Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Ilmu ukur tanah merupakan ilmu terapan yang mempelajari dan menganalisis
bentuk topografi permukaan bumi beserta obyek-obyek di atasnya untuk keperluan
pekerjaan-pekerjaan konstruksi. Ilmu Ukur Tanah menjadi dasar bagi beberapa mata
kuliah lainnya seperti rekayasa jalan raya, irigasi, drainase dan sebagainya. Dalam
kegiatan hibah pengajaran ini. Misalnya semua pekerjaan teknik sipil tidak lepas dari
kegiatan pengukuran pekerjaan konstruksi seperti pembuatan jalan raya, saluran
drainase, jembatan, pelabuhan, jalur rel kereta api dan sebagainya memerlukan data
hasil pengukuran agar konstruksi yang dibagun dapat dipertanggungjawabkan dan
terhindar dari kesalahan konstruksi.
Untuk memperoleh hasil pengukuran yang baik dan berkualitas baik ditinjau
dari segi biayanya yang murah dan tepat waktu juga dari segi kesesuaian dengan
spesifikasi teknis yang dibutuhkan diperlukan metode pengukuran yang tepat serta
peralatan ukur yang tepat pula. Pengukuran-pengukuran menggunakan waterpas,
theodolit. Total station dan sebagainya dapat mengasilkan data dan ukuran yang dapat
dipertanggungjawabkan.

B. TUJUAN
1) Untuk dapat mengetahui peralatan ukur yang tepat dalam pengukuran.
2) Untuk dapat mengetahui peralatan dan prosedur dalam pengukuran menggunakan
alat ukur tanah.

C. MANFAAT
1) Dapat mengetahui peralatan ukur yang tepat dalam pengukuran.
2) Dapat mengetahui peralatan dan prosedur dalam pengukuran menggunakan alat
ukur tanah.
BAB II
1

LANDASAN TEORI
Ilmu ukur tanah ada tiga unsur yang harus diukur di lapangan, yaitu: jarak
antara dua titik, beda tinggi dan sudut arah. Pengukuran yang dilakukan dengan
menggunakan alat ukur sederhana sering disebut dengan pengukuran secara langsung
karena hasilnya dapat diketahui sesaat setelah selesai pengukuran. Sebagai contoh
alat teesebut adalah pita ukur dan abney level.
Selain alat ukur sederhana terdapat alat lain yang digunakan untuk pengukuran di
lapangan yang dikenal dengan tachnometre. Tachnometre merupakan suatu alat
pengukuran cepat yang dilengkapi oleh paralatan optis, misalnya lensa sehingga dapat
melakukan pengukuran secara optis, dengan dibantu oleh baak (staff) dengan
berbagai bentuk sesuai dengan jenis alat. Sebagai contoh adalah compas survey,
waterpass, dan theodolit.
Untuk mengukur jarak dan beda tinggi antara dua titik atau lebih dengan ketelitian
yang tinggi, digunakan alat ukur optis yang disebut dengan alat penyipat datar
(waterpass). Alat penyipat datar yang sederhana terdiri dari sebuah teropong dengan
garis bidik yang dapat dibuat horisontal dengan bantuan sebuah niveau tabung.
Pada prinsipnya Theodollit mempunyai fungsi yang sama dengan alat penyipat datar
yaitu untuk mengukur jarak, sudut dan beda tinggi. Bedanya theodolit mempunyai
dua sumbu, yaitu sumbu I (vertikal) dan sumbu II (horizontal). Dengan adanya sumbu
horizontal, garis bidik/ teropong dapat digerakkan pada bidang vertikal. Dengan kata
lain, theodolit mempunyai jangkauan yang lebih luas dari pada penyipat datar.
Pada dasarnya alat theodolit dibagi menjadi tiga bagian : bagian bawah, bagian
tengah, dan bagian atas. Bagian bawah merupakan bagian yang statis yang terdiri dari
tiga sekrup pendatar dan plat dasar. Plat dasar ini dalam penggunaannya dihubungkan
dengan statis (kaki tiga). Sebuah niveau kotak melengkapi bagian ini untuk mengatur
posisi alat supaya datar.
Bagian tengah terdiri atas sumbu vertikal. Pada bagian ini terdapat plat atau lingkaran
horizontal berskala dan sepasang kaki yang berfungsi untuk menyangga sumbu kedua
(sumbu mendatar). Sebuah niveau tabung terdapat pula pada bagian ini untuk
mengoreksi posisi sumbu I.Bagian atas terdiri atas sumbu kedua atau sumbu
horizontal, plat berbentuk lingkaran vertikal. Lingkaran vertikal berbentuk statis,
tidak turut bergerak sesuai dengan gerakan teropong pada sumbu kedua.
2

Mengukur tanah adalah sebuah pekerjaan mudah, akan tetapi jika pelaksanaanya
kurang hati-hati dapat menimbulkan kesalahan atau bahkan bisa jadi ribut sama
tetangga. Sebelum membangun rumah kita mengukur tanah terlebih dahulu, hasil
pengukuran tanah inilah yang nantinya digunakan untuk membuat desain rumah
lengkap sekaligus mengurus surat izin mendirikan Bangunan rumah ( IMB ).
Data pengukuran tanah yang diperlukan untuk membuat IMB maupun gambar kerja
rumah adalah:
1. Panjang dan lebar tanah.
2. Luas tanah.
3. Posisi tanah terhadap jalan raya dan bangunan disekitarnya agar posisi rumah
nantinya tidak makan tanah tetangga.
4. Bentuk tanah.
5. Tinggi permukaan tanah dari jalan raya atau muka air banjir setempat.
Peralatan yang dapat digunakan untuk mengukur tanah antara lain:
1. Roll Meter
2. Water pass
3. Benang Ukur
4. Pengukur Sudut
5. Teodholit
6. Kalkulator.
Cara mengukur tanah untuk membangun rumah adalah:
1. Membersihkan lahan dari rintangan yang akan menghalangi pengukuran, tapi kalau
rintanganya besar ya jangan diangkat gak kuat kali, untuk mengatasinya dapat
digunakan rumus pengukuran tanah dengan membuat garis pinjaman dilahan tanah
kosong.
2. Mengukur panjang dan lebar tanah dengan roll meter atau theodolit.
3. Mengukur sudut tanah dengan dengan theodolit maupun pengukur sudut
sederhana.
4. Mengukur lebar jalan raya.
5. Mengukur bangunan yang ada di sekitar lahan tanah rencana pembangunan rumah.
6. Membuat gambar sketsa hasil pengukuran tanah secara tepat, dan jika
dimungkinkan mengukur kembali untuk mengecek keakuratan.
BAB III
3

PEMBAHASAN
A. TOTAL STATION

Total Station merupakan teknologi alat yang menggabungkan secara elektornik antara
teknologi theodolite dengan teknologi EDM (electronic distance measurement). EDM
merupakan alat ukur jarak elektronik yang menggunakan gelombang elektromagnetik
sinar infra merah sebagai gelombang pembawa sinyal pengukuran dan dibantu
dengan sebuah reflektor berupa prisma sebagai target (alat pemantul sinar infra merah
agar kembali ke EDM).
Rekomendasi Pemakaian :
A. Total Station sebaiknya digunakan untuk pengukuran tata batas baru, baik itu tata
batas hutan maupun tata batas dengan pihak ketiga seperti halnya pinjam pakai dan
tukar menukar kawasan hutan.
B. Total Station sebaiknya digunakan untuk pengukuran berulang (contoh :
rekonstruksi batas kawasan hutan), dimana data sebelumnya diperoleh dari
pengukuran menggunakan Total Station juga.
Untuk mengenal alat Total Station secara mendalam dapat dilakukan dengan cara
membandingkannya dengan alat ukur Theodolit T0. Theodolit T0 yang banyak
digunakan di Departemen Kehutanan adalah theodolit T0 kompas. Meskipun banyak

pabrikan dan variasi alat, namun dapat dibandingkan secara umum antara Total
Station dengan Theodolit T0 kompas, sebagai berikut :
1. Ketelitian bacaan ukuran sudut T0 yaitu : 1 sedangkan Total Station jauh lebih
teliti yaitu : 1? .
2. Ketelitian bacaan ukuran jarak T0 yaitu berkisar 1 Cm sedangkan Total Station
jauh lebih teliti yaitu berkisar antara 0,1 Cm 0,01Cm.
3. Kemampuan jarak yang diukur oleh Total Station dengan prisma tunggal rata-rata
3.000 meter, sedangkan jarak optimal T0 yaitu 200 meter dan sangat subyektif
dengan pembacaan masing-masing surveyor dalam membaca rambu ukur.
4. Sumber kesalahan yang bisa dieliminasi atau dihindari dalam pengukuran dengan
Total Station diantaranya yaitu kesalahan kasar (blunder). Kesalahan blunder yaitu
kesalahan yang diakibatkan karena kelalaian manusia, contoh diantaranya yaitu :
salah baca, salah tulis dan salah dengar. Kemampuan membaca, menginterpolasi
bacaan rambu ukur, menginterpolasi bacaan arah azimuth kompas pada alat T0 setiap
orang berbeda beda. Kondisi lelah pun bisa mengakibatkan salah membaca dan salah
mendengar. Sedangkan pada Total Station bacaan arah, sudut dan bacaan jarak sudah
ditampilkan otomatis pada tampilan layar, bahkan dapat tersimpan secara otomatis
dalam memori alat ukur.
5. Pengolahan data ukuran Total Station dilengkapi dengan software yang telah
disediakan oleh pabrikan, sehingga pengolahan data lebih cepat. Data ukuran jarak,
sudut, azimuth dan koordinat tersimpan di memory alat. Pada beberapa jenis Total
Station, sketsa titik-titik yang diukur dapat ditampilkan posisinya pada layar monitor
alat. Data ukuran dari T0 harus dicatat dan digambar pada buku ukur, sehingga
menambah waktu pekerjaan dibandingkan dengan Total Station. Akan tetapi untuk
tujuan backup data, dapat pula dilakukan pencatatan pada buku ukur untuk data
ukuran Total Station.
6. Format data hasil ukuran Total Station sudah bisa diaplikasikan langsung dengan
program GIS dan digabungkan dengan data GPS, sedangkan data hasil ukuran T0
merupakan data mentah dan harus dilakukan pengolahan data terlebih dahulu.
7. Kesalahan Kolimasi (garis bidik tidak sejajar dengan sumbu II), kesalahan index
vertikal sudah diset Nol sehingga tidak perlu pengaturan lagi. Pada alat T0 harus
dilakukan pengecekan kolimasi dan index vertikal sebelum alat digunakan, sehingga

apabila terjadi kesalahan secepatnya dilakukan koreksi sebelum alat tersebut dipakai
dalam pengukuran di lapangan.
8. Pada proses pengukuran stake out atau pencarian titik atau rekonstruksi, Total
Station lebih memudahkan pelaksana dalam mencari titik-titik tersebut. Dengan
memasukan koordinat acuan titik dan data jarak dan sudut yang diketahui, maka
pencarian titik tersebut lebih mudah, karena alat Total Station menghitung secara
otomatis posisi prisma berdiri. Pada T0 harus dilakukan perhitungan dengan
kalkulator untuk mendapatkan posisi yang paling tepat.
9. Pada kondisi cahaya redup ataupun gelap, pengukuran masih bisa dilaksanakan
karena Total Station menggunakan teknologi infra merah, sedangkan dengan
Theodolit sangat sulit dilakukan khususnya dalam membaca rambu, serta membaca
sudut horisontal dan sudut vertikal.
10. Atraksi lokal yang disebabkan oleh benda-benda logam di sekitarnya berpengaruh
terhadap kondisi bacaan yang ditunjukan oleh kompas, Total Station tidak
dipengaruhi oleh atraksi lokal tersebut.

B. WATERPAS (Penyipat Datar)

Waterpas adalah alat ukur menyipat datar dengan teropong dengan dilengkapi nivo
dan sumbu mekanis tegak sehingga teropong dapat berputar ka arah horizontal. Alat
ini tergolong alat penyipat datar kaki tiga atau Tripod level, karena alat ini bila
digunakan harus dipasang diatas kaki tiga atau statif.
6

I. Prinsip kerja alat.


Yaitu garis bidik kesemua arah harus mendatar, sehingga membentuk bidang datar
atau horizontal dimana titik titik pada bidang tersebut akan menunjukkan ketinggian
yang sama.
II. Kegunaan alat.
Fungsi utama :
1. Memperoleh pandangan mendatar atau mendapat garis bidikan yang sama tinggi,
sehingga titik
titik yang tepat garis bidikan/ bidik memiliki ketinggian yang sama.
2. Dengan pandangan mendatar ini dan diketahui jarak dari garis bidik yang dapat
dinyatakan sebagai ketinggian garis bidik terhadap titik titik tertentu, maka akan
diketahui atau ditentukan beda tinggi atau ketinggian dari titik titik tersebut.
Alat ini dapat ditambah fungsi atau kegunaannya dengan menambah bagian alat
lainnya. Umumnya alat ukur waterpas ditambah bagian alat lain, seperti :
1. Benang stadia, yaitu dua buah benag yang berada di atas dan dibawah serta sejajar
dan dengan jarak yang sama dari benang diafragma mendatar. Dengan adanya benang
stadia dan bantuan alat ukur waterpas berupa rambu atau bak ukur alat ini dapat
digunakan sebagai alat ukur jarak horizontal atau mendatar. Pengukuran jarak dengan
cara seperti ini dikenal dengan jarak optik.
2. Lingkaran berskala, yaitu lingkaran di badan alat yang dilengkapi dengan skala
ukuran sudut. Dengan adanya lingkaran berskala ini arah yang dinyatakan dengan
bacaan sudut dari bidikan yang ditunjukkan oleh benang diafragma tegak dapat
diketahui, sehingga bila dibidikkan ke dua buah titik, sudut antara ke dua titik
tersebut dengan alat dapat ditentukan atau dengan kata lain dapat difungsikan sebagai
alat pengukur sudut horizontal.
III. Bagian bagian alat ukur waterpas beserta fungsinya.
Alat ukur waterpas yang sederhana hanya terdiri dari empat komponen atau bagian
alat yaitu :
1. Teropong yang didalamnya terdapat lensa obyektif, lensa okuler dan diafragma,

2. Nivo kotak dan nivo tabung


3. Sumbu satu dan,
4. Tiga skrup pendatar.
Namun bagian bagian utama dari alat ukur waterpas NK1/NK2 dan fungsinya sbb:
1. Teropong, berfungsi sebagai alat pembidik.
2. Visir, berfungsi sebagai alat pengarah bidikan secaara kasar sebelum dibidik
dilakukan melalui teropong atau lubang tempat membidik.
3. Lubang tempat membidik.
4. Nivo kotak, digunakansebagai penunjuk Sumbu Satu dalam keadaan tegak atau
tidak. Bila nivo berada ditengah berarti Sumbu Satu dalam keadaan tegak.
5. Nivo tabung adalah penunjuk apakah garis bidik sejajar garis nivo atau tidak. Bila
gelembung nivo berada di tengah atau nivo U membentuk huruf U, berarti garis bidik
sudah sejajar garis nivo.
6. Pemokus diafragma, berfungsi untuk memperjelas keadaan benang diafragma.
7. Skrup pemokus bidikan, berfungsi untuk mengatur agar sasaran yang dibidik dari
teropong terlihat dengan jelas.
8. Tiga skrup pendatar, berfungsi untuk mengatur gelembung nivo kotak
9. Skrup pengatur nivo U, berfungsi untuk mengatur nivo U membentuk huruf U
10. Skrup pengatur gerakan halus horizontal, berfungsi untuk

1. menepatkan bidikan benang difragma tegak tepat disasaran yang dibidik


2. Sumbu tegak atau sumbu satu (tidak nampak), berfungsi agar teropong dapat
diputar kea rah horizontal
3. Lingkaran horizontal berskala yang berada di badan alat berfungsi sebagai alat
bacaan sudut horizontal
4. Lubang tempat membaca sudut horizontal.

5. Pemokus bacaan sudut, berfungsi untuk memperjelas skala bacaan sudut


IV. Cara Mengoperasikan Alat Ukur Waterpas
Ada 4 jenis kegiatan yang harus dikuasai dalam mengoperasikan alat ini, yaitu :
(1) Memasang alat di atas kaki tiga
Alat ukur waterpas tergolong kedalam Tripod Levels, yaitu dalam penggunaannya
harus terpasang diatas kaki tiga. Oleh karena itu kegiatan pertama yang harus
dikuasai adalah memasang alt ini pada kaki tiga atau statif. Pekerjaan ini jangan
dianggap sepele, jangan hanya dianggap sekedar menyambungkan skrup yang ada di
kaki tiga ke lubang yang ada di alat ukur, tetapi dalam pemasangan ini harus
diperhatikan juga antara lain :
a. Kedudukan dasar alat waterpas dengan dasar kepala kaki tiga harus pas, sehingga
waterpas terpasang di tengah kepala kaki tiga.
b. Kepala kaki tiga umumnya berbentuk menyerupai segi tiga, oleh karena itu
sebaikny tiga skrup pendatar yang ada di alat ukur tepat di bentuk segi tiga tersebut
c. Pemasangan skrup di kepala kaki tiga pada lubang harus cukup kuat agar tidak
mudah bergeser apalagi sampai lepas Skrup penghubung kaki tiga dan alat terlepas
(2) Mendirikan Alat ( Set up )
Mendirikan alat adalah memasang alat ukur yang sudah terpasang pada kaki tiga tepat
di atas titik pengukuran dan siap untuk dibidikan, yaitu sudah memenuhi persyaratan
berikut:
a. Sumbu satu sudah dalam keadaan tegak, yang diperlihatkan oleh kedudukan
gelembung nivo kotak ada di tengah
b. Garis bidik sejajar garis nivo, yang ditunjukkan oleh kedudukan gelembung nivo
tabung ada di tengah atau nivo U membentuk huruf U.
(3) Membidikan Alat
Membidikan alat adalah kegiatan yang dimulai dengan mengarahkan teropong ke
sasaran yang akan dibidik, memfokuskan diafragma agar terlihat dengan jelas,
memfokuskan bidikan agar objek yang dibidik terlihat jelas dan terakhir menepatkan
benang diafragma tegak dan diafragma mendatar tepat pada sasaran yang diinginkan
9

(4) Membaca Hasil Pembidikan


Ada 2 hasil pembidikan yang dapat dibaca, yaitu :
(1) Pembacaan Benang atau pembacaan rambu
Pembacaan benang atau pembacaan rambu adalah bacaan angka pada rambu ukur
yang dibidik yang tepat dengan benang diafragma mendatar dan benang stadia atas
dan bawah. Bacaan yang tepat dengan benang diafragma mendatar biasa disebut
dengan Bacaan Tengah (BT), sedangkan yang tepat dengan benang stadia atas disebut
Bacaan Atas (BA) dan yang tepat dengan benang stadia bawah disebut Bacaan Bawah
(BB). Karena jarak antara benang diafragma mendatar ke benang stadia atas dan
bawah sama, maka :
BA BT = BT BB atau BT = ( BA BB)
Persamaan ini biasa digunakan untuk mengecek benar atau salahnya pembacaan.

Kegunaan pembacaan benang ini adalah :


a. Bacaan benang tengah digunakan dalam penentuan beda tinggi antara tempat
berdiri alat dengan tempat rambu ukur yang dibidik atau diantara rambu-rambu ukur
yang dibidik.
b. Bacaan benang atas dan bawah digunakan dalam penentuan jarak antara tempat
berdiri alat dengan tempat rambu ukur yang dibidik
Pembacaan rambu ukur oleh alat ini ada yang terlihat dalam keadaan tegak dan ada
yang terbalik, sementara pembacaannya dapat dinyatakan dalam satuan m atau cm.

(2) Pembacaan Sudut


Waterpas seringkali juga dilengkapi dengan lingkaran mendatar berskala, sehingga
dapat digunakan untuk mengukur sudut mendatar atau sudut horizontal.
Ada 2 satuan ukuran sudut yang biasa digunakan, yaitu :
a. Satuan derajat

10

Pada satuan ini satu lingkatan dibagi kedalam 360 bagian, setiap bagian dinyatakan
dengan 1 derajat (1), setiap derajat dibagi lagi menjadi 60 bagian, setiap bagian
dinyatakan dengan 1 menit (1) dan setiap menit dibagi lagi kedalam 60 bagian dan
setiap bagian dinyatakan dengan 1 detik (1)
b. Satuan grid.
Pada satuan ini satu lingkatan dibagi kedalam 400 bagian, setiap bagian dinyatakan
dengan 1 grid (1g), setiap grid dibagi lagi menjadi 100 bagian, setiap bagian
dinyatakan dengan 1 centigrid (1cg) dan setiap centigrid dibagi lagi kedalam 100
bagian dan setiap bagian dinyatakan dengan 1 centi-centigrid (1ccg). Salah satu
contoh pembacaan sudut horizontal dari alat ukur waterpas NK2 dari Wild
C. RAMBU UKUR

Dalam ilmu ukur tanah, banyak sekali alat ukur yang digunakan dalam
berbagai macam pengukuran. Ada berbagai macam pengukuran, yaitu pengukuran
sipat datar, pengukuran sudut, pengukuran panjang, dan lain-lain. Alat ukur yang
digunakan pun ada yang sederhana dan modern, yang masing-masing bekerja sesuai
dengan fungsinya.
Seperti yang telah kita ketahui bahwa permukaan bumi ini tidak rata, untuk itu
diperlukan adanya pengukuran beda tinggi baik dengan cara barometris,

11

trigonometris ataupun dengan cara pengukuran penyipatan datar. Alat yang digunakan
dalam pengukuran sipat datar salah satunya adalah rambu ukur.
Rambu ukur dapat terbuat dari kayu, campuran alumunium yang diberi skala
pembacaan. Ukuran lebarnya 4 cm, panjang antara 3m-5m pembacaan dilengkapi
dengan angka dari meter, desimeter, sentimeter, dan milimeter. Umumnya dicat
dengan warna merah, putih, hitam, kuning. Selain rambu ukur, ada juga waterpass
yang dilengkapi dengan nivo yang berfungsi untuk mendapatkan sipatan mendatar
dari kedudukan alat dan unting-unting untuk mendapatkan kedudukan alat tersebut di
atas titik yang bersangkutan.
Kedua alat ini digunakan bersamaan dalam pengukuran sipat datar. Rambu
ukur diperlukan untuk mempermudah/membantu mengukur beda tinggi antara garis
bidik dengan permukaan tanah.
Rambu untuk pengukuran sipat datar (leveling) diklasifikasikan ke dalam 2 tipe,
yaitu:
1. Rambu sipat datar dengan pembacaan sendiri
a) Jalon
b) Rambu sipat datar sopwith
c) Rambu sipat datar bersen
d) Rambu sipat datar invar
2. Rambu sipat datar sasaran
Cara Pemasangan Bak Ukur/Rambu Ukur :
1. Atur ketinggian rambu ukur dengan menarik batangnya sesuai dengan kebutuhan,
kemudian kunci.
2. Letakkan dasar rambu ukur tepat diatas tengah-tengah patok (titik) yang akan
dibidik.
3. Usahakan rambu ukur tersebut tidak miring/condong (depan, belakang, kiri dan
kanan), karena bisa mempengaruhi hasil pembacaan.

12

4. Arahkan lensa pada teropong pesawat.


Cara penggunaan Rambu ukur dalam pengukuran sipat datar
Rambu ukur ini berjumlah 2 buah masing-masing didirikan di atas dua
patok/titik yang merupakan jalur pengukuran. Alat sipat datar optis kemudian
diletakan di tengah-tengah antara rambu belakang dan muka. Alat sipat datar diatur
sedemikian

rupa

sehingga

teropong

sejajar

dengan

nivo

yaitu

dengan

mengetengahkan gelembung nivo. Setelah gelembung nivo di ketengahkan (garis


arah nivo harus tegak lurus pada sumbu kesatu) barulah di baca rambu belakang dan
rambu muka yang terdiri dari bacaan benang tengah, atas dan bawah. Beda tinggi slag
tersebut pada dasarnya adalah pengurangan Benang Tengah belakang (BTb) dengan
Benang Tengah muka (BTm).
Beda tinggi
Kesalahan dalam penggunaan Rambu ukur
a) Garis bidik tidak sejajar dengan garis jurusan nivo
b) Kesalahan pembagian skala rambu
c) Kesalahan panjang rambu
d) Kesalahan letak skala nol rambu

D. UNTING UNTING
Unting unting atau sering juga disebut dengan bandul, adalah salah satu alat tukang
yang biasanya dipergunakan untuk mengukur ketegakan suatu benda atau bidang.
Alat ini cukup sederhana dimana terbuat dari bahan besi dengan permukaan berwarna
besi putih, kuningan dan juga besi biasa, bentuknya biasanya berbentuk prisma
dengan ujung lainnya dibuatkan penempatan benang kait. Namun dapat juga
dijumpai dalam berbagai bentuk lainnya daimana salah satu ujung nya tetap dibuat
runcing.
Pemakaian Unting unting

13

Beberapa pemakaian yang sering dijumpai dalam pekerjaan bangunaan adalah untuk
pengukuran ketegakan bekisting, ketegakan kayu saat setting kusen pintu dan jendela,
pembuatan benang horizontal pemasangan dinding bata, penarikan titik pusat suatu
jarak dan beberapa jenis pekerjaan lainnya.
Pemakaian unting unting adalah sangat mudah, dengan mengikatkan pada kaitan besi
bandul maka alat ini sudah bisa dipergunakan. Misalnya kita ingin mengukur
ketegakan suatu tiang, langkah pertama yang kita lakukan adalah membuat paku
ikatan pada salah satu ujung atas dari balok (dianjurkan jarak dari bawah tidak terlalu
dekat, diusahakan diujung atas tiang). Kemudaian benang diikatkan pada balok dan
unting unting diturunkan secara perlahan. Tunggu posisi unting unting sampai pada
posisi diam. Untuk mengukur ketegakan adalah menchek jarak benang atas ke tiang
dan kemudian membandingkan jarak benang (as unting-unting ) ke tembok. Jika
ukuran jarak atas dan bawah sudah sama maka tiang sudah benar benar tegak.

Pemeliharaan Unting Unting.


Bentuk alat ini sangat kecil, sehingga mudah hilang atau tertimbun oleh benda atau
perlatan alinnnya. Dianjurkan setiaps elesai penggunaan benda ini disimpan dalam
kotak perkakas. Dianjurkan supaya alat ini tidak terlalu banyak bersinggungan
dengan peralatn besi lainnya karena akan merusak permukaannya.
E. STOPWATCH

14

Jam sukat bergana (digital)

Jam sukat analog


Jam sukat atau jam randek (bahasa Inggris: stopwatch) adalah alat yang digunakan
untuk mengukur lamanya waktu yang diperlukan dalam kegiatan, misalnya: berapa
lama sebuah mobil dapat mencapai jarak 60 km, atau berapa waktu yang dibutuhkan
seorang pelari yang dapat mencapai jarak 100 meter?
Jam sukat ada dua macam yaitu jam sukat analog dan jam sukat digital/bergana.jam
sukat analog memiliki batas ketelitian 0,1sekonsedangkan jam sukat digital memiliki
batas ketelitian hingga 0,01
Cara menggunakan jam sukat dengan memulai menekan tombol di atas dan berhenti
sehingga suatu waktu detik ditampilkan sebagai waktu yang berlalu. Kemudian
dengan menekan tombol yang kedua pengguna dapat menyetel ulang jam sukat
kembali ke nol. Tombol yang kedua juga digunakan sebagai perekam waktu.
BAB IV
15

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Ilmu ukur tanah merupakan ilmu terapan yang mempelajari dan
menganalisis bentuk topografi permukaan bumi beserta obyek-obyek di
atasnya untuk keperluan pekerjaan-pekerjaan konstruksi.
Ilmu ukur tanah ada tiga unsur yang harus diukur di lapangan, yaitu:
jarak antara dua titik, beda tinggi dan sudut arah. Pengukuran yang
dilakukan dengan menggunakan alat ukur sederhana sering disebut dengan
pengukuran secara langsung karena hasilnya dapat diketahui sesaat setelah
selesai pengukuran. Sebagai contoh alat teesebut adalah pita ukur dan
abney level.
Alat-alat ukur tanah yang dapat digunakan antara lain adalah : Total
Station, Waterpass, Rambu Ukur, Stopwatch, dan Unting-Unting.

B. SARAN
Menyadari bahwa penulis masih jauh dari kata sempurna, kedepannya penulis
akan lebih fokus dan details dalam menjelaskan tentang makalah di atas
dengan sumber sumber yang lebih banyak yang tentunga dapat di
pertanggung jawabkan.

DAFTAR PUSTAKA
16

Arifin,zainal.2012.Ilmu ukur tanah. Program studi teknik sipil. Pusat Pengembangan


Bahan Ajar.( Publikasi ).
Frick, heinz. 1979. Ilmu Ukur Tanah. Kanisius. Jakarta.
Muksita,khairatul.2010.ilmu

ukur

tanah dan

apliksi

nya.Fakultas

pertanian

Universitas Lambung mangkurat.Banjarbaru.


Sosrodarsono. Suyono. 1983. Pengukuran Topografi dan Teknik Pemetaan. PT
Pradnya Paramita. Jakarta.
Wongsotjitro, Soetomo. 1964. Ilmu ukur tanah. Kanisius. Jakarta

17