Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia diciptakan Allah dengan berbagai potensi yang dimilikinya, tentu
dengan alasan yang sangat tepat potensi itu harus ada pada diri manusia,
sebagaimana sudah diketahui manusia diciptakan untuk menjadi khalifatullah fil
ardh.
Potensi yang dimiliki manusia tidak ada artinya kalau bukan karena
bimbingan dan hidayah Allah yang terhidang di alam ini. Namun manusia tidak
pula begitu saja mampu menelan mentah-mentah apa yang dia lihat, kecuali
belajar dengan megerahkan segala tenaga yang dia miliki untuk dapat memahami
tanda-tanda yang ada dalam kehidupannya. Tidak hanya itu, manusia setelah
mengetahui wajib mengajarkan ilmunya agar fungsi kekhalifahan manusia tidak
terhenti pada satu masa saja, Dan semua itu sudah diatur oleh Allah SWT.
Menuntut ilmu merupakan kewajiban dan kebutuhan manusia. Tanpa ilmu
manusia akan tersesat dari jalan kebenaran. Tanpa ilmu manusia tidak akan
mampu merubah suatu peradaban. Bahkan dirinyapun tidak bisa menjadi lebih
baik.
B. Rumusan Masalah
1) Apa itu yang dimaksud dengan belajar dan mengajar.
2) Mengapa menuntut ilmu (belajar) sebagai kewajiban.
3) Kapan proses belajar berlangsung dan sampaikan kapan
4) Bagaiamana kaitan hadis dengan kewajiban belajar mengajar
C. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan penulisan ini adalah :

1) Ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan belajar dan mengajar


2) Ingin mengetahui mengapa menuntut ilmu itu suatu kewajiban bagi
muslim laki-laki maupun perempuan.
3) Ingin mengetahui kapan proses belajar maupun mengajar dimulai
4) Ingin menambah wawasan atau pengetahuan mengenai hal ini.

D. Metode Penulisan
Dalam memperoleh data atau informasi yang digunakan
untuk penulisan makalah ini, penulis menggunakan metode studi
kepustakaan yakni dilakukan dengan mengambil referensi dari
buku-buku dan internet yang relevan dengan topik penulisan
makalah ini sebagai dasar untuk mengetahui dan memperkuat
teori yang digunakan.
E. Ruang Lingkup

Mengingat keterbatasan waktu dan kemampuan yang kami


tim penyusun miliki serta sesuai rujukan materi yang harus
dibahas dalam makalah ini yang diberikan oleh ibu dosen
pengasuh mata kuliah Hadits Tarbawi yang juga sebagai pemberi
tugas,

maka

ruang

lingkup

makalah

ini

pembahasan kewajiban belajar dan mengajar

BAB II

terbatas

pada

PEMBAHASAN

A. Pengertian Belajar dan Mengajar

Hampir semua ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya


tentang Belajar. Seringkali pula perumusan dan tafsiran berbeda satu sama lain.
Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman.
(learning is defined as the modification or trengthening of behavior through
experiencing).
Menurut pengertian diatas, belajar adalah merupakan proses suatu kegiatan
dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengiat, akan tetapi lebih
luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil
latihan, melainkan perubahan kelakuan. Ada juga yang mengatakan bahwa belajar
adalah memperoleh pengetahuan, belajar adalah latihan-latihan pembentukan
kebiasaan secara otomatis, dan seterusnya.
Sedangkan pengertian mengajar lebih identik kepada proses mengarahkan
seseorang agar lebih baik. Didalam ilmu pendidikan islam adalah setiap orang
dewasa yang karena kewajiban agamanya bertanggung jawab atas pendidikan
dirinya dan orang lain. Atau konsekuensi dari pada pengetahuan yang didapat.

B. Alasan Msenuntut Ilmu (Belajar)


Menuntut ilmu merupakan kewajiban dan kebutuhan manusia. Tanpa ilmu
manusia akan tersesat dari jalan kebenaran. Tanpa ilmu manusia tidak akan
mampu merubah suatu peradaban. Bahkan dirinyapun tidak bisa menjadi lebih
baik. Karena menuntut ilmu merupakan sesuatu yang sangat penting dan
merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Dari urian tadi sudah menjadi
keseharusan dalam menuntut ilmu.

C. Awal Perintah Membaca


Mengingat hal diatas sangat tepat jika wahyu pertama turun kepada nabi
SAW mengisyaratkan tentang perintah membaca (menuntut ilmu). Yakni Surat AlAlaq ayat 1


Artinya
Bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan.
Kata Iqra terambil dari kata kerja karaa yang pada mulanya berarti
menghimpun. Apabila kita merangkai huruf kemudian mengucapkan rangkaian
tersebut maka kita sudah menghimpunnya yakni membacanya. Dengan
demikinan, realisasi perintah tersebut tidak mengharuskan adanya suatu teks
tertulis sebagai objek bacaan, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar oleh
orang lain. Karena dalam kamus-kamus ditemukan aneka ragam arti dari kata
tersebut adalah bisa menyampaikan, menelaah, membaca, meneliti, mendalami.

D. Hadits-Hadits

Ilmu merupakan kunci untuk menyelesaikan segala persoalan, baik


persoalan yang berhubungan dengan kehidupan beragama maupun persoalan yang
berhubungan dengan kehidupan duniawi. Ilmu diibaratkan dengan cahaya, karena
ilmu memiliki pungsi sebagai petunjuk kehidupan manusia, pemberi cahaya bagi
orang yang ada dalam kegelapan.
Orang yang mempunyai ilmu mendapat kehormatan di sisi Allah dan
Rasul-Nya. Banyak ayat Al-Quran yang mengarah agar umatnya mau menuntut
ilmu, seperti yang terdapat dalam QS : Al-Mujadalah ayat 11 :




Artinya :
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orangorang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat dan Allah Maha
mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Q.s. al-Mujadalah : 11)
Selain itu banyak hadits Nabi Saw yang mendorong agar umat Islam
bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Di bawah ini terdapat hadits Nabi
Saw yang berkenaan dengan kewajiban menuntut ilmu diantaranya:
a. Hadits tentang keharusan meniru orang yang banyak ilmu


: :

:

,
) )

Sebelum menterjemahkan secara keseluruhan hadits tersebut, marilah kita lihat


terlebih dahulu terjemahannya secara harfiyah (kata-perkata) berikut ini :
Arti Harfiah
Cara Membaca
Janganlah hasud
Laa hasada
kecuali seperti dua orang ini. Illa fitsnataini
orang yang diberi Allah
Rojulun ataahullohu
kekayaan berlimpah
Malaan
dan ia membelanjakannya
Fasullitho
Dengan benar
Fil Haqqi
Hikmah
Al-Hikmata
ia berprilaku sesuai dengannya Fa Huwa Yaqdhi
dan mengajarkannya
Wayuallimuha

Tulisan Arab

Artinya :
Dari Abdullah bin Masud r.a. Nabi Muhamad pernah bersabda :Janganlah
ingin seperti orang lain, kecuali seperti dua orang ini. Pertama orang yang diberi
Allah kekayaan berlimpah dan ia membelanjakannya secara benar, kedua orang
yang diberi Allah al-Hikmah dan ia berprilaku sesuai dengannya dan
mengajarkannya kepada orang lain (HR Bukhari)
Hadits di atas mengandung pokok materi yaitu seorang muslim harus
merasa iri dalam beberapa hal. Memang iri atau perbuatan hasud adalah perbuatan
yang dilarang dalam ajaran Islam, tetapi ada dua hasud yang harus ada pada diri
seorang muslim, yaitu pertama menginginkan banyak harta dan harta itu
dibelanjakan di jalan Allah seperti dengan berinfaq, shadaqah dan lainnya. Harta
ini tidak digunakan untuk berbuat dosa dan maksiat kepada Allah, kedua
menginginkan ilmu seperti yang dimiliki orang lain, kemudian ilmu itu diamalkan
dalam kehidupan sehari-hari, juga diajarkan kepada orang lain dengan ikhlash.
Hukum mencari ilmu itu wajib, dengan rincian, pertama hukumnya
menjadi fardhu ain untuk mempelajari ilmu agama seperti aqidah, fiqih, akhlak
serta Al-Quran. Ilmu-ilmu ini bersipat praktis, artinya setiap muslim wajib

memahami dan mempraktekkan dalam pengabdiannya kepada Allah. Fardu ain


artinya setiap orang muslim wajib mempelajarinya, tidak boleh tidak.
Dan kedua hukumnya menjadi fardu kifayah untuk mempelajari ilmu
pengetahuan umum seperti : ilmu sosial, kedokteran, ekonomi serta teknologi.
Fardu Kifayah artinya tidak semua orang dituntut untuk memahami serta
mempraktekkan ilmu-ilmu tersebut, boleh hanya sebagian orang saja.
Kewajiban menuntut ilmu ini ditegaskan dalam hadits nabi, yaitu :



))
Artinya :
Mencari ilmu itu hukumnya wajib bagi muslimin dan muslimat
(HR. Ibnu Abdil Bari)
Secara jelas dan tegas hadits di atas menyebutkan bahwa menuntut ilmu
itu diwajibkan bukan saja kepada laki-laki, juga kepada perempuan. Tidak ada
perbedaan bagi laki-laki ataupun perempuan dalam mencari ilmu, semuanya
wajib. Hanya saja bahwa dalam mencari ilmu itu harus tetap sesuai dengan
ketentuan Islam.
Kewajiban menuntut ilmu waktunya tidak ditentukan sebagimana dalam
shalat, tetapi setiap ada kesempatan untuk menuntutnya, maka kita harus
menuntut ilmu. Menuntut ilmu tidak saja dapat dilaksanakan di lembaga-lembaga
formal, tetapi juga dapat dilakukan lembaga non formal. Bahkan, pengalaman
kehidupanpun merupakan guru bagi kita semua, di mana kita bisa mengambil
pelajaran dari setiap kejadian yang terjadi di sekeliling kita. Begitu juga masalah
tempat, kita dianjurkan untuk menuntut ilmu dimana saja, baik di tempat yang
dekat maupun di tempat yang jauh, asalkan ilmu tersebut bermanfaat bagi kita.

Nabi pernah memerintahkan kepada umatnya untuk menuntut ilmu walaupun


sampai di tempat yang jauh seperti negeri China.
Selain itu menuntut ilmu itu tidak mengenal batas usia, sejak kita terlahir
sampai kita masuk kuburpun kita senentiasa mengambil pelajaran dalam
kehidupan, dengan kata lain Islam mengajarkan untuk menuntut ilmu sepanjang
hayat dikandung badan. Sebagaimana tercantum dalam hadits nabi :

) )
Artinya
Carilah ilmu dari buaian sampai liang lahat(HR. Muslim)
b. Hadits yang menjelaskan keutamaan orang yang menuntut ilmu
Rasulullah bersabda tentang keutamaan menuntut ilmu sebagai berikut :

) )
Perhatikan terjemahan secara harfiah dibawah ini :
Arti Harfiah
Barang siapa yang menempuh
suatu jalan
Ilmu
Allah akan memudahkan
Baginya
Jalan menuju surga

Cara Membaca
Man salaka
Thoriiqon
ilman
Sahhalalloohu
Lahu
Thoriiqon ilal jannah

Tulisan Arab

Terjemah secara lengkap :


Barang siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu, Allah akan
memudahkan baginya jalan ke surga (HR Muslim)

Hadits di atas memberi gambaran bahwa dengan ilmulah surga itu akan
didapat. Karena dengan ilmu orang dapat beribadah dengan benar kepada Allah
Swt dan dengan ilmu pula seorang muslim dapat berbuat kebaikan. Oleh karena
itu orang yang menuntut ilmu adalah orang yang sedang menuju surga Allah.
Mencari ilmu itu wajib, tidak mengenal batas tempat, dan juga tidak
mengenal batas usia, baik anak-anak maupun orang tua. Kewajiban menuntut ilmu
dapat dilaksanakan di sekolah, pesantren, majlis talim, pengajian anak-anak,
belajar sendiri, penelitian atau diskusi yang diselenggrakan oleh para remaja
mesjid.
Ilmu merupakan cahaya kehidupan bagi umat manusia. Dengan ilmu,
kehidupan di dunia terasa lebih indah, yang susah akan terasa mudah, yang kasar
akan terasa lebih halus. Dalam menjalankan ibadah kepada Allah, harus dengan
ilmu pula. Sebab beribadah tanpa didasarkan ilmu yang benar adalah sisa-sia
belaka. Oleh karena itu dengan mengamalkan ilmu di jalan Allah merupakan
ladang amal (pahala) dalam kehidupan dan dapat memudahkan seseorang untuk
masuk ke dalam surga Allah.
Allah sangat mencintai orang-orang yang berilmu, sehingga orang yang
berilmu yang didasarkan atas iman akan diangkat derajatnya oleh Allah,
sebagaimana firman-Nya di atas dalam Q.S Al-Mujadallah : 11

Keutamaan lainnya dari ilmu adalah dapat mencapai kebahagiaan baik di


dunia ataupun di akhirat. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits nabi :


()
Artinya :

Barangsiapa yang menginginkan kehidupan dunia, mak ia harus memiliki ilmu,


dan barang siapa yang menginginkan kehidupan akhirat maka itupun harus
dengan ilmu, dan barang siapa yang menginginkan keduanya maka itupun harus
dengan ilmu (HR. Thabrani)
Kebahagian di dunia dan akhirat akan dapat diraih dengan syarat memiliki
ilmu yang dimanfatkan. Manfaat ilmu pengetahun bagi kehidupan manusia,
antara lain :
1. Ilmu merupakan cahaya kehidupan dalam kegelapan, yang akan
membimbimg manusia kepada jalan yang benar
2. Orang yang berilmu dijanjikan Allah akan ditinggikan derajatnya menjadi
orang yang mulia beserta orang-orang yang beriman
3. Ilmu dapat membantu manusia untuk meningkatkan taraf hidup menuju
kesejahteraan, baik rohani maupun jasmani
4. Ilmu merupakan alat untuk membuka rahasia alam, rahasia kesuksesan
hidup baik di dunia maupun di akhirat.

E. Biografi Perawi-Perawi Hadits

1. Ibnu Abdil Barr

Nama dan Kelahiran Beliau

10

Nama beliau adalah Yusuf bin Abdillah bin Muhammad bin


Abdil Barr bin Ashim An-Namri Al-Andalusi Al-Qurthubi Al-Maliki,
sang penyusun karya-karya besar.
Kelahirannya: Ibnu Abdil Barr dilahirkan pada tahun 368 H.
mengnai bulan dilahirkannya, para sejarahwan masih berselisih,
ada yang mengatakan ia dilahirkan pada bulan Rabiul Akhir dan
ada juga yang mengatakan ia dilahirkan pada bulan Jumadal Ula.
Pencarian Ilmu dan Keluasan Ilmunya
Adz-Dzahabi mengatakan, Ia mencari ilmu setelah tahun
390 H. dan masih sempat berguru kepada ulama-ulama besar
pada masa itu. Umurnya sangat panjang dan sanad yang ia
punyai sangat banyak. Murid-murid banyak berdatangan
kepadanya. Kegiatanya adalah mengumpulkan ilmu, menyusun
karya, meneliti mana sanad yang tsiqah (terpercaya) dan mana
sanad yang dhaif (lemah). Kitab-kitab karyanya sangat banyak
dan keilmuanya telah diakui oleh para ulama pada masa itu.
Ia tidak sempat berguru kepada ayahnya, Imam Abu
Muhammad karena ayahnya meninggal lebih dahulu pada tahun
308 H. Ia adalah seorang ahli fikih, ahli ibadah dan ahli tahajjud.
Ia hidup selama 50 tahun, belajar fikih kepada At-Tajibi dan
berguru kepada Ahmad bin Matraf dan seorang ahli sejarah, Abu
Umar bin Hazm.
Ia juga mempelajari Sunan Abi dawud dari Abu Muhammad
Abdullah bin Muhammad bin Abdil Mukmin dengan sanad dari
Ibnu assah. Abu Muhammad juga meriwayatkan hadits
kepadanya dari riwayat Ismail bin Muhammad Ash-Shaffar,
mengajarkan kepadanya kitab An-Nasikh wa Al-Mansukh karya

11

Abu Dawud dengan sanad dari Abu Bakar An-Najjad dan


meriwayatkan kepadanya Musnad Ahmad bin Hambal dengan
riwayat dari Al-Qathii.
Abu Abdillah bin Abi Al-Fath mengatkan, Semula ia adalah
pengikut madzhab Zhahiri dalam waktu yang lama. Kemudian ia
kembali menggunakan qiyas tanpa bertaqlid kepada siapapun.
Hanya saja ia seringkali cenderung mengikuti madzhab Asysyafii. Demikianlah yang dikatakan orang. Adapun yang masyhur
dia adalah pengikut madzhab Maliki.
Ibnu Khallikan mengatakan, Ia meninggalkan kota Kordova
dan mengelilingi kawasan barat kota Andalusia dalam beberapa
waktu, kemudian pindah ke kawasan timur Andalusia. Di sini, ia
bertempat di Daniah, Valencia dan Syatibah dalam waktu yang
berbeda-beda.
Guru dan Murid-Murid Beliau
Guru-Gurunya:
Adz-Dzahabi mengatakan, Guru-guru Ibnu Abdil Barr adalah
Khalaf bin Al-Qasim, Abdul Warits bin Sufyan, Abdullah bin
Muhammad Abdul Mukmin, Muhammad bin Abdul Malik bin
Shafwan, Abdullah bin Muhammad bin Asad Al-Juhani, Yahya bin
Wajh Al-Jannah, Ahmad bin Fath Ar-Rassan, Said bin Nashr, AlHusain bin Yaqub Al-Yamani, Abu Umar Ahmad bin Al-Hasur, dan
sejumlah ulama lainnya.
Ia mendapat ijazah hadits dari Al-Musnid Abu Al-Fath bin Saibakht
dan Al-Hafidz Abdul Ghani dari Mesir. Ia juga memperoleh Ijazah

12

hadits dari Abu Al-Qasim Ubaidillah As-Saqthi dari Makkah. Ia


telah melebihi ulama zamannya dalam hafalan dan ketelitian.
Murid-muridnya:
Adz-zahabi mengatakan, Murid-murid Ibnu Abdil Barr adalah
Abu Muhammad bin Hazm, Abu Al-Abbas bin Dilhats Ad-DilaI,
Abu Muhammad bin Abi Quhafah, Abu Al-Hasan bin Mufawwiz, AlHafidz Abu Ali Al-Ghassani, Al-Hfidz Abu Abdillah Al-Humaidi, Abu
Bahr Sufyan bin Al-Ash, Muhammad bin Fatuh Al-Anshari, Abu
Dawud, Sulaiman bin Abi Al-Qasim Najjah, Abu Imran Musa bin
Abi Talid dan sejumlah murid-murid yang lain.
Kitab-Kitab Karyanya
Adz-Dzahabi mengatakan, Abu Umar bin Abdil Barr mempunyai
kitab :

Al-Kafi fi Madzhabi Malik,

wa Abi hanifah wa Asy-

sebanyak 15 jilid

Syafii

Al-Ikhtifa fi Qiraati Nafi

quran

wa Abi Amr

At-Taqashshi fi Ikhtishar
Al-Muwaththa

Al-Imba an Qabail Ar-

Ruwat

Al-Bayan fi Tilawati Al-

Al-Intiqa li Madzahib AtsTsalatsah Al-Ulama Malik

13

Al-Ajwibah Al-Muibah

Asy-Syawahid fi Itsbat
Khabar Al-Wahid

Al-Kuna

Al-Inshaf fi Asmaillah

Al-Faradh dan

Asyar Abi Al-Athaiyyah.

Al-Maghazi
Al-Qasd wa Al-Umam fi
Nasab Al-Arab wa

Ibnu Abdil Barr hidup

Al-Ajam

selama 95 tahun.

14

Wafat Beliau

Abu Dawud Al-Muqri mengatakan, Abu Umar meninggal


pada malam Jumat, akhir bulan Rabiul Akhir tahun 463 H.
ia hidup selama 95 tahun lebih lima hari.
Adz-Dzahabi mengatakan, Ia adalah Al-Hafidz kawasan

barat pada masanya.

2. Imam Muslim (202 261 H)

Nama lengkapnya adalah Al-Imam Abu Husain Muslim bin Al-Hajjaj AlQusyairi An-Naisaburi. Ia lahir pada tahun 202 H dan meninggal dunia pada sore
hari Ahad bulan Rajab tahun 261 H dan dikuburkan di Naisaburi.

Ia juga sudah belajar hadits sejak kecil seperti Imam Bukhari dan pernah
mendengar dari guru-guru Al Bukhari dan ulama lain selain mereka. Orang yang
menerima hadits dari Imam Muslim, termasuk tokoh-tokoh ulama pada masanya.
Ia juga telah menyusun beberapa karangan yang bermutu dan bermanfaat. Yang
paling bermanfaat adalah kitab sahihnya yang dikenal dengan Shahih Muslim.
Kitab ini disusun lebih sistematis dari Shahih Bukhari. Kedua kitab hadits sahih
ini, Shahih Muslim dan Shahih Bukhari, biasa disebut dengan Ash-Shahihain.
Kedua tokoh hadits ini biasa disebut Asy-Syakhani atau Asy-Syakhaini, yang
berarti dua orang tua, yang maksudnya dua tokoh ulama ahli hadits. Imam AlGhazali dalam kitab Ihya Ulumuddin terdapat istilah akhraja hu yang berarti
mereka berdua meriwayatkannya.

Ia belajar hadits sejak usia 16 tahun,yaitu mulai tahun 218 H. ia pergi ke


Hijaz, Irak, Syam, Mesir, dan negara-negara lainnya.

Di Khurasan, ia berguru kepada Yahya bin Yahya dan Ishak bin Rahawaih;
di Ray, ia berguru kepada Muhammad bin Mahran dan Abu Ansan; di
Irak, ia berguru kepada Imam Ahmad dan Abdullah bin Maslamah; di
Hijaz, ia belajar kepada Said bin Mansur dan Abu MasAbuzar; di Mesir,
ia berguru kepada Amr bin Sawad, Harmalah bin Yahya, dan kepada
ulama ahli hadits lainnya.

Ia berkali-kali mengunjungi Baghdad untuk belajar kepada ulama-ulama


ahli hadits, dan kunjungannya yang terakhir pada tahun 259 H. Ketika Imam
Bukhari datang ke Naisabur, ia sering datang kepadanya untuk berguru, sebab ia
mengetahui jasa dan ilmunya. Dan ketika terjadi fitnah atau kesenjangan antara
Bukhari dan Az-Zihli, ia bergabung dengan Bukhari sehingga hal ini menjadi
sebab terputusnya hubungan dengan Az-Zihli. Muslim dalam Shahih-nya maupun
dalam kitab lainnya, tidak memasukkan hadits-hadits yang diterima dari Az-Zihli
padahal Az-Zihli adalah gurunya. Hal serupa ia lakukan terhadap Bukhari. Ia tidak
meriwayatkan hadits dalam Shahih-nya, yang diterima dari Bukhari, padahal
Bukhari pun gurunya. Tampaknya menurut Muslim, yang lebih baik adalah tidak
memasukkan hadits-hadits yang diterima dari kedua gurunya itu ke dalam Shahihnya, namun tetap mengakui mereka sebagai guru.

Imam Muslim wafat pada Minggu Sore dan dikebumikan di kampung


Nasr Abad, salah satu daerah di luar Naisabur, pada hari Senin, 25 Rajab 261 H/5
Mei 875 M dalam usia 55 tahun.

Imam Muslim meninggalkan karya tulis yang tidak sedikit jumlahnya, di


antaranya: Al-Jami Ash-Shahih (Shahih Muslim), Al-Musnad Al-Kabir
(kitab yang menerangkan nama-nama para rawi hadits), Al-Asma walKuna, Al-Ilal, Al-Aqran, Sualat Ahmad bin Hanbal, Al-Intifa bi UhubisSiba, Al-Muhadramin, Man Laisa Lahu illa Rawin Wahid, AuladishShahabah, Auham Al-Muhadditsin.

Di antara karya-karya tersebut, yang termasyhur adalah Ash-Shahih, yang


judul lengkapnya adalah Al-Musnad Ash-Shahih Al-Mukhtasar min As-Sunan bi
Naql Al-Adl an Rasul Allah. Menurut perhitungan M. Fuad Abd Al-Baqi, kitab
ini berisi 3.033 hadits.

3. Imam Ath-Thabrani

Abul-Qasim Sulaiman bin Ahmad al-Lakhmiy ath-

Thabrani, atau yang lebih dikenal dengan nama Imam athThabrani (seringkali juga disebut Imam Ath-Thabarani) (bahasa
Arab: ) adalah seorang imam dan sangat alim (bahasa
Arab: ), dan tercata sebagai pemuka ahli hadits. Dia
bernama lengkap Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayyub
Asy-Syami

Ath-Thabrani,

dan

dikenal

sebagai

sosok

yang

produktif, di antara karyanya yang terkenal dan mendapat


apresiasi juga banyak dijadikan rujukan oleh para ulama adalah
Mu'jamul Kabir, Mu'jamul Ausath, dan Mu'jamush Shaghir

Lahir dan Wafat

Ath-Thabrani lahir di kota Akka pada bulan Safar

tahun 260 H. di tengah keluarga yang terhormat dari kabilah


Lukham suku Yaman dan kemudian berimegrasi ke Quds,
Palestina dan menetap di sana. Dia meninggal di Isfahan pada
tanggal 28 Dzul Qa'dah tahun 360 pada usia seratus tahun
sepuluh bulan; dikebumikan di samping kubur Hamamah AdDausi, salah seorang sahabat Nabi.

Perjalanan

Ath-Thabrani pada tahun 273 H. mulai belajar hadits,

atau pada usianya yang ke-13 tahun, dan pada tahun 274 H. dia
berkelana ke Quds Palestina, juga ke Syiria dan Qaisariyah untuk
menghafal Al-Qur'an dan memperdalam ilmu agama, dilanjutkan
kemudian dengan mengunjungi Hijaz, Yaman, Mesir, Irak, Iran,
Semenanjung Saudi Arabia, Afganistan, dan lain-lain dalam
rangka mempelajari hadits Nabi, selama kurun kurang lebih 30
tahun. Selain itu, pada tahun 290 H. ia mengunjungi Isfahan dan
menetap di sana hingga akhir hayatnya.

Guru dan Murid

Guru :

Hastim bin Mursi Ath-Thabrani, Ahmad bin Mas'ud AlKhayyar, Idris bin Ja'far, Yahya bin Abi Ayyub Al-'Allaq,
Ishaq bin Ibrahim Ad-Dabiri, Hafshah bin Umar, Miqdam bin
Dawud Ar-Ru'yani, Ali Al-Baghawi, Amr bin Tsaur, Ahmad
bin Abdillah Al-Lihyani, Ahmad bin Ibrahim Al-Busri,
Abdullah bin Muhammad bin Sa'id bin Abi Maryam, dan
Ahmad bin Ishaq bin Ibrahim Al-Asja'i.

Murid :

Ibnu Mandah, Abu Bakar bin Abi Ali, Muhammad bin Ahmad
Al-Jarudi, Ibnu Mardawaih, Abu Sa'id An-Naqqas, Ahmad bin
Abdirrahman Al-Azdi, dan Abu Nu'aim Al-Ashbahani

Karya-karya

Ath-Thabrani memiliki perhatian khusus pada bidang


keilmuan Islam, terlebih dalam bidang hadits; beberapa
karyanya antara lain:

1. Musnadul Asy'ari;

11.

2. Musnadusy Syamiyyin;

12.

3. An-Nawadir;

13.

Al-Manasik;

4. Musnad Abi Hurairah;

14.

Manaqibu

Ahmad;
5. Musnad 'Aisyah;
15.

Kitabul Asyribah;

16.

Al-'Ilmu;

17.

Ahaditsul

6. At-Tafsir;
7. Dalailun Nubuwwah;
8. Ar-Raddu 'alal

Munkadir 'alar Rasul;

Mu'tazilah;
18.

Hadits Syaiban;

19.

Ma'rifatush

9. Ahaditsuz Zuhri 'An


Anas;

Shahabah; dan lain-lain


10.

Kitabus Sunnah;

20.

Selain yang sudah disebutkan, berikut ini adalah tiga

karya besar Ath-Thabrani yang terkenal dan mendapat


banyak apresiasi dari pada ulama:
Mu'jamul Kabir
21.

Terdiri dari dari 12 jilid dan merupakan kitab hadits

yang berbentuk ensiklopedis, tidak hanya memuat hadits


Nabi, melainkan juga memuat beberapa informasi sejarah;
dan secara keseluruhan memuat 60.000 hadits, karenanya,
Ibnu Dihyah mengatakan bahwa Mu'jamul Kabir ini
merupakan karya ensiklopedis hadits terbesar di dunia.
Mu'jamul Ausath
22.

Karya ini terdiri dari 2 jilid besar, memuat 30.000

hadits, baik yang berkualitas shahih, atau pun yang tidak,


disusun berdasarkan nama-nama guru Ath-Thabrani yang
hampir mencapai 2000 orang.
Mu'jamush Shaghir
23.

Karya ini disusun berdasarkan naman guru-guru Ath-

Thabrani, hanya saja untuk setiap nama guru, hadits yang


dicantumkan hanya satu buah, karenanya, dibandingkan
dua Mu'jam sebelumnya, Mu'jamush Shaghir ini merupakan
mu'jam yang sangat singkat dan ringkas.
24.
25.
26.
27.

28.
29.
30. BAB III
31. PENUTUP
32.
33.
A. Kesimpulan
34.
35.
Belajar adalah merupakan proses suatu kegiatan dan bukan
suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengiat, akan tetapi lebih
luas daripada itu, yakni mengalami
36.
37.

Mengajar lebih identik kepada proses mengarahkan

seseorang agar lebih baik


38. Rangkuman Materi :
1. Seorang muslim dibolehkan merasa iri dalam hal pertama melihat orang
yang mempunyai harta kemudian menafkahkan hartanya di jalan Allah,
dan kedua, orang yang mempunyai ilmu kemudian diamalkan dan
diajarkan kepada orang lain.
2. Menuntut ilmu itu hukumnya wajib bagi setiap muslim laki-laki dan
perempuan, dari mulai sejak lahir sampai sebelum masuk kubur
3. Ilmu yang harus dicari adalah ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum
yang bermanfaat
4. Kewajiban orang yang memiliki ilmu adalah mengamalkannya dalam
kehidupan sehari-hari dan mengajarkannya kepada orang lain
39.
B. Saran
40.

41.

Demikianlah

makalah

dari

kami,

pembahasan

tentang Kewajiban Belajar dan Mengajar. Dan kami merasa


bahwasanya

masih

terdapat

kekurangan

dalam

penyajian

makalah kami ini. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat
membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah

ini dan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita


semua. Amin.

42.

DAFTAR PUSTAKA
43.

44.

Abuddin Nata,Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan. Jakarta :

PT. Raja Grafindo Persada. 2002.


45.

Azami, Muhammad Mustofa. Metodologi Kririk Hadits.

Terj. A. Yamin. Jakarta: Pustaka Hidayah. 1992.


46.

Nashiruddin al-Albani, Muhammad. Ringkasan Shahih

Muslim Jakarta : Pustaka Azzam. 2003.


47.

Solahudin, Muhammad; Agus Suyadi Ulumul Hadis.

Bandung: Pustaka Setia. 2009.

48.
49.

Umar, Bukhari, M.Ag. Hadis Tarbawi Pendidikan

dalam Perspektif Hadis. Jakarta : AMZAH Bumi Aksara. Cet


1 2012 Cet 2 2014
50.

Yusuf al-Qardawi, Sunnah, Ilmu Pengetahuan dan Peradaban, terj.

Abad Badruzzaman, Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya. 2001.


51.
52.

Tambahan :

53. Add Ins Al-Quran dan Terjemahan Microsoft Word 2010