Anda di halaman 1dari 6

Jika Bukan Ahlinya Yang Mengurus, Tunggulah

Kehancuran..!
Ihsan Tandjung Selasa, 18 Zulqa'dah 1431 H / 26 Oktober 2010 22:48 WIB
Berita Terkait

Para Pemimpin Yang Sebaiknya Ditolak


Menolak Hukum Allah Dan Mengabaikan Kewajiban Sholat

Ikatan Islam Bakal Terurai Simpul Demi Simpul

Kebiasaan Menipu Mendatangkan Kemarau Panjang Dan Penguasa Zalim

Son of Hamas, Son of Noah









Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: "Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja
kehancuran terjadi." Ada seorang sahabat bertanya; bagaimana maksud amanat disia-siakan?
Nabi menjawab; "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran
itu." (BUKHARI 6015)

Sungguh benarlah ucapan Rasulullah sholallahualaihi


wa sallam di atas. "Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi." Amanah
yang paling pertama dan utama bagi manusia ialah amanah ketaatan kepada Allah, Pencipta,
Pemilik, Pemelihara dan Penguasa alam semesta dengan segenap isinya. Manusia hadir ke muka
bumi ini telah diserahkan amanah untuk berperan sebagai khalifah yang diwajibkan membangun
dan memelihara kehidupan di dunia berdasarkan aturan dan hukum Yang Memberi Amanah,
yaitu Allah subhaanahu wa taaala.







Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung,
maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya,
dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat
bodoh.(QS Al-Ahzab 72)
Amanat ketaatan ini sedemikian beratnya sehingga makhluk-makhluk besar seperti langit, bumi
dan gunung saja enggan memikulnya karena khawatir akan mengkhianatinya. Kemudian ketika
ditawarkan kepada manusia, amanat itu diterima. Sehingga dengan pedas Allah taaala
berfirman: Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh. Sungguh benarlah Allah
taaala! Manusia pada umumnya amat zalim dan amat bodoh. Sebab tidak sedikit manusia
yang dengan terang-terangan mengkhianati amanat ketaatan tersebut. Tidak sedikit manusia yang
mengaku beriman tetapi tatkala memiliki wewenang kepemimpinan mengabaikan aturan dan
hukum Allah taaala. Mereka lebih yakin akan hukum buatan manusia yang amat zalim dan
amat bodoh itu- daripada hukum Allah taaala. Oleh karenanya Allah hanya menawarkan dua
pilihan dalam masalah hukum. Taat kepada hukum Allah atau hukum jahiliah? Tidak ada pilihan
ketiga. Misalnya kombinasi antara hukum Allah dengan hukum jahiliah.



Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik
daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS Al-Maidah 50)
Dewasa ini kita sungguh prihatin menyaksikan bagaimana musibah beruntun terjadi di negeri
kita yang berpenduduk muslim terbanyak di dunia. Belum selesai mengurus dua kecelakaan
kereta api sekaligus, tiba-tiba muncul banjir bandang di Wasior, Irian. Kemudian gempa
berkekuatan 7,2 skala richter di kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Lalu tiba-tiba kita
dikejutkan dengan erupsi gunung Merapi di Jawa Tengah. Belum lagi ibukota Jakarta dilanda
banjir massif yang mengakibatkan kemacetan dahsyat di setiap sudut kota, bahkan sampai ke
Tangerang dan Bekasi. Siapa sangka banjir di Jakarta bisa terjadi di bulan Oktober, padahal
jadwal rutinnya biasanya di bulan Januari atau Februari..?
Lalu bagaimana hubungan antara berbagai musibah dengan pengabaian hukum Allah? Simaklah
firman Allah taaala berikut:






Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa
sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan
sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang
yang fasik. (QS Al-Maidah 49)
Berdasarkan ayat di atas, jelas bahwa Allah mengancam bakal terjadinya musibah bila suatu
kaum berpaling dari hukum Allah. Dan tampaknya sudah terlalu banyak dosa yang dilakukan
ummat yang mengaku beriman di negeri ini sehingga musibah yang terjadi harus berlangsung
beruntun. Dan dari sekian banyak dosa ialah tentunya dosa berkhianat dari amanah ketaatan
kepada Allah taaala. Tidak saja sembarang muslim di negeri ini yang mengabaikan aturan dan
hukum Allah, tetapi bahkan mereka yang dikenal sebagai Ulama, Ustadz, aktifis dawah dan para
muballigh-pun turut membiarkan berlakunya hukum selain hukum Allah. Hanya sedikit dari
kalangan ini yang memperingatkan ummat akan bahaya mengabaikan hukum Allah.

Dan yang lebih mengherankan lagi ialah kasus banjir Jakarta.


Sudahlah warga Jakarta dipaksa bersabar dalam menuntut janji kosong pak Gubernur -sang
Ahli yang mengaku sanggup mengatasi banjir tahunan tersebut- tiba-tiba kita semua
dikejutkan dengan tersiarnya kabar bahwa Fauzi bowo justeru terpilih secara aklamasi sebagai
Presiden Serikat Kota dan Pemerintah Daerah Asia Pasifik. Sebagaimana diberitakan di Media
Online Pemprov DKI Jakarta http://www.beritajakarta.com:
Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo akhirnya terpilih sebagai Presiden Serikat Kota dan
Pemerintah Daerah Asia Pasifik atauUnited Cities and Local Goverments Asia Pasific(UCLG
ASPAC). Bang Fauzi, begitu biasa ia disapa, terpilih secara aklamasi dalam kongres ke III,
UCLG ASPAC yang berlangsung di ACT City, Hamamatsu, Jepang, 18-22 Oktober kemarin.
Dalam kongres tersebut, sebanyak 200 delegasi pemerintah daerah dari negara se-Asia Pasifik
seperti, Jepang, China, Korea Selatan, India, Taiwan, Australia, Thailand dan negara lainnya
memilih Fauzi Bowo sebagai Presiden UCLG ASPAC yang akan menjalankan tugasnya hingga

tahun 2012 mendatang. Gubernur Fauzi Bowo terpilih secara aklamasi, ujar Hasan Basri,
Asisten Perekonomian dan Administrasi Sekdaprov DKI Jakarta, Senin (25/10).
Sungguh benarlah ucapan Rasulullah sholallahualaihi wa sallam "Jika urusan diserahkan
bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu."

Jika Bukan Ahlinya Yang Mengurus, Tunggulah Kehancuran..!


Diposkan oleh Yayack Faqih di 21.12
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja
kehancuran terjadi." Ada seorang sahabat bertanya; 'bagaimana maksud amanat disia-siakan? '
Nabi menjawab; "Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran
itu." (BUKHARI - 6015) Sungguh benarlah ucapan Rasulullah sholallahualaihi wa sallam di
atas. "Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi." Amanah yang paling
pertama dan utama bagi manusia ialah amanah ketaatan kepada Allah, Pencipta, Pemilik,
Pemelihara dan Penguasa alam semesta dengan segenap isinya. Manusia hadir ke muka bumi ini
telah diserahkan amanah untuk berperan sebagai khalifah yang diwajibkan membangun dan
memelihara kehidupan di dunia berdasarkan aturan dan hukum Yang Memberi Amanah, yaitu
Allah subhaanahu wa taaala.



Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung,
maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya,
dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat
bodoh.(QS Al-Ahzab 72) Amanat ketaatan ini sedemikian beratnya sehingga makhluk-makhluk
besar seperti langit, bumi dan gunung saja enggan memikulnya karena khawatir akan
mengkhianatinya. Kemudian ketika ditawarkan kepada manusia, amanat itu diterima. Sehingga
dengan pedas Allah taaala berfirman: Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.
Sungguh benarlah Allah taaala...! Manusia pada umumnya amat zalim dan amat bodoh. Sebab
tidak sedikit manusia yang dengan terang-terangan mengkhianati amanat ketaatan tersebut. Tidak
sedikit manusia yang mengaku beriman tetapi tatkala memiliki wewenang kepemimpinan
mengabaikan aturan dan hukum Allah taaala. Mereka lebih yakin akan hukum buatan manusia
yang amat zalim dan amat bodoh itu- daripada hukum Allah taaala. Oleh karenanya Allah hanya

menawarkan dua pilihan dalam masalah hukum. Taat kepada hukum Allah atau hukum jahiliah?
Tidak ada pilihan ketiga. Misalnya kombinasi antara hukum Allah dengan hukum jahiliah.

Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik
daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? (QS Al-Maidah 50) Dewasa ini kita
sungguh prihatin menyaksikan bagaimana musibah beruntun terjadi di negeri kita yang
berpenduduk muslim terbanyak di dunia. Belum selesai mengurus dua kecelakaan kereta api
sekaligus, tiba-tiba muncul banjir bandang di Wasior, Irian. Kemudian gempa berkekuatan 7,2
skala richter di kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Lalu tiba-tiba kita dikejutkan dengan
erupsi gunung Merapi di Jawa Tengah. Belum lagi ibukota Jakarta dilanda banjir massif yang
mengakibatkan kemacetan dahsyat di setiap sudut kota, bahkan sampai ke Tangerang dan Bekasi.
Siapa sangka banjir di Jakarta bisa terjadi di bulan Oktober, padahal jadwal rutinnya biasanya di
bulan Januari atau Februari..? Lalu bagaimana hubungan antara berbagai musibah dengan
pengabaian hukum Allah?
Simaklah firman Allah taaala berikut:


Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa
sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan
sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang
fasik. (QS Al-Maidah 49) Berdasarkan ayat di atas, jelas bahwa Allah mengancam bakal
terjadinya musibah bila suatu kaum berpaling dari hukum Allah. Dan tampaknya sudah terlalu
banyak dosa yang dilakukan ummat yang mengaku beriman di negeri ini sehingga musibah yang
terjadi harus berlangsung beruntun. Dan dari sekian banyak dosa ialah tentunya dosa berkhianat

dari amanah ketaatan kepada Allah taaala. Tidak saja sembarang muslim di negeri ini yang
mengabaikan aturan dan hukum Allah, tetapi bahkan mereka yang dikenal sebagai Ulama,
Ustadz, aktifis dawah dan para muballigh-pun turut membiarkan berlakunya hukum selain
hukum Allah. Hanya sedikit dari kalangan ini yang memperingatkan ummat akan bahaya
mengabaikan hukum Allah. Dan yang lebih mengherankan lagi ialah kasus banjir Jakarta.
Sudahlah warga Jakarta dipaksa bersabar dalam menuntut janji kosong pak Gubernur -sang
Ahli yang mengaku sanggup mengatasi banjir tahunan tersebut- tiba-tiba kita semua
dikejutkan dengan tersiarnya kabar bahwa Fauzi bowo justeru terpilih secara aklamasi sebagai
Presiden Serikat Kota dan Pemerintah Daerah Asia Pasifik. Sebagaimana diberitakan di Media
Online Pemprov DKI Jakarta http://www.beritajakarta.com: Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo
akhirnya terpilih sebagai Presiden Serikat Kota dan Pemerintah Daerah Asia Pasifik atauUnited
Cities and Local Goverments Asia Pasific(UCLG ASPAC). Bang Fauzi, begitu biasa ia disapa,
terpilih secara aklamasi dalam kongres ke III, UCLG ASPAC yang berlangsung di ACT City,
Hamamatsu, Jepang, 18-22 Oktober kemarin. Dalam kongres tersebut, sebanyak 200 delegasi
pemerintah daerah dari negara se-Asia Pasifik seperti, Jepang, China, Korea Selatan, India,
Taiwan, Australia, Thailand dan negara lainnya memilih Fauzi Bowo sebagai Presiden UCLG
ASPAC yang akan menjalankan tugasnya hingga tahun 2012 mendatang. Gubernur Fauzi Bowo
terpilih secara aklamasi, ujar Hasan Basri, Asisten Perekonomian dan Administrasi Sekdaprov
DKI Jakarta, Senin (25/10). Sungguh benarlah ucapan Rasulullah sholallahualaihi wa sallam
"Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu."
http://www.blogger.com/post-create.g?blogID=1671211914109298160
52 komentar on "Jika Bukan Ahlinya Yang Mengurus, Tunggulah Kehancuran..!"
Sang Cerpenis bercerita on 17 September 2011 10.08 mengatakan..