Anda di halaman 1dari 9

2.

1 PENGERTIAN DAN KONSEP ADMINISTRASI PENDIDIKAN


2.1.1 Pengertian Administrasi Pendidikan
Administrasi pendidikan seringkali di salah artikan sebagai semata-mata
ketatausahaan pendidikan. Namun dari uraian berikut ini akan diketahui bahwa
pengertian

administrasi pendidikan sebenarnya

adalah bukan sekedar

itu.

Mendefinisikan administrasi pendidikan tidak begitu mudah, karena ia menyangkut


pengertian yang luas. Culberston (1982) mengatakan bahwa Schwab pada tahun enam
puluhan telah mendiskusikan bagaimana kompleksnya administrasi pendidikan
sebagai ilmu.Ia memperkirakan bahwa ada sekitar 50.000 masalah yang mungkin
timbul dalam pelaksanaan administrasi pendidikan. Angka ini ia perkirakan dari
berbagai fenomena yang ada kaitannya dengan administrasi pendidikan, seperti
masyarakat, sekolah, guru, murid, orang tua dan variabel yang berhubungan dengan
itu.
Dengan menggunakan analogi pengertian administrasi pendidikan akan
diterangkan dengan meninjaunya dari berbagai aspeknya. Administrasi pendidikan
dari berbagai aspeknya kita dapat memahaminya dengan lebih baik.
Pertama, administrasi pendidikan mempunyai pengertian kerja sama untuk
mencapai tujuan pendidikan. Seperti kita ketahui, tujuan pendidikan itu merentang
dari tujuan yang sederhana sampai dengan tujuan yang kompleks, tergantung lingkup
dan tingkat pengertian pendidikan mana yang dimaksud. Tujuan yang demikian itu
tidak dapat dicapai oleh satu orang saja, tetapi harus melalui kerja sama dengan orang
lain, dengan segala aspek kerumitannya.
Pada tingkat sekolah, sebagai salah satu bentuk kerjasama dalam mendidikan
misalnya, terdapat tujuan sekolah. Untuk mencapai tujuan pendidikan disekolah itu
diperlukan kerjasama di antara semua personel sekolah (guru, murid, kepala sekolah,
staf tata usaha) dan orang di luar sekolah yang ada kaitannya dengan sekolah (orang
tua, kepala kantor Departemen P dan K, dokter Puskesmas, dan lain-lain). Kerjasama
dalam menyelenggarakan sekolah itu harus dibina sehingga semua yang terlibat
dalam urusan sekolah tersebut memberikan sumbangannya secara maksimal.

Kedua, administrasi pendidikan mengandung pengertian proses untuk


mencapai tujuan pendidikan. Proses itu dimulai dari perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, pemantauan dan penilaian. Perencanaan meliputi kegiatan menetapkan
apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapai, beberapa lama, beberapa orang yang
diperlukan dan beberapa banyak biayanya. Perencanaan ini dibuat sebelum suatu
tindakan dilaksanakan.
Pengorganisasian diartikan sebagai kegiatan membagi tugas-tugas kepada
orang yang terlibat dalam kerjasama pendidikan tadi.Karena tugas-tugas ini demikian
banyak dan tidak dapat diselesaikan oleh satu orang saja, maka tugas-tugas ini dibagi
untuk dikerjakan masing-masing anggota organisasi.
Pengkoordinasian mengandung makna menjaga agar tugas-tugas yang telah
dibagi itu tidak dikerjakan menurut kehendak yang mengerjakannya saja, tetapi
menuruti aturan sehingga menyumbang terhadap pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan atau disepakati.
Pengarahan diperlukan agar kegiatan yang dilakukan bersama itu tetap
melalui jalur yang telah ditetapkan, tidak terjadi penyimpangan yang dapat
menimbulkan terjadinya pemborosan.
Disamping pengarahan, suatu kerjasama juga memerlukan proses pemantauan
(monitoring), yaitu suatu kegiatan untuk mengumpulkan data dalam usaha
mengetahui sudah sampai seberapa jauh kegiatan pendidikan telah mencapai
tujuannya, dan kesulitan apa yang ditemui dalam pelaksanaan itu. Pemantauan
dilakukan untuk mendapatkan bukti-bukti atau data dalam menetapkan apakah tujuan
tercapai atau tidak. Dengan perkataan lain, kegiatan pemantauan atau monitoring
adalah kegiatan untuk mengumpulkan data tentang penyeleggaraan suatu proses
pencapaian tujuan.
Proses kerjasama pendidikan itu akhirnya harus dinilai untuk melihat apakah
tujuan yang telah ditetapkan tercapai, dan kalau tidak apakah hambatan-hambatannya.
Penilaian ini dapat berubah penilaian proses kegiatan atau penilaian hasil kegiatan
itu.

Ketiga, administrasi pendidikan dapat dilihat dengan kerangka berpikir


sistem. Sistem adalah keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian dan bagian-bagian
itu berinteraksi dalam suatu proses untuk mengubah masukan menjadi keluaran.

Masukan
Murid

Proses Belajar
Guru
Kurikulum
Lingkungan
Murid
Sarana/prasarana
Organisasi Sekolah

Keluaran
Lulusan

Gambar 1. Administrasi Pendidikan Sebagai Suatu Sistem


Pengertian ini kelihatannya sulit, tetapi sebenarnya tidak demikian. Sekolah
dasar itu merupakan suatu keseluruhan yang memproses murid menjadi lulusan.
Dalam melihat sekolah itu sebagai suatu sistem kita harus melihat; a) masukannya,
yaitu bahan mentah yang berasal dari luar sistem (lingkungan) yang akan diolah
sistem; dalam sistem sekolah dasar masukan ini adalah anak-anak yang masuk
sekolah dasar itu; b) prosesnya, yaitu kegiatan sekolah beserta aparatnya untuk
mengolah masukan menjadi keluaran. Untuk melaksanakan proses ini harus ada
sumber, baik tenaga, saran dan prasarana, uang maupun waktu. Sumber ini seringkali
dinamakan masukan instrumental; dan c) keluaran, yakni masukan yang telah diolah
melalui proses tertentu. Dalam hal ini berupa lulusan.
Mutu lulusan akan sangat tergantung kepada mutu masukan, masukan
instrumental, dan proses itu sendiri. Dengan demikian kemampuan awal murid, latar
belakang murid, keadaan orang tua murid sebagai sebagai masukan mentah.Mutu itu
juga sangat tergantung kepada mutu guru, mutu sarana dan prasarana, mutu dan iklim
kerjasama diantara guru dengan murid, guru dengan guru, serta guru dengan kepala
sekolah, sebagai masukan instrumental.Jika kita melihat administrasi pendidikan
sebagai sistem, maka kita berusaha melihat bagian-bagian sistem itu serta
interaksinya satu sama lain. Bagian-bagian itu sering juga disebut dengan komponen.

Keempat, administrasi pendidikan juga dapat dilihat dari segi manajemen. Jika
administrasi dilihat dari sudut lain, perhatian tertuju kepada usaha untuk melihat
apakah pemanfaatan sumber-sumber yang ada dalam mencapai tujuan pendidikan itu
sudah mencapai sasaran yang ditetapkan dan apakah dalam pencapaian tujuan itu
tidak terjadi pemborosan. Sumber yang dimaksud dapat berupa sumber manusia,
uang, sarana dan prasarana maupun waktu.Upaya harus dicari dalam memanfaatkan
sumber yang tersedia dengan sebaik-baiknya. Seringkali saran dan prasarana yang
ada dalam proses belajar mengajar, belum dimanfaatkan secara baik seperti buku
paket atau bantuan alat-alat seperti mikroskop di sekolah hanya menjadi pajangan
saja.
Kelima, administrasi pendidikan juga dapat dilihat dari segi kepemimpinan.
Administrasi pendidikan dilihat dari kepemimpinan merupakan usaha untuk
menjawab pertanyaan bagaimana dengan kemampuan yang dimiliki administrator
pendidikan itu, ia dapat melaksanakan tut wuri handayani, ing ngarso mangun karso
dan ing ngarso sung tulodo dalam pencapaian tuuan pendidikan. Dengan perkataan
lain bagaimana ia menggerakan dan mengawasi, bekerjasama-sama dan memberi
contoh. Sudah barang tentu administrator yang ingin berhasil harus memahami teori
dan praktek kepemimpinan, serta mampu dan mau untuk melaksanakan pengetahuan
dan kemauannya itu.
Keenam, administrasi pendidikan juga dapat dilihat dari proses pengambilan
keputusan. Kita tahu bahwa melakukan yang mudah.Setiap saat kegiatan sekelompok
orang bukanlah pekerjaan yang mudah. Setiap saat administrator dihadapkan kepada
bermacam-macam masalah, dan ia harus memecahkan masalah itu. Untuk
memecahkan masalah tersebut diperlukan kemampuan dalam mengambil keputusan,
yaitu memilih kemungkinan tindakan yang terbaik dari sejumlah kemungkinankemungkinan tindakan yang dapat dilakukan. Setiap guru harus mengambil
keputusan apa yang terbaik bagi muridnya. Karena mengambil keputusan selalu ada
resikonya, maka guru harus mempelajari bagaimana mengambil keputusan yang
baik.Administrasi pendidikan merupakan ilmu yang dapat menuntut pengambilan
keputusan pendidikan yang baik.

Ketujuh, administrasi pendidikan juga dilihat dari segi komunikasi.


Komunikasi dapat diartikan secara sederhana sebagai usaha untuk membuat orang
lain mengerti apa yang kita maksudkan, dan kita juga mengerti apa yang
dimaksudkan orang lain. Jika dalam kerjasama pendidikan tidak ada komunikasi,
maka orang yang bekerjasama itu saling tidak mengetahui apa yang dikerjakan atau
apa yang dimaui teman sekerjanya. Bila hal itu terjadi, sebenarnya kerjasama itu tidak
ada dan oleh karena itu administrasi pun tidak ada.
Kedelapan, administrasi seringkali diartikan dalam pengertian yang sempit
yaitu kegiatan ketatausahaan yang intiny adalah kegiatan rutin catat-mencatat,
mendokumentasikan kegiatan, menyelenggarakan surat menyurat dengan segala
aspeknya, serta mempersiapkan laporan. Pengertian yang demikian tidak terlalu
salah, karena setiap aspek kegiatan administrasi dengan pengertian di atas, selalu
memerlukan kegiatan pencatatan.Hanya yang perlu diingat, kegiatan tata usaha itu
tidak seluruhnya mencerminkan pengertian administrasi dalam arti seperti yang
dipaparkan pada butir-butir satu sampai tujuh di atas.
2.1.2 Konsep Administrasi Pendidikan
Untuk memahami konsep-konsep yang erat hubungannya dengan administrasi
pendidikan di sekolah kita perlu menelusuri konsep sistem pendidikan nasional, dan
sekolah sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional itu.
a) Sistem Pendidikan Nasional
Barangkali cara yang paling baik untuk memahami sistem pendidikan
nasional adalah dengan membaca definisi sistem pendidikan nasional itu dari
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Supaya otentik dan tidak keliru, ada baiknya dikutip langsung Bab I Pasal 1
Ayat 3 Undang-undang tersebut, sebagai berikut:

Sistem pendidikan nasional adalah satu keseluruhan yang terpadu dari semua
satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan satu dengan yang lainnya untuk
mengusahakan tercapainya tujuan pendidikan.
Dalam penjelasan undang-undang tersebut, dikemukakan bahwa sebutan
sistem pendidikan nasional merupakan perluasan dari pengertian sistem pengajaran
nasional seperti yang tertulis dalam Undang-undang Dasar 1945 Bab XIII, Pasal 31
Ayat 2. Perluasan ini memungkinkan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 tidak
membatasi pada pengajaran saja, melainkan meluas kepada masalah yang
berhubungan dengan pembentukan manusia Indonesia. Beberapa hal lain yang kita
temukan mengenai sistem pendidikan nasional dalam undang-undang itu adalah: a)
Sistem pendidikan nasional merupakan alat dan sekaligus tujuan yang sangat penting
dalam mencapai cita-cita nasional; b) sistem pendidikan nasional dilaksanakan secara
semesta, menyeluruh, dan terpadu. Semesta diartikan sebagai terbuka bagi seluruh
rakyat dan berlaku di seluruh wilayah negara; menyeluruh diartikan sebagai
mencakup semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan; dan terpadu diartikan sebagai
kesalingterkaitan sistem pendidikan nasional itu dengan seluruh usaha pembangunan
nasional; c) pengelolaan sistem pendidikan nasional adalah tanggung jawab menteri P
dan K (UUSPN No. 2/89 Pasal 49). Dari pengertian itu dapat dikemukakan unsurunsur penting dalam sistem pendidikan yang akan kita pekai sebagai titik tolak
pembahasan.
Pertama, sistem pendidikan nasional mempunyai satuan dan kegiatan. Saruan
pendidikan adalah lembaga kegiatan belajar-mengajar yang dapat mempunyai wujud
sekolah, kursus, kelompok belajar ataupun bentuk lain yang berlangsung dalam
bangunan tertentu atau tidak. Yang terakhir ini misalnya satuan pendidikan yang
penyelenggaraannya menggunakan sistem jarak jauh.Dengan kegiatan pendidikan
yang dimaksudkan untuk semua usaha yang ditujukan dalam mencapai tujuan
pendidikan. Kegiatan itu dapat berlangsung dalam satuan pendidikan atau dalam unit
lain yang terkait, seperti yayasan, Kantor Departemen P dan K di semua tingkat serta
dalam berbagai lembaga di luar Departemen P dan K, dan yang terkait atau yang

menyelenggarakan usaha pendidikan. Dengan perkataan lain, kegiatan yang


dimaksud merupakan kegiatan yang dilakukan oleh unsur atau komponen sistem
dalam mencapai tujuan pendidikan baik sendiri-sendiri atau melalui interaksi dengan
sesamanya.
Kedua, sistem pendidikan nasional adalah alat dan tujuan dalam mencapai
cita-cita pendidikan nasional. Sebagai alat berarti sistem itu merupakan wadah yang
dialaminya terdapat kegiatan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.Sebagai
tujuan, sistem pendidikan nasional memberikan rambu-rambu ke mana arah dan
bagaimana seharusnya pendidikan nasional itu dikelola.
Ketiga, sebagai suatu sistem, pendidikan nasional harus dilihat sebagai
keseluruhan unsur atau komponen dan kegiatan pendidikan yang ada di nusantara ini.
Unsur-unsur yang membentuk sistem ini saling berkaitan satu sama lain dan saling
menunjang dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan nasional. Jika kita mengacu
kepada penjelasan Undang-Undang Nomor 2/1989, maka dapat kita temukan bahwa
ciri sistem pendidikan nasional itu adalah: a) berakar kepada kebudayaan nasional
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, b) merupakan suatu kebulatan yang
dikembangkan dalam usaha mencapai tujuan nasional, c) mencakup jalur pendidikan
sekolah dan luar sekolah, d) mengatur jenjang, kurikulum, penetapan kebijaksanaan
(terpusat dan tak terpusat), tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan, kriteria dan
kedudukan penyelenggaraan pendidikan oleh pemerintah dan mesyarakat, kebebasan
penyelenggaraan pendidikan, serta kemudahan untuk mendapatkan pendidikan yang
sesuai dengan peserta didik dan lingkungan.
Unsur-unsur sistem pendidikan nasional menurut Undang-Undang Nomor
2/1989 itu dapat dibedakan atas:
Unsur I
Unsur II

: Dasar, fungsi, dan tujuan sistem (Bab I)


: Norma yang dipakai dalam sistem (Bab III, X, XI, XII, XIII, Bab
XVIII,XV, XVI, Bab XIX, Bab XX)

Unsur III

: Jenjang pendidikan (Bab V)

Unsur IV

: Peserta didik (Bab VI)

Unsur V

: Tenaga Kependidikan (Bab VII)

Unsur VI

: Sumber daya pendidikan (Bab VIII)

Unsur V

: Kurikulum (Bab IX)

Unsur VII

: Organisasi (Bab XIV, XV)

Bila kita gambarkan dalam bentuk diagram, maka gambaran sistem


pendidikan nasional tersebut adalah seperti pada gambar 2 tentang skema sistem
pendidikan nasional.
b) Sekolah sebagai Bagian Sistem Pendidikan Nasional
Telah disebutkan bahwa jenjang pendidikan adalah unsur atau komponen
sistem pendidikan nasional, yaitu termasuk dalam komponen organisasi. Jenjang
pendidikan terdiri atas pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan
tinggi. Pendidikan dasar merupakan pendidikan sembilan tahun, terdiri dari program
pendidikan enam tahun di sekolah dasar dan program pendidikan tiga tahun di
sekolah

lanjutan tingkat pertama

(PP Nomor 28 Tahun 1990). Bentuk satuan

pendidikan dasar terdiri atas sekolah dasar dan sekolah dasar luar biasa.Jika kita
berbicara tentang sekolah menengah, maka kita berbicara tentang dua jenjang sekolah
karena sekolah menengah pertama berada di jenjang pendidikan dasar, sedangkan
sekolah di atas sekolah menengah pertama berada pada jenjang pendidikan
menengah.Program pendidikan S1 dan LPTK (Lembaga Pendidikan dan Tenaga
Kependidikan), dirancang untuk mengajar pada jenjang pendidikan menengah,
meskipun dengan kurikulum yang fleksibel (luwes) lulusan S1 itu juga mampu
mengajar pada jenjang pendidikan dasar.
Di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 1990
tentang Pendidikan Menengah, pendidikan menengah didefinisikan sebagai
pendidikan yang diselenggarakan bagi lulusan pendidikan dasar. Pendidikan
menengah mempunyai bentuk satuan pendidikan yang terdiri atas: a) sekolah
menengah umum, b) sekolah menengah kejuruan, c) sekolah menengah keagamaan,
d) sekolah menengah kedinasan, dan e) sekolah menengah luar biasa. Sebagai suatu
unsur atau komponen sistem pendidikan nasional, sekolah menengah harus ikut
menyumbang terhadap tercapainya tujuan pendidikan nasional.

Berikut ini diberikan bagan (Gambar 1.1) yang melihat sistem pendidikan dari
unsur-unsur yang ada di dalamnya. Sebagai suatu sistem, pendidikan mempunyai
masukan yang diolah melalui proses tertentu untuk dijadikan keluaran. Peserta didik
sebagai masukan, diolah dalam proses pendidikan dan keluaran sebagai lulusan.
Untuk memudahkan unsur-unsur sistem pendidikan itu diidentifikasikan sebagai
unsur yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989.

Prose
Masukan

Keluaran

Dasar, Fungsi, dan Tujuan


Norma: hak warga negara,
hari belajar dan libur sekolah, bahasa pengantar, penilaian, peran serta m
P
Tenaga Kependidikan E
L
Sumber Daya Pendidikan
S
U
Kurikulum
E
L
Badan Pertimbangan R
Pendidikan Nasional
U
Organisasi (satuan, jalur,
jenis,
jenjang,
pengelolaan)
T
S
A
A
N
D
I
D
I
K

Gambar 2.Skema Sistem Pendidikan Nasional


Keterangan:
Kotak di sebelah kiri adalah masukan, di tengah adalah proses, dan di kanan
adalah keluaran sistem pendidikan nasional.

Anda mungkin juga menyukai