Anda di halaman 1dari 25

1

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah S.W.T Yang Maha Esa atas
selesainya makalah yang berjudul Motor Induksi Pada Industri. Atas dukungan moral
dan materil yang diberikan dalam penyusunan makalah ini, maka penulis mengucapkan
terima kasih kepada Bapak M. Noer, S.ST, sehingga penyusun dapat menyelesaikan
makalah ini tanpa ada halangan yang berarti sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Makalah ini disusun dengan tujuan memenuhi tugas perkuliahan. Semoga
makalah ini bisa bermanfaat bagi para pembaca dan bisa menjadi pemacu semangat
belajar tentang aplikasi motor induksi pada ekalator. Serta rangkaian, dan prinsip kerja.
Demikian kiranya makalah ini kami buat, makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, maka dari itu kami mohon maaf apabila dalam penyusunan makalah ini
masih terdapat banyak kesalahan. Untuk itu saran dan koreksi sangat kami harapkan,
dan atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.

Penyusun

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Suatu bangunan yang besar & tinggi, memerlukan sarana angkut/transportasi
yang nyaman untuk aktifitas perpindahan orang dan barang secara vertikal. Sarana
angkut vertikal yang bekerja secara mekanik elektrik adalah :

Elevator (Lift).

Eskalator

Travelator / Moving walk

Mulai dari jaman kuno sampai jaman pertengahan dan memasuki abad ke-13,
tenaga manusia dan binatang merupakan tenaga penggerak. Pada tahun 1899,
Charles D. Seeberger bergabung dengan Perusahaan Otis Elevator Co., yang mana
dari dia timbullah nama eskalator (yang diciptakan dengan menggabungkan kata
scala, yang dalam bahasa Latin berarti langkah-langkah (step), dengan elevator).
Bergabungnya Seeberger dan Otis telah menghasilkan eskalator pertama step
type eskalator untuk umum, dan eskalator itu dipasang di Paris Exibition 1900 dan
memenangkan hadiah pertama. Mr. Seeberger pada akhirnya menjual hak
patennya ke Otis pada tahun 1910.
Dalam perkembangannya, perusahaan Mitsubishi Electric Corporation telah
berhasil mengembangkan eskalator spiral (kenyataannya lebih cenderung
melengkung/curvedaripada melingkar/spiral) dan secara eksklusif dijual sejak
pertengahan tahun 1980. Eskalator ini dipasang di Osaka, Jepang pada tahun
1985.
Perawatan alat angkut bangunan merupakan hal terpenting yang kadang
terlupakan oleh pemilik bangunan itu sendiri dan bila perawatannya terabaikan
maka akan menyebabkan beberapa masalah serta kendala dalam pemakaiannya
bahkan sampai alat itu sendiri rusak. Apabila hal itu terjadi pasti akan
menyebabkan kerugian yang tidaklah sedikit, baik dari segi perbaikannya maupun
dari segi keselamatan dalam hal terbuangnya waktu yang berharga sehingga
menimbulkan kerugian lain di segi ekonomi. Perawatan yang benar dan berkala
juga akan membuat alat anda berfungsi dengan baik dan terlihat bagus. Oleh

karena itu percayakan perawatan alat transportasi gedung anda kepada sebelum
hal itu terjadi.
Perbaikan atau service repair merupakan hal yang sangat dibutuhkan ketika
alat transportasi bangunan anda sedang dalam keadaan rusak. Tidak jarang
prosesnya memakan waktu dan biaya yang tidak banyak. Oleh karena itu sudah
pastinya anda sebagai konsumen menginginkan yang terbaik

1.2. Rumusan Masalah


Bagaimana cara perawatan dan perbaikan instalasi pada escalator, dan hal-hal apa
saja yang perlu diperhatikan apabila memiliki alat angkut eskalator.
1.3. Tujuan
Diharapkan mahasiswa setelah membuat tugas makalah ini dapat lebih mengerti
tentang instalasi pada eskalator dan menambah wawasan tentang eskalator untuk
mahasiswa yang lain dalam bidang studi kelistrikan.
Tujuan yang lain diantaranya :
1.
2.
3.
4.
5.

Mampu memahami fungsi-fungsi dari eskalator


Memahami jenis-jenis eskalator
Memahami teori perancangan eskalator
Mampu mengaplikasikan tahapan-tahapan perancangan
Memahami sistem pemeliharaan eskalator

BAB II
ISI
2.1.

Motor Induksi
Motor induksi merupakan motor yang paling umum digunakan pada

berbagai peralatan industri. Popularitasnya karena rancangannya yang sederhana, murah


dan mudah didapat, dan dapat langsung disambungkan ke sumber daya AC.
Komponen Motor Induksi Motor induksi memiliki dua komponen listrik utama
sebagai berikut
Rotor.
Motor induksi menggunakan dua jenis rotor
1. Rotor kandang tupai terdiri dari batang penghantar tebal yang dilekatkan
dalam petak-petak slots paralel. Batang-batang tersebut diberi hubungan
pendek pada kedua ujungnya dengan alat cincin hubungan pendek.
2. Lingkaran rotor yang memiliki gulungan tiga fase, lapisan ganda dan
terdistribusi. Dibuat melingkar sebanyak kutub stator. Tiga fase
digulungi kawat pada bagian dalamnya dan ujung yang lainnya
dihubungkan ke cincin kecil yang dipasang pada batang as dengan sikat
yang menempel padanya.
Stator.
Stator dibuat dari sejumlah stampings dengan slots untuk membawa
gulungan tiga fase. Gulungan ini dilingkarkan untuk sejumlah kutub yang
tertentu. Gulungan diberi spasi geometri sebesar 120 derajat.
Konstruksi Motor Induksi (Automated Buildings)

2.2 Pengertian Eskalator


Secara umum peralatan eskalator terdiri atas :
1. Rangka struktur (frame)
2. Rel (rail)
3. Rantai dan roda gigi (chain & gear)
4. Anak tangga (step)
5. Dinding penyangga rel tangan (balustrade)
6. Pegangan tangan (hand rail)
7. Lantai pijak (landing plates)
8. Lantai bergerigi (combplates)
9. Ruang mesin
10. Pencahayaan (lighting)
11. Unit penggerak (drive unit)
12. Peralatan listrik (electrical parts)

Gambar Sketsa Rencana Escalator

2.2.1. Rangka Struktur (frame)


Ada dua jenis rangka struktur, yaitu :
1. Rangka struktur dengan menggunakan solid H - beam
Pada umumnya rangka struktur dibagi atas tiga bagian :

Rangka atas (upper frame)

Rangka tengah (middle frame)

Rangka bawah (lower frame)

Ketiga bagian rangka tersebut dirakit dilokasi pemasangan dengan


menggunakan baut khusus (punch bolt).
Keuntungan dari penggunaan rangka struktur dengan solid H beam
adalah :
1. Memudahkan transportasi (bisa dimasukkan kedalam kontainer)
2. Memudahkan pengaturan jalan masuk ke lokasi pemasangan

3. Lebih mudah untuk dipindahkan setelah unit dipsang.


Sedangkan kerugiannya :
1. Lebih berat dari rangka struktur konstruksi besi siku
2. Untuk pemasangannya diperlukan tenaga terampil.
2. Rangka struktur dengan pemasangan konstruksi besi siku
Berbeda dengan escalator yang menggunakan rangka solid H beam,
rangka jenis ini dikirim ke lokasi pemasangan dalam satu kesatuan
yang talah dirakit lebih dahulu dipabrik pembuat.
Keuntungan dari penggunaan rangka konstruksi besi siku adalah :
Lebih ringan dibandingkan rangka solid H beam.
Lebih cepat didalam pemasangannya
Kerugiannya adalah :

Memerlukan transportasi khusus, terutama untuk unit unit yang


panjang/tinggi.

Jalan masuk kelokasi pemasangan perlu dipersiapkan dari awal


saat pelaksanaan pekerjaan.

2.2.2.

Setelah dipasang agak sulit dipindahkan.

Rel (rail)
Rel berfungsi untuk mengarahklan gerakan luncuran roda rantai penggerak
anak tangga (step chain roller) dan roda anak tangga(step roller). Rel harus
dipasang dan disetel dengan benar agar gerakan roda anak tangga dan roda rantai
penggerak anak tangga halus dan lurus, didalam pengoperasiannya rel ini harus
diberi pelumas, material untuk rel ini umumnya besi siku.
2.2.3 Rantai dan roda gigi (chain and gear)

Rantai dan roda gigi merupakan peralatan penggerak anak tangga dan
pegangan tangan.
Ada beberapa jenis rantai :
1. Rantai penggerak utama (driving chain)
2. Rantai penggerak anak tangga (step chain)
3. Rantai penggerak pegangan tangan (hand rail driving chain)

Ada beberapa janis roda gigi :


1. poros roda gigi atas (upper terminal gear)
2. Poros roda gigi bawah (lower terminal gear)
2.2.4. Anak Tangga (step)

Anak tangga merupakan tempat pijakan dari penumpang escalator dan


bagian permukaannya harus selalu dalam keadaan horizontal pada saat
membawa penumpang. Adapaun material yang digunakan harus terbuat dari
bahan bahan yang tidak mudah terbakar seperti aluminium, stainless steel dan
besi cor.
Untuk memudahkan penumpang dalam membedakan satu anak tangga
dengan anak tangga yang lain harus diberi warna kuning. Ukuran dari anak
tangga ini pada umumnya :
1. 600 mm, untuk satu orang per anak tangga.
2. 800 mm, (permintaan khusus)
3. 1000 mm, untuk dua orang per anak tangga.

2.2.5. Dinding Penyangga Rel Tangan (balustrade)


Yang dimaksud dengan balustrade adalah dinding kiri dan kanan dari escalator.
Dasar dinding yang berdekatan dengan tangga biasanya terbuat dari kaca yang ditemper
dengan ketebalan 10 mm (tempered glass balustrade), dapat juga mengguanakan
stainless steel balustrade. Stainless steel balustrade dipakai untuk escalator yang
dipasang pada stasiun kereta, bandar udara atau tempat lain yang sejenis, dimana
banyak kemungkinan balustrade tersebut terkena benturan dari luar.

Balustrade

2.2.6. Pegangan Tangan (handrail)


Dinding penyangga (balustrade) kiri dan kanan harus dilengkapi dengan rel
penyangga tangan (handrail) yang dapat bergerak kontinu dan bersamaan arah
dengan gerak tangga saat berjalan. Kecepatannya harus sama dengan kecepatan
tangga saat berjalan.
Pegangan tangan berfungsi untuk membantu penumpang pada saat
melangkah masuk atau keluar dari anak tangga, agar penumpang tidak jatuh atau

10

terseret. Material yang dipergunakan untuk pegangan tangan ini adalah karet
khusus (hypalon) dengan yang tahan panas, dimana panas tersebut sebagai
akibat gesekan gesekan, baik yang disebabkan oleh mekanisme penggerak
ataupun oleh gesekan antara handrail dengan frame handrail (aluminium).

Handrail

11

Gambar Handrail
Untuk mekanisme handrail ini juga dilengkapi dengan switch pengaman
terhadap benda benda asing yang terjepit. Pada handrail (1 unit escalator terdapat 2
handrail) kelilingnya harus tersambung secara sempurna, artinya tidak boleh ada
sambungan yang dapat menyebabkan macet akibat toleransi dengan handrail yang kecil
dan pemuaian akibat panas (sifat zat apabila terkena panas akan memuai). Untuk itu
diperlukan toleransi kurang lebih 2 mm, dengan sisi sisi sampingnya. Panas yang
timbul akibat gesekan adalah antara 400 450 C (merupakan panas maksimum untuk
kondisi ruangan tanpa AC).
Mekanisme handrail ini menggunakan penggerak utama berasal dari rol rol step yang
digerakkan oleh rantai dan ditekan pula dengan rol rol khusus yang menekan handrail
sehingga akibat tekanan tersebut dan adanya putaran dari rol rol tersebut
menyebabkan handrail dapat bergerak.

Arah gerak handrail

Arah gerak rantai

Dalam 1 unit escalator terdiri dari 4 unit rol (2 unit untuk menekan dan
menggerakkan bagian atas dan 2 unit bagian bawah), penggerak handrail dan masing
masing terdiri dari 4 rol. Bahan rol tersebut adalah besi cor dan dibagian permukaannya
dilapisi oleh karet tahan panas.

12

Gambar Mekanisme penggerak handrail


2.2.7. Lantai pijak (Landing Plates)
Lantai pijak penting ditempatkan pada bagian masuk dan keluar escalator
dikedua ujung escalator. Lantai selain berfungsi untuk tempat pijakan masuk dan
keluar juga berfungsi sebagai penutup bagian mekanis escalator. Oleh karena itu
harus dapat dibuka atau diangkat untuk memudahkan perbaikan escalator. Lantai
ini harus dibuat dari material yang tahan api dan mampu memberikan
kemantapan saat berpijak.

2.2.8. Lantai Bergerigi (combplates)


Selain lantai pijak yang menutup ruang ruang mesin maupun ruang
mekanis escalator, ada lagi lantai spesifik yang melengkapi escalator yaitu lantai
pijak yang mempunyai alur alur bergerigi di ujungnya. Lantai ini fungsinya
sebagai lantai pendarat bagi penumpang escalator dan alur alur geriginya
berfungsi untuk menyisir kotoran yang ada pada tangga (yang juga beralur).
Gigi pada combplates harus mempunyai kesejajaran dengan alur alur pada
tangga dan ujungnya tidak boleh sampai mengenai alur alur dalam ditangga
tersebut. Bagian yang begerigi harus dapat dipisahkan dengan bagian utama
lantai sehingga jika gigi gigi tersebut patah akan mudah untuk menggantinya.
Jarak antara ujung gigi dengan alur dalam ditangga dan jarak antara akar gigi
dengan bagian atas dari alur ditangga harus berada diantara 2,5 mm sampai 4
mm
2.2.9. Ruang Mesin

13

Ruang mesin harus mempunyai kelonggaran yang cukup untuk seseorang


melakukan perbaikan atau perawatan bagian bagian mekanis dari penggerak
escalator. Ventilasi yang tersedia harus cukup agar panas radiasi dari mesin dapat
segera keluar.
Pencahayaan juga harus ada pada ruang mesin, lampu lampunya harus
dilindungi agar tidak mudah pecah terkena alat alat atau gerak gerak mekanis
komponen mesin. Pintu pintu untuk perawatan dan perbaikan harus
mempunyai kunci yang hanya dapat dibuka oleh orang yang berkepentingan saja
sehingga tidak sembarang orang dapat membukanya.
2.2.10. Pencahayaan (lighting)
Jaringan listrik untuk pencahayaan pada daerah yang dekat dengan kaki,
pencahayaan pada dinding balustrade, dan pencahayaan pada ruang mesin harus
terpisah dari jaringan listrik untuk motor penggerak sehingga jika terjadi
kegagalan pada motor atau komponen lainnya, lampu lampu yang menerangi
escalator akan tetap menyala.
2.2.11. Unit Penggerak (drive unit)
Unit penggerak terdiri dari :
a. motor penggerak (motor induksi)
b. Reduction gear box
c. Rem magnet (magnetic brake)
Motor penggerak adalah motor induksi 3 phasa dengan arus bolak balik,
frekuensi 50 Hz, dapat terhubung bintang atau delta, dengan star-delta starting
ataupun direct on line starting. Putaran dari motor penggerak ini kemudian
diturunkan oleh reduction gear box, sehingga didapat kecepatan linear kurang
lebih 30 meter permenit. Untuk menahan gerakan anak tangga pada saat motor
terhenti, ataupun pada saat suplay daya terputus dipasang rem magnet.

2.1.

Peralatan Listrik (Electrical Parts)


Peralatan listrik dapat dibagi atas :
a.

Panel kontrol

Panel kontrol berfungsi untuk pengatur arah gerak naik dan turun dan juga
berfungsi untuk mematikan atau menghidupkan motor escalator.
b.

Kontak pengaman

14

Escalator dilengkapi dengan kontak kontak pengaman, baik untuk


mencegah terjadinya kecelakaan pada penumpang, maupun untuk mencegah
kerusakan escalator itu sendiri.
Ada dua jenis kontak pengaman :
1.

Reset secara otomatis (automatic reset)

2.

Reset secara manual (manual reset)

Adapun beberapa kontak pengaman yang umum dipasang :


1. Handrail inlet safety switch
Berfungsi untuk mematikan escalator bila terdapat benda asing yang
menahan gerakan pegangan tangan (handrail), ada 4 (empat) buah
kontak pengaman yang dipasang : kanan atas, kiri atas, kanan bawah,
kiri bawah, namun dilihat dari arah gerak escalator hanya 2 buah yang
berfungsi :
-

arah naik : kanan dan kiri atas

arah turun : kanan dan kiri bawah


2. Skirt guard safety switch
Berfungsi untuk mematikan escalator bila ada benda asing yang
terjepit diantara skirt guard dan step (anak tangga), dipasang pada
sisi kanan dan kiri. Jumlahnya disesuaikan dengan panjang escaltor
namun pada umumnya 6 (enam) buah. Kontak adalah jenis reset
otomatis.

3. Driving chain safety switch


Berfungsi untuk mematikan escalator bila rantai penggerak utama
putus. Kontak tidak otomatis reset (manual reset).
4. Step chain tension safety switch
Berfungsi untuk mematikan escalator bila salah satu rantai
penggerak anak tangga (step chain) putus atau tidak tegang. Kontak
tidak otomatis reset.
5. Step roller safety switch
Berfungsi untuk mematikan escaltor bila roda anak tangga keluar
dari rel (tidak normal). Kontak tidak otomatis reset.

15

6. Step travel safety switch


Berfungsi untuk mematikan escalator bila ada gerakan anak tangga
yang tidak normal. Kontak tidak otomatis reset.
c.

Panel Pengoperasian (operating panel board)


Panel pengoperasian sesuai dengan namanya adalah untuk menghidupkan
atau mematikan escalator. Fungsi yang umum tersedia :
1. Tombol nyala (starting switch)
Tombol nyala harus ditempatkan pada kedua ujung escalator (atas dan
bawah) dan penempatannya harus sedemikian rupa sehingga saat
dinyalakan oleh operator, ia dapat melihat pergerakkan tangga. Tombol
ini sebaiknya menggunakan type tombol yang berfungsi dengan
memutar kunci (key operated switch)
2.

Tombol mati (stop switch)


Tombol mati mempunyai warna merah dan ditempatkan di kedua ujung
escalator berdekatan dengan tombol nyala. Jika tombol ini digunakan,
maka ia harus dapat memotong seluruh arus listrik yang bekerja pada

3.

motor penggerak maupun rem.


Tombol mati darurat (emergency stop switch)
Tombol darurat ini harus berwarna merah dan ditempatkan di kedua
ujung escalator pada posisi yang memungkinkan untuk segera
dijangkau tetapi harus pula cukup terlindung dari penyalaan yang tidak
disengaja. Jika tombol ini ditekan, ia harus segera mematikan arus yang
bekerja ada motor penggerak maupun pada rem.
4. Tombol pendeteksi rantai putus ( broken step chain device)
Tiap escaltor harus dilengkapi dengan tombol yang dapat segera
berfungsi mematikan arus listrik ke motor penggerak dan mengaktifkan
rem jika rantai tangga terputus atau terenggang melampaui batas
maksimum regangan jika gerak rantainya terganggu.

5. Tombol pendeteksi kegagalan motor penggerak (broken drive devices)


Jika escalator mempunyai sistem penggerak menghubungkan motor
dengan sproket tangga melalui transmisi rantai, maka tombol ini harus
ditempatkan pada posisi yang memungkinkan segera memotong arus
listrik ke motor dan mengaktifkkan rem saat rantai penggerak putus.

16

Untuk cara cara pengoperasian yang benar, dapat dibaca dari manual operasi
yang diberikan oleh masing masing pabrik pembuat. Beberapa hal yang
penting untuk diperhatikan dalam pengoperasian escalator :
1. Pada saat terjadi kebakaran, gempa bumi atau keadaan darurat lain, hendaknya
seluruh escalator segera dimatikan oleh petugas, blokir jalan masuk / keluar
escalator dan umumkan agar penumpang tidak menggunakan escalator.
2. Untuk mencegah kerusakan escalator dan juga demi keselamatan, dianjurkan
untuk mematikan escalator bila :
a.

Salah satu pegangan tangan tidak berjalan

b.

Ada bunyi tabrakan / gesekan yang tidak normal


c. Keluar asap / bau terbakar dari panel kontrol maupun dari motor atau rem
magnet.

d.

Ada balustrade kaca yang pecah.

e.

Ada salah satu penutup yang lepas

f.

Jumlah penumpang melebihi kapasitas


3. Adapun hal hal yang dianjurkan untuk diperhatikan

a.

Dilarang membuang sampah diatas anak tangga escalator

b.

Anak kecil hendaknya didampingi orang tua

c.

Dilarang duduk diatas anak tangga

d.

Dilarang menaiki / duduk pada pegangan tangan

2.3.

Pemilihan Escalator
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemesanan :
a. Ketinggian dari lantai kelantai (riser)
Setiap escalator dibuat berdasarkan ketinggian dari lantai kelantai dimana
escalator tersebut akan dipasang. Kesalahan menentukan ketinggian dari
lantai ke lantai akan mengakibatkan perbedaan permukaan escalator dan
lantai terakhir
b. Jumlah kapasitas
Berdasarkan kapasitas / kemampuan yang dipilih kemudian ditentukan
jumlah dari escalator yang akan dipasang perlantai baik untuk arah naik
maupun untuk arah turun.
c. Konfigurasi pemasangan

17

Ada dua jenis konfigurasi


1.

Sejajar / paralel
2. Silang (crossing)
Konfigurasi silang merupakan pilihan terbaik untuk kelancaran arus
penumang, namun bila diinginkan penumpang untuk berkeliling terlebih
dahulu seperti halnya pada pusat perbelanjaan, departemen store maka
konfigurasi sejajar merupakan pilihan yang terbaik.

d. Jenis balustrade
Untuk escalator dengan kondisi operasi urban traffic, hendaknya dipilih
panelled stainless balustrade, sedangkan untuk penggunaan pada pusat
perbelanjaan dan sejenis lebih cocok dipakai jenis transparant glass
balustrade. Bila penerangan disekeliling tidak mencukupi atau bila
diinginkan oleh desainer interior dapat dipilih transparantbalustrade dengan
lampu penerangan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan untuk pemasangan escalator :
a. Reaksi dan jarak tumpuan (reaction and support spacing)
Berdasarkan jarak dari lantai kelantai yang telah ditentukan dan juga
berdasarkan sudut (30/35 derajat), maka dapat ditentukan support spacing yang
dibutuhkan agar escalator tersebut dapat terpasang, toleransi umunya berkisar
antara 20 mm sampai 40 mm. Kita tidak perlu menghitung karena brosur
umumnya telah disediakan tabel dari support spacing ini, beserta keterangan
reaksi yang harus dipikul oleh struktur penunjangnya.
b. Pit (sumuran)
Untuk escalator pada lokasi paling bawah diperlukan pit (sumuran), dimensi
untuk pit ini (kedalaman, lebar dan panjang) harus dibuat sesuai dengan
kebutuhan dan kedap air (water proof).
c. Ruang antara (clearence)
Ruang antara yang dibutuhkan adalah minimum 2200 mm dihitung dari level
anak tangga, sepanjang perjalanan dari anak tangga.
2.4.

Perawatan Escalator

18

Kita bicara mengenai suatu arti dari suatu perawatan escalator true value
maintenance. Dalam perawatan escalator berarti kita melakukan suatu
penghematan karena memperpanjang umur dari peralatan tersebut, jika :
-

Dilakukan oleh ahlinya

Menggunakan peralatan (tools) yang cocok

Memakai suku cadang yang tepat dan asli (correct genuine parts)

Dilaksanakan secara sistematis

Berdasarkan pengalaman, maka biaya perawatan escalator adalah :


1. Kurang lebih 3 % dari harga barang pertahun untuk sistem menyeluruh / terpadu
(full maintenance)
2. Kurang lebih 2 % dari harga barang pertahun untuk sekadar oiling and greasing
(OG- Maintenance)
Umur rata rata escalator yang wajar, jika dirawat secara teratur, sistematis
periodik, dapat mencapai labih dari 40 tahun. Setelah berumur 30 sampai 40 tahun
terserah kepada pemiliknya atau pengelola gedung.
Escalator yang tidak dirawat akan rusak dalam waktu kurang lebih 5 6 tahun.
Bila dirawat sekedarnya akan rusak pada umur 8 10 tahun. Sebagai contoh
perbandingan biaya perawatan escalator setelah 40 tahun, dengan perawatan sama
dengan 40 x 3 % = 120 % dari harga harga awal. Sdangkan tanpa perawatan akan
mengalami 4 atau 5 kali ganti baru atau 3 kali lipat lebih mahal.

2.5.

Sistem Perawatan
Ada dua cara berlangganan pemeliharaan escalator yang pada umumnya
dilaksanakan oleh agen pemegang merk dagang, yaitu :

A.

Full or Comprehensive Maintenance (OM)


Sistem perawatan terpadu meliputi :

Pemeriksaan berkala (periodic check up)

Pelumasan (lubrication)

Penyetelan kembali (re-adjustment)

19

B.

Penggantian part (replacement)

Reparasi, kecuali jika ada kerusakan tidak wajar (repair)

Test tahunan (annual test)

Pelayanan macet (call back service)

Oil and Grease (OG), meliputi :

Pemeriksaan berkala

Pelumasan

Penyetelan sekedarnya (minor adjustment)

Sedangkan point no 4 7 atas dasar laporan/ pesanan terpisah, dan


persetujuan tersendiri antara pelaksana dan pemilik atau pengelola
gedung.
Keuntungan dan kerugian antara dua sistem
Atas dasar pengalaman maka sistem OM (full Maintenance)
mempunyai banyak keuntungan dan secara total pada akhirnya lebih
menguntungkan dibandingkan sistem OG.

Daftar perbandingan :
FULL MAINTENANCE (OM)

OIL AND GREASE (OG)

1. Anggaran biaya tidak berubah tiap 1. Biaya naik turun tergantung repair
tiap tahun dapat dianggarkan.

dan part part yang diganti.

2. Tidak perlu negosiasi atas suatu 2. Atas dasar laporan kerusakan dan
kerusakan

persetujuan.

3. Biaya mahal pada awalnya tetapi 3. Biaya murah pada awalnya karena
secara keseluruhan setelah + 10

escalator baru belum ada keausan

20

tahun

menjadi

lebih

murah,

atau kerewelan

seterusnya lebih ekonomis.


4. Beban moral pemilik terhadap 4. Manajemen gedung bertanggung
penyewa gedung berkurang jika

jawab atas kecelakaan penumpang

terjadi kecelakaan

akibat

kelalaian

keterlambatan

mengganti part
2.6.

Prosedur Pelaksanaan
Escalator dibagi atas dua macam golongan komponen :
1. komponen utama yang senantiasa bekerja selama operasi memerlukan
perawatan rata rata 80 jam setahun.
a. Traction machine termsuk motor dan brake
b. Controller, tombol tombol dan travelling cables fixtures
c. - Rantai penarik (traction / chain) dan sproket
- Rantai pembawa step
d. Governor dan tripping switch
e. Step roller and step track
f. Hand rails dan lain lain
2. Komponen sampingan yang kurang / tidak berfungsi atau hanya berfungsi
jika terjadi bahaya / emergency, memerlukan perawatan rata rata 30 jam /
tahun.
a. Step
b. Balustrade
c. Safety device
d. Indle sheave
e. Landing step dan decking
masing masing komponen mendapat giliran pemeriksaan / perawatan
sesuai jadwalnya sehingga tidak ada yang terlupakan mulai dari peralatan pit
terbawah sampai ujung atas kamar mesin.

2.7.

Cara kerja Eskalator


Pendaratan/Landing

21

Floor plate rata dengan lantai akhir dan diberi engsel atau dapat dilepaskan
untuk jalan ke ruang mesin yang berada di bawah floor plates.
Comb plate adalah bagian antara floor plate yang statis dan anak tangga
bergerak. Comb plate ini sedikit miring ke bawah agar geriginya tepat berada
di antara celah-celah anak tangga-anak tangga. Tepi muka gerigi comb plate
berada dibawah permukaan cleat.
Landasan penopang/Truss
Landasan penopang adalah struktur mekanis yang menjembatani ruang antara
pendaratan bawah dan atas. Landasan penopang pada dasarnya adalah kotak
berongga yang terbuat dari bagian-bagian bersisi dua yang digabungkan
bersama dengan menggunakan sambungan bersilang sepanjang bagian dasar
dan tepat dibawah bagian ujungnya. Ujung-ujung truss tersandar pada
penopang beton atau baja.

Struktur perletakan Eskalator pada lantai gedung


3.

Lintasan
Sistem lintasan dibangun di dalam landasan penopang untuk mengantarkan rantai
anak tangga, yang menarik anak tangga melalui loop tidak berujung. Terdapat dua
lintasan: satu untuk bagian muka anak tangga (yang disebut lintasan roda anak

22

tangga) dan satu untuk roda trailer anak tangga (disebut sebagai lintasan roda
trailer). Perbedaan posisi dari lintasan-lintasan ini menyebabkan anak tangga-anak
tangga muncul dari bawah comb plate untuk membentuk tangga dan menghilang
kembali ke dalam landasan penopang.

23

Sistem pergerakan Eskalator

Anak tangga (individual steps) dari Eskalator


Lintasan pembalikan di pendaratan atas menggulung anak tangga-anak tangga
mengelilingi bagian ujung dan kemudian menggerakkannya kembali ke arah yang

24

berbeda. Lintasan overhead berfungsi untuk memastikan bahwa roda trailer tetap
berada di tempatnya saat rantai anak tangga diputar kembali.

BAB III
PENUTUP
3.1.

Kesimpulan
Eskalator adalah sebuah tangga berjalan yang dikendalikan oleh motor
induksi. Biasanya motor yang digunakan adalah motor listrik induksi dengan
tenaga 100 PH (power horse).
Secara umum peralatan eskalator terdiri atas :
1. Rangka struktur (frame)
2. Rel (rail)
3. Rantai dan roda gigi (chain & gear)
4. Anak tangga (step)
5. Dinding penyangga rel tangan (balustrade)
6. Pegangan tangan (hand rail)
7. Lantai pijak (landing plates)
8. Lantai bergerigi (combplates)
9. Ruang mesin

25

10. Pencahayaan (lighting)


11.Unit penggerak (drive unit)
12. Peralatan listrik (electrical parts)
3.2.

Saran
Escalator sebaiknya dilakukan pemeliharaan sesuai dengan jadwalnya agar lebih
awet dan tahan lama dan tidak mudah rusak, dilakukan pemeliharaan yang rutin
sesuai dengan jadwal juga bisa menghemat biaya, karena kalau rusak biaya
untuk memperbaiki itu lebih mahal daripada biaya pemeliharaan.