Anda di halaman 1dari 7

2.2.

8 Komplikasi Diabetes Mellitus


2.2.8.1 Komplikasi Akut:
Diabetes Ketoasidosis
Ketoasidosis diabetik adalah keadaan dekompensasi-kekacauan metabolik yang ditandai
oleh hiperglikemia, asidosis dan ketosis, terutama disebabkan oleh defisiensi absolut atau relatif.
KAD dan hipoglikemia merupakan komplikasi akut diabetes mellitus yang serius dan
membutuhkan pengelolaan gawat darurat. Akibat dari diuresis osmotik, ketoasidosis diabetik
biasanya mengalami dehidrasi berat dan dapat menyebabkan syok (Soewondo., 2009).
Pasien dengan diabetes ketoasidosis menunjukan gejala pernafasan cepat dan dalam, bau
aseton dari hawa nafas, berbagai derajat dehidrasi (lidah dan bibir kering), dan kadang-kadang
disertai hipovolemia sampai syok. Prinsip-prinsip pengobatan pada diabetes ketoasidosis adalah
penggantian cairan dan garam yang hilang, menekan lipolisis lemak, dan menekan
glukoneogenesis sel hati dengan pemberian insulin (Soewondo, 2009).

Koma Nonketotik Hiperglikemia Hiperosmolar


Definisi koma hiperosmolar hiperglikemik non ketotik adalah suatu sindrom yang

ditandai hiperglikemia berat, hiperosmolar, dehidrasi berat tanpa ketoasidosis, disertai


menurunnya kesadaran. Mekanisme terjadinya koma hiperglikemia hiperosmolar non ketotik
hampir serupa dengan ketoasidosis diabetik. Pada mulanya sel beta pankreas gagal atau
terhambat oleh beberapa keadaan stres yang menyebabkan sekresi insulin menjadi tidak adekuat.
Pada keadaan stres tersebut terjadi peningkatan hormon glukagon sehingga pembentukan
glukosa akan meningkat dan menghambat pemakaian glukosa perifer, yang akhirnya
menimbulkan hiperglikemia. Selanjutnya terjadi diuresis osmotik yang menyebabkan cairan dan
elektrolit tubuh berkurang, perfusi ginjal menurun dan sebagai akibatnya sekresi hormon lebih
meningkat lagi dan timbul hiperosmolar hiperglikemik (Noer, 1996).
Pemeriksaan laboratorium awal pada pasien koma nonketotik hiperglikemia
hiperosmolar adalah tingginya konsentrasi glukosa darah yang sangat tinggi (>600 mg/dl) dan
osmolaritas serum yang tinggi. Koma nonketotik hiperglikemia hiperosmolar menyebabkan
tubuh banyak kehilangan berbagai macam elektrolit. Penatalaksanaan dari terapi koma
nonketotik hiperglikemia hiperosmolar meliputi terapi resusitasi cairan, penggantian elektrolit,
dan pemberian insulin intravena (Soewondo, 2009).

Hipoglikemia

Hipoglikemi

terjadi

karena

ketidakmampuan

hati

memproduksi

glukosa.

Ketidakmampuan hati tersebut dapat disebabkan karena penurunan bahan pembentuk glukosa,
penyakit hati atau ketidakseimbangan hormonal. Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya
hipoglikemia

pada

penderita

diabetes

mellitus

yang

mendapatkan

pengobatan

insulin/sulfonilurea adalah pemasukan makanan yang terlambat atau menurun, kesalahan dosis
obat, latihan jasmani atau olahraga yang berlebihan, perpindahan tempat insulin (dari lengan ke
dinding perut), kebutuhan insulin dan sulfonilurea yang menurun, dan pemberian obat-obat
lainnya yang berefek hipoglikemia (Noer, 1996).
Gejala dari hipoglikemia adalah lemah, bingung, kesemutan, kebal setempat, lapar,
berkeringat, iritasi, pusing, serta gemetar atau kejang. Semua gejala tersebut dapat langsung
teratasi apabila diberi glukosa. Pasien yang menerima preparat insulin kerja lama atau sedang,
harus diawasi dengan cermat untuk mendeteksi kemungkinan kambuh (Skach, 1996).
2.2.8.2 Komplikasi Kronis
2.2.8.2.1 Makrovaskular
Komplikasi makrovaskular atau gangguan pada pembuluh darah besar pada penderita
diabetes mellitus antara lain berupa: Penyakit Jantung Koroner dimana penderita diabetes
mellitus memiliki resiko yang lebih besar dan merupakan penyebab kematian terbanyak pada
pasien diabetes mellitus, umumnya terjadi karena adanya penyumbatan pada pembuluh darah
yang akhirnya membuat kerja jantung semakin berat dan hantaran oksigen menjadi berkurang
pada kondisi lanjut menyebabkan iskemik (Dipiro, et al., 2008).
Penyebab dari komplikasi makrovaskular ini adalah aterosklerosis. Penyebab utama
aterosklerosis pada penderita DM tipe 2 melibatkan interaksi kompleks dari berbagai keadaan
seperti hperglikemia, hiperlipidemia, stres oksidatif, serta perubahan-perubahan dalam proses
koagulasi dan fibrinolisis. Pada pasien diabetes mellitus, resiko payah jantung kongestif
meningkat 4 sampai 8 kali (Shahab, 2009).
Peripheral Vascular Diseasemerupakankeadaan yang terjadi karena kontrol glukosa yang
buruk sehingga menimbulkan kerentanan terjadinya ulkus pada kaki, yang pada kondisi lanjut
menyebabkan gangren akibat infeksi bakteri (Dipiro, et al., 2008).
2.2.8.2.2 Mikrovaskular
Diabetik Retinopati merupakan komplikasi kronik pada diabetes mellitus yang dapat
menyebabkan kebutaan hal ini terjadi karena penebalan membran basal kapiler yang
menyebabkan mudahnya terjadi kebocoran pada pembuluh darah dimata ( Davey et al.,

2006).Retina harus diperiksa apabila terdapat mikroaneurisma, pendarahan, atau eksudat.


Adanya gejala tersebut merupakan latar belakang retinopati dan biasanya tidak ganas apabila
tidak berkembang lebih lanjut. Iskemia retina menimbulkan daerah infark (bintik cotton-wool),
suatu tanda nyata yang biasanya akan berkembang menjadi retinopati proliferatif yang ditandai
dengan pertumbuhan kapiler-kapiler baru (Skach, 1996).
Patofisiologi retinopati diabetik melibatkan 5 proses yang terjadi di kapiler yaitu
pembentukan mikroaneurisma, peningkatan permaebilitas pembuluh darah, penyumbatan
pembuluh darah, pembentukan pembuluh darah baru, dan kontraksi dari jaringan fibrosis kapiler.
Penyumbatan dan hilangnya perfusi menyebabkan iskemia retina sedangkan kebocoran dapat
terjadi pada semua komponen darah (Pandelaki, 2009).
Diabetik Nefropati adalah terjadinya lesi pada glomerulus akibat dari hiperfiltrasi yang
menyebabkan penebalan difusi pada membran basal glomerulus, sehingga albumin terekresikan
lewat urin dalam jumlah yang cukup besar 30-300mg/hari yang merupakan penanda bahwa telah
terjadi kerusakan vaskular pada ginjal (Davey et al., 2006).
Perjalanan penyakit serta kelainan ginjal pada pasien diabetes mellitus dibagi menjadi 5
tahapan yaitu terjadi hipertrofi dan hiperfiltrasi pada saat diagnosa ditegakkan. Laju filtrasi
glomerulus dan laju ekskresi albumin dalam urin meningkat. Pada tahap kedua terdapat
penebalan membran basalin serta peningkatan volume mesangium fraksional. Selanjutnya pada
tahap ketiga ditemukan mikroalbuminuria dan laju ekskresi albumin dalam urin adalah 30300mg/24 jam. Pada tahap keempat laju filtrasi glomerulus menurun dan kecepatan penurunan
ini berhubungan dengan tingginya tekanan darah, dan pada tahap kelima telah terjadi gagal ginjal
(Hendromartono, 2009).
Diabetik Neuropati merupakan abnormalitas dari metabolisme glukosa pada tubuh serta
kerusakan pembuluh darah kecil yang memberi nutrisi serta mensuplai oksigen menyebabkan
terjadinya gangguan pada beberapa sistem saraf, yang pertama adalah sistem saraf sensorik
perifer yang akhirnya mengalami gangguan dalam merasakan getaran dan rasa sakit yang
akhirnya membuat penderita tidak merasakan saat ada luka (Daveyet al., 2006).
Proses terjadinya diabetik neuropati berawal dari hiperglikemia yang berkepanjangan
mengakibatkan terjadinya peningkatan aktivitas jalur poliol, pembentukan radikal bebas, dan
aktivasi protein kinase C. Aktivasi berbagai jalur tersebut berujung pada kurangnya vasodilatasi,
sehingga aliran darah ke saraf menurun sehingga terjadi diabetik neuropati (Subekti, 2009).

2.3

Tinjauan Tentang Terapi

2.3.1

Terapi Non farmakologi


Terapi Non farmakologi :dengan pemberian edukasi, perencanaan makanan, dan latihan

jasmani (ADA, 2011).


2.3.1.1Pemberian edukasi
Semua penderita diabetes mellitus berikut keluarganya, harus mendapat pendidikan yang
cukup mendalam mengenai penyebab dan penatalaksanaan diabetes mellitus. Pasien harus
memahami diet yang dijalani dan pentingnya mengontrol berat badan (Skach, 1996)
2.3.1.2 Perencanaan makanan
Lebih dari separuh penderita diabetes mellitus gagal menaati diet yang harus dijalani.
Kegagalan ini dapat dikurangi dengan menghindari cara diet yang sulit dan berlebihan, serta
menjelaskan prinsip-prinsip diet pada pasien dan keluarganya, dan juga memodifikasi diet
sedemikian rupa sehingga memenuhi selera makan yang diinginkan dan tipe diabetes (Skach,
1996).
2.3.1.3 Latihan jasmani
Latihan jasmani atau olahraga mengurangi kebutuhan insulin dengan meningkatkan
oksidasi gula dan mempermudah absorbsi insulin yang disuntikan secara subkutan. Pasien yang
mendapat insulin tidak boleh berolahraga terlalu berat tanpa melengkapi diri dengan karbohidrat
yang cukup (Skach, 1996).
Prinsip olahraga pada pasien diabetes yaitu dengan memenuhi beberapa hal diantaranya
adalah frekuensi, intensitas, durasi, dan jenis olahraga. Frekuensi olahraga yang dianjurkan untuk
pasien diabetes mellitus yaitu jumlah olahraga perminggu sebaiknya dilakukan dengan teratur 35 kali per minggu dengan intensitas olahraga yang ringan dan sedang. Olahraga pada pasien DM
sebaiknya dilakukan selama 30-60 menit dan jenis olahraga yang dianjurkan adalah latihan
jasmani aerobik untuk meningkatkan kemampuan kardiorespirasi seperti jogging, berenang, dan
bersepeda (Soebardi, 2009).
2.3.2

Terapi Farmakologi
Berdasarkan mekanisme kerjanya, obat-obat hipoglikemik oral dapat dibagi menjadi 3

golongan yaitu:
a. Obat-obat yang meningkatkan sekresi insulin, meliputi obat hipoglikemik oral
golongan sulfonilurea dan glinida (meglitinida dan turunan fenilalanin).
b. Sensitiser insulin yaitu obat-obat yang dapat meningkatkan sensitifitas sel terhadap
insulin, meliputi obat-obat hipoglikemik golongan biguanida dan tiazolindinedion,
yang dapat membantu tubuh untuk memanfaatkan insulin secara lebih efektif.

c. Inhibitor katabolisme karbohidrat, antara lain inhibitor -glukosidase yang bekerja


menghambat absorpsi glukosa dan umum digunakan untuk mengendalikan
hiperglikemia post-prandial.
2.3.2.1 Peningkatan Sekresi Insulin
a. Sulfonilurea
Sulfonilurea menurunkan kadar glukosa darah dengan cara meningkatkansekresi insulin.
Dari segi efikasinya, sulfonylurea tidak berbeda denganmetformin, yaitu menurunkan A1C
sebanyak 1,5%. Efek yang tidak diinginkan adalahhipoglikemia yang bisa berlangsung lama dan
mengancam hidup. Hipoglikemia yang berat lebih sering terjadi pada orang tua. Risiko
hipoglikemialebih

besar

dengan

chlorpropamide

dan

glibenklamid

dibandingkan

dengansulfonylurea generasi kedua yang lain. Sulfonilurea sering menyebabkanpenambahan


berat badan sebanyak 2 kg. Kelebihan sulfonylurea dalam memperbaikikadar glukosa darah
sudah maksimal pada setengah dosis maksimal dandosis yang lebih tinggi sebaiknya dihindari
(Nathan et al., 2009).
Mekanisme kerja sulfonilurea yaitu menstimulasi sel-sel beta pangkreas dari pulau
langerhans, melalui interaksi dengan ATP-sensitive K channel pada membran sel-sel beta yang
menimbulkan depolarisasi membran kemudian membuka kanal Ca dan menyebabkan Ca ++
masuk sel beta dan merangsang sekresi granula yang berisi insulin. Dikenal dua generasi
sulfonilurea, generasi 1 terdiri dari tolbutamid, tolazamid, asetoheksimid, dan klorpropamid.
Generasi 2 yang mempunyai potensi hipoglikemik lebih besar antara lain: gliburid/ glibenkamid,
glipizid, glikazid dan glimipirid (Gunawan, 2011).
Efek samping sulfonilurea umumnya ringan dan frekuensinya rendah, diantaranya gejala
saluran cerna dan sakit kepala. Hipoglikemia dapat terjadi bila dosis tidak tepat atau diet terlalu
ketat dan juga pada gangguan fungsi hati/ ginjal atau pada lansia (IONI, 2000).
b. Glinide
Obat ini merupakan generasi baru yang cara kerjanya sama dengan sulfonylurea dengan
cara meningkatkan sekresi insulin. Golongan ini terdiri dari dua macam yaitu repraglinid dan
nateglinid (Misnadiarly., 2006)
Glinide menstimulasi sekresi insulin akan tetapi golongan ini memiliki waktu paruh
dalam sirkulasi yang lebih pendek daripada sulfonylurea dan harus diminum dalam frekuensi
yang lebih sering. Golongan glinide dapat menurunkan A1C sebesar 1,5 % Risiko peningkatan

berat badan pada glinide menyerupai sulfonylurea, akan tetapi risiko hipoglikemianya lebih kecil
(Nathan et al., 2009).
2.3.2.2 Sensitiser Insulin
a. Thiazolidinedione
Thiazolidinedione bekerja meningkatkan sensitivitas otot, lemak, dan hepar terhadap insulin.
Data mengenai efek TZD dalam menurunkan kadar glukosa darah pada pemakaian monoterapi
adalah penurunan A1C sebesar 0,5-1,4%. Efek samping yang paling sering dikeluhkan adalah
penambahan berat badan dan retensi cairan sehingga terjadi edema perifer dan peningkatan
kejadian gagal jantung kongestif (Nathan et al., 2009).
Obat ini meningkatkan transkripsi gen yang terlibat dalam diferensiasi sel-sel lemak dan lipid
serta metabolisme glukosa. Serta obat ini juga menurunkan resistensi insulin dan cendenrung
memperbaiki profil lipid dengan menurunkan trigliserida dan peningkatan kolesterol lipoprotein
densitas tinggi (HDL). Kebutuhan insulin bisa diturunkan oleh thiazolidinedione namun resiko
terjadinya gagal jantung ditemukan dalam penelitian dimana obat golongan ini dikombinasikan
dengan insulin (Rubenstein et al., 2007).
b. Biguanida
Metformin adalah satu-satunya biguanida yang dipakai saat ini. Pada metformin
kemungkinan terjadinya asidosis laktat sangat kecil dan mungkin terjadi

pada pasien dengan

predisposisi asidosis laktat seperti pasien dengan gagal ginjal atau penyakit hati (Noer, 1996).
Mekanisme kerja metformin adalah menambah up-take (utilisasi) glukosa diperifer dengan
meningkatkan sensitifitas jaringan terhadap insulin, menekan produksi glukosa oleh hati,
menurunkan oksidasi fatty acid dan meningkatkan pemakaian glukosa dalam usus melalui proses
non oksidatif. Ekstra laktat yang terbentuk akan diekstraksi oleh hati dan digunakan sebagai
bahan baku glukoneogenesis. Keadaan ini mencegah terjadinya efek penurunan kadar glukosa
yang berlebihan. Pada pemakaian tunggal metformin dapat menurunkan kadar glukosa darah
sampai 20% (Balley CJ., 1996).
Efek samping gastrointestinal tidak jarang didapatkan pada pemakaian awal metformin.
Dapat dikurangi dengan memberikan obat mulai dengan dosis rendah dan diberikan bersamaan
dengan makanan (Noer, 1996). Efek sampingnya agak sering terjadi dan berupa gangguan
lambung dan usus antara lain anorexia terutama pada dosis diatas 1,5 g/hari. Jarang sekali terjadi
asidosis asam laktat. Dapat pula terjadi penurunan penyerapan vitamin B. Rasa logam

dimulut adakalanya dialami, resiko hipoglikemia sangat kecil. Selain itu, metformin juga
dikontraindikasikan untuk wanita hamil dan menyusui (BNF, 2009).
2.3.2.3 Inhibitor Katabolisme Karbohidrat
a. Acarbose
Acarbose memperlambat penyerapan dan pemecahan karbohidrat kompleks dengan
menghambat enzim alpha glukosidase yang terdapat pada bagian usus halus. Secara klinis, akan
terjadi hambatan pembentukan monosakarida intraluminal, menghambat dan memperpanjang
peningkatan glukosa darah postprandial, dan mempengaruhi respon insulin plasma. Hasil
akhirnya adalah penurunan glukosa darah postprandial (Soegondo, 2009).
Penghambat glukosidase bekerja menghambat pemecahan polisakarida di usus halus
sehingga monosakarida yang dapat diabsorpsi berkurang dengan demikian peningkatan kadar
glukosa postprandial dihambat. Penghambat glukosidase tidak mengakibatkan hipoglikemia.
Golongan ini tidak seefektif metformin dan sulfonylurea dalam menurunkan kadar glukosa darah
A1C yang turun sebesar 0,5 0,8 %. Pada penelitian klinik, 25-45% partisipan menghentikan
pemakaian obat ini karena efek samping peningkatan produksi gas dan keluhan gastrointestinal
akibat meningkatnya karbohidrat di colon. Obat ini dapat menghambat bioavaibilitas metformin
apabila diberikan secara bersamaan pada orang normal (Nathan et al., 2009; Misnadiarly, 2006).
b. Dipeptidyl peptidase four inhibitor (DPP4 Inhibitor)
Dipeptidyl peptidase-4 (DPP-4) inhibitor merupakan kelas baru obat hipoglikemi oral
yang meningkatkan homeostasis glukosa dengan cara mencegah degradasi hormon incretin,
glucagon-like peptide-1 (GLP-1) dan glucose-dependent insulinotropic peptide (GIP). Hormon
incretin ini merangsang sekresi insulin yang tergantung pada adanya asupan glukosa dan
menekan sekresi glukagon oleh sel alfa pankreas sehingga menekan produksi gula darah oleh
hepar, dengan demikian DPP-4 inhibitor ini mempunyai kemampuan untuk meregulasi gula
darah puasa maupun gula darah prandial (Murtiwi., 2011).
Penelitian klinik menunjukkan bahwa DPP-4 Inhibitor menurunkan A1C sebesar 0,60,9%. Golongan obat ini tidak menimbulkan hipoglikemia bila dipakai sebagai monoterapi
(Nathan et al., 2009).