Anda di halaman 1dari 19

ANALISA FUNGSI PEDESTRIAN TERHADAP

KENYAMANAN PEJALAN KAKI DI PALEMBANG


PROPOSAL PENELITIAN
Proposal penelitian ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir mata kuliah Tata
Tulis Ilmiah yang diampu oleh Tresiana Sari Diah Utami, M. Pd.

OLEH :
DELSY OKTARINA
(1311025)

POGRAM STUDI TEKNIK ARSITEKTUR


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS KATOLIK MUSI CHARITAS
2015
1

PERNYATAAN KEASLIAN PENELITIAN

Saya menyatakan bahwa sesungguhnya penelitian dengan judul:


ANALISA FUNGSI PEDESTRIAN TERHADAP KENYAMANAN
PEJALAN KAKI DI PALEMBANG
Yang saya kerjakan untuk melengkapi sebagian syarat untuk lulus dalam mata
kuliah Penulisan Ilmiah pada Program Studi Teknik Arsitektur Fakultas Teknik
Unika Musi Charitas Palembang, adalah bukan hasil tiruan atau duplikasi dari
karya pihak lain di Perguruan Tinggi atau instansi manapun, kecuali bagian dari
sumber informasinya sudah dicantumkan sebagaimana mestinya.

Jika dikemudian hari didapati bahwa hasil skripsi ini adalah hasil plagiasi atau
tiruan dari pihak lain, maka saya bersedia dikenai sanksi yakni pencabutan gelar
saya.

Palembang,

Desember 2015

Delsy Oktarina
1311025

KATA PENGANTAR

Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena kasih
dan anugerah-Nya saya dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul Analisa
Fungsi Pedestrian Terhadap Kenyamanan Pejalan Kaki di Kota Palembang .
Penelitian ini disusun dalam rangka memenuhi syarat untuk lulus dalam mata
kuliah Penulisan Ilmiah pada Program Studi Teknik Arsitektur Fakultas Teknik
Unika Musi Charitas Palembang. Dengan selesainya penelitian ini, saya ingin
menyampaikan ucapan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu
selama proses penelitian dan penulisan karya ilmiah ini. Ucapan terima kasih
disampaikan dengan hormat kepada:
1. Dekan Fakultas Teknik Universitas Musi Charitas,
2. Dosen Pembimbing Penulisan Ilmiah, Petra Surya Mega Wijaya, SE., MSi
3. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu-persatu, yang telah
mendukung, membimbing, memotivasi dan mendoakan penulis dalam
menyelesaikan penelitian.
Saya mengharapkan agar penulisan ini dapat memberikan manfaat bagi
pihak-pihak terkait dan dapat digunakan semestinya.
Palembang, 27 Desember 2015
Penulis

Delsy Oktarina

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................................................


DAFTAR PUSTAKA .................................................................................................

LAMPIRAN

......................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam penataan kota yang ada di era sekarang, berbagai negara tentu
mempunyai peraturan penataan kota untuk membuat kota tersebut lebih baik. Hal
tersebut tentunya berlaku juga untuk perkotaan di wilayah Palembang. Dalam
menata kota, terdapat banyak elemen-elemen penting yang berperan terhadap
penataan itu sendiri, seperti penataan ruang publik, ruang semi publik, ruang
privat, dan lainnya. Penataan kota sama pentingnya dengan penataan ruang
publik.
Ruang publik sendiri adalah ruang yang berada di luar ruangan yang
digunakan oleh masyarakat sekitar untuk melakukan rutinitas atau aktifitas seharihari. Dalam melakukan aktifitas tersebut tentunya masyarakat memerlukan aspek
pendukung untuk dapat berlalu lalang mencapai tempat tujuan. Ruang publik itu
juga digunakan untuk penduduk berkendaraan bisa dibuat ruang publik khusus
kendaraan yaitu jalan raya dan adapula untuk penduduk yang melakukan aktifitas
tanpa kendaraan (berjalan kaki) maka dibuatlah ruang publik khusus pejalan kaki
yaitu pedestiran.
Pedestrian merupakan salah satu fasilitas ruang luar yang digunakan
sebagai penunjang atau fasilitas yang digunakan penduduk untuk kegiatan seharihari. Contohnya diantara lain adalah taman kota, trotoar, dan lainnya. Dalam
wilayah kota Palembang, nama lain dari pedestrian adalah trotoar.
Fungsi pedestrian sendiri adalah dapat menumbuhkan aktivitas yang sehat,
sehingga mengurangi kerawanan, sebagai sarana lalu lalang bagi pejalan kaki,
merupakan daerah yang menarik untuk berbagai kegiatan sosial, seperti
bernostalgia, pertemuan mendadak, berekreasi, bertegur sapa, dan sebagainya,

sebagai penurun tingkat pencemaran udara dan polusi suara, karena berkurangnya
kendaraan yang lewat dan vegetasi yangt umbuh dengan baik. Untuk melengkapi
fungsinya, pedestrian dirancang tidak dengan asal-asalan melainkan dirancang
sesuai dengan kenyamanan pengguna pejalan kaki tersebut. Untuk itu, hal ini
dirancang sesuai dengan peraturan dan kaidah tertentu untuk mencapai pedestrian
yang ideal.
(http://webcache.googleusercontent.com/search?
q=cache:http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/42292/4/Chapter
%2520II.pdf, diunduh pada 13 Desember pukul 19.00 WIB) Menyatakan bahwa
pedestrian yang ideal adalah pedestrian yang memiliki elemen-elemen lengkap
penunjang fungsi tersendiri yaitu tersedianya paving (meliputi betin, batu bata,
aspal, dan lainnya) yang terletak di trotoar, tersedianya lampu jalan untuk malam
hari, tersedianya sclupture untuk menarik mata penduduk, tersedianya tempat
duduk dan lainnya. Hal ini juga dapat dikatakan ideal apabila menarik
kenyamanan untuk pengguna jalan tersebut serta aman.
Dari pedestrian yang ideal tersebut, maka baru terlihatlah apakah
pedestrian tersebut benar-benar dapat dikatakan baik untuk pengguna pejalan
kaki. Terutama juga terlihat nyaman untuk pengguna jalan kaki, dan nyaman
digunakan.
Kenyamanan sendiri merupakan perasaan tenang yang di rasakan oleh
individu masing-masing orang sehingga kenyamanan itu relatif. Kenyamanan itu
penting dan merupakan hal yang di utamakan untuk merancang jalur pedestrian
ini. Kenyamanan juga merupakan aspek penting untuk merancang suatu
pedestrian yang ideal. Berhubung kenyamanan itu penting khususnya bagi
pengguna fungsi jalur pedestrian merupakan hal yang diutamakan untuk
merancang suatu pedestrian yang ideal maka di rancanglah pedestrian yang
nyaman bagi pejalan kaki seperti aman dari bahaya, sebagai tempat teduh, tidak
kepanasan saat berjalan kaki dan sebagainya.

Pedestrian yang terdapat di Kota Palembang terdapat di berbagai tempat.


Diantaranya adalah jalan Merdeka, jalan Sudirman, dan lainnya. Kawasan di Jl.
Merdeka merupakan kawasan yang menjadi pusat di Kota Palembang. setiap hari
kawasan ini dilewati pejalan kaki yang menuju ke segala tempat.
Jl. Merdeka ini juga cukup strategis karena dapat di capai oleh segala
lapisan masyarakat dari berbagai sarana transportasi dan pejalan kaki. Pedestrian
yang berada di jalan Merdeka memiliki jarak sejauh 1.3 KM dari Bundaran Air
Mancur.
Analisa fungsi pedestrian sendiri sudah pernah ada yang teliti salah
satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh Terstiervy Indra Pawaka (2006)
meneliti hubungan fungsi dan kenyamanan jalur pedestrian permasalahan yang di
ambil oleh peneliti ini adalah banyaknya pejalan kaki yang masih jalan di badan
raya atau jalan raya JL. Pahlawan, Semarang sehingga mengabaikan fungsi dari
jalur pedestrian itu sendiri1.
Berdasarkan penelitian tersebut yang membedakan antara penelitian yang
di lakukan oleh Terstiervy Indra Pawaka (2006) dan peneliti adalah bahwa peneliti
meneliti jalur pedestrian di palembang dan beliau meneliti pedestrian yang berada
di luar wilayah kota Palembang. serta dikarenakan tidak adanya penelitian yang di
lakukan di kota Palembang ini, maka peneliti melakukan analisa fungsi pedestrian
itu sendiri terhadap kenyamanan pengguna pedestrian yaitu pejalan kaki yang
berada di kawasan kota Palembang JL. Merdeka.

1.2 Perumusan Masalah


Dari uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan pokok-pokok
permasalahan yang akan dilakukan pembahasan dalam penelitian ini.
1. Bagaimana fungsi peran pedestrian yang ideal dan baik terhadap
kenyamanan pejalan kaki ?
1 http://core.ac.uk/download/files/379/11715828.pdf diunduh pada tanggal 13 Desember
2015 Pukul 19.00 WIB

2. Apakah jalur pedestrian yang tersedia di JL. Merdeka sudah ideal dan
dapat dikatakan nyaman untuk pejalan kaki sesuai dengan standarnya ?
1.3 Tujuan Penelitian
Dari uraian latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan pokok-pokok
permasalahan yang akan dilakukan pembahasan dalam penelitian ini.
1. Mengetahui fungsi dan peran pedestrian yang ideal dan baik terhadap
kenyamanan pejalan kaki.
2. Mengetahui apakah fungsi pedestrian yang berada di kawasan JL.
Merdeka sudah ideal ditinjau untuk aspek kenyamanan pejalan kaki.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai manfaat yang praktis bagi :
1.Bagi Peneliti
Untuk menambah wawasan serta mengetahui pedestrian yang ideal dan
nyaman untuk pengguna jalan kaki dan mendapat ide untuk membuat
sebuah pedestrian yang ideal yang terdapat di Kota Palembang.
2. Bagi Pembaca
Untuk memberikan Informasi serta pengetahuan media pembelajaran
untuk pembaca sehingga menjadi bekal awal untuk membuat pedestrian
yang ideal.

1.5 Batasan Penelitian


Penelitian ini memiliki beberapa batasan untuk menghindari agar tidak terjadi
permasalahan yang meluas dan lebih fokus terhadap permasalahan yang ada.
Batasan permasalahan tersebut antara lain:
1

Penelitian ini dilakukan berbeda dengan penelitian sebelumnya yang


meneliti hubungan antar peran serta fungsi pedestrian, sedangkan
penelitian ini meneliti peran dan fungsi pedestrian yang ideal dan nyaman
untuk pejalan kaki.

Penelitian ini meneliti pedestrian yang terdapat di Kota Palembang Jalan


MerdekaI. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang meneliti
pedestrian yang terdapat di Kota Semarang.

1.6 Tinjauan Teori


1.6.1 Pengertian Pedestrian Secara Umum
(http://eprints.undip.ac.id/18474/, diunduh pada 26 Desember 2015,
pukul 15.00) Menyatakan bahwa pedestrian berasal dari bahasa Yunani,
dimana berasal dari kata pedos yang berarti kaki, sehingga pedestrian
dapat diartikan sebagi pejalan kaki atau orang yang berjalan kaki,
sedangkan jalan merupakan media diatas bumi yang memudahkan
manusia dalam tujuan berjalan, Maka pedestrian memiliki arti
pergerakan atau juga bisa dikatakan perpindahan orang atau manusia
dari satu tempat sebagai titik tolak ke tempat lain sebagai tujuan dengan
menggunakan moda jalan kaki. Atau secara harfiah, pedestrian berarti
person walking in the street , yang berarti orang yang berjalan di jalan.
Namun

jalur

pedestrian

dalam

konteks

perkotaan

biasanya

dimaksudkan sebagai ruang khusus untuk pejalan kaki yang berfungsi


sebagai sarana pencapaian yang dapat melindungi pejalan kaki dari
bahaya yang datang dari kendaraan bermotor.

1.6.2

Pengertian Pedestrian Menurut Para Ahli


A. John Fruin ( 1979 )
(http://eprints.undip.ac.id/18474/ , diunduh pada 26 Desember
2015 pukul 15.00) mengatakan ,Pedestrian merupakan alat
untuk pergerakan internal kota, satu satunya alat untuk
memenuhi kebutuhan interaksi tatap muka yang ada didalam
aktivitas komersial dan kultural di lingkungan kehidupan kota.
B. Giovany Gideon ( 1977 )
(http://eprints.undip.ac.id/18474/ , diunduh pada 26 Desember
2015 pukul 15.00) menyatakan ,Pedestrian merupakan sarana
transportasi yang menghubungkan antara fungsi kawasan satu
9

dengan yang lain terutama kawasan perdagangan, kawasan


budaya, dan kawasan permukiman, dengan berjalan kaki
menjadikan suatu kota menjadi lebih manusiawi.
C. Shirvani(1985)
(http://webcache.googleusercontent.com/search?
q=cache:http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/42292/
4/Chapter%2520II.pdf , diunduh pada 26 Desember 2015 pukul
15.00) Menyatakan bahwa pengguna jalan kaki memerlukan
jalur khusus yang disebut juga dengan pedestrian, yang
merupakan salah satu dari elemen- elemen perancangan
kawasan yang dapat menentukan keberhasilan dari proses
perancangan di suatu kawasan kota
D. (Rubenstein, 1992)
(http://core.ac.uk/download/files/379/11715828.pdf,

diunduh

pada 26 Desember 2015 pukul 15.00) Menyatakan bahwa


Pedestrian dapat juga diartikan sebagai pergerakan atau sirkulasi
atau perpindahan orang atau manusia dari satu tempat ke titik
asal (origin) ke tempat lain sebagai tujuan (destination) dengan
1.6.3

berjalan kaki.
Fungsi Pedestrian Terhadap Perkembangan Kota
Menurut Murtomo dan Aniaty (1991)
(http://core.ac.uk/download/files/379/11715828.pdf, diunduh pada 26
Desember 2015 Pukul 15.00 WIB) Menyatakan bahwa jalur pedestrian
yang terdapat di kota-kota besar mempunyai fungsi terhadap
perkembangan kehidupan kota, antara lain adalah
A. Pedestrian dapat menumbuhkan aktivitas yang sehat sehingga
mengurangi kerawanan kriminalitas.
B. Pedestrian dapat merangsang berbagai kegiatan ekonomi sehingga
akan berkembang kawasan bisnis yang menarik.
C. Pedestrian sangat menguntungkan sebagai ajang kegiatan promosi,
pameran, periklanan, kampanye dan lain sebagainya.

10

D. Pedestrian dapat menarik bagi kegiatan sosial, perkembangan jiwa


dan spiritual.
E. Pedestrian mampu menghadirkan suasana dan lingkungan yang
spesifik, unik dan dinamis di lingkungan pusat kota .
F. Pedestrian berdampak pula terhadap upaya penurunan tingkat
pencemaran udara dan suara karena berkurangnya kendaraan
1.6.4

bermotor yang lewat.


Kategori Perjalanan Pedestrian
Menurut Iswanto (2006), kebanyakan pejalan pejalan kaki relatif dekat
jarak yang ditempuhnya. Terdapat 3 tipe perjalanan pedestrian, yaitu:
A. Perjalanan dari dan ke terminal: jalur pedesrian dirancang dari suatu
tempat ke lokasi terminal transportasi dan sebaliknya seperti halte
shelter dan tempat parkir.
B. Perjalanan fungsional: jalur pedestrian dirancang untuk tujuan
tertentu seperti menuju tempat kerja tempat belajar beberbelanja
kerumah makan dan sebagainya.
C. Perjalanan dengan tujuan rekreasi: jalur pedestrian dirancang dalam
kaitannya digunakan pada waktu luang pemakainya, seperti ke
gedung bioskop, ke galeri, ke konser musik ke gelanggang olah raga

1.6.5

dan sebagainya.
Fasilitas Jalur Pedestrian
Menurut Iswanto (2006), ada terdapat beberapa macam fasilitas yang
disediakan bagi pedestrian, antara lain:
A. Jalur pedestrian terpisah dengan jalur kendaraan, yaitu dengan
membuat permukaan, serta ketinggian yang berbeda.
B. Jalur pedestrian untuk menyeberang, yaitu dapat berupa zebra cross,
jembatan penyeberangan, atau jalur penyeberangan bawah tanah.
C. Jalur pedestrian yang rekreatif, yaitu terpisah dengan jalur
kendaraan bermotor serta disediakan bangku- bangku untuk
istirahat.

11

D. Jalur pedestrian dengan sisi untuk tempat berdagang, biasanya di


1.6.6

komplek pertokoan.
Macam Macam Jalur Pedestrian
Menurut Iswanto (2006), terdapat macam- macam jalur pedestrian
dilihat dari karakteristik dan dari segi fungsinya, yaitu sebagai berikut:
Jalur pedestrian, yaitu jalur yang dibuat untuk pejalan kaki untuk

A.

memudahkan pejalan kaki mencapai ke tempat tertentu, yang dapat


memberikan pejalan kaki kelancaran, kenyamanan, dan keamanan.
B. Jalur penyeberangan, yaitu jalur yang dibuat untuk pejalan kaki sebagai
sarana penyeberangan, guna menghindari resiko berhadapan langsung
dengan kendaraan- kendaraan.
C. Plaza, yaitu jalur yang dibuat untuk pejalan kaki sebagai sarana yang
bersifat rekreasi dan tempat istirahat.
D. Pedestrian mall, yaitu jalur yang dibuat untuk pejalan kaki sebagai sarana
1.6.7

berbagai macam aktivitas, seperti berjualan, duduk santai, dan sebagainya.


Fasil Menurut Iswanto (2006)
Ada terdapat beberapa macam fasilitas yang disediakan bagi pedestrian,
antara lain:
A. Jalur pedestrian terpisah dengan jalur kendaraan, yaitu dengan
membuat permukaan, serta ketinggian yang berbeda.
B. Jalur pedestrian untuk menyeberang, yaitu dapat berupa zebra cross,
jembatan penyeberangan, atau jalur penyeberangan bawah tanah.
C. Jalur pedestrian yang rekreatif, yaitu terpisah dengan jalur kendaraan
bermotor serta disediakan bangku- bangku untuk istirahat.
D. Jalur pedestrian dengan sisi untuk tempat berdagang, biasanya di
komplek pertokoan Jalur Pedestrian.

1.6.8

Elemen-Elemen Yang Terdapat Pada Jalur Pedestrian Yang Ideal


Pada jalur pedestrian yang keberadaannya sangat diperlukan oleh para
pejalan kaki, umumnya terdapat elemen- elemen atau disebut juga

12

dengan perabot jalan (street furniture) didalamnya. Hal ini difungsikan


untuk melindungi pejalan kaki yang melakukan aktivitas pada
pedestrian dengan menciptakan rasa aman dan nyaman terhadapnya.
Menurut Rubenstein (1992), elemen elemen yang harus terdapat pada
jalur pedestrian antara lain :
A. Paving, adalah trotoar atau hamparan yang rata. Dalam meletakkan
paving, sangat perlu untuk memperhatikan pola, warna, tekstur dan
daya serap air. Material paving meliputi: beton, batu bata, aspal, dan
sebagainya.
B. Lampu, adalah suatu benda yang digunakan sebagai penerangan di
waktu malam hari. Ada beberapa tipe lampu yang merupakan
elemen penting pada pedestrian (Chearra, 1978), yaitu:
a. Lampu tingkat rendah, yaitu lampu yang memiliki ketinggian
dibawah mata manusia.
b. Lampu mall, yaitu lampu yang memiliki ketinggian antara 1 - 1,5
meter.
c. Lampu khusus, yaitu lampu yang mempunyai ketinggian rata-rata
2-3 meter.
d. Lampu parkir dan lampu jalan raya, yaitu lampu yang mempunyai
ketinggian antara 3- 5 meter. e. Lampu tiang tinggi, yaitu lampu
yang mempunyai ketinggian antara 6-10 meter.
C. Sign atau tanda, merupakan rambu-rambu yang berfungsi untuk
memberikan suatu tanda, baik itu informasi maupun larangan. Sign
haruslah gampang dilihat dengan jarak mata manusia memandang
dan gambar harus kontras serta tidak menimbulkan efek silau.

13

D. Sculpture, merupakan suatu benda yang memiliki fungsi untuk


memberikan suatu identitas ataupun untuk menarik perhatian mata
pengguna jalan.
E. Pagar pembatas, mempunyai fungsi sebagai pembatas antara jalur
pedestrian dengan jalur kendaraan.
F. Bangku, mempunyai fungsi sebagai tempat untuk beristirahat bagi
para pengguna jalan.
G. Tanaman peneduh, mempunyai fungsi sebagai pelindung dan
penyejuk area pedestrian. Ciri- ciri tanaman peneduh yang baik
adalah sebagai berikut:
a. Memiliki ketahanan yang baik terhadap pengaruh udara
b.
c.

maupun cuaca.
Daunnya bermassa banyak dan lebat.
Jenis dan bentuk pohon berupa akasia, tanaman tanjung dan

pohon- pohon yang memiliki fungsi penyejuk lainnya.


H. Telepon umum, mempunyai fungsi sebagai sarana untuk pengguna
jalan agar bisa berkomunikasi jarak jauh terhadap lawan bicaranya.
I. Kios, shelter, dan kanopi, keberadaannya dapat untuk
menghidupkan suasana pada jalur pedestrian sehingga tidak biasa
dan menimbulkan aura yang tidak biasanya. Berfungsi sebagai
tempat menunggu angkutan dan sebagainya.
J. Jam, tempat sampah. Jam berfungsi sebagai petunjuk waktu.
Sedangkan tempat sampah berfungsi sebagai sarana untuk pejalan
kaki yang membuang sampah, agar pedestrian tetap nyaman dan
1.6.9

bersih.
Persyaratan Pedestrian yang dapat dikatakan nyaman dan aman
untuk penggunanya.
Persyaratan Jalur Pedestrian Agar pengguna pedestrian lebih leluasa,
aman serta nyaman dalam mengerjakan aktivitas didalamnya,

14

pedestrian haruslah memenuhi syarat- syarat dalam perancangannya.


Menurut Iswanto (2003), syarat- syarat rancangan yang harus dimiliki
jalur pedestrian agar terciptanya jalur pejalan kaki yang baik adalah
sebagai berikut:
A. Kondisi permukaan bidang pedestrian: Haruslah kuat, stabil, datar
dan tidak licin. Material yang biasanya digunakan adalah paving
block, batubata, beton, batako, batu alam, atau kombinasikombinasi dari bahan material itu sendiri.
B. Kondisi daerah - daerah peristirahatan: Sebaiknya dibuat pada
jarak- jarak tertentu dan disesuaikan dengan skala jarak
kenyamanan berjalan kaki, Biasanya berjarak sekitar 180 meter.
C. Ukuran tanjakan (ramp): Ramp dengan kelandaian di bawah 5%
untuk pedestrian umum, Ramp dengan kelandaian mencapai 3%
penggunaannya lebih praktis, Ramp dengan kelandaian 4% sampai
dengan 5% harus memiliki jarak sekitar 165 cm, Ramp dengan
kelandaian di atas 5% dibutuhkan desain khusus.
D. Dimensi pedestrian: Dimensi pedestrian berdasarkan jumlah arah
jalan: Lebar minimal sekitar 122 cm untuk jalan satu arah, Lebar
minimal sekitar 165 cm untuk jalan dua arah.
Standar kaidah peraturan pedestrian yang ideal dan nyaman untuk:
a. Jalan kelas 1, lebar jalan 20 meter, lebar pedestrian 7 meter.
b. Jalan kelas 2, lebar jalan 15 meter, lebar pedestrian 3,5 meter.
c. Jalan kelas 3, lebar jalan 10 meter, lebar pedestrian 2 meter.
d. Lingkungan pertokoan, lebar pedestrian 5 meter.
e. Lingkungan perkantoran, lebar pedestrian 3,5 meter.
f. Lingkungan perumahan, Lebar pedestrian 3 meter.
E. Sistem penerangan dan perlindungan terhadap sinar matahari:
Penerangan pada malam hari di sepanjang jalur pedestrian daya
minimal yang digunakan adalah sebesar 75 Watt. Perlindungan

15

terhadap sinar matahari dapat dilakukan dengan menanam


pepohonan peneduh pada jarak tertentu.
F. Sistem pemeliharaan: Pembersihan pedestrian dan elemen- elemen
didalamnya. Pengangkutan sampah. Penggantian material dan
elemen yang sudah tidak layak pakai. Penyiraman tanaman.
Pemupukan tanaman. Pemangkasan tanaman.
G. Kondisi tepi jalan Tepi jalan disyaratkan tidak boleh melebihi
ukuran tinggi maksimal satu langkah kaki, yaitu sekitar 15 cm
sampai dengan 16,5 cm.
H. Kondisi daerah persimpangan jalan Sistem peringatan kepada
pengendara dan pengguna pedestrian. Perlu dilengkapi signage
untuk membantu pengguna pedestrian melakukan aktivitasnya,
seperti menyeberang. Signage, khususnya tanda- tanda lalulintas
sebaiknya dedesain tidak menyilaukan, mudah dilihat dan
diletakkan pada ketinggian sekitar 2 meter.
I. Jalur penyeberangan pedestrian: - Dirancang untuk mempertegas
lokasi penyeberangan pedestrian, yaitu harus mudah dilihat
pengendara kendaraan maupun pengguna pedestrian. Menggunakan
materian bertekstur untuk melukiskan bentuk dan batas jalur
pedestrian. Signage yang digunakan sebaiknya berlatar belakang
gelap dengan huruf berwarna cerah. Ukuran lebar bagian dalam
jalur penyeberangan disarankan sama dengan ukuran lebar jalur
jalan yang ada didekatnya.
J. Dinding- dinding pembata, Dinding pembatas dengan tempat duduk
sebaiknya mempunyai tinggi sekitar 45 cm sampai dengan 55 cm
serta lebar minimal 20 cm untuk dapat duduk santai di atasnya.

16

Dinding pembatas yang rendah, yang berukuran antara 66 cm


samapai dengan 99 cm, yang dapat dimanfaatkan untuk bersandar
pada posisi duduk atau untuk duduk di atasnya. Dinding- dinding
yang transparan, seperti bambu/ kayu, pepohonan, semak- semak
maupun dinding- dinding semu yang terbentuk dari batas air sungai,
cakrawala juga bisa dijadikan sebagai pembatas jalur pedestrian
dengan jalur kendaraan yang masing- masingnya mempunyai tinggi
yang bervariasi.
1.7 Jenis Penelitian

17

18

19