Anda di halaman 1dari 21

Konjungtivitis Vernal

Herni Mariati Rangan


102013363
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6, Jakarta 11510
No. Telp (021) 5694-2061
ranganherni@ymail.com

I.

Pendahuluan
Konjungtivitis adalah peradangan selaput bening yang menutupi bagian putih mata dan
bagian dalam kelopak mata. Konjungtivitis merupakan radang konjungtiva atau radang selaput lendir
yang menutupi belakang kelopak dan bola mata. Konjungtivitis adalah penyakit mata paling umum di
dunia. Penyakit ini bervariasi dari hiperemi ringan dengan berair mata sampai konjungtivitis berat
dengan banyak sekret purulen kental. Penyebabnya umumnya eksogen namun dapat endogen.
Konjungtivitis dapat disebabkan oleh bakteri, klamidia, virus, ricketsia, fungi, parasit, imunologi (alergi),
kimiawi (iritatif), tidak diketahui, bersamaan dengan penyakit sistemik, sekunder terhadap dakriosistitis
atau kanalikulitis.1,2
Bentuk radang konjungtiva akibat reaksi alergi terhadap noninfeksi, dapat berupa reaksi cepat
seperti alergi biasa dan reaksi terlambat sesudah beberapa hari kontak seperti pada reaksi terhadap obat,
bakteri, dan toksik. Merupakan reaksi antibodi humoral terhadap antigen.

Biasanya dengan riwayat

atopi.2
Dikenal beberapa macam bentuk konjungtivitis alergi seperti konjungtivitis flikten,
konjungtivitis vernal, konjungtivitis atopi, konjungtivitis alergi bakteri, konjungtivitis alergi akut,
konjungtivitis alergi kronik, sindrom Stevens Johnson, pemfigoid okuli, dan sindrom Syogren. 2 Di bawah
ini akan dibahas salah satu dari bentuk konjungtivitis alergi yaitu konjungtivitis vernal.

II.

Isi dan Pembahasan


A. ANAMNESIS3
Anamnesis merupakan suatu kegiatan wawancara yang baik yang mengarahkan masalah pasien
ke diagnosis penyakit tertentu. Perpaduan keahlihan mewawancarai dan pengetahuan mendalam
tentang gejala dan tanda dari suatu penyakit dan memberikan hasil yang memuaskan dalam
menentukan diagnosis banding sehingga dapat menentukan pemeriksaan selanjutnya termasuk
pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Anamnesis yang baik terdiri dari identitas keluhan
utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit terdahulu, riwayat obsertik dan riwayat
ginekologi (khusus wanita), riwayat penyakit dalam keluarga, anamnesis berdasarkan sistem organ
dan anamnesis pribadi (meliputi keadaan sosial ekonomi, budaya, kebiasaan, obat-obatan dan
lingkungan.

Anamnesis dapat dilakukan secara langsung (auto-anamnesis) maupun secara tidak langsung (alloanamnesis), berdasarkan kasus kali ini di lakukan secara langsung kepada pasien (auto-anamnesis).
Berikut merupakan tahap-tahap anamnesis yaitu :

Identitas. Pada kasus ini mengenai identitas pasien dapat di tanyakan meliputi nama, umur,
tanggal lahir, dan tempat tinggal.

Keluhan Utama merupakan keluhan yang

paling menonjol dirasakan pasien sehingga

membuat pasien datang ke dokter, pada tahap inilah merupakan center yang dapat
menghantarkan kita pada diagnosa yang di tuju, umumnya pada keluhan utama ini. Keluhan
utama yaitu gatal pata kedua mata sejak 1 hari yang lalu.

Riwayat

Penyakit

Sekarang

di

sesuaikan dengan keluhan utama.

RPS

dapat

mendeskripsikan dengan jelas Working diagnosis dan menghilangkan kemungkinan


Differensial Diagnosa, seperti pada kasus ini, kita dapat menanyakan beberapa pertanyaan
yang bersangkutan.
Adapun pertanyaan yang dapat diajukan diantaranya :
1. Sejak kapan keluhan utama dirasakan ?
2. Perjalanan dari timbulnya penyakit hingga sekarang ?
3. Bilateral atau unilateral ?
4. Apakah mata tampak hiperemis ?
5. Gatal ? Berair ? Rasa pedih ? Sensasi benda asing ? Sensitif cahaya ?
6. Apakah terdapat sekret pada konjungtiva ? konsistensi? Warna ? +/- Pus ? + Darah?
7. Apakah terasa tertekan/ nyeri ?
8. Apakah masih bisa membuka mata ?
9. Apakah ada benjolan disekitar kelopak mata bagian dalam atau luar ?
10. Apakah ketajaman penglihatan menurun ?
11. Apakah mata pernah terpapar benda asing atau terkena trauma ?
12. Apakah ada keluhan penyerta sperti : mual, muntah, demam, sakit kepala ?
13. Riwayat pengobatan sebelumnya ?
Selain itu juga penting ditanyakan mengenai Riwayat Penyakit Dahulu. Riwayat penyakit
dahulu umumnya ditanyakan seputar riwayat alergi (debu, obat, makanan), riwayat penyakit
autoimun, riwayat penyakit Diabetes Melitus, riwayat penyakit Hipertensi
Riwayat Penyakit Keluarga dapat ditanyakan apakah orang tua pasien maupun keluarga
dekat pasien memiliki riwayat yang seperti telah disebutkan diatas.
Untuk Riwayat Sosial dan Ekonomi pada pasien dapat di tanyakan mengenai kebersihan
pasien, apakah sering mengororek-ngorek mata, lingkungan tempat tinggal, kebersihat diri dan
lingkungan sekitar, apakah ada yang menderita hal yang sama atau tidak.
Hasil Anamnesis : Pasien mengeluh gatal terutama sehabis main bola atau kena panas matahari.
Ada riwayat alergi terhadap udara panas dan debu. Pasien sering menderita batuk pilek.
B. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik mempunyai nilai yang sangat penting dalam memperkuat temuan-temuan dalam
anamnesis.
1. Pada tahap pertama dilakukan pemeriksaan sebagai berikut : 3

Keadaan Umum. Keadaan umum pasien dapat dibagi menjadi tampak sakit ringan,
sakit sedang atau sakit berat.

Kesadaran. Tingkat kesadaran di bedakan menjadi : Kompos mentis (sadar


sepenuhnya), Apatis, Delirium (penurunan kesadaran), Somnolen (Keadaan
mengantuk yang masih dapat pulih), Sopor (keadaan mengantuk yang dalam), Semikoma (penurunan kesadaran yang tidak memberikan respon, dan Koma (penurunan
kesadaran yang sangat dalam).

Tanda-Tanda Vital. Meliputi Suhu, Tekanan Darah, Nadi, Frekuensi Pernapasan

Frekuensi napas normal Dewasa 16 20 x/menit.

Takhipnea : Bila pada dewasa pernapasan lebih dari 24 x/menit

Bradipnea : Bila kurang dari 10 x/menit disebut

Apnea : Bila tidak bernapas

Frekuensi denyut nadi manusia bervariasi, tergantung dari banyak faktor yang
mempengaruhinya, pada saat aktifitas normal :

Normal : 60 100 x / menit

Takikardi : > 100 x / menit

Bradikardi : < 60. x / menit

Suhu tubuh - normal 36 - 37o C


Tekanan Darah
Pemeriksaan Fisik Mata
Inspeksi. Adakah kelainan yang terlihat jelas (misalnya mata merah, asimetri, nistagmus yang
jelas dan ptosis). Palpebra, dilihat apakah ada edema, warna kemerahan, lesi, arah bulu mata, dan
kemampuan palpebra untuk menutup sempurna. Apparatus lakrimalis, dilihat apakah ada
pembengkakan pada daerah kelenjar lakrimalis dan sakus lakrimalis. Konjungtiva dan sclera,
dilihat warnanya dan vaskularisasinya, cari setiap nodulus atau pembengkakan. Pada konjungtiva
tarsus superior dicari kelainan seperti folikel, membran, papil, papil raksasa, pseudomembran,

sikatriks, dan simblefaron. Pada konjungtiva tarsus inferior dicari kelainan seperti folikel, papil,
sikatriks, hordeolum, kalazion. Pada konjungtiva bulbi dilihat ada tidaknya sekret. Bila ada amati
warna sekret, kejernihan, dan volume sekret. Kemudian cari ada tidaknya injeksi konjungtival,
siliar, atau episklera, perdarahan subkonjungtiva, flikten, simblefaron, bercak degenerasi,
pinguekula, pterigium, dan pseudopterigium. Kornea, lensa, dan pupil, dengan cahaya yang
dipancarkan dari temporal dilihat apakah ada kekeruhan (opasitas) pada lensa melalui pupil,
apakah ada bayangan berbentuk bulan sabit pada sisi medial, kemudian dilihat ukuran, bentuk dan
kesimetrisan pupil.2,4
Palpasi. Nyeri tekan, massa tumor, tensi okuli dan tonometer schiotz. 2,5
STATUS OPHTALMOLOGIS5

Pemeriksaan visus mata : optotip snellen pada jarak 6 meter, 6/6 (normal). Pada
pemeriksaan ini dapat diperiksa : visus jauh, pin hoe, addisi, kaca mata lama, dan presepsi

warna.
Kedudukan bola mata : distensi pupil, eksoftalmus, endoftalmus, deviasi, gerakan bola

mata, stabismus, gerakan bola mata.


Supersilia : warna, simetris, tanda peradangan, rontok.

Pemeriksaan segmen anterior menggunakan pen light dan lup (palpebra, konjungtiva, sklera,
kornea, iris, pupil, lensa)

Palpebra superior dan inferior : gerakan (gerakan abnormal, membuka mata, menutup
mata, ptosis); tepi kelopak (ankiloblefaron, ektropion, entropion); kulit (perubahan warna,

tanda peradangan, pendarahan, edema, nyeri tekan, befarospasme, trikiasis, sikatriks).


Asparatus lakrimal : sekitar glansula lakrimalis (perubahan warna, perubahan bentuk,
tanda peradangan, pembesaran, nyeri tekan), sekitar sakus lakrimalis (perubahan warna,

tanda peradangan, nyeri tekan, fistulam uji fluroresensi, uji regurgitasi, tes anel)
Konjungtiva palpebra superior : hiperemis, simblefaron, korpus aleum.
Konjungtiva palpebra inferior : hiperemis, penoniolan, eksudat, anemis, litiasis.
Konjungtiva bulbi : sekret, injeksi konjungtiva, injeksi siliar, pendarahan subkonjungtiva,

pterigium, pinguekula, nervus pigmentosus, flikten, kista dermoid


Sklera : warna, ikterik, nyeri tekan
Kornea : kejerniha, permukaan, ukuran, sensibilitas, infiltrat, keratik pretipitat, sikatrik,

ulkus, perforasi, arcus senilis, edema, uji fluoresceins, test placido.


Bilik mata depan : kejernihan, kedalaman, hifema, hipopion, efek tundall
Iris : warna, kripte, sinekia, kolobama
Pupil : letak, bentuk, ukuran, refleks cahaya.
Lensa : kejernihan, letak test shadow.

Pemeriksaan segmen posterior menggunkan oftalmoskopi direct ( humor vitreus, retina, cup;/disk
ratio, arteri/vena ratio, papil, dan fundus)

Pemeriksaan gerak bola mata


Pemeriksaan lapang pandang : tes konfrontasi
Pemeriksaan stereoskopi
Pemeriksaan Konjungtiva2,6
Konjungtiva hendaknya diamati terhadap adanya tanda radang (yaitu melebarnya pembuluh
darah), pigmentasi tidak biasa, nodi, pembengkakan atau perdarahan. Tanda radang terlihat pada
konjungtivitis (hiperemis tarsus, konjungtivitis folikular, papil (konjungtivitis alergi dan vernal),
parut (trakoma), membran (Steven Johnson); kreatitis (infiltrat, edem, vaskularisasi); skleritis
(benjolan, hiperemi, nekrosis, sklera tipis; Uveitis ( KPs, sel dalam badan kaca, fokus koroid;
Retina vaskulitis (pendarahan, eksudat, edem.
Konjungtiva tarsal superior dapat dilihat dengan membalikkan kelopak mata. Minta pasien
tetap membuka matanya dan melihat ke bawah. Anda menahan sejumlah bulu mata dari kelopak
mata atas. Kelopak itu ditarik lepas dari bola mata dan ujung sebuah tangkai aplikator ditekan pada
tepian atas lempeng tarsal. Lempeng tarsal kemudian dengan cepat membalikan tangkai aplikator,
menggunakannya sebagai titik tumpu. Ibu jari sekarang dapat dipakai untuk memegang kelopak
mata yang dibalik, tangkai aplikator dapat diangkat. Setelah inspeksi konjungtiva tarsalis, mintalah
pasien untuk melihat ke atas untuk mengembalikan kelopak mata pada posisi normal. Pada
konjungtiva tarsal dapat dijumpai kelainan seperti folikel cobble stone, membran, papil, papil
raksasa, pseudomembran, sikatrik, simblefaron.
Kojungtiva tarsal inferior dapat dilihat dengan menggunakan jari jempol untuk menarik
kebawah daerah sekitar palpebra inferior. Pada konjungtiva tarsal dapat dijumpai folikel/cubble
stone, papil, sikatrik, hordelum, kalazio.
Konjungtiva normal seharusnya berwarna merah muda. Perhatikan jumlah pembuluh darah.
Normalnya hanya terlibat sedikit pembuluh darah. Mintalah pasien untuk melihat ke atas dan
tariklah kelopak mata bawah ke bawah. Bandingkan vaskularitasnya. 4
Pada konjungtiva bulbi, inspeksi keadaan konjungtiva. Pada keadaan normal konjungtiva bulbi
terlihat berwarna putih karena menutupi sklera yang ada dibawahnya. Mudah digerakan dari sklera
dibawahnya. Pada kojungtiva bulbi dapat dijumpai kelainan seperti terdapat sekret, injeksi
kongjungtival (melebarnya arteri konjungtiva posterior), injeksi siliar (melebarnya pembyuluh
perikorneal atau arteri siliar anterior), pendarahan subkonjungtiva, simblefaron, bercak degenerasi,
pinguekula, pterigium, pseudopterigium, dan flikten.
Sedanngkan pada konjungtiva fornies atau fornik yang merupakan tempat perahlihan
konjungtiva tarsal dan konjungtiva bulbi. Sukar dilihat namun tetap harus diperiksa.
Hasil Pemeriksaan Fisik : Tidak ada penurunan visus dan Hiperemis pada kedua mata.
C. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada pemeriksaan sekret atau kerokan konjungtiva dengan pewarnaan
Giemsa

Pada eksudat konjungtiva yang dipulas dengan Giemsa terdapat banyak eosinofil dan granula
eosinofilik bebas. Pada pemeriksaan darah ditemukan eosinofilia dan peningkatan kadar serum
IgE.7
Pada konjungtivitis vernal, terdapat sebagian besar sel yang secara rutin tampak dalam
jaringan epitel. Pengawetan yang lebih baik adalah menggunakan glutaraldehyde, lapisan plastik,
dan ditampilkan pada media sehingga dapat memungkinkan untuk menghitung jumlah sel ukuran
1 berdasarkan jenis dan lokasinya. Jumlah rata-rata sel per kubik milimeter tidak melampaui
jumlah normal. Diperkirakan bahwa peradangan sel secara maksimum seringkali berada dalam
kondisi konjungtiva normal. Jadi, untuk mengakomodasi lebih banyak sel dalam proses
peradangan konjungtivitis vernal, maka jaringan akan membesar dengan cara peningkatan jumlah
kolagen dan pembuluh darah.8
Jaringan tarsal atas yang abnormal ditemukan dari empat pasien konjungtivitis vernal yang
terkontaminasi dengan zat imun, yaitu: dua dari empat pasien mengandung spesimen IgA-, IgG-,
dan IgE- secara berlebih yang akhirnya membentuk sel plasma. Sel-sel tersebut tidak ditemukan
pada konjungtiva normal dari dua pasien lainnya. 8
Kandungan IgE pada air mata yang diambil dari sampel serum 11 pasien konjungtivitis vernal
dan 10 subjek kontrol telah menemukan bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara air mata
dengan level kandungan serum pada kedua mata. Kandungan IgE pada air mata diperkirakan
muncul dari serum kedua mata, kandungan IgE dalam serum (1031ng/ml) dan pada air mata
(130ng/ml) dari pasien konjungtivitis vernal melebihi kandungan IgE dalam serum (201ng/ml)
dan pada air mata (61ng/ml) dari orang normal. Butiran antibodi IgE secara spesifik ditemukan
pada air mata lebih banyak daripada butiran antibodi pada serum. Selain itu, terdapat 18 dari 30
pasien yang memiliki level antibodi IgG yang signifikan yang menjadi butiran pada air matanya.
Orang normal tidak memiliki jenis antibodi ini pada air matanya maupun serumnya. Hasil
pengamatan ini menyimpulkan bahwa baik IgE- dan IgG- akan menjadi perantara mekanisme
imun yang terlibat dalam patogenesis konjungtivitis vernal, dimana sistesis lokal antibodi terjadi
pada jaringan permukaan mata. Kondisi ini ditemukan negatif pada orang-orang yang memiliki
alergi udara, tetapi pada penderita konjungtivitis vernal lebih banyak berhubungan dengan
antibodi IgG dan mekanisme lainnya daripada antibodi IgE.
Kandungan histamin pada air mata dari sembilan pasien konjungtivitis vernal (38ng/ml) secara
signifikan lebih tinggi daripada kandungan histamin air mata pada 13 orang normal (10ng/ml,
P<0.05). Hal ini sejalan dengan pengamatan menggunakan mikroskopi elektron yang
diperkirakan menemukan tujuh kali lipat lebih banyak sel mastosit dalam substantia propia
daripada dengan pengamatan yang menggunakan mikroskopi cahaya. Sejumlah besar sel mastosit
ini terdapat pada air mata dengan level histamin yang lebih tinggi. Kikisan konjungtiva pada
daerah-daerah yang terinfeksi menunjukkan adanya banyak eosinofil dan butiran eosinofilik.
Ditemukan lebih dari dua eosinofil tiap pembesaran 25x dengan sifat khas penyakit

(pathognomonic) konjungtivitis vernal. Tidak ditemukan adanya akumulasi eosinofil pada daerah
permukaan lain pada level ini.8
Selain itu dapat dilakukan pemeriksaan penunjang lainnya untuk menghilangkan
kemungkinan

etiologi

penyebab

lainnya.

Pemeriksaan

yang

dapat

dilakukan

yaitu

mengidentifikasikan sekret dengan pewarnaan Gram untuk menilai organisme bakteri atau
pulasan Giemsa untuk menetapkan jenis dan morfologi sel. Dari pulasan Giemsa ini didapatkan
kemungkinan penyebab sekret seperti terdapatnya: 9
a. Limfosit dan monosit pada infeksi virus
b. Leukosit PMN pada infeksi bakteri
c. Eosinofil dan basofil pada alergi
d. Sel epitel dengan badan inklusi pada sitoplasma basofil pada klamidia
e. Sel raksasa multinuclear pada herpes
f.

Sel Leber makrofag raksasa oleh trakoma

Pemeriksaan lain untuk kemungkinan etiologi lainnya :9


Selain itu dapat dilakukan teknik amplifikasi asam nukleat seperti PCR yang sensitive dan
spesifik untuk virus DNA. Kultur virus dan isolasi adalah referensi standar tapi mahal dan
hasilnya lama (beberapa hari-minggu), dan membutuhkan media transport yang spesifik.
Sensitivitas

bervariasi

tapi

spesifisitas

sekitar

100%.

Dapat

juga

dilakukan

tes

imunokromatografi memerlukan waktu 10 menit untuk mendeteksi antigen adenovirus di air


mata, sensitifitas dan spesifisitasnya baik sekali.
D. DIAGNOSIS BANDING
Konjungtivitis Bakterialis2
Konjungtivitis bakterialis adalah inflamasi konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri. Pada
konjungtivitis ini biasanya disertai mata merah, secret pada mata dan iritasi mata. Konjungtivitis
bakteri dapat dibagi menjadi empat bentuk yaitu hiperakut, akut, subakut dan kronik. Konjungtivitis
bakteri hiperakut biasanya disebabkan okeh N. gonorrhoeae, Neisseria kochii dan Neisseria
meningitides. Bentuk yang baru disebabkan Streptococcus pneumonia dan Haemophilus aegyptus.
Konjungtivitis bakterial biasanya mulai pada satu mata kemudian mengenai mata yang sebelah
melalui tangan dan dapat menyebar ke orang lain. Penyakit ini biasanya terjadi pada orang yang
terlalu sering kontak dengan penderita, sinusitis dan keadaan imunodefisiensi.
Gejala-gejala yang timbul pada konjungtivitis bakteri biasanya dijumpai injeksi konjungtiva baik
segmental ataupun menyeluruh. Selain itu sekret pada kongjungtivitis bakteri biasanya lebih purulen
daripada konjungtivitis jenis lain, dan pada kasus yang ringan sering dijumpai edema pada kelopak
mata. Ketajaman penglihatan biasanya tidak mengalami gangguan pada konjungtivitis bakteri namun
mungkin sedikit kabur karena adanya sekret dan debris pada lapisan air mata, sedangkan reaksi pupil

masih normal. Gejala yang paling khas adalah kelopak mata yang saling melekat pada pagi hari
sewaktu bangun tidur.
Konjungtivitis bakteri hiperakut (purulent)
Biasanya disebabkan oleh N. gonorrhoeae, N. kochii, dan N. meningitides. Ditandai dengan
eksudat yang purulen. Apabila terlambat untuk ditangani, dapat menyebabkan kehilangan
penglihatan atau dapat menjadi penyabab septicemia maupun meningitis.

Gambar 1. Konjungtivitis Bakterialis2

Konjungtivitis akut (kataharal). Konjungtivitis akut bersifat epidemic dan disebut juga
pinkeye dengan karakteristik mata hiperemis dan secret yang mukopurulen. Bakteri penyebab
yang paling banyak adalah Streptococcus pneumonia dan Haemophilus aegyptius namun dapat

disertai dengan perdarahan subkonjungtiva.


Konjungtivitis subakut. Disebabkan oleh H. Influenzae, E. colli, dan spesies proteus ditandai

dengan mata merah, berair dan eksudat.


Konjungtivitis bacterial kronik. Diderita oleh pasien dengan obstruksi duktus nasolakrimalis
dan dakriosistitis kronis, yang biasanya bersifat unilateral. Konjungtivitis bacterial kronis
biasanya disertai dengan blefaritis atau disfungsi kelenjar meibom. Pasien dengan bengkak
pada kelopak mata dan ektopion biasanya disertai dengan bacterial konjungtivitis. Bakteri
penyebab yaitu corynebacterium diphteriae dan streptococcus pyogenes. Pseudomembran dan
membran biasanya disebabkan oleh bekteri ini.

Konjungtivitis Viral2,10
Konjungtivitis viral adalah penyakit umum yang dapat disebabkan oleh berbagai jenis virus,
dan berkisar antara penyakit berat yang dapat menimbulkan cacat hingga infeksi ringan yang dapat
sembuh sendiri dan dapat berlangsung lebih lama daripada konjungtivitis bakteri. Konjungtivitis viral
dapat disebabkan berbagai jenis virus, tetapi adenovirus adalah virus yang paling banyak
menyebabkan penyakit ini, dan herpes simplex virus yang paling membahayakan. Selain itu penyakit
ini juga dapat disebabkan oleh virus Varicella zoster, picornavirus (enterovirus 70, Coxsackie A24),
poxvirus, dan human immunodeficiency virus. Penyakit ini sering terjadi pada orang yang sering
kontak dengan penderita dan dapat menular melalu di droplet pernafasan, kontak dengan benda-benda
yang menyebarkan virus (fomites) dan berada di kolam renang yang terkontaminasi.1

Gejala klinis pada konjungtivitis virus berbeda-beda sesuai dengan etiologinya. Pada
keratokonjungtivitis epidemik yang disebabkan oleh adenovirus biasanya dijumpai demam dan mata
seperti kelilipan, mata berair berat dan kadang dijumpai pseudomembran. Selain itu dijumpai infiltrat
subepitel kornea atau keratitis setelah terjadi konjungtivitis dan bertahan selama lebih dari 2 bulan.
Pada konjungtivitis ini biasanya pasien juga mengeluhkan gejala pada saluran pernafasan atas
dan gejala infeksi umum lainnya seperti sakit kepala dan demam. Pada konjungtivitis herpetic yang
disebabkan oleh virus herpes simpleks (HSV) yang biasanya mengenai anak kecil dijumpai injeksi
unilateral, iritasi, sekret mukoid, nyeri, fotofobia ringan dan sering disertai keratitis herpes.
Konjungtivitis hemoragika akut yang biasanya disebabkan oleh enterovirus dan coxsackie
virus memiliki gejala klinis nyeri, fotofobia, sensasi benda asing, hipersekresi airmata, kemerahan,
edema palpebra dan perdarahan subkonjungtiva dan kadang-kadang dapat terjadi kimosis. Diagnosis
pada konjungtivitis virus bervariasi tergantung etiologinya, karena itu diagnosisnya difokuskan pada
gejala-gejala yang membedakan tipe-tipe menurut penyebabnya. Dibutuhkan informasi mengenai,
durasi dan gejala-gejala sistemik maupun ocular, keparahan dan frekuensi gejala, faktor-faktor resiko
dan keadaan lingkungan sekitar untuk menetapkan diagnosis konjungtivitis virus.
Konjungtivitis Alergika (Imunologik)2,
Konjungtivitis alergi adalah bentuk alergi pada mata yang paing sering dan disebabkan oleh
reaksi inflamasi pada konjungtiva yang diperantarai oleh sistem imun. Reaksi hipersensitivitas yang
paling sering terlibat pada alergi di konjungtiva adalah reaksi hipersensitivitas tipe 1.
Reaksi Hipersensitivitas Humoral Segera

Konjungtivitis Hay Fever. Radang konjungtiva non-spesifik ringan umumnya menyertai hay
fever (rhinitis alergika). Biasanya ada riwayat alergi terhadap tepung sari, rumput, bulu hewan,
dll. Pasien mengeluh gatal, kemerahan, mata berair dan sering mengatakan matanya seakan-akan
tenggelam dalam jaringan sekitarnya. Terdapat injeksi ringan disekitar konjungtiva palpebraris dan
konjungtiva bulbaris; selama serangan akut sering ditemukan kemosis berat (yang menjadi sebab
kesan tenggelam). Terdapat sedikit kotoran mata, khususnya setelah pasien menggucek matanya.
Eosinofil sulit ditemukan pada kerokan konjungtiva. Jika alergennya menetap, dapat menjadi
konjungtivitis papilar.

Keratokonjungtivitis vernal. Penyakit ini sering disebut dengan konjungtivitis musiman atau
konjungtivitis musim kemarau ini adalah penyakit alergi bilateral yang jarang. Biasanya mulai
pada tahun-tahun pubertas dan berlangsung selama kurang lebih 5-10 tahun. Penyakit ini lebih
banyak dialami oleh laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Alergan spesifiknya sulit dilacak,
tetapi pasien keratokonjungtivitis vernal biasanya menampilkan manifestasi alergi lainnya, yang
diketahui berhubungan dengan sensitivitas terhadap tepung sari rumput. Penyakit ini lebih jarang
di daerah beriklim sedang dari pada di daerah hangat, dan hampir tidak ada di daerah dingin.
Pasien umumnya mengeluh sangat gatal dengan kotoran mata berserat-serat. Biasanya terdapat

riwayat alergi di keluarga (hay fever, eksim, dll) dan terkadang disertai riwayat alergi pada pasien
itu sendiri. Konjungtiva tampak putih susu dan terdapat banyak papila halus di konjungtiva tarsalis
inferior. Konjungtiva palpebralis superior sering menampilkan papila raksasa seperti batu kali.
Setiap papila raksaksa mempentuk poligonal, dengan atap rata dan mengandung berkas kapiler.
Mungkin terdapat kotoran mata berserabut dan pseudomembran fibrinosa (tanda Maxwell-Lyons).
Pada beberapa kasus, terutama pada orang negro turunan Afrika, lesi paling menonjol terdapat di
limbus, yaitu pembengkakan gelatinosa (papilae). Sebuah pseudogerontoxon (kabut serupa busur)
sering terlihat pada kornea dekat papila limbus. Bintik-bintik tranta (tranta dots) adalah bintikbintik putih yang terlihat di limbus pada beberapa pasien dengan fase aktif keratokonjungtivitis
vernal. Ditemukan banyak eosinofil dan granula eosinofilik bebas di dalam tranta dan sediaan
hapus eksudat konjungtiva terpulas Giemsa. Mikropannus sering tampak pada keratokonjungtivitis
vernal papebra dan limbus, tetapi pannus besar jarang dijumpai. Parut konjungtiva biasanya tidak
ada, kecuali pasien telah menjalani krioterapi, pengangkkakatan papila, iradiasi, atau prosedur
yang dapat merusak lainnya. Mungkin terbentuk ulkus kornea superfisialis (perisai) (lonjong dan
superior) yang dapat berakibat parut ringan di kornea. Keratitis epitelial difus yang khas sering kali
terlihat. Tidak satupun lesi kornea ini berespons baik terhadap terapi standar. Penyakit ini mungkin
disertai dengan karatokonus.

Keratokonjungtivitis Atopik. Pasien dermatitis atopik (eksim) sering kali juga menderita
keratokonjungtivitis atiopik. Tanda dan gejalanya adalah sensasi terbakar, pengeluaran sekret
mukoid, merah dan fotofobia. Tepian palpebranya eritematosa dan konjungtiva tampak putih
seperti susu. Terdapat paila-papila halus, tetapi papila raksaksa kurang nyata dibandingkan dengan
keratokonjungtivitis vernal, dan lebih sering terjadi di tarsus inferior berbeda dengan papila
raksaksa keratokonjungtivitis vernal, yang terdapat di tarsus superior. Tanda-tanda kornea yang
berat muncul pada perjalanan lanjut penyakit setelah eksarsebasi konjungtivitis terjadi berulang
kali. Timbul keratitis perifer superfisial yang diikuti dengan vaskularisasi. Pada kasus yang berat,
seluruh kornea tampak kabur dan mengalami vaskularisasi, ketajaman penglihatanpun menurun.
Penyakit ini mungkin disertai dengan keratokonus. Biasanya ada riwayat alergi (hay fever, asma
atau eksim) pada pasien atau keluarganya. Kebanyakan pasien pernah mengalami dermatitis atopik
sejak bayi. Parut pada lipatan fleksura-lipat siku dan pergelangan tangan dan lutut sering
ditemukan. Seperti dermatitisnya, keratokonjungtivitis atopik berlangsung berlarut-larut dan sering
mengalami eksaserbasi dan remisi. Kerokan konjungtiva menunjukkan eosinofil, meskipun tidak
sebanyak yang terlihat pada keratokonjungtivitis vernal. Sering timbul parut pada konjungtiva
maupun kornea dan terbentuk katarak atopik, plak subkapsular posterior dan katarak anterior.

Konjungtivitis Papilar Raksaksa. Tanda dan gejalanya mirip dengan keratokonjungtivitis vernal
dapat dijumpai dengan pasien yang menggunakan lensa kontak atau mata buatan dari plastik. Ini

kemungkinan penyakit hipersensitivitas tipe lambat yang kaya basofil (hipersensitifitas JonesMote), dengan komponen IgE humoral. Disinfeksi dengan hidrogen peroksida dan pembersihan
lensa kontak secara enzimatik juga menolong atau mengganti lensa ontak ke jenis weekly
diposable atau daily diposable.
Reaksi Hipersensitivitas Tipe lambat
Fliktenulosis. Respon hipersensitivitas tipe lambat terhadap protein mikroba termasuk dari basil
tuberkel, staphylococcus spp, candida albicans, Coccidioides immitis, haemophilus aegyptius dan
Chlamydia trachomatis serotipe L1, L2 dan L3. Fliktenula konjungtiva timbul sebagai lesi kecil
(umumnya berdiameter 1-3 mm) yang keras, merah, meninggi dan dikelilingi zona hiperemia. Di
limbus sering terjadi bentuk segitiga dengan apeks mengarah ke kornea. Disini terbentuk pusat

putih-kelabu, yang segera menjadi ulkus dan mereda dalam 10-12 hari.
Konjungtivitis Ringan Sekunder Akibat Blefaritis Kontak. Disebabkan karena atropin,
neomysin, antibiotik spektrum luas dan obat topikal lainnya sering diikuti dengan konjungtivitis
infiltratif ringan yang menimbulkan hiperemia, hipertrofi papilar ringan, sekret mukoid ringan dan
sedikit iritasi. Pemeriksaan kerokan berpulas giemsa sering menampakkan sedikit sel epitel yang
yang berdegenerasi, sedikit sel polimorfonuklear dan mononuklear tanpa eosinofil. Pengobatan
ditujukkan pada penemuan agen penyebab dan menghilangkannya.

Konjungtivitis Jamur
Konjungtivitis jamur paling sering disebabkan oleh Candida albicans dan merupakan infeksi yang
jarang terjadi. Penyakit ini ditandai dengan adanya bercak putih dan dapat timbul pada pasien diabetes
dan pasien dengan keadaan sistem imun yang terganggu. Selain Candida sp, penyakit ini juga dapat
disebabkan oleh Sporothrix schenckii, Rhinosporidium serberi, dan Coccidioides immitis walaupun
jarang.11
Tabel 2. Pembagian jenis-jenis konjungtivitis umum2
Temuan klinis dan sitologi
Gatal
Hiperemia
Mata berair
Eksudasi
Adenopati periaurikular

Viral
Minimal
Generalisata
Banyak
Minimal
Sering

Bakteri
Minimal
Generalisata
Sedang
Banyak
Jarang

Klamidia
Minimal
Generalisata
Sedang
Banyak
Hanya sering

Alergika
Hebat
Generalisata
Minimal
Minimal
Tak ada

pada
konjungtivitis
Pada kerokan dan eksudat

Monosit

Bakteri, PMN

yang dipulas
Disertai sakit tenggorokan dan
demam

inklusi
PMN,

sel

Eosinofil

plasma, badan
Sesekali

sesekali

inklusi
Tak pernah

Tak pernah

E. DIAGNOSIS KERJA
Anatomi & Fisiologi Konjungtiva
Konjungtiva adalah membran mukosa yang transparan dan tipis yang membungkus
permukaan posterior kelopak mata (konjungtiva palpebralis) dan permukaan anterior sklera
(konjungtiva bulbaris). Konjungtiva bersambungan dengan kulit pada tepi kelopak (persambungan
mukokutan) dan dengan epitel kornea limbus. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang
dihasilkan oleh sel goblet. Musin bersifat membasahi bola mata terutama kornea.Konjungtiva terdiri
atas tiga bagian, yaitu :2
a. Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar digerakkan dari tarsus.
b. Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera di bawahnya.
c. Konjungtiva fornises atau forniks konjungtiva yang merupakan tempat peralihan konjungtiva
tarsal dengan konjungtiva bulbi.
Konjungtiva bulbi dan forniks berhubungan dengan sangat longgar dengan jaringan di bawahnya
sehingga bola mata mudah bergerak.2

Gambar 2. Anatomi Mata Bagian Anterior2


Secara histologis, konjungtiva terdiri atas lapisan : 2,10
a. Lapisan epitel konjungtiva, terdiri dari dua hingga lima lapisan sel epitel silinder bertingkat,
superficial dan basal. Lapisan epitel konjungtiva di dekat limbus, di atas karankula, dan di
dekat persambungan mukokutan pada tepi kelopak mata terdiri dari sel-sel epitel skuamosa.
b. Sel-sel epitel superfisial, mengandung sel-sel goblet bulat atau oval yang mensekresi mukus.
Mukus mendorong inti sel goblet ke tepi dan diperlukan untuk dispersi lapisan air mata secara
merata diseluruh prekornea. Sel-sel epitel basal berwarna lebih pekat daripada sel-sel
superficial dan di dekat limbus dapat mengandung pigmen.
c. Stroma konjungtiva, dibagi menjadi lapisan adenoid (superficial) dan lapisan fibrosa
(profundus). Lapisan adenoid mengandung jaringan limfoid dan dibeberapa tempat dapat

mengandung struktur semacam folikel tanpa sentrum germinativum. Lapisan adenoid tidak
berkembang sampai setelah bayi berumur 2 atau 3 bulan. Hal ini menjelaskan mengapa
konjungtivitis inklusi pada neonatus bersifat papiler bukan folikuler dan mengapa kemudian
menjadi folikuler. Lapisan fibrosa tersusun dari jaringan penyambung yang melekat pada
lempeng tarsus. Hal ini menjelaskan gambaran reksi papiler pada radang konjungitiva.
Lapisan fibrosa tersusun longgar pada bola mata.
d. Kelenjar air mata aksesori (kelenjar Krause dan wolfring), yang struktur dan fungsinya mirip
kelenjar lakrimal, terletak di dalam stroma. Sebagian besar kelenjar krause berada di forniks
atas, dan sedikit ada di forniks bawah. Kelenjar wolfring terletak ditepi atas tarsus atas.
Konjungtivitis Vernalis
Konjungtivitis vernalis adalah peradangan konjungtiva bilateral dan berulang (recurrence)
yang khas, dan merupakan suatu reaksi alergi hipersensitivitas tipe I I (IgE and cell-mediated
immune). Penyakit ini juga dikenal sebagai catarrh musim semi dan konjungtivitis musiman atau
konjungtivitis musim kemarau. 2
Etiologi
Konjungtivitis vernal termasuk dalam konjungtivitis imunologik (alergika) yang terbagi
dalam dua kategori menurut patofisiologinya yaitu reaksi hipersensitivitas humoral segera dan reaksi
hipersensitivitas tipe lambat. Konjungtivitis dengan reaksi hipersensitivitas hmoral segera terdiri dari
konjungtivitis hay fever, keratokonjungtivitis vernal, keratokonjungtivitis vernal dan konjungtivitis
papiler

raksasa

(giant

papillary

keratoconjunctivitis).

Sedangkan

konjungtivitis

reaksi

hipersensitivitas tipe lambat terdiri dari fliktenulosis, konjungtivitis ringan sekunder akibat blefaritis
kontak.1
Konjungtivitis vernalis merupakan penyakit akibat suatu reaksi alergi hipersensitivitas tipe I
(IgE and cell-mediated immune). Alergan spesifiknya sulit dilacak, tetapi pasien keratokonjungtivitis
vernal biasanya menampilkan manifestasi alergi lainnya, yang diketahui berhubungan dengan
sensitivitas terhadap tepung sari rumput. 2 Reaksi hipersensitivitas tipe I yang mengenai kedua mata,
pada orang dengan riwayat keluarga yang kuat alergi.

12

Reaksi hipersentsitivitas Tipe I merupakan

Reaksi Anafilaksis disini antigen atau alergen bebas akan bereaksi dengan antibodi, dalam hal ini IgE
yang terikat pada sel mast atau sel basofil dengan akibat terlepasnya histamin. Keadaan ini
menimbulkan reaksi tipe cepat.2
Epidemiologi
Penyebaran konjungtivitis vernal merata di dunia, terdapat sekitar 0,1% - 0,5% pasien dengan
masalah tersebut. Penyakit ini lebih jarang di daerah beriklim sedang daripada di daerah dingin.
Penyakit ini hampir selalu lebih parah selama musim semi, musim panas dan musim gugur daripada
di musim dingin. Di daerah yang panas, didapatkan sepanjang masa, terutama pada musim panas. 1,2

Konjungtivitis vernal mengenai pasien muda antara 3-25 tahun dan lebih banyak pada lakilaki dibandingkan perempuan2,13. Biasanya dimulai pada masa prepubertas, pada laki-laki biasanya
mulai pada usia dibawah 10 tahun2. Konjungtivitis vernal biasanya berlangsung selama 5-10 tahun13.
Penderita konjungtivitis ini sering menunjukkan gejala alergi terhadap tepung sari rumputrumputan. Umumnya terdapat riwayat keluarga yang bersifat alergi atopik (turunan), kurang lebih
sepertiga dari pasien berhubungan dengan atopi dan dua pertiga memiliki riwayat atopi dalam
keluarga. Pada Penelitian bahwa 65% pasien kami yang menderita konjungtivitis vernal memiliki satu
atau lebih sanak keluarga setingkat yang memiliki penyakit turunan (misalnya asma,hay fever, iritasi
kulit turunan atau alergi selaput lendir hidung permanen). Penyakit-penyakit turunan ini umumnya
ditemukan pada pasien itu sendiri. Sebagian pasien mengalami asma dan eksema pada masa infant.1,2
Patofisiologi1,2,5
Perubahan struktur konjungtiva erat kaitannya dengan timbulnya radang insterstitial yang
banyak didominasi oleh reaksi hipersensitivitas tipe I dan IV. Pada konjungtiva akan dijumpai
hiperemia dan vasodilatasi difus, yang dengan cepat akan diikuti dengan hiperplasi akibat proliferasi
jaringan yang menghasilkan pembentukan jaringan ikat yang tidak terkendali. Kondisi ini akan diikuti
oleh hyalinisasi dan menimbulkan deposit pada konjungtiva sehingga terbentuklah gambaran cobble
stone. Jaringan ikat yang berlebihan ini akan memberikan warna putih susu kebiruan sehingga
konjungtiva tampak buram dan tidak berkilau. Proliferasi yang spesifik pada konjungtiva tarsal, oleh
von Graefe disebut pavement like granulations. Hipertrofi papil pada konjungtiva tarsal tidak jarang
mengakibatkan ptosis mekanik dan dalam kasus yang berat akan disertai keratitis serta erosi epitel
kornea.
Limbus konjungtiva juga memperlihatkan perubahan akibat vasodilatasi dan hipertropi yang
menghasilkan lesi fokal. Pada tingkat yang berat, kekeruhan pada limbus sering menimbulkan
gambaran distrofi dan menimbulkan gangguan dalam kualitas maupun kuantitas stem cells limbus.
Kondisi

yang

terakhir

ini

mungkin

berkaitan

dengan

konjungtivalisasi

pada

penderita

keratokonjungtivitis dan di kemudian hari berisiko timbulnya pterigium pada usia muda. Di samping
itu, juga terdapat kista-kista kecil yang dengan cepat akan mengalami degenerasi. 3
Pada bentuk palpebral, jaringan epitel membesar pada beberapa area dan menular ke area
lainnya. Kadangkala, eosinofil (warna kemerahan) tampak kuat di antara sel-sel jaringan epitel.
Perubahan yang menonjol dan parah terjadi pada substansi propria (jaringan urat). Pada tahap awal
jaringan terinfiltrasi dengan limfosit, sel plasma, eosinofil, dan basofil. Sejalan dengan perkembangan
penyakit, semakin banyak sel yang berakumulasi dan kolagen baru terbentuk, sehingga menghasilkan
bongkol-bongkol besar pada jaringan yang timbul dari lempeng tarsal. Terkait dengan perubahanperubahan tersebut adalah adanya pembentukan pembuluh darah baru dalam jumlah yang banyak.
Peningkatan jumlah kolagen berlangsung cepat dan menyolok. 6

Pada bentuk limbal terdapat perubahan yang sama, yaitu: perkembangbiakan jaringan ikat,
peningkatan jumlah kolagen, dan infiltrasi sel plasma, limfosit, eosinofil dan basofil ke dalam stroma.
Penggunaan jaringan yang dilapisi plastik yang ditampilkan melalui mikroskopi cahaya dan elektron
dapat memungkinkan beberapa observasi tambahan. Basofil sebagai ciri tetap dari penyakit ini,
tampak dalam jaringan epitel sebagaimana juga pada substansi propria. Walaupun sebagian besar sel
merupakan komponen normal dari substansi propia, namun tidak terdapat jaringan epitel konjungtiva
normal.6
Walaupun karakteristik klinis dan patologi konjungtivitis vernalis telah digambarkan secara
luas, namun patogenesis spesifik masih belum dikenali. 6

Gambar 3. Patofiologi Biomolekuler5

Gambar 4. Patofiiologi Biomonokuler5

Reaksi hipersentsitivitas memiliki 4 tipe reaksi seperti berikut:


Tipe I : Reaksi Anafilaksi. Di sini antigen atau alergen bebas akan bereaksi dengan
antibodi, dalam

hal ini IgE yang terikat pada sel mast atau sel basofil dengan akibat

terlepasnya histamin. Keadaan ini menimbulkan reaksi tipe cepat.


Tipe II : Reaksi Sitotoksik. Di sini antigen terikat pada sel sasaran. Antibodi dalam hal ini
IgE dan IgM dengan adanya komplemen akan diberikan dengan antigen, sehingga dapat
mengakibatkan hancurnya sel tersebut. Reaksi ini merupakan reaksi yang cepat menurut
Smolin (1986), reaksi allografi dan ulkus Mooren merupakan reaksi jenis ini.
Tipe III : Reaksi Imun Kompleks. Di sini antibodi berikatan dengan antigen dan
komplemen membentuk kompleks imun. Keadaan ini menimbulkan neurotrophichemotactic
factor yang dapat menyebabkan terjadinya peradangan atau kerusakan lokal. Pada umumnya
terjadi pada pembuluh darah kecil. Pengejawantahannya di kornea dapat berupa keratitis
herpes simpleks, keratitis karena bakteri.(stafilokok, pseudomonas) dan jamur. Reaksi
demikian juga terjadi pada keratitis Herpes simpleks.
Tipe IV : Reaksi Tipe Lambat. Pada reaksi hipersensitivitas tipe I, II dan III yang berperan
adalah antibodi (imunitas humoral), sedangkan pada tipe IV yang berperan adalah limfosit T
atau dikenal sebagai imunitas seluler. Limfosit T peka (sensitized T lymphocyte) bereaksi
dengan antigen, dan menyebabkan terlepasnya mediator (limfokin) yang jumpai pada reaksi
penolakan pasca keratoplasti, keraton- jungtivitis flikten, keratitis Herpes simpleks dan
keratitis diskiformis.
Manifestasi Klinis
Gejala yang mendasar adalah rasa gatal, manifestasi lain yang menyertai meliputi rasa sangat
gatal, mata berair, sensitif pada cahaya, rasa pedih terbakar, dan perasaan seolah ada benda asing yang
masuk serta sekret gelatin seperti benang1. Penyakit ini cukup menyusahkan, muncul berulang, dan
sangat membebani aktivitas penderita sehingga menyebabkan ia tidak dapat beraktivitas normal. 7
Konjungtiva tampak mirip susu (milky appearance) dengan banyak papil besar pada konjunctiva
tarsalis superior (tipe palpebra). Pada tipe limbal dapat ditemukan papil papil dengan bintik-bintik
keputihan di daerah limbus yang dikenal sebagai bercak Trantas. Bisa terjadi tukak kornea superficial
(bentuk lonjong dan letaknya di sebelah atas) dan mungkin diikuti pembentukan parut kornea ringan.
Selain itu, sering terjadi keratitis epitel yang difus. Penyakit ini mungkin disertai keratokonus 13.
Jenis Konungtivitis Vernal
1. Bentuk palpebra
Pada tipe palpebra terutama mengenai konjungtiva tarsalis superior. Terdapat
hipertrofi papil difus pada konjungtiva tarsalis superior, yang dapat dilihat pada gambar A. 12
Selain itu dapat ditemukan pertumbuhan papil (hiperplasia dan hialinisasi jaringan ikat
disertai proliferasi sel epitel dan sebukan sel limfosit, sel plasma dan sel eosinofil) yang besar

(Cobble stone appearance) pada gambar B.

2,12

Pada kasus yang berat, jaringan ikat

mengalami ruptur sehingga mengangkat giant papil yang diliputi dengan mucus yang banyak
pada gambar C.12 Saat inflamasi tenang, papil menjadi tersembunyi dan terpisah namun tidak
menghilang. Konjungtiva tarsalis inferior hiperemi dan edema, dengan kelainan kornea lebih
berat dibanding bentuk limbal. Kelainan kornea yang dapat ditemukan antara lain keratitis,
neovaskularisasi dan ulkus. Secara klinik papil besar ini tampak sebagai tonjolan bersegi
banyak (polygonal) dengan permukaan yang rata dan dengan kapiler ditengahnya.12
2. Bentuk limbal
Bentuk limbal sering ditemukan pada ras kulit hitam.

12

Pada bentuk ini ditemukan

hipertrofi papil pada limbus superior yang membentuk jaringan hiperplastik gelatin (nodul
mukoid) dengan Trantas dot (degenerasi epitel kornea atau eosinofil dibagian epitel limbus
kornea) pada gambar D, terbentuknya pannus dengan sedikit eosinophil.2
3. Campuran12

(A)

(B)

(C)

(D)

Gambar 5. Konjungtiva hiperemis dan hipertrofi papil difus pada kasus ringan (A); Giant papil
(Cobble Stone Appearance) (B); Giant papillae dan mucus banyak pada kasus yang berat (C), Nodul
mukoid dengan Trantas dot (D).14,15
Penatalaksanaan2,13,16
Karena konjungtivitis vernalisis adalah penyakit yang sembuh sendiri, perlu diingat bahwa
medikasi yang dipakai terhadap gejala hanya memberi hasil jangka pendek, berbahaya jika dipakai
jangka panjang. Penatalaksanaan konjungtivitis vernalisis berdasarkan luasnya symptom yang muncul
dan durasinya, yaitu :
Terapi Non-medikamentosa
Dalam hal ini mencakup tindakan-tindakan konsultatif yang membantu mengurangi keluhan pasien
berdasarkan informasi hasil anamnesis. Beberapa tindakan tersebut antara lain:

Menghindari tindakan menggosok-gosok mata dengan tangan atau jari tangan, karena telah
terbukti dapat merangsang pembebasan mekanis dari mediator-mediator sel mast. Di samping
itu, juga untuk mencegah superinfeksi yang pada akhirnya berpotensi ikut menunjang
terjadinya glaukoma sekunder dan katarak.

Pemakaian mesin pendingin ruangan berfilter;

Menghindari daerah berangin kencang yang biasanya juga membawa serbuksari;

Menggunakan kaca mata berpenutup total untuk mengurangi kontak dengan alergen di udara
terbuka. Pemakaian lensa kontak justru harus dihindari karena lensa kontak akan membantu
retensi allergen;

Kompres dingin di daerah mata;

Pengganti air mata (artifisial). Selain bermanfaat untuk cuci mata juga berfungsi protektif
karena membantu menghalau allergen;

Memindahkan pasien ke daerah beriklim dingin yang sering juga disebut sebagai climatotherapy.

Terapi Medikamentosa
Untuk terapi topikal dapat diberikan terapi medikamentosa yakni:
-

Anti alergi dan vasokonstriksi mata (vernacel) 3x/hari

Asam chromoglicate tetes mata (conver) 3x/hari atau natrium kromoglikat 2% topikal
dapat diberikan 4 kali sehari untuk mencegah degranulasi sel mast.

Steroid tetes mata (xitrol, tobroson) 3x/hari

Anti histamin dan steroid sistemik dapat diberikan pada kasus yang berat.

Cromolyn topical adalah agen profilaktik yang baik untuk kasus sedang sampai berat.
Bila tidak ada hasil dapat diberikan radiasi, atau dilakukan pengangkatan giant papil.

Antibiotik dapat diberikan untuk mencegah infeksi sekunder disertai dengan sikloplegik.

Anti-radang non-steroid yang lebih baru, seperti kerolac dan iodoxamine, cukup
bermanfaat mengurangi gejala.

Pada kasus yang lebih parah, bisa juga digunakan steroid sistemik seperti prednisolone asetat,
prednisolone fosfat, atau deksamethason fosfat 23 tablet 4 kali sehari selama 1-2 minggu. Satu hal
yang perlu diingat dalam kaitan dengan pemakaian preparat steroid adalah gunakan dosis serendah
mungkin dan sesingkat mungkin.
Antihistamin, baik lokal maupun sistemik, dapat dipertimbangkan sebagai pilihan lain, karena
kemampuannya untuk mengurangi rasa gatal yang dialami pasien. Apabila dikombinasi dengan
vasokonstriktor, dapat memberikan kontrol yang memadai pada kasus yang ringan atau
memungkinkan reduksi dosis.

Terapi Bedah
Terapi pembedahan exterpasi cobble stone apabila terdapat cobble stone yang besar dan
mengganggu. Namun, terapi ini kini sudah ditinggalkan mengingat banyaknya efek samping dan
terbukti tidak efektif, karena dalam waktu dekat akan tumbuh lagi.

Komplikasi
Dapat menimbulkan keratitis epitel atau ulkus kornea superfisial sentral atau parasentral, yang
dapat diikuti dengan pembentukan jaringan sikatriks yang ringan. Penyakit ini juga dapat
menyebabkan penglihatan menurun. Kadang-kadang didapatkan panus, yang tidak menutupi seluruh
permukaan kornea. Perjalanan penyakitnya sangat menahun dan berulang, sering menimbulkan
kekambuhan terutama di musim panas.17

Prognosis
Konjungtivitis pada umumnya bersifat self limited disease, artinya dapat sembuh dengan
sendirinya. Tanpa pengobatan biasanya sembuh dalam kurun waktu 10- 14 hari. Bila diobati, sembuh
dalam 1-3 hari. Namun, kondisi ini dapat terus berlanjut dari waktu ke waktu, dan semakin memburuk
selama musim-musim tertentu. Konjungtivitis vernal diderita sekitar 4-10 tahun, dengan remisi dan
eksaserbasi. Penyulit konjungtivitis vernal terutama disebabkan oleh pengobatan dengan
kortikosteroid lokal, yang tidak jarang mengakibatkan glaukoma kronik simpel yang terbengkalai
yang dapat berakhir dengan kebutaan.5

III.

Kesimpulan

Konjungtivitis vernalis adalah bentuk konjungtivitis alergi yang paling sering terjadi pada
anak umur antara 3-25 tahun. Konjungtivitis vernalis sering terjadi pada anak dengan riwayat eksema,
asma, atau alergi musiman. Gejala yang mendasar adalah rasa gatal, manifestasi lain yang menyertai
meliputi mata berair, rasa pedih terbakar, dan perasaan seolah ada benda asing yang masuk. Terdapat dua
tipe konjungtivitis vernalis, yaitu tipe palpebral dan tipe lumbal. Diagnosis ditegakkan sesuai dengan
gejala dan tanda klinis serta hasil pemeriksaan mata. Pemeriksaan laboratorium yang dilakukan berupa
kerokan konjungtiva untuk mempelajari gambaran sitologi dengan hasil pemeriksaan menunjukkan
banyak eosinofil dan granula-granula bebas eosinofilik. Konjungtivitis vernalisis adalah penyakit yang
sembuh sendiri namun bersifat kambuhan, di mana medikasi yang dipakai terhadap gejala hanya
memberi hasil jangka pendek. Prognosis penderita konjungtivitis vernalis umumnya baik.
Berdasarkan kasus yang di analisa, didapatkan diagnosis kerja yaitu Konjungtivitis Vernalis.
Hal ini di dasarkan pada hasil anamnesis dimana di dapatkan mata hiperemis setelah terpapar alergen,
riwayat alergi pasien pada debu dan udara panas. Adapun riwayat batuk pilek sebagai keluhan dari
riwayat alergi tersebut. Didapatkan pula mata kanan dan kiri gatal dan hiperemis serta tidak adanya
penurunan visus yang merupakan beberapa ciri khas dari konjungtivitis. Namun hal ini tetap harus di
pastikan dengan pemeriksaan fisik yang lengkap serta didukung dengan pemeriksaan penunjang.

Daftar Pustaka
1. Schwab IR, Dawson CR. 2000. Konjungtiva dalam: Oftalmologi Umum. Edisi 14. Jakarta:
Widya Medika. Hal: 99-101, 115-116.
2. Ilyas S, Yulianti SR. Ilmu Penyakit Mata. Edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2015 Hal:
13-41, 112-3, 124-50, 298-306.
3. Setiati S, Alwi I, Sudoyo Aw, dkk. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Jld 1. Ed 6. Jakarta :
Interna Publising, 2014.h.125-8.

4. Bickley, Lynn S. Buku ajar pemeriksaan fisik dan riwayat kesehatan Bates. Edisi ke-8.
Jakarta; EGC; 2009.h.147-57.
5. Soewono W, Budiono S, Aminoe. 1994. Konjungtivitis Vernal dalam: Pedoman Diagnosis
dan Terapi Lab/UPF Ilmu Penyakit Mata. Surabaya: RSUD Dokter Soetomo. Hal: 92-94.
6. Bates, Barbara. Pemeriksaan Fisik dan Riwayat Kesehatan. Edisi 8. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC;2009.
7. Arif M. Kapita Selekta Kedokteran.. Jilid I. Ed.3. Jakarta: Media Aesculapius, 2000.h. 54
8. Wordpress. Konjungtivitis Vernal. Diakses tanggal 20 Maret 2016. Dari:
http://francichandra.wordpress.com/2010/04/07/konjungtivitis-vernal/
9. Gleadle J. Mata merah. Dalam: at a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta:
Erlangga, 2007. h. 49.
10. Riordan Paul, Whitcher John. Oftalmologi umum. Edisi ke 17. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2009.h. 97-115.
11. N, Mitchell et al. Buku Saku Dasar Patologis Penyakit Robbins & Cotran. Edisi 7. Jakarta :
Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2008.h.430-1.
12. Kanski, J.J., Bowling, B. Clinical ophthalmology: a systematic approach [e-book]. Edisi ke-7.
China: Elsevier Saunders; 2011.
13. Vaughan, D.G., Taylor, A., Paul, R.E. 2007. General Ophthalmology 1st Edition. USA:
McGraw-Hill. p: 110-111
14. Konjungtivitis Vernal Picture. Accessed at Maret 20th 2016. Available at
http://www.medflux.com/gallery/details.php?
image_id=295&sessionid=0400f807cfd53707634d9eb4262e15db
15. Konjungtivitis Vernal Picture. Accessed at Maret 20th 2016. Available at
http://webeye.ophth.uiowa.edu/eyeforum/cases/70-Vernal-Keratoconjunctivitis-AtopicAsthma.htm
16. Wijana S.D, Nana Dr. Ilmu Penyakit Mata. Ed. rev. Cet.6. Jakarta: Abadi Tegal, hal 54
17. Morosidi, S.A., Paliyama, M.F. Ilmu penyakit mata. Jakarta: FK Ukrida; 2011.h.14