Anda di halaman 1dari 27

LAPORAN KASUS

KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU

Dokter Muda:
Dewi Noviarti Tanjung, S.Ked 1110311006
Aris Fullanda, S.Ked

1110311031

Try Purwo Fandoko, S.Ked

1110312013

Darayani Okta Safda, S.Ked

1110312135

Preseptor :
dr. Pom Harry Satria, Sp.OG (K)
dr. Syahrial Syukur, Sp.OG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
BAGIAN OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
RSUD SUNGAI DAREH
2016

BAB I
TINJAUAN PUSTAKA
1.1

Kehamilan Ektopik
Definisi adalah suatu kehamilan, dimana telur yang dibuahi berimplantasi dan

tumbuh diluar endometrium kavum uteri . Pada pertengahan abad 20, 200 400
kematian dari 10.000 kasus disebabkan karena kehamilan ektopik . Tahun 1970
pusat control dan prevention Disease ( CDC ) mulai mencatat angka statistik yang
intensif terhadap hamil ektopik , dilaporkan ada 17.800 kasus. 2,3,4,5
Pada tahun 1992 jumlah hamil ektopik meningkat menjadi 108.800.
Namun kasus kematian ( Fatality rate ) menurun dari 35,5 kematian per 10.000
kasus di tahun 1970 mejadi 2,6 per 10.000 kasus di tahun 1992 .4

1.2

Etiologi

Hamil ektopik berasal dari bahasa Yunani yaitu ektopos yang artinya keluar
dari tempatnya dan hal tersebut merujuk pada implantasi sel telur yang sudah
dibuahi yang letaknya diluar rongga uterus . 4
Hamil ektopik menjadi masalah yang besar pada wanita . Hal ini merupakan
hasil dari kerusakan pada reproduksi fisiologi yang diikuti implantasi dan tumbuh
atau berkembangnya hasil konsepsi diluar endometrium , yang diakhiri dengan
kematian fetus . Tanpa kecepatan diagnosis dan pengobatan atau terapi , hamil
ektopik dapat menyebabkan kematian. 3,4,5

Banyak faktor yang menyebabkan resiko timbulnya kehamilan ektopik. Secara


teori segala sesuatu yang mengganggu migrasi embrio ke rongga endometrium
dapat menyebabkan perkembangan gestasi yang ektopik pada wanita. ;1,2,3,6
Faktor tuba

Kerusakan pada tuba fallopi bisa menaikkan angka kehamilan


ektopik setinggi 27 %. Riwayat salpingitis 30 % sampai 50 % dari
wanita

yang

dioperasi

karena

kehamilan

ektopik.

Hasil

pemeriksaan histology menunjukkan 50 % menderita salpingitis


kronik.

Pernah mengalami pembedahan tuba ( 15 % )

Pernah menderita kehamilan ektopik ( resiko rekurensi 20 % )

Kegagalan kontrasepsi
Resiko terjadi kehamilan ektopik bisa mendekati 60 % pada kehamilan
yang terjadi setelah sterilisasi elektif .
Efek hormonal
Kehamilan ektopik naik 10 kali lipat pada kegagalan morning after pill .
Kenaikan lima kali lipat pada pemakai pill yang mengandung hanya
progestin 7% pada pasien IVF ( In Vitro Fertilization )

1.3 Insiden
Dari data Centers For Desease Control and Prevention menunjukkan
peningkatan jumlah kehamilan ektopik yang bermakna selama 20 tahun terakhir
di Amerika Serikat. Kebanyakan kehamilan ektopik adalah kehamilan tuba (96%).
4

Penyebab peningkatan insiden ini adalah:3,4,5,6


1. Peningkatan prevalen infeksi tuba akibat penyakit kelamin yang
menyebabkan kerusakan mukosa tuba tetapi tidak sampai penyumbat
lumen tuba.
2. pemakaian alat kontrasepsi terutama IUD dan progesteron dosis rendah
mencegah terjadinya kehamilan intra uterin
3. Operasi steril yang gagal.
4. Induksi abortus yang menyebabkan infeksi.
5. Obat-obat untuk induksi ovulasi.
6. Operasi dirongga pelvis sebelumnya

termasuk salpingotomi dan

tuboplasti.
7. Teknik diagnostik yang terbaru dan canggih.

Menurut lokasinya, kahamilan ektopik dapat dibagi dalam beberapa


golongan. 10

A. Tuba Fallopii.
1. Pars interstitalis
2. Isthmus
3. Ampula
4. Infindibulum fimbria

B. Uterus
1. Kanalis servikalis
2. Divertikulum
3. Kornu
C. Ovarium.
D. Intra Ligamenter.
E. Abdominal.
F. Kombinasi kehamilan dalam dan luar uterus ( heterotopik ).

Picture Sites and frequencies of ectopic pregnancy. By Donna M. Peretin,


RN. (A) Ampullary, 80%; (B) Isthmic, 12%; (C) Fimbrial, 5%; (D)
Cornual/Interstitial, 2%; (E) Abdominal, 1.4%; (F) Ovarian, 0.2%; (G) Cervical,
0.2%.

1.4

Patologi 2,4,6,
Mukosa tuba bukan merupakan medium yang baik untuk pertumbuhan

blastokis yang berimplantasi didalamnya. Vaskularisasi kurang baik, dan desidua


tidak tumbuh dengan sempurna.
Ada tiga kemungkinan yang terjadi pada kehamilan:
1. Ovum mati dan kemudian diresorbsi, dalam hal ini seringkali adanya
kehamilan tidak diketahui, dan perdarahan dari uterus yang timbul sesudah
meninggalkan ovum, dianggap sebagai haid yang datangnya agak
terlambat.
2. Trofoblast dan villi korialisnya menembus lapisan pseidokapsularis, dan
menyebabkan timbulnya pendarahan dalam lumen tuba. Darah itu
pembesaran tuba (hematosalping), dan dapat pula mengalir terus kerongga
peritoneum, berkumpul dari kavum douglasi, dan menyebabkan hematokel
retrouterina. Peristiwa ini dikenal dengan abortus tuba. Pada abortus tuba
ini, ovum sebahagian atau seluruhnya ikut memasuki lumen tuba ini, ovum
sebahagian atau seluruhnya ikut memasuki tuba dan keluar dari osteum
tuba abdimonalis Abortus tuba biasanya terjadi pada kehamilan di ampula,
darah yang keluar dan kemudian masuk ke rongga peritoneum biasanya
tidak begitu banyak karena dibatasi oleh tekanan dinding tuba.
3. Trofoblast dan villi korialis menembus lapisan muskolaris dan peritoneum
pada dinding tuba dan menyebabkan pendarahan lansung ke rongga
peritoneum. Peristiwa ini sering terjadi pada kehamilan di isthmus, dapat
menyebakan pendarahan banyak karena darah mengalir secara bebas
dalam rongga peritoneum, dan dapat menyebabkan keadaan yang gawat.

Rupture dapat terjadi pada dinding tuba yang menghadap ke mesosalping


darah mengalir antara 2

lapisan mesosalping dan kemudian ke

legamentum latum, dan menyebabkan hematom intraligamenter.

Uterus walaupun tidak terisi medugah didalamnya, pada kehamilan


ektopik juga membesar dan lembek dibawah pengaruh hormon, begitu pula terjadi
pembentukan desidua dalam uterus.
1.5

Gambaran Klinik Kehamilan Tuba 1,2,3,4,5

1. Nyeri.
Merupakan gejala yang paling sering (100 %), yaitu nyeri daerah perut dan
pelvis, dan amenoroe disertai perdarahan pervaginam (60-80 %). Nyeri dapat
bersifat bilateral atau unilateral, pada perut bagian bawah atau seluruhnya atau
hanya perut bagian atas. Bila timbul hemoperitoneum dapat ditemukan nyeri
akibat iritasi diafragma. Secara umum diperkirakan bahwa serangan nyeri
yang sering dirasakan sangat hebat pada ruptura kehamilan ektopik, ini
disebabkan oleh darah yang mengalir ke kavum peritonei.
Prichard dan Adams, 1957 (dalam Cunningham 1995) menemukan bahwa
darah sebanyak 500 cc dalam kavum peritonei lebih sering menimbulkan nyeri
tekan abdomen, distensi intestinal sedang dan rasa nyeri terutama pada puncak
bahu serta akibat iritasi diafragma.
2. Amenore.
Tidak ada terlambat haid, haid tidak menyingkirkan kehamilan tuba.
Riwayat amenore tidak didapatkan pada seperempat kasus. Sebabnya adalah

wanita tersebut menyangka bahwa perdarahan uterus yang sering terjadi pada
kehamilan tuba sebagai haid.
3. Perdarahan Pervaginam atau Spotting.
Selama fungsi endokrin dari plasenta masih ada, perdarahan uterus
biasanya tidak ada, tetapi bila hormon yang mempertahankan endometrium
menjadi tidak adekuat terjadi perdarahan dari mukosa uterus. Perdarahan
biasanya sedikit, coklat kehitaman dan dapat intermitten atau terus menerus.
Meskipun perdarahan pervaginam yang hebat biasanya menunjukkan abortus
pada kehamilan intra uterin tetapi perdarahan seperti itu dapat juga terjadi
pada kehamilan tuba.
4. Nyeri Daerah Perut dan Pelvis.
Nyeri hebat pada perabaan abdomen dan pemeriksaan dalam khususnya
pada pergerakan serviks ditemukan pada tigaperempat kasus.
5. Perubahan-perubahan Pada Uterus.
Akibat kerja hormon-hormon plasenta uterus akan membesar selama 3
bulan pertama kehamilan tuba sampai ukurannya hampir sama dengan
kehamilan intra uterin. Konsistensinyapun sama dengan kehamilan intra uterin
selama janin masih hidup. Uterus dapat terdorong kesalah satu sisi oleh massa
kehamilan ektopik.
6. Tekanan Darah dan Nadi.
Respon awal dari perdarahan tidak merubah tekanan darah atau nadi. Bila
perdarahan berlanjut dan terjadi hipovolemia, tekanan darah dapat turun dan
frekuensi nadi meningkat.

7. Hipovolemia.
Ada 2 cara praktis untuk mendeteksi hipovolemia sebelum terjadi syok
hipovolemia :
a. Tekanan darah dan frekuensi nadi dibandingkan antara saat duduk dan
berbaring.
b. Jumlah urin.

8. Temperatur.
Setelah perdarahan akut temperature dapat normal dan menurun.
Temperature yang mencapai 38 0C dapat terjadi dan mungkin berhubungan
dengan hemoperitoneum. Tetapi temperature yang lebih tinggi jarang terjadi
bila tidak ada infeksi. Temperature merupakan hal yang penting oleh karena
dapat membedakan rupture tuba akibat kehamilan ektopik dari salpingitis
akut.

9. Massa di Pelvik
Massa dipelvik dapat diraba pada 20 % pasien. Massa tersebut bervariasi
dalam ukuran, konsistensi dan posisi. Diameter massa berkisar antara 5-15 cm
dan sering teraba lunak dan elastis. Massa sulit dilakukan pada palpasi oleh
karena nyeri.

10. Hematokel Retrouterina


Yaitu terkumpulnya darah dikavum Douglasi dimana darah tesebut
kemudian diliputi oleh kapsul. Pada awalnya kapsul tersebut terisi dari fibrin,

yang kemudian digantikan oleh jaringan ikat muda. Omentum, kolon sigmoid
dan mesosigmoid dapat melengket pada kapsul ini, sehingga memperkuat
dinding kapsul. Pada keadaan ini terbentuk ruangan dalam kapsul tersebut,
yang sebahagian diisi oleh cairan dan sebahagian diisi oleh darah yang
membeku.
Penyebab yang paling sering adalah abortus kehamilan tuba, terutama
kehamilan pars ampularis. Darah pada abortus tuba keluar melalui ostium tuba
abdominal kerongga peritoneum dan terkumpul dalam kavum Douglasi.
Tanda-tanda perdarahan aktif tidak ada, dan bahkan gejala-gejala yang ringan
dapat hilang. Tetapi darah dapat berkumpul dalam rongga pelvis dengan atau
tanpa ditutupi perlengketan yang menghasilkan hematokel pelvis.
Pada pemeriksaan, biasanya kita dapat meraba tumor dengan permukaan
irregular dengan konsistensi bervariasi (ada bagian padat dan lunak) mengisi
kavum douglasi. Dahulu dikatakan perabaannya adalah seperti bola salju yang
rapuh (snowball crunching). Hematokel retrouterina sebaiknya dievakuasi
perabdominam, dan hasil konsepsi dikeluarkan. Pemasangan drain melalui
vagina tidak dianjurkan karena akan menyebabkan infeksi sekunder.
Hematokel retrouterina yang terinfeksi di drainase melalui vagina .
1.6 Diagnosa 1,6,7
Diagnosis kehamilan ektopik tidak mudah karena beragamnya gambaran
klinis. Mulai dari tanpa gejala sampai menunjukkan tanda-tanda akut abdomen
dan syok hemodinamik. Bila pasien datang pada awal proses penyakit maka dapat
tanpa gejala atau dengan gejala minimal. Gejala klasik trias kehamilan ektopik

adalah nyeri, amenorea dan perdarahan pervaginam. Gejala ini muncul hanya
pada 50 % kasus, paling sering pada kehamilan ektopik yang ruptur.
Abortus tuba adalah gangguan yang umumnya tidak begitu mendadak, dan
dapat memberikan gambaran yang beraneka ragam. Timbul perdarahan dari uterus
yang berwarna hitam, dan rasa nyeri disamping uterus bertambah keras. Pada
pemeriksaan ditemukan disamping uterus sebagai tumor nyeri tekan, agak lembek
dengan batas- batas yang tidak rata dan jelas, kadang-kadang uterus termasuk
dalam tumor tersebut. Kavum douglasi menonjol kevagina karena darah
didalamnya, kadang-kadang teraba dengan jelas hematokel sebagai tumor agak
lembek. Satu gejala yang penting adalah timbul nyeri yang cukup keras apabila
sevik uteri digerakkan.
Pada rupture tuba peristiwa terjadi dengan mendadak dan keadaan
penderita umumnya lebih gawat. Adanya anemi lebih tampak, kadang-kadang
dalam keadaan syok. Gejala dan pemeriksaan fisik berguna untuk menegakkan
diagnosis, tetapi akurasi evaluasi klinis kurang dari 50 %. Pemeriksaan tambahan
sering diperlukan untuk membedakan kehamilan intra uteri atau kehamilan
ektopik.

1.7

Diagnosa Differensial 1,3,6,7


Menegakkan dengan segera diagnosis ruptur kehamilan tuba merupakan

tindakan penyelamatan, dan makin cepat diagnosis kehamilan tuba yang belum
terganggu ditegakkan kemungkinan keberhasilan kehamilan selanjutnya makin
besar.

Brenner dkk melaporkan dari 300 pasien, diagnosis kehamilan ektopik


ditegakkan pertama kali pada sepertiga kasus, sedangkan 11 % ditegakkan pada
kedua kali. Dorfman dkk menganalisa kematian akibat kehamilan ektopik di
Amerika Serikat dari tahun 1979 dampai 1980 menyimpulkan bahwa lebih dari
setengah kematian dapat dicegah bila wanita tersebut dan dokter dapat bertindak
lebih cepat.
Keadaan yang dapat dikelirukan dengan diagnosis kehamilan tuba adalah:

1. Salpingitis.
Pada salpingitis perdarahan abnormal tidak sesering spotting pada
kehamilan tuba. Nyeri dan biasanya bilateral pada salpingitis. Massa dipelvis,
bila teraba, unilateral pada kehamilan tuba sedangkan pada salpingitis kedua
fornik tegak dan lunak. Massa unilateral dengan salpingitis sebaiknya cepat
dipikirkan suatu kehamilan ektopik terinfeksi. Suhu pada salpingitis akut
biasanya lebih dari 380C. Bila ada kecurigaan pada kehamilan ektopik pada
pemeriksaan hCG harus segera dilaksanakan.

2. Abortus Pada Kehamilan Intra Uterin.


Pada abortus insipiens atau inkomplit perdarahan uterus biasanya hebat
dan syok hipovolemik yang terjadi sesuai dengan perdarahan pervaginam yang
timbul. Pada kehamilan tuba, syok hipovolemik lebih berat dibandingkan
jumlah perdarahan pervaginam yang dilihat. Nyeri pada abortus intra uterin
kurang berat, ritmik dengan lokasi digaris abdomen bagian bawah, bila

kehamilan tuba nyeri unilateral atau menyeluruh. Bila embrio atau plasenta
ditemukan divagina atau bagian luar serviks, abortus intra uterin menjadi jelas.
3. Ruptur Korpus Luteum atau Kista Folikuler.
Kista korpus luteum atau kista folikes merupakan kista ovarium yang
paling sering dan lebih mudah pecah dibanding neoplasma lain. Sejumlah
kecil darah dikeluarkan kedalam rongga peritoneum. Perdarahan intra
peritoneal dari kista ovarii sulit dibedakan dari rupture kehamilan tuba.
Walaupun pemeriksaan hCG kadang-kadang dapat membantu diagnosis preoperatif, diagnosis baru dapat dibuat saat dilakukan laparotomi eksplorasi
untuk hemoperitoneum.
4. Kista Terpuntir atau Apendisitis.
Pada torsi kista ovarii dan apendisitis , gejala dan tanda kehamilan dan
perdarahan abnormal pervaginam jarang ditemukan . Bentuk massa pada kista
ovarii terpuntir mempunyai bentuk tersendiri , sedangkan kehamilan tuba tidak
mempunyai gambaran khas . Pada apendisitis jarang ditemukan adanya massa
pada pemeriksaan pervaginam , nyeri pada pergerakkan servik kurang
dibandingkan rupture kehamilan tuba. Lagi pula nyeri pada apendisitis
letaknya lebih diatas . Bila diagnosis ketiganya meleset tidaklah merugikan
penderita karena ketiganya memerlukan tindakan operasi segera .
5. Gangguan Gastrointestinal.
Beberapa wanita dengan rupture kehamilan ektopik , gejala yang menyolok
adalah diare , mual muntah dan nyeri abdomen.

6. IUD
Diagnosis kehamilan ektopik lebih sulit pada wanita yang menggunakan IUD .
IUD tidak mencegah terjadinya kehamilan ektopik . Nyeri pelvis dan
perdarahan uterus dapat terjadi pada keduanya . Pemakaian IUD merupakan
predisposisi untuk terjadinya infeksi adneksa , biasanya terjadi unilateral .
7. Sterilisasi Tuba Sebelumnya.
Tatum dan Schemidt 1977 melaporkan kira-kira 16% kehamilan akibat
kegagalan sterilisasi tuba adalah kehamilan ektopik . sedangkan pemeriksaan
selanjutnya dengan laparascopi , 50% merupakan kehamilan ektopik .
1.8

Penatalaksanaan 5,6,7,
Tujuan

penanganan

harus

dan

tetap

terletak

dalam

upaya

untuk

menyelamatkan jiwa ibu . Dewasa ini penatalaksanaan kehamilan ektopik telah


bergeser dari sekedar mencegah kematian kearah yang lebih sempurna yaitu
memfasilitasi penyembuhan yang cepat , mempertahankan fertilitas dan
mengurangi biaya .
Penatalaksanaan kehamilan tuba tersering adalah salpingektomi ,tetapi tidak
jarang ovarium termasuk dalam gumpalan darah dan sukar dipisahkan , sehingga
terpaksa dilakukan salphingoooforektomi. Darah dalam rongga perut sebanyak
mungkin dikeluarkan , tuba dan ovarium dari sisi lain diperiksa .
Jika penderita sudah punya anak yang cukup , dan terdapat kelainan pada tuba
tersebut , dapat dipertimbangkan untuk mengangkat tuba itu pula ., untuk
mencegah berulangnya kehamilan ektopik . Jika penderita belum punya anak ,
maka pada kelainan pada tuba dapat dipertimbangkan untuk dikoreksi kelainan
tersebut , hingga tuba berfungsi.

Pada rupture tuba , segera dilakukan tranfusi darah dan laparatomi . Pada
laparatomi itu perdarahan selekas mungkin dihentikan .Keadaan umum penderita
terus diperbaiki dan darah dirongga perut sebanyak mungkin dikeluarkan.

BAB II
ILUSTRASI KASUS
Anamnesis :
Seorang pasien wanita Ny.S usia 26 tahun masuk ke IGD RSUD Sungai
Dareh pada tanggal 3 Februari 2016, pukul 22.30 WIB, dengan :
Keluhan Utama :
Keluar darah dari kemaluan sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit.
Riwayat Penyakit Sekarang :

Keluar darah dari kemaluan sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit,
darah berbongkah / menggumpal, berwarna kecoklatan

Nyeri perut menjalar ke ari-ari sejak 3 hari yang lalu

Riwayat keluar darah dari kemaluan di luar siklus haid (-)

Riwayat keluar jaringan seperti daging (+)

Riwayat keluar jaringan seperti mata ikan bergelembung (-)

Tidak haid sejak 2 bulan yang lalu, HPHT 6-12-2015, TP 13-9-2016

Riwayat haid : menarche usia 12 th, siklus teratur 1x sebulan, selama


5-7 hari, 2-3 kali ganti duk tiap hari

Riwayat keputihan (-)

Riwayat demam tidak ada, riwayat trauma tidak ada


Tidak ada mengkonsumsi obat-obat dalam jangka waktu yang lama.
RHM : mual (+), muntah (+), perdarahan per vaginam (-)
Pusing (+), lemah (+)
Mual (+), muntah (+)

BAB dan BAK biasa.

Riwayat Penyakit dahulu :


-

Riwayat hipertensi disangkal

Riwayat diabetes melitus disangkal

Riwayat penyakit jantung disangkal

Riwayat keputihan disangkal

Riwayat trauma/kecelakaan disangkal

Riwayat penyakit ginjal disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit menular, keturunan, atau
kejiwaan.
Riwayat Psikososial :

Pendidikan terakhir Ibu


Pendidikan terakhir Suami
Pekerjaan Ibu
Pekerjaan Suami
Jumlah anggota keluarga
Penghasilan rata rata total ibu

: SD
: SMP
: Ibu rumah tangga
: Petani
: 3 orang
dan suami per bulan Rp 700.000,- , dirasa

hanya cukup untuk makan sehari hari .


Pasien merasa ada masalah yang menghambat dalam melakukan kunjungan
perawatan kehamilan dan kesehatan terutama dari segi biaya.
Pasien ada riwayat pindah tempat tinggal dalam 12 bulan terakhir
Pasien merasa aman tinggal di tempat tinggal sekarang.
Pasien dan anggota keluarga lain tidak ada yang tidur dalam kelaparan

Riwayat Kehamilan Resiko Tinggi


pasien tidak pernah menderita penyakit lain dalam hamil yang sekarang

pasien tidak sedang mengkonsumsi obat saat ini tidak pernah menderita
kelainan kelaian gizi kurang atau buruk sebelumnya
Riwayat Kebiasaan

riwayat merokok selama hamil tidak ada


suami pasien merokok, 5 batang sehari
riwayat konsumsi alkohol selama hamil tidak ada
riwayat konsumsi kopi selama hamil tidak ada
riwayat penggunaaan obat terlarang selama hamil tidak ada

Riwayat perkawinan : 1 kali


Riwayat kehamilan/ abortus/persalinan : 1/-/1
1. Tahun 2010, laki-laki, 3000 gr, cukup bulan, SC, sehat
2. Sekarang
Riwayat Kontrasepsi : KB suntik tahun 2011-2014
Riwayat Immunisasi TT : (+)
PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan umum : sedang
Kesadaran

: composmentis kooperatif

Tekanan darah

: 100/70 mmHg

Nadi

: 78x/menit

Nafas

: 20x/menit

Suhu

: 37oc

STATUS INTERNUS
Mata

: konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik

THT

: tidak ada kelainan

Leher

: JVP 5-2 cmH2O, tiroid tidak membesar

Thoraks

: jantung dan paru DBN

Abdomen

: status obstetrikus

Genitalia

: status obstetrikus

Ekstermitas

: edema (-), R.Fisiologis +/+, R. Patologis -/-

STATUS OBSTETRIKUS
Muka

: kloasma gravidarum (-)

Mammae

: membesar, A/P hiperpigmentasi

Abdomen

Inspeksi
Palpasi

: Tidak membuncit
: Fundus uteri tidak teraba , nyeri tekan (+) , nyeri

lepas

Genitalia
Inspeksi

Perkusi
Auskultasi

(+), defans muscular (-)


: timpani
: bising usus (+) normal

:
: - vulva dan uretra tenang
-Tampak darah sedikit merembes dari vagina berwarna
merah kecoklatan

Pemeriksaan tambahan :
Hb: 6,7 g/dl
Leukosit: 13.000/mm3
Trombosit : 410.000 / mm3
Hematokrit

: 18 %

Golongan Darah: AB
Urin: plano tes (+)

Diagnosis kerja : KET ec susp abortus tuba neglected + riwayat SC 1x + Anemia


Gravid
Sikap

: kontrol KU, VS, PPV, siapkan darah

Terapi

: - IVFD RL 20gtt/i
- IVFD Aminofusin 20 gtt
- Inj Cefotaxime 2x1 gr (iv)
- Inj Asam tranexamat 3x1 (iv)
- Metronidazole 3x1
- Inj Vit K 3x1 (iv)
- Inj Vit C 3x1 (iv)

Anjuran : Laparaskopi Diagnostik


Follow Up
Tanggal 04 Februari 2016, jam 08.00 WIB
S/ Demam (-)
O/

mual (-)

muntah (-)

PPV (-) lemah (+)

Keadaan umum

: sedang

Kesadaran

: komposmentis kooperatif

Tekanan darah

: 100/70 mmHg

Frekuensi nadi

: 82 x / menit

Frekuensi nafas

: 20 x / menit

Suhu

: 370 C

Abdomen

: Nyeri tekan (+)

pucat (+) pusing (-)

Nyeri lepas (-)

Defans muskular (-)


Genitalia

: V/U tenang, PPV (-)

A/ KET ec susp abortus tuba neglected + riwayat SC 1x + Anemia Gravid

Sikap:
-

Kontrol Keadaan Umum, Vitas Sign, perdarahan pervaginam

Siapkan laparatomi
Konsul anestesi dan kamar operasi

Terapi:
- IVFD RL 20gtt/i
- IVFD Aminofusin 20 gtt
- Inj Cefotaxime 2x1 gr (iv)
- Inj Asam tranexamat 3x1 (iv)
- Metronidazole 3x1
- Inj Vit K 3x1 (iv)
- Inj Vit C 3x1 (iv)
Rencana:
- Laparotomi
Jam 10.00 WIB
Darah

: Hb

: 5,8 gr %

Jam 14.00 WIB


Dilakukan laparotomi, ditemukan perdarahan dan ruptur pada tuba kanan,
ditemukan perlengketan pada tuba kanan , perdarahan selama tindakan 350 cc
Diagnosa : post laparotomi a.i KET

(A)

(B)

Terapi :
-

RL drip oksitosin : metergin 1:1 20 gtt/menit


Inj Cefotaxime 2x1 gr (iv)
Inj Asam tranexamat 3x1 (iv)
Metronidazole 3x1
Inj Vit K 3x1 (iv)
Inj Vit C 3x1 (iv)

BAB III
DISKUSI
Telah dirawat seorang pasien wanita umur 26 tahun dengan diagnosa
Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) e.c. susp abortus tuba neglected + riwayat
SC 1 kali + Anemia gravid. Definisi KET adalah apabila zigot terimplantasi di

lokasi-lokasi selain cavum uteri, seperti di ovarium, tuba, serviks, bahkan rongga
abdomen. Istilah kehamilan ektopik terganggu (KET) merujuk pada keadaan yang
menimbulkan gangguan pada kehamilan tersebut sehingga terjadi abortus maupun
ruptur yang menyebabkan penurunan keadaan umum pasien. Diagnosa ditegakkan
berdasarkan anamnesis pada pasien adanya amenorea sejak 2 bulan yang lalu,
riwayat hamil muda positif, pasien mengeluhkan badan lemas, perdarahan
pervaginam sedikit-sedikit sejak 3 hari sebelum masuk rumah sakit, berbongkahbongkah, berwarna merah kecoklatan, membasahi 2 kali ganti duk, disertai
keluarnya jaringan seperti daging, dan nyeri perut menjalar ke ari-ari mendadak.
Tidak ada gejala kehamilan ektopik yang patognomonik , tetapi gejala
klasik terdiri dari nyeri, amenorea dan perdarahan pervaginam. Gejala ini muncul
hanya pada 50 % kasus, paling sering pada kehamilan ektopik yang ruptur. Pasien
juga memiliki riwayat operasi usus buntu pada tahun 2011. Menurut literatur,
gejala yang timbul pada KET antara lain perdarahan yang sedikit sampai banyak
dan dapat bertahan selama beberapa hari atau minggu. Perdarahan pada KET dapat
banyak sekali, sehingga menyebabkan syok dan perdarahan tidak akan berhenti
sebelum sisa hasil konsepsi dikeluarkan.
Berdasarkan status ekonomi pasien termasuk golongan ekonomi
menengah ke bawah dan tidak memiliki jaminan kesehatan. Pasien mempunyai
kendala dalam mengakses pelayanan kesehatan serta biaya untuk kontrol
kehamilannya.
Pada kasus ini telah dilakukan USG untuk melihat sisa jaringan dan lokasi
kantong gestasi supaya dapat menyingkirkan diagnosa banding Abortus insipien
dan Mola hidatidosa. Saat di bangsal RSUD Sungai Dareh didapatkan interpretasi

hasil USG yaitu sisa hasil konsepsi di luar kavum uteri, yakni terdapat di tuba
falopii kanan, hasil USG ini dapat menegakkan lagi diagnosa kehamilan ektopik
terganggu. Berat ringannya nyeri pada KET tergantung banyaknya darah yang
terkumpul dalam peritoneum.
Pada pemeriksaan fisik pasien terlihat pucat,tekanan darah 100/70 mmHg,
nadi 78 kali per menit. Pemeriksaan inspeksi genitlia tampak darah sedikit
merembes ke vagina berwarna merah kecoklatan, serta plano tes (+), dan kadar
Hb 5,8 gr%. Diagnosis kehamilan ektopik terganggu tentunya ditegakkan dengan
anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. KET harus dipikirkan
bila seorang pasien dalam usia reproduktif mengeluhkan nyeri perut bawah yang
hebat dan tiba-tiba, ataupun nyeri perut bawah yang gradual, disertai keluhan
perdarahan per vaginam setelah keterlambatan haid, dan pada pemeriksaan fisik
ditemukan tanda-tanda akut abdomen, kavum Douglas menonjol, nyeri goyang
porsio, atau massa di samping uterus. Adanya riwayat penggunaan AKDR, infeksi
alat kandungan, penggunaan pil kontrasepsi progesteron dan riwayat operasi tuba
serta riwayat faktor-faktor risiko lainnya memperkuat dugaan KET.
Kehamilan

ektopik

pada

dasarnya

disebabkan

segala

hal

yang

menghambat perjalanan zigot menuju kavum uteri. Faktor-faktor mekanis yang


menyebabkan kehamilan ektopik antara lain: riwayat operasi tuba, salpingitis,
perlekatan tuba akibat operasi non-ginekologis seperti apendektomi, salpingitis
isthmica nodosum (penonjolan-penonjolan kecil ke dalam lumen tuba yang
menyerupai divertikula), dan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR). Hal-hal
tersebut secara umum menyebabkan perlengketan intra- maupun ekstraluminal
pada tuba, sehingga menghambat perjalanan zigot menuju kavum uteri. Selain itu

ada pula faktor-faktor fungsional, yaitu perubahan motilitas tuba yang


berhubungan dengan faktor hormonal dan defek fase luteal. Dalam hal ini gerakan
peristalsis tuba menjadi lamban, sehingga implantasi zigot terjadi sebelum zigot
mencapai kavum uteri
Berdasarkan pemeriksaan fisik pasien memperlihatkan manifestasi akut
abdomen maka diambil sikap untuk dilakukan laparatomi . Tindakan yang
dilakukan tersebut sudah tepat karena pasien memperlihatkan manifestasi akut
abdomen yang disebabkan karena adanya perdarahan massive intra abdominal.
Pasien ini segera ditatalaksana dengan melakukan laparotomi dalam anestesi
serta transfusi darah, sesuai dengan literatur yang menyatakan bahwa Penanganan
kehamilan ektopik pada umumnya adalah laparotomi. Pada laparotomi perdarahan
selekas mungkin dihentikan dengan menjepit bagian dari adneksa yang menjadi
sumber perdarahan. Keadaan umum penderita terus diperbaiki dan darah dalam
rongga perut sebanyak mungkin dikeluarkan. Dalam tindakan demikian, beberapa
hal yang harus dipertimbangkan yaitu : kondisi penderita pada saat itu, keinginan
penderita akan fungsi reproduksinya, lokasi kehamilan ektopik. Hasil ini
menentukan apakah perlu dilakukan salpingektomi (pemotongan bagian tuba yang
terganggu) pada kehamilan tuba. Dilakukan pemantauan terhadap kadar HCG
(kuantitatif). Peninggian kadar HCG yang berlangsung terus menandakan masih
adanya jaringan ektopik yang belum terangkat. Penanganan pada kehamilan
ektopik dapat pula dengan transfusi, infus, oksigen, atau kalau dicurigai ada
infeksi diberikan juga antibiotika dan antiinflamasi. Sisa-sisa darah dikeluarkan
dan dibersihkan sedapat mungkin supaya penyembuhan lebih cepat dan harus

dirawat inap di rumah sakit. Pada pasien diberikan transfusi darah untuk
menangani anemia akibat perdarahan.
. Pasien juga diberikan drip oksitosin : metergin 1:1 dalam RL 500 cc
diberikan setelah dilakukan laparotomi untuk mempertahankan kontraksi uterus
agar tidak terjadi perdarahan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Cunningham FG et al ( Eds ). Ectopic Pregnancy. In Williams Obstetrics,
20th edition, Prentice Hall International Inc, Conneticut , 1997; 607-629

2. Stoval TG, McCord ML. Ectopic Pregnancy. In Berek JS, Adashi EY, Hilard
PA (Eds) : Novaks Gynecology, 12th

edition, Williams & Wilkins,

Baltimore, Maryland, 1996; 490-523


3. Vicken Sepilian, Ectopic Pregnancy .eMedicine Journal Instan accsess to
minds of medicine April 2004
4. Vallley VT, Fly CA. Pregnancy Ectopic.eMedicine Journal Instan access to
the mind of medicine, Jult 2002.
5. Prawiroharjo S. Gangguan bersangkutan dengan konsepsi . Dalam Ilmu
Kandungan Ediasi Pertama cetakan keempat, Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirohardjo , Jakarta, 1989 ; 196 204.
6. Hammrd CB, Bachus KE. Ektopic Pregnancy. In ; Danfoths Obstetrics and
Gynecology. 7th edition, JB Lippincott Company , Philladelphia 1994 ;187200
7. Scott J, Roseff M.D, Ectopic Pregnancy: Modern Diagnosis and
Treatment.www.coolnurse.healthology.com/focus-article.asp.