus
dan beton disekelilingnya setelah beton mengeras (jadi tidak
memerlukan angkur)

Metoda Pasca tarik


Tendon prategang ditarik setelah beton mengeras
Transfer prategang terjadi melalui kontak antara angkur dan beton
penumpunya (jadi memerlukan angkur)

Layout tendon terbatas berbentuk linear

Jenis tendon yang umum digunakan adalah strand atau kawat tunggal
Dan umumnya dilakukan pada produksi beton pracetak prategang

Layout tendon dapat dibuat fleksibel (menyesuaikan dengan bentuk


bidang momen), umumnya berbentuk parabola
Memerlukan selongsong (ducting) tendon

5.

3. Penyuntikan Tendon Pasca Tarik (Grouting)


Untuk memberikan proteksi permanen pada baja pasca tarik dan untuk
mengembangkan lekatan antara baja prategang dan beton di sekitarnya, saluran
prategang harus diisi bahan suntikan semen yang sesuai dalam proses
penyuntikan di bawah tekanan.
3.1. Material Penyuntikan
a. Semen Portland
Semen portland harus sesuai dengan salah satu dari spesifikasi ASTM C150,
Tipe I, II atau III. Semen yang digunakan untuk menyuntik harus segar dan
tidak mengandung gumpalan apapun atau indikasi hidrasi atau pack set
b. Air
Air yang digunakan di dalam suntikan harus air layak minum, bersih dan tidak
mengandung zat yang membahayakan semen portland atau baja struktur.
c. Bahan Tambahan
Apabila menggunakan bahan tambahan, harus bersifat mengandung kadar
air rendah, mempunyai aliran yang baik, hanya sedikit bleeding dan ekspansi
serta tidak mengandung bahan kimiawi yang membahayakan baja prategang
atau semen, seperti klorida, flourida, sulfat dan nitrat.
3.2. Selongsong
a. Cetakan (Ducts)
1.

Formed Ducts
Selongsong yang dibuat dengan mengunakan lapisan tipis yang tetap di
tempat. Harus berupa bahan yang tidak memungkinkan tembusnya pasta
semen. Selongsong tersebut harus mentransfer tegangan lekatan yang
dibutuhkan dan harus dapat mempertahankan bentuknya pada saat
memikul berat beton. Selongsong logam harus berupa besi, yang dapat
saja digalvanisasi

2.

Cored Ducts
Selongsong seperti ini harus dibentuk tanpa adanya tekanan yang dapat
mencegah aliran suntikan. Semua material pembentuk saluran jenis ini
disingkirkan.

b. Celah atau Bukaan Suntikan


Semua selongsong harus mempunyai bukaan untuk suntikan di kedua ujung.
Untuk kabel drapped, semua titik yang tinggi harus mempunyai celah
suntikan kecuali di lokasi dengan kelengkungan kecil, seperti pada slab
menerus. Celah suntikan atau lubang buangan harus digunakan di titik-titik
rendah jika tendon akan diletakkan, diberi tegangan dan disuntik pada cuaca
beku. Semua celah atau bukaan suntikan harus dapat mencegah bocornya
suntikan
c. Ukuran Selongsong
Untuk tendon yang terdiri dari kawat, batang atau strands, luas selongsong
harus sedikitnya dua kali luas netto baja prategang. Untuk tendon yang terdiri
atas satu kawat, batang atau strands, diameter selongsongnya harus
sedikitnya lebih besar dari pada diameter nominal kawat, batang atau
strands.
d. Peletakan Selongsong
Sesudah selongsong diletakkan dan pencetakan selesai, harus dilakukan
pemeriksaan untuk menyelidiki kerusakan selongsong yang mungkin ada.
Selongsong harus dikecangkan dengan baik pada jarak-jarak yang cukup
dekat, untuk mencegah peralihan selama pengecoran beton. Semua lubang
atau bukaan di selongsong harus diperbaiki sebelum pengecoran beton.
Celah atau bukaan untuk penyuntikan harus diangkur dengan baik pada
selubung dan pada baja tulangan atau cetakan, untuk mencegah peralihan
selama operasi pengecoran beton.
3.3. Proses Penyuntikan
a. Selongsong dengan dinding beton (cored ducts) harus disemprot untuk
menjamin bahwa beton dapat dibasahi dengan baik.
b. Semua celah titik tinggi dan suntikan harus terbuka pada saat penyuntikan
dimulai. Suntikan harus dapat mengalir dari celah pertama setelah pipa
masukan sampai air pembersih residual atau udara yang terperangkap telah
dikeluarkan, pada saat mana celah tersebut harus ditutup. Celah-celah
lainnya harus ditutup secara berurutan dengan cara yang sama. Proses
pemompaan pada masukan tendon tidak boleh melebihi 250 psig (1700 kPa).
c. Bahan suntikan harus dipompa melalui selongsong dan secara terus
menerus ke luar di pipa buangan sampai tidak terlihat lagi ada air atau udara

yang keluar. Waktu keluar suntikan tidak boleh kurang dari waktu pemberian
bahan suntikan. Untuk menjamin bahwa tendon tetap terisi dengan bahan
suntikan, maka keluaran dan atau masukan harus ditutup. Tutup yang
dibutuhkan tidak boleh lepas atau dibuka samapi bahan suntikan mengering.
d. Apabila aliran searah dari bahan suntikan tidak dapat dipertahankan, maka
suntikan harus segera dikuras dari saluran dengan air
e. Pada temperatur di bawah 0o C, saluran harus dijaga bebas air untuk
menghindari kerusakan akibat pembekuan
f.

Temperatur tidak boleh 1.67o C atau lebih tinggi dari temperatur pada saat
penyuntikan sampai kubus suntikan yang berukuran 5.08 cm (2) mencapai
kuat tekan sebesar 5.5 MPa

g. Bahan suntikan tidak boleh melebihi 32.2oC selama pencampuran atau


pemompaan. Jika perlu, pencampuran air harus didinginkan.
4. Tegangan Izin Maksimum Beton dan Tendon
4.1. Tegangan izin beton untuk komponen struktur lentur
1. Tegangan beton sesaat sesudah penyaluran gaya prategang (sebelum
terjadinya kehilangan tegangan sebagai fungsi waktu) tidak boleh melampui
nilai berikut :
a. Tegangan serat terluar

0.6 f ci'
b. Tegangan serat tarik terluar kecuali seperti yang diizinkan
dalam

(c)
1

f ci'

c. Tegangan serat tarik terluar pada ujung-ujung komponen


struktur

di

atas

perletakan

sederhana

f ci'

Bila tegangan tarik terhitung melampui nilai tersebut di atas, maka harus
dipasang tulangan tambahan (non prategang) dalam daerah tarik untuk
memikul gaya tarik total aksial dalam beton, yang dihitung berdasarkan
asumsi suatu penampang utuh yang belum retak

2. Tegangan beton pada kondisi layan (sesudah memperhitungkan semua


kehilangan prategang yang mungkin terjadi) tidak boleh melampui nilai
berikut :
a. Tegangan serat tekan terluar akibat pengaruh prategang,
beban

mati

dan

beban

hidup

tetap

0.45 f c'
b. Tegangan serat tekan terluar akibat pengaruh prategang,
beban

mati

dan

beban

hidup

total

0.6 f c'
c. Tegangan serat tarik terluar dalam daerah tarik yang pada
awalnya
1

mengalami
2

tekan

f c'

d. Tegangan serat tarik terluar dalam daerah tarik yang pada


awalnya mengalami tekan dari komponen-komponen
struktur (kecuali pada sistem pelat dua arah), dimana
analisis

yang

transformasi

didasarkan

dan

hubungan

pada

penampang

momen-lendutan

retak
bilinier

menunjukkan bahwa lendutan seketika dan lendutan


jangka

panjang
1

terpenuhi

f c'

3. Tegangan izin dalam 1 dan 2 boleh dilampui apabila dapat ditunjukkan


dengan pengujian atau analisis bahwa kemampuan strukturnya tidak
berkurang dan lebar retak yang terjadi tidak melebihi nilai yang disyaratkan.
4.2. Tegangan izin tendon prategang
Tegangan tarik pada tendon prategang tidak boleh melampui nilai berikut :
1. Akibat pengangkuran tendon 0.94 f py
Tetapi tidak lebih besar dari nilai terkecil 0.8 f pu dan nilai maksimum yang
direkomendasikan oleh pabrik pembuat tendon prategang atau perangkat
angkur
2. Sesaat setelah penyaluran gaya prategang 0.82 f py
Tetapi tidak lebih besar dari 0.74 f pu

3. Tendon pasca tarik, pada daerah angkur dan sambungan, segera setelah
penyaluran gaya 0.70 f pu

5. Gambar-gambar

Gambar 2. Jenis Tendon Prategang

Gambar 3. Contoh Angkur Hidup untuk Multistrand (VSL)

Gambar 4. Contoh Angkur Tengah (VSL)

Gambar 5. Contoh Angkur Mati (VSL)

Gambar 6. Contoh Angkur Mati (VSL)

Gambar 7. Contoh Angkur Kopel (VSL)

Gambar 8. Prosedur Jacking

Gambar 9. Selongsong (Duct) Tendon

Gambar 10. Jacking Tendon Prategang

Gambar 11. Tendon yang telah di jacking

Gambar 12. Detail Balok Prategang

Gambar 13. Detail Penulangan

6. Istilah-istilah
Angkur
Suatu alat yang digunakan untuk menjangkarkan tendon kepada komponen
struktur beton dalam sistem pasca tarik atau suatu alat yang digunakan untuk
menjangkarkan tendon selama proses pengerasan beton dalam sistem pra tarik
Beton prategang
Beton bertulang yang telah diberikan tegangan tekan dalam untuk mengurangi
tegangan tarik potensial dalam beton akibat beban kerja
Gaya Jacking
Gaya sementara yang ditimbulkan oleh alat yang mengakibatkan terjadinya tarik
pada tendon dalam beton prategang
Pasca Tarik
Cara pemberian tarikan, dalam sistem prategang dimna tendon ditarik sesudah
beton mengeras
Perangkat angkur
Perangkat

yang

digunakan

pada

sistem

prategang

pasca

tarik

untuk

menyalurkan gaya pasca tarik dari tendon ke beton


Perangkat angkur strand tunggal
Perangkat yang digunakan untuk strand tunggal atau batang tunggal berdiameter
16 mm dan memenuhi persyaratan yang telah ditentukan

Perangkat angkur strand majemuk


Perangkat yang digunakan untuk

strand, batang atau kawat majemuk, atau

batang tunggal berdiameter lebih besar daripada 16 mm dan memenuhi


persyaratan yang telah ditentukan.
Pratarik
Pemberian gaya prategang dengan menarik tendon sebelum ditarik

Prategang efektif
Tegangan yang masih bekerja pada tendon setelah semua kehilangan tegangan
terjadi, di luar pengaruh beban mati dan beban tambahan.
Tendon
Elemen baja, misalnya kawat baja, kabel batang, kawat untai atau suatu bundel
dari elemen-elemen tersebut yang digunakan untuk memberi gaya prategang
pada beton
Tendon dengan lekatan
Tendon yang direkatkan pada beton baik secara langsung ataupun dengan cara
grouting.
Tulangan
Batang baja berbentuk polos atau berbentuk ulir atau berbentuk pipa yang
berfungsi untuk menahan gaya tarik pada komponen struktur beton, tidak
termasuk tendon prategang kecuali bila secara khusus diikutsertakan
Tulangan polos
Batang baja yang permukaan sisi luarnya rata, tidak bersirip dan tidak berukir
Tulangan ulir
Batang baja yang permukaan sisi luarnya tidak rata, tetapi bersirip atau berukir
Tulangan spiral
Tulangan yang dililitkan secara menerus membentuk suatu ulir lingkar silindris

Zona Angkur
Bagian komponen struktur prategang pasca tarik dimana gaya parategang
terpusat disalurkan ke beton dan disebarkan secara lebih merata ke seluruh
bagian penampang. Panjang daerah zona angkur ini adalah sama dengan
dimensi tersebar penampang. Untuk perangkat angkur tengah, zona angkur
mencakup daerah terganggu di depan dan di belakang perangkat angkur
tersebut.