Anda di halaman 1dari 9

TEKNIK PENELITIAN DAN LABORATORIUM

NUTRISI TERNAK

EVALUASI TEKNIK ALTERNATIF PENELITIAN

Oleh :
WINGKI ARI ANGGA
1531612032

PROGRAM STUDI ILMU PERTANIAN


PEMUSATAN ILMU TERNAK
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2015

PENGARUH PEMBERIAN TEPUNG KULIT NANAS YANG


DIFERMENTASI DENGAN YOGHURT TERHADAP
BOBOT ORGAN DALAM AYAM BROILER
Wingki Ari Angga, dibawah bimbingan:
Nelwida1) dan Berliana2)
Jurusan Prodi Peternakan, Fakultas Peternakan Universitas Jambi
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk untuk mengetahui pengaruh pemberian tepung kulit
nanas yang difermentasi dengan yoghurt terhadap bobot organ dalam ayam
broiler. Materi terdiri dari kulit nanas, yogurt, ayam broiler 160 ekor, ransum
komersil, dedak, jagung, tepung ikan, air, bungkil kedelai, poles dan fitobiotik
(rumput mutiara, patikan kebo, sidaguri, bandotan). Rancangan penelitian yang
digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat
perlakuan dan lima ulangan. Adapun 4 perlakuan tersebut adalah sebagai berikut:
T0 = Ransum mengandung 0 % Tepung Kulit Nanas Fermentasi (kontrol), T1 =
Ransum mengandung 7,5% Tepung Kulit Nanas Fermentasi, T2 = Ransum
mengandung 15% Tepung Kulit Nanas Fermentasi, T3 = Ransum mengandung
22,5% Tepung Kulit Nanas Fermentasi. Peubah yang diamati adalah konsumsi
ransum, bobot potong dan bobot organ dalam ayam broiler meliputi bobot
Ventriculus relatif, bobot Hati relatif, bobot Usus halus relatif dan bobot Pancreas
relatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan memberikan pengaruh
yang nyata (P<0.05) terhadap bobot potong. akan tetapi tidak berpengaruh nyata
(P>0.05) terhadap konsumsi ransum, persentase bobot Ventrikulus relatif, bobot
Hati reatif, bobot Usus halus relatif dan bobot Pancreas relatif. Uji Duncan
menunjukkan bahwa bobot potong pada perlakuan T3 ransum mengandung 22,5
% tepung kulit nanas fermentasi nyata lebih rendah (P<0.05) dibandingkan T1,
dan T2. Kesimpulan dari penelitian ini bahwa pemberian tepung kulit nanas yang
difermentasi dengan yoghurt sampai level 22.5% dalam ransum tidak memberikan
efek negatif terhadap bobot organ dalam ayam broiler.
Kata kunci : Fermentasi, Kulit Nanas, Yoghurt, ransum, Organ Dalam.
Keterangan : 1) Pembimbing Utama
2) Pembinbing Pendamping

3.3. Metode

a. Persiapan Kulit Nanas Fermentasi Youghurt


Kulit nanas di ambil dari Desa Tangkit Baru Kabupaten Muaro Jambi.
dipisahkan dari yang rusak dan dibersihkan dari kotoran yang ada. Setelah itu
dikeringkan dengan cara dijemur di bawah sinar matahari kemudian di oven
sampai kandungan air dalam kulit nanas tersebut mencapai 10%. Selanjutnya kulit
nanas dicincang dan digiling, sehingga berbentuk tepung. Setelah itu ditambahkan
air 2 : 1 sehingga kadar air mencapai 60 70%. Kemudian dikukus selama 30
menit dengan tujuan untuk sterilisasi (mikroba) yang nantinya dapat mengganggu
proses fermentasi berlangsung dan untuk membuka pori-pori dari tepung kulit
nanas tersebut, setelah itu di dinginkan sehingga suhu menjadi 30-35 0C.
Selanjutnya diinkubasi dengan bakteri asam laktat yang berasal dari yoghurt
sebanyak 3 ml/kg selama 24 jam. Setelah itu bahan siap digunakan untuk
campuran ransum. Modifikasi Purwadaria et al. (1995).
b. Persiapan Kandang
Kandang yang digunakan adalah kandang koloni dan menggunakan tempat
penampungan ekskreta. Sebelum digunakan kandang dibersihkan terlebih dahulu
dengan cara kandang dicuci dengan air bersih bagian lantai kandang disikat begitu
juga dengan sekat-sekat yang akan digunakan. Setelah itu tunggu kandang hingga
kering, setelah kering lakukan desinfeksi dengan cara menyemprotkan desinfektan
dan tutup kandang dengan terpal supaya vektor tidak bisa masuk ke kandang.
Langkah selanjutnya adalah dilakukan pengapuran dan dibiarkan selama satu
minggu sebelum DOC masuk. Tiga hari menjelang DOC masuk litter (serbuk
gergaji), lampu (penghangat) dan Peralatan kandang seperti tempat pakan dan
tempat minum di pasang. Khusus peralatan kandang disucihamakan sehingga
bersih dari bibit penyakit. 2 jam sebelum DOC masuk lampu sudah dinyalakan
supaya keadaan dalam kandang hangat dan isi tempat pakan dengan
ransum/ditaburkan di atas litter yang sudah dialasi koran, tempat minum yang
diisi larutan gula 2 %.
c. Persiapan Ransum
Ransum yang digunakan terdiri dari

kulit nanas fermentasi, dedak,

jagung, tepung ikan, bungkil kedelai, dan gulma obat (rumput mutiara, patikan

kebo, sidaguri, bandotan). Ransum disusun sesuai dengan kebutuhan zat makanan
ayam broiler sebagaimana tertera pada Tabel 2, 3, 4 dan 5.
Pembuatan ransum dilakukan dengan cara mencampurkan bahan yang
jumlahnya sedikit dan tekstur lebih halus terlebih dahulu, kemudian tambahkan
sedikit demi sedikit bahan yang berjumlah banyak. Kemudian ransum tersebut
dicampur dengan tepung kulit nanas sedikit demi sedikit sampai homogen.
Tabel 2. Rataan Kebutuhan Zat-zat Makanan Ayam Broiler
Zat Nutrisi
Protein Kasar (%)
Lemak Kasar (%)
Serat Kasar (%)
Kalsium (%)
Pospor (%)
EM (Kkal/kg)
Lisin (%)
Metionin (%)
Sumber : NRC (1994)

Starter
23
4-5
3-5
1
0,45
3200
1,2
0,50

Finisher
18
3-4
3-5
0,9
0,4
2800
1,0
0,38

Tabel 3. Komposisi Bahan Penyusun dan Kandungan Zat Makanan Ransum Fase
Awal dan akhir (%)
Bahan
Ransum Komersil BR I, BR II
Jagung
Dedak
B. Kedele
T. Ikan
TKNF
Fitobiotik
Jumlah

T1
50
15
18
7
8
0
2
100

Perlakuan
T2
T3
50
50
13
5
12,5
13
7
7
8
8
7,5
15
2
2
100
100

T4
50
5
5,5
7
8
22,5
2
100

Tabel 4. Kandungan Zat Makanan Ransum Perlakuan dalam 100% Bahan Kering
Fase Starter (%)
Ransum

Fase Starter BR I

Perlakua
n

Bahan
Organik (%)

Serat
Kasar (%)

Lemak
Kasar (%)

Protin
Kasar (%)

ME *
(Kkal/Kg)

T0
T1
T2
T3

89,77
88,98
87,54
86,96

4,88
5,30
6,47
6,65

6,21
5,79
5,67
5,15

21,32
21,38
21,66
21,65

3074,64
3148,68
3172,79
3263,47

Tabel 5. Kandungan Zat Makanan Ransum Perlakuan dalam 100% Bahan Kering
Fase Finisher (%)
Fase Finisher BR II

Ransum
Perlakua
n

Bahan
Serat
Lemak Kasar
Protin
Organik
Kasar (%)
(%)
Kasar (%)
(%)
T0
89,27
5,38
5,21
20,19
T1
88,48
5,80
4,79
20,25
T2
87,04
6,97
4,67
20,53
T3
86,46
7,15
4,15
20,52
Sumber : Hasil Analisis Laboratorium Makanan Ternak, Fakultas
Universitas Jambi (2014) dan (*) Laboratorium Non
Universitas Andalas Padang (2014)

ME *
(Kkal/Kg)
2953,64
3027,68
3051,79
3142,47
Peternakan,
Ruminansia

d. Pengacakan Perlakuan dan Pengacakan Ayam


Penempatan ayam dan pemberian ransum perlakuan didalam kandang
dilakukan secara acak. Urutkan kandang dari nomor 1 sampai 20 kemudian
dilakukan pengacakan perlakuan dikandang terlebih dahulu dengan menggunakan
lotre. Anak ayam di beri nomor 1 sampai 160 secara acak dengan menggunakan
lotre lalu ditempatkan berdasarkan hasil pengacakan kandang. Setiap unit kandang
diisi dengan 8 ekor ayam.
e. Pemeliharaan
Ayam yang baru datang ditimbang untuk memperoleh bobot awal sehingga
dapat diketahui keragaman bobot ayam yang digunakan. Kemudian anak ayam
diberi air minum air gula 2%. Ayam broiler dipelihara selama 6 minggu, ransum
ditimbang telebih dahulu sebelum diberikan kepada ayam boiler. Setelah
ditimbang

ransum

diberikan

adlibitum

sesuai

perlakuan.

Sisa

ransum

dikumpulkan setiap akhir minggu dan kemudian ditimbang. Air minum juga

diberikan secara ad libitum setiap hari sedangkan untuk mencegah cekaman stress
akibat suhu lingkungan yang tinggi digunakan vitamin C.
f. Pemotongan ayam
Pemotongan ayam dilakukan pada akhir minggu penelitian yaitu diambil
secara acak. setiap 2 ekor ayam yang mempunyai bobot badan mendekati angka
rata-rata yang mewakili dar satu kandang tersebut. Sebelum dipotong ayam
dipuasakan terlebih dahulu selama 6 jam. Kemudian ditimbang dan dicatat
sebagai bobot potong. Pemotongan dilakukan pada pangkal leher antara os atlas
dan os asis hingga saluran pembuluh darah (vena jangularis) putus dan darah
keluar sempurna.
Ayam yang dipotong dibiarkan agar darah keluar dari tubuh, kemudian di
celupkan dalam air panas untuk memudahkan dalam pencabutan bulunya. Setelah
ayam bersih dari bulu dada ayam dibelah dengan hati-hati, jangan sampai merusak
organ bagian dalam dari ayam tersebut, organ dikeluarkan kecuali Ginjal dan
Paru-paru. Setelah itu dilakukan penimbangan pada organ dalam tersebut (bobot
Pancreas, Hati, Ventriculus, dan Usus halus ).

PEMBAHASAN
Teknik yang akan saya perbaiki dalam penelitian saya sebelumnya adalah
sebagai berikut:
1. Teknik fermentasi kulit nanas
Dilihat dari metode yang digunakan dalam penggunaan kulit nanas sebagai
campuran bahan pakan ayam. Pada mulanya harus diolah terlebih dahulu hal ini
dikarenakan kulit nanas memiliki kandungan serat kasar yang cukup tinggi
sehingga ayam tidak bisa mencernanya. Serat kasar yang tinggi merupakan faktor
pembatas penggunaan kulit nanas ini, karena organ pencernaan ayam tidak bisa

mensekresikan enzim selulolitik yang mampu mendegraasinya. Oleh sebab itu


digunakanlah teknik pengolahan kulit nanas secara fermentasi menggunakan
yoghurt.
Yoghurt adalah produk yang dibuat dari susu melalui proses fermentasi
bakteri asam laktat, Lactobacillus bulgaricus dan Streptococcus thermophilus
(Collins, dkk, 1992). Dimana yoghurt ini dapat membantu pencernaan bagi yang
mengkonsumsinya. Probiotik digunakan untuk menyeimbangkan jumlah bakteri
yang bermanfaat dan bakteri yang merugikan tubuh. Ketidakseimbangan
mikroorganisme di dalam saluran pencernaan akan menimbulkan sejumlah
penyakit saluran pencernaan (Dwiyathi, 2008). Yoghurt yang digunakan pada
penelitian ini adalah berasal dari produk komersil yang dijual dipasaran, dengan
strain yang ada didalamnya adalah L.acidophilus Bifidobacterium dan Plantarum.
L.acidophilus dan Bifidobacterium sebagai bakteri asam laktat, dan
dikelompokkan ke dalam probiotik yaitu golongan mikroba hidup dalam saluran
pencernaan

serta

memperbaiki

kondisi

saluran

pencernaan,

sehingga

meningkatkan kesehatan, Fuller (1992). Dimana bakteri-bakteri ini tidak memiliki


kemampuan untuk mencerna serat kasar, sehingga pada penelitian ini kandungan
serat kasar yang ada dalam kulit nanas tidak menunjukan penurunan yang berarti
hanya sekitar 3% saja dari total serat kasar tanpa fermntasi.
Berikut ini adalah hasil analisis laboratorium kandungan serat kasar dari
kulit nanas sebelum dan sesudah fermentasi menggunakan Yoghurt .
Perlakuan

Serat Kasar

P0

21,39A

P1

18,35B

P2

18,73B

P3

17,90B

Keterangan : Superskrip yang berbeda menunjukkan perbedaan sangat nyata


(P<0.01); P0 = Kulit nanas tanpa fermentasi, P1 = Kulit nanas
difermentasi selama 12 jam, P2 = Kulit nanas difermentasi selama
24 jam, P3 = Kulit nanas difermentasi selama 36 jam
Dari penjelasan diatas saya ingin merubah teknik fermentasi yang tadinya
menggunakan bakteri asam laktat dan menggantinya dengan bakteri selulotitik

yang mampu mencerna serat kasar yang di isolasi dari cairan rumen sapi, untuk
lebih mudah dan lebih aplikatif kepada masyarakat nantinya digunakanlah starbio
sebagai starternya, Starbio merupakan produk komersil yang mudah didapat di
poultry yang didalamnya mengandung bakteri selulolitik dari rumen sapi.
sehingga nantinya kulit nanas yang yang difermentasi dengan menggunakan
bahan ini serat kasarnya diharapkan lebih rendah dan nampak jelas penurunannya.
Tidak hanya sebatas penurunan serat kasar yang didapatkan dengan teknik
ini, akan tetapi juga dapat meningkatkan protein bahan yang difermentasi dengan
menggunakan starbio. Selepas fermentasi bakteri-bakteri selulolitik ini dapat
menjadi protein mikroba setelah mati.
Akan tetapi penggunaan yoghurt juga perlu ditambahkan teteapi bukan
digunakan sebagai starter untuk fermentasi bahan melainkan untuk suplementasi
pada air minum sehingga pada nantinya dapat menjaga kesehatan ternak dengan
cara menekan baktteri patogen dalam saluran cerna ayam.
2. Teknik pengambilan data bobot organ dalam ayam broiler
Organ dalam ayam broiler yang saya amati adalah ventrikulus, hati,
pankreas dan usus halus. Pengamatan ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana
pengaruhnya campuran kulit nanas dalam bahan pakan, hal ini juga bisa dikatakan
sebagai

indikator

dari

perubahan-perubahan

fungsi

dari

organ

yang

mencernabahan makanan tersebut. Contohnya saja pakan yang mengandung serat


tinggi akan meningkatkan bobot ventrikulus, hal ini dikarenakan adanya usaha
yang keras dalam mencernaanya sebagai akibat dari kerja otot.
Dalam penelitian yang dilakukan untuk teknik pengumpulan data
semestinya dalam penegerjaannya harus dilakukan satu orang saja. Hal ini
dikarenakan setiap orang memiliki penanganan yang berbeda. Misalnya dalam
mengeluarkan isi saluran usus, setiap orang pasti berbeda dan penarikan yang
berbeda, sehingga nanti dapat mempengaruhi data yang dihasilkan.