Anda di halaman 1dari 7

Likuifaksi bro

Pencairan tanah
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Dampak pencairan tanah pada gempa bumi Niigata 1964

Pencairan tanah atau likuifaksi tanah (bahasa Inggris: soil liquefaction) adalah suatu
perilaku tanah yang mengalami perubahan tiba-tiba dari kondisi padat ke kondisi mencair, atau
memiliki sifat seperti air berat. Fenomena ini lebih mungkin terjadi pada tanah berbutiran
renggang atau moderat dengan penyaluran air (drainase) yang buruk, seperti pada pasir
lanauan (silty sand) atau pasirdan kerikil yang dilapisi atau mengandung lapisan sedimen kedap.
Sewaktu terjadi, misalnya pada peristiwa gempa bumi, pasir renggang cenderung untuk
mengalami penurunan volume, yang menyebabkan peningkatan tekanan air pori dan, akibatnya,
penurunan kekuatan geser (shear strength), yaitu penurunan tegangan efektif.

Likuifaksi
Likuifaksi (liquefaction) adalah suatu proses atau kejadian berubahnya sifat tanah dari
keadaan padat menjadi keadaan cair, yang disebabkan oleh beban siklik pada waktu
terjadi gempa sehingga tekanan air pori meningkat mendekati atau melampaui tegangan
vertikal.
Gempa bumi di seluruh dunia sejak 4.000 tahun yang lalu hingga kini, telah memakan
korban lebih dari 13 juta jiwa. Pusat-pusat kepadatan penduduk berada di daerah subur,
kemudahan mendapatkan air, pemandangan yang indah, kawasan tambang, perkotaan
besar serta di daerah industri. Kebanyakan dari wilayah tersebut berada atau
berdekatan dengan wilayah seismik dan sabuk api .
Negara-negara yang sering dilanda gempa bumi di antaranya India, Pakistan, Iran, Cina,
Jepang, Venezuela, Meksiko, Filipina, Indonesia, Amerika Serikat, serta beberapa
negara di Afrika dan Eropa Timur. Kerugian terbanyak terjadi akibat dari besarnya
getaran yang menyebabkan runtuhnya bangunan dengan struktur yang lemah. Peristiwa

likuifaksi juga mengakibatkan amblasnya bangunan, miring, dan melongsor, seperti yang
terjadi di Niigata, Jepang dan di Maumere, Indonesia, tahun 1994.
Gempa besar terjadi dengan besaran antara 6,2-8,9 skala Richter. Faktor lokasi lain
yang memengaruhi kerusakan akibat gempa adalah longsoran, batuan/tanah yang
mengembang (swelling), struktur geologi, seiche (goncangan air di danau atau waduk),
patahan dan likuifaksi. Akibat gempa yang besar ini dapat menimbulkan terjadinya
longsoran, retakan, patahan, likuifaksi, seiche, serta tsunami yang dahsyat pula dan
banyak memakan korban
Setidaknya ada 3 aspek yang menyebabkan terjadinya semburan lumpur panas
tersebut. Pertama, adalah aspek teknis. Pada awal tragedi, Lapindo bersembunyi di
balik gempa tektonik Yogyakarta yang terjadi pada hari yang sama. Hal ini didukung
pendapat yang menyatakan bahwa pemicu semburan lumpur (liquefaction) adalah
gempa (sudden cyclic shock) Yogya yang mengakibatkan kerusakan sedimen
Berikut adalah contoh foto yang di akibat oleh Likuifaksi (liquefaction) :
Ini foto2 kejadian setelah gempa di Niigata, Japan tahun 1964.
(Kutipan di atas saya ambil dari beberapa tutorial Teknik Sipil)
Tanpa saya sadari, Likuifaksi ini adalah bahan skripsi saya waktu menyelesaikan studi
S1 di Teknik sipil tahun 1997. Waktu itu untuk bahan/data2-y diambil dari sondir tanah
utk tower listrik dari Sigli sampai Bireun & data2 S2 dari dosen saya yg beliau dapat dari
Short Course di Nagaoka, Niigata.
Ironis-y beberapa tahun kemudian Likuifaksi terjadi di indonesia :
tsunami di aceh, gempa nias, gempa di yogja, tsunami di pangadaran & lumpur
lapindo..

Apa itu Liquefaction atau Likuifaksi?

Liquefaction atau Likuifaksi adalah fenomena di mana kekuatan dan kekakuan


tanah berkurang dikarenakan gempa atau pergerakan tanah lainnya. Hal ini
merupakan suatu proses atau kejadian berubahnya sifat tanah dari keadaan
padat menjadi keadaan cair, yang disebabkan oleh beban siklik pada waktu
terjadi gempa sehingga tekanan air pori (porewater) meningkat mendekati atau
melampaui tegangan vertikal. Likuifaksi telah bertanggung jawab atas sejumlah
besar kerusakan dalam sejarah gempa bumi di seluruh dunia.

Likuifaksi terjadi di tanah jenuh, yaitu tanah di mana ruang antara partikel individu
benar-benar penuh dengan air. Air ini memberikan suatu tekanan pada partikel
tanah yang mempengaruhi seberapa erat partikel itu sendiri ditekan bersamaan.

Sebelum gempa, tekanan air relatif rendah. Namun, getaran gempa dapat
menyebabkan tekanan air meningkat ke titik di mana partikel tanah dengan
mudah dapat bergerak terhadap satu sama lain.

Getaran gempa sering memicu peningkatan tekanan air namun kegiatan


konstruksi yang terkait seperti peledakan juga dapat menyebabkan peningkatan
tekanan air. Ketika likuifaksi terjadi kekuatan tanah menurun dan kemampuan
deposit tanah untuk mendukung pondasi untuk bangunan dan jembatan menjadi
berkurang.

Tanah yang mengalami likuifaksi juga tekanannya lebih tinggi pada dinding
penahan yang dapat menyebabkan struktur tersebut menjadi miring atau geser.
Gerakan ini dapat menyebabkan penurunan tanah (settlement) dan kerusakan
struktur pada permukaan tanah.

Tekanan air yang meningkat juga bisa memicu tanah longsor dan menyebabkan
runtuhnya bendungan.

Kenapa Likuifaksi Bisa Terjadi?

Untuk memahami likuifaksi penting untuk mengenali kondisi yang ada di deposit
tanah sebelum gempa bumi. Deposit tanah terdiri dari satu himpunan partikel
tanah individu. Jika kita melihat secara dekat partikel-partikel ini, kita dapat
melihat bahwa setiap partikel berada dalam kontak dengan sejumlah partikel
lainnya. Berat partikel tanah yang saling melapisi menghasilkan kekuatan kontak
antara partikel, kekuatan ini menahan partikel individu di tempatnya dan
merupakan sumber perkuatan dari tanah.

*kolom biru pada sudut kanan bawah gambar menunjukkan tingkat tekanan air pori dalam tanah

Panjang panah mewakili ukuran kekuatan kontak antara individu butir tanah.
Kekuatan kontak menjadi besar ketika tekanan air pori rendah.

Likuifaksi terjadi ketika struktur pasir jenuh yang longgar rusak karena
pergerakan tanah. Sebagaimana struktur rusak, individu partikel yang longgar
berusaha untuk pindah ke konfigurasi yang padat. Dalam gempa bumi,
bagaimanapun tidak ada cukup waktu untuk air di pori-pori tanah untuk dapat
diperas / dikeluarkan dari tanah. Sebaliknya air "terjebak" dan mencegah partikel
tanah untuk bergerak lebih dekat satu sama lain. Hal ini disertai dengan
peningkatan
tekanan
air
yang
mengurangi
kekuatan
kontak
antara individu partikel tanah , sehingga terjadi pelunakan dan melemahnya
deposit tanah.

Amati betapa kecil kekuatan kontak yang ada karena tekanan air yang tinggi.
Dalam kasus ekstrim tekanan air pori dapat menjadi sangat tinggi sehingga
banyak partikel tanah kehilangan kontak dengan satu sama lain. Dalam kasus
tersebut tanah akan memiliki kekuatan yang sangat sedikit dan akan berperilaku
lebih seperti cairan daripada padat - maka kejadian ini dinamakan "Liquefaction" /
"likuifaksi" (pencairan).