Anda di halaman 1dari 11

TUGAS MATA KULIAH GEOTEKTONIK

CONTINENTAL DRIFT, PLATE TECTONIC, DAN GEOSINKLIN

Nama
NIM

: Ella Purnamasari
: 22014007

PROGRAM MAGISTER TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS ILMU DAN TEKNOLOGI KEBUMIAN
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2014

CONTINENTAL DRIFT
Continental drift atau hipotesis pergeseran benua dikemukakan oleh seorang ahli meteorologi asal Jerman,
Alfred Wegener, pada tahun 1912. Dalam hipotesisnya beliau mengemukakan bahwa bumi pada awalnya
hanya terdiri dari satu benua (super continent) yang disebut Pangaea yang kemudian pecah menjadi
benua-benua yang lebih kecil. Benua-benua pecahannya tersebut perlahan bergerak ke posisinya seperti
sekarang ini dan masih terus bergerak perlahan. Akan tetapi hipotesis ini ditolak secara akademis karna
Wegener tidak dapat menjelaskan mekanisme seperti apa yang menyebabkan adanya pergerakan
lempeng.
Adapun bukti-bukti dari Alfred Wegener untuk memperkuat hipotesisnya adalah sebagai berikut :
1. Adanya kesamaan garis pantai antara Benua Amerika Selatan bagian timur dengan garis pantai Benua
Afrika bagian barat. Apabila kedua benua tersebut disatukan, maka garis pantainya akan berhimpit
atau serasi satu sama lain (gambar 1.1). Wegener menduga bahwa kedua benua tersebut pada
awalnya adalah satu. Berdasarkan adanya kecocokan bentuk garis pantai inilah kemudian Wegener
mencoba untuk mencocokkan semua benua-benua yang ada di muka bumi (gambar 1.2).

Gambar 1.1 Garis pantai yang serasi antara Benua Amerika Selatan bagian timur dengan Benua Afrika
bagian barat.

Gambar 1.2 Hasil pencocokkan benua-benua oleh Wegener, yang disebut Pangaea.

2. Ditemukannya fosil-fosil yang berasal dari binatang dan tumbuhan yang tersebar luas dan terpisah di
beberapa benua (gambar 1.3).
Fosil Cynognathus, suatu reptil yang hidup sekitar 240 juta tahun yang lalu dan ditemukan di benua
Amerika Selatan dan benua Afrika.
Fosil Mesosaurus, suatu reptil yang hidup di danau air tawar dan sungai yang hidup sekitar 260 juta
tahun yang lalu, ditemukan di benua Amerika Selatan dan benua Afrika.
Fosil Lystrosaurus, suatu reptil yang hidup di daratan sekitar 240 juta tahun yang lalu, ditemukan di
benua benua Afrika, India, dan Antartika.
Fosil Clossopteris, suatu tanaman yang hidup 260 juta tahun yang lalu, dijumpai di benua benua
Afrika, Amerika Selatan, India, Australia, dan Antartika.

Lystrosaurus
Cynognathus

Glossopteris

Mesosaurus

Gambar 1.3 Pola fosil di seluruh benua.

3. Jalur pegunungan Appalachian yang berada di bagian timur benua Amerika Utara dengan sebaran
berarah timur laut dan secara tiba-tiba menghilang di pantai Newfoundlands. Pegunungan yang
umurnya sama dengan pegunungan Appalachian juga dijumpai di British Isles dan Scandinavia. Kedua
pegunungan tersebut apabila diletakkan pada lokasi sebelum terjadinya pemisahan / pengapungan,
kedua pegunungan ini akan membentuk suatu jalur pegunungan yang menerus (gambar 1.4).
4. Adanya iklim masa lampau (ancient climates). Ketika benua-benua disusun menjadi satu untuk
membentuk Pangaea, sisa dari material glasial menyatu membentuk pola seperti hamparan es yang
menutupi kutub bumi kita hari ini (gambar 1.5).

Gambar 1.4 A. Jalur pegunungan Appalachian yang berada di Amerika Utara dan pegunungan lain dengan
umur sama yang berada di British Isles dan Scandinavia; B. Adanya jalur pegunungan yang menerus dari
pegunungan Appalachian bila diletakkan posisi sebelum pengapungan.

Gambar 1.5 A.Sisa dari material glasial dalam posisi sebelum pengapungan; B. Sisa dari material glasial
dalam posisi sekarang/sesudah pengapungan.

PLATE TECTONIC
Teori Tektonik Lempeng berasal dari hipotesis continental drift yang dikemukakan Alfred Wegener tahun
1912 dan dikembangkan lagi dalam bukunya The Origin of Continents and Oceans terbitan tahun 1915. Dia
mengemukakan bahwa benua-benua yang sekarang ada dulu adalah satu bentang muka yang bergerak
menjauh sehingga melepaskan benua-benua tersebut dari inti bumi seperti bongkahan es dari granit yang
bermassa jenis rendah yang mengambang di atas lautan basal yang lebih padat. Namun, tanpa adanya
bukti terperinci dan perhitungan gaya-gaya yang dilibatkan, teori ini dipinggirkan. Mungkin saja bumi
memiliki kerak yang padat dan inti yang cair, tetapi tampaknya tetap saja tidak mungkin bahwa bagianbagian kerak tersebut dapat bergerak-gerak.
Di kemudian hari, dibuktikanlah teori yang dikemukakan geolog Inggris Arthur Holmes tahun 1920 bahwa
tautan bagian-bagian kerak ini kemungkinan ada di bawah laut. Terbukti juga teorinya bahwa arus konveksi
di dalam mantel bumi adalah kekuatan penggeraknya (gambar 1.6). Bukti pertama bahwa lempenglempeng itu memang mengalami pergerakan didapatkan dari penemuan perbedaan arah medan magnet
dalam batuan-batuan yang berbeda usianya (gambar 1.7). Penemuan ini dinyatakan pertama kali pada
sebuah simposium di Tasmania tahun 1956.
Mula-mula, penemuan ini dimasukkan ke dalam teori ekspansi bumi, namun selanjutnya justru lebih
mengarah ke pengembangan teori tektonik lempeng yang menjelaskan penyebaran (spreading) sebagai
konsekuensi pergerakan vertikal (upwelling) batuan, tetapi menghindarkan keharusan adanya bumi yang
ukurannya terus membesar atau berekspansi (expanding earth) dengan memasukkan zona
subduksi/hunjaman (subduction zone), dan sesar translasi (translation fault). Pada waktu itulah teori
tektonik lempeng berubah dari sebuah teori yang radikal menjadi teori yang umum dipakai dan kemudian
diterima secara luas di kalangan ilmuwan.
Menurut teori Lempeng Tektonik, lapisan terluar bumi kita terbuat dari suatu lempengan tipis dan keras
yang masing-masing saling bergerak relatif terhadap yang lain. Gerakan ini terjadi secara terus-menerus
sejak bumi ini tercipta hingga sekarang. Teori Lempeng Tektonik muncul sejak tahun 1960-an, dan hingga
kini teori ini telah berhasil menjelaskan berbagai peristiwa geologis, seperti gempa bumi, tsunami, dan
meletusnya gunung berapi, juga tentang bagaimana terbentuknya gunung, benua, dan samudra. Lempeng
tektonik terbentuk oleh kerak benua (continental crust) ataupun kerak samudra (oceanic crust), dan lapisan
batuan teratas dari mantel bumi (earths mantle). Kerak benua dan kerak samudra, beserta lapisan teratas
mantel ini dinamakan litosfer. Kepadatan material pada kerak samudra lebih tinggi dibanding kepadatan
pada kerak benua. Demikian pula, elemen-elemen zat pada kerak samudra (mafik) lebih berat dibanding
elemen-elemen pada kerak benua (felsik). Di bawah litosfer terdapat lapisan batuan cair yang dinamakan
astenosfer. Karena suhu dan tekanan di lapisan astenosfer ini sangat tinggi, batu-batuan di lapisan ini
bergerak mengalir seperti cairan (fluid). Litosfer terpecah ke dalam beberapa lempeng tektonik yang saling
bersinggungan satu dengan lainnya.
Lempeng-lempeng tektonik utama yaitu :

Lempeng Afrika, meliputi Afrika Lempeng benua


Lempeng Antarktika, meliputi Antarktika Lempeng benua
Lempeng Australia, meliputi Australia (tergabung dengan Lempeng India antara 50 sampai 55 juta
tahun yang lalu)- Lempeng benua
Lempeng Eurasia, meliputi Asia dan Eropa Lempeng benua
Lempeng Amerika Utara, meliputi Amerika Utara dan Siberia timur laut Lempeng benua
Lempeng Amerika Selatan, meliputi Amerika Selatan Lempeng benua

Lempeng Pasifik, meliputi Samudera Pasifik Lempeng samuderaLempeng-lempeng penting lain


yang lebih kecil mencakup Lempeng India, Lempeng Arabia, Lempeng Karibia, Lempeng Juan de Fuca,
Lempeng Cocos, Lempeng Nazca, Lempeng Filipina, dan Lempeng Scotia.

Gambar 1.6 Arus konveksi pada lempeng litosfer

Gambar 1.7 Polaritas magnetik batuan di lantai samudera yang berarah bolak-balik dan membentuk
kenampakan seperti cermin pada kedua sisi pematang tengah samudera

Karena tiap lempeng bergerak sebagai unit tersendiri dipermukaan bumi yang bulat, maka interaksi antar
lempeng terjadi pada batas batas lempeng. Berdasarkan arah pergerakannya, perbatasan antara
lempeng tektonik yang satu dengan lainnya (plate boundaries) terbagi dalam 3 jenis, yaitu batas divergen,
konvergen, dan transform, yaitu :
1. Batas Divergen

Terjadi pada dua lempeng tektonik yang bergerak saling memberai (break apart). Ketika sebuah
lempeng tektonik pecah, lapisan litosfer menipis dan terbelah, membentuk batas divergen.
Pada lempeng samudra, proses ini menyebabkan pemekaran dasar laut (seafloor spreading).
Sedangkan pada lempeng benua, proses ini menyebabkan terbentuknya lembah retakan (rift valley)
akibat adanya celah antara kedua lempeng yang saling menjauh tersebut.
Pematang Tengah-Atlantik (Mid-Atlantic Ridge) adalah salah satu contoh divergensi yang paling
terkenal, membujur dari utara ke selatan di sepanjang Samudra Atlantik, membatasi Benua Eropa dan
Afrika dengan Benua Amerika.

Gambar 1.8 Kenampakan batas divergen.


2. Batas konvergen

Terjadi apabila dua lempeng tektonik tertelan (consumed) ke arah kerak bumi, yang mengakibatkan
keduanya bergerak saling menumpu satu sama lain (one slip beneath another).
Wilayah dimana suatu lempeng samudra terdorong ke bawah lempeng benua atau lempeng
samudra lain disebut dengan zona tunjaman (subduction zones).

Di zona tunjaman inilah sering terjadi gempa. Pematang gunung-api (volcanic ridges) dan parit
samudra (oceanic trenches) juga terbentuk di wilayah ini.
Contoh kasus ini dapat kita lihat di Pegunungan Andes di Amerika Selatan dan busur pulau Jepang
(Japanese island arc).

Batas konvergen ada 3 macam, yaitu :


a. Konvergen lempeng benuasamudera (OceanicContinental)

Ketika suatu lempeng samudera menunjam ke bawah lempeng benua, lempeng ini masuk ke
lapisan astenosfer yang suhunya lebih tinggi, kemudian meleleh.
Pada lapisan litosfer tepat di atasnya, terbentuklah deretan gunung berapi (volcanic mountain
range). Sementara di dasar laut tepat di bagian terjadi penunjaman, terbentuklah parit samudra
(oceanic trench).
Pegunungan Andes di Amerika Selatan adalah salah satu pegunungan yang terbentuk dari proses
ini. Pegunungan ini terbentuk dari konvergensi antara Lempeng Nazka dan Lempeng Amerika Selatan.

Gambar 1.9 Kenampakan batas konvergen benua vs samudera


b. Konvergen lempeng samudrasamudra (OceanicOceanic)

Salah satu lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng samudra lainnya, menyebabkan
terbentuknya parit di dasar laut, dan deretan gunung berapi yang pararel terhadap parit tersebut, juga
di dasar laut.
Puncak sebagian gunung berapi ini ada yang timbul sampai ke permukaan, membentuk gugusan
pulau vulkanik (volcanic island chain).
Pulau Aleutian di Alaska adalah salah satu contoh pulau vulkanik dari proses ini. Pulau ini terbentuk
dari konvergensi antara Lempeng Pasifik dan Lempeng Amerika Utara.

Gambar 1.10 Kenampakan batas konvergen samudera vs samudera


c. Konvergensi lempeng benua benua (Continental)

Salah satu lempeng benua tabrakan dengan lempeng benua lainnya, menyebabkan terbentuknya
suatu deretan pegunungan yang sangat luas dan besar.
Contoh penumbukan antara dua lempeng benua adalah Pegunungan Himalaya, Pegunungan
Alpina, dan Andes.

Gambar 1.11 Kenampakan batas konvergen benua vs benua

TEORI GEOSINKLIN
Teori ini dikonsep oleh Hall pada tahun 1859 yang kemudian dipublikasikan oleh Dana pada tahun 1873.
Teori ini bertujuan untuk menjelaskan terjadinya endapan batuan sedimen yang sangat tebal, ribuan meter
dan memanjang seperti pada Pegunungan Himalaya, Alpina dan Andes.
Konsep tersebut menyatakan bahwa geosinklin terbentuk memanjang atau seperti cekungan dalam skala
ribuan meter, yang terus menurun akibat dari akumulasi batuan sedimen dan vulkanik (gambar 1.10).
Sedangkan geosinklin adalah suatu daerah sempit pada kerak bumi mengalami depresi selama beberapa
waktu sehingga terendapkan secara ekstrim sedimen yang tebal. Proses pengendapan ini menyebabkan
subsidence (penurunan) pada dasar cekungan. Endapan sedimen yang tebal dianggap berasal dari

sedimen akibat proses orogenesa yang membentuk pengunungan lipatan dan selama proses ini endapan
sedimen yang telah terbentuk akan mengalami metamorfosa. Terdeformasinya batuan di dalamnya dapat
dijelaskan sebagai akibat dari menyempitnya cekungan, sehingga batuan di dalamnya terlipat dan
tersesarkan. Pergerakan ini terjadi akibat adanya gaya penyeimbang atau isostasi.
Kelemahan dari teori yakni tidak bisanya menjelaskan asal-usul vulkanik. Pada intinya, golongan ilmuwan
menganggap bahwa gaya yang bekerja pada bumi merupakan gaya vertical. Artinya, semua deformasi
yang terjadi diakibatkan oleh gaya utama yang berarah tegak lurus dengan bidang yang terdeformasi.
Perbedaan mendasar dari teori geosinklin dan teori tektonik lempeng adalah dari segi pemahaman gerak
yang mendominasi kedinamisan bumi. Pada teori geosinklin, pemahaman yang digunakan adalah
dinamisme pada bumi ini disebabkan oleh gerak vertikal tanpa adanya perubahan arah lateral yang berarti.
Sedangkan, pada teori tektonik lempeng, menyatakan hal tersebut tidak demikian, melainkan pergerakan
dinamik bumi lebih cenderung untuk bergerak lateral, sementara pergerakan vertikal hanya sebagai
konsekuensi arah lateral tersebut. Menurut teori tektonik lempeng, pergerakan lateral tersebut dapat
terjadi karena posisi kerak bumi (dan litosfer) sebagai benda brittle, yang menumpang diatas astenosfer
yang bersifat ductile, plastis dan mudah mengalir.

Gambar 1.12 Penampang melintang teori geosinklin

SUMBER
1.
2.
3.
4.
5.

http://yudi81.wordpress.com/2010/12/04/teori-tektonik-lempeng/
http://arsildangeograf.blogspot.com/2013/02/tektonik-lempeng.html
http://en.wikipedia.org/wiki/Alfred_Wegener
http://www.disaster-girl.com/2011/12/pangaea-earth-crust-displacement-and.html
http://syaifulmangantjo.wordpress.com/2011/11/04/teosri-geosinklin-continental-drift-sea-floor-

spreading-dan-tektonik-lempeng/
6. http://enzharanifirsticia.wordpress.com/2013/02/24/tugas-geologi-sejarah-geosinklin/