Anda di halaman 1dari 3

Sasakala Lembur Panyalahan

Pada zaman dahulu ada dua orang suami isteri yang sangat
baik, hidup di suatu tempat. Mereka mempunyai peliharaan
yang cukup banyak jumlahnya, salah satu diantaranya
merupakan harimau yang telah jinak serta dipelihara sejak
kecil.
Kebahagiaan mereka bertambah besar setelah dianugrahi
seorang anak yang montok dan mulus.
Kehidupan mereka sehari-hari bercocok tanam. Maka, tak aneh
jika setiap hari mereka tidak ada dirumah, sedangkan bayinya
selalu ditinggalkan dirumah serta dijaga oleh seekor harimau
itu.
Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan tidak
pernah ada kejadian apapun. Namun, pada suatu hari terjadilah
suatu peristiwa yang sangat menyedihkan. Yaitu, pada wakt
mereka pulang dari ladangnya di halaman rumahnya disambut
si harimau itu dengan riangnya.
Denngan mesranya si harimau mengibas-ngibaskan ekornya
sambil menggesek-gesekan badannya kepada mereka. Melihat
tingkah laku si harimau sangat berbeda dari hari-hari biasanya,
tentu saja menimbulkan pertanyaan apa gerangan yang telah
terjadi?
Pada waktu mereka sedang berfikir terlihatlah mulut harimau
berlumuran darah, sehingga mereka menyangka bahwa anak
kesayangannya telah diterkam. Dengan perasaan yang sangat
sedih dan menyesal, ayah sang bayi marah kepada harimau
sambil berkata, binatang keparat! Tak tahu balas budi, sejak
kecil ku urus, ku pelihara baik-baik, kini kau membalas jasaku
dengan kejahatan sehingga kau rela menerkam anak
kesayanganku.
Karena sangat marah, sang ayah menghunus golok dari
sarungnya kemudian dihunuskan dan dipancungkan ke leher
harimau sambilo berkata denagan geramnya, terimalah ini

hukumanmu, hutang darah harus dibayar dengan darah dan


harimau itupun mati seketika.
Sambil menangis istrinya masuk kedalam rumah diikuti oleh
suaminya untuk melihat keadaan anaknya setelah menendang
bangkai harimau yang dianggap jahat sebagai pelampiasan
rasa marahanya.
Setelah mereka berada di dalam rumah apa yang terjadi? Apa
yang mereka lihat? Bayinya sedang berbaring diatas buaian
dengan tidak bergerak lalu diraba-raba dadanya ternyata masih
ada rasa hangat, menurut dugaan mereka pasti bayinya belum
lama meninggal.
Kemudian diguncangkan badan bayi itu agak kencang sehingga
mengakibatkan matanya terbuka perlahan-lahan, kemudian
melihat kearah mereka dan tersenyum manja.
Mereka bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, bayinya
ternyata masih hidup. Selanjutnya mereka menemukan bangkai
seekir ular besar berlumuran darah tergeletak di dekat buaian
sang bayi. Sekarang, mereka sadar bahwa si harimau telah
sangat berjasa kepada mereka (telah menyelamatkan anaknya
daari lilitan ular besar). Disamping kegembiraan atas
keselamatan anaknya, mereka sangat menyesali perbuatannya
membunuh harimau yang sangat besar jasanya terhadap
mereka.
Hal itu terjadi karena salah terka dalam bahasa sunda
nyalahan.
Untuk mengingat kejadian tersebut, sejak terbunuhnya
harimau, tempat tinggal mereka diberi nama Panyalahan
artinya bekas mereka melakukan kesalahan.
Dari hari-kehari tempat itu kian banyak penduduknya
sehuingga tempat tersebut menjadi sebuah kampung yang
maju dan indah juga dapat melaksanakan Tibmantra

Demikian asal mula nama kampung Panyalahan yang sekarang


sudah tidak mungkin lagi akan terjadi hal seperti yang telah
dialami oleh keluarga tersebut.
Menurut keterangan para orang tua dari kampung Panyalahan,
mereka berkata karena terbunuhnya harimau yang tak
berdosa, menyebabkan senjata apapun yang diarahkan
keharimau dengan tujuan untuk membunuhnya, sampai
sekarang tidak akan mempan.
Namun, para orang tua di kampung itu tidak menyebutnya
dengan nama Panyalahan melainkan menyebutnya dengan
sebutan Pamasalahan, karena di daerah tersebut terdapat dua
kejadian pertama seperti yang telah diuraikan diatas, yang
kedua, di Goa Safarwadi/Goa Keramat itu tempat pemecahan
masalah para wali, dan goa yang dimasud itu tempatnya
terdapat di daerah Panyalahan.
Jadi menurut keterangan diatas, kedua-duanya dapat diterima
yaitu kalau keterangan yang pertama tempat kesalahan (salah
terka), keterangan yang kedua tempat para wali mengadakan
permusyawaratan/memecahkan masalah mengenai Ilmu
Agama di Goa Safarwadi.