Anda di halaman 1dari 20

BAB III

PREPARASI
3.1. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah praktikan mengerti dan
mampu melaksanakan secara sederhana proses preparasi
sampel untuk analis
3.2. Dasar Teori
Preparasi merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam
mempersiapkan

contoh

untuk

dianalisis,

yang

metodenya

disesuaikan dengan keadaan contoh dan kepentingan. Preparasi


sampel batubara adalah

suatu proses baku,

yaitu untuk

mempersiapkan sampel batubara dengan cara pengurangan


massa dan ukuran dari gross sampel sampai pada massa dan
ukuran ynag cocok untuk dianalisa di dalam laoratorium. Proses
preparasi

sampel

sangatlah

berpengaruh

pada

sampling.

Sampling secara umum dapat didefinisikan sebagai suatu proses


pengambilan sebagian kecil contoh dari suatu material sehinga
karakteristik contoh material tersebut mewakili keseluruhan
material.
Tujuan dari kegiatan preparasi sampel
menghasilkan

adalah

untuk

sampel yang jumlah dan ukurannya cukup untuk

pengujian yang mewakili (representative) sampel awal yang dapat


dikirim ke uji laboratorium untuk dianalisa (Anonim, 2015).

Aspek yang harus diketahui untuk preparasi batubara


seperti persiapan sampel ASTM (America Society Of Teknik and
Material),
Kelompok VII

termasuk

drying

(Pengeringan),

serta

Crushing

(menghancurkan),

dividing

(pemisahan),

dan

mixing

(pencampuran) sampel lain untuk mendapatkan sampel yang siap


untuk analisis. seperti yang ditulis sebelumnya, metode pengujian
ini meliputi pengurangan dan pembagian atau dibagi sampel dan
termasuk bagian-bagian individu untuk analisis laboratorium.
Pengurangan dan prosedur pembagian ditunjukan untuk batubara
dalam berbagai ukuran dan memungkinkan sampel laboratorium
bisa mewakili yang di lapangan, yang mencakup semua batubara
lainnya. Diharapkan dalam preparasi sampel batubara kita bisa
mengambil sampel yang mewakili secara keseluruhan yang
artinya semua diskripsi, kandugan kandungannya sesuai jika tidak
sesuai bisa mendekati karena sifat dari batubara dalam setiap
lapisan berbeda.
standar lain yang digunakan untuk mengumpulkan sampel
kotor dan satu metode uji memungkinkan untuk satu divisi dari
sampel bruto sebelum menghancurkan . Ukuran massa dan
ukuran dari sampel kotor atau dibagi dikumpulkan dengan
menggunakan panduan dan praktik-praktik ini biasanya untuk
kimia atau pengujian fisik. Namun, bisa dalam sampel kotor atau
dibagi sebelum kepatuhan terhadap praktek ini akan tetap dalam
sampel akhir yang dihasilkan dari penggunaan metode ini. Oleh
karena itu, standar yang akan digunakan untuk mengumpulkan
sampel kotor harus dipilih dengan hati-hati. Seringkali sampel
dikumpulkan, dikurangi dan dibagi (satu kali atau lebih) oleh kami
dari sistem mekanis sampling dan sampel yang tersisa dapat
dibagi lebih lanjut di situs dan memfasilitasi transportasi ke
laboratorium, di mana pengurangan lebih lanjut dan divisi mungkin
terjadi sebelum analisis. Tapi pembagian dan pengurangan
sampel massa yang berbeda atau ukuran atas. metode ini dapat
Kelompok VII

diadaptasi untuk memberikan contoh dari setiap massa dan


ukuran terdiri (distribusi ukuran partikel) dari sampel bruto atau
dibagi hingga dan termasuk, sampel analisis
(James G Speight, 2005)
Berdasarkan keadaan contohnya, terdapat 2 jenis preparasi
sebagai berikut :
1. Contoh Ruah ( Bulk Samples )
Preparasinya

meliputi

pengeringan,

penimbangan,

pencucian, pengayakan.
2. Konsentrat
Preparasinya adalah pemisahan mineral berdasarkan
sifat sampelnya, jika sudah mengetahui sifat sampelnya kita
dapat menetukan teknik dan metode yang akan digunakan
untuk reperasi.
Analisis mineral baik contoh ruah (bulk Samples). Maupun
Konsentrat pada dasarnya dilakukan dengan menggunakan
metode yang, mulai dari prosedur analisis sampel dengan
identiifikasi mineral berdasarakan sifat fisiknya ( Anonim, 2015 )
Komite-komite standard tersebut secara terus menerus
mengupdate metoda-metoda sampling dan preparasi untuk
batubara agar metoda pengambilan sample untuk batubara ini
tersebut lebih sempurna. Metoda standard untuk pengambilan
sample

tersebut

sesuai

dengan

perkembangannya

telah

mengalami revisi-revisi atau update dengan metoda-metoda yang


lebih mutakhir.
3.2.1. Kegiatan Dalam Proses Preparasi
Dalam proses pembatubaraan, batubara yang langsung
diambil dari bawah tanah disebutkan batubara tertambang atau
Kelompok VII

run of mine dan seringkali memiliki kandungan campuran yang


tidak diinginkan pada saat proses sampling yaitu lumpur.
Preparasi sampel bertujuan untuk menghasilkan sampel yang
jumlah dan ukurannya

sesuai dengan kebutuan anlisa yang

diperlukan di laboratorium dan diharapkan sampel ini dapat


mewakili dari keseluruhan lahan. Tahapan-tahapan preparasi
sampel, yaitu :
a. Pengeringan Udara (drying)
Pengeringan

terhadap

sampel

dilakukan

untuk

menghilangkan air (moisture) yang ada di permukaan batubara


sehingga memudahkan proses selanjutnya. Pengeringan dapat
dilakukan dengan menggunakan drying sheed atau oven
pengering dengan suhu 300 400C di atas suhu ruangan.
Pengeringan

udara

atau

air

drying

kadang-kadang

diperlukan dalam tahapan kerja preparasi sampel. Faktor yang


menentukan diperlukan atau tidaknya pengeringan udara
adalah apakah batubara akann melalui peralatan pembagi
sampel atau melalui penggerus. Jika sampel langsung akan
dibagi melalui peralatan pembagi, maka sampel tersebut tidak
perlu dikeringkan dulu.
Pengeringan sampai berat yang konstan serta suhu yang
terus ditinggikan itu tidak perlu untuk General Analysis, karena
hal ini dapat berakibat terjadinya oksidasi pada batubara rank
rendah. Pengeringan dapat dilakukan dalam oven atau Drying
Set suhu 10 derajat C di atas suhu kamar.
Adapun faktor yang mempengaruhi hasil pengeringan
(air drying), yaitu :
1) Suhu pengeringan (temperature)
Kelompok VII

2) Waktu pengeringan (time)


3) Aliran udara (air flow)
4) Kelembaban udara ruangan (humidity)
5) Tebal sampel yang dikeringkan (sample thickness)
b. Memperkecil Ukura Butir (crushing)
Peremukan atau crushing adalah proses pengecilan
ukuran butir material sesuai dengan ukuran butir yang
dikehendaki. Peremukan atau pengecilan ukuran dilakukan
dengan cara digiling dengan menggunakan alat jaw crusher.
Dalam

ISO

R-1213

diberikan

defnisi

beberapa

cara

memperkecil ukuran partikel ini :


1) To mill adalah memperkecil ukuran partikel dengan cara
crushing, grinding atau pulverizing.
2) To crush (meremukan) adalah memperkecil ukuran partikel
sampel sampai ukuran partikel sampai ukuran partikel kasar
(>3 mm)
3) To grind, to pulverized (menggerus, melumatkan dan
memperkecil sampel sampai ukuran partikel halus (<1,5
mm).
Beberapa aturan dalam memperkecil ukuran partikel
antara lain :
1) Permukaan harus diratakan secara mekanis
2) Tidak diperbolehkan mengayyak material yang tertahan
ayakan (oversize). Misalnya jika akan meremukan material
sampai melalui 10 mm maka tiak boleh hanya mengayak
yang -10 mm nya saja dan kemudian hanya meremukan
material +10 mm nya saja. Alasannya, karena antara
batubara halus dan kasar ada perbedaan sifat petrografi,
fisika dan kimia, serta dalam langkah pencampuran yang
Kelompok VII

perlu menghomogekan kembali sampel akan sukar untuk


dilakukan.
3) Semua penggerus dalam preparasi sampel tidak boleh
menghasilkan material yang bertahan ayakan lebih dari
1%. Penggerus-penggerus itu, termasuk Raymond mill
harus diccek secara teratur pada waktu-waktu tertentu
untukk meyakinkan

bahwa 99% hasil gerusan melalui

ayakan.
4) Semua penggerus harus selalu bersih. Misalnya pada
pemakaian hammer mill yang selalu menahan batubara
setelah

penggerusan,

sehingga

pada

penggerusan

selanjutnya dapat mengotri sampel yang akan digerus.


5) Memperkecil ukuran dengan tangan tidak diperbolehkan,
kecuali untuk batubara lempengan.
c. Pencampuran (mixing)
Persyaratan peralatan pencampuran adalah tidak
diperbolehkan memecahkan batubara, menghasilkan debu
dan membiarkan moisture menguap.
Mixing atau pencampuran adalh prosss pengaduakn
sampel yang homogen. Pencampuran dapat dilakukan dengan
dua cara, yaitu :
1) Metode

Manual,

menggunakan

riffle

atau

dengan

membentuk kembali timbunan berbentuk kerucut.


2) Metode mekanis, menggunakan alat Rotary Sample Devider
(RSD).
d. Pembagian Sampel (dividing)
Pengadukan atau pembagian sampel dilakukan dengan
memakai alat rotary sample devider (RSD) yang dilakukan
Kelompok VII

setelah pembagian sampel. Rotary sample devider adalah


sebagai alat pengaduk dan pembagi sampel batubara pada
saat proses pembagian (dividing).
Proses untuk mendapatkan sampel yang represntatif dari
gross sample tanpa memperkecil ukuran butir. Sebagian aturan
umum pengurangan sampel ini harus

dilakukan dengan

melakukasn pembagian sampel. Pembagian dapat dilakukan


dengan metode manual maupun dengan menggunakan
metode mekanis (rotary samlpe devider).
Pada prinsipnya secara parameter yang akan dilakukan di
dalam laboroatrium tergantung darai batuabara

yang letak

ketilitiannya ada pada proses sampling, preparasi dan analisa


laboratorium itu sendiri.Secara fisiolgi tingkat dari ketiga proses
tersebut adalah 80% untuk sampling, sedangkan 20% untuk
preparasi dan anllisa di laoratorium.
3.2.2. Alat Mekanis
Mengetahui alat mekanis yang nantinya akan digunakan
untuk pengolahan juga diperlukan setelah selesai melakukan
preparasi, alat mekanis ini bekerja sesuai dengan tipe dan
kegunaanya, berikut beberapa alat yang sering digunakan untuk
tahap preparasi sampel, yaitu :
a. Jaw Crusher
Jaw crusher yaitu alat ini mempunyai dua jaw, yang satu
dapat digerakkan (swing jaw) dan lainnya tidak dapat
digerakkan/diam (fixed jaw). Pada jaw crusher ini untuk proses
penghancuran tidak berjalan terus menerus yaitu pada swing
jaw bergerak kebelakang, material material yang ada tidak
mengalami penggerusan.
Kelompok VII

Gambar 3.1.
Sketsa Jaw Crusher
b. Gyratory Crusher
Crusher jenis ini mempunyai kapasitas yang lebih besar
jika dibandingkan dengan jaw crusher. Gerakan dri gyratory
crusher ini berputar dan bergoyang sehingga proses
penghancuran berjalan terus menerus tanpa selang waktu.

Gambar 3.2.
Sketsa Gyratory Crusher

c. Hammel Mill
Dipakai untuk memperkecul produk dari srusher
dengan ukura umpan yang dierbolehkan adalah kurang dai
Kelompok VII

1 inchi.

Gambar 3.3.
Sketsa Gyratory Crusher
d. Roll
Alat ini terdiri dari dua buah silliner baja dan masingmasing dihubungkan pada as (poros) sendiri-sendiri,.
Seiliner ini hanya satu saja yang berputra dan lainnya diam
tapi karena adanya material yang masuk dan pengaruh
silinder ini ikut berputar pula.

Gambar 3.4.
Sketsa Roll Crusher
e. Grinding Mill
Merupakan proses lanjutan, biasanya material umpan
lebih kecil dan produk yang dihasilkan lebih kecil juga
Kelompok VII

dibandingkan dega yang lainnya.

Gambar 3.5.
Sketsa Grinding Mill

3.3. Alat dan Bahan


3.3.1. Alat
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah :
Kelompok VII

a. Crusher, berfungsi mereduksi ukuran butir batubara

Gambar 3.6.
Sketsa Jaw Crusher
b. Sendok, berfungsi untuk memindahkan bahan pembuatan
briket batubara non karbonisasi.

Gambar 3.7
Sketsa sendok

c. Ayakan, digunakan untuk memisahkan ukuran-ukuran


butir sesuai dengan nomor saringannya

Kelompok VII

Gambar 3.8.
Sketsa Ayakan
d. Palu, digunakan untuk memecah sampel batubara agar

lebih mudah dimasukan ke crusher.

Gambar 3.9.
Sketsa palu

e. Timbangan dan neraca analitik, berfungsi untuk mengukur


berat sampel batubara dalam pembuatan briket.
Kelompok VII

Gambar 3.10.
Sketsa Timbangan dan Neraca Analitik
f. Tples, digunakan untuk menyimpan sampel yang sudah
dipreparasi

Gambar 3.11.
Sketsa Toples

g. Kuas dugunakan untuk membersihkan material yang ada


ada saringan cruher dan juga pada ayakan

Kelompok VII

Gambar 3.12.
Sketsa Kuas
h. Safety tols, digunakan untuk menjaga keselamatan
praktikan selama jalannya praktikum.

Gambar
3.13.
Material
Batubara
UkuranSketsa
awal Safety
5 10 mm
Jobs
Dimasukkan

3.3.2. Bahan

Adapun bahan yang Crusher


digunakan dalam praktikum batubara
kali ini adalaah batubara dengan kalori 6.300 kkal.
Dihasilkan

Material Batubara
Ukuran awal 1 3 mm

3.4. Prosedur Kerja


3.4.1.

Preparasi Sampel untuk Analisa Briket


Timbang

Kelompok VII

Berat sampel 2 kg
Sampel
Briket

Gambar 3.19
Flowchart Preparasi Sampel Analisa Briket
Langkah kerja :
Material Batubara

a. Menyiapkan
material
Ukuran
awal 1batubara
3 mm dengan ukuran 5 10 mm
b. Memasukkan sampel (material batubara) ke dalam crusher
Dimasukkan
c. Menimbang sampel yang telah di crusher
2 kg

d. Menyimpan sampel
pada
Sieve no.
40 toples yang telah diberikan label
Ukuran 0,425
mm
untuk menghindari
tertukarnya
sampel
e. Menutup rapat toples sampel
f. Menganalisa sampel

Ayak dengan sieve

Material batubara
Ukuran sampel 0,425 mm
3.4.2. Preparasi Sampel untuk Analisa Total Moisture
Timbang
Sebanyak 50 gram

Kelompok VII

Sampel
Total Moisture

Gambar 3.20
Flowchart Preparasi Sampel Analisa Total Moisture
Langkah kerja
a. Menyiapkan material batubara dengan ukuran 1 3 mm
b. Mengayak material dengan sieve no. 40 dan ukuran 0,425
mm, amplitudo 70 Hz serta waktu 5 menit
c. Menimbang sampel sebanyak 50 gram
d. Menyimpan sampel pada toples yang telah diberi label
untuk menghindari tertukarnya sampel
e. Menutup rapat toples sampel
f.

Menganalisa sampel

3.5. Data Hasil Pengamatan

Kelompok VII

Data hasil percobaan proses preparasi sampel batubara


yang telah dilakukan diperoleh data hasil pegamatan sebagai
berikut :
Nomor
Jenis Analisa
1
Briket
2
Total Moisture

3.6. Penutup
3.6.1. Kesimpulan
Kelompok VII

Ukuran Material
1,2 mm
0,25 mm

Berat Material
2000 gram
50 gram

Kesimpulan yang dapat diambil dari praktikum kali ini


adalah :
a. Preparasi yang disiapkan adalh proses penguranga
ukuran

partikel

da

jumlah

sesuai

dengan

alat

laboratorium.
b. Dimensi atau ukuran batubara yang dapat digunakan
untuk pembuatan briketbatubar adalah berukuran - 3
mm
c. Ukuran batubara yang digunakan untuk percobaan total
moisture adalah dengan dimensi.
3.6.2. Saran
Adapun saran untuk praktikum kali ini adalah sebagai
berikut :
a. Sebaiknya praktikan mempelajari prosedur percobaan
sebelum melakukan praktikum.
b. Sebaiknya sampel yang diambil lebih dari satu.
c. Sebaiknya

praktikan

harus

berhati-hati

menggunakan alat agar alat tidak rusak.

Kelompok VII

dalam

Kelompok VII

Kelompok VII