Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan merupakan investasi untuk mendukung pembangunan ekonomi
serta memiliki peran penting dalam upaya penanggulangan kemiskinan.
Pembangunan kesehatan harus dipandang sebagai suatu investasi untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dalam pengukuran Indeks
Pembangunan Manusia (IPM), kesehatan adalah salah satu komponen utama
selain pendidikan dan pendapatan Dalam Undang-undang Nomor 23 tahun
1992 tentang Kesehatan ditetapkan bahwa kesehatan adalah keadaan sejahtera
dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif
secara sosial dan ekonomi.
Kesehatan adalah unsur vital dan merupakan elemen konstitutif dalam
proses kehidupan seseorang. Tanpa adanya kesehatan yang baik maka tidak
akan ada masyarakat yang produktif. Dalam kehidupan berbangsa,
pembangunan kesehatan merupakan suatu hal yang bernilai sangat insentif.
Nilai investasinya terletak pada tersedianya sumber daya yang senantiasa siap
pakai dan terhindar dari ancaman penyakit. Di Indonesia sendiri tak bisa
dipungkiri bahwa trend pembangunan kesehatan bergulir mengikuti pola
rezim penguasa. Ketika pemerintah negeri ini hanya memandang sebelah mata
pada pembangunan kesehatan, maka kualitas hidup dan derajat kesehatan
masyarakat akan menjadi sangat memprihatinkan.
Salah satu sub sistem kesehatan nasional adalah subsistem pembiayaan
kesehatan. Jika ditinjau dari dari defenisi sehat, sebagaimana yang dimaksud
oleh WHO, maka pembiayaan pembangunan perumahan dan atau pembiayaan
pengadaan pangan, yang karena juga memiliki dampak terhadap derajat
kesehatan, seharusnya turut pula diperhitungkan. Pada akhir akhir ini, dengan
makin kompleksnya pelayanan kesehatan serta makin langkanya sumber dana

yang tersedia, maka perhatian terhadap sub sistem pembiayaan kesehatan


makin meningkat. Pembahasan tentang subsistem pembiayaan kesehatan ini
tercakup dalam suatu cabang ilmu khusus yang dikenal dengan nama ekonomi
kesehatan.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini antara
lain sebagai berikut :
1. Bagaimana definisi jaminan pembiayaan kesehatan?
2. Apa manfaat jaminan pembiayaan kesehatan ?
3. Bagaimana jaminan pembiayaan kesehatan di Indonesia?
4. Apa perbedaan perbandingan jaminan pembiayaan kesehatan di indonesia
dan di malaysia ?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi jaminan pembiayaan kesehatan
2. Untuk mengetahui manfaat jaminan pembiayaan kesehatan
3. Untuk mengetahui jaminan pembiayaan kesehatan di indonesia
4. Untuk

mengetahui

perbedaan

perbandingan

kesehatan di indonesia dan di malaysia

jaminan

pembiayaan

BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Jaminan Pembiayaan Kesehatan
Sub system pembiayaan kesehatan merupakan salah satu bidang ilmu
dari ekonomi kesehatan (health economy). Yang dimaksud dengan biaya
kesehatan

adalah

besarnya

dana

yang

harus

disediakan

untuk

menyelenggarakan dan atau memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang


diperlukan oleh perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat. Dari batasan
ini segera terlihat bahwa biaya kesehatan dapat ditinjau dari dua sudut yakni :
1. Penyedia Pelayanan Kesehatan
Yang dimaksud dengan biaya kesehatan dari sudut penyedia
pelayanan (health provider) adalah besarnya dana yang harus disediakan
untuk dapat menyelenggarakan upaya kesehatan. Dengan pengertian yang
seperti ini tampak bahwa kesehatan dari sudut penyedia pelayanan adalah
persoalan utama pemerintah dan atau pun pihak swasta, yakni pihak-pihak
yang akan menyelenggarakan upaya kesehatan.

2. Pemakai Jasa Pelayanan


Yang dimaksud dengan biaya kesehatan dari sudut pemakai jasa
pelayanan (health consumer) adalah besarnya dana yang harus disediakan
untuk dapat memanfaatkan jasa pelayanan. Berbeda dengan pengertian
pertama, maka biaya kesehatan di sini menjadi persoalan utama para
pemakai jasa pelayanan. Dalam batas-batas tertentu, pemerintah juga turut
mempersoalkannya,

yakni

dalam

rangka

terjaminnya

pemenuhan

kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang membutuhkannya.


Dari batasan biaya kesehatan yang seperti ini segera dipahami
bahwa pengertian biaya kesehatan tidaklah sama antara penyedia
pelayanan kesehatan (health provider) dengan pemakai jasa pelayanan
kesehatan (health consumer). Bagi penyedia pelayanan kesehatan,
pengertian biaya kesehatan lebih menunjuk pada dana yang harus
disediakan untuk dapat menyelenggarakan upaya kesehatan. Sedangkan
bagi pemakai jasa pelayanan kesehatan, pengertian biaya kesehatan lebih
menunjuk pada dana yang harus disediakan untuk dapat memanfaatkan
upaya kesehatan. Sesuai dengan terdapatnya perbedaan pengertian yang
seperti ini, tentu mudah diperkirakan bahwa besarnya dana yang dihitung
sebagai biaya kesehatan tidaklah sama antara pemakai jasa pelayanan
dengan penyedia pelayanan kesehatan. Besarnya dana bagi penyedia
pelayanan lebih menunjuk padaa seluruh biaya investasi (investment cost)
serta seluruh biaya operasional (operational cost) yang harus disediakan
untuk menyelenggarakan upaya kesehatan. Sedangkan besarnnya dana
bagi pemakai jasa pelayanan lebih menunjuk pada jumlah uang yang harus
dikeluarkan (out of pocket) untuk dapat memanfaatka suatu upaya
kesehatan.
Secara umum disebutkan apabila total dana yang dikeluarkan oleh
seluruh pemakai jasa pelayanan, dan arena itu merupakan pemasukan bagi
penyedia pelayan kesehatan (income) adalah lebih besar daripada yang
dikeluarkan oleh penyedia pelayanan kesehatan (expenses), maka berarti

penyelenggaraan upaya kesehatan tersebut mengalami keuntungan (profit).


Tetapi apabila sebaliknya, maka berarti penyelenggaraan upaya kesehatan
tersebut mengalami kerugian (loss).
Perhitungan total biaya kesehatan satu negara sangat tergantung
dari besarnya dana yang dikeluarkan oleh kedua belah pihakk tersebut.
Hanya saja, karena pada umumnya pihak penyedia pelayanan kesehatan
terutama yang diselenggrakan oleh ihak swasta tidak ingin mengalami
kerugian, dan karena itu setiap pengeluaran telah diperhitungkan terhadap
jasa pelayanan yang akan diselenggarakan, maka perhitungan total biaya
kesehatan akhirnya lebih banyak didasarkan pada jumlah dana yang
dikeluarkan oleh para pemakai jasa pelayanan kesehatan saja.
Di samping itu, karena di setiap negara selalu ditemukan peranan
pemerintah, maka dalam memperhitungkan jumlah dana yang beredar di
sektor pemerintah. Tetapi karena pada upaya kesehatan pemerintah selalu
ditemukan adanya subsidi, maka cara perhitungan yang dipergunakan
tidaklah sama. Total biaya kesehatan dari sektor pemerintah tidak dihitung
dari besarnya dana yang dikeluarkan oleh para pemakai jasa, dan karena
itu merupakan pendapatan (income) pemerintah, melainkan dari besarnya
dana

yang

dikeluarkan

oleh

pemerintah

(expenses)

untuk

menyelenggarakan pelayanan kesehatan.


Dari uraian ini menjadi jelaslah untuk dapat menghitung besarnya
total biaya kesehatan yang berlaku di suatu negara, ada dua pedoman yang
dipakai. Pertama, besarnya dana yang dikeluarkan oleh para pemakai jasa
pelayanan untuk sektor swasta. Kedua, besarnya dana yang dikeluarkan
oleh para pemakai jasa pelayanan kesehatan untuk sektor pemerintah.
Total biaya kesehatan adalah hasil dari penjumlahan dari kedua
pengeluaran tersebut.
Telah kita ketahui bersama bahwa sumber pembiayaan untuk
penyediaan fasilitas-fasilitas kesehatan melibatkan dua pihak utama yaitu
pemerintah (public) dan swasta (private). Kini masih diperdebatkan
apakah kesehatan itu sebenarnya barang public atau private mengingat

bahwa fasilitas-fasilitas kesehatan yang dipegang oleh pihak swasta


(private) cenderung bersifat komersil. Di sebagian besar wilayah
Indonesia, sektor swasta mendominasi penyediaan fasilitas kesehatan,
lebih dari setengah rumah sakit yang tersedia merupakan rumah sakit
swasta, dan sekitar 30-50 persen segala bentuk pelayanan kesehatan
diberikan oleh pihak swasta (satu dekade yang lalu hanya sekitar 10
persen). Hal ini tentunya akan menjadi kendala terutama bagi masyarakat
golongan menengah ke bawah. Tingginya biaya kesehatan yang harus
dikeluarkan jika menggunakan fasilitas-fasilitas kesehatan swasta tidak
sebanding dengan kemampuan ekonomi sebagian besar masyarakat
Indonesia yang tergolong menengah ke bawah.

B. Manfaat Jaminan Pembiayaan Kesehatan


1. Penggalian dana
a. Penggalian dana untuk Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM). Sumber
dana untuk UKM terutama berasal dari pemerintah baik pusat maupun
daerah, melalui pajak umum, pajak khusus, bantuan dan pinjaman serta
berbagai sumber lainnya. Sumber dana lain untuk upaya kesehatan
masyarakat adalah swasta serta masyarakat. Sumber dari swasta
dihimpun dengan menerapkan prinsip public-private patnership yang
didukung dengan pemberian insentif, misalnya keringanan pajak untuk
setiap dana yang disumbangkan. Sumber dana dari masyarakat
dihimpun secara aktif oleh masyarakat sendiri guna membiayai upaya
kesehatan masyarakat, misalnya dalam bentuk dana sehat atau
dilakukan secara pasif yakni menambahkan aspek kesehatan dalam
rencana pengeluaran dari dana yang sudah terkumpul di masyarakat,
contohnya dana sosial keagamaan.

b. Penggalian dana untuk Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) berasal


dari masing-masing individu dalam satu kesatuan keluarga. Bagi
masyarakat rentan dan keluarga miskin, sumber dananya berasal dari
pemerintah melalui mekanisme jaminan pemeliharaan kesehatan wajib.
2. Pengalokasian dana
a. Alokasi dana dari pemerintah yakni alokasi dana yang berasal dari
pemerintah untuk UKM dan UKP dilakukan melalui penyusunan
anggaran pendapatan dan belanja baik pusat maupun daerah sekurangkurangnya 5% dari PDB atau 15% dari total anggaran pendapatan dan
belanja setiap tahunnya.
b. Alokasi dana dari masyarakat yakni alokasi dana dari masyarakat
untuk UKM dilaksanakan berdasarkan asas gotong royong sesuai
dengan kemampuan. Sedangkan untuk UKP dilakukan melalui
kepesertaan dalam program jaminan pemeliharaan kesehatan wajib dan
atau sukarela.
3. Pembelanjaan
a. Pembiayaan kesehatan dari pemerintah dan public-private patnership
digunakan untuk membiayai UKM.
b. Pembiayaan kesehatan yang terkumpul dari Dana Sehat dan Dana
Sosial Keagamaan digunakan untuk membiayai UKM dan UKP.
c. Pembelajaan untuk pemeliharaan kesehatan masyarakat rentan dan
kesehatan

keluarga

miskin

dilaksanakan

Pemeliharaan Kesehatan wajib.

C. Jaminan Pembiayaan Kesehatan di Indonesia

melalui

Jaminan

Sumber biaya kesehatan tidaklah sama antara satu negara dengan


negara lain. Secara umum sumber biaya kesehatan dapat dibedakan sebagai
berikut :
1. Bersumber dari anggaran pemerintah
Pada sistem ini, biaya dan penyelenggaraan pelayanan kesehatan
sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah. Pelayanannya diberikan secara
cuma-cuma oleh pemerintah sehingga sangat jarang penyelenggaraan
pelayanan kesehatan disediakan oleh pihak swasta. Untuk negara yang
kondisi keuangannya belum baik, sistem ini sulit dilaksanakan karena
memerlukan dana yang sangat besar. Contohnya dana dari pemerintah
pusat dan provinsi.
2. Bersumber dari anggaran masyarakat
Dapat berasal dari individual ataupun perusahaan. Sistem ini
mengharapkan agar masyarakat (swasta) berperan aktif secara mandiri
dalam penyelenggaraan maupun pemanfaatannya. Hal ini memberikan
dampak adanya pelayanan-pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh pihak
swasta, dengan fasilitas dan penggunaan alat-alat berteknologi tinggi
disertai peningkatan biaya pemanfaatan atau penggunaannya oleh pihak
pemakai jasa layanan kesehatan tersebut. Contohnya CSR atau Corporate
Social Reponsibility) dan pengeluaran rumah tangga baik yang dibayarkan
tunai atau melalui sistem asuransi.
3. Bantuan biaya dari dalam dan luar negeri
Sumber pembiayaan kesehatan, khususnya untuk penatalaksanaan
penyakit-penyakit tertentu cukup sering diperoleh dari bantuan biaya pihak
lain, misalnya oleh organisasi sosial ataupun pemerintah negara lain.
Misalnya bantuan dana dari luar negeri untuk penanganan HIV dan virus

H5N1 yang diberikan oleh WHO kepada negara-negara berkembang


(termasuk Indonesia).
4. Gabungan anggaran pemerintah dan masyarakat
Sistem ini banyak diadopsi oleh negara-negara di dunia karena
dapat mengakomodasi kelemahan-kelemahan yang timbul pada sumber
pembiayaan kesehatan sebelumnya. Tingginya biaya kesehatan yang
dibutuhkan ditanggung sebagian oleh pemerintah dengan menyediakan
layanan kesehatan bersubsidi. Sistem ini juga menuntut peran serta
masyarakat dalam memenuhi biaya kesehatan yang dibutuhkan dengan
mengeluarkan biaya tambahan.
Dengan ikut sertanya masyarakat menyelenggarakan pelayanan
kesehatan, maka ditemukan pelayanan kesehatan swasta. Selanjutnya
dengan diikutsertakannya masyarakat membiayai pemanfaatan pelayanan
kesehatan, maka pelayanan kesehatan tidaklah cuma-cuma. Masyarakat
diharuskan membayar pelayanan kesehatan yang dimanfaatkannya.
Sekalipun pada saat ini makin banyak saja negara yang mengikutsertakan
masyarakat dalam pembiayaan kesehatan, namun tidak ditemukan satu
negara pun yang pemerintah sepenuhnya tidak ikut serta. Pada negara yang
peranan swastanya sangat dominan pun peranan pemerintah tetap
ditemukan. Paling tidak dalam membiayai upaya kesehatan masyarakat,
dan ataupun

membiayai pelayanan kedokteran yang menyangkut

kepentingan masyarakat yang kurang mampu.


Biaya kesehatan banyak macamnya karena semuanya tergantung dari
jenis dan kompleksitas pelayanan kesehatan yang diselenggarakan dan atau
dimanfaatkan. Hanya saja disesuaikan dengan pembagian pelayanan
kesehatan, maka biaya kesehatan tersebut secara umum dapat dibedakan atas
dua macam yakni :
1. Biaya pelayanan kedokteran

Biaya yang dimaksudkan di sini adalah biaya yang dibutuhkan


untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan pelayanan kedokteran,
yakni yang tujuan utamanya untuk mengobati penyakit serta memulihkan
kesehatan penderita.
2. Biaya pelayanan kesehatan masyarakat
Biaya yang dimaksudkan di sini adalah biaya yang dibutuhkan
untuk menyelenggarakan dan atau memanfaatkan pelayanan kesehatan
masyarakat yakni yang tujuan utamanya untuk memelihara dan
meningkatkan kesehatan serta untuk mencegah penyakit.
Sama halnya dengan biaya kesehatan secara keseluruhan, maka masingmasing biaya kesehatan ini dapat pula ditinjau dari dua sudut yakni dari
sudut penyelenggara kesehatan (health provider) dan dari sudut pemakai
jasa pelayanan kesehatan (health consumer).
Suatu biaya kesehatan yang baik haruslah memenuhi beberapa syarat
pokok yakni :
1. Jumlah
Syarat utama dari biaya kesehatan haruslah tersedia dalam jumlah
yang

cukup.

Yang

dimaksud

cukup

adalah

dapat

membiayai

penyelenggaraan semua upaya kesehatan yang dibutuhkan serta tidak


menyulitkan masyarakat yang ingin memanfaatkannya.
2. Penyebaran
Berupa penyebaran dana yang harus sesuai dengan kebutuhan. Jika
dana yang tersedia tidak dapat dialokasikan dengan baik, niscaya akan
menyulitkan penyelenggaraan setiap upaya kesehatan.
3. Pemanfaatan

10

Sekalipun jumlah dan penyebaran dana baik, tetapi jika


pemanfaatannya tidak mendapat pengaturan yang optimal, niscaya akan
banyak menimbulkan masalah, yang jika berkelanjutan akan menyulitkan
masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.
Untuk dapat melaksanakan syarat-syarat pokok tersebut maka perlu
dilakukan beberapa hal, yakni :

a. Peningkatan Efektifitas
Peningkatan efektifitas dilakukan dengan mengubah penyebaran atau
alokasi penggunaan sumber dana. Berdasarkan pengalaman yang
dimiliki, maka alokasi tersebut lebih diutamakan pada upaya
kesehatan yang menghasilkan dampak yang lebih besar, misalnya
mengutamakan upaya pencegahan, bukan pengobatan penyakit.
b. Peningkatan Efisiensi
Peningkatan efisiensi dilakukan dengan memperkenalkan berbagai
mekanisme pengawasan dan pengendalian. Mekanisme yang
dimaksud untuk peningkatan efisiensi antara lain:
a. Standar minimal pelayanan. Tujuannya adalah menghindari
pemborosan. Pada dasarnya ada dua macam standar minimal
yang sering dipergunakan yakni:
1) standar minimal sarana, misalnya standar minimal rumah sakit
dan standar minimal laboratorium.
2) standar minimal tindakan, misalnya tata cara pengobatan dan
perawatan penderita, dan daftar obat-obat esensial.

11

Dengan adanya standard minimal pelayanan ini, bukan saja


pemborosan

dapat

dihindari

dan

dengan

demikian

akan

ditingkatkan efisiensinya, tetapi juga sekaligus dapat pula dipakai


sebagai pedoman dalam menilai mutu pelayanan.
b. Kerjasama.
meningkatkan

Bentuk

lain

efisiensi

yang

ialah

diperkenalkan

memperkenalkan

untuk
konsep

kerjasama antar berbagai sarana pelayanan kesehatan. Terdapat


dua bentuk kerjasama yang dapat dilakukan yakni:
1) Kerjasama institusi, misalnya sepakat secara bersama-sama
membeli peralatan kedokteran yang mahal dan jarang
dipergunakan. Dengan pembelian dan pemakaian bersama
ini dapat dihematkan dana yang tersedia serta dapat pula
dihindari penggunaan peralatan yang rendah. Dengan
demikian efisiensi juga akan meningkat.
2) Kerjasama sistem, misalnya sistem rujukan, yakni adanya
hubungan kerjasama timbal balik antara satu sarana
kesehatan dengan sarana kesehatan lainnya.
Jika diperhatikan syarat pokok pembiayaan kesehatan sebagaimana
dikemukakan di atas, segera terlihat bahwa untuk memenuhinya tidaklah
semudah yang diperkirakan. Sebagai akibat makin meningkatnya
kesadaran masyarakat terhadap kesehatan dan juga karena telah
dipergunakarmya berbagai peralatan canggih, menyebabkan pelayanan
kesehatan semakin bertambah komplek. Kesemuanya ini disatu pihak
memang mendatangkan banyak keuntungan yakni makin meningkatnya
derajat kesehatan masyarakat, namun di pihak lain temyata juga
mendatangkan banyak masalah. Adapun berbagai masalah tersebut jika
ditinjau dari sudut pembiayaan kesehatan secara sederhana dapat
disimpulkan sebagai berikut:

12

a. Kurangnya dana yang tersedia


Di banyak negara terutama di negara yang sedang berkembang,
dana yang disediakan untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan
tidaklah memadai. Rendahnya alokasi anggaran ini kait berkait dengan
masih kurangnya kesadaran pengambil keputusan akan pentingnya arti
kesehatan. Kebanyakan dari pengambilan keputusan menganggap
pelayanan kesehatan tidak bersifat produktif melainkan bersifat
konsumtif dan karena itu kurang diprioritaskan. Kita dapat mengambil
contoh di Indonesia misalnya, jumlah dana yang disediakan hanya
berkisar antara 2 3% dari total anggaran belanja dalam setahun.
b. Penyebaran dana yang tidak sesuai
Masalah lain yang dihadapi ialah penyebaran dana yang tidak
sesuai, karena kebanyakan justru beredar di daerah perkotaan. Padahal
jika ditinjau dari penyebaran penduduk, terutama di negara yang
sedang berkembang, kebanyakan penduduk bertempat tinggal di
daerah pedesaan.

c. Pemanfaatan dana yang tidak tepat


Pemanfaatan dana yang tidak tepat juga merupakan salah satu
masalah yang dihadapi dalam pembiayaan kesehatan ini. Adalah
mengejutkan bahwa di banyak negara tenyata biaya pelayanan
kedokterannya jauh lebih tinggi dari pada pelayanan kesehatan
masyarakat. Padahal semua pihak telah mengetahui bahwa pelayanan
kedokteran dipandang kurang efektif dari pada pelayanan kesehatan
masyarakat.
d. Pengelolaan dana yang belum sempurna

13

Seandainya dana yang tersedia amat terbatas, penyebaran dan


pemanfaatannya belum begitu sempuma, namun jika apa yang dimiliki
tersebut dapat dikelola dengan baik, dalam batas-batas tertentu tujuan
dari pelayanan kesehatan masih dapat dicapai. Sayangnya kehendak
yang seperti ini sulit diwujudkan. Penyebab utamanya ialah karena
pengelolaannya memang belum sempurna, yang kait berkait tidak
hanya dengan pengetahuan dan keterampilan yang masih terbatas,
tetapi juga ada kaitannya dengan sikap mental para pengelola.
e. Biaya kesehatan yang makin meningkat
Masalah lain yang dihadapi oleh pembiayaan kesehatan ialah
makin meningkatnya biaya pelayanan kesehatan itu sendiri.

D. Perbedaan Perbandingan Jaminan Pembiayaan Kesehatan Di Indonesia


dan di Malaysia
Kesehatan merupakan hak setiap manusia di dunia. Hal ini tertuang jelas
dalam Deklarasi Perserikatan Bangsa-Bangsa tahun 1948 tentang Hak Asasi
Manusia pasal 25 ayat (1) setiap orang berhak atas derajat hidup yang
memadai untuk kesehatan dan kesejahteraan dirinya dan keluarganya
termasuk hak atas pangan pakaian, perumahan dan perawatan kesehatan serta
pelayanan sosial yang diperlukan dan berhak atas jaminan pada saat
menganggur, menderita sakit, cacat, menjadi janda/duda, mencapai usia lanjut
atau keadaan lainnya yang mengakibatkan kekurangan nafkah, yang berada di
luar kekuasaannya.
Dengan landasan inilah setiap negara berusaha memenuhi hak kesehatan
bagi warga negaranya. Sistem pembiayaan kesehatan yang dipakai setiap
negara pun berbeda-beda. Secara umum sistem pembiayaan di dunia terbagi
menjadi 4 tipe yaitu Konsep Asuransi swasta dengan subsidi pemerintah
( Traditional Sickness Insurance), Konsep pemerintah membiayai asuransi
14

kesehatan nasional (National Health Insurance), Konsep penyediaan layanan


kesehatan oleh pemerintah (National Health Service), Campuran antara
pembiayaan tradisional dan pembiayaan kesehatan nasional (Health Insurance
dan Health Service).
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai sistem pembiayaan kesehatan
antara Negara Malaysia dengan Negara Indonesia. Walaupun kedua negara ini
merupakan satu rumpun bangsa tetapi sistem pembiayaan kesehatan yang
digunakan ternyata berbeda. Negara Malaysia menganut sistem yang hampir
sama dengan Negara Inggris sedangkan Indonesia mulai tahun 2014
menggunakan sistem berbeda dari tahun sebelumnya yaitu sistem jaminan
kesehatan nasional (SJKN).
1. Malaysia (State Funded System atau Tax Based System)
Sistem pembiayaan kesehatan di Negara Malaysia berkembang lebih
awal dan lebih maju dibandingkan dengan negara Indonesia karena negara
Malaysia merupakan negara persemakmuran Inggris. Dimulai pada tahun
1951 dengan mewajibkan pegawai untuk memulai tabungan wajib
pegawai yang digunakan sebagai tabungan hari tua. Warga yang tidak
diwajibkan untuk mengikuti tabungan wajib hari tua difasilitasi oleh
lembaga EPF (Employee Provident Fund). Selain itu negara juga
menjamin warga yang mendapat kecelakaan kerja atau pensiunan cacat
dengan difasilitasi oleh lembaga SOSCO (Social Security Organitation).
Sistem pembiyaan kesehatan di Malaysia terbagi menjadi dua yaitu
kesehatan publik dan kesehatan privat. Untuk kesehatan publik sumber
dana berasal dari beberapa sumber yaitu pajak masyarakat yang
dibayarkan langsung kepada pemerintah federal, anggaran pendapatan
negara tahunan, dan dari lembaga SOSCO dan EPF. Dana ini kemudian
dialokasikan untuk program preventif dan promotif seperti kesehatan
lingkungan, izin fasilitas kesehatan, Inspeksi Bangunan, kontrol terhadap

15

vektor kebersihan, kontrol terhadap kualitas makanan, kontrol terhadap


penyakit menular, kontrol terhadap kebersihan air, dan perencanaan
pelayanan kesehatan. Sedangkan untuk program kuratif dan rehabilitatif,
Pemerintah Malaysia menetapkan Universal Coverage yaitu semua warga
dijamin atas pelayanan kesehatan yang diterima dengan hanya iur bayar 1
RM (Ringit Malaysia) untuk berobat pada dokter umum serta 5 RM untuk
berobat pada dokter spesialis. Namun beberapa penyakit berat dengan
harga pengobatan yang mahal tidak tercakup dalam sistem pembiayaan
kesehatan ini. Selain untuk program preventif, promotif, kuratif dan
rehabilitatif,

Dana

kesehatan

juga

digunakan

untuk

pembiayaan

pendidikan calon tenaga kesehatan seperti dokter, perawat, bidan, apoteker


dan lain sebagainya.
Biaya pengobatan yang di keluarkan warga untuk berobat relatif murah
(1 RM 5 RM) maka antrian pengobatan di rumah sakit pemerintah
tergolong panjang (untuk penyakit kritis akan didahulukan) sehingga bagi
warga yang tidak sabar untuk mendapatkan layanan pengobatan akan
memilih berobat di sektor swasta dengan uang sendiri (out of pocket).
Atau mereka mengikuti asuransi kesehatan yang disediakan lembaga
swasta dengan penyakit tertentu yang tidak tercover oleh pembiayaan
kesehatan dari pemerintah.
Biaya operasional kesehatan di negara Malaysia tergolong murah
karena pemerintah membebaskan pajak untuk alat kesehatan dan obatobatan. Dokter dibatasi hanya boleh berpraktik di satu tempat yaitu
pelayanan kesehatan milik pemerintah atau memilih bekerja di satu tempat
pelayanan kesehatan milik swasta. Gaji dokter juga sangat tinggi sehingga
mutu kesehatan di negara Malaysia terjamin kualitasnya.
Rumah sakit milik pemerintah melakukan klaim pembiayaan
kesehatan dengan melihat besarnya pengeluaran untuk kesehatan di tahun

16

sebelumnya

kemudian

mengajukan

anggaran

pembiyaan

kepada

Kementrian Kesehatan / MoH ( Ministry of Health )


Kelebihan Model Pembiayaan Malaysia
a. Masyarakat iur bayar dengan harga yang sangat murah yaitu 1 RM 5
RM
b. Walaupun Tenaga kesehatan (dokter) hanya boleh berpraktik di satu
tempat tetapi terjamin kesejahteraannya yaitu dengan gaji yang cukup
tinggi
c. Biaya operasional kesehatan tergolong murah karena alat kesehatan
dan obat-obatan dibebaskan dari pajak
d. Anggaran kesehatan dialokasikan juga untuk pembiyaan pendidikan
tenaga kesehatan
e. Pelayanan kesehatan milik pemerintah terstandarisasi
f. Akses pelayanan kesehatan mudah. Setiap penduduk tinggal maksimal
5 km dari layanan kesehatan (Rumah sakit atau klinik pemerintah)
g. Pajak langsung dibayarkan ke pemerintah federal sehingga tidak ada
dana yang terhambat di daerah
h. Mencangkup lebih banyak orang sampai 100% (universal coverage)
i. Sumber pendanaan berasal dari banyak sektor ( pajak, APBN, EPF,
SOSCO, dll)
j. Lebih mudah dikelola
Kekurangan Model Pembiayaan Malaysia

17

a. Dengan iur bayar yang murah dan layanan kesehatan yang terstandar,
antrian warga berobat panjang. Rumah sakit dan klinik pemerintah
padat oleh pengunjung dengan jumlah tenaga kesehatan dan fasilitas
kesehatan yang terbatas
b. Pembayaran untuk biaya operasional rumah sakit atau klinik
pemerintah dengan cara melihat pengeluaran tahun sebelumnya
sehingga kemungkinan rumah sakit bisa mengalami kerugian apabila
terjadi pembengkakan biaya untuk tahun selanjutnya.
c. Bersifat kurang stabil atau kurang memadai karena anggaran secara
tahunan harus bersaing dengan dinas lain / bagian lain
d. Tidak efisien karena cenderung menguntungkan yang kaya dibanding
dengan masyarakat miskin apabila tidak ada kondisi yang mendukung
misalnya pertumbuhan ekonomi yang baik, administrasi pajak yang
profesional dan institusi yang kompeten
e. Rentan terhadap moral hazard karena masyarakat akan tergantung
dengan pelayanan kesehatan yang gratis sehingga keinginan menjaga
kesehatan menjadi rendah
2. Indonesia
Usaha Indonesia dalam mengikuti arahan PBB dalam menjamin
kesehatan warga negaranya sesungguhnya telah dirintis pemerintah dengan
menyelenggarakan beberapa bentuk jaminan sosial di bidang kesehatan,
diantaranya adalah melalui PT Askes (Persero) dan PT Jamsostek
(Persero) yang melayani kepesertaan dari pegawai negeri sipil, penerima
pensiun, veteran, dan pegawai swasta. Pemerintah memberikan jaminan
melalui skema Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) dan Jaminan
Kesehatan Daerah (Jamkesda) untuk masyarakat miskin dan tidak mampu

18

Namun demikian biaya kesehatan dan mutu pelayanan menjadi sulit


terkendali.
Sehingga pada tahun 2004 sistem pembiayaan kesehatan di
Indonesia berubah dengan dikeluarkan Undang-Undang No.40 tentang
Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) pasal 19 yang berbunyi Jaminan
kesehatan diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi
sosial dan prinsip equitas. Undang-Undang No. 24 Tahun 2011 juga
menetapkan, Jaminan Sosial Nasional akan diselenggarakan oleh BPJS,
yang terdiri atas BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Khusus
untuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) akan diselenggarakan oleh
BPJS Kesehatan yang implementasinya dimulai 1 Januari 2014. Secara
operasional, pelaksanaan JKN dituangkan dalam Peraturan Pemerintah dan
Peraturan Presiden, antara lain: Peraturan Pemerintah No.101 Tahun 2012
tentang Penerima Bantuan Iuran (PBI); Peraturan Presiden No. 12 Tahun
2013 tentang Jaminan Kesehatan; dan Peta Jalan JKN (Roadmap Jaminan
Kesehatan Nasional).
Presiden dalam hal ini selaku pemegang kekuasaan tertinggi negara
merupakan orang yang bertanggung jawab penuh adanya sistem
pembiayaan kesehatan di Indonesia. Dibawah presiden terdapat 4
stakeholder utama dalam berjalannya sistem ini yaitu Kementrian
keuangan yang mempunyai peran dalam pengalokasian dana serta
mengawasi pengelolaan dana yang dikelola oleh BPJS melalui OJK
(Otoritas Jasa Keuangan), Kementrian Kesehatan yang bertugas dalam
membuat regulasi tentang aturan sistem kesehatan, penjaminan mutu
layanan kesehatan, pemerataan layanan kesehatan di berbagai wilayah
Indonesia serta Monitoring dan evaluasi berjalannya sistem jaminan
kesehatan nasional.
DJSN (Dewan Jaminan Sosial Kesehatan) berfungsi untuk
membantu Presiden dalam perumusan kebijakan umum dan sinkronisasi

19

penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional. Stakeholder ke empat


yaitu BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) yaitu lembaga
independen yang berfungsi dalam pengelolaan premi dari peserta JKN dan
penyaluran premi kepada penyedia layanan kesehatan dalam bentuk
kapitasi dan INA CBGs. Dalam menjalankan tugasnya BPJS dibantu oleh
Dewan pengawas dan dewan direksi. Dewan Pengawas terdiri atas 7
(tujuh) orang anggota: 2 (dua) orang unsur Pemerintah, 2(dua) orang unsur
Pekerja, 2 (dua) orang unsur Pemberi Kerja, 1 (satu) orang unsur Tokoh
Masyarakat. Dewan Pengawas tersebut diangkat dan diberhentikan oleh
Presiden. Fungsi Dewan Pengawas adalah melakukan pengawasan atas
pelaksanaan tugas BPJS. Direksi terdiri atas paling sedikit 5 (lima) orang
anggota yang berasal dari unsur profesional. Direksi sebagaimana
dimaksud diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. Direksi berfungsi
melaksanakan penyelenggaraan kegiatan operasional BPJS yang menjamin
peserta untuk mendapatkan manfaat sesuai dengan haknya.
Kepesertaan JKN terbagi menjadi dua yaitu PBI (Penerima
Bantuan Iuran) peserta Jaminan Kesehatan bagi fakir miskin dan orang
tidak mampu sebagaimana diamanatkan UU SJSN yang iurannya dibayari
pemerintah sebagai peserta program Jaminan Kesehatan. Peserta PBI
adalah fakir miskin yang ditetapkan oleh pemerintah dan diatur melalui
peraturan pemerintah dan non PBI yang terdiri dari penerima upah (PNS,
Anggota TNI, Anggota Polri, Pejabat Negara, Pegawai Pemerintah Non
PNS, Pegawai Swasta, dll) , bukan penerima upah dan bukan pekerja
(Investor, pemberi kerja, penerima pensiun, veteran, perintis kemerdekaan,
dll) dengan pembayaran sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan.
Penyedia layanan kesehatan (PPK) dibagi menjadi 3 yaitu PPK 1
yaitu klinik, praktik dokter umum, dokter gigi, dokter keluarga,
puskesmas. Sedangkan PPK tingkat 2 dan 3 yaitu RSUD, RS spesialis.
Kelebihan Sistem JKN

20

a. Dibandingkan dengan asuransi yang bersifat komersial, JKN


merupakan asuransi sosial yang tidak mencari nirlaba/ profit
b. Semua warga bisa tercakup dalam sistem pembiyaan JKNhingga 100%
(Universal Coverage)
c. Pemerintah tidak terlalu terbebani karena sebagian biaya pengobatan
ditanggung oleh warga sendiri dengan sistem bayar premi
d. Warga yang tidak mampu pembayaran premi menjadi tanggung jawab
pemerintah (peserta PBI)
Kekurangan Sisten JKN
a. Adanya kemungkinan fraud (kesalahan koding, perubahan prosedur,
peminimalisisran tindakan dan pemeriksaan diagnosis karena dana
yang terbatas)
b. Tenaga kesehatan dibayar dengan standar (sesuai pagu yang ditetapkan
oleh BPJS disesuaikan dengan jenis penyakit)
c. Mutu kualitas layanan bisa mengalami kemunduran ( dengan biaya
INA CBGs yang terbatas, penyedia layanan kesehatan harus
mengelola dengan bijak agar tidak mengalami kerugian)
d. Ketimpangan penggunaan layanan kesehatan antara daerah kota
dengan daerah pelosok (terbatas dengan ketidak adanya tenaga
kesehatan dan peralatan yang memadai) dengan demikian daerah
perkotaan

akan

lebih

mudah

mengakses

sarana

kesehatan

dibandingkan dengan daerah pelosok sehingga penyaluran dana premi


diserap lebih banyak di daerah perkotaan.
3. Perbedaan Sistem Pembiayaan antara Malaysia dengan Indonesia

21

No
1

2
3

Faktor Pembeda
Sistem pembiayaan kesehatan

Malaysia
Biaya kesehatan ditanggung oleh pemerintah

Peme

dan masyarakat. Biaya berasal dari pajak yang

berta

dibayarkan oleh masyarakat kepada

pemb

pemerintah federal dan masyarakat juga

klaim

diharuskan iur biaya sebesar 1RM-5RM .

peny

Alokasi dana ditentukan oleh Kementrian

kapit

keuangan dan sistem pembiayaan kesehatan

keseh

langsung dikendalikan oleh kementrian

(regu

Sumber biaya
Pengelola sistem pembiyaan

kesehatan / Ministry of Health (MoH)


Pajak dan iur masyarakat
Kementrian Kesehatan / MoH (Ministry of

Prem
Kem

kesehatan

Health)

mem

sistem

peng
4
5

kapit
Bisa mencapai 100% (universal coverage)
Bisa
Warga iur bayar 1 RM-5 RM setiap berobat ke1. pen

Cakupan kepesertaan
Pembayaran oleh peserta

klinik/RS
2.

Rp19
Non
T

dan t

dari p
P

deng

dan p

itu, d

yang
1%.

Ke

bulan

Ke

bulan

22

Ke
6

Tenaga kesehatan

Penyedia layanan kesehatan

Tenaga kesehatan (dokter) dibayar dengan gaji

bulan
Diba

yang tinggi dan hanya boleh berpraktik pada

oleh

satu tempat
Klinik/RS pemerintah

3 tem
Peny

Dokt

Peny

Rum
8

Paket Manfaat

Paket manfaat bersifat komprehensif mulai

spesi
Pake

dari upaya promotif (kampanye hidup sehat),

komp

preventif (kontrol sanitasi lingkungan,

mem

inspeksi banguanan, kontrol sanitasi makanan)

bersi

penyediaan pelayanan tingkat pertama sampai

menc

lanjutan.

kurat
obat

deng

Manf

dima

manf

terika

Manf

akom

tidak

4. Contoh Kasus
Pasien Miskin dan Jaminan Sosial
Senin, 7 Juni 2010

23

Meski sudah banyak aturan dan anjuran agar fasilitas kesehatan


mendahulukan pertolongan kepada pasien, namun penolakan layanan
kepada pasien dengan alasan ekonomi masih kerap terjadi. Kasus
penolakan terhadap Elsa Ainurohmah, bayi berusia enam bulan, putrid
pasangan Paidi (34) dan Septi Nuraini (30) oleh RS Sari Asih, Karawaci
Tangerang, beberapa waktu lalu, misalnya, menambah panjang catatan
hitam kasus serupa di Tanah Air. Bayi mungil itu tidak mendapatkan
layanan medis semestinya karena orangtuanya tak mampu menyanggupi
uang muka Rp 10 juta yang diminta pihak rumah sakit. Akhirnya,
orangtuanya memutuskan untuk memindahkan Elsa ke RSU Tangerang.
Namun, akibat terlambat mendapatkan layanan medis, Elsa meninggal
sebelum tiba di RSU Tangerang

24

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pembiayaan kesehatan merupakan salah satu bidang ilmu dari ekonomi
kesehatan (health economy). Yang dimaksud dengan biaya kesehatan adalah
besarnya dana yang harus disediakan untuk menyelenggarakan dan atau
memanfaatkan berbagai upaya kesehatan yang diperlukan oleh perorangan,
keluarga, kelompok dan masyarakat.
1. Sumber biaya kesehatan dapat berasal dari anggaran pemerintah, anggaran
masyarakat, bantuan dari dalam dan luar negeri, serta gabungan dari
anggaran pemerintah dan masyarakat.
2. Secara umum biaya kesehatan dapat dibedakan menjadi dua, yakni biaya
pelayanan kedokteran dan biaya pelayanan kesehatan masyarakat.
3. Syarat pokok pembiayaan kesehatan adalah jumlah, penyebaran dan
pemanfaatan. Sedangkan fungsi pembiayaan kesehatan adalah penggalian
dana, pengalokasian dana dan pembelanjaan.
4. Masalah pokok pembiayaan kesehatan antara lain seperti kurangnya dana
yang tersedia, penyebaran dana yang tidak sesuai, pemanfaatan dana yang
tidak tepat, pengelolaan dana yang belum sempurna serta biaya kesehatan

25

yang makin meningkat. Sedangkan upaya penyelesaian yang dapat


ditempuh seperti meningkatkan jumlah dana, memperbaiki penyebaran,
pemanfaatan dan pengelolaan dana, serta mengendalikan biaya kesehatan.

B. Saran
Kami menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat
kekurangan dan kekhilafan oleh karena itu, kepada para pembaca dan para
pakar utama penulismengharapkan saran dan kritik ataupun tegur sapa yang
sifatnya membangun akan diterima dengan senang hati demi kesempurnaan
makalah selanjutnya.

KATA PENGANTAR

Assalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh


Puji dan syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT ,karena atas
karunia,taufiq dan hidayah-Nya lah,penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas pertama penulis dalam
mata kuliah ini, yang alhamdulillah dapat penulis selesaikan tepat pada waktunya.
Terima kasih penulis ucapkan kepada pihak-pihak yang telah membantu
dalam penyelesaian makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat tidak
hanya untuk penulis ,namun juga untuk pihak-pihak yang berkenan meluangkan
waktunya untuk membaca makalah ini.
Mengingat keterbatasan penulis sebagai manusia biasa yang tak luput dari
salah dan dosa, penulis menyadari bahwa makalah ini sangat jauh dari kata
sempurna. Oleh karena itu kritikan dan saran yang membangun sangat penulis
harapkan. Agar kedepannya penulis bisa lebih baik lagi.

26

Salah dan khilaf penulis mohon maaf. kepada Allah, penulis mohon
ampun. Wassalammualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bengkulu, 2016
Penulis

i
DAFTAR
ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................


KATA PENGANTAR.......................................................................................i
DAFTAR ISI.....................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang...............................................................1

B.

Rumusan Masalah.........................................................2

C.

Tujuan Penulisan............................................................2

BAB II PEMBAHASAN
A.

Definisi Jaminan Pembiayaan Kesehatan...............................................3

B.

Manfaat Jaminan Pembiayaan Kesehatan ...........................................5

C.

Jaminan Pembiayaan Kesehatan di Indonesia........................................7

27

D.

Perbedaan Perbandingan Jaminan Pembiayaan Kesehatan Di Indonesia dan


di Malaysia ...................................................................................................12

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan...........................................................................................24
B. Kritik dan Saran ...................................................................................24
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................iii

ii

MAKALAH
AKUNTANSI KEUANGAN RUMAH SAKIT
Kasus Biaya dan Pembiayaan Kesehatan

28

Disusun Oleh :
Rahayu Ningsih
Nopitaria
Dendi zahyadi
Joko Purnomo
Dedek Carnando

Dosen Pembimbing :
Heni Febriawati, SKM., MM

KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BENGKULU (UMB)
2016
DAFTAR PUSTAKA

Ali Imran,. 2013. Ekonomi Kesehatan. Kendari : La Ode.


Jaafar, Safurah Noh. Kamaliah, Mohd Muttalib. Khairiyah, Abdul Othman. Nour,
Hanah. Healy, Judith (2013). Malaysia Health System Review.Health
System in Transation Vol (3).No1
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (2012). Buku Pegangan Sosialisasi
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam Sistem jaminan Kesehatan
Nasional. Jakarta

29

iii