Anda di halaman 1dari 4

Hindari Mempersilahkan Orang Lain Mengisi Shaf Depan

Dalam Shalat!
Maksudnya adalah hindari mendahulukan orang lain dalam
masalah ibadah. Sebagaimana kita ketahui bahwa shalat adalah
ibadah dan shaf yang terdepan memiliki keutamaan, jadi sudah
selayaknya kita berlomba-lomba mengisi shaf terdepan. Tidak
mempersilahkan orang lain mengisi shaf terdepan, tetapi kitalah
yang segera mengisi shaf tersebut.
Shaf depan memiliki keutamaan yang tinggi, Rasulullah shallalahu
alaihi wa sallam bersabda,


Seandainya kalian atau mereka mengetahui keutamaan yang
terdapat pada shaf yang terdepan, niscaya akan menjadi
undian1.
Beliau juga bersabda,




Allah dan para malaikatnya bershalawat pada orang-orang yang
berada di shaf terdepan2.
Makruh mendahulukan orang lain dalam masalah ibadah

Ini yang dikenal dengan kaidah yang dijelaskan ulama,



Mendahulukan orang lain dalam masalah ibadah adalah makruh,
sedangkan dalam masalah lainnya (masalah dunia) disukai
Atau kadiah dengan redaksi ini,

Tidak mendahulukan orang lain dalam masalah ibadah


Syaikh Izziddin rahimahullah berkata,

Tidak boleh mendahulukan orang lain dalam masalah ibadah
(iitsar), maka tidak boleh iitsar dalam menggunakan air untuk
thaharah, menutup aurat dan menempati shaf terdepan karena
tujuannya adalah ibadah.3.
Contoh lainnya:
Jika ada air yang hanya cukup bagi dia untuk berwudhu,
maka dia memakainya dan hendaknya tidak diberikan pada
yang lainnya, yang lain silahkan bertayamum
Jika hanya ada kain untuk menutup aurat, maka dia yang
memakainya, hendaknya jangan diberikan kepada yang
lainnya.
Masalah dunia dianjurkan mendahulukan orang lain

Ini merupakan puncak akhlak seseorang, karena seseorang itu


cenderung suka mementingkan diri sendiri baru orang lain.
Allah Taala memerintahkan agar kita meniru kaum Anshar yang
mendahulukan kaum Muhajirin diatas kepentingan mereka
walaupun mereka juga membutuhkan hal tersebut.
Allah Taala berfirman,



Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri
mereka sendiri, sekalipun mereka sendiri sangat
membutuhkan/dalam kesusahan (Al-Hasyr: 9).
Jika kita membaca bagaimana sejarah islam mengenai
mendahulukan saudaranya. Maka ini ibarat dongeng yang
mungkin kita katakan akan mustahil terjadi di zaman ini.
Abdurrahman bin Auf ketika beliau dipersaudarakan dengan
penduduk Anshar yaitu Saad bin Rabi (ketika itu, untuk
memperat hubungan antara Muhajirin dan Anshar

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam mempersaudarakan


mereka satu dengan yang lain).
Saad bin Rabi dan penduduk Anshar lainnya paham benar bahwa
kaum muhajirin meninggalkan harta dan keluarga mereka di
Mekkah sehingga mereka tidak memiliki apa-apa ketika sampai di
madinah dan juga mereka aslinya adalah para pedagang dan
belum mempunyai ilmu bercocok tanam sebagaimana orang
Madinah.
Saad pun berkata kepada Abdurrahman, Wahai saudaraku,
sesungguhnya aku adalah di antara penduduk Madinah yang
terkaya, aku memiliki dua kebun dan dua istri. Lihatlah salah satu
dari dua kebun itu yang terbaik hingga akan aku berikan
kepadamu dan lihatlah salah satu istriku yang engkau suka maka
aku akan ceraikan dia lalu engkau bisa menikahinya. Namun,
Abdurrahman bin Auf menjawab tawaran baik saudaranya,
Tidak, semoga Allah memberkahimu, harta, dan juga
keluargamu. Tetapi tunjukkan saja aku di mana letak pasar
kalian. Lalu ditunjukkan kepada beliau, kemudian beliau bekerja
dan berdagang, dan dapat mengais Rizki Allah yang melimpah.
Hikmah yang bisa diambil adalah Abdurrahman bin Auf tidak aji
mumpung dan memanfatkan kesempatan. Beliau juga punya
harga diri dan ingin makan dengan hasil jerih payah sendiri.
Berikut kisah lanjutannya:
Tidak berselang lama, Abdurrahman bin Auf telah meminang
seorang wanita Anshar lalu menikahinya, kemudian beliau datang
menemui Rasulullah Shalallahualaihi Wassalam dengan wangiwangian khas pengantin. Maka Rasulullah bertanya keheranan,
Ada apa ini? Ia menjawab, Aku baru saja menikahi wanita
Anshar. Rasulullah Shalallahualaihi Wassalam bertanya lagi,
Berapa besar mahar yang engkau berikan? Ia menjawab,
Seukuran satu nawat emas. Lalu terucaplah dari bibir
Rasulullah Shalallahualaihi Wassalam sebuah sunnah dari ummat
ini di hari yang paling bahagia, yang sunnah itu akan tetap hingga
hari kiamat, Adakanlah walimah sekalipun hanya dengan seekor
kambing.
Kemudian kisah lain yang dinuikl oleh AlQurthubi rahimahullah dalam tafsirnya, beliau berkata,

:

Ada seorang yang kedatangan tamu yang hendak menginap, ia
tidak mempunyai makanan kecuali makanan untuk anak-anaknya.
Maka ia katakan kepada istrinya, tidurkanlah anak-anak, matikan
lampu dan sajikan makanan untuk tamu kita. Maka turunlah ayat
Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka
sendiri, sekalipun mereka sendiri sangat membutuhkan/dalam
kesusahan.4.
Dan masih banyak kisah lainnya yang sangat menyentuh hati dan
menyindir kita. Kita yang sedang santai saja atau tidak
membutuhkan serta tidak susah, sangat malas atau enggan
membantu orang lain apalagi mendahulukan orang lain. Kita bisa
lihat beberapa kenyataan di masyarakat kita, orang sudah mulai
mementingkan diri sendiri. Rasa sosial itu sudah hampir punah.
Misalnya:
Ada nenek tua atau orang cacat di bus atau kereta dibiarkan
berdiri oleh orang sehat dan muda yang duduk
Ada yang kesusahan malah cuek dan tidak mau membantu
Ada orang atau bahkan tetangga yang sakit tidak mau
menjenguk
Demikian semoga bermanfaat.
@Desa Pungka, Sumbawa Besar
***
Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Artikel Muslim.or.id