Anda di halaman 1dari 1

AL-HIKAM

HARI RAYANYA MURID



"Datangnya kefakiran/kesulitan itu sebagai hari rayanya murid )orang yang sedang melatih diri untuk taqorrub
kepada Alloh(.
Seorang murid itu ketika kedatangan kesulitan, kefakiran, bala,sehingga merasa rendah diri dihadapan Alloh, itu
adalah saat yang terbaik untuk mendapat belas kasih Alloh, dan mempercepat tercapainya tujuan yaitu taqorrub
kepada Alloh.
Sebagaimana diterangkan pada hikmah yang lalu bahwa dengan kefakiran nafsu tidak dapat bagian apa-apa,
yakni dengan kefakiran itu sebagai kemenangan melawan hawa nafsu, sehingga saat yang demikian itu sebagai
hari raya yang sangat menggembirakan, sebab tunduknya hawa nafsu, hilangnya rasa kesombongan,ujub atau
besar diri.






Terkadang pada saat kefakiran itu engkau bisa mendapatkan kelebihan karunia dan kebesaran dari Alloh, yang
tidak bisa engkau dapatkan dengan puasa dan sholat.
Itu bisa terjadi sebab puasa dan sholat terkadang karena kesenangan dan kepentingan hawa nafsu,sehingga
ibadahnya tidak bisa selamat dari afatnya ibadah seperti riya, takabbur, ujub dan lain-lain. Berbeda ketika dalam
kondisi fakir, akan hilang kesenangan dan kepentingan hawa nafsu. Dan lagi hikmah ini bisa di artikan bahwa
datangnya kefakiran, bala itu sebagai nikmat batin )samar(.






Berbagai macam ujian bala)kefakiran dan kekurangan(itu, bagaikan hamparan untuk hidangan pemberian dan
karunia dari Alloh.
Dengan datangnya kefakiran, hakikatnya Alloh menempatkan kamu dihadapan Rohmat-Nya, dan cukuplah bagi
kamu apa yang ada dari macam-macam anugerah dari Alloh.Dan lagi apabila Alloh akan memberi anugerah yang
besar kepada hamba, akan tetapi amal ibadah lahiryahnya tidak mencukupi sebagai tebusan karunia alloh, maka
Alloh menguji padanya dengan bala sebagai tebusan berbagai dosa, kemudian diberikannya anugerah karunia
dari Alloh.

"


*
Jika engkau ingin datangnya macam-macam karunia dari Alloh kepadamu, maka bersungguh-sungguhlah dalam
mengakui dan membuktikan kefakiran dan sangat berhajatmu kepada Alloh.
Firman Alloh:Sesungguhnya yang berhak menerima pemberian)shodaqoh( itu hanyalah mereka yang benar-benar
fakir.



Buktikan dengan benar sifat-sifatmu, niscaya Alloh membantumu dengan sifat Nya,Buktikan dengan benar sifat
kehinaanmu, niscaya Alloh membantumu dengan sifat kemuliaanNya, Buktikan dengan benar sifat kekuranganmu,
niscaya Alloh membantumu dengan sifat kekuasaanNya, Buktikan dengan benar sifat kelemahanmu, niscaya Alloh
membantumu dengan sifat kekuatanNya.
Kedua hikmah ini mengajarkan kepada kita supaya menempati posisi kita yang semestinya, yaitu sebagai hamba,
yang mempunyai sifat asli yaitu: fakir, kurang lemah, hina, dan bodoh. Apabila kita mengakui dan memposisikan
diri sebagai hamba, niscaya Alloh akan menolong kita, memberi kemudahan dan karuniaNya kepada kita. Dan
ketika Alloh memberikan kekayaan, kemuliaan, kekuasaan dan kekuatan, kita akan sadar dan merasa bahwa itu
semua dari Alloh, bukan dari diri sendiri, dan bukan dari selain Alloh.itulah tauhid yang murni, yang tidak ada
Tuhan, tidak ada daya kekuatan, melainkan Alloh, dan semata-mata bantuan dan pertolonganNya, tanpa ada
perantara dari luar maupun dari dalam diri sendiri. Sebaliknya apabila kita tidak mau menempati kedudukan kita
sebagai hamba, dan lupa akan sifat kehambaan, yang akan menjadikan murka Alloh,dan menyaingi sifat-sifat
Alloh.