Anda di halaman 1dari 21

Makalah Kelompok I

SUPERVISI PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT DAN


PENGARUHNYA TERHADAP PROFESIONALISME GURU
Oleh : Sutoyo, Iswandi, Syahrul, dan Muhajir

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia merupakan makhluk yang selalu ingin tahu tentang berbagai hal.
Dengan kata lain, manusia adalah makhluk pencari kebenaran. Berbagai cara
dilakukan manusia untuk mendapatkan kebenaran yang diinginkannya. Ada tiga
cara yang biasanya dilakukan manusia untuk meraih kebenaran dan memuaskan
dahaga keingintahuannya, yakni melalui agama, filsafat, dan ilmu. Ketiga jalan
tersebut masing-masing meiliki cara dan teknik dalam mencari, mendekati, dan
menemukan kebenaran versi masing-masing. Makalah ini dibatasi hanya akan
mengupas yang berhubungan dengan filsafat saja.
Sebagai salah satu alat pencari kebenaran, filsafat bermula dari rasa ingin
tahu manusia akan segala sesuatu. Dalam pencarian kebenaran yang hakiki,
filsafat melakukannya dengan sungguh-sungguh secara sistematis, radikal, dan
universal. Dalam perkembangannya, filsafat memiliki berbagai cabang, di
antaranya adalah Filsafat Ilmu dan Filsafat Pendidikan. Salah satu Kelompok ilmu
adalah Ilmu pengetahuan Sosial (IPS). Salah satu cabang IPS adalah ilmu
pendidikan. Salah satu bagian ilmu pendidikan adalah supervisi atau
kepengawasan.

Makalah ini bermaksud untuk menelaah ilmu kepengawasan

(supervisi) dalam perspektif filsafat.

Secara umum, makalah ini akan membahas tentang dua hal besar, yakni
kepengawasan atau supervisi pendidikan yang ditelaah dalam perspektif filsafat
dan Pengaruh supervisi pendidikan terhadap profesionelisme guru.

1.2 Rumusan Masalah


Adapun materi mengenai telaah supervisi pendidikan dalam kaca mata
filsafat serta pengaruhnya terhadap profesionalisme guru ini akan diuraikan pada
bab pembahasan terbatas untuk menjawab rumusan masalah sebagai berikut:
1) Bagaimana telaah supervisi pendidikan dalam perspektif filsafat?
2) Bagaimana pengaruh supervisi pendidikan terhadap profesionalisme guru?

1.3 Tujuan
Tujuan dan manfaat yang diharapkan yang diperoleh oleh pembaca
makalah dengan

Supervisi Pendidikan dalam Perspektif Filsafat dan

Pengaruhnya Terhadap Profesionalisme Guru ini yaitu dapat:


1) Menjelaskan telaah supervisi pendidikan dalam kacamata filsafat
2) Menjelaskan

keterkaitan antara supervisi pendidikan dengan tingkat

profesionalisme guru

BAB II
SUPERVISI PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT DAN
PENGARUHNYA TERHADAP PROFESIONALISME GURU

2.1 Supervisi Pendidikan dalam Perspektif Filsafat


Beberapa ahli filsafat membagi filsafat menjadi tiga cabang, yakni
ontologi, epistimologi, dan aksiologi. Namun ada juga pendapat yang membagi
menjadi empat, yakni ditambah dengan metafisika. Dalam makalah ini pembagian
cabang filsafat menjadi empat sesuai tugas dosen pengampu mata kuliah Filsafat
Ilmu, yakni ontologi, metafisika, epistimologi, dan aksiologi.
Secara umum, ontologi merupakan pencarian kebenaran terhadap apa
atau eksistensi (keberadaan) sesuatu, dalam hal ini supervisi pendidikan.
Metafisika ingin mencari tahu penyebab eksistensi tersebut, dalam makalah ini
yakni supervisi pendidikan. Epistimologi di sini ingin menjawab bagaimana
supervisi pendidikan dilakukan. Metode, strategi, dan teknik dilakukan dalam
pelaksanaan supervisi pendidikan. Sedangkan aksiologi dalam makalah ini lebih
menyoroti tujuan, fungsi, dan manfaat keberadaan supervisi pendidikan. Keempat
pembahasan cabang filsafat itu dilakukan untuk membedah supervisi pendidikan
dalam kaca mata filsafat.

a. Ontologi
Istilah ontologi mulai dikenal sekitar abad ke-17 yang dikenal dengan
ungkapan filsafat mengenai yang ada. Martin Heidegger menyatakan bahwa
ontologi sebagai analisis eksistensi dan memungkinkan adanya eksistensi.
Secara etimologis, ontologi berasal dari bahasa Yunani on atau ontos
bermakna ada. Sedangkan dalam kamus filsafat, ontologi bermakna suatu studi
tentang tentang sisi esensial dari yang ada.
3

Jujun S. Sumantri (2010; 35) mengungkapkan bahwa ontologi adalah


cabang ilmu filsafat yang berubungan dengan hakikat hidup. Ontologi juga
diartikan sebagai hakikat apa yang terjadi.
Secara sederhana ontologi dapat dikatakan sebagai cabang filsafat yang
mempelajarai realitas atau kenyataan konkret. Ontologi membahas apa yang ada
secara universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dari sebuah
eksistensi realitas.
Dalam Makalah ini akan dibahas

ontologi dari eksistensi supervisi

pendidikan. Secara ontologis, keberadaan supervisi benar-benar ada dalam realita.


Artinya, kajian terhadap supervisi pendidikan secara ontologis layak untuk dikaji
lebih lanjut.
Supervisi adalah suatu kegiatan yang bukan hanya mencari kesalahan
objek pengawasan semata-mata, tetapi juga mencari hal-hal baik, untuk
dikembangkan

lebih lanjut

(Soetjipto dan Kosasi, 2011 : 231). Pengawas

(supervisor) bertugas melakukan pengawasan (supervisi), dengan memperhatikan


semua komponen sistem sekolah dan peristiwa yang terjadi di sekolah. Temuan
hal-hal yang kurang baik dicatat, lalu disampaikan kepada kepala sekolah dan
guru-guru. Sedangkan temuan hal-hal yang sudah baik, agar tetap dipertahankan
dan ditingkatkan.
Daresh dalam (Soetjipto dan Kosasi, 2011 : 233) mendefinisikan supervisi
sebagai suatu proses mengawasi kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan
organisasi. Wiles dalam (Soetjipto dan Kosasi, 2011 : 233) mengemukakan
pendapatnya bahwa supervisi adalah bantuan dalam pengembangan situasi
belajar-mengajar.
Dari berbagai pendapat para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan umum
bahwa kegiatan supervisi pendidikan bertujuan untuk memperbaiki pembelajaran.
Tentu saja perbaikan itu tercermin dari kinerja guru dalam melaksanakan
tugasnya. Muara dari semua itu adalah peningkatan profesionalisme guru.

Masalah supervisi pendidikan yang menjadi perhatian ontologi adalah


dalam penyelenggaraan supervisi pendidikan diperlukan usaha dan kerja sama
antara supervisor (kepala sekolah atau pengawas sekolah) dan guru mengenai
pandangan tentang tujuan supervisi.
Kegiatan supervisi mencakup penentuan kondisi-kondisi atau syarat-syarat
personel maupun material yang diperlukan untuk terciptanya situasi belajar
mengajar yang efektif (Sujana, 2011 : 20).

b. Metafisika
Metafisika berasal dari bahasa Yunani meta, yang bermakna setelah atau
dibalik dan phusika yang berarti hal-hal di alam. Beberapa ahli menggabungkan
metafisika dengan ontologi. Sebagian malah menganggap bahwa metafisika
merupakan bagian dari ontologi.
Penafsiran metafisika mengalami perkembangan dari zaman ke zaman.
Dalam makalah ini dibicarakan tentang mengapa ada supervisi pendidikan.
Keberadaan supervisi pendidikan telah dikenal sejak sangat lama dalam dunia
pendidikan.
Dalam makalah ini, metafisika berupaya menelaah supervisi pendidikan
dari segi alasan-alasannya, terkait eksistensi supervisi pendidikan. Dalam hal ini,
supervisi pendidikan ada sebagai implementasi dari berbagai produk regulasi
tentang sistem pendidikan nasional. Regulasi-regulasi tersebut antara lain:
Permendikbud no 14 tahun 2014 tentang Petunjuk Teknis Kepengawasan,
Peraturan Pemerintah nomor 74 tahun 2008 tentang Guru, Permendiknas nomor
39 tahun 2009 tentang Pemenuhan Beban Keja Guru dan Pengawas Satuan
Pendidikan, dan sebagainya.
Tulisan ini tidak akan menjelaskan satu per satu isi produk regulasi tentang
kepengawasan. Secara metafisika dalam makalah ini mengungkapkan bahwa
adanya supervisi pendidikan di Indonesia adalah karena munculnya produk5

produk regulasi tentang supervisi pendidikan di atas. Berbagai produk regulasi


tentang supervisi pendidikan diimplementasikan hingga di satuan pendidikan.
Dengan demikian, secara metafisika terjawab, mengapa supervisi pendidikan itu
ada, yakni karena adanya produk regulasi tentang supervisi pendidikan yang harus
diimplementasikan. Di samping itu, sistem pendidikan nasional juga menghendaki
eksistensi supervisi pendidikan.

c. Epistimologi
Epistimologi

adalah

teori

pengetauan,

yaitu

membahas

tentang

bagaimana cara mendapatkan pengetahuan yang benar dari obyek yang ingin
dipikirkan pengertian epistimologi yang lebih jelas (Sumantri, 2010: 99).
Objek epistimologi Menurut Jujun S. Sumatri (2010 : 119) berupa segenap
proses yang terlibat dalam usaha kita untuk memperoleh pengetahuan. Dalam hal
ini, epistimologi berupaya bagaimana proses supervisi pendidikan dilakukan.
Supervisi pendidikan dilakukan berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan
tentang bidang kerjanya, memahami tentang pembelajaran lebih mendalam dari
sekedar pengawas biasa (Sudjana, 2011: 1). Jika supervisi dilakukan kepala
sekolah, maka supervisi dilakukan untuk melihat kinerja guru dalam
melaksanakan pembelajaran terhadap siswa. Sedangkan jika supervisi dilakukan
oleh pengawas sekolah, maka kepala sekolah dalam konteks kelembagaan jelas
menjadi tujuan utama dalam peningkatan mutu pendidikan secara holistik, bukan
sekedar inspeksi biasa.
a) Model Pengembangan Profesionalisme Guru
Profesionalisme guru terus dikembangkan. Perlu model pengembangan
profesionalisme guru. Menutu Mudlofir (2013 : 123), model pengembangan
profesionalisme guru yang paling tepat adalah pengembangan watak guru yang
paripurna. Dalam Undang undang no 20 tahun 2003 tentang Guru dan Dosen,
watak paripurna adalah penampilan moralitas kepribadian secara paripurna
6

menurut timbangan keutuhan nilai yang mencakup aspek emosional, intelektual,


moral, dan spiritual.
Wisnieski dan Miller dalam Mudlofir (2013: 125)mengemukakan bahwa
watak merupakan hubungan timbal-balik yang sehat antara diri (self) dengan
lingkungan internal (diri) dan lingkungan ekstrernal (orang lain dan lingkungan
fisik), dan lingkungan spiritual.
Berdasarkan uraian di atas, maka watak seorang guru yang dipilih sebagai
model pengembangan profesionalisme guru dapat dibedakan berdasrkan kadar
atau levelnya. Ada empat level watak, yaitu:
1. Watak level nol
Watak level nol ini ketika bertindak tidak ada pertimbangan moral sama
sekali. Wak jenis ini disebut reactive personality (kepribadian reaktif). Tindakan
yang

dilakukan

pemilik

mempertimbangkan moral.

watak

ini

bersifat

impulsif,

spontan

tanpa

Biasanya watak ini sulit mengendalikan emosi,

meledak-ledak.
2. Watak Level 1
Watak level 1 memiliki hubungan timbal-balik dengn diri baik serta
memiliki kendali emosional yang mantab. Watak level 1 disebut juga proactive
personality (Kepribadian proaktif). Perilaku aktif, terarah, sesuai dengan diri dan
lingkungannya. Tindakan dilandasi oleh emotional intelligence (kecerdasan
emosional).
3. Watak Level 2
Watak ini memiliki hubungan timbal-balik yang sehat dengan diri dan
lingkungan secara lebih luas. Watak level ini disebut independent personality
(kepribadian merdeka). Ia mampu melakukan hubungan timbal-balik dengan

pihak-pihak di luar dirinya. Segala tindakannya didasarkan atas moral atau moral
intelligence (kecerdasan moral).
4. Watak Level 3
Watak ini memiliki hubungan timbal-balik yang sehat antara diri dan maha kuasa
(Tuhan) di samping antara diri dengan lingkungannya. Segala tindakannnya
didasarkan atas sisi spiritual atau spiritual intelligence (kecerdasan spiritual).
Siofat yang dimiliki watak level 3 adalah moralitas religius.

b) Strategi Pengembangan Profesionalisme Guru


Pengembangan

profesionalisme

guru

harus

dilakukan

terpadu,

konsepsional, dan sistematis. Strategi pengembangannya mrnurut mudlofir (2013 :


131) yakni: melalui pelaksanaan tugas, melalui respons, melalui pengembangan
diri,

dan

melalui

dukungan

sistem.

Keempat

strategi

pengembangan

profesionalisme guru tersebut akan di bawas satu per satu sebagai berikut.
1. Melalui Pelaksaan Tugas.
Sebenarnya melaksanakan tugas sehari-hari sebagai guru sudah merupakan
salah satu strategi dalam rangka pengembangan profesionalisme guru. Tentu saja
pelaksaan tugas bukan hanya sekedar melakukan pembelajaran, tetapi harus benarbenar mempersiapkan, melaksanakan, menilai dan menganalisis dengan benar.
Kegiatan lain yang dapat dilaksanakan dalam rangka melaksanakan tugas adalah
dengan melakukan kerja kelompok, diskusi kelompok, dan laksanakan tugas dan
tanggung jawab sehingga mengakibatkan keterampilan dan percaya diri yang
meningkat.

2. Melalui Respons

Respons di sini bahwa guru memperbaharui dan menyegarkan terhadap


tantangan serta informasi baru yang kekinian. Respons yang dapat dilakukan
sebagai tanggapan terhadap berbagai perubahan itu dapat dilakukan secara formal
atau informal. Respons yang dapat dilakukan guru antara lain melalui : pendidikan
dan pelatihan,

seminar,

lokakarya, ceramah,

konsultasi,

studi banding,

penggunaan media pembelajaran, MGMP, dan sebagainya.


3. Melalui Penelusuran dan Pengembangan Diri
Harus disadari bahwa setiap individu adalah unik yang berbeda dengan
individu lain. Demikian juga dengan guru. Setiap guru adalah pribadi yang unik.
Masing-masing memiliki kepribadian yang berbeda. Masing-masing meiliki
kelebihan dan kekurangan. Pengembangan profesionalisme guru seharusnya
berpusat pada keunikan potensi masing-masing guru. Dengan demikian,
pengembangan profesionalisme guru akan lebih optimal. Namun tentu car iniakan
cukup sulit diterapkan, terutama berkaitan dengan waktu dan sumber daya
manusiannya.
4. Melalui Dukungan Sistem
Dukungan sistem pendidikan nasional merupakan sebuah keniscayaan.
Pengembangan profesionalisme guru sangat tergantung pada kondisi sistem
dimana guru bertugas. Sebagus apapun konsep, model dan strategi pengembangan
profesionalisme guru, tanpa di dukung sistem yang baik, maka akan mentah juga.
Oleh karena itu, upaya peningkatkan profesionalisme guru harus dibarengi oleh
perbaikan sistem.
Perbaikan sistem, dalam hal ini pada dinas pendidikan dan pemerintah
daerah maupun pusat harus dilakuakn secara terpadu. Dengan demikian tidak ada
pertentangan kebijakan antara daerah satu dengan daerah lain, bahkan dengan
pusat.

c) Teknik Supervisi Pendidikan


9

Pendekatan yang dapat dilakukan oleh supervisor dalam rangka


melakukan pekerjaan supervisi terhadap guru dapat dilakukan empat pendekatan
sebagai berikut:
1) Pendekatan humanistik
Guru tidak dapat dipetlakukan sebagai alat semata-mata untuk tingkatkln
kualitas pembelajaran. Guru bukan mesin. Bukan bnda. Guru diperlakukan
berdasrkan perkembangan pengalaman n wawasannya.
Langkah-langkah pend humanistik
-

Pembicaan awal

Observasi

Analisis

Pembicaan akhir

Laporan

2) Pendekatan Kompetensi. Guru harus memiliki kompetensi khusus dalam


laksanakan tugas. Kemampuan minimal guru. ;langkah2. (1) menetapkan
kriteria kerja yg dikehendaki. (2) menetapkan target. (3) tentuka aktivitas
kerja (4) monitoring

(5)pembicaraan akhur. Evalusi, refleksi, tindak

lanjut.
3) Pendekatan klinis. Memperbaik ikinerja guru. Penampilan guru dlm
mengajar. Sasarannya perbaiki cara mengajar guru, bukan kepribadian
guru. Tahapan. Observasi, analisis dan penetapan strategi, pembicaraan
hasil, analisis sesudah pembicaraan.
4) Pendekatan profesional. Diklat, MGMP, KKG, MKKS, penggugusan dsb.
Sedangkan menurut Purwanto (2001 : 119) usaha yang dapat dilakukan
supervisor dalam melaksanakan supervisi antara lain:
10

- Membangkitkan dan merangsang guru-guru dalam melaksanakan tugasnya


dengan sebaik mungkin.
- Berupaya melengkapi sarana dan prasarana demi kelancaran proses
pembelajaran.
- Bersama-sama guru berusaha mengembangkan, mencari, menggnakan berbagai
metode pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kurikulum.
- Membina keharmoniasan antara guru dan pegawai sekolah lainnya.
- Berupaya mempertinggi mutu guru-guru dan pegawai sekolah
- Membina hubungan baik antar sekolah dengan komite sekolah.

d. Aksiologi
Istilah aksiologi berasal dari Bahasa Yunani axios yang berarti sesuai atau
wajar. Sedangkan logos bermakna ilmu. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai
yang berhubungan dengan manfaat atau kegunaan. Sumatri (2010 : 234)
menyampaikan bahwa aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan
dengan kegunaan dari pengetauan yang diperoleh. Dalam makalah ini akan
dibahas tentang tujuan dan kegunaan atau manfaat dari supervisi pendidikan.
a) Tujuan Supervisi Pendidikan
Supardi (2013 : 79) berpendapat bahwa tujuan supervisi dibagi menjadi
dua, yakni tujuan umum dan khusus. Tujuan umumnya, apa yang hendak dicapai
dalaam supervisi terhadap guru-guru di sekolah. Tujuan khusus dititikberatkan
pada tujuan dalama pembinaan aspek-aspek yang terlibat dalam pembelajaran.
Tujuan supervisi umum, memantau dan mengawasi kinerja guru dan
tenaga kependidkan dan mlaksanakan tugas dan tanggung jawabnya masingmasing agar mereka bekerja profesional dan mutu kerja meningkat (Goldamer,
et.al dalam Supardi,2013 : 80). Tujuan secara khusus yakni untuk meningkatkan
11

mutu profesionalisme dan kinerja guru dalam melaksanakan 4 komptensi guru


secara profesional yakni pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian (UU no
14/2003 tentang Guru dan Dosen)
Sedangkan Anwar dan Sagala dalam Sagala (2013 : 209) mengemukakan
tujuan supervisi adalah sebagai berikut:
1) Membina kepala sekolah dan para guru untuk lebih memahami tujuan
pendidikan
2) Memperbesar

kesanggupan

kepala

sekolah

dan

para

guru dala

mempersiapkan peserta didik


3) Membantu kepala sekolah dan para guru dalam mendiagnosis berbagai
permasalahan dalam pembelajaran dan perbaikannya.
4) Meningkatkan kesadaran kepala sekolah dan awrga sekolah terhadap
tatakerja yang demokratis dan kooperatif
5) Memperbesar ambisi guru dalam dalam meningkatkan mutukaryanya
secara maksimal
6) Membantu mempopulerkan sekolah kepada masyarakat
7) Melindung orang-orang yang disupervisi dari tutntutan dan kritik tidak
wajar dari masyarakat
8) Membantu kepsek dan para guru dalam mengevaluasi aktivitas mereka
9) Mengembangka rasa perstauan dan kesatuan atntarguru.
Sudjana (2011 : 20) merumuskan tujuan supervisi sebagai berikut:
1) Membina kepala sekolah dan guru-guru untuk lebih memahami tujuan
pendidikan.
2) Memperbesar

kesanggupan

kepala

sekolah

dan

guru

mempersiapkan siswa menjadi anggota masyarakat yang efektif.


12

dalam

3) Membantu kepala sekolah dan guru dalam mediagnosis secara klinis


terhadap berbagai kesulitan yang dihadapi pembelajaran
4) Memperbesar ambisi guru untuk meningkatkan mutu karyanya.
5) Meningkatkan kesadaran kepala sekolah, guru dan warga sekolah terhadap
tatakerja yang demokratis dan kooperatif.
6) Membantu kepala sekolah mempopulerkan sekolah kepada masyarakat
7) Membantu kepala sekolah dan guru dalam mengevaluasi aktivitasnya.
8) Mengembangakn persatuan dan kesatuan antarguru.
9) Meningkatkan kualitas belajar siswa
10) Memeupuk mutu kepemimpinan .

2.2 Profesionalisme Guru


Guru adalah suatu sebutan bagi jabatan, posisi, dan profesi bagi seseorang
yang mengabdikan dirinya dalam bidang pendidikan melalui interaksi edukatif
secara terpola, formal, dan sistematis. Dalam UU Nomor 14 Tahun 2005 Tentang
Guru dan Dosen (pasal 1) dinyatakan bahwa: Guru adalah pendidik profesional
dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengrahkan, melatih,
menilai dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal, pada
jenjang pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Guru profesional akan
tercermin dalam penampilan pelaksanaan tugas-tugas yang ditandai dengan
keahlian baik dalam materi maupun metode pembelajaran. Keahlian yang dimiliki
oleh guru profesional adalah keahlian yang diperoleh melalui suatu proses
pendidikan dan pelatihan yang diprogramkan secara khusus. Keahlian tersebut
mendapat pengakuan formal yang dinyatakan dalam bentuk sertifikasi, akreditasi,
dan lisensi dari pihak yang berwenang (dalam hal ini pemerintah dan organisasi
profesi).
13

Guru yang profesional adalah orang yang memilki kemampuan atau


keahlian khusus dalam bidang keguruan (pembelajaran) sehingga ia mampu
melakukan tugas dan fungsinya sebagai seorang pembelajar dengan kemampuan
maksimal. Atau dengan kata lain pembelajar profesional adalah

orang yang

terdidik dan terlatih dengan baik dan memiliki pengalaman yang kaya di
bidangnya. Artinya seorang pembelajar telah memperoleh pendidikan formal
serta menguasai berbagai strategi dalam kegiatan pembelajaran.

Selain itu

pembelajar yang profesional juga harus menguasai landasan-landasan pendidikan


yang tercantum dalam kompetensi.
Salah satu kewenangan guru adalah menghadapi peserta didiknya. Untuk
itu ia harus memiliki kemampuan dan memiliki standar, dengan prinsip mandiri
(otonom) atas keilmuannya. Jadi untuk berprofesi sebagai seorang guru perlu
adanya kekuatan pengakuan formal melalui tiga tahap; yakni; sertifikasi; registrasi
dan lisensi.
a. Sertifikasi adalah pemberian sertifikat yang menunjukkan kewenangan
seseorang anggota seperti ijazah tertentu.
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (saat itu Menteri Pendidikan
Nasional) mengeluarkan peraturan menteri nomor 18 tahun 2007 yang berisi
kebijakan mengenai sertifikasi guru. Berdasarkan peraturan tersebut, sertifikasi
dilaksanakan dalam bentuk penilaian portofolio yaitu pengakuan atas pengalaman
professional guru dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang
mendeskripsikan: kualifikasi akademik, pendidikan dan pelatiahan, pengalaman
mengajar, perencanan dan pelaksanaan pembelajaran, penilaian dari atasan dan
pengawas, prestasi akademik, karya pengembangan profesi, keikutsertaan dalam
forum ilmiah, pengalaman organisasi dibidang kependidikan dan sosial, dan
penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.

Belakangan ini,

pengumpulan portofolio oleh guru calon penerima sertifikasi. Sebagai gantinya,


mereka harus mengikuti PLPG.
b. Regristasi mengacu kepada suatu pengaturan dimana anggota diharuskan
terdaftar namanya pada suatu badan atau lembaga
14

c. Lisensi adalah suatu pengaturan yang menetapkan seseorang memperoleh izin


dari yang berwajib untuk menjalankan pekerjaanya.
2.2.1 Profesionalisme Guru dalam Pembelajaran
Seorang guru profesional dapat dibedakan dari seorang teknisi.

Di

samping menguasai sejumlah teknik serta prosedur kerja tertentu, seorang pekerja
profesional ditandai dengan adanya informed responsiveness terhadap implikasi
kemasyarakatan dari obyek kerjanya. Hal ini berarti bahwa seorang guru harus
memiliki persepsi filosofis dan ketanggapan yang bijaksana yang lebih mantap
dalam menyikapi dan melaksanakan pekerjaannya. Kompetensi seorang guru
sebagai tenaga profesional ditandai dengan serangkaian diagnosis, rediagnosis,
dan penyesuaian secara kontinyu. Selain kecermatan dan ketelitian dalam
menentukan langkah, guru juga harus sabar, ulet, dan telaten serta tanggap
terhadap situasi dan kondisi, sehingga diakhir pekerjaannya akan membuahkan
hasil yang memuaskan.
Berdasarkan pengertian profesi dengan segala persyaratannya yang telah
dikemukakan, akan membawa konsekuensi yang mendasar terhadap program
pendidikan terutama yang berkenaan dengan komponen tenaga kependidikan.
Konsekuensi yang dimaksud adalah masalah akuntabilitas dari program
pendidikan itu sendiri. Hal ini merupakan suatu petunjuk bahwa keberhasilan
program pendidikan tidak dapat dipisahkan dari peranan masyarakat secara
holistik. Jadi kompetensi lulusan tidak semata-mata tanggung jawab guru, akan
tetapi ditentukan juga oleh pemakai lulusan dan masyarakat baik secara langsung
maupun tidak sebagai akibat dari adanya lulusan tersebut.
Secara garis besar terdapat tiga tingkatan kualifikasi profesional guru,
yaitu capability, inovator, dan developer. Capability maksudnya adalah guru
diharapkan memiliki pengetahuan, kecakapan dan keterampilan serta sikap yang
lebih mantap dan memadai sehingga mampu mengelola proses pemelajaran secara
efektif. Inovator maksudnya sebagai tenaga pendidik yang memiliki komitmen

15

terhadap upaya perubahan dan reformasi. Guru diharapkan memiliki pengetahuan,


kecakapan, dan keterampilan serta sikap yang tepat terhadap pembaharuan dan
sekaligus merupakan penyebar ide pembaharuan yang efektif. Developer
maksudnya guru harus memiliki visi dan misi keguruan yang mantap dan luas
perspektifnya. Guru harus mampu melihat jauh ke depan dalam mengantisipasi
dan menjawab tantangan yang dihadapi oleh sektor pendidikan sebagai suatu
sistem.
Pengertian guru profesional adalah orang yang memiliki kemampuan dan
keahlian khusus dalam bidang keguruan sehingga ia mampu melakukan tugas dan
fungsinya sebagai guru dengan kemampuan maksimal. Dengan kata lain guru
profesional adalah orang yang terdidik dan terlatih dengan baik serta memiliki
pengalaman yang kaya dibidangnya. Terdidik dan terlatih maksudnya bukan
hanya memperoleh pendidikan formal tetapi juga harus menguasai berbagai
strategi atau teknik di dalam kegiatan pembelajaran serta menguasai landasanlandasan kependidikan sesuai dengan kompetensi yang harus dikuasai oleh guru.

2.3 Pengaruh Supervisi terhadap Profesionalisme Guru


2.3.1 Pengertian Pengaruh
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2010 ) arti kata pengaruh adalah
daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk
watak kepercayaan dan perbuatan sesorang. Badudu dan Zain (2001 : 1031)
mengemukakan pengertian pengaru adalah sebagai berikut: (1)

daya yang

menyebabkan sesuatu terjadi. (2) sesuatu yang dapat membentuk atau mengubah
sesuatu yang lain.
Dari pengertian di atas dapat dikatakan bahwa pengaruh merupakan
sebuah daya yang yang ada atau timbul dari suatu hal yang memiliki akibat atau
akibat atau hasil dan dampak tertentu. Dalam makalah ini dibatasi pada seberapa
besar daya yang ada atau ditimbulkan oleh supervisi pendidikan terhadap tingkat
16

profesionalisme guru. Di samping itu, telaah teradap supervisi pendidikan


dilakukan dengan perspektif filsafat.
Supervisi pendidikan seharusnya dilakukan oleh seseorang yang dididik
khusus dan ditugaskan untuk melakukan pekerjaan supervisi. Oleh karena itu
diperlukan ke ahliah khusus bagi para supervisor pendidikan. Hal ini karena
supervisi pendidikan juga harus dilaksanakan secara profesional. Dalam kata
profesional melekat berbagai syarat dan standar sebagaimana profesi lainnya.
Fungsi sorang supervisor pendidikan bukanlah untuk mengadili, tetapi
untuk membantu, mendorong, memberi keyakinan kepada guru, bahwa proses
pembelajaran dapat dan harus diperbaiki. Pengembangan berbagai pengalaman,
pengetahuan, keterampilan, dan sikap guru harus dibantu secara profesional
sihingga guru mampu mengembangkan dan memeperbaiki profesionalismenya.
Kegiatan supervisi hendaknya memberi stimulus bagi terjadinya
perubahan kegiatan pembelajaran oleh guru menuju ke arah yang lebih baik.
Perubahahn tersebut di antaranya dapat dilakukan dengan pengembangan
kurikulum serta kegiatan pendidikan dan latihan guru dalam jabatan untuk guru.
Menurut Soetjipto dan Kosasi (2011 : 237), berdasarkan peranannya,
supervisi pendidikan dibedakan menjadi dua jenis, yakni.
1) Supervisi traktif = perubahan kecil untuk jaga kontinuitas. Misalnay
pertemuan rutin dg guru tuk bcrkan kesuliatn2 kcil guru, sosialisi,
mengarahkan menuju PSO.
2) Supervisi dinamik. = perubhana intensif praktik pembelajaran. Mengarah
diskontinuitas. Praktik sekarang harus diganti baru. Berpengaruh pada
murid, guru, dan personel sekolah.
Sedangkan menurut Anwar dan Sagala (2004 : 158) fungsi supervisi sebagai
berikut:
1) Menetapkan masalah yang harus ditanggulangi.
17

2) Menyelenggarakan inspeksi sebagai sebuah survei.


3) Penilaian data hasil inspeksi.
4) Penilaian
5) Latihan
6) Pembinaan atau pengembangan sebagai tindak lanjut.
Gwyn dalam Sagala (2013: 206) mengungkapkan tujuan supervisi sebagai
berikut:
1) Membantu guru mengerti dan memehami peserta didik
2) Membantu mengembangkan dan memperbaiki kinerja guru
3) Membantu seluruf staff sekolah agar bekerja efektif
4) Meningkatkan kemampuan guru dalam menggunakan berbagai metode
dalam pembelajaran
5) Mengatasi berbagai pesoalan dalam pengajaran secara individual
6) Membantu guru menilai peserta didik secara terstandar
7) Menstimulasi guru untuk instropeksi diri
8) Menggairahkan guru dalam pembelajaran
9) Membantu guru dalam menganalisis dan melaksanakan kurikulum
10) Membantu guru memberikan info seluas-luasnya kpd masayarakat tentang
kemajuan sekolah.

2.3.2 Peranan Guru dalam Supervisi Pendidikan


18

Peran guru sangat besar dalam berhasil atau gagalnya supervisi. Guru
aktif memberi masukan kepada supervisor tentang kesulitan-kesulitannya. Fokus
supervisi adalah guru. Fase evalusasi adalah kesempatan guru untuk mengetahui
kemajuan yang telah dicapainya.
Hasil penelitian Supardi (2014: 264) membuktikan bahwa peran guru
sangat vital dalam kegiatan supervisi. Dampak supervisi pendidikan terhadap
profesionalisme guru sangat besar. Supervisi pendidikan berkontribusi signifikan
terhadap kinerja guru. Semakin efektif supervisi yang dilakukan, semakin tinggi
pula efektifitas pengembangan profesionalisme guru. Sebaliknya, semakin tidak
efektif supervisi, maka semakin rendah tingkat profesionalisme guru.
Rendahnya profesi, prestasi, mutu proses dan hasil pembelajaran peserta
didik di Indonesia juga disebabkan oleh masih lemahnya peran supervisi
pendidikan, kurang efisiean dan efektif sesuia tujuan pendidikan (Sagala dalam
Supardi, 2014 : 265).
Supervisi harus dilakukan oleh orang yang memiliki kemampuan
profesional di bidangnya. Di samping itu, ia juga harus memiliki visi sebagai agen
perubahan dalam pembelajaran, pembaharu dalam pembelajaran. Sayangnya,
belum semua supervisor pendidikan selama ini memiliki hal tersebut. Akibatnya,
dunia supervisi pendidikan di negeri ini cenderung stagnan.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Supervisi pendidikan atau kepengawasan dapat ditelaah sebagai sebuah
kebenaran

dalam perspektig filsafat. Penelaahan supervisi pendidikan daam

kacamata filsafat dilakukan dengan empat analisis melalui empat cabang filsafat,
yakni ontologi, metafisika, epistimologi, dan aksiologi.

19

Secara ontologis, keberadaan supervisi pendidikan telah diakui, baik


secara regulatif maupun secara realitas. Keberadaan pengawas benar-benar nyata
dalam sistem pendidikan Indonesia. Secara metafisika dapat dikatakan bahwa
supervisi lahir akibat dari disahkannya regulasi tentang supervisi pendidikan. Di
samping itu, supervisi pendidikan hadir karena tuntutan sistem pendidikan
nasional. Secara epistimologis, sepervisi pendidikan dilaksanakan dalam berbagai
metode dan strategi, serta pendekatan. Salah satu pendekatan yang digunakan
adalah pendekatan humanis. Sedangkan secara aksiologis, supervisi pendidikan
dilihat dari nilai atau manfaatnya dalam dunia pendidikan nasional umumnya.
Berbagai penelitian pendidikan membuktikan bahwa terdapat korelasi
antara nyata antara profesionalisme guru dengan supervisi. Supervisi yang kuat
berdampak pada tingginya kinerja guru. Sebaliknya, supervisi yang lemah
menyebabkan kinerja guru rendah.
3.2 Saran
Berdarkan simpulan di atas, dapat disarankan hal-hal sebagai berikut:
1) Perlu penelaahan lebih lanjut terhadap supervisi pendidikan dalam
perspektif filsafat guna memperoleh kebenaran yang lebih valid dan
realibel.
2) Kegiatan supervisi pendidikan perlu lebih digiatkan mengingat korelasi
antara kinerja guru dengan supervisi.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar Q dan Syaiful Sagala. 2004. Profesi Jabatan Kependidikan dam Guru
Sebagai Upaya Menjamin Kualitas Pembelajaran. Jakarta : uhamka
Press
Mudlofir, Ali. 2013. Pendidik Profesional. Jakarta : Rajawali
Sagala, Syaiful. 2013. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan.
Bandung : Alfabeta
Soetjipto dan Raflis Kosasi. 2011. Profesi Keguruan. Jakarta : Rineka Cipta
20

Sudjana, Nana. 2011. Pengawas dan Kepengawasan. Bekasi : Binamitra Publising


Sumatri, Jujun S. 2010. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta : Sinar
Harapan
Supardi. 2013. Kinerja Guru. Jakarta : Rajawali Pers
Undang Undang Nomor 14 tahun 2003 tentang Guru dan Dosen

21