Anda di halaman 1dari 10

M.

Keuangan Usaha Kecil

Nama

: Hamdan Wahyulhadi

Nim

: C1B013111

Metode Penilaian Investasi

Setelah informasi yang relevan terkumpul, barulah dapat dilakukaan evaluasi terhadap
layak tidaknya suatu usulan investasi. Dalam keputusan investasi hanya ada dua alternatif,
menolak atau menerima usulan investasi. Ada beberapa metode yang dapat digunakan untuk
mengevaluasi keputusan investasi, yaitu sebagai berikut :
A. Metode Payback Periode
Metode ini mengukur seberapa cepat suatu investasi bisa kembali yang satuan
hasilnya adalah waktu (tahun atau bulan). Jika periode payback suatu usulan investasi lebih
pendek dari yang disyaratkan, maka usulan investasi dinyatakan diterima, bila sebaliknya
maka investasi ditolak. Periode payback dapat dihitung dengan menjumlahkan aliran kas
tahunan hingga mencapai jumlah sama dengan nilai investasi awal. Biasanya untuk
menentukan periode payback maksimum digunakan periode payback dari investasi sejenis.
B. Metode Net Present Value (NVP)
Metode ini menghitung selisih nilai sekarang (present value) investasi dengan nilai
sekarang kas masuk bersih (proceeds). Untuk menghitung presen value tersebut perlu
ditentukan terlebih dahulu tingkat bunga yang relevan. Net present value yang positif
menunjukan bahwa PV proceeds lebih besar dari PV investasi (initial cash flow) yang berarti
investasi yang diharapkan akan meningkatkan kekayaan pemilik. Ketika NVP positif maka
usulan investasi akan diterima, dan jika NVP negatif usulan investasi akan ditolak.
Perhitungan NVP menggunakan rumus sebagai berikut :

Atau

Dimana :
A = Kas Masuk Bersih

r = suku bunga

n = umur investasi

Io = Investasi awal

t = waktu (tahun) 1 sampai n

C. Metode Profitability Index (PI)


Profitability

Index menunjukan perbandingan antara PV proceeds dengan PV

investasi. Kriteria yang digunakan yaitu terima investasi yang diharapkan memberikan PI > 1,
dimana rumusnya yaitu sebagai berikut :

D. Internal Rate Return (IRR)


IRR menunjukan tingkat bunga yang menyamakan PV proceeds dan PV investasi.
Decision rule metode ini adalah terima investasi yang diharpkan memberikan IRR > tingkat
bunga yang dipandang layak. Rumusnya :

Dimana :
r1 = suku bunga yang menghasilkan PV positif

PV1 = PV pada suku bunga r1

r2 = suku bunga yang menghasilkan PV negatif

PV2 = PV pada suku bunga r2

NPV1 = Net present value pada bunga r1

Contoh :
Suatu perusahaan transportasi akan membuka divisi baru, yaitu divisi taksi. Divisi ini
akan dimulai dengan 50 buah taksi, dan karena akan dipergunakan untuk usaha taksi,
mobil-mobil tersebut dapat dibeli dengan harga Rp 30 juta per unit. Ditaksir usia
ekonomis selama 4 tahun dengan nilai sisa sebesar Rp 4 juta per unit. Untuk
mempermudah analisis dipergunakan metode penyusutan garis lurus.
Taksi tersebut akan dioperasikan selama 300 hari dalam setahun, setiap hari pengemudi
dekenakan setoran Rp 50.000. Berbagai biaya tunai (seperti penggantian ban, kopling, rem,
penggantian oli, biaya perpanjangan STNK, dan sebagiannya) ditaksir sebesar Rp 3 juta per
unit taksi. Perusahaan dikenakan pajak 35%. Tingkat keuntungan yang diisyaratkan 16%.
Berdasarkan informasi tersebut apakah pembukaan divisi taksi ini layak?

Jawab :
Penghasilan : 300 x 50 x Rp 50.000

Rp 750,00 juta

Biaya-biaya :
Tunai (50 x Rp 3 juta)
Penyusutan (50 x Rp 6,5 juta)

Rp 150,00 juta
Rp 325,00 juta

Total
Laba operasi
Pajak (35%)
` Laba setelah pajak

(Rp 475,00 juta)


Rp 275,00 juta
(Rp 92,25 juta)
Rp 178,75 juta

Operational cash flow per tahun = Rp 178,75 juta + Rp 325 juta = Rp 503,75 juta.
Pada tahun ke 4 alairan kas masuk karena nilai sisa sebesar 50 x Rp 4 juta = Rp 200 juta.
Dengan demikian aliran kas dari investasi tersebut diperkirakan sebagai berikut :
Tahun
0
1
2
3
4

Kas Keluar
Rp 1.500 juta
-

Kas Masuk
Rp 503,75 juta
Rp 503,75 juta
Rp 503,75 juta
Rp 503,75 juta
Rp 200,00 juta

Payback Period :
Investasi awal
Proceed awal
Sisa investasi tahun ke-2
Proceed tahun ke-2
Sisa investasi tahun ke-3

Rp 1.500,00 juta
(Rp 503,75 juta)
Rp 996,25 juta
(Rp 503,75 juta)
Rp 492,50 juta

Karena pada tahun ke 3 kas masuk bersih Rp 503,75 juta, maka sisa sebesar Rp 492,50 juta
diharapkan akan kembali dalam waktu : (492,50/503,750 x 12 bulan = 11,73 bulan). Dengan
demikian periode payback investasi ini adalah 2 tahun 11,73 bulan.
Net Present Value (NPV) :

= 503,75 (2,798) + 200 (0,552) 1500


= 1.519,89 1.500 = 19,89
Jadi NVP positif Rp 19,89 juta, maka investasi ini menguntungkan untuk dilaksanakan.

Profitability Index

karena PI > 1 investasi dapat diterima.


Internal Rate of Return
Pada tingkat bunga 16%, PV penerimaan positif sebesar Rp 1.519,89, PV penerimaan pada
tingkat bunga 17 % :

= 503,75 (2,743) + 200 (0,534)


= 1.381,79 + 106,80 = 1488,59.

= 16 + 0,51
=16,51
Karena IRR > dari tingkat keuntungan yang disyaratkan (16%) maka investasi diterima.

Perbandingan Metode-metode Penilaian Profitabilitas Investasi


Keputusan investasi menyangkut penilaian atas suatu usulan investasi atau pemilihan satu
atau beberapa dari alternatif-alternatif usulan yang tersedia. Metode payback memiliki
kelemahan yaitu diabaikannya nilai waktu uang (time value of money), diabaikannya aliran
kas bersih (proceeds) setelah periode payback. Di samping itu tidak ada dasar konsepsi untuk
menentukan payback maksimum yang diperkenankan sebagai pembanding unutk
memutuskan apakah suatu usulan investasi diterima atau ditolak.
Dengan berbagai kelemahan metode payback, sekarang tinggal 3 pilihan yaitu NVP,
PI, dan IRR. Ketiganya memiliki kesamaan yaitu diperhatikannya time value of money dan
menggunakan dasar aliran kas. Pertanyaannya sekarang adalah mana dari ketiga metode
tersebut memberikan arah keputusan yang konsisten baik dalam penilaian suatu usulan
investasi maupun pemilihan dari beberapa alternatif usulan yang ada.

A. Perbandingan NVP dengan PI


Bila menilai suatu usulan investasi menggunakan metode NVP dan PI hasilnya akan
selalu konsisten. Artinya jika NPV menyimpulkan suatu usulan investasi diterima
(menguntungkan), maka PI juga menyimpulkan diterima, demikian sebaliknya. Jika PV,
penerimaan-penerimaan kas bersih di masa mendatang (PV proceeds) lebih besar dari PV
investasi maka NVP positif, berarti investasi diterima. Dengan demikian, berarti
perbandingan PV proceeds dengan PV investasi akan lebih besar dari 1. PI lebih besar dari 1
berarti investasi diterima. Jadi bila menilai suatu usulan, NPV dan PI memberikan keputusan
yang sama.
Tetapi bila dihadapkan pada pemilihan salah satu atau beberapa usulan investasi dari
berbagai alternatif, hasilnya tidak konsisten. Misalkan ada 2 usulan yaitu proyek A dan
proyek B dengan karakteristik sebagai berikut :
Usulan
A
B

Nilai Investasi
Rp 800 juta
Rp 300 juta

PI
1,08
1,15

NPV
Rp 64 juta
Rp 45 juta

Kalau menggunakan metode Pi maka usulan B yang akan dipilih karena PI-nya lebih
besar dari usulan A. Tetapi kalau menggunakan metode NVP maka akan menguntungkan
memilih usulan A karena NVP-nya lebih besar dari usulan B. Sebagai asumsi anda memiliki
dana Rp 800 juta dan hanya ada dua kesempatan investasi tersebut. Berarti anda akan
diuntungkan bila memilih usulan A, karena kekayaan riil anda akan bertambah Rp 65 juta.
Bila memilih usulan B, kekayaan riil anda hanya akan meningkat Rp 45 juta karena sisa dana
Rp 500 juta tidak dapat dimanfaatkan.
Dengan demikian, penggunaan metode NPV memberikan hasil keputusan yang lebih
baik daripada metode PI, karena dengan menggunakan metode NVP yang dilihat adalah nilai
absolut, bukan perbandingan (relatif) seperti dalam metode PI.
B. Perbandingan NVP dengan IRR
Kalau metode NVP dan IRR digunakan untuk menilai suatu usulan investasi yang
sama, maka hasilnya umumnya akan sama, dalam arti bila NVP menyatakan usulan diterima
maka IRR juga menyatakan diterima, demikian juga sebaliknya. Terkecuali, bila suatu usulan
memilik pola aliran kas yang tidak normal, kedua metode tersebut bisa menghasilkan
keputusan yang tidak sama. Misalkan suatu usulan investasi mempunyai pola aliran kas
sebagai berikut :
Tahun
0
1
2

Aliran Kas
- Rp 1,6 juta
+ Rp 10 juta
- Rp 10 juta

Pola aliran kas semacam ini dikatakan tidak normal karena operational cash flow
ternyat tidak selalu positif.

Bila dihitung IRR dari suatu usulan tersebut akan menjadi sebagai berikut :

Bila kedua sisi persamaan tersebut dikalikan dengan (1 + r)2, maka hasilnya sebagai
berikut :
1,6 (1 +r)2 = 10 (1 + r) 10
1,6r2 6,8r + 1,6 = 0
Dengan menggunakan rumus abc, maka nilai-nilai r (IRR) diperoleh :
r1 = 4 atau 400%

r2 = 0,25 atau 25%

Dengan timbulnya dua IRR, timbul masalah tingkat bunga mana yang seharusnya
digunakan. Jika, misalkan tingkat bunga yang disyaratkan adalah 30%, maka dengan
menggunakan r1 = 400%, dapat disimpulkan investasi ini diterima. Jika digunakan r 2 = 25%,
maka investasi ini ditolak. Persoalan seperti ini tidak akan dijumpai jika menggunakan
metode NVP. Kalau tingkat bunga 30%, NVP usulan investasi tersebut adalah :

= -1,6 + 10(0,769) 10(0,592) = Rp 0,170 juta


Karena NVP positif maka usulan investasi diterima. Bila dihadapkan pada pemilihan
usulan investasi, metode NPV dan IRR bisa memberikan keputusan yang tidak konsisten.
Misalkan ada dua usulan investasi, yaitu usulan A dan Usulan B dengan nilai investasi
masing-masing Rp 1.100 juta. Aliran kas masuk bersih (proceeds) kedua usulan tersebut
adalah sebagai berikut :
Tahun
1
2
3

Aliran Kas Bersih (dalam jutaan )


Usulan A
Usulan B
Rp 1.300
Rp 300
100
300
100
1.300

Bila keuntungan yang disyaratkan adalah 18 %, maka NVP usulan tersebut adalah sebagai
berikut
:

= Rp 134,43

= Rp 160,89
Dengan melihat NPV maka lebih menguntungkan memilih usulan B karena NVP B lebih besar
daripada NVPA. Kalau dihitung IRR kedua usulan tersebut diperoleh :
IRRA = 30,35%

IRRB = 25,09%

Bila melihat IRR maka usulan A yang dipilih karena IRR-nya lebih besar. Dengan
demikian, timbul pertanyaan, usulan mana yang akan dipilih?. untuk mengatasi persoalan ini
maka digunakan analisis incremental (selisih), yaitu dengan menghitung IRR dari selisih
aliran kas kedua usulan tersebut.
Aliran Kas bersih (jutaan rupiah)
Usulan
A

-1.100

1.300

100

100

-1.100

300

300

1.300

B minus A

-1.000

+200

+1.200

IRR
42%
30%
IRR Incremental =
20,16%

Dengan melihat perhitungan selisih tersebut, maka bila memilih usulan B akan
diperoleh kas masuk lebih kecl Rp 1.000 juta pada tahun ke-1, tetapi menerima lebih besar Rp
200 juta pada tahun ke-2 dan Rp 1.200 juta pada tahun ke-3. Tingkat bunga yang
menyamakan aliran kas incremental adalah 20,16%. Berarti IRR incremental adalah 20,16%
yang mana lebih besar dari tingkat keuntungan yang disyaratkan yaitu 18%. Dengan demikian
maka lebih menguntungkan memilih usulan B karena IRR incremental lebih besar dari
tingkat keuntungan yang disyaratkan. Keputusan ini konsisten dengan metode NPV yang
menganjurkan memilih usulan B.
Dengan kata lain, metode NVP selalu memberikan keputusan yang tepat sepanjang
dapat ditentukan tingkat keuntungan yang disyaratkan atau tingkat bunga yang relevan
dengan tepat pula. Sehingga dalam pengambilan keputusan investasi sebaiknya menggunakan
metode NPV.
Ilustrasi Terjadinya Penghitungan Ganda
Cara menaksir aliran kas bersih atau proceeds ada dua cara yaitu sebagai berikut :
1. Bila investasi seluruhnya didanai dengan modal sendiri kas masuk bersih (proceeds)
= Laba setelah pajak + Penyusutan
2. Bila investasi sebagian didanai dengan hutang, kas masuk bersih (proceeds) = Laba
setelah pajak + Penyusutan + Bunga (1 tingkat bunga).
Penghitungan ganda dapat terjadi kalau suatu investasi didanai denganmodal pinjaman
sementara cara menaksir aliran kas bersih hanya dihitung dengan formula : laba setelah pajak
ditambah penyusutan. Hal tersebut dapat dijelaskan dengan ilustrasi sebagai berikut :

Contoh 1 :
Investasi berumur 1 tahun tanpa dikenakan pajak
Misalkan suatu usulan investasi (proyek) bernilai Rp 10 juta dan didanai seluruhnya
dengan modal pinjaman. Bunga yang harus ditanggung 20% dan perusahaan tidak
dibebani pajak. Karena proyek berusia 1 tahun maka penyusutannya adalah Rp 10 juta.
Taksiran laba/rugi proyek ini yaitu sebagai berikut :
Penghasilan
Biaya-biaya :
Tunai
Penyusutan
Total biaya
Laba sebelum bunga dan pajak
Bunga
Laba sebelum pajak
Pajak
Laba setelah pajak

Rp 20 juta
Rp 7 juta
Rp 10 juta
(Rp 17 juta)
Rp 3 juta
(Rp 2 juta)
Rp 1 juta
Rp 0
Rp 1 juta

Bila menggunakan metode NVP untuk menilai profitabilitas proyek maka harus
ditentukan terlebih dahulu tingkat bunga yang relevan dan aliran kas bersih proyek. Karena
proyek ini dibelanjai dengan hutang maka tingkat bunga yang relevan adalah biaya modal
pinjama. Karena tingkat bunga hutang 20%, perusahaan tidak kena pajak, maka biaya modal
setelah pajak adalah : 20% (1-0) = 20%.
Kalau proceed dihitung dengan cara laba setelah pajak ditambah penyusutan, maka Proceed =
Rp 1 juta + Rp 10 juta = Rp 11 juta. Dengan demikian NVP proyek ini :

Karena NVP negatif maka proyek ini ditolak.


Persoalannya, apakah benar kita harus menolak usulan investasi ini. Dari data yang
ada sangat jelas bahwa satu tahun yang akan datang kekayaan riil ini akan bertambah Rp 1
juta yaitu laba setelah pajak. Dilain pihak dapat diamati bahwa dalam satu tahun itu
perusahaan akan dapa melunasi pinjaman (yang diambil dari penyusutan) dan juga dapat
membayar bunga Rp 2 juta, bahkan masih ada lebih Rp 1 juta (laba bersih setelah pajak).
Penyebab dari persoalan ini tidak lain, karenatelah terjadi penghitungan ganda dalam menilai
proyek, yaitu mengurangkan bunga dalam maenaksir aliran kas dan menggunakana tingkat
bunga tersebut untuk menghitung present value aliran kas. Cara yang seharusnya digunakan
dalam menaksir aliran kas adalah menggunakan formula kedua, yaitu laba setelah pajak
ditambah penyusutan dan bunga (1 tingkat bunga). Dengan demikian :
Aliran kas bersih = Rp 1 juta + Rp 10 juta + Rp 2(1-0) = Rp 13 juta.

Karena NVP positif maka usulan investasi diterima. Nilai 0,833 tidak lain adalah present
value dari Rp 1 juta yang merupakan tambahan kekayaan (yaitu laba bersih setelah pajak)
satu tahun yang akan datang dengan tingkat bunga 20%.

Contoh 2 :
Proyek berusia lebih dari 1 tahun dan ada pajak
Misalkan suatu investasi benilai Rp 10 juta, dengan umur ekonomis 2 tahun tanpa ada nilai
sisa, didanai dengan hutang seluruhnya, dikenakan bunga 20%. Karena usia ekonomis 2
tahun maka dengan metode penyusutan garis lurus, penyusutan tiap tahun Rp 5 juta.
Taksiran penghasilan dan biaya per tahun adalah sebagai berikut :
Penghasilan
Biaya-biaya :
Tunai
Penyusutan
Total biaya
Laba sebelum bunga dan pajak
Bunga
Laba sebelum pajak
Pajak (20%)
Laba setelah pajak

Rp 20 juta
Rp 12 juta
Rp 5 juta
(Rp 17 juta)
Rp 3 juta
(Rp 2 juta)
Rp 1 juta
Rp 0,2 juta
Rp 0,8 juta

Karena perusahaan menggunakan hutang dan kena pajak, maka tingkat bunga yang
relevan untuk investasi ini adalah tingkat bunga setelah pajak, yaitu: 20% (1-0,20) = 16%.
Bila Proceeds per tahun dihitung dengan formula :
laba setelah pajak + penyusutan, maka
Proceeds = Rp 0,8 juta + Rp 5 juta = Rp 5,8 juta

Karena NVP negatif berarti usulan investasi ditolak. Apakah benar harus menolak investasi
yang dapat menambah kekayaan riil Rp 0,8 juta per tahun dalam waktu dua tahun yang akan
datang. Bila tidak digabungkannya keputusan pendanaan dan keputusan investasi, maka
perhitungan aliran kas adalah laba setelah pajak + penyusutan + bunga (1- tingkat pajak).
Dengan demikian :
Aliran kas bersih
= Rp 0,8 juta + Rp 5 juta + Rp 2 juta (1 - 0,20)
= Rp 7,4 juta

NVP-nya menjadi :

Ternyata NVP positif yang berarti usulan investasi seharusnya diterima. Untuk
meyakinkan apakan cara menaksir aliran kas tersebut sudah benar, kita tinggal mengecek
kembali apakah benar kekayaan riil perusahaan bertambah Rp 1,879 juta selama dua tahun
itu. Untuk itu perlu ditinjau kembali berapa tambahan kekayaan riil yang akan diterima dalam
dua tahun.
Pada tahun ke-1 kekayaan riil akan bertambah Rp 0,8 juta. Pada tahun ke-2 pinjaman
sudah bisa diangsur Rp 5 juta yang diambilkan dari dana penyusutan tahun ke-1, sehingga
bunga yang ditanggung Rp 1 juta. Dengan demikian maka laba setelah pajak menjadi :
Laba sebelum bunga dan pajak
Bunga (20% x Rp 5 juta)
Laba sebelum pajak
Pajak (20%)
Laba setelah pajak

Rp 3,0 juta
(Rp 1,0 juta)
Rp 2,0 juta
(Rp 0,4 juta)
Rp 1,6 juta

Present Value dari tambahan kekayaan selam dua tahun, yaitu :

Present value tersebut sama dengan NPV yang dihitung diatas. Jadi, demikian cara yang bisa
dilakukan untuk membuktikan bahwa cara menaksir aliran kas yang digunakan sudah benar.