Anda di halaman 1dari 18

RESEARCH BASED LEARNING

MATA KULIAH FISIKA DASAR IA (FI1101)


SEMESTER I, 2015/2016
PEMBUATAN KAPAL UAP SEDERHANA UNTUK MENGETAHUI EFISIENSI
DARI KONVERSI ENERGI KALOR MENJADI ENERGI MEKANIK
OLEH :
KELOMPOK IV KELAS-08
NUR YESINTA LAILATUL ALFISSA (16315099)
DESSY SAFIRA SARI SIREGAR (16315103)
RIFATA HIDAYAT AGNA (16315107)
SABIL FAYDI (16315111)
MILGIANISA SARA (16315115)
RIZAL ADI PRABOWO (16315119)
IRFANS MAULANA FIRDAUS (16315123)
PATRIO KRISMONADI (16315127)

FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN


INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2015

ABSTRAK
Kapal uap merupakan salah satu dari sekian banyak aplikasi mengenai konsep fisika. Dalam
percobaan ini kami menggunakan kapal uap sederhana untuk memahami cara mengukur dan
menentukan banyaknya kalor yang diperlukan untuk menghasilkan usaha yang akan
digunakan untuk mengerakkan kapal uap tersebut serta untuk menentukan efisiensi dari kapal
uap tersebut.
Metode dalam percobaan ini menggunakan konsep mesin kalor dan hukum termodinamika.
Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa besarnya usaha yang dihasilkan dapat
ditentukan dengan cara menambahkan kalor. Semakin banyak jumlah kalor yang diterima,
semakin besar usaha yang dihasilkan. Untuk menghitung efisiensi dari kapal uap sederhana
ini dapat dilakukan dengan menerapkan konsep mesin Carnot.
Efisiensi kapal uap sederhana yang kami dapatkan dalam percobaan ini jauh dari efisiensi
mesin Carnot. Hal ini disebabkan keterbatasan mesin buatan tangan (manual) untuk memiliki
efisiensi tinggi. Selain itu, kenyataannya adalah tidak ada mesin yang efisiensinya dapat
melebihi mesin Carnot.

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Kapal layar dahulunya menjadi alat transportasi dalam kehidupan. Seiring berjalannya waktu,
kebutuhan berlayar lebih cepat mulai dirasakan. Akan tetapi, hal tersebut tidak didukung
dengan kemampuan kapal layar yang mempunyai keterbatasan. Kemampuan kapal layar
bergerak sesuai dengan arah angin dan arus laut yang kondusif. Keterbatasan ini membuat
para ilmuwan mengembangkan inovasi kapal baru, yakni kapal uap (steamer).
Kapal uap mulai digunakan setelah ditemukannya mesin uap di Inggris oleh James Watt yang
memunculkan Revolusi Industri dan juga merupakan revolusi bahan bakar sebab pada masa
itu mulai digunakan batubara dengan skala yang lebih luas menggantikan kayu bakar. Mesin

uap menjadi penggerak dari kapal itu sendiri. Mesin uap adalah mesin yang menggunakan
energi panas dalam uap air dan mengubahnya menjadi energi mekanis.
Terdapat fenomena fisika di dalam penggunaan mesin uap sebagai penggerak kapal uap. Oleh
karena itu, kami mencoba mengetahui bagaimana konsep fisika dapat menjelaskan hal
tersebut.
TUJUAN
1. Menjelaskan prinsip kerja kapal uap dengan menggunakan lilin dan kaleng bekas
2. Membuktikan adanya konversi dari energi panas ke energi uap
3. Mengetahui efisiensi dari konversi energi panas menjadi energi gerak.

DASAR TEORI
PENGERTIAN TERMODINAMIKA
Termodinamika adalah salah satu cabang fisika teoritik yang berkaitan dengan hukum-hukum
pergerakan panas dan perubahan dari panas menjadi bentuk-bentuk energi yang lain. Istilah
ini diturunkan dari bahasa Yunani therme (panas) dan dynamis (gaya). Cabang ilmu ini
didasarkan pada dua prinsip dasar yang aslinya diturunkan dari eksperimen, tetapi kini
dianggap sebagai aksiom. Prinsip pertama adalah hukum kekekalan energi yang mengambil
bentuk hukum kesetaraan panas dan kerja. Prinsip yang kedua menyatakan bahwa panas itu
sendiri tidak dapat mengalir dari benda yang lebih dingin ke benda yang lebih panas tanpa
adanya perubahan di kedua benda tersebut.
Salah satu penerapan dari prinsip termodinamika adalah kapal uap. Kapal uap pada
percobaan kali ini menggunakan konsep Hukum III Newton dan Hukum 1 Termodinamika.
Mesin kapal uap memberikan gaya aksi dengan menyemburkan gas keluar lewat lubang pada
kaleng bagian belakang dan gas tersebut memberikan gaya reaksi dengan mendorong kapal
ke depan.
Bunyi hukum Newton III : Jika suatu benda mengerjakan gaya pada benda kedua, maka
benda kedua tersebut mengerjakan juga gaya pada benda pertama, yang besar gayanya sama

dengan gaya yang diterima tetapi berlawanan arah. Perlu diperhatikan bahwa kedua gaya
tersebut harus bekerja pada dua benda yang berlainan.
F aksi = - F reaksi
Massa jenis adalah pengukur massa setiap satuan volume benda. Semakin tinggi massa jenis
suatu benda, maka semakin besar pula massa setiap volumenya. Rumus untuk menentukan
massa jenis adalah

m
V

dengan :
= massa jenis,
m = massa,
dan V = volume.
Hukum pertama termodinamika adalah suatu pernyataan mengenai hukum universal dari
kekekalan energi dan mengidentifikasikan perpindahan panas sebagai suatu bentuk
perpindahan energi. Pernyataan paling umum dari hukum pertama termodinamika ini
berbunyi : Kenaikan energi internal dari suatu sistem termodinamika sebanding dengan
jumlah energi panas yang ditambahkan ke dalam sistem dikurangi dengan kerja yang
dilakukan oleh sistem terhadap lingkungannya. Dengan kata lain, energi dapat diubah dari
suatu bentuk ke bentuk lainnya serta tidak dapat diciptakan maupun dimusnahkan (Hukum
Termodinamika I).
Berdasarkan hukum kekekalan energi, maka hukum termodinamika 1 dirumuskan :
Q = U + W
dengan U = U2-U1
Jadi, hukum pertama termodinamika adalah prinsip kekekalan energi yang dihasilkan pada
kalor, usaha, dan energi dalam. Hukum 1 Termodinamika menyatakan bahwa kalor yang
terlibat diubah menjadi perubahan energi dalam dan usaha.

Sebagai gagasan dasar, dapat dinyatakan bahwa energi dapat disimpan di dalam suatu sistem
dalam berbagai bentuk makroskopik. Energi juga dapat dikonversi dari satu bentuk ke bentuk
lain dan dipindahkan antarsistem.
Perpindahan kalor pada kapal uap termasuk jenis perpindahan kalor secara konveksi.
Perpindahan kalor secara konveksi terjadi pada zat cair dan gas. Hal ini terjadi karena adanya
perbedaan massa jenis dalam zat tersebut.
Rumus perpindahan kalor :
Q=m . c . T

dengan ketentuan :
Q = kalor yang diterima suatu zat (joule, kilojoule, kalori, atau kilokalori)
m = massa zat (gram atau kilogram)
c = kalor jenis (joule/kilogramC, joule/gramC, atau kalori/gramC)
T

= perubahan suhu (C) (t2 - t1)

Berikut ini akan diterangkan lebih mendetail mengenai perpindahan kalor yang terjadi secara
konveksi.
Perpindahan kalor sesuai dengan keadaan sebenarnya di kehidupan sehari-hari terbagi
menjadi tiga jenis, yaitu perpindahan kalor secara radiasi (pancaran), perpindahan kalor
secara konduksi (hantaran), dan perpindahan kalor secara konveksi (aliran). Pada artikel ini
hanya akan dibahas perpindahan kalor secara konveksi. Perpindahan kalor secara konveksi
ialah perpindahan kalor yang disertai dengan perpindahan molekul-molekul zat perantaranya.
Umumnya peristiwa perpindahan kalor secara konveksi terjadi pada fluida cair dan gas.
Ada dua jenis konveksi, yaitu konveksi paksa dan konveksi alami. Konveksi paksa ialah
proses perpindahan kalor yang langsung diarahkan ke tujuan. Konveksi paksa menggunakan
pompa atau blower. Peristiwa konveksi paksa terjadi pada radiator mobil dan proses
pertukaran udara pada lemari pendingin; sedangkan konveksi alami ialah perpindahan kalor
yang terjadi secara alami akibat perbedaan massa jenis antara dua benda. Molekul zat yang
menerima kalor akan memuai dan massa jenisnya menjadi lebih ringan sehingga akan
bergerak ke atas dan akan digantikan oleh molekul zat yang ada di atasnya. Peristiwa

konveksi alami terjadi pada saat merebus air. Air yang letaknya dekat dengan api akan
mendapat panas sehingga molekul air akan saling bertumbukan dan massa jenisnya lebih
ringan, kemudian air akan bergerak ke atas dan digantikan oleh air yang ada di atasnya.
Perpindahan kalor secara konveksi juga mengakibatkan terjadinya angin darat dan angin laut.
Angin ialah udara yang mengalir atau udara yang bergerak dan berpindah tempat. Angin
darat ialah angin yang bertiup dari darat menuju laut. Angin darat terjadi pada malam hari.
Angin darat terjadi karena udara di darat lebih cepat mendingin daripada udara di laut,
sehingga udara yang berada di atas laut akan naik dan udara dari darat akan menggantikan
posisi udara yang naik tadi. Angin darat dimanfaatkan oleh nelayan untuk pergi mencari ikan
di laut. Sementara itu, angin laut ialah angin yang bertiup dari laut ke darat. Angin laut terjadi
pada siang hari. Angin laut terjadi karena pada siang hari daratan lebih cepat panas daripada
lautan sehingga udara di darat akan naik dan udara di laut akan mengalir ke darat untuk
menggantikan tempat udara yang naik tadi. Angin laut dimanfaatkan oleh nelayan utuk
pulang ke darat setelah mencari ikan. Itulah mengapa nelayan pergi melaut pada malam hari
dan pulang di siang hari.
Contoh peristiwa konveksi yang lain ialah penggunaan cerobong asap pada pabrik dan
pemanfaatan ventilasi sebagai sirkulasi udara di dalam rumah.
Besar kecilnya kalor yang merambat secara konveksi dapat dihitung menggunakan
persamaan :

Q : kalor (joule)
t : selang waktu yang diperlukan (s)
H : koefisien konveksi
A : luas penampang (m2)
T : perbedaan temperatur (K)

Proses percobaan kali ini menggunakan suatu mesin uap sederhana yang terbuat dari kaleng
dan diberi panas (kalor) oleh lilin-lilin yang diletakkan di bawahnya. Untuk penjelasan lebih
detail mengenai mesin uap, terdapat deskripsi mengenai hal tersebut dalam bahasan paragraf
selanjutnya.
Mesin uap adalah mesin yang menggunakan energi
panas dari uap air dan mengubahnya menjadi energi
mekanis. Mesin uap digunakan dalam pompa,
lokomotif, dan kapal laut, serta sangat penting dalam
Revolusi Industri. Mesin uap merupakan mesin pembakaran eksternal, dengan cairan yang
terpisah dari hasil pembakaran. Sumber panas yang dapat digunakan yaitu tenaga surya,
tenaga nuklir, atau tenaga panas bumi. Uap yang berkembang melalui piston atau turbin akan
menyebabkan kerja mekanik.
Mesin uap pertama kali dibuat oleh Hero dari Alexandria. Mesin tersebut berupa sebuah
prototipe turbin uap primitif yang bekerja menggunakan prinsip aksi-reaksi di mana turbin ini
terdiri dari sumber kalor, bejana yang diisi dengan air, dan pipa tegak yang menyangga bola
di mana pada bola terdapat dua nosel uap. Proses kerjanya adalah sebagai berikut : sumber
kalor akan memanasi air di dalam bejana sampai air menguap, lalu uap tersebut mengalir
melewati pipa tegak masuk ke bola. Uap tersebut terkumpul di dalam bola, kemudian melalui
nosel menyembur ke luar. Karena semburan tersebut, bola mejadi berputar.
Selanjutnya setelah penemuan Hero, beberapa abad kemudian dikembangkan turbin uap oleh
beberapa orang yang berusaha memanfaatkan uap sebagai sumber energi untuk peralatan
mereka. Thomas Savery (1650-1715) adalah orang Inggris yang membuat mesin uap bolakbalik pertama. Mesin ini tidak populer karena mesin sering meledak dan sangat boros uap.
Untuk memperbaiki kinerja dari mesin Savery, Denis Papin (1647-1712) membuat katupkatup pengaman dan mengemukakan gagasan untuk memisahkan uap air dan air dengan
menggunakan torak.
Gagasan Papin direspon oleh Thomas Newcomen (1663-1729) yang merancang dan
membangun mesin menggunakan torak. Prinsip kerjanya yaitu uap tekanan rendah
dimasukan ke silinder dan menekan torak sehingga bergerak ke atas. Selanjutnya, silinder

disemprot air sehingga terjadi kondensasi uap, tekanan menjadi turun dan vakum. Karena
tekanan atmosfer dari luar torak turun, maka terjadilah kerja.
Perkembangan mesin uap selanjutnya adalah mesin uap yang dikembangkan oleh James
Watt. Selama kurang lebih 20 tahun, ia mengembangkan dan memperbaiki kinerja dari mesin
Newcomen. Gagasan James Watt yang paling penting adalah mengkonversi gerak bolak-balik
menjadi gerakan putar (1781). Mesin tersebut kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh
Corliss (1817-1888), yaitu dengan mengembangkan katup masuk yang menutup cepat, untuk
mencegah pencekikan katup pada waktu menutup. Mesin Corliss menghemat penggunaan
bahan bakar batu bara separuh dari batu bara yang digunakan mesin uap James Watt.
Kemudian, Stumpf (1863) mengembangkan mesin uniflow yang dirancang untuk mengurangi
susut kondensasi. Mesin uap yang dibuat paling besar pada abad 18 yang menghasikan daya
5 MW, pada waktu itu dianggap raksasa, karena tidak ada lagi mesin yang lebih besar. Seiring
dengan kebutuhan tenaga listrik yang besar, dibuat banyak pengembangan untuk membuat
mesin yang lebih efisien dan juga berdaya besar.
Mesin uap bolak-balik memiliki banyak keterbatasan, antara lain mekanismenya terlalu rumit
karena banyak penggunaan katup-katup dan juga mekanisme pengubah gerak bolak-balik
menjadi putaran. Maka, untuk memenuhi tuntutan kepraktisan mesin uap dengan efisiensi
berdaya lebih besar, dikembangkanlah mesin uap rotari. Komponen utamanya berupa poros
yang bergerak memutar. Model konversi energi potensial uap tidak menggunakan torak lagi,
tetapi menggunakan sudu-sudu turbin.
Gustav de Laval (1845-1913) dari Swedia dan Charles Parson (1854-1930) dari Inggris
adalah dua penemu awal dari dasar turbin uap modern. De Laval pada mulanya
mengembangkan turbin rekasi kecil berkecepatan tinggi, namun menganggapnya tidak
praktis dan kemudian mengembangkan turbin impuls satu tahap yang andal. Namanya
digunakan untuk nama turbin jenis impuls. Berbeda dengan De Laval, Parson
mengembangkan turbin rekasi tingkat banyak. Turbinnya dipakai pertama kali pada kapal
laut.
Di samping para penemu di atas, penemu-penemu lainnya saling melengkapi dan
memperbaiki kinerja dari turbin uap. Rateau dari Prancis mengembangkan turbin impuls

tingkat banyak dan C.G. Curtis dari Amerika Serikat mengembangkan turbin impuls
gabungan kecepatan. Selanjutnya, penggunaan turbin uap meluas dan praktis menggantikan
mesin uap bolak-balik, pastinya dengan banyak keuntungan. Penggunaan uap panas lebih
lanjut yang meningkatkan efisiensi sehingga turbin uap berdaya besar (1000 MW, 3600 rpm,
60 Hz) banyak dibangun. Dari sejarah tentang mesin uap yang telah dijelaskan tadi, jelas
terbukti bahwa penggunaan uap sebagai alat gerak suatu benda dapat dilaksanakan.
Ada berbagai implementasi yang menggunakan prinsip hukum termodinamika I. Beberapa di
antaranya digunakan dalam kehidupan sehari-hari, yaitu :
1. Mesin kendaraan bermotor.
Pada mesin kendaraan bermotor terdapat aplikasi termodinamika dengan sistem terbuka di
mana ruang di dalam silinder mesin merupakan sistem, kemudian campuran bahan bakar dan
udara masuk ke dalam silinder dan gas buangan keluar sistem melalui knalpot.
2. Kereta api dengan tenaga uap.
Pada kereta uap terdapat prinsip hukum termodinamika I. Kereta uap bergerak dengan prinsip
perubahan energi dari energi panas yang dihasilkan oleh batu bara/kayu bakar menjadi energi
gerak (kinetik) yang menyebabkan kereta api bergerak.
3. Termos
Pada alat rumah tangga tersebut terdapat aplikasi hukum termodinamika I dengan sistem
terisolasi di mana tabung bagian dalam termos yang digunakan sebagai wadah air terisolasi
dari lingkungan luar karena adanya ruang hampa udara di antara tabung bagian dalam dan
luar.

BAHAN-BAHAN YANG DIGUNAKAN


Biaya RBL Fisika Kelompok 4
No
Alat
.
1 Kaleng
2 Styrofoam

Satuan
1 buah
60 cm x 90 cm

Harga
Rp
Rp9000,00

3
4
5

Kawat
Lilin
Termometer
Total

3m
4 buah
1 buah

Rp4500,00
Rp6000,00
Rp20000,00
Rp39500,00

DESAIN/RANCANG BANGUN ALAT DAN PROSEDUR PEMBUATAN ALAT

1. Potong gabus dengan ukuran 38 x 16 cm menggunakan cutter dengan bentuk meruncing di


salah satu sisi
2. Buat cekungan berbentuk persegi panjang di tengah kapal dengan kedalaman 3 cm

3. Pada tengah cekungan, buat lagi lubang berbentuk lingkaran seluas uang koing sebanyak 4
buah
4. Selanjutnya, lubangi bagian bawah kaleng dengan paku ukuran sedang sebanyak 2 buah,
lalu buanglah isi dalam kaleng
5. Isi kaleng dengan air sekitar 2/3 volume kaleng
6. Potong kawat sepanjang 35 cm sebanyak 2 buah untuk penyangga kaleng. Lilitkan dengan
tang ke ujung atas dan bawah kaleng.
7. Potong lilin sama panjang sekitar 4 cm sebanyak 4 buah dan rekatkan pada lubang yang
berbentuk lingkaran pada tengah gabus
8. Letakkan kaleng berisi air (sudah dirakit dengan kawat) dan tusukkan kawat ke tepi
cekungan
9. Nyalakan lilin dengan korek api
10. Letakkan kapal uap sederhana hasil perakitan gabus dan kaleng di atas wadah berisi air
dan tunggu hingga air dalam kaleng mendidih
11. Jika air sudah mendidih, uap akan keluar dari kedua lubang dan kapal uap pun akan
bergerak di air.

CARA KERJA ALAT


Lilin akan memanaskan air (memberikan kalor pada air) dalam kaleng hingga mendidih.
Ketika mendidih, uap air dalam kaleng akan memiliki sejumlah tekanan sehingga
menghasilkan gaya dorong yang membuat kapal uap bergerak maju ke depan. Kapal uap akan
melakukan kerja/usaha ketika menempuh jarak tertentu. Oleh karena itu, efisiensi kerja kapal
uap sederhana ini dapat dihitung dengan membandingkan usaha yang dapat dilakukan kapal
uap dengan kalor yang diberikan lilin pada air.
DATA PERCOBAAN
Massa kaleng = 20 gram
Massa kaleng + air = 160 gram Massa air = 140 gram
Massa air akhir = 120 gram Massa uap air = 20 gram
Suhu air awal = 26 = 299K
Suhu udara awal = 24 = 297K
Waktu tempuh = 36s
Jarak tempuh = 1 m

Luas @lubang =

1
1
d 2= (0,3 x 102)2
m2
4
4

Volume kaleng =

2
1
( 5 x 102) x (13,4 x 102 )
m3
4

mair
air

Volume air =

Volume udara = Volume kaleng Volume air


udara=

massauap air
V udara

PERHITUNGAN EFISIENSI KAPAL UAP


Efisiensi adalah perbandingan antara usaha (kerja) yang dilakukan dengan kalor yang
dibutuhkan. Perumusan efisiensi :
=

W
.100
Q

Batasan-batasan dalam perhitungan :


1. Volume udara di dalam kaleng tetap
N 2 danO 2
2. Udara hanya terdiri dari
3. Volume uap air yang dihasilkan sama dengan volume uap air yang keluar melalui
lubang
4. Suhu air mendidih adalah 100 (373 K )
5. Air di dalam kaleng diasumsikan air murni.
a. Perhitungan Usaha atau Kerja ( W )
Kerja yang dilakukan oleh kapal menghasilkan perpindahan. Maka,
s2

W = F ds
s1

Karena

s1

W =F . s

= 0 m, maka

Gaya pada persamaan di atas disebabkan oleh gaya dorong dari tekanan yang dihasilkan
oleh pemanasan air dan udara di dalam kaleng.
F
P=
A
F=P. A
sehingga,
W =P . A . s
b. Perhitungan Tekanan
Gaya dorong kapal diakibatkan oleh tekanan gas bersuhu

100 (373 K ) . Tekanan

tersebut berasal dari tekanan uap air dan tekanan udara yang bersuhu
Pada saat suhu

100 (373 K ) .

100 (373 K ) , uap air tepat akan terbentuk sedangkan udara sudah

terpanaskan hingga suhunya 100 (373 K ) .


1. Tekanan Uap Air
Px = X . P0
dengan
Px = tekanan uap air (atm)
X

= fraksi mol

P0

= tekanan uap air pada suhu T C

Karena pengukuran di Bandung yang memiliki ketinggian kurang lebih 700 mdpl,
P0

maka nilai

lebih kecil dari 1 atm (76 cmHg).

h
cmHg
100

Didapat

P0=69 cmHg

P0= 76

atau sekitar 0,9079 atm

(0,91697 x 105 Pa) . Saat tekanan

menunjukkan angka tersebut, titik didih air menunjukkan 97 C.


2. Tekanan Udara
Volume udara di dalam kaleng dianggap tetap (isokhorik), sehingga
P1 P2
=
T1 T 2

P 2=

P1
T
T1 2

di mana
P1 = tekanan atmosfer udara
c. Perhitungan Kalor yang Dibutuhkan ( Q )
Kalor yang dibutuhkan berasal dari
1. Kalor untuk menaikkan suhu air dari

T awal

hingga 100 (373 K ) .

Q=m . c air . T
di mana
m
= massa air (kg)
c air

= kalor jenis air (J/kg.K)

T = perubahan suhu
2. Kalor untuk mengubah fasa air menjadi gas.
Q=muap . Lb
di mana
muap
Lb

= massa uap air yang terbentuk (kg)

= kalor jenis uap air (J/kg)

3. Kalor untuk menaikkan suhu udara menjadi 100 (373 K ) .


Karena volume udara tetap (isokhorik) dan udara terdiri dari gas diatomik (
, maka
Q= H = n . Cv dT
5
Q= H = nR T
2

5m
R T
2 Mr

5 udara V udara
RT
2 Mr

V
( kalengV air )
5 udara
RT
2 Mr

C v=

5
2 )

di mana
Mr = massa molar nitrogen dan oksigen
R

= konstanta gas = 8,31 J/mol.K

T = perubahan suhu

Dari persamaan-persamaan di atas, didapatkan


=

W
.100
Q

P. A.s
. 100
Q 1 +Q 2 +Q 3

(P 1+ P2 ). A . s
. 100
Q 1+Q 2+Q 3

kalengV
(
air )
5 udara
RT
2 Mr

( mair . c air . T ) + ( muap . Lb ) + ( ]

P1
( X . P0 ) + T T 2 . A . s
1
=

( )]

Fraksi mol (X) = 1, karena larutan yang digunakan adalah air murni, maka
V
( kalengV air )
5 udara
RT
2 Mr

( mair . c air . T ) + ( muap . Lb ) + ( ]

P1
( P0 ) + T T 2 . A . s
1
=

[ ( )]

{[

)] (

5
( 0,91697 . 105 ) + 0,91697. 10 370 . 2. 1 (0,3 .102)2 .1

297

5 ( 1,25 ) ( 183.106 )
[ 140 .( 4,184).(71)] + [ 0,02.( 2260000) ] +
(8,31)(73)
2 ( 0,028+ 0,032 )

)]

x 100

[ 91697+114235,32 ] . ( 0,1413. 104 ) .1


=
x 100
[ 41588,96+ 45200+5,78 ]
=

2,91
{86794,74
}x 100

=0,00335

KESIMPULAN
Berdasarkan eksperimen pembuatan kapal uap sederhana di atas, dapat kita ketahui adanya
konversi dari energi kalor menjadi energi mekanik yang mekanismenya sebagai berikut. Lilin
akan memanaskan air (memberikan kalor pada air) dalam kaleng hingga mendidih. Ketika
mendidih, uap air dalam kaleng akan memiliki sejumlah tekanan sehingga menghasilkan gaya
dorong yang membuat kapal uap bergerak maju ke depan. Kapal uap akan melakukan
kerja/usaha ketika menempuh jarak tertentu. Oleh karena itu, efisiensi kerja kapal uap
sederhana ini dapat kita hitung dengan membandingkan usaha yang dapat dilakukan kapal
uap dengan kalor yang diberikan lilin pada air.
Efisiensi kapal uap sederhana yang kami dapatkan dalam proyek RBL kali ini adalah sebesar
0,00335%. Nilai efisiensi tersebut sangat kecil dan jauh dari efisiensi yang diharapkan.
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kecilnya efisiensi tersebut antara lain :
1. Mesin merupakan buatan tangan (handmade) sehingga efisiensinya tidak akan seperti
efisiensi mesin buatan pabrik,
2. Adanya faktor-faktor luar seperti laju dan arah angin yang mempengaruhi gerak kapal uap
sehingga tidak dapat diperoleh hasil pengukuran yang presisi,
3. serta adanya gaya hambat air yang juga mempengaruhi ketidakpresisian pengukuran.
Kita juga tahu bahwa mesin Carnot yang memiliki efisiensi paling besar daripada mesinmesin lainnya hanya memiliki efisiensi sebesar 30%, jadi tidaklah heran jika efisiensi kapal
uap sederhana yang kami buat hanya sebesar 0,00335%.

REFERENSI
Fajriadi, Dadang. 2014. Kapal Uap Sederhana.

https://www.youtube.com/watch?

v=aIKVxoMdsU0
(http://termodinamik4.blogspot.de/2014/01/materi-termodinamika.html)
(http://seputarpendidikan003.blogspot.de/2015/02/perpindahan-kalor-secara-konveksi.html)
(http://kumpulancerpw.blogspot.de/2014/12/konsep-usaha-atau-kerja-protoype-kapal.html)
DAFTAR SIMBOL

Kuantitas

Satuan (SI)

massa

Simbo

Nilai

kg /m

massa

kg

volume

kalor

N .m atau joule(J )

energi

N .m atau joule(J )

dalam
usaha/kerj

N .m atau joule(J )

J
kg . K

c air

atau K

jenis

perubahan

a
kalor jenis
air
perubahan

4200

J
J
atau 4,2
kg . K
g. K

suhu
efisiensi
tekanan

N
atau pascal(Pa)
m2

gaya

kg . m
s atau newton( N )

m2

1 atm=1,01 x 10 Pa=76 cmHg=760 mmHg=760 torr

luas
penampan
g

jarak

J
kg

tempuh
fraksi mol
kalor jenis
uap air
(kalor

2,26 x 10

J
kg

uap)
konstanta
gas ideal

J
L .atm
mol . K atau
mol . K

8,314

J
L . atm
atau 0,082
mol . K
mol . K

panas
jenis
molar
pada

Cv

gram/mol

Mr

volume
konstan
massa
molar

3
Pada gas monoatomik , Cv= R
2
5
Pada gas diatomik , Cv= R
2