Anda di halaman 1dari 12

KEPERAWATAN KLINIK VIII

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MASALAH PSIKOSOSIAL :


ANSIETAS

Oleh :
Sena Wahyu Purwanza
152310101274

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JEMBER
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
Alamat:Jl. Kalimantan No.37 Kampus Tegal Boto Jember Telp./Fax (0331) 323450
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Menurut WHO (2001) kesehatan jiwa merupakan suatu kondisi sejahtera
dimana individu menyadari kemampuan yang dimilikinya, dapat mengatasi stres
dalam kehidupannya, dapat bekerja secara produktif dan mempunyai kontribusi
dalam kehidupan bermasyarakat. Pengertian kesehatan jiwa diatas menekankan pada
kondisi sehat dari aspek emosional, psikologis dan sosial yang ditunjukkan dengan
hubungan interpersonal, perilaku dan koping efektif, konsep diri positif, emosi
stabil, produktif dan mempunyai kontribusi dalam kehidupan bermasyarakat.
Kesehatan jiwa dikatakan suatu kondisi karena merupakan suatu rentang dari sehat
yang optimal sampai keadaan sakit/gangguan jiwa berat (Widiyanti, 2011).
Psikososial adalah setiap perubahan dalam kehidupan individu baik bersifat
psikologis maupun sosial yang bersifat timbal balik. Sedangkan masalah psikososial
adalah masalah kejiwaan sebagai akibat dari adanya perubahan sosial dalam
masyarakat yang dapat menimbulkan gangguan jiwa (Depkes, 2011 dalam Widianti
2011).
Masalah psikososial yang sering terjadi yaitu kecemasan. Lebih dari 23 juta
penduduk, kira-kira satu dari empat individu di Amerika serikat mengalami
kecemasan (Ansietas). Gangguan ansietas menghabiskan $ 46,6 miliar Amerika
Serikat pada tahun 1990 dalam biaya langsung dan tidak langsung. Satu survey
menemukan bahwa seorang pasien yang mengalami Ansietas melakukan rata-rata 37
kunjungan medisdalam satu tahun. Kurang dari 25 % penduduk mengalami
gangguan panic mencari bantuan, terutama karena mereka tidak menyadari
bahwagejala fisik yang mereka alami antara lain palpitasi Jantung, nyeri dada, sesak
napas) disebabkan oleh masalah psikiatri (Stuart, 2005).
Ansietas atau kecemasan adalah kekhawatiran yang tidak jelas dan menyebar,
berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya (Stuart dan Laraia, 2005).
Keadaan emosi ini tidak mempunyai obyek yang spesifik, bersifat subyektif dan
dikomunikasikan secara interpersonal. Ansietas dapat disebabkan oleh perasaan
takut tidak diterima di lingkungan tertentu, pengalaman traumatis, rasa frustasi
akibat kegagalan mencapai tujuan, dan ancaman terhadap integritas diri serta konsep
diri (CMHN, 2006). Suliswati, dkk (2005) menyebutkan bahwa salah satu faktor
predisposisi yang dapat menyebabkan timbulnya ansietas adalah krisis yang di alami
individu baik krisis perkembangan maupun krisis situasional.

1.2 Tujuan
1.2.1 Tujuan umum :
Mampu memahami asuhan keperawatan pada pasien dengan masalah
psikososial : ansietas.
1.2.2 Tujuan khusus :
a. Mengetahui pengertian ansietas.
b. Mengetahui psikopatologi dan psikodinamika ansietas.
c. Mengetahui diagnosa medis dan diagnosa keperawatan.
d. Mengetahui penatalaksanaan baik berupa terapi medis dan keperawatan

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Contoh Kasus
a. Kasus
Tn A, 40 tahun jantungnya sering berdebar-debar, sesak napas dan keringat
dingin. Tn A sudah periksa ke dokter penyakit dalam dan saraf tetapi belum
ditemukan sakit yang dideritanya. Dua minggu terakhir Tn A takut keluar rumah
sendirian, istrinya selalu diminta menemaninya pergi. Jarak rumah ke kantor
dekat, tetapi Tn A harus diantar sopir karena takut mengendarai mobil sendiri.
Menurut istrinya, satu bulan yang lalu institusi tempat suaminya bekerja
melakukan inspeksi dari kantor pusat dan Tn A merasa cemas yang cukup berat,
selain itu putranya operasi apendiksitis, Tn A merasa nyeri dan pegal jika rasa

berdebar itu muncul. Saat ini dokter menegakkan diagnosa panic. Tn A diberi
obat antidepresan SSRI sertraline 250 mg dan Alprazolam (Xanax) 24 mg.
b. Pembahasan Kasus
Diagnosa medis Tuan A berdasarkan PPDGJ III adalah gangguan panic/ ansietas
paroksimal episodic (F41.0). Kriteria: tidak ditemukan adanya gangguan
ansietas fobik (F40), beberapa kali serangan ansietas berat yaitu inspeksi dari
kantor pusat dan putranya menjalani operasi apendisitis sekitar satu bulan yang
lalu, pada keadaan-keadaan dimana sebenarnya secara objektif tidak ada bahaya,
ditandai dengan takut keluar rumah dan selalu minta ditemani oleh istrinya serta
diantar sopir untuk pergi ke tempat kerja karena takut mengendarai sendiri
padahal tidak ada situasi nyata yang mengancam.
2.2 Pengertian
Kecemasan adalah suatu perasaan tidak santai yang samar-samar karena
ketidaknyamanan atau rasa takut yang disertai suatu respons (penyebab tidak
spesifik atau tidak diketahui oleh individu). Perasaan takut dan tidak menentu
sebagai sinyal yang menyadarkan bahwa peringatan tentang bahaya akan datang
dan memperkuat individu mengambil tindakan menghadapi ancaman (Nihayati,
2015).
Kejadian dalam hidup seperti menghadapi tuntutan, persaingan, serta
bencana dapat membawa dampak terhadap kesehatan fisik dan psikologis. Salah
satu contoh dampak psikologis adalah timbulnya kecemasan atau ansietas
(Nihayati, 2015).
Comer (1992) dalam Videbeck, (2008) menjelaskan bahwa ansietas
merupakan perasaan takut yang tidak jelas dan tidak didukung oleh situasi. Ansietas
disebut uga sebagai alat peningkatan internal yang memberikan tanda bahaya bagi
individu. Ansietas memiliki dua aspek yaitu aspek sehat dan aspek membahayakan,
yang bergantung pada tingkat, lama ansietas dialami dan seberapa baik individu
melakukan koping terhadap ansietas. Sehingga berdasarkan pengertian dari para
ahli tersebut dapat diketahui bahwa ansietas adalah suatu perasaan subyektif yang
tidak jelas penyebabnya yang terjadi karena suatu respon normal individu terhadap
pertumbuhan, perubahan, pengalaman baru, penemuan identitas dan makna hidup.
2.3 Psikopatologi dan Psikodinamika (Nihayati, 2015)

2.3.1
Tanda dan Gejala
a. Respons fisik :Sering napas pendek, nadi dan tekanan darah naik, mulut
kering, anoreksia, diare/konstipasi, gelisah, berkeringat, tremor, sakit kepala,
sulit tidur
b. Respons Kognitif :Lapang persepsi menyempit, tidak mampu menerima
rangsang luar, berfokus pada apa yang menjadi perhatiannya.
c. Respons Perilaku :Gerakan tersentak-sentak, bicara berlebihan dan cepat,
perasaan tidak aman
d. Respons Emosi :Menyesal, iritabel, kesedihan mendalam, takut, gugup,
sukacita

berlebihan,

ketidakberdayaan

meningkat

secara

menetap,

ketidakpastian, kekhawatiran meningkat, fokus pada diri sendiri, perasaan


tidak adekuat, ketakutan, distressed, khawatir, prihatin

2.3.2

Rentan Respon Tingkat Kecemasan

Gb. Respon tingkat kecemasan (Suliswati, 2005)


a. Ansietas ringan berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupan seharihari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada dan meningkatkan lahan
persepsinya. Ansietas menumbuhkan motivasi belajar serta menghasilkan
pertumbuhan dan kreativitas.
b. Ansietas sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan perhatian
pada hal yang penting dan mengesampingkan yang lain, sehingga seseorang
mengalami perhatian yang selektif tetapi dapat melakukan sesuatu yang lebih
terarah.
c. Ansietas berat sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Adanya
kecenderungan untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan spesifik dan
5

tidak dapat berpikir tentang hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk
mengurangi ketegangan. Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan
untuk dapat memusatkan pada suatu area lain.
d. Tingkat panik dari ansietas berhubungan dengan ketakutan dan merasa
diteror, serta tidak mampu melakukan apapun walaupun dengan pengarahan.
Panik

meningkatkan

aktivitas

motorik,

menurunkan

kemampuan

berhubungan dengan orang lain, persepsi menyimpang, serta kehilangan


pemikiran rasional.
2.3.3

Faktor Predisposisi

Menurut Stuart dan Laraia (1998) dalam Nihayati (2015) terdapat beberapa teori
yang dapat menjelaskan ansietas, di antaranya sebagai berikut :

1. Faktor biologis.
Otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepine. Reseptor ini
membantu mengatur ansietas. Penghambat gamma amino butyric acid
(GABA) juga berperan utama dalam mekanisme biologis berhubungan
dengan ansietas sebagaimana halnya dengan endorfin. Ansietas mungkin
disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya menurunkan kapasitas
seseorang untuk mengatasi stresor.
2. Faktor psikologis
a. Pandangan psikoanalitik. Ansietas adalah konflik emosional yang
terjadi antara antara dua elemen kepribadianid dan superego. Id
mewakili dorongan insting dan impuls primitif, sedangkan superego
mencerminkan hati nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma
budaya seseorang. Ego atau aku berfungsi menengahi tuntutan dari dua
elemen yang bertentangan dan fungsi ansietas adalah mengingatkan ego
bahwa ada bahaya.
b. Pandangan interpersonal. Ansietas timbul dari perasaan takut terhadap
tidak adanya penerimaan dan penolakan interpersonal. Ansietas
berhubungan dengan perkembangan trauma, seperti perpisahan dan
kehilangan, yang menimbulkan kelemahan spesifik. Orang yang
6

mengalami harga diri rendah terutama mudah mengalami perkembangan


ansietas yang berat.
c. Pandangan perilaku. Ansietas merupakan produk frustasi yaitu segala
sesuatu yang mengganggu kemampuan seseorang untuk mencapai tujuan
yang diinginkan. Pakar perilaku menganggap sebagai dorongan belajar
berdasarkan keinginan dari dalam untuk menghindari kepedihan.
Individu yang terbiasa dengan kehidupan dini dihadapkan pada ketakutan
berlebihan lebih sering menunjukkan ansietas dalam kehidupan
selanjutnya.
3. Sosial budaya
Ansietas merupakan hal yang biasa ditemui dalam keluarga. Ada tumpang
tindih dalam gangguan ansietas dan antara gangguan ansietas dengan
depresi. Faktor ekonomi dan latar belakang pendidikan berpengaruh terhadap
terjadinya ansietas.
2.3.4

Faktor Presipitasi

Faktor presipitasi dibedakan menjadi berikut:


1. Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis
yang akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas
hidup sehari-hari.
2. Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas,
harga diri, dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang.
2.3.5

Koping
a. Sumber Koping
Individu mengatasi ansietas dengan menggerakkan sumber koping di
lingkungan.
b. Mekanisme Koping
Tingkat ansietas sedang dan berat menimbulkan dua jenis mekanisme koping
yaitu sebagai berikut.
1. Reaksi yang berorientasi pada tugas yaitu upaya yang disadari dan

berorientasi pada tindakan untuk memenuhi secara realistik tuntutan

situasi stres, misalnya perilaku menyerang untuk mengubah atau


mengatasi hambatan pemenuhan kebutuhan. Menarik diri untuk
memindahkan dari sumber stres. Kompromi untuk mengganti tujuan atau
mengorbankan kebutuhan personal.
2. Mekanisme pertahanan ego membantu mengatasi ansietas ringan dan

sedang, tetapi berlangsung tidak sadar, melibatkan penipuan diri, distorsi


realitas, dan bersifat maladaptif.
2.4 Diagnosa Medis dan Diagnosa Keperawatan
2.4.1 Diagnosa Medis
Menurut PPDGJ III (2001), ansietas diklasifikasikan sebagai gangguan ansietas
fobik seperti agorafobia, fobia sosial dan fobia khas; gangguan ansietas lainnya
seperti gangguan panik, gangguan ansietas menyeluruh (GAD), gangguan
campuran ansietas dengan depresi serta gangguan obsesif kompulsif.
2.4.2 Diagnosa Keperawatan
a. Ansietas
b. Respon Koping
2.5 Intervensi Keperawatan dan Penatalaksanaan Keperawatan (Nihayati, 2015)
2.5.1 Tindakan Keperawatan untuk Pasien
1. Tujuan
a. Pasien mampu mengenal ansietas.
b. Pasien mampu mengatasi ansietas melalui teknik relaksasi.
c. Pasien mampu memperagakan dan menggunakan teknik relaksasi untuk
mengatasi ansietas.
2. Tindakan keperawatan
a. Bina hubungan saling percaya.
Dalam membina hubungan saling percaya perlu dipertimbangkan agar
pasien merasa aman dan nyaman saat berinteraksi. Tindakan yang harus
dilakukan dalam membina hubungan saling percaya adalah sebagai
berikut.
Mengucapkan salam terapeutik.
Berjabat tangan.
Menjelaskan tujuan interaksi.
Membuat kontrak topik, waktu, dan tempat setiap kali bertemu pasien.
b. Bantu pasien mengenal ansietas.
Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan menguraikan perasaannya.
Bantu pasien menjelaskan situasi yang menimbulkan ansietas.
Bantu pasien mengenal penyebab ansietas.

Bantu pasien menyadari perilaku akibat ansietas.


c. Ajarkan pasien teknik relaksasi untuk meningkatkan kontrol dan rasa
percaya diri.
Pengalihan situasi.
Latihan relaksasi dengan tarik napas dalam, mengerutkan, dan
mengendurkan otot-otot.
Hipnotis diri sendiri (latihan lima jari).
d. Motivasi pasien melakukan teknik relaksasi setiap kali ansietas muncul.
2.5.2

Tindakan Keperawatan untuk Keluarga


1. Tujuan:
a. Keluarga mampu mengenal masalah ansietas pada anggota keluarganya.
b. Keluarga mampu memahami proses terjadinya masalah ansietas.
c. Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami ansietas.
d. Keluarga mampu mempraktikkan cara merawat pasien dengan ansietas.
e. Keluarga mampu merujuk anggota keluarga yang mengalami ansietas.
2. Tindakan keperawatan
a. Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien.
b. Diskusikan tentang proses terjadinya ansietas serta tanda dan gejala.
c. Diskusikan tentang penyebab dan akibat dari ansietas.
d. Diskusikan cara merawat pasien dengan ansietas dengan cara
Mengajarkan teknik relaksasi.
Mengalihkan situasi.
Latihan relaksasi dengan napas dalam, mengerutkan, dan
mengendurkan otot.
Menghipnotis diri sendiri (latihan lima jari).
e. Diskusikan dengan keluarga perilaku pasien yang perlu dirujuk dan
bagaimana merujuk pasien.

2.6 Penatalaksanaan Medis


Penatalaksanaan medis pada pasien dengan gangguan psikososial :
a. Terapi obat untuk gangguan ansietas diklasifikasikan menjadi antiansietas yang
terdiri dari ansiolitik, transquilizer minor, sedatif, hipnotik dan antikonfulsan
(Stuart, 2005) .
b. Mekanisme kerja dari obat ini adalah mendepresi susunan saraf pusat (SSP).
Meskipun mekanisme kerja yang tepat tidak diketahui, obat ini diduga
menimbulkan efek yang diinginkan melalui interaksi dengan serotonin, dopamin
dan reseptor neurotransmiter lain.
c. Efek samping yang umum dari penggunaan obat antiansietas yakni pada SSP,
kardiovaskuler, mata dan THT, gastro intestinal, kulit.

d. Kontra indikasinya yaitu penyakit hati, klien lansia, penyakit ginjal, glaukoma,
kehamilan atau menyusui, psikosis, penyakit pernafasan yang telah ada serta
reaksi hipersensitivitas.

BAB 3
PENUTUP
3.1 Simpulan

10

Kejadian dalam hidup seperti menghadapi tuntutan, persaingan, serta bencana


dapat membawa dampak terhadap kesehatan fisik dan psikologis. Salah satu contoh
dampak psikologis adalah timbulnya kecemasan atau ansietas. Kecemasan adalah
suatu perasaan tidak santai yang samar-samar karena ketidaknyamanan atau rasa
takut yang disertai suatu respons (penyebab tidak spesifik atau tidak diketahui oleh
individu). Perasaan takut dan tidak menentu sebagai sinyal yang menyadarkan
bahwa peringatan tentang bahaya akan datang dan memperkuat individu
mengambil tindakan menghadapi ancaman (Nihayati, 2015).
Sehingga berdasarkan pengertian dari para ahli tersebut dapat diketahui
bahwa ansietas adalah suatu perasaan subyektif yang tidak jelas penyebabnya yang
terjadi karena suatu respon normal individu terhadap pertumbuhan, perubahan,
pengalaman baru, penemuan identitas dan makna hidup.
3.2 Saran
Dalam pembuatan makalah ini kita sebagai perawat diharapkan dapat mengetahui
bagaimana cara melakukan asuhan keperawatan jiwa pada klien dengan masalah
psikososial : ansietas, selain itu diharapkan perawat dapat memiliki pandangan
tentang masalah psikososial : ansietas.

DAFTAR PUSTAKA
Marlindawani, Jenny P. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Masalah
Psikososial dan Gangguan Jiwa. Medan : USU Press
Nihayati, Endang H., PK, Fitryasari R dan Yusuf, AH. 2015. Buku Ajar Keperawatan
Kesehatan Jiwa. Jakarta : Salemba Medika
Stuart, G.W., & Sundeen, S.J. 1998. Buku Saku : Keperawatan Jiwa. (ed.Indonesia).
Jakarta : EGC Penerbit Buku Kedokteran

11

Stuart,G.W. & Laraia, M.T. (2005). Principles and Practice of psychiatric nursing. (7th
edition). St Louis: Mosby
Suliswati., dkk. (2005). Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta : EGC
Videbeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : EGC
Widianti, Efri. 2011. Pengaruh Terapi Logo da Terapi Suportif Kelompok Terhadap
Ansietas Remaja di Rumah Tahanan dan Lembaga Pemasyarakatan Wilayah
Provinsi Jawa Barat (Tesis). Jakarta : FIK UI

12