Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH MIKROBIOLOGI PANGAN

(IDENTIFIKASI Vibrio cholerae)

Disusun oleh:

NAMA

LASINRANG ADITIA

NIM

60300112034

KELAS

BIOLOGI A

TUGAS

MIKROBIOLOGI PANGAN

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR
2015

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
kita hidayah dan rahmat-Nya agar senantiasa dekat dengan diri-Nya dalam
keadaan sehat

walafiat. Serta salam dan shalawat kita kirimkan kepada

Muhammad SAW, dimana nabi yang membawa ummat-Nya dari zaman


kegelapan menuju zaman yang terang benderang dan telah menjadi suri tauladan
bagi ummat-Nya.
Dalam makalah ini penulis akan membahas masalah mengenai
IDENTIFIKASI Vibrio cholerae karena sebagai seorang mahasiswa saintist
maka kita perlu mengetahui hal ini.
Penulis sangat mengharapkan agar pembaca dapat menambah wawasan
dan ilmu pengetahuan-Nya tentang IDENTIFIKASI Vibrio cholerae. Saran dan
kritik yang membangun tetap kami nantikan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata tiada gading yang tak retak, begitu juga dengan manusia sendiri.

Samata-Gowa, 10 Juni 2015

Lasinrang Aditia

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. 2


DAFTAR ISI ................................................................................................ 3
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ......................................................................................... 4
B. Rumusan Masalah .................................................................................... 5
C. Manfaat Penulisan .................................................................................... 5
BAB II PEMBAHASAN
A. Morfologi Vibrio cholerae........................................................................ 6
B. Fisiologi dan Biokimia Vibrio cholerae .................................................... 6-8
C. Klasifikasi Ilmiah Vibrio cholerae ............................................................ 8
D. Struktur Antigen Vibrio cholerae ............................................................. 8
E. Patogenesis Vibrio cholerae ...................................................................... 8-9
F. Pengujian atau Identifikasi Vibrio cholerae ............................................... 9-14
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .............................................................................................. 15
B. Saran ........................................................................................................ 15
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 16

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penyakit kolera adalah penyakit infeksi saluran pencernaan yang
disebabkan oleh bakteri Vibrio cholerae (V. Cholerae) dengan manifestasi
klinik berupa diare. Gejala klinis diawali dengan munculnya diare yang encer
kemudian dalam waktu singkat feses yang semula berwarna dan berbau
menjadi lebih encer, masif, dan berwarna putih seperti cairan cucian air beras
(rice water stool). Cairan ini mengandung mucus, sel epitel dan sejumlah
besar V. cholerae. Apabila dibiarkan, pasien dapat kehilangan cairan dalam
jumlah banyak dan dapat menuju ke fase dehidrasi dan berat sampai
meninggal dalam jangka waktu beberapa jam setelah infeksi.
Bakteri Vibrio yang merupakan etiologi dari penyakit kolera adalah
bakteri dengan gram negatif berbentuk koma (comma shaped). V. cholerae
memiliki satu flagela di salah satu kutubnya sehingga memiliki motilitas yang
tinggi. Bakteri ini bisa hidup dan berkembang pada keadaan aerob atau
anaerob (anaerob fakultatif). Air dengan kadar garam tinggi seperti air laut
adalah tempat hidup alami dari bakteri ini. V. cholerae tidak tahan dengan
suasana asam dan tumbuh baik pada suasana basa (pH 8,0-9,5).
V. cholerae dapat menginfeksi manusia melalui rute pencernaan
(fecal-oral). Manifestasi klinik berupa penyakit kolera akan timbul apabila
jumlah bakteri yang masuk mencapai jumlah tertentu. Jumlah tersebut
dipengaruhi oleh proses masuknya bakteri kedalam saluran cerna. Seseorang
dengan asam lambung yang normal akan dapat terinfeksi apabila menelan
sebanyak 1010 atau lebih V. cholerae dalam air (103-106 dalam air) dan 102104 organisme bila masuk bersama makanan.
Penyakit kolera telah menyebar dan menjadi pandemik di seluruh
dunia selama dua abad terakhir ini. Telah terjadi tujuh kali pandemik kolera
sejak tahun 1817 dan terakhir tahun 1992. Pada mulanya penyakit ini
merupakan penyakit endemik dari Indian Subcontinent dan Afrika kemudian
menyebar ke Eropa, Asia, dan sampai ke Indonesia.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang penulisan makalah ini yaitu untuk
mengetahui tentang bakteri Vibrio cholerae dan cara mengisolasi serta cara
mengidentifikasinya.
C. Manfaat Penulisan
Adapun manfaat masalah yang penulisan makalah ini yaitu pembaca
dapat mengetahui tentang bakteri Vibrio cholerae dan cara mengisolasi serta
cara mengidentifikasinya.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Morfologi Vibrio cholerae
Vibrio cholerae merupakan bakteri gram negatif, berbentuk basil
(batang) dan bersifat motil (dapat bergerak), memiliki struktur antogenik dari
antigen flagelar H dan antigen somatik O, gammaproteobacteria, mesofilik
dan kemoorganotrof, berhabitat alami di lingkungan akuatik dan umumnya
berasosiasi dengan eukariot. Spesies Vibrio kerap dikaitkan dengan sifat
patogenisitasnya pada manusia, terutama V. Cholerae penyebab penyakit
kolera di negara berkembang yang memiliki keterbatasan akan air bersih dan
memiliki sanitasi yang buruk.
Vibrio cholera adalah salah satu bakteri yang masuk dalam family
Vibrionaceae selain dari Aeromonas dan Plesiomonas, dan merupakan bagian
dari genus Vibrio. Bakteri ini pertama kali ditemukan oleh Robert Koch pada
tahun 1884 dan sangat penting dalam dunia kedokteran karena menyebabkan
penyakit kolera. Vibrio cholera banyak ditemui di permukaan air yang
terkontaminasi dengan feces yang mengandung kuman tersebut, oleh karena
itu penularan penyakit ini dapat melalui air, makanan dan sanitasi yang
buruk.
Vibrio cholerae termasuk bakteri gram negative, berbentuk batang
bengkok seperti koma dengan ukuran panjang 2-4 m. Pada isolasi, Koch
menamakannya kommabacillus. Tapi bila biakan diperpanjang, kuman itu
basa menjadi batang lurus yang mirip dengan bakteri enteric gram negative.
Kuman ini dapat bergerak sangat aktif karena mempunyai satu buah
flagella polar yang halus (monotrik). Kuman ini tidak membentuk spora. Pada
kultur dijumpai koloni yang cembung, halus dan bulat yang keruh dan
bergranul bila disinari.
B. Fisiologi dan Biokimia Vibrio cholerae
Vibrio cholerae bersifat aerob atau anaerob fakultatif. Suhu optimum
untuk pertumbuhan pada suhu 18-37C. Dapat tumbuh pada berbagai jenis

media, termasuk media tertentu yang mengandung garam mineral dan


asparagin sebagai sumber karbon dan nitrogen. V. cholerae ini tumbuh baik
pada agar Thiosulfate-citrate-bile-sucrose (TCBS), yang menghasilkan koloni
berwarna kuning dan pada media TTGA (Teluritetaurocholate-gelatin-agar)
Salah satu cirri dari Vibrio cholerae ini adalah dapat tumbuh pada pH
yang sangat tinggi (8,5-9,5) dan sangat cepat mati oleh asam. Pertumbuhan
sangat baik pada pH 7,0. Karenanya pembiakan pada media yang
mengandung karbohidrat yang dapat difermentasi, akan cepat mati. V.
cholerae meragi sukrosa dan manosa tanpa menghasilkan gas tetapi tidak
meragi albinosa. Kuman ini juga dapat meragi nitrit. Ciri khas lain yang
membedakan dari bakteri enteric gram negative lain yang tumbuh pada agar
darah adalah tes oksidasi hasilnya positif.
Sifat biokimia V. cholerae adalah dapat meragikan sukrosa, glukosa,
dan manitol menjadi asam tanpa menghasilkan gas, sedangkan laktosa dapat
diragikan tetapi lambat. V. cholerae juga dapat meragikan nitrat menjadi
nitrit. Pada medium pepton (banyak mengandung triptofan dan nitrat) akan
membentuk indol, yang dengan asam sulfat akan membentuk warna merah
sehingga tes indol dinyatakan positif. Hasil uji biokimia dari bakteri V.
cholerae antara lain adalah hasil positif pada uji oksidase dan katalase. Pada
uji indol V. cholerae menunjukan hasil positif dan bersifat motil. Selain itu,
pada uji fermentasi sukrosa dan manitol bakteri V. cholerae juga memberi
hasil positif yaitu dapat melakukan fermentasi sukrosa dan manitol, namun
pada uji laktosa didapat hasil negatif yaitu tidak dapat memfermentasikan
laktosa.
Sementara itu, bila diujikan pada media Triple Sugar Iron Agar
(TSIA), hasil yang muncul adalah bagian atas (slant) menunjukan warna
merah yang berarti bersifat basa, dan bagian bawah (butt) berwarna kuning
yang berarti bersifat asam, dan tidak terbentuk H2S. Uji lisin dekarboksilasi
terhadap V. cholerae juga menunjukkan hasil positif berupa warna ungu, uji
NaCl 0% memberi hasil positif berupa kekeruhan yang tinggi, NaCl 6%
dengan hasil bervariasi, dan NaCl 8 % dengan hasil negatif (kekeruhan

rendah). Pada uji arginin dihidrolase dan esculin hidrolisis V. cholerae akan
memberikan hasil negatif, sedangkan pada uji ornitin dekarboksilase V.
cholerae akan memberi hasil positif.
C. Klasifikasi Ilmiah Vibrio cholerae
Adapun klasifikasi dari bakteri Vibrio cholerae yaitu sebagai berikut:
Kongdom : Bacteria
Filum

: Proteobacteria

Kelas

: Gamma Proteobacteria

Ordo

: Vibrionales

Famili

: Vibrionaceae

Genus

: Vibrio

Spesies

: Vibrio cholerae

D. Struktur Antigen Vibrio cholerae


Semua Vibrio cholerae mempunyai antigen flagel H yang sama.
Antigen flagel H ini bersifat tahan panas. Antibodi terhadap antigen flagel H
tidak bersifat protektif. Pada uji aglutinasi berbentuk awan. Antigen somatik
O merupakan antigen yang penting dalam pembagian grup secara serologi
pada Vibrio cholera. Antigen somatik O ini terdiri dari lipoposakarida. Pada
reaksi aglutinasi berbentuk seperti pasir. Antibodi terhadap antigen O bersifat
protektif.
E. Patogenesis Vibrio cholerae
Dalam keadaan alamiah, Vibrio cholerae hanya pathogen terhadap
manusia. Seorang yang memiliki asam lambung yang normal memerlukan
menelan sebanyak atau lebih V. cholera dalam air agar menginfeksi, sebab
kuman ini sangat sensitive pada suasana asam. Jika mediator makanan,
sebanyak 102-104 organisme yang diperlukan karena kapasitas buffer yang
cukup dari makanan. Beberapa pengobatandan keadaan yang dapat
menurunkan kadar asam dalam lambung membuat seseorang sensitive
terhadap infeksi Vibrio cholerae.

Ada dua jenis V. cholerae yang berpotensi sebagai patogen pada


manusia. Jenis utama yang menyebabkan kolera adalah V. cholerae O1,
sedangkan jenis-jenis lainnya dikenal sebagai non-O1.
V. cholerae O1 adaalah penyebab kolera Asiatik atau kolera epidemik.
Kasus kolera sangat jarang terjadi di Eropa dan Amerika Utara. Sebagian
besar kasus kolera terjadi di daerah-daerah (sub)-tropis. Kolera selalu
disebabkan oleh air yang tercemar atau ikan (atau kerang) yang berasal dari
perairan yang tercemar.
V. cholerae non-O1 hanya menginfeksi manusia dan hewan primata
lainnya. Organisme ini berkerabat dengan V. cholerae O1, tetapi penyakit
yang ditimbulkannya tidak separah kolera. Strain patogenik dan nonpatogenik dari organisme ini merupakan penghuni normal di lingkungan air
laut dan muara. Organisme ini pada masa lalu disebut sebagai non-cholera
vibrio (NCV) dan nonagglutinable vibrio (NAG).
F. Pengujian atau Identifikasi Vibrio cholerae
Prosedur Kerja Menurut Depkes RI ( 1991 ), Langkah kerja dalam
pengujian Vibrio cholerae adalah sebagai berikut:
1. Prapengkaya ( Pre Enrichment )
a. Dilakukan homogenisasi air didalam botol lebih dahulu ( dikocok 25
kali )
b. Dipipet 10 ml sampel air ke dalam 90 ml media AP ( Alkalis Peptone )
c. Diinkubasi pada suhu 35 - 37C selama 24 jam.
2. Pengkaya ( Enrichment )
a. Diinokulasikan 1 ose biakan dari media AP yang terlihat keruh pada
media selektif TCBS Agar
3. Isolasi
a. Diinkubasi pada suhu 37C selama 24 jam.
b. Diamati pertumbuhan koloni pada media TCBS agar, koloni Vibrio
cholera dengan warna kuning, ukuran sedang besar, smooth, keping.
4. Uji biokimia
a. Diinokulasi koloni tersangka dari TCBS agar ke media KIA

b. Diinkubasi pada suhu 35 - 37C selama 24 jam


c. Diinokulasi koloni dari KIA
d. Diinkubasi pada suhu 35 - 37C KIA lereng Alkali Dasar Asam (
kuning ) Gas Negatif H2S Negatif.
Pada sumber referensi lain Langkah kerja dalam pengujian Vibrio
cholerae adalah sebagai berikut:
Pengujian yang dilakukan adalah uji bakteri Vibrio cholerae.
Pengujian terdiri dari uji pra prapengkaya, pengkaya, isolasi dan uji biokimia.
Pada metode prapengkaya media yang digunakan adalah AP ( Alkalis Pepton)
90ml, untuk uji prapengkaya dan isolasi digunakan media TCBS dan untuk
uji biokimia menggunakan KIA.
1. Uji Prapengkaya
Tahapan

pertama

yang

dilakukan

adalah

uji

prapengkaya

menggunakan media pertumbuhan bakteri Vibrio cholerae yaitu media AP (


Alkalis Peptone ) 90 ml kemudian ditambahkan sampel air minum sebanyak
10 ml, selanjutnya diinkubasi selama 24 jam dengan suhu 37C. Menurut
Suriawiria ( 1985 ), Media yang digunakan untuk mengkultur Vibrio cholera
adalah media AP (Alkalis Peptone ), yaitu media yang digunakan untuk
pertumbuhan bakteri Vibrio cholera yang mempunyai pH alkali (8,5 9,5 )
dan mengandung natrium karbonat sebagai sebagai sumber nutrisi untuk
mengetahui daya hambat bakteri Vibrio cholera digunakan modifikasi media
yaitu media AP yang telah ditambahkan tawas dengan konsentrasi 0,5%,
1%,1,5%, 2%, 4%,6% dan 8%. Berdasarkan hasil pengujian prapengkaya
pada air minum ( 106 ), dan air sumber ( 109 ), hasil ini menunjukkan bahwa
pada sampel air minum tidak ditemukan bakteri Vibrio cholerae. Hal ini dapt
diketahui dari media AP yang sebelumnya berwarna jernih akan tetap jernih.
Setelah mengetahui hasil dari pengujian negatif, maka tidak perlu
dilanjutkan ke uji selanjutnya yaitu penanaman pada media selektif ( TCBS ),
Karena TCBS hanya digunakan jika terdapat sangkaan pada media AP
sampel positif tercemar bakteri Vibrio cholerae yang ditandai dengan
kekeruhan pada media AP.

10

Pada pengujian sampel air sumber hasilnya adalah positif yang diduga
ada cemaran bakteri Vibrio cholerae, hasil ini dapat diketahui Setelah
diinkubasi selama 24 jam, sampel menunjukkan hasil adanya pertumbuhan
bakteri, dan dapat kita kenali dari media AP yang semula jernih menjadi
keruh.
2. Uji pengkaya dan Isolasi
Untuk pengujian selanjutnya yaitu uji pengkaya. Pada uji ini suspensi
bakteri yang terdapat dalam tabung reaksi diambil 1 sengkelit dan digores
pada media TCBS agar. Media Thiosulfate-citrate-bile salts agar (TCBS)
merupakan media selektif untuk isolasi dan pemurnian Vibrio. Setelah
diinkubasikan dalam inkubator selama selama 24 jam pada suhu 37oC, hasil
uji dari media TCBS menunjukkan koloni berwarna kuning dan kuningnya
berbeda dengan kontrol karena pada koloni yang tumbuh pada sampel air
warna kuningnya lebih tajam ,datar keping, tepinya tipis. Suriawiria ( 1985 ),
menyatakan bahwa media TCBSA untuk pertumbuhan koloni Vibrio cholera
akan menghasilkan koloni berwarna kuning karena memfermentasi
karbohidrat menjadi asam.
Pada media TCBS kontrol Vibrio cholera terlihat koloni sedang-besar,
jernih, smooth, keping, tepinya tipis, ada koloni yang berwarna kuning
dengan zona yang berwarna kuning juga. Pada tahap isolasi, setiap koloni
atau galur mikroba yang akan diidentifikasi harus benar benar murni dan
untuk

mendapatkan

biakan

murni

digunakan

media

selektif

yang

memungkinkan untuk isolasi koloni mikroba tersangka berdasarkan pada


karakter biokimia dari mikroba yang akan mempengaruhi sifat pertumbuhan
bakteri pada suatu media spesifik. Identitas mikroba dapat dilihat dari
pembentukan koloni yang spesifik pada media ( BPOM, 2008 )
3. Uji Biokimia
Tahapan selanjutnya yaitu diinokulasikan koloni yang diduga dari
TCBS agar ke media KIA kemudian diinkubasi selama 24 jam dengan suhu
37C. Hasil uji KIA menunjukkan bahwa pada media berwarna tetap yaitu
coklat kekuningan, tidak timbul gas dan H2S. KIA ini mengandung gula yang

11

akan direaksikan oleh bakteri membentuk suasana asam yang ditandai dengan
warna kuning, akan tetapi karena tidak ada cemaran bakteri bakteri V.cholera
maka media berwarna tetap, Jika basa alkali ditandai dengan warna
merah.Namun pada pengujian ini karbohidrat dalam media tidak terurai
sehingga suasananya tidak menjadi asam.
G. Media Pengujian atau Identifikasi Vibrio cholerae
Bakteri Vibrio adalah jenis bakteri yang dapat hidup pada salinitas
yang relatif tinggi. Menurut Rheinheiner (1985) cit. Herawati (1996),
sebagian besar bakteri berpendar bersifat halofil yang tumbuh optimal pada
air laut bersalinitas 20-40. Bakteri Vibrio berpendar termasuk bakteri
anaerobic fakultatif, yaitu dapat hidup baik dengan atau tanpa oksigen.
Bakteri Vibrio tumbuh pada pH 4 - 9 dan tumbuh optimal pada pH 6,5 - 8,5
atau kondisi alkali dengan pH 9,0 (Baumann et al., 1984 cit. Herawati, 1996).
Media yang sering digunakan adalah sebagai berikut (Soemarno,
1962).
1. TCBS Agar plate
Biasanya koloni Vibrio yang tumbuh pada media ini berwarna kuning,
koloni sedang - besar, smooth, keping,jernih,tepinya tipis, dilingkari oleh
zone berwarna kuning, ada yang koloninya berwarna hijau.
2. Mac Conkey Agar
Koloni Vibrio yang tumbuh pada media Mac conkey berukuran kecilkecil, tidak berwarna atau merah muda dan sedikit cembung.
Beberapa test yang biasa dilakukan yaitu sebagai berikut (Soemarno,
1962):
TSIA : Lereng : Alkali : Dasar : kuning
Pada pengamatan, terlihat lereng yang berwarna merah sedangkan
dasarnya berwarna kuning (alkali-acid). Hal ini menandakan bakteri yang
tumbuh pada media ini hanya mampu memfermentasi glukosa (bagian dasar)
dan tidak mampu memfermentasi laktosa dan sukrosa (bagian lereng).
Gas : (+) positif
SIM :

12

Sulfur : (-) negatif


Indol : (+/-) positif/negatif
Motility : Aktif
SC : (+/-) positif/negatif
Oxidase test ; (+)
Glucose OF : Fermentative
String test : (+)
Catalase test : (-)negative
Pewarnaan :
Bakteri terlihat berbentuk basil bengkok berwarna merah, hal ini
menandakan bahwa bakteri tersebut mengikat zat warna merah dari safranin.
Gula-gula
Media

ini

berfungsi

untuk

melihat

kemampuan

bakteri

memfermentasikan jenis karbohidrat, jika terjadi fermentasi maka media


terlihat berwarna kuning kerena perubahan pH menjadi asam. Vibrio sp
memfermentasikan semua gula-gula menjadi asam.
SIM :
S (sulfur)
Adanya sulfur dapat dilihat ketika media berubah menjadi hitam.
Namun pada hasil pertumbuhan bakteri pada media ini, tidak terjadi
perubahan warna tersebut. Hal ini menandakan bakteri yang tumbuh tidak
mampu mendesulfurasi cysteine yang terkandung dalam media SIM.
I (indol)
Reaksi indol hanya bisa dilihat ketika pertumbuhan bakteri pada
media ini ditambahkan dengan reagen Covacs. Indol dikatakan positif jika
terdapat cincin merah pada permukaannya. Warna merah dihasilkan dari
resindol yang merupakan hasil reaksi dari asam amino tryptopan menjadi
indol dengan penambahan Covac's. Bakteri yang mampu menghasilkan indol
menandakan bakteri tersebut menggunakan asam amino tryptopan sebagai
sumber carbon. Pada hasil pengamatan diperoleh Indol negative sehingga

13

dapat disimpulkan bakteri yang tumbuh tidak menggunakan asam amino


tryptopan sebagai sumber carbonnya.
M (motility)
Pergerakan bakteri dapat terlihat pada media ini berupa berkas putih di
sekitar tusukan. Adanya pergerakan ini bisa dilihat karena media SIM
merupakan media yang semi solid. Pada hasil pengamatan diperoleh motility
positif. Hal ini menandakan bakteri mempunyai alat gerak dalam proses
pertumbuhannya.
MR (Methyl Red)
Setelah ditambahkan dengan indicator metil red, media berubah
menjadi merah (positif). Berarti terjadi fermentasi asam campuran (asam
laktat, asam asetat, dan asam formiat) oleh bakteri.

14

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini yaitu Vibrio cholerae merupakan
bakteri gram negatif, berbentuk basil (batang) dan bersifat motil (dapat
bergerak), memiliki struktur antogenik dari antigen flagelar H dan antigen
somatik O, gammaproteobacteria, mesofilik dan kemoorganotrof, berhabitat
alami di lingkungan akuatik dan umumnya berasosiasi dengan eukariot.
Spesies Vibrio kerap dikaitkan dengan sifat patogenisitasnya pada manusia,
terutama V. Cholerae penyebab penyakit kolera di negara berkembang yang
memiliki keterbatasan akan air bersih dan memiliki sanitasi yang buruk.
Langkah-langkah untuk pengujian dan identifikasi Vibrio cholerae pada
sampel yaitu Prapengkaya ( Pre Enrichment ), Pengkaya ( Enrichment ),
Isolasi, dan Uji biokimia.
B. Saran
Adapun saran dari penulis yaitu Perlu adanya pengenalan oleh
penyuluh pertanian kepada petani mengenai Pengendalian teknik/cara
pengendalian penyakit tanaman ini, supaya tujuan sukses pertanian dapat
terwujud yaitu berupa peningkatan hasil dan kesejahteraan petani.

15

DAFTAR PUSTAKA
Amelia S. Vibrio Cholerae. Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatra Utara Medan. In press 2005.
Baron EJ, Peterson LR, Finegold SM. Vibrio and Related Species, Aeromonas,
Plesiomonas, Campylobacter, Helicobacter, and others. Dalam: Baron EJ,
Peterson LR, Finegold SM. Bailey & Scotts Diagnostic Microbiology.
Edisi ke-9. USA: Mosby, 1994; h. 429-433.
Handa

S. Cholera. (Diakses: 9 Januari 2011) Diunduh


URL:http://emedicine.medscape.com/article/214911-overview.htm

dari:

Matson JS, Withey JH, DiRita VJ. Regulatory Networks Controlling Vibrio
cholerae Virulence Gene Expression. Infection and Immunity. 2007;
75(12): 554249.
Mims C, dkk. Pathogen Parade, Genus Vibrio. Dalam: Mims, C dkk. Medical
Microbiology. Edisi ke-3. Spain: Elsevier, 2004; h. 603.
Pelczar, Michael dan E.C.S. Chan. 2006. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: UIPress.
Ryan KJ. Vibrio, Campylobacter, and Helicobacter. Dalam: Ryan KJ, Ray CG.
Sherris Medical Microbiology. Edisi ke-4. USA: McGraw-Hill, 2004; h.
373-378.
Tjay, Tan Hoan Drs. dan Drs. Kirana Rahardja. 2007. Obat-obat Penting. Jakarta:
Gramedia.
Todar, K. Vibrio Cholerae and Asiatic Cholera. 2009. (Diakses: 9 Januari 2011)
Diunduh dari: URL:http://www.textbookofbacteriology.net/cholera.html

16