Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
Indonesia adalah Negara Kesatuan yang penuh dengan keragaman. Indonesia terdiri
atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan, dll.
Namun Indonesia mampu mepersatukan bebragai keragaman itu sesuai dengan semboyan
bangsa Indonesia "Bhineka Tunggal Ika" , yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua.
Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi. Dan tak kalah
pentingnya, secara sosial budaya dan politik masyarakat Indonesia mempunyai jalinan
sejarah dinamika interaksi antar kebudayaan yang dirangkai sejak dulu. Interaksi antar
kebudayaan dijalin tidak hanya meliputi antar kelompok sukubangsa yang berbeda, namun
juga meliputi antar peradaban yang ada di dunia. Labuhnya kapal-kapal Portugis di Banten
pada abad pertengahan misalnya telah membuka diri Indonesia pada lingkup pergaulan dunia
internasional pada saat itu. Hubungan antar pedagang gujarat dan pesisir jawa juga
memberikan arti yang penting dalam membangun interaksi antar peradaban yang ada di
Indonesia. Singgungan-singgungan peradaban ini pada dasarnya telah membangun daya
elasitas bangsa Indonesia dalam berinteraksi dengan perbedaan. Disisi yang lain bangsa
Indonesia juga mampu menelisik dan mengembangkan budaya lokal ditengah-tengah
singgungan antar peradaban itu.
Sejarah membuktikan bahwa kebudayaan di Indonesia mampu hidup secara
berdampingan, saling mengisi, dan ataupun berjalan secara paralel. Misalnya kebudayaan
kraton atau kerajaan yang berdiri sejalan secara paralel dengan kebudayaan berburu meramu
kelompok masyarakat tertentu. Dalam konteks kekinian dapat kita temui bagaimana
kebudayaan masyarakat urban dapat berjalan paralel dengan kebudayaan rural atau pedesaan,
bahkan dengan kebudayaan berburu meramu yang hidup jauh terpencil. Hubungan-hubungan
antar kebudayaan tersebut dapat berjalan terjalin dalam bingkaiBhinneka Tunggal Ika ,
dimana bisa kita maknai bahwa konteks keanekaragamannya bukan hanya mengacu kepada
keanekaragaman kelompok sukubangsa semata namun kepada konteks kebudayaan.Didasari
pula bahwa dengan jumlah kelompok sukubangsa kurang lebih 700an sukubangsa di
seluruh nusantara, dengan berbagai tipe kelompok masyarakat yang beragam, serta
keragaman agamanya, pakaian adat, rumah adat kesenian adat bahkan makanan yang
dimakan pun beraneka ragam. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang
memiliki karakteristi yang unik ini dapat dilihat dari budaya gotong royong, teposliro, budaya
menghormati orang tua (cium tangan), dan lain sebagainya.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Keberagaman Indonesia
Keragaman adalah suatu kondisi pada kehidupan masyarakat. Perbedaan seperti itu
ada pada suku bangsa, ras, agama, budaya dan gender. Keragaman yang ada di Indonesia
adalah kekayaan dan keindahan bangsa. Pemerintah harus bisa mendorong keberagaman
tersebut menjadi suatu kekuatan untuk bisa mewujudkan persatuan dan kesatuan nasional.
Keragaman budaya atau cultural diversity adalah keniscayaan yang ada di bumi
Indonesia. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri
keberadaannya. Dalam konteks pemahaman masyarakat majemuk, selain kebudayaan
kelompok sukubangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah
bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok
sukubangsa yang ada didaerah tersebut. Dengan jumlah penduduk 200 juta orang dimana
mereka tinggal tersebar dipulau- pulau di Indonesia. Mereka juga mendiami dalam wilayah
dengan kondisi geografis yang bervariasi. Mulai dari pegunungan, tepian hutan, pesisir,
dataran rendah, pedesaan, hingga perkotaan. Hal ini juga berkaitan dengan tingkat peradaban
kelompok-kelompok sukubangsa dan masyarakat di Indonesia yang berbeda.

Pertemuan-pertemuan dengan kebudayaan luar juga mempengaruhi proses asimilasi


kebudayaan yang ada di Indonesia sehingga menambah ragamnya jenis kebudayaan yang ada
di Indonesia. Kemudian juga berkembang dan meluasnya agama-agama besar di Indonesia
turut mendukung perkembangan kebudayaan Indonesia sehingga memcerminkan kebudayaan
agama tertentu. Bisa dikatakan bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengan tingkat
keaneragaman budaya atau tingkat heterogenitasnya yang tinggi. Tidak saja keanekaragaman
budaya kelompok sukubangsa namun juga keanekaragaman budaya dalam konteks
peradaban, tradsional hingga ke modern, dan kewilayahan. Dengan keanekaragaman
kebudayaannya Indonesia dapat dikatakan mempunyai keunggulan dibandingkan dengan
negara lainnya.
B. Faktor Keberagaman Indonesia
Keberagaman adalah suatu kondisi dalam masyarakat yang terdapat banyak
perbedaan dalam berbagai bidang di Indonesia. Perbedaan tersebut terutama dalam hal suku
bangsa, ras, agama, keyakinan, ideologi politik, sosial-budaya, ekonomi, dan jenis kelamin.
Keanekaragaman yang dimiliki bangsa Indonesia merupakan kekayaan dan keindahan
bangsa.

Orang mengatakan, bahwa keberagaman itu indah. Contoh indahnya keberagaman


dapat kita lihat dari pemandangan di dalam laut. Pemandangan dalam laut menampilkan
berbagai jenis ikan dan karang. Perbedaan itu menampilkan pemandangan yang sangat
indah.Kalian juga akan merasa lebih senang menonton televisi berwarna jika dibandingkan
dengan televisi hitam putih. Pemandangan bawah laut menggambarkan bahwa bangsa
Indonesia yang beragam akan lebih indah daripada yang seragam. Pemerintah dan seluruh
warga negara Indonesia sebaiknya mendorong keragaman itu menjadi sebuah kekuatan guna
mewujudkan persatuan dan kesatuan nasional.

Keberagaman dalam masyarakat dapat menjadi tantangan karena orang yang berbeda
pendapat yang lepas kendali. Tumbuhnya perasaan kedaerahan dan kesukuan dapat
berlebihan dan diiringi tindakan yang merusak persatuan dapat mengancam keutuhan bangsa
dan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh karena itu, upaya meningkatkan kerukunan
antar suku, pemeluk agama, dan kelompok-kelompok sosial lainnya perlu dilaksanakan.
Upaya mewujudkan kerukunan dapat dilakukan melalui dialog dan kerja sama dengan prinsip
kebersamaan, kesetaraan, toleransi, dan saling menghormati.
Faktor penyebab keberagaman suku bangsa dan budaya masyarakat di Indonesia
Kebaragaman masyarakat Indonesia dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik yang datang dari
dalam maupun luar masyarakat. Hal ini juga dipengaruhi oleh faktor alam, diri sendiri, dan
masyarakat . Secara umum keberagaman masyarakat Indonesia disebabkan oleh:
1. Letak strategis wilayah Indonesia
Coba kalian amati letak geogarfi Indonesia dalam peta dunia. Letak Indonsia yang
stategis yaitu di antara dua Samudera Pasific dan Samudera Indonesia, serta dua
benua Asia dan Australia mengakibatkan wilayah kita menjadi jalur perdagangan
internasional. Lalu lintas perdangangan tidak hanya membawa komoditas dagang,
namun juga pengaruh kebudayaan mereka terhadap budaya Indonesia.
Kedatangan bangsa asing yang berbeda ras, kemudian menetap di Indonesia
mengakibatkan perbedaan ras. Juga agama dan kepercayaan mereka.
2. Kondisi negara kepulauan
Negara Indonesia terdiri beribu-ribu pulau yang secara fisik terpisah-pisah.
Keadaan ini menghambat hubungan antarmasyarakat Indonesia dari pulau yang
berbeda-beda. Setiap masyarakat di kepulauan mengembangkan budaya mereka
masing-masing, sesuai dengan tingkat kemajuan dan lingkungan masing-masing.
Hal ini mengakibatkan perbedaan suku bangsa, bahasa, budaya, peran laki-laki
dan perempuan, dan kepercayaan atau agama di Indonesia.
3. Perbedaan kondisi alam
Kondisi alam yang berbeda seperti daerah pantai, pegunungan, daerah subur,
padang rumput, pegunungan, dataran rendah, rawa, laut mengakibatkan perbedaan
masyarakat. Juga kondisi kekayaan alam, tanaman yang dapat tumbuh, hewan
yang hidup di sekitarnya. Masyarakat di daerah pantai berbeda dengan masyarakat
pegunungan, seperti perbedaan bentuk rumah, mata pencaharian, makanan pokok,
pakaian, kesenian, bahkan kepercayaan.
4. Keadaan transportasi dan komunikasi

Kemajuan sarana transportasi dan komunikasi juga mempengaruhi perbedaan


masyarakat Indonesia. Kemudahan sarana ini membawa masyarakat mudah
berhubungan dengan masyarakat lain, meskipun jarak dan kondisi alam yang sulit.
Sebaliknya sarana yang terbatas juga memjadi penyebab keberagaman masyarakat
Indonesia.
5. Penerimaan masyarakat terhadap perubahan
Sikap masyarakat terhadap sesuatu yang baru baik yang datang dari dalam
maupun luar masyarakat membawa pengaruh terhadap perbedaan masyarakat
Indonesia. Ada masyarakat yang mudah menerima orang asing atau budaya lain,
seperti masyarakat perkotaan. Namun ada juga sebagian masyarakat yang tetap
bertahan pada budaya sendiri, tidak mau menerima budaya luar.
C. Arti Penting Dalam Memahami Keberagaman Indonesia
Aspek kewilayahan menjelaskan, bahwa wilayah Negara Kesatuan Republik
Indonesia adalah merupakan negara kepulauan dengan ribuan pulau besar kecil di dalamnya.
Satu pulau dengan pulau yang lain dipisahkan oleh bentangan laut yang sangat luas. Kondisi
wilayah yang demikian menjadikan keterpisahan antara satu bagian wilayah negara dengan
wilayah negara yang lain dalam negara Indonesia. Di samping itu juga terdapatnya jarak yang
jauh antara pusat dengan daerah. Terbawa oleh kondisi kewilayahan tersebut, perlu disadari
oleh semua pihak bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia sesungguhnya rawan
terjadinya perpecahan (disintegrasi). Kenyataan lain menunjukkan, bahwa pemerintah
dihadapkan pada persoalan adanya daerah yang ingin memisahkan diri dari Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Aspek sosial budaya menjelaskan, bahwa masyarakat Indonesia diwarnai oleh
berbagai macam perbedaan, baik perbedaan suku, ras, agama, kebudayaan, dan bahasa.
Kondisi sosial budaya yang demikian menjadikan kehidupan bangsa Indonesia menyimpan
potensi terjadinya konflik. Kenyataan juga menunjukkan, bahwa dalam kehidupan bangsa
Indonesia sering terjadi konflik antar-kelompok masyarakat yang dilatarbelakangi oleh
perbedaan-perbedaan tersebut. Sampai saat ini, konflik-konflik yang terjadi tidak
menimbulkan perpecahan dalam kehidupan bangsa Indonesia. Namun demikian kenyataan
semacam itu perlu manjadikan perhatian semua pihak agar dapat mempertahankan persatuan
dan kesatuan bangsa Indonesia tetap terjaga.
Atas dasar dua alasan tersebut, maka penting sekali memahami keberagaman dalam
masyarakat Indonesia yang ditujukan untuk mengusahakan dan mempertahankan persatuan

dan kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Tanpa kesadaran akan keberagaman yang
kita miliki, bangsa Indonesia bisa saja terjerumus ke arah perpecahan.
Keberagaman masyarakat Indonesia memiliki dampak positif sekaligus dampak
negatif bagi diri sendiri, masyarakat, bangsa dan negara.. Dampak positif memberikan
manfaat bagi perkembangan dan kemajuan, sedangkan dampak negatif mengakibatkan
ketidakharmonisan bahkan kehancuran bangsa dan negara. Keberagaman suku bangsa,
budaya, ras, agama, dan gender menjadi daya tarik wisatawan asing untuk berkunjung ke
Indonesia. Kita tidak hanya memiliki keindahan alam, tetapi juga keindahan dalam
keberagaman masyarakat Indonesia.
Perbedaan dalam lingkungan sekolah juga memiliki manfaat bagi pelajar, guru, dan
sekolah. Bayangkan apabila setiap saat semua pelajar dan guru selalu memiliki pendapat
yang sama, cara berpakain yang sama, cara berbicara yang sama. Maka kehidupan sekolah
akan monoton atau hambar. Kreatifitas dan inovasi akan lebih berkembang apabila
memungkinkan perbedaan pendapat, berpikir, dan berkreasi.
D. Keberagaman dan Bhinneka Tunggal Ika

Keanekaragaman membicarakan tentang masyarakat, negara, bangsa, daerah, bahkan


lokasi geografis terbatas seperti kota atau sekolah, yang terdiri atas orang-orang yang
memiliki kebudayaan yang berbeda-beda dalam kesederajatan. Masyarakat multikultural
adalah masyarakat yang terdiri atas berbagai macam suku yang masing-masing mempunyai
struktur budaya (culture) yang berbeda-beda.
Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan atau motto bangsa Indonesia yang terdapat
dalam lambang Negara Burung Garuda. Bhineka Tunggal Ika menunjukan bahwa bangsa
Indonesia adalah bangsa yang heterogen, yaitu bangsa yang mempunyai keanekaragaman,
baik dalam aspek agama, budaya, maupun ras dan suku bangsa.

E. Dampak dari keberagaman di Indonesia


Budaya suku atau budaya daerah yang nampak maju misalnya budaya Jawa, Sunda,
Bali, dan sebagainya. Namun demikian tetap ada saja penghambatan misalnya : orang Jawa
yang bersifat nerima dan terlalu miskin akibatnya pengaruh globalisasi akan terjadi kemajuan
yang melewati batas. Kemajuan tersebut akan melewati batas, yang akan dapat
membahayakan perkembangan kebudayaan tersebut.
1. Dampak positif dan keragaman budaya daerah antara lain :
a. Keragaman suku dan budaya memperkaya ragam suku dan budaya bangsa.
b. Keragaman kekayaan alam di bumi Indonesia memungkinkan bangsa
Indonesia dapat memenuhi kebutuhan sendiri bila kekayaan itu diolah dan
dibudidayakan untuk kehidupan.
2. Dampak negatif keragaman budaya daerah antara lain :
a. Keragaman sukui bangsa dan budaya mempersulit pemerintah menetapkan
kebijakan pembanghunan.
b. Keragaman sikap mental setiap suku bangsa menghambat partisipasi
masyarakat dalam kegiatan pembangunan.
c. Keragaman struktur budaya dapat menjadi

penghambat

dalam

pembentukan satu budaya.


d. Konflik yang terjadi antar suku dan ras.
Cara mengatasi akibat keberagaman budaya di Indonesia. Dampak mengatasi akibat
keberagaman budaya di Indonesia antara lain :
1. Terus menerus sikap mental yang berpartisipatif terhadap pembangunan.
2. Mengembangkan budaya daerah yang bernilai luhur dalam rangka membentuk
budaya.
3. Memeratakan pendidikan dan pengajaran keseluruhan wilayah Indonesia.
4. Meningkatkan sumber daya manusia menjadi manusia yang cerdas, bertanggung
jawab.
F. Suku Bamgsa di Indonesia
Terdapat lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa di Indonesia atau tepatnya
1.340 suku bangsa menurut sensus BPS tahun 2010.
Suku Jawa adalah kelompok suku terbesar di Indonesia dengan jumlah mencapai 41%
dari total populasi. Orang Jawa kebanyakan berkumpul di pulau Jawa, akan tetapi jutaan jiwa
telah bertransmigrasi dan tersebar ke berbagai pulau di Nusantara bahkan bermigrasi ke luar
negeri

seperti

ke Malaysia dan Suriname. Suku

Sunda, suku

Melayu,

dan suku

Madura adalah kelompok terbesar berikutnya di negara ini. Banyak suku-suku terpencil,
terutama di Kalimantan dan Papua, memiliki populasi kecil yang hanya beranggotakan
ratusan orang. Sebagian besar bahasa daerah masuk dalam golongan rumpun bahasa
Austronesia, meskipun demikian sejumlah besar suku di Papua tergolong dalam rumpun
bahasa Papua atau Melanesia.
Pembagian kelompok suku di Indonesia tidak mutlak dan tidak jelas akibat
perpindahan penduduk, percampuran budaya, dan saling mempengaruhi; sebagai contoh
sebagian pihak berpendapat orang Cirebon adalah suku tersendiri dengan dialek yang khusus
pula, sedangkan sementara pihak lainnya berpendapat bahwa mereka hanyalah subetnik dari
suku Jawa secara keseluruhan. Demikian pula suku Baduy dan suku Banten yang sementara
pihak menganggap mereka sebagai bagian dari keseluruhan suku Sunda. Contoh lain
percampuran suku bangsa adalah suku Betawi yang merupakan suku bangsa hasil
percampuran berbagai suku bangsa pendatang baik dari Nusantara maupun Tionghoa dan
Arab yang datang dan tinggal di Batavia pada era kolonial.

Peta suku bangsa pribumi di Indonesia berdasarkan peta di ruang etnografi Museum
Nasional Indonesia. Suku bangsa pendatang keturunan asing seperti keturunan Tionghoa,
Arab, dan India tidak ditampilkan dalam peta, tetapi kebanyakan tinggal di kawasan
perkotaan yang tersebar di Indonesia.
Proporsi populasi jumlah suku bangsa di Indonesia menurut sensus 2010 sebagai berikut:
Suku Bangsa

Populasi (juta)

Persentasi

Kawasan utama

Suku Jawa

95,2

40,2

Jawa Timur, Jawa Tengah, Lampung

Suku Bangsa

Populasi (juta)

Persentasi

Kawasan utama

Suku Sunda

36,7

15,5

Jawa Barat

Suku Batak

8,5

3,5

Sumatera Utara

Suku asal Sulawesi 7,6

3,2

Sulawesi

Suku Madura

7,2

3,0

Pulau Madura

Suku Betawi

6,8

2,88

Jakarta

Minangkabau

6,5

2,73

Sumatera Barat, Riau

Suku Bugis

6,3

2,69

Sulawesi Selatan

Arab-Indonesia[5]

5,000

2,4

Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah

Suku Banten

4,331

2,1

Banten

Suku Banjar

3,506

1,7

Kalimantan Selatan

Suku Bali

3,094

1,5

Pulau Bali

Suku Sasak

2,681

1,3

Pulau Lombok

Suku Makassar

2,063

1,0

Sulawesi Selatan

Suku Cirebon

1,856

0,9

Jawa Barat

Beberapa Suku Bangsa Menurut Pulau


1. Jawa: Suku Jawa [termasuk Suku Bawean, Suku Tengger, Suku Osing dan lainlain], Suku Sunda [termasuk Suku Baduy], Suku Banten,Suku Cirebon dan Suku
Betawi
2. Madura: Suku Madura
3. Sumatera: Suku Melayu, Suku Batak yang terdiri 8 suku bangsa, Minangkabau, Suku
Aceh, Suku Lampung, Suku Kubu
4. Kalimantan: Suku Dayak yang terdiri 268 suku bangsa, Suku Banjar, Suku
Kutai, suku Berau, Suku Bajau

5. Sulawesi: Suku Makassar, Suku Bugis, Suku Mandar, Suku Tolaki, Suku
Minahasa yang terdiri 8 suku bangsa, Suku Gorontalo, Suku Toraja
6. Kepulauan Sunda Kecil: Suku Bali, Suku Sasak,
7. Maluku: Suku Ambon, Suku Nuaulu, Suku Manusela, Suku Wemale
8. Papua - Suku Papua terdiri 466 suku bangsa diantaranya: Suku Dani, Suku
Bauzi, Suku Asmat
Kelompok suku bangsa pada masa Hindia Belanda
Sejumlah kecil orang India, Arab, dan Tionghoa telah datang dan menghuni beberapa
tempat di Nusantara sejak dahulu kala pada zaman kerajaan kuno. Akan tetapi gelombang
imigrasi semakin pesat pada masa kolonial. Terbentuklah kelompok suku bangsa pendatang
yang terutama tinggal di perkotaan dan terbentuk pada masa kolonial Hindia Belanda, yaitu
digolongkan dalam kelompok Timur Asing; seperti keturunan Tionghoa, Arab, dan India;
serta golongan Orang Indo atau Eurasia yaitu percampuran Indonesia dan Eropa. Warga
keturunan Indo kolonial semakin berkurang di Indonesia akibat Perang Dunia II dan Revolusi
Kemerdekaan Indonesia. Kebanyakan beremigrasi atau repatriasi ke luar negeri seperti ke
Belanda atau negara lain.

G. Keberagaman Agama di Indonesia


Keberagaman ini antara lain dipengaruhi oleh letak geogarfis di jalur perdagangan
internasional. Dukungan kekayaan alam yang melimpah dan diperlukan oleh bangsa lain,
maka para pedagang asing datang ke Indonesia. Selain melakukan kegiatan berdagang,
mereka juga menyebarkan ajaran agama dan kepercayaan yang mereka yakini. Agama Hindu
dan Budha masuk dibawa oleh bangsa India yang sudah lama berdagang dengan Indonesia,
kemudian menyusul para pedagang Gurajat menyebarkn ajaran Islam. . Kedatangan bangsa
Eropa membawa ajaran agama Kristen dan Katolik, sedangkan pedagang dari Cina menganut
agama Kong Hu Chu. Berbagai ajaran agama diterima oleh bangsa Indonesia karena
sebelumnya masyarakat sudah mengenal kepercayaan seperti animisme dan dinamisme. Juga
sifat keterbukaan masyarakat Indonesia menerima budaya lain.
Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan
kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan antar
manusia dan lingkungannya

6 Agama di Indonesia :
1. Agama Islam
Nama Kitab Suci : Al-Quran
Nama Pembawa : Nabi Muhammad SAW
Permulaan : Sekitar 1400 tahun yang lalu
Tempat Ibadah : Masjid
Hari Besar Keagamaan : Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya Idul Adha, Tahun Baru
Hijrah, Isra Miraj
Jumlah Penganut : 207.176.162 jiwa (87,18%)
2. Agama Kristen Protestan
Nama Kitab Suci : Alkitab
Nama Pembawa : Yesus Kristus
Permulaan : Sekitar 2000 tahun yang lalu
Tempat Ibadah : Gereja
Hari Besar Keagamaan : Hari Natal, Hari Jumat Agung, Hari Paskah, Kenaikan
Isa Almasih
Jumlah Penganut : 16.528.513 jiwa (6,96%)
3. Agama Katolik
Nama Kitab Suci : Alkitab
Nama Pembawa : Yesus Kristus
Permulaan : Sekitar 2000 tahun yang lalu
Tempat Ibadah : Gereja
Hari Besar Keagamaan : Hari Natal, Hari Jumat Agung, Hari Paskah, Kenaikan
Isa Almasih
Jumlah Penganut : 6.907,873 jiwa (2,91%)
4. Agama Hindu
Nama Kitab Suci : Weda
Nama Pembawa :
Permulaan : Sekitar 3000 tahun yang lalu
Tempat Ibadah : Pura
Hari Besar Keagamaan : Hari Nyepi, Hari Saraswati, Hari Pagerwesi
Jumlah Penganut : 4.012.116 jiwa (1,69%)
5. Agama Buddha
Nama Kitab Suci : Tri Pitaka
Nama Pembawa : Siddharta Gautama
Permulaan : Sekitar 2500 tahun yang lalu
Tempat Ibadah : Vihara
Hari Besar Keagamaan : Hari Waisak, Hari Asadha, Hari Kathina
Jumlah Penganut : 1.703.254 jiwa (0,72%)
6. Agama Kong Hu Cu
Nama Kitab Suci : Si Shu Wu Ching
Nama Pembawa : Kong Hu Cu
Permulaan : Sekitar 2500 tahun yang lalu
Tempat Ibadah : Li Tang / Klenteng
Hari Besar Keagamaan : Tahun Baru Imlek, Cap Go Meh
Jumlah Penganut : 117.091 jiwa (0,05%)

H. Konflik-konflik yang disebabkan oleh Keberagaman di Indonesia


Plurarisme pada masyarakat indonesia sangat mudah untuk dibenturkan dan di pecah
belah terutama terhadap isu keagamaan dan kesukuan. Dalam beberapa kejadian ini menjadi
konflik yang sangat rumit yang mingkin penyelesaiannya cenderung berlarut-berlarut karena
adanya ego dari suatu kelompok kepentingan (yang mungkin mendapatkan keuntungan dari
adanya kerusuhan). Arus informasi (dalam hal ini pemberitaan media) kerap kali di tuding
menjadi suatu pemicu semakin meluasnya suatu kerusuhan, terutama dari pemberitaan media
yang terlalu propokatif dalam menempatkan judul beritanya seakan mengajak para
pembacanya terlibat lebih jauh. Pemberitaan berimbang dan memberikan fakta aktual yang
layak jadi informasi publik memang harus, tetapi jangan sampai meninggalkan latar belakang
sosiologis dari masyarakat juga karena itu akan berdampak buruk bagi konflik tersebut.
Seakan ada dualisme kepentingan yang dijalankan media melalui pemberitaannya, yaitu
tentang memberikan informasi dan menggiring opini publik pada kepentingan penguasa.
Betapa kuaatnya peran media ini kadang tidak pernah disadari oleh masyarakat kelas bawah,
mereka seakan selalu menjadi pihak yang dinilai pelanggar atau pemicu dari kerusuhan.
Walaupun harus kita akui bahwa banyak diantara yang terlibat kerusuhan itu tidak
mengetahui akar masalah yang sebenarnya dan dieksploitasi sedemikian rupa. Berikut
beberapa konflik yang ada di Indonesia dalam skala yang besar :
1. Konflik Dayak Madura
Terjadi dua kali kerusuhan berskala besar antara suku Dayak dan Madura, yaitu peristiwa
sampit (2001), dan Senggau Ledo (1996). Kedua kerusuhan ini merembet ke hampir semua
wilayah Kalimantan dan berakhir dengan pengusiran dan pengungsian ribuan warga Madura,
dengan jumlah korban hingga mencapai 500-an orang. Perang antar suku ini menjadi masalah
sosial yang me-nasional.
Ada empat hal yang menjadi penyebab terjadinya perang suku antara suku Dayak dan suku
Madura :
a. Perbedaan antara dayak-madura
Perbedaan budaya jelas menjadi alasan mendasar ketika perang antar suku terjadi.
Masalahnya sangat sederhana, tetapi ketika sudah berkaitan dengan kebudayaan, maka hal
tersebut juga berkaitan dengan kebiasaan.

Misalanya permasalahan senjata tajam. Bagi suku dayak, senjata tajam sangat
dilarang keras dibawa ketempat umum. Orang yang membawa senjata tajam kerumah orang
lain, walaupun bermaksud bertamu, dianggap sebagai ancaman atau ajakan berduel. Lain
halnya dengan budaya suku madura yang biasa menyelipkan senjata tajam kemana-mana dan
dianggap biasa ditanah kelahirannya.
Bagi suku dayak, senjata tajam bukan untuk menciderai orang. Bila hal ini terjadi,
pelakunya harus dikenai hukuman adat pati nyawa (bila korban cidera) dan hukum
adat pemampul darah (bila korban tewas). Namun, bila dilakukan berulang kali, masalahnya
berubah menjadi masalah adat karena dianggap sebagai pelecehan terhadap adat sehingga
simbol adat mangkok merah (Dayak Kenayan) atau Bungai jarau (Dayak Iban) akan
segera berlaku. Dan itulah yang terjadi dicerita perang antar suku Dayak-Madura.
b. Perilaku yang tidak menyenangkan
Bagi suku Dayak, mencuri barang orang lain dalam jumlah besar adalah tabu karena
menurut mereka barang dan pemiliknya telah menyatu; ibarat jiwa dan badan. Bila dilanggar,
pemilik barang akan sakit. Bahkan, bisa meninggal. Sementara orang madura sering kali
terlibat pencurian dengan korbannya dari suku dayak. Pencurian yang dilakukan inilah yang
menjadi pemicu pecahnya perang antara suku dayak dan madura.
c. Pinjam meminjam tanah
Adat suku dayak membolehkan pinjam meminjam tanah tanpa pamrih. Hanya dengan
kepercayaan lisan, orang madura diperbolehkan menggarap tanah orang dayak. Namun,
persoalan timbul saat tanah tersebut diminta kembali. Seringkali orang madura menolak
mengembalikan tanah pinjaman tersebut dengan alasan merekalah yang telah menggarap
selama ini.
Dalam hukum adat Dayak, hal ini disebut balang semaya (ingkar janji) yang harus
dibalas dengan kekerasan. Perang antar suku Dayak dan Madura pun tidak dapat dihindarkan
lagi.
d. Ikrar perdamaian yang dilanggar
Dalam tradisi masyarakat Dayak, ikrar perdamaian harus bersifat abadi. Pelanggaran
akan dianggap sebagai pelecehan adat sekaligus pernyataan permusuhan. sementara orang

Madura telah beberapa kali melanggar ikrar perdamaian. Dan lagi-lagi hal tersebutlah yang
memicu perang antar suku tersebut.
2. Konflik melayu madura
Pada bulan februari April 1999, konflik etnis kembali terjadi di Kabupaten Sambas,
Kalimantan Barat, yang untuk pertama kalinya antara orang melayu dengan madura.
Akibatnya sekitar 25 ribu Madura terpaksa diungsikan di Pontianak. Berbeda dengan
pengungsi akibat konflik dayak- madura pada tahun 1996/1997 yang masih bisa kembali ke
tempat tinggalnya di Sambas, kali ini mereka tidak bisa kembali dan terpaksa tinggal di
berbagai tempat pengungsian.
Pertikaian dan permusuhan ini terjadi berawal dari peristiwa pembantaian dan
penganiayaan beberapa orang warga Melayu kampung Parit Setia terhadap seorang warga
Madura dari kampung Rambayan pada malam bulan ramadhan 1419 H. yang diduga
menyelinap masuk ke rumah salah satu rumah warga Parit Setia dengan maksud mencuri,
yakni di rumah Ayyub yang meninggal dalam peristiwa penyerangan. Namun sayang, malang
nasib warga madura itu, perbuatannya diketahui oleh tuan rumah dan diteriaki maling, yang
akhirnya didengar dan dikejar oleh warga yang lainnya. Usaha untuk menyelinap masuk ke
rumah gagal, dan akhirnya satu orang tertangkap basah, sementara yang lainnya sempat
melarikan diri. Setelah diikat lalu dipukuli hingga babak belur. Penangkapan ini diketahui
oleh temannya yang lari dan memberitahukannya kepada warga lainnya di kampung
Rambaian. Setelah dipukuli, keesokan harinya masalahnya kemudian diserahkan kepada
kekepolisian kecamatan. Dan diproses. Warga melayu ditahan atas tuduhan penganiayaan dan
warga Madura dilepaskan karena menurut Polisi tidak ada bukti pencurian. Padahal menurut
masyarakat Parit Setia dan sekitarnya, mereka sering kecurian dan bahkan perampokkan pada
malam hari. Setelah peristiwa itu, masyarakat Parit Setia merasa terancam dengan
tersebarnya isyu akan ada penyerangan warga Madura kampung Rambaian. Warga kampung
Parit Setia melalui aparat kampung yaitu kepala kampung sudah beberapa kali mengadakan
kontak perdamaian, dengan harapan agar kasus pertikaian antara warga itu diselesaikan
dengan baik, apalagi sesama muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa. Namun upaya
itu tidak dihiraukan, bahkan dipertajam sendiri oleh kepala kampungnya sendiri. Indikator
keterlibatan pimpinan kampung Rambaian adalah pada saat penyerangan kendaraan yang
digunakan adalah kendaraan (truk) kepala kampung (H. Leman) di samping itu, beliau juga

ikut dalam rombongan penyerangan itu. Maka terjadilah tragedi 1 syawal 1419 H. yang
menewaskan tiga orang warga melayu kampung Parit Setia.
3. Konflik Ambon
Konflik fisik di Ambon secara kasat mata dipicu oleh percekcokan di terminal Batu
Merah antara Usman, pemuda Bugis yang tinggal di kawasan Islam, Batu Merah Bawah, dan
Yopie Saiya, pemuda Ambon dari kawasan Kristen, Mardika, tanggal 19 Januari 1999,
bertepatan dengan hari raya Idul Fitri. Peristiwa sepele, dan dianggap biasa oleh masyarakat
setempat, dalam sekejab menimbulkan pertikaian antar kelompok agama dan suku bangsa,
dan meledak menjadi kerusuhan besar di seantero kota Ambon. Kerusuhan itu bahkan meluas
ke seluruh Pulau Ambon tanpa dapat dikendalikan. Kerusuhan yang berlarut-larut di Pulau
Ambon yang semula berpenduduk 312.000 jiwa ini memakan banyak korban jiwa. Korban
pengungsi mencapai sekitar 100.000 jiwa yang lari ke luar Ambon dan menyisakan 20.000
jiwa orang yang terpaksa tinggal di 34 lokasi pengungsian. Kota dan desa-desa di Ambon
bertebaran dengan puing-puing bangunan rumah ibadat, rumah tinggal dan toko yang dibakar
serta diratakan dengan tanah. Kota Ambon dan sebagian desa-desa sekitarnya tersegregasi
ketat dan terbagi dalam 2 wilayah: Islam dan Kristen. Masyarakat dan wilayah Kristen
disebut merah, dan yang Muslim disebut putih. Di kota Ambon, masyarakat hidup dalam
keadaan terpisah: pasar khusus merah, pasar khusus putih, pelabuhan speedboat merah dan
putih, becak merah dan putih, angkot merah dan putih, bank merah dan putih, dan
sebagainya.
Peristiwa Idul Fitri berdarah 19 Januari 1999 bukanlah satu-satunya peristiwa yang
menjadi fakta kebrutalan salibis terhadap kaum Muslimin di Maluku. Bisa dikatakan,
peristiwa tersebut adalah yang terbesar sekaligus awal dari berbagai peristiwa pembantaian
secara masif terhadap kaum Muslimin di Maluku sejak tahun 1998. Tragedi Idul Fitri
berdarah juga telah menjadi awal letupan terjadinya perang agama antara kaum Muslimin
dan kaum salibis secara berkepanjangan hingga perjanjian damai tahun 2002. Rangkaian
peristiwa pembantaian terhadap kaum Muslimin oleh para teroris salibis yang bermula di
Ambon berlanjut sampai Maluku Utara. Salah satu peristiwa paling mengenaskan, setelah
Tragedi Idul Fitri berdarah adalah pembantaian kaum Muslimin yang tengah berlindung di
dalam masjid di kecamatan Tobelo, Halmahera Maluku Utara. Ketika itu mereka diserang
kaum salibis.

Ratusan kaum Muslimin menjadi korban dalam peristiwa pembantaian tersebut.


Saking banyaknya mayat yang ada di dalam masjid, sebagian besarnya hangus terbakar.
Untuk membersihkan masjid dan mengangkat jenazah yang akan dikuburkan secara massal
itu, sampai-sampai diperlukan buldozer untuk mengangkutnya. Perang besar antara kaum
Muslimin dan kaum salibis yang berlangsung cukup lama akhirnya berakhir pada tahun 2002
melalui perjanjian damai yang ditandatangani oleh perwakilan dari kedua belah pihak.
Perjanjian damai yang kemudian dikenal dengan istilah perjanjian Malino bukanlah
perjanjian damai pertama, sebab sebelumnya telah berulangkali dilakukan perjanjian damai
namun selalu dilanggar oleh salibis dengan melakukan penyerangan ke wilayah Muslim.
4. Konflik Papua
Jika dilihat dari sejarah, konflik di tanah papua sudah bisa di rasakan sejak awal
kemerdekaan

indonesia.

Kekisruan

makin

terlihat

ketika

daerah

ini

tergabung

kepada Indonesia setelah adanya penandatangan kesepakan politik antara RI-Belanda yang
difasilitasi PBB pada 1962. Semenjak terintegrasi dengan Indonesia, pergolakan di Papua
tidak juga surut, hal ini di sebabkan dari ada perbedaan presepsi mengenai landasan historis
penyatuan kawasan tersebut dengan Indonesia. Gerakan-gerakan separatis bersenjata
bermunculan dan menyeruak di sepanjang lebih dari tiga dekade bergabungnya papua dengan
indonesia, juga bermunculan adanya indikasi pelanggaran Hak asasi manusia.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa Otsus Papua sebagai kebijakan penanganan
konflik di antara masyarakat Papua dan Pemerintah Indonesia, selama kurun waktu sepuluh
tahun, implementasinya belum menjawab masalah-masalah mendasar masyarakat Papua.
Seperti yang diungkapkan oleh Anthonius Mathius Ayorbaba dalam Tabloid Reformata,
malahan yang terjadi adalah potensi transformasi dari konflik laten ke konflik manivest dan
afternath conflict pada satu sisi , dan pada sisi lainnya implementasi Otsus menjadi pemicu
konflik baru di Tanah Papua.
5. Konflik Poso
Poso adalah kota pinggiran pantai yang tenang-tenang saja di Provinsi Sulawesi
Tengah yang pedesaan itu. Bagi orang kristen, 24 Desember 1998 adalah Malam Natal,
sementara bagi orang-orang Muslim itu persis di tengah-tengah bulan puasa Ramadhan.
Ketika seorang remaja kristen dari lingkungan Muslim Kayamanya, meletuslah huru-hara,
yang terbatas hanya di kota Poso. Tak lama kemudian tiap orang sependapat bahwa sumber

masalahnya adalah alkohol, dan masalah itu dilupakan. Tetapi pada april 2000 kekerasan
yang lebih serius meledak di kota, yang kemudian merembet ke seantero Kabupaten Poso.
Pada Mei 2000, pasukan Kristen membantai sekitar delapan puluh orang Muslim disebuah
daerah kantong Muslim kecil yang tengah berlindung disebuah masjid yang bernama
Walisongo, tak jauh di selatan Kota Poso. Januari 2002, empat bulan setelah serangan 11
September di Amerika Serikat, Poso disebut di Newyork Times. Konflik itu telah bereskalasi
dari pertikaian lokal menjadi sebuah masalah internasional. Konflik-konflik tersebut bisa
bereskalasi karena alasan-alasan yang bisa diterangkan, karena makin banyak orang
memutuskan untuk terlibat.
6. Upaya Meredam Konflik Etnis di Indonesia
Dalam mengatasi dan menyelesaikan suatu konflik bukanlah suatu yang sederhana.
Cepat-tidaknya suatu konflik dapat diatasi tergantung pada kesediaan dan keterbukaan pihakpihak yang bersengketa untuk menyelesaikan konflik, berat ringannya bobot atau tingkat
konflik tersebut serta kemampuan campur tangan (intervensi) pihak ketiga yang turut
berusaha mengatasi konflik yang muncul. Penyelesaian persoalan dengan pemaksaan sepihak
oleh pihak yang merasa lebih kuat, apalagi apabila di sini digunakan tindakan kekerasan fisik,
bukanlah cara yang demokratik dan beradab. Inilah yang dinamakan main hakim sendiri,
yang hanya menyebabkan terjadinya bentrokan yang destruktif. Cara yang lebih demokratik
demi tercegahnya perpecahan, dan penindasan atas yang lemah oleh yang lebih kuat, adalah
cara penyelesaian yang berangkat dari niat untuk take a little and give a little, didasari itikat
baik untuk berkompromi. Musyawarah untuk mufakat, yang ditempuh dan dicapai lewat
negosiasi atau mediasi, atau lewat proses yudisial dengan merujuk ke kaidah perundangundangan yang telah disepakati pada tingkat nasional, adalah cara yang baik pula untuk
mentoleransi terjadinya konflik, namun konflik yang tetap dapat dikontrol dan diatasi lewat
mekanisme yang akan mencegah terjadinya akibat yang merugikan kelestarian kehidupan
yang tenteram.
Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk penyelesaian konflik tersebut, yaitu :
1) Abitrasi, yaitu suatu perselisihan yang langsung dihentikan oleh pihak ketiga
dalam hal ini pemerintah dan aparat penegak hukum yang memberikan keputusan
dan diterima serta ditaati oleh kedua belah pihak dengan memberikan sanksi yang
tegas apabila. Kejadian seperti ini terlihat setiap hari dan berulangkali di mana
saja dalam masyarakat, bersifat spontan dan informal.

2) Mediasi, yaitu penghentian pertikaian oleh pihak ketiga tetapi tidak diberikan
keputusan yang mengikat.
3) Konsiliasi, yaitu usaha untuk mempertemukan keinginan pihak-pihak yang
berselisih sehingga tercapai persetujuan bersama.
4) Stalemate, yaitu keadaan ketika kedua belah pihak yang bertentangan memiliki
kekuatan yang seimbang, lalu berhenti pada suatu titik tidak saling menyerang.
Keadaan ini terjadi karena kedua belah pihak tidak mungkin lagi untuk maju atau
mundur.
5) Adjudication (ajudikasi),

yaitu

penyelesaian

perkara

atau

sengketa

di pengadilan dengan mengutamakan sisi keadilan dan tidak memihak kepada


siapapun.
Untuk mengurangi kasus konflik sosial diperlukan suatu upaya pembinaan yang
efektif dan berhasil, diperlukan pula tatanan, perangkat dan kebijakan yang tepat guna
memperkukuh integrasi nasional antara lain :
1) Membangun dan menghidupkan terus komitmen, kesadaran dan kehendak
untuk bersatu.
2) Menciptakan kondisi dan membiasakan diri untuk selalu membangun
consensus.
3) Membangun kelembagaan (pranata) yang berakarkan nilai dan norma yang
menyuburkan persatuan dan kesatuan bangsa.
4) Merumuskan kebijakan dan regulasi yang konkret, tegas dan tepat dalam
aspek kehidupan dan pembangunan bangsa yang mencerminkan keadilan bagi
semua pihak, semua wilayah.
5) Upaya bersama dan pembinaan integrasi nasional memerlukan kepemimpinan
yang arif dan bijaksana, serta efektif.
Adapun cara-cara yang lain untuk memecahkan konflik adalah ;
1) Aspek kualitas warga sukubangsa
2) Perlunya diberikan pemahaman dan pembinaan mental secara konsisten dan
berkesinambungan terhadap para warga sukubangsa di Indonesia terhadap eksistensi
Bhinneka Tunggal Ika sebagai faktor pemersatu keanekaragaman di Indonesia, bukan
sebagai faktor pemicu perpecahan atau konflik.
3) Perlunya diberikan pemahaman kepada para pihak yang terlibat konflik untuk
meniadakan stereotip dan prasangka yang ada pada kedua belah pihak dengan cara
memberikan pengakuan bahwa masing-masing pihak adalah sederajat dan melalui
kesederajatan tersebut masing-masing anggota sukubangsa berupaya untuk saling

memahami perbedaan yang mereka punyai serta menaati berbagai norma dan hukum
yang berlaku di dalam masyarakat.
4) Adanya kesediaan dari kedua belah pihak yang terlibat konflik untuk saling
memaafkan dan melupakan peristiwa yang telah terjadi.
Terjadinya perdamaian pada konflik antar sukubangsa yang telah terwujud dalam
sebuah konflik fisik tidaklah mudah sehingga perlu adanya campur tangan pihak ketiga yang
memiliki kapabilitas sebagai orang atau badan organisasi yang dihormati dan dipercaya
kesungguhan hatinya serta ketidakberpihakannya terhadap kedua belah pihak yang terlibat
konflik. Peran selaku pihak ketiga dimaksud dapat dilakukan oleh Polri sebagai juru damai
dalam rangka mewujudkan situasi yang kondusif dalam hubungan antar sukubangsa dengan
memberi kesempatan terjadinya perdamaian dimaksud seiring berjalannya proses penyidikan
yang dilandasi pemikiran pencapaian hasil yang lebih penting dari sekedar proses
penegakkan

hukum

berupa

keharmonisan

hubungan

antar

sukubangsa

yang

berkesinambungan. Dalam hal ini, Polri dapat menerapkan metode Polmas dengan
melibatkan para tokoh dari masing-masing suku bangsa Ambon dan Flores yang merupakan
Patron dari kedua belah pihak yang terlibat konflik yang tujuannya adalah agar permasalahan
yang terjadi dapat terselesaikan secara arif dan bijaksana oleh, dari dan untuk kedua
sukubangsa dimaksud termasuk dalam hal menghadapi permasalahan- permasalahan lainnya
di waktu yang akan datang.